26 February 2013

Ganti Nama

Bismillah,

Sebenarnya keinginan mengganti nama blog sudah terlintas sejak beberapa waktu lalu. Pertama kali membuat blog ini, saya tersangkut pada alamat dan judul, tak tahu mau diberi nama apa. Dan karena niat awal juga tidak ingin dipublikasikan (hanya beberapa orang yang diberitahu), sehingga nama Himitsuki diambil begitu saja dari sebuah gambar bulan. Tapi rupanya nama itu tidak cocok disematkan pada blog ini. Sehingga mulai terpikir untuk mencari nama lain.

Nama yang pertama kali muncul di kepala adalah Catatan Larut Malam. Ini karena saya keseringan menulis ketika malam sudah mendekati perbatasan. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kok bernuansa mistis ya. Nama lain pun ikut-ikutan muncul, semisal Ratapan Anak Rantau. Dipikir-pikir lagi, kedengarannya seperti film sedih yang dirilis puluhan tahun lalu. Atau mungkin bagus kalau diberi nama Memoar Pecandu Donat. Ini mulai ngelantur.

Karena tidak dapat juga, akhirnya kamus pun dijadikan alternatif bantuan. Hasilnya lumayan. Ada beberapa nama yang berhasil lolos masuk nominasi. Beberapa di antaranya terdengar puitis gimanaaa gitu. Saya jadi geli sendiri membacanya. Sepertinya aroma puitis memang tidak cocok untuk blog ini. Kamus ditutup, tak ada hasil. Mouse saya arahkan ke folder lain yang bertuliskan LOTR. Setelah sekian lama akhirnya ketemu lagi sama film metafora futuristik ini. Kangen melihat petualangan tiga kawanan unik. Satunya berasal dari bangsa manusia, satunya dari bangsa peri (Elf) dan satunya lagi dari bangsa kurcaci (Dwarf). Siapa lagi kalau bukan Aragorn, Legolas dan Gimli. Tak ketinggalan pula empat kawanan hobbit dari Shire, Frodo, Samwise, Merry dan Pippin serta si kepala suku, Gandalf si Kelabu. Yang awalnya niat mencari nama, malah berakhir dengan nonton maraton trilogi The Lord of The Ring. Tak disangka, justru dari film inilah saya menemukan nama yang sepertinya cocok.

Bermula ketika pasukan bantuan yang dipimpin oleh Haldir tiba di Helms Deep atas perintah Elrond, penguasa Rivendell. Prajurit perang bangsa peri ini memakai jubah biru laut bertudung kepala lengkap dengan senjata busur dan anak panah. Saya suka melihat jubah yang mereka pakai, panjang dan lebar. Juga busur dan panah warna emas khas bangsa Elf.

Jubah semacam itu juga mengingatkan akan kejadian konyol yang terjadi pada suatu malam tiga tahun lalu, ketika seseorang datang ke rumah dan mengaku sebagai kembarannya Legolas. Saya kaget bukan main melihat makhluk yang tertutup jubah cokelat tua bertudung kepala. Saat dia tertawa terbahak-bahak, barulah saya sadar siapa sebenarnya orang itu. Kalau tidak ingat dia adalah tamu, besar kemungkinan sepatu yang ada di dekat kaki saya sudah mendarat di kepalanya. Perihal jubahnya, dia mengaku kalau pakaian itu adalah produk cap karung yang tanpa sengaja dia temukan di pasar. Hebat sekali.

Begitulah, nama ini biasa saja, tidak sepuitis yang lain. Malah mungkin terdengar aneh. Tapi jadi lebih cocok dibandingkan nama sebelumnya. Lagipula, blog ini kan latarnya memang warna biru. Biru itu warna air. Biru itu pakaian langit di siang hari. Begitu saja. Tidak ada acara potong kambing sebagai peresmian, hanya diawali lafadz Basmalah, ditemani sekotak teh lalu ditutup dengan Alhamdulillah.
19 February 2013

Kearifan

“Tidaklah seseorang disebut sebagai orang yang arif bijaksana kecuali apabila dia telah menjadi seperti bumi, yang bersedia diinjak, baik oleh orang yang baik maupun yang durhaka, atau seperti hujan yang bersedia turun kepada yang menyukai ataupun yang tidak menyukainya” 
~Al-junaid~

