Showing posts with label Daily Stories. Show all posts
Showing posts with label Daily Stories. Show all posts
17 August 2017

Si Nomor Dua

“Bagaimana kondisinya ?” Tanyaku lewat telepon 
“Sudah sadar. Mau bicara ?” Ibu balik bertanya 
“Boleh”
“Halo, Assalamu’alaikum” 
“Wa’alaikumsalam. Hei, bagaimana rasanya ?” Tanyaku 
“Mana bisa dirasa ? Kan, dibius total. Tapi sekarang sakit kalau gerak” 
Setelah itu telepon diserahkan kembali ke Ibu. Kami bicara agak lama sebelum akhirnya ditutup.
 
Aku sudah pernah menulis tentang adikku yang bungsu. Kupikir sore ini aku ingin menulis tentang si nomor dua. Ingatan tentang masa kecil kami sudah samar di kepalaku. Tapi ada beberapa perisitiwa yang masih kuingat dengan jelas. Sewaktu bayi, dia pernah sakit. Penyakit itu lama-kelamaan bertambah parah. Dokter sudah berupaya, tapi akhirnya mereka hanya meminta kami banyak berdoa. Saat itu, Ibu berpikir bahwa mungkin adikku tidak akan bertahan. Aku punya keping ingatan yang kabur tentang ini. Di ingatan itu, kulihat para kerabat dengan wajah sedih berkumpul di sekeliling adikku. Sementara aku hanya bisa menatap sosoknya yang kecil terbaring timbul tenggelam di antara punggung para kerabatku. Ternyata Allah berkehendak lain. Hari demi hari kondisinya perlahan membaik. Ia selamat.
 
Di masa kanak-kanaknya, sudah tidak terhitung berapa kali dia jatuh, entah jatuh dari sepeda, jatuh dari tangga, jatuh dari pohon dan berbagai jatuh lainnya. Dia punya banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Ada satu peristiwa yang lagi-lagi membuat jantung kami serasa mau copot. Saat itu aku masih SD dan adikku belum masuk TK. Ibu tengah mengajar di kelas, ketika salah satu muridnya berlari masuk dan mengabarkan bahwa adikku jatuh dari pohon. Ada pecahan beling menancap di kepalanya. Sekarang dia di rumah sakit Bu, kata murid tadi. Aku sedang bermain di halaman sekolah bersama teman-temanku. Begitu mendengar berita tadi, aku langsung berlari ke rumah sakit yang berdampingan dengan sekolah. Dua temanku yang diminta menjadi kurir berita berlari menuju kantor Ayah. Kulihat darah menetes di sepanjang koridor rumah sakit. Saat masuk ke ruangan, kulihat dokter dan perawat sibuk mengobati kepalanya yang berlumuran darah. Adikku menangis dan ketika melihatku, tangannya menggapai-gapai ke arahku. “Kepalaku hilang…! kepalaku hilang…!”, teriaknya. Aku memegang tangannya. Air mataku sudah hampir jebol. Tapi di saat yang sama aku tertawa mendengarnya. “Kepalamu masih ada.”, kataku. Ketika Ayah dan Ibu akhirnya muncul di balik pintu, aku berlari memeluk mereka. Mereka menepuk-nepuk punggungku. Tidak apa-apa, katanya berulang-ulang. Itu adalah peristiwa yang masih kuingat jelas sampai sekarang.
 
Ia sudah kelas 2 SMP ketika aku masuk kuliah. Jika pulang kampung saat libur semester, tiap sore ia kuajak jalan-jalan ke pelabuhan. Malamnya kami ke perpustakaan daerah atau main PS di rumah nenek. Setelah kembali ke Makassar, Ibu pernah menelpon hanya untuk mengabarkan bahwa si nomor dua tiap sore naik sepeda ke pelabuhan sendirian. Waktu ibu tanya kenapa, dia jawab begini : “Kangen kakak !” Hahaha…
 
Tapi adik laki-laki itu biasanya menyenangkan hanya sampai usia SMP. Memasuki SMA, mereka mulai menyebalkan. Masa puber memang menyebalkan. Teman-temannya mulai banyak. Ia jadi lebih sering nongkrong bersama temannya. Sementara kalau di rumah, dia lebih banyak mengunci diri di kamar. Pernah saat maghrib sudah masuk, aku mengetuk pintu mengingatkannya untuk shalat. Ia hanya menjawab ya, tanpa mengecilkan volume musik yang berisik di kamarnya. Kutegur dua kali, tidak ada perubahan. Kutegur tiga kali, masih sama. Aku kehilangan kesabaran. Kami bertengkar malam itu. Ia tidak mau mengajakku bicara sampai aku kembali ke Makassar.
 
Lalu lebaran Idul Adha tiba. Saat itu sang Khatib memberikan ceramah tentang pentingnya meminta maaf dan memberi maaf. Pesannya benar-benar menyentuh, kulihat banyak jamaah yang meneteskan air mata menyimak ceramah sang khatib. Sepulang ke rumah, kulihat adikku mencium kedua tangan ayah dan ibu, lalu dengan enggan mengulurkan tangannya kepadaku. Kugenggam tangannya sedikit lebih lama lalu kuusap kepalanya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia langsung memelukku dan mulai terisak. Maafkan saya, kak, katanya. Ayah dan ibu heran melihatnya. Pertengkaran sore itu memang hanya kami yang tahu. Di lain waktu, dia pernah memperlihatkan foto seorang gadis. “Manis tidak ?” Tanyanya. “Pacarmu ?” aku balik bertanya. Dia mengangguk. Aku tidak berkomentar, karena sebenarnya dia sudah tahu bagaimana pandanganku soal pacaran.
 
