22 April 2012

The Billionaire, Camilan Rumput Laut yang Mendunia

Kemarin saya menonton sebuah film Thailand berjudul T.O.P Secret a.k.a The Billionaire. Film  yang didasarkan pada kisah nyata ini menceritakan perjuangan remaja SMA bernama Top Ittipat (nama yang unik) menjadi seorang pengusaha industri makanan yang sukses. Belakangan ini film-film Thailand mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tidak lagi berkutat seputar hal-hal mistis seperti yang sering saya nonton saat masih SMA. Jika terus begitu mungkin beberapa tahun lagi Thailand akan menggeser Korea sebagai ‘kiblat’ dunia film Asia. Mungkin terlalu cepat mengatakan ini tapi bisa saja kan, suatu saat nanti. Ah ya, saya memang bukan penyuka drama Korea apalagi boyband atau girlband. Hanya satu yang saya suka dari Korea, yaitu karena di sana ada...ah, lupakan saja. *botol-botol melayang*

Tapi dibanding bahasa Korea yang pelafalannya bisa membuat lidah saya terbalik, bahasa Thailand juga terdengar lebih aneh di telinga saya. Sepertinya bahasa mereka dirancang sedemikian rupa sehingga siapapun yang mengucapkannya akan terdengar cempreng dan sengau. Suara  itu yang sering merusak kesan saya terhadap pemerannya.

Singkatnya, di akhir cerita si Top berhasil memasarkan produknya. Produknya yang bernama Tao Kae Noi (dalam bahasa Thailand artinya “Pengusaha Muda”) adalah produk makanan atau camilan yang dibuat dari rumput laut yang digoreng. Top kemudian menjadi seorang milyuner di usianya yang masih 26 tahun. Ia memiliki 2.500 karyawan. Produknya didistribusikan ke 27 negara di dunia. Ia bahkan memiliki perkebunan rumput laut di Korea Selatan. Pendapatannya tahun 2010 mencapai Rp.450 milyar.

Film ini keren. Saya suka konflik yang muncul, juga perjuangan si Top yang tak pernah menyerah bahkan rela tidak kuliah demi mengurus bisnisnya. Selain itu makanan yang bernama Tao Kae Noi ini membuat saya penasaran. Seumur-umur saya belum pernah makan rumput laut walau hampir setiap hari melihatnya. Seingat saya juga, Tao Kae Noi ini pernah nangkring di antara deretan produk makanan lainnya di mini market dekat rumah. Jadi kelar nonton film, saya langsung memburu target ke mini market. Mitsuketa...Ketemu! Selesai bayar di kasir langsung buka bungkusannya dan Haapp...!

Nyam...nyam...*lagi ngunyah*

Ternyata rumput laut itu seperti ada rasa ikannya. Lumayanlah, soalnya saya penyuka ikan. Dan paling suka makanan yang mengandung rasa ikan seperti mie rasa ikan dan kerupuk ikan. Sayang, Tao Kae Noi ini isinya ngirit banget. Bungkusan kecil yang harga Rp.3.000,-nya hanya berisi selembar rumput laut goreng.

Tao Kae Noi, Si Rumput Laut Goreng

19 April 2012

Saat Libur

suasana pagi pukul 7.00 am

Salah satu hal yang menyenangkan di pagi hari saat libur adalah duduk berselonjor, ditemani secangkir kopi sambil membaca buku. Dan di luar kamar tercium harum cucian yang dijemur.

18 April 2012

Manusia Transparan


Cerewet adalah kata yang selalu dilekatkan pada perempuan, walaupun tidak semua tapi kebanyakan seperti itulah mungkin adanya. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata. Buku Why men don’t listen and why women can’t read maps menjelaskan bahwa pada dasarnya perempuan memang suka ngobrol dan berbicara lebih banyak. Yang membedakan perempuan dengan laki-laki adalah struktur otak. Otak pria tersekat-sekat secara tegas dan berkemampuan untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di akhir hari. Tapi otak perempuan tidak bekerja seperti itu, masalah-masalah terus saja berputar-putar di kepala mereka. Sehingga cara yang paling sering dilakukan perempuan untuk menyingkirkan masalah atau mengidentifikasikan masalah di pikirannya adalah dengan membicarakannya.

Cara ini kemudian lebih kita kenal dengan istlah curhat. Di sinilah letak masalahnya. Terkadang perempuan terlalu banyak berbicara sampai-sampai hal yang sebenarnya tidak boleh diceritakan dikeluarkan juga tanpa menimbang terlebih dahulu manfaatnya. Hal ini terlihat terutama jika sesama perempuan berkumpul. Orang yang curhat bisa menjadi begitu transparan dalam hal apapun. Dia tidak memikirkan bahwa apa-apa yang ia curhatkan memang benar-benar membutuhkan masukan atau pendapat dari orang lain. Bahkan terkadang orang curhat bukan untuk mencari solusi tapi karena memang ia hanya ingin berbicara dan hanya ingin didengar sehingga apa-apa yang ia sampaikan bisa jadi adalah aib yang hanya dia dan Allah yang tahu. Ujung-ujungnya, tidak ada yang ia dapatkan dari curhat. Yang ada adalah orang-orang menjadi tahu aibnya. Aib yang mungkin Allah telah berbaik hati untuk menutupinya, namun justru dibuka sendiri oleh pemiliknya.

Yang salah juga adalah mereka menceritakan aibnya sendiri di tempat yang tidak seharusnya, misalnya di angkot seseorang berkata kepada temannya “eh, tadi saya tidak shalat subuh, lho. Habisnya bangun pagi nanti jam 10”. See ? tiga kesalahan besar sekaligus. Sudah tidak shalat subuh, diceritakan pula, di angkot lagi. Akhirnya semua penumpang angkot tahu bahwa dia tidak shalat subuh hari ini. Tidak jarang pula kesalahan-kesalahan di masa lalu yang telah tertutup malah dibuka kembali oleh pemiliknya. Contohnya “Dulu waktu bulan ramadhan saya diam-diam buka sebelum waktunya. Habis tidak tahan lapar, sih...hehehe”. Orang seperti ini lebih parah karena menganggap dosa adalah bahan tertawaan.

Rasulullah sendiri mencela ucapan pelaku maksiat yang mencemari dirinya sendiri dan membuka tutupan Allah terhadapnya, beliau bersabda :

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di pagi harinya -padahal Allah telah menutupnya-, ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah terhadapnya."