“Orang yang arif tidak akan meninggalkan dunia sedangkan keinginannya tidak lepas dari dua hal : menangisi dirinya sendiri dan rindu bertemu dengan Tuhannya” 
~Yahya bin Mu’adz~

“Seseorang tidak disebut orang yang arif sehingga apabila dia diserahi kerajaan sebesar Kerajaan Sulaiman, kerajaan itu tidak membuatnya lalai kepada Allah walaupun sekejap mata” 
~Ulama~

“Orang yang arif adalah orang yang lemah lembut di hadapan Allah dan tegar di hadapan selain Allah, membutuhkan Allah dan tidak membutuhkan selain Allah, merendahkan diri di hadapan Allah dan merasa tinggi di hadapan makhluk-Nya” 
~Ulama~

“Kearifan”, kata seorang dosen, “Adalah sifat yang seharusnya dimiliki para pendidik, terlebih mereka yang menyandang gelar tertinggi”

Ah, sekiranya para pemilik gelar tersebut mempunyai pikiran yang sama seperti Anda, Pak.
18 February 2013

Jauh


Andai rembulan berketurunan
Mungkin dari purnama kau dilahirkan
Sebagaimana duniamu yang jauh dari jangkauan
Sebagaimana matamu yang mengisyaratkan kebekuan

Serumit apa sebuah perenungan
Hingga tak juga menemukan jawaban
Tidakkah kau perhatikan
Betapa dekatnya ia diletakkan

Mungkin akan ada kesempatan
Berjumpa dalam suatu pertemuan
Atau hanya berpapasan dengan sedikit senyuman
Cukupkah itu disebut kebaikan ?

Ketika orang-orang saling mengungkapkan
Kita memilih menyembunyikan
Cukupkah itu disebut kesabaran ?

Memandangi nisan kenangan,
Lalu mengais-ngais debu peninggalan
Menyimpannya sebagian,
Melempar selebihnya ke tengah guyuran hujan
Agar berpulang pada ketenangan

Bagiku itu keharusan
Bagimu itu keangkuhan
Pada akhirnya, di titik mana kita sepemahaman ? 


*Kepada sepasang mata : Ada salju yang turun di matamu. Dingin. Ada langit ditinggikan di matamu. Jauh.
14 February 2013

Cinta Itu Revolusi


Cinta itu revolusi. Kepalamu bisa tiba-tiba terbalik seketika

Cinta, sebuah tema yang tak penah lapuk digilas waktu. Ia dilukiskan oleh para Nabi, ulama, penyair, filsuf, ilmuwan, seniman hingga orang awam. Sedemikian kompleksnya hingga manusia menggunakan setidaknya lima puluh istilah untuk mengungkapkan cinta, mulai dari al-Mahabbah (cinta kasih) hingga at-Ta’abbud (Penghambaan). Cinta itu revolusi. Kalau hanya sekadar suka atau merasa cocok, itu bukan cinta. Keduanya tidak cukup untuk membuat kepalamu terbalik seketika. Cinta itu revolusi. Bukan hanya kepala, seluruh hidupmu pun bisa terbalik 180 derajat. Seperti Umar bin Khattab yang langsung mendatangi kediaman Abu Jahal, orang yang paling keras memusuhi Nabi, dan dengan lantang menyerukan keislamannya. Keislaman yang mendatangkan kehormatan dan kekuatan bagi orang-orang muslim. Keislaman yang kemudian membuatnya dijuluki Al-faruq.

Cinta itu revolusi. Sebagaimana Mush’ab bin Umair, pemilik nama paling harum di Makkah yang bercerai dari kemewahan hidup demi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehari makan, berhari-hari kelaparan. Jubah usang penuh tambal-tambalan. Namun lewat tangannya penduduk Madinah berduyun-duyun masuk Islam. Dialah pemegang bendera perang Uhud. Seorang pemuda yang sedemikian melaratnya hingga saat syahid menjemput, ia tak memiliki kain yang cukup untuk menutup seluruh tubuhnya.

Cinta itu revolusi. Sebagaimana Hindun binti ‘Utbah yang sesaat setelah memproklamirkan keislaman, langsung mengambil palu dan menghancurkan berhala di rumahnya hingga berkeping-keping. Memupus noda-noda jahiliyah yang pernah melekati dirinya. Berbalik menjadi ahli ibadah dan ikut membakar semangat kaum muslimin dalam perang Yarmuk.