Kami sering berbeda pendapat. Dia keras kepala, ceroboh dan susah dinasihati. Ibuku sering bilang bahwa pikirannya bisa keriting menghadapi anak laki-lakinya yang keras kepala bukan main itu. Tapi biar begitu, dia punya rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Saat ini dia sedang di rumah sakit. Kata Ibu, banyak teman-temannya yang datang menjenguk. Syafakallah, laaba’sa thohurun insya Allah. Lekas sembuh, bro!
16 December 2016

Buku-buku Yang Pernah Saya Baca, dan Saya Menyukainya

Singkatnya, buku-buku favorit versi saya. Tentu saja tergantung seberapa banyak buku yang sudah dibaca. Favorit itu kadang subjektif. Bisa jadi kita suka tapi orang lain tidak, dan sebaliknya. Buku favorit versi saya mungkin bisa diibaratkan kemudi. Saya menyukai bacaan yang mampu mengubah sesuatu dalam diri saya atau minimal menggerakkan kemudi itu. Membuat saya tidak lagi sama seperti sebelum membacanya. Kadang ada buku yang tidak begitu dikenal atau tidak laku di pasaran sampai-sampai harganya dibanting semurah mungkin, tapi ternyata saya menyukainya. Dan kadang ada buku yang terjual jutaan copy bahkan sudah difilmkan tapi saya merasa biasa saja. Dalam arti tidak juga suka, dan tidak juga tidak suka.

Jika membaca bagi para kutu buku adalah passion mereka, saya membaca hanya saat mood. Jika kutu buku mampu menamatkan puluhan bahkan ratusan buku dalam setahun, saya hanya membaca buku dalam hitungan jari. Jadi buku yang saya baca sangatlah sedikit. Meski begitu, inilah 27 daftar bacaan favorit versi saya :

Kategori Fiksi

Semua novel karangan Andrea Hirata
Pertama kali baca Laskar Pelangi waktu baru lulus SMA. Waktu itu belum ada label best seller-nya. Belum dilirik orang. Novel ini menjadi titik awal perubahan selera baca saya yang perlahan-lahan mulai meninggalkan teenlit. Setelah itu berturut-turut muncul Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Sebelas Patriot, Dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas serta Ayah

Novel karangan Haruki Murakami
Dengarlah Nyanyian Angin, Norwegian Wood, IQ84 jilid 1 sampai 3, dan Dunia Kafka. Saya berharap tuan-tuan penerbit akan menerjemahkan novel Murakami yang lain. Murakami identik dengan keterasingan. Jika diminta merekomendasikan novel, saya tidak akan memasukkan Murakami dalam daftar. Saya sangat suka tulisannya. Hanya saja, mungkin saya akan lebih bahagia jika tidak pernah membaca novelnya. Mirip dengan paradoks terhadap kampung halaman. Ingin selamanya tinggal di sana, sekaligus ingin pergi sejauh-jauhnya dari sana.

Novel komedi hitam yang banyak memparodikan tokoh politik dunia. Berawal ketika seorang kakek memutuskan kabur dari panti jompo menjelang ulang tahunnya yang ke-100. Karya penulis asal Swedia ini masuk kategori best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Novelnya yang kedua berjudul The Girl Who Saved The King of Sweden. Tapi saya lebih suka yang pertama.

Burial Rites karangan Hannah Kent
Karya fiksi yang didasarkan pada kisah nyata Agnes Magnusdottir, orang terakhir yang dijatuhi hukuman mati atas peran sertanya dalam pembunuhan Natan Katilsson dan Petur Jonsson pada tahun 1828 di Illugastadir, Islandia Utara.

If I Stay karangan Gayle Forman
If I Stay, Where She Went, Just One Day, Just One Year, dan I Was Here adalah novel mbak Forman yang sudah diterjemahkan. Saya suka semuanya. Tapi paling suka If I Stay karena banyak bercerita tentang kehangatan keluarga.

Hector And The Search For Happiness karangan Francois Lelord 
Perjalanan seorang psikiater yang berkeliling dunia mencari arti kebahagiaan. Selama ini ia melihat banyak pasien yang tidak puas atau tidak bahagia dengan hidup mereka. Perjalanannya itu menghasilkan sederet daftar tentang kebahagiaan.

Kesetiaan Mr. X karangan Keigo Higashino
Salah satu seri Detektif Galileo. Dalam novel ini, detektif Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan teman semasa kuliahnya, Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko, tetangga kamarnya yang menjadi tersangka pembunuhan mantan suaminya sendiri. 

Paper Towns karangan John Green
Secara umum, saya suka semua novel John Green. Khas remaja. Hidup, penuh petualangan dan lucu. Tapi Paper Towns adalah yang terbaik. Sayangnya, adaptasi filmnya mengecewakan. So, don’t judge a book by its movie.

Dwilogi Samurai (Kastel Awan Burung Gereja dan Jembatan Musim Gugur) karangan Takashi Matsuoka
Novel yang kurang terkenal tapi bikin saya book hangover berhari-hari.

The Catcher in The Rye karangan JD. Salinger
Disebut sebagai 100 buku terbaik sepanjang masa. Sikap kenak-kanakan Holden memang menjengkelkan (umurnya baru 16 tahun), tapi caranya memandang hubungan antar manusia membuatnya seperti sudah hidup puluhan tahun. Bagian yang paling menyentuh adalah saat adiknya terseok-seok membawa koper karena ingin ikut kemana pun Holden pergi. 

The Rosie Project karangan Graeme Simsion
Tentang ahli genetika yang membuat proyek istri untuk mencari pendamping hidup ideal. Manis, ringan, menjengkelkan dan lucu.

Klub Film karangan David Gilmour
Diangkat dari kisah nyata sang penulis yang mengizinkan putranya berhenti sekolah dengan syarat mereka menonton 3 film setiap pekan.