Adalah suatu kebodohan jika seseorang terlalu transparan di hadapan orang lain terutama yang menyangkut dosa-dosanya karena itu merupakan sikap kurang ajar kepada Allah yang telah menutupi aib tersebut namun dengan entengnya dibuka kembali oleh pemilik aib. Toh tanpa bersikap transparan dihadapan manusia, kita memang sebenarnya adalah makhluk transparan di hadapan Allah. Adakah yang bisa kita sembunyikan dari-Nya ? sementara baru niat saja yang terbersit dalam hati kita, Allah-lah yang paling pertama mengetahuinya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-An’am:18)

Wallahua’lam

Kota Pelarian

Kota tak pernah seindah ini. Saat bulan mulai berbicara dan membual pada kita. Aku setia mendengarnya, karena jika tidak, ia akan merajuk dan malam menjadi gelap gulita. Di atas sana hujan meteor berkejaran memayungi langit malam. Sementara kau sibuk bermain rubik di atas atap, tak peduli sedikitpun dengan ocehan bulan.

Kota tak pernah seindah ini. Saat Dandelion melayang-layang menyusuri hilir sungai. Bersama-sama menghanyutkan lilin beraroma lavender.  Angin mulai berbisik dan di atas padang rumput sana, kau masih bertengkar dengan kunang-kunang.

Kota tak pernah seindah ini. Saat ikan mas berenang dalam gelembung sabun.  Terbang tak berarah dipermainkan angin. Saat burung-burung kertas masih sibuk mematuk-matuk ranting bogenvil, kau mulai menguap.

Kota tak pernah seindah ini karena aku bisa mengiris bulan jadi separuh dan mengukirnya menjadi dua bulan sabit. Satunya akan kugantung di jendela kamarmu dan sisanya kubiarkan tetap di langit.

Perlahan geseran waktu memaksa hari berganti nama. Menyimpan setiap kata yang tak pernah terucap dan senyum yang selalu tersembunyi. Malam ini purnama terakhir, kau telah paham maksudnya. Dan malam ini bulan diam, tidak cerewet seperti biasanya. Oh ya, sebelum tidur kuberitahu padamu, aku menyimpan kunci kotak rahasia di dalam balutan salah satu warna pelangi. Tebak ?

Ah, kau memang pelupa. Bukankah sudah kukatakan aku suka biru. Bukalah balutan birunya saat pelangi muncul. Eh, tapi jangan lupa kembalikan warnanya ke tempat semula karena pelangi takkan indah jika warnanya tidak lengkap.

Sungguh menyenangkan mengakhiri sebuah perjalanan. Namun pada akhirnya yang terpenting adalah perjalanan itu sendiri. Seperti sakura, indah tapi singkat, seperti itulah kehidupan. Terima kasih telah menemaniku di kota pelarian. Sekarang waktuku untuk kembali. Jangan khawatir, seribu sayap kupu-kupu akan mengantarku pulang.

Terlelaplah malam ini bersama datangnya musim semi.
Dan aku masih diriku.

Untuk dia yang pergi, yang terkenang
Untuk dia yang tertinggal, yang terlupakan

Penculik Yang Baik

“Tak disangka akan secepat ini, ia dibawa lari oleh seorang penculik”
-Seorang Kawan-

Beberapa hari lalu saya dan beberapa ‘personil’ lainnya diminta menginap di rumah seorang sahabat yang akan melangsungkan pernikahan. Katanya selain jadi babu sehari, kami juga berfungsi sebagai penetralisir dan tempat berkeluh-kesah pada detik-detik ia melepas status single. Saat berita ini ditulis, saya sempat menengok facebook dan teman saya itu baru saja mengganti statusnya dari single menjadi married. Timeline FB-nya pasti sudah dipenuhi ucapan selamat. Malam sebelum akad nikah berlangsung saya tak henti-hentinya mencubit pipinya, tak menyangka akan menikah secepat itu. Setelah dia bekerja, kami sudah tidak pernah lagi berkumpul dalam satu kepanitian. Padahal sebelum lulus, kami sering menghabiskan waktu di mesjid kampus, membicarakan berbagai kegiatan. Eh, tiba-tiba datang telepon tengah malam yang membawa kabar rencana pernikahannya.

Walaupun jarang bertemu karena jarak yang cukup jauh, kami sering berkomunikasi dengan saling lempar komentar tidak penting di Facebook. Kadang hanya untuk sebuah status –yang sama tidak pentingnya- bisa mengundang lebih 100 komentar dengan isi yang sudah menyerong kiri kanan. Kalau mengingat dia akan menikah rasanya seperti kehilangan. Setelah menikah dia pasti akan sibuk membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus suami. Bisa jadi porsi waktu balas-membalas komentar sudah tidak ada. Tidak ada lagi chatting tengah malam. Tidak ada lagi nginap bareng. Pagi harinya, tepat pukul 10.35 mempelai laki-laki selesai mengucap ijab qabul. Resmilah ia menjadi ‘tawanan penculik’.

Barakallah wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair
Go-kekkon omedeto gozaimasu ^_^

16 April 2012

Islam Liberal 101


Penolakan terhadap ‘dominasi kebenaran’ atau ‘kebenaran absolut’, pada hakikatnya adalah penolakan terhadap kebenaran itu sendiri

Sejak awal duduk di bangku kuliah, saya sadar bahwa dunia kampus terisi banyak sekali warna, tidak lagi sehitam putih saat masih SMA. Bertahun-tahun lalu pemikiran liberal telah menancapkan kukunya ke sendi-sendi pendidikan, ke sekat-sekat otak para intelektual kampus. Sebuah fenomena yang menarik diamati sekaligus harus dibendung karena gerakan yang menyebut diri mereka sebagai manusia-manusia intelek dan berdiri di atas rasionalitas ini pada dasarnya telah menginjak-injak dan menghina kesucian agama islam. Sementara pelakunya bukan orang luar melainkan para santri yang dulunya shaleh. Buku berjudul Islam Liberal 101 yang ditulis oleh Akmal Sjafril ini adalah salah satu dari sekian upaya yang dilakukan untuk membendung gerakan tersebut. 