Begitulah seharusnya cinta. Jangan sekadar suka atau merasa cocok, tapi sesuaikan dengan syari’at. Bila diperintahkan berlepas diri, maka tinggalkan. Cukupkan dengan apa yang telah ditetapkan. Cinta sejati itu mengembalikan hati kepada keridhaan. Mengembalikan jiwa kepada ketenangan. Membalikkan kehinaan menuju kemuliaan.
12 February 2013

Sekotak Teh

Berapa lama waktu berlalu ?
Rasanya ada yang belum selesai di kepalaku
Sesuatu yang tertinggal di bawah kelopak mataku
Bayang itu, 
Masih di sini

Hei, sekotak teh dari lemari pendingin
Tujuh menit saja,
Bantu aku menghapusnya
Sebagai imbalan empat ribu perak
Atas kemerdekaanmu

Penilaian : Pembuat vs Penikmat

“Tidak begitu, fren. Karena bagus, sulit atau indah menurut pembuat bisa saja tidak untuk penikmat. Pokoknya kamu yang tentukan. Titik.” 

Titik, kata yang menutup perdebatan kecil kami siang itu. Lagi-lagi saya menemukan paradoks di sini. Sering kita menuntut untuk diberi kebebasan memilih, tidak ingin dibatasi, tetapi tak jarang ketika kebebasan diperoleh, kita justru kebingungan menentukan pilihan di antara sederet kemungkinan. Seperti halnya kejadian siang itu, ketika dia membebaskan saya menetapkan sejumlah angka. Berulang kali saya menolak dengan alasan tidak punya kualifikasi untuk menilai karyanya. Ah, seni lukis, saya benar-benar buta akan bidang yang satu itu. Saya tidak tahu melukis, tidak mengerti teknik melukis dengan perpaduan warnanya, bahkan tidak pernah mengunjungi satu pun galeri lukisan. Sehingga meminta saya memberikan penilaian apalagi sampai menentukan ukuran harga sebuah karya lukis adalah sama seperti meminta mahasiswa jurusan Hubungan Internasional menjawab soal-soal fisika. Tidak tepat.

Tapi yang menarik adalah kalimat terakhirnya bahwa indah menurut pembuat belum tentu indah menurut penikmat. Bagus menurut pembuat belum tentu bagus menurut penikmat. Jika kita berada di posisi penikmat, entah penikmat buku, penikmat film, atau penikmat seni lainnya, maka penilaian akan sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Tergantung selera masing-masing. Contoh sederhana, film Twilight, kata teman saya sangat bagus. Kata saya, tidak juga. Sementara dwilogi novel Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas, kata saya luar biasa bagus sekali. Kata teman saya, lebay. Berbeda halnya jika berdiri di posisi pembuat atau penghasil karya, penilaian kemungkinan akan relatif sama. Sebab mereka menguasai bidang itu, paham seluk beluk di dalamnya dan yang paling penting, ada standar yang dijadikan acuan untuk menentukan apakah suatu karya bagus atau tidak. Itulah yang menyebabkan adanya perbedaan besar antara penilaian pembuat dengan penilaian penikmat.

Ambil contoh, TV Champion, sebuah tayangan dari Jepang yang menampilkan berbagai perlombaan seperti lomba membuat cake, lomba membuat rumah pohon, lomba membuat mie, dll. Juri dalam lomba tersebut biasanya diambil 100 atau 200 orang yang berasal dari berbagai latar belakang. Ada ibu rumah tangga, pekerja kantoran, siswa SMA, dan sebagainya. Seluruh juri tersebut adalah para penikmat karya yang dilombakan. Dalam sesi lomba membuat cake, ada satu peserta yang pernah khusus belajar membuat cake di Perancis. Peserta lain juga mengakui kemampuannya yang lebih unggul dibanding mereka. Ternyata berdasarkan hasil penilaian para juri, orang tersebut harus berpuas diri hanya menduduki posisi kedua.