Alex karya Pierre Lemaitre
Novel kriminal asal Perancis. Berbeda dengan The Girl on The Train-nya Paula Hawkins dan Gone Girl-nya Gillian Flynn, novel ini tidak mengandalkan twist yang memukau. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya tersentuh. Sesuatu yang biasanya tidak disajikan oleh genre semacam ini.

Aurora karangan Machito Satonaka
Apa komik bisa digolongkan sebagai buku ?
Sebenarnya ada banyak komik yang membekas dalam ingatan kanak-kanak saya, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Sebut saja Rose of Versailles, Harlem Beat, Slam Dunk, Pengantin Demos, One Thousand Years of Love Song, Samurai Kyo, Samurai X, Yasha, Detective Conan, Detective Q, dll. Tapi di antara semua itu, Aurora yang paling kuat jejaknya. Entah cerita dalam komik itu yang terus teringat, atau kenangan ketika membaca komik itu yang tidak mau hilang. 

Kategori Non Fiksi 

Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Kisah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari lahir hingga wafat. Buku ini saya tamatkan setelah lulus SMA, minjam punya sepupu. Buku ini mendapat predikat sirah terbaik yang diselenggarakan oleh Rabithah Al-Alam Al-Islami.

Knight Templar Knight Of Christ karya Rizki Ridyasmara
Saya masih kelas satu SMA waktu baca buku ini. Dan lagi-lagi minjam dari sepupu. Bacaan sepupu saya memang kece. Mulai tahu sedikit tentang konspirasi, Freemasonsry, zionis, dll lewat buku ini.

Buku-buku karya ustadz Salim A. Fillah
Kalau yang ini sudah tidak diragukan lagi. Karya-karya beliau selalu jadi best seller. Bukunya yang pertama kali saya baca kalau tidak salah adalah Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku-buku karya Akmal Sjafril
Bagi yang tertarik dengan tema perang pemikiran tanpa membuat jidat berkerut, buku-buku karya beliau patut jadi bacaan. Seperti Islam Liberal 101 dan Islam Liberal Ideologi Delusional.

Taman Orang Jatuh Cinta karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah
Membahas seputar cinta tidak akan ada habisnya. Ada ribuan bahkan jutaan buku yang membahas tema ini dari berbagai sudut pandang. Tapi dari sudut pandang agama sepertinya tidak banyak. Salah satunya buku ini. Serba-serbi cinta dalam padangan islam dibahas lengkap oleh Imam Ibnu Qayyim al-Juziyah. 

Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb
Buku ini mencoba menyambungkan benang sejarah Islam dari masa kenabian sampai ke masa kini. Dan sesuai dengan judulnya, banyak kejadian penting dalam sejarah islam yang mungkin saja tidak diketahui kebanyakan muslim. Penulis juga meluruskan bias sejarah yang sering ditemukan dalam tulisan para orientalis. Serta tidak lupa menghidupkan kembali kontribusi besar para pemikir dan ilmuwan muslim yang kerap diabaikan buku-buku sejarah.

Enjoy Your Life karya Dr. Muhammad al-'Areifi
Pada dasarnya buku ini mirip dengan buku-bukunya Dale Carniege yang berisi seni berinteraksi dengan sesama manusia. Bedanya, penulis memasukkan kisah-kisah inspiratif dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai contoh. Buku ini banyak menolong saya dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Melacak Kekafiran Berfikir karya Muhammad Thalib
Masih tema perang pemikiran. Buku ini bermaksud meluruskan aqidah dan membersihkan pemahaman tauhid generasi muda. Ada sebelas kerangka berpikir yang dikritisi oleh penulis yaitu paham relativisme, paham zaman sebagai ukuran, manusia sebagai penguasa alam, sikap sains, asumsi sebagai aqidah, budaya kilowatt, personifikasi dalam sastra, positivisme, ideologi emansipasi, prinsip pragmatisme dan, paham plurlisme agama.

Waras di Zaman Edan karya Prie GS
Prie GS adalah pengamat dan perangkai kata yang mengesankan. Ada-ada saja hikmah yang dipetik dari setiap kejadian. Tak banyak orang yang bisa seperti itu.

Buku-buku yang ditulis Malcolm Gladwell
Sejauh ini bukunya yang saya baca baru tiga : Blink, The Outliers dan What The Dog Saw. Dan sejauh ini saya menyukai ketiganya.

Think Like A Freak karya Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner
Dua penulis aneh yang membahas tentang cara berpikir ala orang aneh. Yang menarik bahwa orang aneh itu bukanlah orang yang berpikir rumit atau berpikir besar. Mereka hanya berpikir sederhana, dan terkadang seperti anak-anak.

The Geography of Bliss karya Eric Weiner
Ada 3 buku Eric Weiner yang sudah diterjemahkan : The Geography of Bliss, The Geography of Faith dan The Geography of Genius. The Geography of Faith sedikit mengecewakan. The Geography of Genius lumayan. Dan The Geography of Bliss adalah yang terbaik.

Trilogi Titik Nol karya Agustinus Wibowo
Kisah perjalanan Agustinus Wibowo ke berbagai negara. Selimut Debu menceritakan kisahnya selama beberapa tahun tinggal di Afganistan. Garis Batas bercerita tentang perjalanannya menjelajahi negeri-negeri “Stan” di Asia Tengah. Dibanding Selimut Debu dan Garis Batas, Titik Nol menjadi yang paling nyaman dibaca. Gaya bahasanya berkembang pesat di buku ini. Yang saya suka dari penulis ini adalah bahwa ia bukan pelancong yang hanya tinggal satu atau dua minggu di suatu tempat kemudian menulis kisah perjalanannya. Tapi ia tinggal bertahun-tahun di Afganistan sehingga benar-benar memahami kultur masyarakat di negara itu. Begitulah seharusnya traveler sejati.
28 April 2016

Random (9)

Gud morning, epribadeeh!! Apa kabar ? Alhamdulillah saya di sini baik-baik saja. *siapa yang nanya ?^^ 

Belakangan ini saya jadi pelupa. Lupa helm di lantai 3 sementara saya sudah di parkiran. Lupa menanyakan pertanyaan yang sama ke orang yang sama selama tiga minggu berturut-turut. Lupa janji ketemu teman, padahal kita mau minum es kelapa muda, hikz! Lupa kembalikan buku-bukunya orang, karena sudah serasa milik sendiri *dilempar sepatu. Dan lupa kalau ada blog yang harus ditunaikan haknya. Untunglah saya tidak lupa nama sendiri. Itu amnesia namanya. 