Saya berhasil membaca buku ini setelah membujuk, memelas, memohon sampai ‘mengancam’ pemiliknya. Sebenarnya saya disodorkan dua buku bertema pemikiran untuk dibeli. Tapi karena tidak mampu membeli dua-duanya, maka saya harus memilih salah satu. Tanpa banyak pertimbangan saya memutuskan untuk membeli buku yang kedua, Buya Hamka (Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme). Sementara untuk buku pertama saya tidak punya jalan lain selain meminjam atau lebih tepatnya memaksa meminjam. Si pemilik buku setengah hati meminjamkan karena ia pun baru membelinya beberapa jam sebelumnya. Tapi dengan taktik dan strategi ala kumpeni, maka buku itu akhirnya berpindah tangan. Dia memberi saya waktu dua hari untuk mengkhatamkan. Pada hari ketiga bukunya belum saya kembalikan, belum khatam soalnya. Dia mulai mengeluarkan ultimatum. Baru pada hari kelima buku itu saya kembalikan. Dia misuh-misuh. Hehehe (Afwan Dani...^_^)

Oke deh, tidak usah panjang-panjang. Berikut ringkasan bukunya. Let’s bekicot...

Bab pertama buku ini menguraikan fenomena ghazwul fikriy dan karakter-karakternya. Ghazwul fikriy atau “Perang pemikiran” adalah perang yang menggunakan data-data sebagai senjata dan argumen sebagai amunisinya. Kemenangan ditentukan bukan dari jumlah korban jiwa tapi dilihat dari jumlah pendukung. Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada pihak-pihak yang selalu menghalangi dan mengolok-olok orang-orang yang memberi peringatan. Sejarah ghazwul fikriy dapat dilihat dalam kisah nabi Ibrahim dan kaumnya ketika beliau menghancurkan berhala atau pada masa Rasulullah yang dakwahnya mendapat penentangan keras dari paman-paman beliau.

Semua penghalang itu tak lepas dari proyek ambisius iblis yang mencari pengikut setelah dilempar keluar dari surga. Seruan Iblis kepada manusia untuk melawan Allah telah terbukti dengan munculnya orang-orang sedurhaka Friedrich Nietzsche (“God is Dead”), Karl Marx (“Religion is the opium of the people”) atau Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku”). Atau pada insiden penistaan yang dilakukan para mahasiswa islam di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) tahun 2004 ketika menyambut maba dengan ucapan, “Selamat bergabung di area bebas Tuhan!”. Dan parade kejahilan itu ditutup dengan seruan lantang, “Kita dzikir bersama, anjinghu akbar

Pemikiran sekuler barat menganggap agama telah ketinggalan zaman, sekedar cerita supranatural yang diwariskan dari nenek moyang. Dzikir mereka anggap sebagai ‘pelarian’ karena tidak mampu memecahkan masalah. Orang-orang yang menyerukan jihad dianggap sebagai “ekstremis” atau teroris. Mereka yang mengadopsi pemikiran ini adalah musuh dalam selimut yang kapan saja siap menusuk hamba Allah yang sejati. Mereka mungkin ada di sekitar kita, berbicara dan bersikap seperti orang beriman, namun tidak pernah tunduk kepada Allah dengan ketundukan yang sebenarnya.

Bab kedua membahas pemikiran-pemikiran Barat yang dibawa masuk ke dalam wacana pemikiran Islam, mulai dari sekularisme, pluralisme, dan wacana islam liberal. Sekularisme lahir dari rahim pemikiran barat,  dilatari oleh sejarah hegemoni gereja Katolik setelah Kaisar Konstantin mendamaikan agama pagan dengan penganut agama kristen. Dalam konsili Nicea yang diusulkan Konstantin dirumuskan teologi kristen, antara lain seputar ketuhanan Yesus. Setelah kekaisaran Romawi runtuh, gereja tetap tegak di seluruh Eropa dan memiliki otoritas penuh dalam segala hal termasuk mengangkat, memecat dan mengasingkan raja-raja bahkan mengutuknya bila perlu.

Pada masa inilah muncul sebuah noktah hitam yang tak pernah bisa dihapus dari sejarah, yaitu Inkuisisi (Inquisition), sebuah lembaga yang dibentuk oleh gereja untuk menindak siapapun yang melawan titah gereja, termasuk dengan cara-cara pemaksaan, pengancaman, pembunuhan bahkan penyiksaan. Ruang-ruang penyiksaan dibuat khusus dalam biara-biara dengan penyiksaan yang berbagai variasi seperti pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, penggergajian tubuh manusia, pemotongan lidah, peremukan kepala, penusukan vagina dan siksaan tak beradab lainnya. Kebanyakan korban inkuisisi adalah perempuan. Diperkirakan dua hingga empat juta perempuan dibakar hidup-hidup dalam kurun waktu 350 tahun.

Hal ini memicu lahirnya perlawanan dari masyarakat Kristen sendiri. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther King menempelkan 95 poin pernyataan di pintu gereja sebagai simbol perlawanan terhadap Paus. Ia kemudian mengembangkan ajaran tersendiri yang terlepas dari kekuasaan Paus. Perseteruan antara Katolik dan Protestan di Perancis melahirkan tragedi yang dikenal dengan The St. Bartholomew’s Day Massacre. Tragedi pembantaian kaum Protestan oleh kaum Katolik ini menelan korban lebih dari 10.000 jiwa baik dewasa, orang tua maupun anak-anak. Selain mencampuri urusan politik, Gereja pada abad pertengahan juga memiliki otoritas penuh untuk memasuki ranah sains. Ilmuwan yang mengemukakan teori-teori yang berlawanan dengan doktrin Bibel bisa dihukum mati. Akibatnya ilmu pengetahuan pada masa itu tidak dapat berkembang pesat.

Tragedi-tragedi inilah yang menyebabkan masyarakat Barat begitu trauma dengan agama. Istilah “agama” senantiasa membangkitkan kesan tentang Inkuisisi, takhayul, lemah akal, tidak rasional, dogmatis, sifat munafik, merasa benar sendiri, tindak kekerasan, pembakaran hidup-hidup, pembakaran buku, ketakutan dan kegilaan. Persepsi ini kemudian melahirkan pandangan yang memukul rata semua agama sebagai sesuatu yang harus dipisahkan dari ranah politik. Juga mendorong terjadinya penafsiran terbuka terhadap Bibel. Agama menjadi kutub yang berlawanan dengan sains dan iman berlawanan dengan rasio. Sekularisasi menyapu Eropa tanpa ampun. Ada tiga dimensi sekularisasi yaitu penghilangan pesona dari alam, peniadaan kesucian dan kewibawaan agama dari politik, dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan. Bab ini juga membahas tentang sejarah infiltrasi dan pluralisme agama di Indonesia beserta tokoh-tokoh pendukungnya. Serta tak ketinggalan pembahasan tentang kontradiksi istilah Islam Liberal itu sendiri.