Lain waktu ada perlombaan membuat rumah pohon. Dari tiga peserta yang lolos ke babak final, salah satu di antaranya membuat rumah pohon dengan desain yang jenius karena mengadopsi model sarang lebah yang digantung. Tetapi, lagi-lagi berdasarkan penilaian para juri (yang terdiri dari murid-murid sekolah dasar yang tidak tahu seluk beluk dunia arsitektur), orang tersebut harus puas duduk di posisi ketiga. Ternyata para juri tidak begitu butuh model yang sejenius itu, mereka hanya ingin rumah pohon yang sederhana, yang membuat mereka merasa nyaman seperti di rumah.

Seorang pembuat menghasilkan karya memang untuk dinikmati, sehingga wajar jika penilaian penikmat sedikit memberi gambaran apakah suatu karya bagus atau tidak. Kupikir benar juga kata-katanya tadi. Walaupun akhirnya saya tetap menolak menentukan ukuran rupiah hasil karyanya.
11 February 2013 0 komentar

Kereta Perjuangan


“Jika perjuangan Islam diibaratkan dengan kereta, maka di mana posisi kita ?” 

Entah kenapa, setiap kali ustadz tersebut ceramah, kata-katanya seperti berubah menjadi air sementara saya berubah menjadi spons. Mudah meresap dalam hati. Pembawaan beliau yang senantiasa bersemangat pun ditularkan kepada pendengarnya. Sehingga tak jarang kalimat yang sebenarnya sederhana sanggup menerobos relung kesadaran. Kekuatan kata-kata mampu menembus apa-apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum, kata Akbar Zainudin dalam Man Jadda Wajada. Pun hari itu, pertanyaan sederhana yang beliau ajukan, yang mungkin sudah umum terdengar dalam setiap ceramah bertema perjuangan, tapi ternyata memberikan efek yang jauh berbeda bila disampaikan oleh orang yang berbeda pula.

Umat islam akan menang, ini adalah janji Allah, sebuah keniscayaan. Kemenangan islam bukan diperoleh dengan bencana alam ataupun dengan mematikan para musuh. Tetapi kemenangan itu akan tegak dari perjuangan orang-orang yang beriman. Kemenangan akan tegak dari tangan-tangan mukmin yang benar tauhidnya, baik ibadah dan akhlaknya serta mereka yang tak ragu menukar harta dan jiwanya di jalan Allah. Jika perjuangan itu diibaratkan dengan kereta yang terus melaju, maka di mana posisi kita ? Apakah ikut dalam kereta hingga tujuan akhir atau memilih turun di stasiun pemberhentian ? Seseorang hanya akan berada di antara dua kemungkinan, menggantikan atau tergantikan. Pada kelompok mana kita akan bergabung ? Bila seseorang memilih menjadi yang tergantikan, maka yakinlah, ada sepuluh orang lain yang siap untuk menggantikan. Allah pasti akan memenangkan agama-Nya.

Saya terpekur mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari lisan beliau. Ada rasa malu yang mekar jauh di dasar batin. Adakah yang telah saya berikan untuk agama ini ? Apa peran dan andil saya dalam perjuangan ini ? Bila menilik hari-hari yang berlalu, maka mungkin secuil pun tak ada. Dibanding mereka yang telah puluhan tahun merapatkan shaf perjuangan, patutlah saya malu. Ketika orang lain dengan cekatannya bergerak mengurus ummat, saya masih saja stagnan mengatur diri yang rasanya tak stabil-stabil juga. Ketika orang lain telah jauh melangkah di barisan terdepan, saya masih berkutat menyeret semangat yang naik turun seperti grafik sinus.

Murabbiyah saya sering menasihatkan bahwa agar bisa terus maju seseorang memang harus selalu mencambuk diri, berkelahi dengan rasa malas dan bosan. Kedua hal ini, malas dan bosan, akan bermunculan di sela-sela padatnya rutinitas. Pun setiap manusia akan senantiasa bertarung dengan apa-apa yang berasal dari dalam diri mereka. Manusia tidak hanya dianugerahi akal tetapi juga hawa nafsu, yang setiap saat bisa menjerumuskannya. Manusia bukan malaikat yang tak pernah melenceng sedikit pun. Untuk itu manusia selalu membutuhkan nasihat dikala terlupa. Agar semangat kembali bangkit untuk melanjutkan perjuangan. Dan agar kita tidak menjadi orang-orang yang tumbang tergantikan.