Well, aktivitas tidak banyak berubah sejak datang ke sini setahun lalu. Wow, sudah setahun rupanya. Tidak terasa, ya. Rutinitas biasanya berputar di 6 K : Kampus, Kamar, Kajian, Kamali, Kota Mara dan Kajili-jili. Yang terakhir itu mungkin hanya orang selatan yang paham. Tapi anggap saja itu rutinitas acak supaya tidak bosan. Kampus-kamar berlangsung selama beberapa hari seminggu. Ikut kajian minimal dua kali sepekan. Insya Allah bulan depan akan ada Tabligh Akbar di masjid raya kota ini. Bertahun-tahun halaqah di Makassar kemudian pindah ke halaqah baru, dengan orang-orang baru, di tempat baru, dengan kultur yang sama sekali berbeda bukanlah proses yang mudah. Sepupu pernah bilang waktu terakhir ketemu, katanya mungkin saya belum dapat chemistry-nya. Tapi pelan-pelan saya mulai merasa nyaman di sini. Kenyamanan juga butuh waktu, nikmati saja. 

Kamali itu area pantai. Kadang-kadang seminggu atau dua minggu sekali makan di salah satu kedai di area ini. Kadang sendiri, kadang sama teman dan kadang sama paman dan bibi. Btw, orang sini kebiasaannya panggil paman dan bibi, bukan om dan tante. Kota Mara juga wilayah pantai, ada Islamic Center di sana. Saya juga belum tahu kenapa disebut kota. Saya suka lewat sini sore-sore karena pemandangan laut dan langitnya. Ingat tidak saya pernah bilang kalo belum ada tempat di mana matahari terbenam begitu indah selain di pantai kota Benteng ? Ingat ? Nampaknya saya harus merevisi kata-kata itu. Karena langit sore di sini cantik betul, apalagi selepas hujan. Kadang-kadang awannya berwarna pink, seperti warna permen kapas. Rembulan juga terlihat lebih terang dan besar. Mungkin karena pengaruh topografinya yang bergunung-gunung. Kadang-kadang selepas makan malam, saya ikut paman dan bibi mutar-mutar keliling kota. Pemandangan paling bagus terlihat dari benteng keraton. Karena kota yang dihiasi lampu-lampu terlihat kecil dari atas situ.   

Oke cukup sekian kabar-kabarinya. Sekarang mau bahas buku dulu. Soalnya belum tahu kapan bisa update tulisan lagi. Semakin hari saya semakin jarang mencoret-coret di blog. Padahal ada banyak yang ingin saya tuliskan. Toko buku jarang dijumpai di kota ini. Kalau pun ada, beberapa di antaranya buku bajakan. Kemarin sempat nemu Bumi Manusia-nya Pram di salah satu toko buku. Tapi harganya hampir setengah harga normal. Setelah saya perhatikan, kualitas kertasnya juga beda. Rasanya berdosa kalau beli buku bajakan, apalagi bukunya Pramoedya. Jadi demi memuaskan hasrat membaca, pesan online jadi satu-satunya pilihan. 

Salah satu jenis buku yang saya suka adalah buku yang membuat pembacanya lebih mengenal diri mereka sendiri. Seperti Think Like A Freak dan Hector And The Search For Happiness yang baru-baru ini saya baca. Yang satu non fiksi dan satunya lagi novel yang sepertinya banyak mengambil kisah pribadi penulis. Selain itu saya juga suka buku yang mengupas karakter manusia seperti karakter menurut golongan darah atau karakter berdasarkan sidik jari. Walau kupikir analisis sidik jari lebih akurat dibanding golongan darah. Salah satu sepupu yang kuliah di jurusan komunikasi sering mengoleksi buku-buku pengembangan diri. Malcolm Gladwell, David J. Lieberman dan Dale Carniege saya tahu lewat dia. 

Selera baca saya banyak dipengaruhi orang lain. Mulai tertarik tema konspirasi waktu SMA setelah baca bukunya Rizki Ridyasmara berjudul Knight Templar Knight of Christ yang dibawa pulang sepupu saat libur semester. Mulai nge-fans sama Andrea Hirata ketika pra kuliah dulu teman sepupu berkunjung dan membawa novel Laskar Pelangi. Waktu itu belum ada label bestseller-nya. Mulai suka novel-novelnya Gayle Forman ketika suatu hari diundang teman makan siang di rumahnya, dan secara tak sengaja melihat If I Stay di salah satu deretan bukunya. Mulai baca trilogy Titik Nol-nya Agustinus Wibowo setelah tak sengaja melihat rombongan perempuan berparas Masyaa Allah di pelataran masjid, dan mereka berasal dari Kazakhstan. Mulai suka buku-bukunya Adian Husaini setelah baca novel Kemi yang secara tak sengaja (ah, kenapa banyak sekali ketaksengajaan dalam hidup saya ?) ditemukan di salah satu stan ketika ikut seminar di LAN. 