Bab ketiga membahas tentang modus operandi yang biasa digunakan oleh kalangan liberalis yang bisa dirunut hingga ke dasar pemikirannya. Mereka sering menggunakan permainan istilah untuk memecah belah umat Muslim seperti istilah liberal, progresif, kontekstualis, literalis, plurails, fundamentalis, revivalis, tradisionalis, modernis, emansipatoris, ekstremis, radikalis. Orang-orang yang menolak paham liberal akan dicap radikal, fundamentalis, teroris hingga akhirnya disebut Wahabi. Modus lain yang digunakan adalah dengan memotong-motong ayat dan menyembunyikan sisanya sehingga lahirlah pemahaman yang salah.

Bab empat membahas komentar-komentar yang kerap dilontarkan kalangan liberal dalam diskusi-diskusi seperti “Jangan mendominasi kebenaran”, “Saya tidak mau mengobral ayat suci”, “Jangan anti perbedaan”, “Agama tidak mengurusi seksualitas manusia”, “Tuhan tidak perlu dibela” dan masih banyak lagi. Bagian ini berfungsi sebagai bekal bagi pembaca untuk menghadapi retorika-retorika mereka yang sering berulang.

Bab terakhir secara khusus membahas seputar surah Al-Munaafiquun. Pada bab ini pembaca diajak untuk melihat bagaimana Al-Qur’an membimbing kita untuk menghadapi orang-orang munafik, juga menyorot bagaimana kemunafikan-kemunafikan kontemporer yang sering dijumpai sekarang sebenarnya telah lama diberitakan dalam Al-Qur’an. 

Buku yang lahir sebagai salah satu upaya merespon gerakan liberalisasi pemikiran islam ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna serta menampilkan data yang akurat. Buku ini telah dicetak ulang sampai tiga kali dalam kurun waktu satu tahun dan telah dibedah di berbagai kampus di Indonesia. Bahkan juga pernah dibedah oleh mahasiswa islam yang kuliah di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Buku ini dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan baik ustadz, santri, mahasiswa sampai orang awam. Terlebih bagi mereka yang terus memperjuangkan dien ini.

11 April 2012

Menunggumu

Aku menunggumu
Di antara keramaian kampus
Yang berlalu lalang tak peduli

Aku menunggumu
Dalam sekat lembaran buku
yang telah kubaca berulang-ulang

Aku menunggumu
Di tengah diskusi panjang
dan perdebatan yang melelahkan

Aku menunggumu
Di antara teriakan dosen dalam kelas
Dan makian mahasiswa yang timbul tenggelam

Aku menunggumu
Di bawah detak waktu
yang tak pernah berbalik

Aku menunggumu
Bersama rinai hujan
dan sorakan bumi yang menyambutnya

hingga hujan reda
hingga kelas bubar
hingga diskusi dan perdebatan panjang ditutup
hingga lembar buku terakhir
dan hingga kursi-kursi telah kosong
Kau tak juga datang
Atau
Memang takkan datang

Mungkin aku telah kehilanganmu
Sesaat setelah pertama kali menemukanmu

Ego

Ini bukan tentang kau, aku dan kita
Tak pernah ada kau, aku dan kita
Ini hanya tentang aku
Hanya aku

09 April 2012

Dompet Multifungsi

Saya termasuk salah satu manusia yang ribet memakai dompet. Maksudnya dompet yang model lipat dan memiliki banyak sekat-sekat. Umumnya model dompet kebanyakan sama, yaitu model lipat yang mempunyai sekat khusus untuk uang receh, kartu, uang kertas dan juga khusus tempat foto. Model seperti ini yang membuat saya kerepotan karena terlalu banyak ruang dalam satu dompet. Saya lebih nyaman memasukkan semuanya dalam satu tempat tanpa harus memisahkan barang satu dengan lainnya. Selain itu, model dompet lipat umumnya menebal jika telah terisi, jadi sering tidak muat masuk saku rok. Terus-menerus memegang dompet selama belanja adalah hal yang merepotkan. Jika sedang sibuk memilih barang atau saat khusyuk membaca di Gramedia, saya sering lupa menaruh dompet di sembarang tempat. Karena itulah beberapa dompet yang pernah saya beli atau hadiah dari teman hanya menjadi pajangan di lemari. 

Untuk mengatasinya, saya mengalihfungsikan tas tempat pulpen menjadi dompet. Ini lebih gampang. Saya hanya perlu menarik res tanpa harus membuka lipatan-lipatan yang merepotkan. Walaupun sekarang sudah banyak dompet yang simpel (bukan lagi model lipat), tapi saya belum berniat mengganti tas tempat pulpen tadi. Selain tidak ribet, tas ini juga bisa menjadi penyamar yang baik. Tak jarang pencopet yang sering menyantroni angkot terkecoh karena mengira isinya hanya alat tulis menulis. Tapi ini juga yang sering membuat saya ditegur ibu. Katanya, barang-barang itu harus dipakai sesuai fungsinya. Memang sih, saya sering mengubah fungsi beberapa barang, tapi tidak ekstrim-ekstrim amat. Hanya gelang diubah jadi ikat rambut, guling dijadikan bantal tidur, sendal gunung dipakai ke acara nikahan, baju kaos dipakai saat ujian meja atau jilbab dijadikan gorden. Untunglah, sampai sekarang belum ada dan sepertinya tidak akan ada undang-undang yang mengatur perihal model dompet yang dipakai rakyat. Pemerintah belum kurang kerjaan mengurus itu.