Ya muqollibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agamaMu)
06 February 2013

Dear You


Suatu waktu, seorang ayah pernah menulis pesan pada anaknya,
“Anakku, hari ini, usiamu genap sekian tahun. Ayah menulis ini bukan untuk mengucapkan selamat. Hanya saja, ayah takjub, betapa cepatnya waktu berlalu.”

Betapa cepat waktu berlalu. Betapa melenakan makhluk itu. Membuat kita acap kali melontarkan kalimat, “rasanya seperti baru kemarin”, sementara “kemarin” yang dimaksud adalah suatu hari bertahun-tahun yang lalu. Besok usianya genap mencapai angka yang dianggap sebagai titik kritis bagi perempuan yang masih sendiri. Yah begitulah, orang-orang hanya melihat angka lalu berkomentar sana-sini. Padahal itu di luar kendali manusia.

“Hidupku sudah cukup. Kupikir tak perlu ada tambahan orang lain dalam kesendirianku.”, katanya suatu hari. Yah, sepakat. Kita memang tak begitu mempermasalahkannya, tapi kita hidup di tengah manusia yang selalu saja berkicau tentang waktu dengan pertanyaan patennya, “Kapan ?”. 

Untuk sepupuku yang ajaib, aku berharap kau dikaruniai mahram bukan karena tuntutan waktu, tapi lebih agar kau tak lagi selalu berkendara sendirian, atau terlelap kedinginan. Aku berharap ada seseorang yang bisa membersamaimu dalam kesulitan. Seseorang yang bisa melindungi dan menjagamu. Seseorang yang mampu mengisi ruang-ruang kosong di sana, di hati.
01 February 2013

Mengejar Bus

Lama saya memandang kalender 2013 yang masih terasa wangi barunya itu, menghitung-hitung hari, rupanya lebaran masih jauh. Masih ada waktu enam bulan untuk sampai ke Idul Fitri. Ngomong-ngomong soal lebaran, saya teringat kejadian H-1 idul adha tiga tahun lalu. Padatnya jadwal kuliah membuat saya baru bisa pulang sehari sebelum lebaran. Sejak malam, ibu sudah mengingatkan lewat telepon agar tidak terlambat bangun karena jarak antara Unhas dan terminal lumayan jauh sementara bus berangkat tepat jam 9 pagi. Saya mengangguk patuh. Siap, boss!


Keesokan harinya, selepas shalat subuh saya malah ketiduran dan terbangun mendapati jam sudah menunjukkan pukul 8.00. Mulut saya jatuh ke tanah, ternganga. Mampus! Saya langsung menerapkan strategi mandi jaman LDK OSIS dulu yang tidak lebih dari tiga menit. Saat masih kasak-kusuk memakai kaos kaki, tiba-tiba hp saya berdering. Di layar tertera tulisan, “Ibu calling...”. Mampus stadium dua! Gemetar saya mengangkat telepon itu. Sambil terseok-seok mencari angkot dengan tangan kanan memegang tas dan tangan kiri memegang hp, saya terpekur mendengarkan tujuh menit sari berita dari ibu terhadap keteledoran saya.

Telepon ditutup ketika jam sudah menunjukkan pukul 08.20. Saya mencoba menelepon taksi tapi yang terdengar malah suara perempuan yang tega-teganya berkata bahwa pulsa saya tidak cukup untuk melakukan panggilan. Mampus stadium tiga! Setelah beberapa menit bengong putus asa, sebuah angkot tak berpenumpang berhenti di depan saya. Saya menjelaskan situasi saya pada sopir angkot itu, boleh dibilang saya setengah curhat padanya. Si sopir yang ditemani anak perempuannya yang kira-kira masih berusia 11 tahun, mengangguk paham dan menawarkan mengantar saya langsung ke terminal. Tanpa ambil tempo saya mengiyakan dan langsung loncat ke dalam angkot.

Selama perjalanan menuju terminal itulah suasana horor menyelimuti angkot yang saya tumpangi. Si sopir ngebut gila-gilaan di jalan raya. Nyalip kiri, nyalip kanan. Rem dan gas diinjak bergantian seperti main game di Time Zone. Si anak sopir duduk dengan kalemnya sambil sesekali berpegangan ketika bapaknya berbelok tajam di tikungan. Sementara di belakang, tak berhenti saya merapal doa dalam hati sambil memegangi jendela erat-erat karena angkot itu seperti diguncang gempa berkekuatan 9 SR. Jangankan sampai ke rumah, untuk sampai ke terminal dengan selamat saja saya tidak yakin. Sementara itu sudah tak terhitung berapa kali pihak perwakilan bus menelepon dan menanyakan keberadaan saya. Katanya, saya adalah penumpang terakhir yang ditunggu. Bila pukul 09.30 saya belum muncul di teminal, mereka tidak akan menunggu lebih lama lagi. Berulang kali saya meminta maaf sampai berbusa rasanya.

