Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
23 March 2013

Nokturno

Semesta bergerak perlahan

Segala yang membungkus luka, tiada
Segala yang mengurai duka, percuma
Merah senja pun mengendap
Matahari berangkat dan lengkap

Semesta bergerak perlahan

Angin mati dalam suntuk rahasia
Ketika itu ada yang kembali
Mengindera bintang-bintang
Mengindera pijar-pijar suara

Mengindera engkau yang gaib
Antara langit
Puisi
Dan rasa sakit


*Salah satu puisi  karya Muhary Wahyu Nurba dalam Sekuntum Cahaya

12 February 2013

Sekotak Teh

Berapa lama waktu berlalu ?
Rasanya ada yang belum selesai di kepalaku
Sesuatu yang tertinggal di bawah kelopak mataku
Bayang itu, 
Masih di sini

Hei, sekotak teh dari lemari pendingin
Tujuh menit saja,
Bantu aku menghapusnya
Sebagai imbalan empat ribu perak
Atas kemerdekaanmu
01 February 2013

Mengingatmu


Dialah malam, kelam adalah kulitnya
Dialah kabut, samar adalah matanya
Dialah angin, desir adalah sayapnya
Dialah bayang, hitam adalah lenteranya
Dialah purnama, sepi adalah nadanya
Dialah lembah, liar adalah jiwanya
Dialah mimpi, sadar adalah mautnya
Dan waktu mulai menyeret pelan
Seperti bintang senja yang menelan siang
25 August 2012

Terjaga

Aku ingin terlelap malam ini
Selama mungkin
Membebaskan diriku
Dan menjauh darimu
Melupakanmu...

Saat terjaga
Samar-samar kusadari
Aku masih di sana
Masih terperangkap di matamu
10 May 2012

Ruang Fatamorgana

Hujan turun lagi, seperti sore itu
Melemparku melangkahi waktu
Ke sudut tempat kerap kubisik namamu
Dalam keterasingan sepenggal mimpi
Yang mengejar hingga batas terjauh

Lentera jingga memudar
Meninggalkan dongeng pengantar tidur
Mengurai kisah yang baru saja usai
Luruh bersama tetesan hujan

Dan semua menjadi tak sama
Takkan lagi sama
Sesederhana pengertianmu
Dan serumit pemahamanku

Kau yang indah
Yang selalu indah
Walau bukan pada kekinian
Dan tak juga pada lembar kenangan
Meringkuk di sudut tak bertuan
Memeluk kefanaan

Aku masih merindukanmu
Di sini
Selalu
11 April 2012

Menunggumu

Aku menunggumu
Di antara keramaian kampus
Yang berlalu lalang tak peduli

Aku menunggumu
Dalam sekat lembaran buku
yang telah kubaca berulang-ulang

Aku menunggumu
Di tengah diskusi panjang
dan perdebatan yang melelahkan

Aku menunggumu
Di antara teriakan dosen dalam kelas
Dan makian mahasiswa yang timbul tenggelam

Aku menunggumu
Di bawah detak waktu
yang tak pernah berbalik

Aku menunggumu
Bersama rinai hujan
dan sorakan bumi yang menyambutnya

hingga hujan reda
hingga kelas bubar
hingga diskusi dan perdebatan panjang ditutup
hingga lembar buku terakhir
dan hingga kursi-kursi telah kosong
Kau tak juga datang
Atau
Memang takkan datang

Mungkin aku telah kehilanganmu
Sesaat setelah pertama kali menemukanmu

Ego

Ini bukan tentang kau, aku dan kita
Tak pernah ada kau, aku dan kita
Ini hanya tentang aku
Hanya aku
25 September 2011

Hilang

Tak ada rembulan malam ini
Tapi aku selalu di sini, melihatmu
Meski tanpa cahaya bulan

Akhirnya kau menemukannya
Yang tetap menjadi bayang buram
Di antara kesenyapan kata
Aku mematung menatapmu
Udara seakan berhenti bergerak
Aku tak tahu harus menangis atau tertawa

Yah, kau menemukannya
Dan aku kehilangan
Namun...
Pada akhirnya kau pun begitu pada sang bayang
Lalu perlahan, aku mulai menangisimu
 
;