Antara Realistis dan Pesimis

Tanpa kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang” 
~Andrea Hirata, Sang Pemimpi~

Masa depan adalah misteri. Gaib. Tak seorangpun yang bisa memastikan dirinya lima atau 10 tahun ke depan. Jangankan bilangan tahun, apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian pun tidak. Kematian, kecelakaan, penyakit, kegagalan, dan lainnya adalah pengingat yang menakutkan. Tak jarang, saya sering dihinggapi pikiran-pikiran buruk tentang masa depan. Beberapa hari yang lalu saya satu angkot dengan seorang ibu yang menggendong bayinya. Awalnya saya tidak memperhatikan karena tenggelam dalam buku yang saya baca. Buku itu bercerita tentang memoar seorang ibu, survivor kanker payudara. Setelah beberapa orang turun, penumpang yang tersisa tinggal saya, ibu itu dan anaknya. Cuaca yang panas membuat saya berhenti membaca dan mengalihkan perhatian pada ibu tadi. Beberapa detik kemudian, saya menyadari sesuatu yang membuat saya berhenti bernapas beberapa detik. Anak yang ada dalam gendongan ibu itu -yang awalnya saya kira adalah bayi- ternyata memiliki tulang yang sangat kecil. Ia memakai celana panjang biru gelap, kemeja lengan pendek warna biru muda yang kebesaran di tubuhnya, dan peci di kepala. Wajahnya serupa balita tapi tulangnya terlalu kecil. Siapapun yang melihat akan tahu bahwa ada yang tidak normal pada anak itu. Melihat saya yang terus memperhatikan anaknya, ibu itu tersenyum. 

“Usianya 17 tahun tapi terlihat seperti bayi. Kena penyakit tulang”, Ibu itu menjelaskan tanpa menunggu saya bertanya. Setelah terlibat dalam percakapan pendek, saya tahu anak itu bernama Putra. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Melihat anak itu membuat hati saya seperti diremas-remas. Di usianya remaja, seharusnya ia sedang memakai seragam putih abu-abu. Seharusnya ia sedang ngos-ngosan berlari, berkelahi dengan waktu untuk mencapai gerbang sekolah yang hampir ditutup oleh guru piket. Seharusnya ia sedang sibuk hilir mudik mengurus kegiatan osis. Seharusnya ia sedang tenggelam mencatat rumus-rumus dan teori di meja kelasnya.  Seharusnya ia sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Seharusnya ia sedang giat belajar untuk persiapan masuk universitas. Seharusnya... 

Baru sepekan yang lalu setelah saya mengunjungi ibu teman yang terkena kanker, tiba-tiba dua hari kemudian datang berita yang membawa kabar kematian beliau. Di lain waktu, saat senja diliputi keremangan dan titik-titik hujan turun satu-satu, seorang anak berjalan sambil memeluk tubuh melawan hawa dingin. Di tangannya terdapat buku-buku kumal untuk dijual. Ia menawarkan dari satu rumah ke rumah lain. Beberapa pemilik rumah langsung menyerahkan selembar uang tanpa melirik buku itu. Sisanya menutup pintu, membiarkan anak itu kelelahan mengucapkan salam dan akhirnya pergi. Pemilik rumah baru keluar setelah bunyi kentongan gerobak bakso lewat. 

Begitulah, beberapa hal yang saya temui, kadang mendatangkan rasa cemas akan apa yang terjadi pada diri saya di masa mendatang. Kematian orangtua teman saya membuat saya membayangkan bagaimana jika saya juga mengalaminya. Saya pernah berkata pada ibu, bahwa jika saja bisa memilih, saya akan memilih menjadi orang yang meninggalkan, bukan yang ditinggalkan. Apa yang terjadi pada anak tadi membuat saya berpikir bagaimana jika nanti saya punya anak. Bisakah saya menjadi ibu yang baik, bisakah saya merawatnya, apakah dia akan sehat dan normal seperti anak-anak lainnya. Jika kami sekeluarga berkumpul, saya selalu berpikir bisakah saya membangun keluarga yang seperti ini. Jika hanya akan berakhir dengan kekecewaan, mungkin sebaiknya tak perlu memulai apapun. Yah, sangat pesimis memang. Tapi seperti itulah cara kerja realistis, seperti pedal rem. Dan saya harus melepaskan cengkeramannya sedikit demi sedikit.

Tentang Kepekaan

Ibu adalah perempuan yang peka terhadap hal-hal di sekitarnya. Berbanding terbalik dengan saya. Sejak dulu saya sudah kenyang disebut cuek, entah apa indikatornya. Komentar itu diaminkan berjamaah mulai dari teman-teman, sepupu bahkan ayah dan ibu saya sendiri. Sejak kecil ibu hidup susah tapi beliau tak pernah menceritakannya. Kisah perjuangannya saya dengar dari ayah. Dulu, sebelum berangkat sekolah ibu harus mengupas kelapa puluhan butir. Dari hasil kerja inilah ibu mendapatkan uang saku dan mampu membeli buku. Nenek saya (ibunya ibu) adalah perempuan yang buta sehingga ibu dan saudara-saudaranya bahu-membahu mengurus rumah. Karena itulah ikatan persaudaraan mereka sangat erat. Bahkan meski Ibu dan saudara-saudaranya telah berkeluarga, mereka sepakat untuk membangun rumah yang berdekatan satu sama lain sehingga teman bermainku tak lain adalah sepupu-sepupuku sendiri. Jika ada masalah yang menimpa rumah tangga salah satu saudara ibu, pasti akan dimusyawarahkan. Dibicarakan bersama-sama. Sms atau telpon jarkom musyawarah adalah hal yang rutin dalam keluarga besar kami. Tapi kami -anak-anaknya- masih jarang dilibatkan kecuali jika masalah yang dimusyawarahkan menyangkut salah satu di antara kami, misalnya ketika salah satu sepupu saya bermasalah dengan temannya atau saat sepupu saya meminta izin untuk meminang seorang perempuan. Bahkan kadang, meski hanya tentang universitas apa yang akan dimasuki sang anak, mereka pasti akan berkumpul membicarakannya.

Kehidupan yang susah sejak kecil membentuk ibu menjadi pribadi yang tegas dan peka. Pernah di hari lebaran, saat rumah disesaki orang-orang yang datang bersilaturahmi, ibu membawa masuk beberapa anak remaja seusia saya dan menyuruh mereka makan. Tak satupun di antara mereka yang saya kenal. Ternyata ibu juga tidak. Saat saya tanya, ibu hanya menjawab bahwa mereka anak-anak pesantren yang tidak pulang kampung yang ditemuinya sepulang shalat ‘Ied di lapangan. Juga saat anak tetangga sakit ketika ditinggal orangtuanya yang tugas di luar kota, ibu yang pertama tahu. Ibu memasakkan makanan dan membantunya minum obat. Ibu juga pernah menampung seorang anak yang kabur dari rumah karena tidak tahan perlakuan ibu tirinya. Beberapa hari kemudian anak itu akhirnya memilih pulang. Walau begitu, Ibu jarang memperlihatkan perasaannya. Saya hanya pernah mendengar dari sepupu bahwa ibu menangis mengetahui saya sakit ketika masih kuliah. Mengingat itu semua selalu menjadi motivasi bagi saya untuk peka dengan sekitar. Semoga ke depannya saya tidak lagi dilabeli cuek oleh orang-orang.