Setelah melewati berbagai macam jalan pintas, akhirnya gerbang terminal mulai terlihat. Tragisnya, tepat ketika memasuki terminal, bus yang akan saya tumpangi sudah merayap keluar lewat gerbang lain. Mampus stadium akhir! Di sinilah adegan konyol ala sinetron terjadi. Saya melompat turun dari angkot dan membayar tanpa melihat lagi lembaran berapa yang saya berikan. Sambil menjinjing tas, pontang-panting saya berlari mengejar bus itu. Karena tidak terkejar juga akhirnya saya menarik napas dalam-dalam dan berteriak sekencang-kencangnya,
 “Berhentiiiiiiii...”
“Tungguuuuuuuu...”
“Tolong tunggu sayaaaaaaaaaa...!!!”
Teriakan itu menarik perhatian orang-orang di sekitar terminal. Mereka bergantian menatap saya dan bus itu. Setelah paham situasi yang saya alami, beberapa orang, mulai dari pedagang asongan, tukang becak, penjual buah sampai ibu-ibu penjual jamu ikut berteriak membantu saya. Beberapa lelaki dengan gesit berlari mengejar bus dan menggedor pintu belakangnya. Akhirnya sopir bus menyadari apa yang terjadi. Dia memperlambat kecepatannya kemudian perlahan-lahan berhenti. Saya menyeret barang bawaan, mandi keringat dan megap-megap kehabisan napas. Pintu belakang bus terbuka. Sebagian penumpang kasihan melihat saya dan beberapa lainnya mengomel karena membuat mereka kelamaan menunggu.

Saya naik dengan memasang senyum selebar mungkin. Demi bertemu ayah, ibu dan kedua adik saya, demi shalat jamaah di lapangan, demi silaturahim dengan keluarga besar, demi ketupat, ayam goreng dan kawan-kawannya, demi bertemu teman-teman SMA, demi ruang jingga dan demi rembulan di langit dermaga, saya menulikan telinga dari omelan-omelan itu. Beruntungnya, saya bertemu teman masa SMP yang berbaik hati membagi tempat duduknya. Tiket kursi saya sendiri dianggap hangus. Entah siapa yang mendudukinya saat itu. Bukan lagi hal penting karena setidaknya, saya tidak ketinggalan bus. Alhamdulillah.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Ada dua kabar yang ingin saya ceritakan, kabar baik dan buruk. Mau dengar yang mana dulu ? Apa ? Kabar buruk dulu ? Baiklah, kita mulai dari kabar buruk. Belakangan ini saya tidak bisa tidur dengan normal. Padahal sedang libur semester, tapi memejamkan mata di malam hari rasanya sulit sekali. Fenomena sulit tidur ini muncul justru di saat saya sedang luang, tidak ada tugas kuliah, kepanitiaan dan semacamnya. Sebaliknya, saya justru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya begadang kerja tugas dan berlelah-lelah mengetik. Paradoks memang. Tapi, bukankah yang namanya ketenangan itu tidak akan bisa diperoleh dengan cara yang tenang. Pun kenikmatan itu tidak akan bisa diperoleh dengan cara yang nikmat. Sehingga benarlah sabda bahwa dua hal yang manusia sering lalai darinya, kesehatan dan waktu luang. Sekarang, dengan waktu luang yang sebanyak ini, saya bahkan tidak tahu ingin melakukan apa. Tidak juga untuk hal-hal yang berguna. Saya tidak bisa pulang. Mau jalan-jalan juga saya tidak tahu tempat apa yang ingin dituju. Terkadang saya rindu laut. Dulu pernah stres gegara berbulan-bulan tidak melihat laut dan pasir pantai. Oke, kembali ke topik.