Mulai suka Haruki Murakami setelah membaca Norwegian Wood. Yang setelah itu lanjut ke buku-bukunya yang sudah diterjemahkan. Tapi sebenarnya ketertarikan pada novel-novel Jepang dimulai jauh sebelum itu, setelah membaca novel thriller-nya Ryu Murakami berjudul In the Miso Soup dan genre komedi berjudul Tahun 69 yang dipinjam di Snoppy. Dan jika waktu diundur lagi, mungkin setelah membaca dwilogi Samurai-nya Takashi Matsuoka yang dipinjam dari seorang teman. Atau mungkin setelah baca tetralogi Klan Otori yang dipinjam dari temannya teman. Saya sendiri sudah lupa yang mana duluan. 

Hector And The Search For Happiness, Think Like A Freak, Ugly Love, O-nya Eka Kurniawan dan Seribu Bangau (Senbazuru)-nya Yasunari Kawabata adalah buku-buku yang sebulan terakhir saya baca. Ini pertama kalinya baca karya Kawabata atas rekomendasi seorang penikmat sastra. Menurutnya, Kawabata lebih bagus dari Murakami. Wow, penasaran juga. Beberapa tahun lalu pernah lihat Snow Country-nya di gramed, tapi belum minat beli. Setelah itu masih ada antrian Never Let Me Go-nya Kazuo Ishiguro, What I Talk About When I Talk About Running-nya Haruki Murakami dan beberapa buku lagi. The Silmarillion-nya J.R.R Tolkie belum ada sepertiga saya baca. Banyaknya tokoh dan rumitnya sejarah dunia Middle-Earth membuat buku ini harus dibaca dalam mode petapa. Selain itu masih ada buku-buku kuliah yang memang jadi bacaan wajib. Karena pekerjaan yang sekarang membuat saya belajar jauh lebih keras dibanding waktu kuliah. Hehehe…

Yap, sekian cuap-cuapnya. Sudah ada panggilan rapat dari tadi. Sampai ketemu di tulisan berikutnya ^^
05 January 2016

Catatan Awal Tahun

Banyak yang lupa bagaimana rasanya berumur 19 ketika beranjak 20, atau 25 ketika beranjak 26. Tahun 2015 menjadi tahun tercepat yang pernah saya alami. Seperti ada sesuatu yang melintas dengan kecepatan tinggi. Atau seperti semburan air yang deras. Kau mengulurkan tanganmu, berharap bisa menangkap banyak hal di dalamnya. Tapi hanya sedikit yang masuk dalam genggaman.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang resolusi awal tahun. Sejujurnya saya jarang memikirkan hal-hal semacam itu. Seperti saya ingin begini tahun ini. Atau saya ingin begini sebelum umur segini. Atau dalam sekian tahun saya sudah akan begini. Tidak, saya jarang seperti itu. Tapi bukan berarti tidak ada rencana atau tujuan sama sekali. Hanya saja, untuk beberapa hal saya lebih suka let it flow. Hidup ini tak tertebak. Terkadang hal-hal di luar rencana memberi kejutan yang lebih menyenangkan.

Salah satu hal yang saya pikirkan adalah, apa yang akan saya lakukan terhadap blog ini. Pernah kepikiran untuk menutup blog. Ada banyak alasan sih, sebenarnya. Pertama, setelah diperhatikan secara seksama dan dalam tempo seimut-imutnya, bisa disimpulkan kalau blog ini, seperti latarnya, begitu suram. Atau hanya saya yang berpikir begitu ? Kedua, tulisan di dalamnya kebanyakan curcol tidak penting (sebenarnya lebih tepat disebut tidak berguna, tapi saya tidak tega menggunakan kata ini. Hehehe). Kalimat-kalimatnya pekat, saya sendiri sesak membacanya. Ketiga, saya tidak ingin ada “kerumitan” yang lain lagi. Kadang saya pikir, jangan-jangan penyebabnya tak lain adalah blog ini. Pernah disinggung sebelumnya bahwa menulis adalah cara untuk menolong diri saya sendiri. Semacam upaya penyembuhan. Tapi menulis itu paradoks. Melegakan di satu sisi, dan menyakitkan di saat yang sama. Memang bukan hal buruk memiliki wadah menuangkan pikiran yang terbatas dilakukan di media lain. Tetapi lama-kelamaan ada hal lain yang mengikut. Hal-hal di luar dugaan, dan itu memperumit keadaan.

Pertama kali punya blog, umurnya lebih pendek dari umur jagung. Walaupun saya suka namanya. Sementara blog yang kedua ini bisa bertahan empat tahun lamanya dengan sedikitnya dua peraturan : Kolom komentar ditutup dan identitas anonim. Tidak menyebutkan nama, walaupun nampaknya beberapa orang sudah tahu. Toh blog ini tidak dirahasiakan. Pun orang-orang yang saya ceritakan lebih banyak menggunakan julukan. Awalnya, saya hanya berbagi blog dengan dua orang teman. Kedua teman saya ini lebih parah. Blognya tidak dibuka untuk umum. Untuk masuk pun mesti minta izin dulu. Tapi lama-lama keduanya tidak aktif lagi karena kesibukan masing-masing. Tinggallah blog saya yang lanjut ngalor-ngidul.

Belakangan, blog ini lebih banyak berisi tentang buku-buku yang saya baca. Dan itu lebih menyenangkan dibanding membahas yang lain. Membaca buku kemudian menuliskan kesanmu sebenarnya mirip dengan membahas diri sendiri secara tidak langsung. Seperti seni, membaca buku lebih menyangkut bagaimana melihat dirimu dibanding apa yang tertulis di atas kertas. Books are for people who wish to be somewhere else. Buku juga menjadi alternatif untuk berkunjung ke berbagai tempat, berbagai karakter dan budaya ketika di saat yang sama saya tidak beranjak kemana-mana. Kemampuan saya terbatas. Tapi buku punya kemampuan semacam itu.