08 April 2012

Hening...


Waktu kembali memainkan perannya, peran yang sangat apik. Begitu pelan dan hati-hati sehingga aku lupa bahwa untuk pertama kalinya melihatmu bukan dari bawah sinar bulan tapi dari semburat mentari pagi. Mungkin itu bukan pilihan yang buruk tapi cukup membuatku tertawayang menyisakan kekosongan di ujungnya. Kekosongan karena aku harus bersaing dengan sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang selama ini membuatmu menutup diri dari sorotan matahari. Tapi asal kau tahu, aku lebih suka melihatmu berada di bawah payung malam, walau langit kota memang sudah tidak punya banyak bintang. 

Jarum jam merangkak lesu membebaskan detik-detik yang hening di setiap putarannya. Menciptakan ruang hampa dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dan dengan leluasa memberi kesempatan pada sunyi untuk mengambang di garis batas. Kau masih berdiam dalam kata dan suara. Namun apa yag terbaca takkan selalu menjadi apa yang seharusnya. Karena jika ia seperti itu, maka tak ada ruang untuk damai, kan? Itu yang selalu kau pegang erat. Dan itu pula alasan mengapa aku menghapus baris-baris kalimat di rongga pemisah. Aku tak ingin lagi bersandar pada waktu yang mengikat. Karena itu berarti aku akan membiarkanmu -dengan senyum sinismu- menghancurkan konstruksi yang kubangun tanpa ampun. Senyum sinis yang bisa kuterka dari pena yang kau goreskan. Senyum, yang membuat jari-jariku pun tergerak menulis, menuangkan pikiran seperti yang pernah kau sarankan. Membuatku mampu memilah-milah rasa dan menguraikannya dalam sebuah tulisan. Aku berterima kasih untuk itu. 

Tapi memandangmu dan -lagi-lagi- senyum sinis itu, hanya akan membawaku pada ruang gelap dan suram. Seperti foto-foto lama penuh debu yang ditinggalkan di gudang penyimpanan. Seperti memandang langit abu-abu yang berisi rasa kagum dan benci. Mungkin tidak seharusnya lembaran itu terbuka. Ia serupa mimpi buruk, meninggalkan kehampaan yang menganga lebar saat terbangun. Dan kau masih sama, masih seperti biasa. Memantulkan bayangan di salah satu sisi cermin hingga siapapun tak bisa menguak bagian yang tersembunyi. Ya ya ya, penghormatan tak membutuhkan pengertian. Aku sudah bosan mendengarnya darimu. Sudahlah, kita berhenti di titik itu saja.

07 April 2012

Dracula (1)


“Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaan dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat”  
~Milan Kundera, Sastrawan Cekoslovakia~

Dracula adalah satu dari sekian sejarah yang dipelintir untuk menutupi kisah yang sesungguhnya. Jika kita menyebut kata Dracula, maka yang umum muncul di kepala orang-orang adalah makhluk bertaring yang gemar menghisap darah, takut salib dan bawang putih, identik dengan kelelawar, tidur di siang hari dan memangsa di malam hari. Belakangan ini muncul versi baru tentang jenis dracula atau vampir yang digambarkan sebagai sosok tampan yang bisa membaca pikiran orang lain, punya keluarga, bersekolah seperti manusia umumnya dan jatuh cinta pada seorang gadis yang tidak bisa ia baca pikirannya (you know what i mean).

Tapi sangat jarang ada yang tahu bahwa Dracula sebenarnya adalah sebuah sejarah kelam penuh darah yang berhubungan dengan perang salib dan umat islam. Buku yang ditulis oleh Hyphatia Cnejna ini pertama kali terbit tahun 2007. Walaupun agak asing, mungkin sudah banyak yang membacanya. Buku ini bukanlah novel tentang makhluk bertaring seperti yang ditulis oleh Bram Stoker pada abad ke-19, tapi merupakan buku sejarah yang menguak asal-usul, kehidupan dan kekejaman seorang yang telah membantai umat islam dalam perang salib. Walaupun agak lemah dari segi motodologi penelitian, tapi penulisnya mampu menguraikan hal-hal menarik yang masih jarang diketahui masyarakat.

Perang salib merupakan perang dua peradaban besar yang sedang menggeliat pada abad pertengahan. Tanggal 25 Agustus 1095 adalah permulaan rangkaian perang salib. Sebanyak 150.000 prajurit yang berasal dari bangsa Prancis dan Norman bergerak menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Mereka dipimpin oleh Godfrey, Bomemond dan Raymond. Sementara itu pasukan Islam dipimpin oleh Imaduddin Zanki. Perang pertama terjadi di Edessa, wilayah yang berdekatan dengan Baghdad, berada di jalur Mesopotamia dan Mediterania. Perang ini dimenangkan oleh pasukan Islam. Setelah Zanki wafat, ia digantikan oleh anaknya, Numuddin Zanki yang kemudian berhasil merebut Antiochea dan seluruh wilayah Edessa. Setelah Numuddin wafat, pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalahuddin Al Ayyubi tahun 1175. Di tangan penglima inilah Yerussalem berhasil direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam genggaman pasukan salib. Peristiwa itu terjadi dalam perang Hattin pada tanggal 2 oktober 1187 M.

Film yang berjudul “Kingdom of Heaven” juga menggambarkan tentang keberanian dan keluhuran budi seorang Shalahuddin. Ada kalimat pendek dalam sebuah dialog saat Shalahuddin ditanya arti Yerussalem bagi orang islam. Kalau tidak salah jawabannya begini, ‘Nothing...this is everything”. Berbeda dengan pasukan salib ketika merebut Yerussalem dan membantai umat Islam, Shalahuddin membiarkan umat Kristen aman di dalamnya. Berita bahwa Shalahuddin tidak melukai satupun umat kristen membuat Paus di Roma mati mendadak karena terkejut ada manusia semulia itu. Raja Richard bahkan mengeluarkan statemen seperti ini, "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi ." Sikap ksatrianya membuat Shalahuddin dihormati kawan maupun lawan.