 

Malam-malam belakangan ini saya sulit memejamkan mata. Saat jarum jam sudah melewati angka satu, saat hari sudah berganti baju, saya masih telentang menatap langit-langit kamar. Sesekali berguling kiri kanan. Bosan menatap langit-langit kamar, saya bangkit dan mencomot satu buku dari lemari. Baru setengah jam berlalu, saya menutup buku dan meraih kertas beserta pulpen, latihan menulis puisi, yang tidak jadi-jadi. Puas mencoret-coret kertas, saya beralih menyalakan laptop, sejenak pindah ke dunia maya. Hasilnya sama. Baru lima belas menit berjalan, saya memutuskan mematikan laptop. Setelah laptop mati, saya mengambil hp dan melakukan pekerjaan paling tidak penting  sedunia, membaca ulang sms-sms di inbox. Selesai membaca sms terakhir, saya meletakkan hp di lantai dan kembali lekat menatap langit-langit kamar. Begitu seterusnya sampai jarum jam menubruk angka lima.

Adzan subuh berkumandang dari corong-corong masjid. Semua penghuni bangun dan melaksanakan shalat berjamaah di ruang tengah. Hanya saya yang tidak ikut, sedang libur soalnya. Lantunan suara kak Nadhirah menembus dinding kayu yang membatasi kamar saya dan ruang tengah. Saya mendengarkan bacaannya dengan masih menatap langit-langit kamar. Setelah itu, saya mengambil buku kecil nan tipis berjudul Dzikir Pagi dan Petang yang dihadiahkan oleh seorang kawan beberapa tahun lalu. Mendekati pukul enam pagi, mata saya mulai terasa berat. Rasa kantuk menyergap. Tahu-tahu saya sudah tertidur dan baru terbangun ketika jam menunjukkan pukul 10 pagi. Begitulah kondisi saya beberapa waktu belakangan ini. Liburan masih ada sepekan lebih. Tapi saya berharap waktu segera berlalu. 

Belakangan ini saya juga mengalami penurunan kadar membaca. Buku Rizki Ridyasmara yang berjudul Sukuh sudah sepekan berada di tangan, tapi belum bisa saya khatamkan. Padahal novelnya tidak tebal-tebal amat. Ditambah lagi, novel Desert Flower milik ndoro Nitya yang fresh from Gramedia, masih mendekam di lemari lengkap dengan pembungkus plastik dan label harganya. Dia memberi kehormatan pada saya untuk membuka bungkusannya. Baik sekali dia. Belakangan ini kami memang sering barteran buku. Dia sudah mengkhatamkan beberapa buku yang saya pinjamkan, sementara satu novel darinya belum saya sentuh sama sekali.

Kabar baiknya, si Pemuda mirip Arai yang saya cerita tempo hari Alhamdulillah masih sehat Wal’afiat, masih hidup. Terbukti dengan tiga tulisan terbaru yang dia post ketika saya mampir ke blognya kemarin, yang berarti bahwa dia tidak nekat melakukan harakiri di Jepang sana. Dia juga berbesar hati menerima kabar bahagia itu. Dalam sebuah chatting di YM, dia hanya menitip salam dan doa untuk si Perempuan, juga permintaan maaf tidak bisa hadir pada hari H karena dia baru bisa kembali ke Indonesia bulan Maret nanti. Alhamdulillah kalau begitu.

Oke deh,  sekian kabar baik dan kabar buruk yang sekaligus kabar tidak penting dari saya. Bagi yang pulang kampung, selamat menikmati suasana kampung halamannya. Bagi yang sedang berlibur, jangan lupa waktu. Bagi yang masih bekerja dan tidak punya waktu libur, bersungguh-sungguhlah, kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Bagi yang makan cokelat batang atau donat, jangan lupa bagi ke saya. Bagi yang berusaha selalu terlihat ceria, jangan memaksakan diri. Orang yang sering tersenyum bukan berarti hidupnya selalu baik-baik saja. Dan bagi yang kesasar membaca tulisan ini, mohon maaf telah membuang-buang waktu anda.

Mengingatmu


Dialah malam, kelam adalah kulitnya
Dialah kabut, samar adalah matanya
Dialah angin, desir adalah sayapnya
Dialah bayang, hitam adalah lenteranya
Dialah purnama, sepi adalah nadanya
Dialah lembah, liar adalah jiwanya
Dialah mimpi, sadar adalah mautnya
Dan waktu mulai menyeret pelan
Seperti bintang senja yang menelan siang
 
;