Saya paling suka baca buku cerita, entah itu fiksi atau kisah nyata. Karena cerita membuat saya bebas mengambil hikmah apa saja. Kesan nasihatnya lebih dalam dan kuat dibanding jika harus dijejali teori bahwa saya harusnya begini atau idealnya harus begitu. Selain itu, kebiasaan ini juga bawaan dari SMP yang gemar baca komik. Duh, ngomongin komik jadi kangen koleksi komik jadul yang sudah hilang. Jadi ceritanya pernah ada koleksi komik yang lumayanlah, sekitar dua kardus berisi serial Rose of Versailles, Aurora, Harlem Beat, Sailor Moon, Lady Oscar, Detective Conan, Q.E.D, Pengantin Demos, komik-komiknya Yu Asagiri, Kyoko Hikawa dan beberapa lagi yang saya lupa. Terakhir kali komik-komik ini terlihat tahun 2009. Dan karena memang tidak dijaga dengan baik, sewaktu pulang kampung kardus-kardusnya sudah raib entah kemana.

Setelah komik, lanjut ke novel-novel lama yang ada di perpus sekolah, kemudian beralih ke novel remaja ketika Teenlit booming kala itu. Saya bukan kutu buku, tapi saya suka membaca genre apa saja; suspense, thriller/kriminal, drama, romance, sains fiksi, fantasi, dystopian, metropop, komedi, chicklit atau sastra (saya tidak terlalu paham pembagian genre). Pilihannya tergantung mood dan situasi. Sebenarnya kadang kepikiran juga, apa saya tidak buang-buang waktu membaca novel-novel ini ? Pernah saya tanya ke teman, dia bilang, pekerjaanmu bukan baca novel to’ saja, kan ? Jadi tidak masalah, katanya. Saya membaca untuk mengalihkan perhatian dari rutinitas, kata saya. Ya bagus itu, katanya lebih lanjut, saya sendiri  baca novel untuk mengusir sepi.

Ada blog teman yang sering dia sebut si Ijo. Teman saya ini sangat suka warna hijau. Tema blognya hijau. Tulisannya pun hijau-hijau. Hehehe. Maksudnya, Kalau kau membaca tulisannya, kau seperti memasuki padang rumput yang sejuk. Pemilihan diksinya filosofis dan dalam. Tapi menenangkan.

Ada juga blog milik teman yang lain. Yang satu ini tipe orang yang to the point, idealis dan perfeksionis. Kritikannya tajam dan pedas. Kalau orang pertama kali terlibat kegiatan bersamanya, dan belum mengenal karakternya, mungkin akan terkaget-kaget dengan sikapnya yang sangat to the point dalam menyampaikan pendapat. Yang saya suka darinya adalah, bahwa dia jujur menilai diri sendiri di hadapan orang lain. Dia tidak menutupi kekurangannya. Dia ingin orang melihatnya apa adanya. Dalam arti mengetahui letak kekurangannya. Hal yang jarang dijumpai. Saya sendiri tidak yakin ketika ada yang mengatakan “terimalah dirimu apa adanya” atau “jadilah dirimu apa adanya”. Kupikir jarang ada orang yang benar-benar ingin menerima dirinya apa adanya. Terutama jika bagian dari “apa adanya” itu adalah sesuatu yang buruk. Tak ada orang yang senang dalam keburukan. Maka yang sering kita lakukan adalah berusaha untuk memperbaiki sisi yang buruk itu, minimal menutupinya dari mata orang lain. Alih-alih berharap mereka memakluminya.

Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang pekerja keras, perfeksionis, penuh semangat dan percaya diri. Kritikannya terhadap orang lain memang pedas, tapi kritikannya terhadap diri sendiri jauh lebih pedas. Dia menyebut dirinya sebagai orang yang brengsek. Yah, itu istilah yang dia pakai. Padahal setahu saya, dia orang yang selalu berusaha tetap berada dalam koridor, berusaha keras untuk tidak melenceng keluar dari lingkaran. Tapi dia menganggap ada bagian dari dirinya yang brengsek. Terutama caranya menilai orang lain. Bahwa ia bisa menjadi sangat picik karena menjudge orang lain bahkan sebelum orang itu memperkenalkan diri. Saya tersenyum membacanya. Kalau begitu aturannya, maka ada banyak orang brengsek di dunia ini.

Sejauh ini belum ada keputusan final (halah) mengenai masa depan blog ini. Bagaimana pun “rumah” ini sudah dibangun selama empat tahun. Sesuatu tidak otomatis berubah hanya karena dihilangkan atau dihentikan begitu saja.
30 October 2015

Tujuh Bulan

Lagi-lagi dibuat takjub dengan kecepatan waktu berlari. Ternyata sudah lebih setahun sejak wisuda 2014 lalu. Waktu itu belum terpikir bumi mana yang akan jadi persinggahan berikutnya. Yang terpikirkan adalah bahwa di manapun penempatannya mesti ada tempat pengajian di sana. Supaya ada yang senantiasa menasihati dan mengingatkan ketika lalai. Ibarat Hp yang baterainya rutin diisi supaya tidak mati, saya khawatir jadi 'eror' jika tidak ada wadah semacam itu.

Sementara itu Ibu punya kekhawatiran yang berbeda. Jarak. Ibu tidak mau anak perempuan satu-satunya ini (halah) jauh dari rumah. Beliau menyarankan urus penempatan di Makassar saja. Sepupu-sepupu juga bilang begitu. Tapi entah kenapa saya tidak begitu antusias dengan saran tadi. Tujuh tahun di Makassar sedikit banyak membuat saya jenuh. Saya bisa cepat bosan dengan sesuatu. Mirip waktu masih sekolah dulu, yang ingin cepat-cepat keluar dari kampung dan merantau ke Makassar. Tapi yang begini biasanya paradoks. Kau ingin secepatnya pergi dari situ, di saat yang sama kau ingin selamanya tinggal di situ. Pernah mengalami hal seperti ini ?