Perang salib membawa kemajuan bagi masyarakat Eropa. Pada masa itu Eropa yang berada dalam zaman kegelapan mendapatkan cahaya benderang dari peradaban islam. Orang-orang mulai belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada rentang abad X-XV peradaban islam sangat maju. Salah satu mercusuarnya adalah Cordoba (sekarang Spanyol). Saat itu perpustakaan-perpustakaan di Cordoba adalah tempat berkumpulnya para intelektual islam. Namun sayang, kebencian dan permusuhan terhadap islam sangat besar. Luka akibat kekalahan perang salib masih membekas di hati orang-orang barat. Barat kemudian berusaha mengaburkan sejarah dan menampakkan seolah-olah islam adalah agama yang hanya ditegakkan oleh pedang dan kekerasan. Tidak mengherankan jika saat ini umat islam digambarkan sebagai kaum teroris.

Setelah perang salib berlalu, umat islam mengalami kemunduran. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya menjadi ujung tombak kemajuan, pelan-pelan ditinggalkan. Cordoba jatuh ke tangan barat. Begitu pula identitas sebagai orang islam perlahan-lahan ditanggalkan oleh umatnya. Kemunduran ini mengakibatkan perasaan inferior sehingga dengan mudah pola pikir mereka dicengkeram. Lama kelamaan umat islam lupa bahwa mereka pernah menjadi mercusuar peradaban dunia.

Dracula (2)

Dan Beranikah dirimu membuktikan kebenaran yang paling kau benci ?” 
~Byron~

Selama ini sosok Drcula hanya dianggap imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, makhluk yang berada antara ada dan tiada. Padahal sejarah hidup Dracula adalah kisah banjir darah yang belum ada tandingannya hingga kini. Dan semua itu tak bisa dipisahkan dengan perang salib serta jatuhnya Konstantinopel ke tangan kerajaan Turki Ottoman.

Ayah Dracula bernama Vlad II. Nama aslinya Basarab. Basarab kemudian bergabung dengan kerajaan Honggaria dan direkrut sebagai pasukan elit garda depan perang salib. Tahun 1431 istri Basarab mengandung anak kedua mereka. Mereka kemudian pindah ke Transylvania, tepatnya di Benteng Sighisoara. Di tempat inilah istri Basarab melahirkan anak keduanya, Dracula. Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan pada bulan November atau Desember 1431 M. Asal-usul kata Dracula adalah karena ayahnya (Vlad II) merupakan anggota orde naga dan selalu membawa lencana orde tersebut kemana-mana. Orang-orang Wallachia kemudian memanggilnya dengan sebutan “Vlad Dracul” dalam bahasa Rumania, “Dracul” artinya Naga, sehingga Vlad Dracul berarti Vlad Sang Naga. Sementara akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak dari”. Dari kata tersebut Vlad III atau Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa inggris dilafalkan menjadi Dracula) yang berarti anak dari Vlad Dracul.

Karena ayahnya sering terjun ke medan perang dan kehidupannya hanya mengenal sosok ibu, Dracula tumbuh menjadi sosok tertutup dan inferior. Situasi politik membuat ia dan adiknya, Randu dikirim ke Turki sebagai jaminan dari ayahnya. Dracula tumbuh menjadi remaja pembangkang dan pendendam. Untuk menghibur rasa kesepiannya, Dracula sering menangkap tikus dan burung kemudian ditusuk-tusuk dengan tombak kecil. dia sangat girang melihat hewan-hewan tersebut menggelepar sekarat. Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam tapi hanya untuk tujuan politik. Di sana ia belajar memainkan segala jenis senjata dan strategi perang. Dia mempunyai satu kelebihan yang sulit dicari tandingannya, yaitu naluri membunuh. Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman mati semakin menjadi. Boleh dikata ia kecanduan jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat etika pedang ditebaskan. Bibit kekejaman itu ia dapatkan sewaktu masih di Wallachia. Di kota itu pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-hari. Udara kota itu selalu anyir bau darah.

Tahun 1448 kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula. Setelah bebas, Ia dan pasukannya kemudian berhasil merebut Wallachia. Selanjutnya, masa pemerintahan Dracula merupakan masa-masa teror yang mengerikan. Naluri kekejamannya benar-benar tersalurkan setelah ia menjadi penguasa di Wallachia. Hanya dalam waktu kurang dari setahun ia telah membunuh ribuan orang dengan cara yang kejam yaitu disula. Bagian ke III buku ini menggambarkan penyiksaan ala Dracula. Boleh dikata Dracula adalah seorang kreator penyiksaan. Mulai dari penyulaan, pemotongan dan perusakan organ seksual, merebus korban hidup-hidup, menguliti kepala dan bagian tubuh lainnya, mencekik, memotong otot-otot tertentu, memotog hidung dan telinga, membutakan mata, membakar hidup-hidup, memaku kepala, memangsakan si korban pada binatang buas, menarik korban dengan dua kuda, memendam tubuh korban dan memanggang. Saya tidak perlu ceritakan secara mendetail karena bagi saya itu terlalu sadis. Kesadisan Dracula melebihi kesadisan suku-suku paling primitif yang ada di muka bumi.

Pembantaian Dracula terhadap umat islam juga tak bisa dipisahkan dari perang salib. Sebagai salah satu panglima perang salib di daerah Transylvania, Dracula bertugas mencegah pasukan Turki Ottoman menuju Eropa Timur dan Barat. Ia memakai segala cara, salah satunya dengan meneror umat islam yang ada di Wallachia. Dracula juga berusaha mencari sekutu dari kerajaan yang sama besarnya dengan Turki, yaitu Honggaria. Langkah pertamanya untuk mendapat simpati dari Honggaria adalah dengan pindah agama. Ia memeluk Katolik. Langkah ini berhasil, ia diterima sebagai bagian dari pasukan salib bahkan dinikahkan dengan saudara raja Honggaria. Setelah itu, ia baru berani secara terbuka menyatakan bahwa dirinya adalah musuh kerajaan Turki Ottoman. Ia mulai meneror dan membantai umat islam di wilayah sekitarnya. Sejarah mencatat sekitar 300.000 umat islam dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya. Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau Snagov setelah tak sanggup melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Namun kekejamannya tidak pernah terungkap secara terbuka karena beberapa sebab :
  1. Pembantaian Dracula terhadap umat islam tidak bisa dilepaskan dari perang salib. Negara-negara barat yang menjadi pendukung pasukan salib tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengore-ngorek kekejaman Hitlet dan Polpot enggan membuka aib sendiri.
  2. Dracula, betapapun kejamnya adalah pahlawan pasukan salib sehingga nama baiknya selalu dilindungi. Dan sampai saat ini, di Rumania, Dracula dianggap sebagai pahlawan.