Kenapa harus cari tempat yang jauh, sementara segala sesuatu yang kau butuhkan ada di kota ini, kata sepupu saya. Benar. Tapi untuk sementara saya mau keluar dulu dari sini. Sepertinya saya butuh sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang tidak bisa kau lakukan kecuali jika kau pergi ke sana, kata Murakami. Lagipula, di manapun penempatannya nanti, saya tidak akan selamanya tinggal di sana. Jadi kriterianya : ada tempat tarbiyah, ada kerabat dan tidak terlalu  jauh dari rumah. Jalan tengahnya muncul dalam bentuk telepon dari paman di Tenggara sana. Dan, di sinilah saya berada sekarang. 

Sudah tujuh bulan tinggal di sini. Sebenarnya dulu pernah ke sini dalam rangka liburan. Tapi sudah lama sekali, masih kelas dua SD.  Itu pun hanya beberapa hari. Jadi tak banyak yang bisa saya ingat kecuali beberapa lembar foto yang diambil di depan benteng keraton. Dulu bentuknya masih kabupaten. Kondisinya tidak jauh beda dengan Selayar. Setelah belasan tahun, kota ini berkembang pesat. Jauh lebih ramai dan padat dibanding ketika pertama kali datang.

Sekarang masih dalam proses beradaptasi. Mulai dari mengenal jalan, mengenal beberapa tempat penting, mengenal karakter orang-orangnya, adat istiadat dan membiasakan diri dengan logatnya. Untuk bahasa, saya belum tahu sedikit pun karena bahasa daerah di sini bermacam-macam. Meski satu daratan, bahasa daerahnya belum tentu sama. Tapi ada kesan khusus dengan logat dan pemilihan kata yang berbeda dengan kebiasaan di Makassar (orang sini menyebutnya Selatan).

Misalnya antara “kenapa” dan “bagaimana”. Sebelumnya, saya jarang menggunakan kata “bagaimana”. Terdengar asing malah. Jika ada yang menelpon, atau ada keperluan biasanya saya tanya “kenapa?”. Ada panggilan tak terjawab, saya sms begini, “Sorry tadi tidak kedengaran. Kenapa?” Ternyata di sini itu dianggap kurang sopan. Jadi saya pun ikut-ikutan memakai kata “Bagaimana”

Ada telepon, “Halo, iye kak. Saya di rumah. Bagaimana ?” 

Ada panggilan tak terjawab, saya sms begini, “Maaf telponnya tidak kedengaran tadi. Bagaimana bu?” 

Ada pembeli datang, “Bagaimana pak/bu?” 

Ada mahasiswa datang, “Oh Risna ya, bagaimana dek?” 

Begitu pun kata-kata lainnya. Dan intonasi suaranya. 

Kalau sebelumnya, saya cukup bilang, “Ndak tahu” atau “issengi”, sekarang berubah jadi, “saya kurang tahu”

Kalau terkejut atau heran, “Begitukah ?” dengan penekanan di kata “gitu” 

Kemudian menempatkan kata “Padahal” di akhir kalimat. Misal, “Oh belum diperiksa, padahal”

Menambahkan kata “dan” yang bermakna ajakan atau permintaan. Contohnya, “Tunggu dulu, dan” atau “Jalan-jalan ke sini, dan” 

Menambahkan seruan “ee” sepanjang dua harakat. Misalnya, “Kau tunggu di sini dulu ee, nanti ustadzah antar pulang” 

Kadang juga kata “Kamu” ditambahkan dengan “Orang”. Misalnya, “Kamu orang sudah makan?” 

Atau “Kamu orang jangan baku tengkar”

Seumur-umur, nanti di sini baru saya dengar kata “Kamu orang” dan “baku tengkar”. Biasanya paling begini “Wee, jangko bertengkar!” 

Kadang juga ditambahkan kata “Mereka” meski yang dimaksud hanya satu orang. Contoh:

“Siapa yang piket di TK hari ini?” 

“Itu, mereka Yati” 

Terus kalau perempuan kadang dipanggil dengan menambahkan “Wa” di depan namanya sementara laki-laki ditambahkan “La”. Ini kebiasaan dengar percakapan anak-anak SD di belakang rumah.

“Ustadzah, La Hanan panjat pagar di luar” 

Atau

“Ustadzah, jilbabnya Wa Ayi robek” 

Kemudian memanggil orang dengan menyertakan nama anaknya. Ini mirip dengan nama kuniyah seperti Abu Fikriyah atau Ummu Fikriyah yang menandakan bahwa orang itu ayah atau ibunya Fikriyah. Menurut pengamatan pribadi, mungkin lebih sopan dan akrab memanggil seperti itu dibanding menyebut “pak” atau “bu” saja.  Misal, “Mamanya Wulan, kita’ ada di rumah ?” atau “Bapaknya Rahmat, saya ada perlu sebentar.” 

Sebenarnya masih banyak lagi, tapi untuk sementara cukup sekian dulu. Yang nulis sudah ngantuk. Nanti kita sambung lagi ee…^^
18 October 2015

Anak Bungsu

“Tak perlu menjadi orang kaya untuk hidup manja, tetapi cukuplah menjadi anak bungsu”
~Prie GS~

Ada aksioma dalam masyarakat bahwa anak sulung katanya lebih mandiri, sementara anak bungsu biasanya lebih manja. Kemandirian idealnya berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman, tak peduli dia sulung atau bungsu. Sementara manja, bisa muncul sewaktu-waktu pada diri seseorang. Menurut pengamatan pribadi, anak sulung memang dituntut lebih keras dibanding yang lain. Sementara pada anak bungsu, sikap orangtua sudah lebih lunak.