Seperti itulah politik sejarah. Negara adidaya akan memaksakan kebenaran sejarah menurut selera mereka. jika tidak jeli, kita akan terjebak pada kebenaran yang sebenarnya adalah kebohongan. Dengan kemampuan keuangan dan teknologi mereka berupaya untuk memelintir sejarah. Contohnya adalah perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa dalam perang itu Amerika harus menerima kekalahan telak. Banyak prajurit yang tewas dan tidak sedikit yang cacat seumur hidup. Amerika pun menciptakan sosok super hero lewat film. Mereka memproduksi film Rambo dengan berbagai judul dan variasi untuk menunjukkan bahwa merekalah pemenang di perang Vietnam. Rambo adalah mitos baru untuk menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan Dracula tak ubahnya seperti Rambo. Bedanya, kalau Rambo adalah sosok fiksi yang seolah-olah dibuat nyata, maka Dracula sebaliknya, yaitu sosok nyata yang diubah menjadi fiksi.

Selain itu, tujuan lain dari penjajahan sejarah adalah menghilangkan pahlawan dari pihak musuh. Superoritas barat menginginkan bahwa hanya merekalah  yang memiliki pahlawan. Dalam mitos Dracula, sosok Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al Fatih dihilangkan sama sekali. Padahal sejarah resmi mencatat peran sang sultan dalam mengakhiri kekejaman Dracula dalam dua kali gempuran besar-besaran. Serangan pertama membuat Dracula kehilangan tahta dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh. Tapi semua fakta itu telah dihapus oleh barat. Sosok sultan Mehmed II memang sangat dibenci kerena telah berhasi merebut konstantinopel dan membuat barat kehilangan muka. Karena itulah mereka berusaha untuk menghapus nama Sultan Mehed II dalam sejarah. Harus diakui usaha itu cukup berhasil. Buktinya, bahkan umat islam sendiri pun jika ditanya tentang sultan Mehmed II akan menggelengkan kepala namun jika ditanya tentang Dracula, mereka bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sosoknya.

Bila suatu umat tidak mengenal pahlawannya maka mereka tidak akan bangga terhadap umatnya sendiri. Mereka akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggap lebih superior. Gejalanya bisa dilihat dari pemujaan secara berlebihan terhadap budaya barat. Kondisi seperti ini yang diinginkan barat karena negara yang tidak lagi bangga pada bangsanya sendiri akan dengan mudah diarahkan. Inilah bentuk penjajahan gaya baru. Begitu halus, tak ada perang, tak ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.

“Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuangan manusia melawan dirinya sendiri”

Si Kecil

Setiap manusia memiliki keunikan karakter dan sifat yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sekian banyak orang-orang yang pernah saya temui, baru kali ini saya menemukan keunikan yang berbeda dari seseorang. Saya sering memanggilnya “Si Kecil” karena tinggi badannya memang imut, mengingatkan saya akan tokoh Kugy dalam novel Perahu Kertas. Saya mengenalnya baru setahun belakangan ini. Usianya empat tahun lebih muda dari saya. Dia anak yang penurut dan suka menolong. Jika ia berbicara, saya tidak menemukan titik pemberhentian kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, lancar tanpa henti. Pun ketika bercerita, dia sering memperagakan apa yang ia ceritakan. Sehingga melihatnya berbicara tak ubahnya seperti menonton teater. Ia sering menceritakan teman-temannya pada saya seolah-olah saya juga mengenal mereka. Dia anak yang ceria tapi sangat gampang menangis. Banyak hal-hal biasa atau bahkan remeh di mata saya tapi justru bisa membuatnya menangis.

Dia termasuk salah satu korban Korean Wave. Drama City Hunter yang bergenre action  itu justru membuatnya terisak-isak. Entah bagian mananya yang membuat dia sampai menangis-nangis. Jika seseorang mengeluarkan suara yang agak keras padanya, dia pasti menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia dibentak-bentak seniornya saat ospek mahasiswa baru. Untungnya, ospek di fakultasnya dihapuskan. Yang paling aneh adalah kejadian pada suatu sore. Ia tinggal sekamar dengan dua orang temannya. Hari itu giliran ia piket membersihkan kamar. Sore harinya, teman sekamarnya pulang kuliah dan mencari-cari headphone hp-nya namun tidak ketemu. Si Kecil langsung panik karena hari itu adalah hari piketnya dan ia merasa bersalah jika headphone temannya hilang. Kepanikannya tidak beralasan, toh saat membersihkan kamar, headphone itu memang sudah tidak ada. Tapi ia tetap merasa bersalah. Sambil tergopoh-gopoh ia mendatangi saya dan bertanya berapa harga sebuah headphone. Saya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya pun bertanya, apa memang dia yang menghilangkan headphone itu, ia jawab tidak. Saya tanya lagi, apa temannya minta digantikan headphone baru, ia menjawab tidak. Saya menarik napas panjang, ya ampun anak ini benar-benar, deh. Sambil menahan jengkel, saya bilang bahwa ia tidak perlu sepanik itu apalagi sampai berniat menggantinya karena bukan dia yang menghilangkannya. Melihat saya yang memasang raut wajah jengkel, eh dia malah nangis. Astaga...*jidat nempel ke tembok*

Sifatnya yang seperti itu menimbulkan rasa ingin melindungi dari orang-orang di sekitarnya. Ia bisa membuat orang tertawa sekaligus kasihan di saat yang bersamaan. Uniknya, ia tidak pernah menyimpan dendam pada orang yang membuatnya menangis. Menangis telah menjadi semacam penawar baginya. Ia bisa menangis 10 menit lamanya lalu kembali berbicara pada orang yang membuatnya menangis seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hal yang hebat menurut saya, karena jarang ada bisa seperti itu. Tidak juga saya.