Dua adik saya semuanya laki-laki. Dan saya bersyukur untuk ini. Punya adik laki-laki itu menyenangkan. Ada yang bisa antar jemput. Ada yang bisa disuruh-suruh. Dan ada yang bisa dimarah-marahi kalau lagi jengkel. Tapi karena mereka pula maka orangtua senang membelikan saya barang-barang yang bergaya khas laki-laki, supaya nantinya bisa diwariskan ke kedua bocah itu. Tak jarang keduanya protes karena selalu kebagian barang-barang bekas. Hahaha!

Baru-baru ini ketemu foto lama di laptop sepupu. Di foto itu adik saya yang bungsu masih kecil, kelas 2 SD kalau tidak salah. Si bungsu ini adalah setengah adik dan setengah anak bagi saya. Karena saya ikut mengurusnya waktu dia masih TK. Waktu itu Ibu masih tugas di luar kota dan tidak bisa bolak-balik membawanya naik motor. Jadi dia dititipkan sama nenek. Kami pun senasib, sama-sama anak titipan. 

Setiap pagi, saya bertugas memandikan bocah ini, sementara nenek menyiapkan sarapan dan bekal. Setelah itu saya mengantarnya ke sekolah karena SMA saya searah dengan sekolahnya. Adik saya sekolah di TK Bhayangkara yang di hari-hari tertentu memakai seragam layaknya polisi cilik. Karena tubuhnya kecil, baju yang ukuran S pun kedodoran di badannya. Topi polisi terlalu lebar di kepalanya hingga melorot sampai menutup mata. Belum lagi tas bekal yang dia bawa seperti memikul karung beras. Ditambah bedak yang didempul sekenanya ke seluruh wajah.

Setiap pagi kami berangkat sama-sama. Sekitar jam 11 atau 12 nenek akan datang menjemputnya di sekolah. Siangnya, dia dibebaskan bermain atau tidur. Biasanya kalau ada sisa uang jajan, kami akan membeli kupon berhadiah seharga 500 rupiah. Dia pernah beruntung beli kupon yang berhadiah satu box gelas Mama & Papa. Sorenya, kami duduk di depan TV nonton kartun Hunter X Hunter. Atau nongkrong di teras sambil makan Choki-choki. Dulu dia suka sekali nonton Dora The Explorer. Dan ikut menyanyi depan TV. Tapi kalau diungkit sekarang, bocah itu tidak mau mengaku. Hahaha. Di malam minggu, ayah akan datang menjemputnya dan dikembalikan lagi malam senin. Begitulah rutinitas harian kami.

Dia masih SD sewaktu saya masuk kuliah. Pulang kampung mungkin hanya dua atau tiga kali setahun. Perubahannya benar-benar terasa setiap kali pulang. Tinggi badannya dulu tidak sampai sepinggang, masih sering saya banting kiri-kanan. Tiba-tiba saja dia sudah menjulang melampaui tinggi saya. Hello, sejak kapan nih bocah jadi tinggi begini ? Suaranya yang cempreng kayak bebek sekarang sudah serak dan berat. Kulitnya tambah legam karena sering berenang di laut. Dulu saya sering mencandainya kalau dia itu dipungut di selokan depan rumah, makanya warna kulitnya lain dari yang lain. Candaan itu biasanya berhasil membuatnya dongkol. Sekarang dia berdalih kalau kulit yang keren itu yah macam warna kulitnya, eksotis katanya. Huekk…

Berbeda dengan adik pertama yang teman-temannya selalu nongkrong di rumah, si bungsu ini jarang dikunjungi teman. Kadang dia main ke temannya. Dan sekali main ke rumah teman,dia bisa lupa waktu, nanti pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tapi sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, jadi kami menjulukinya room boy. Saya sering menegurnya untuk sesekali keluar mengukur jalan. Tapi sepertinya kesenangannya memang ada di dalam rumah. 

Dia yang paling dekat dengan ibu dibanding yang lain. Tidak sungkan bersikap manja sama ibu. Juga tidak bisa lama-lama jauh dari ibu. Pernah di Makassar saya membawanya jalan-jalan ke kos di dalam kampus. Baru sehari dia sudah minta pulang, katanya kangen ibu. Padahal ibu ada di Minasaupa. Hadeh. Dan waktu berangkat haji baru-baru ini, tiap tiga hari sekali dia menelpon ke sana. Sementara ke saya dia selalu tanya kapan mereka pulang. Hadeh, orang baru lima hari pergi sudah ditanya kapan pulang.

Dia jago ngeles. Alasannya seringkali konyol dan tidak terpikirkan. Kalau diumpamakan, bocah ini seperti kucing. Tahu cara menikmati hidup dan menjalaninya dengan santai. Seperti tidak punya beban. Saya curiga, jangan-jangan golongan darahnya B. Sekarang dia sudah besar, sudah kelas dua SMA, tapi bagi saya dia masih seperti bocah TK dengan baju kedodoran dan bedak yang berdempul tidak rata. Ada ekspresinya yang tidak hilang sejak kanak-kanak.
28 August 2015

Kata Mark Twain

“Membaca buku yang menarik kemudian bertemu dengan pengarangnya, seperti makan paté hati angsa yang enak sekali kemudian harus bertemu angsanya.” 
~Mark Twain~

Penulis dan tulisannya, atau dalam hal ini, pencorat-coret dan coretannya. Suatu ketika kau menemukan buku yang menurutmu bagus. Melihat pengarangnya, kau pun mulai memburu buku-bukunya yang lain. Atau kau pernah, secara tak sengaja, menemukan coretan ngelantur di dunia maya. Ada sesuatu dalam tulisan itu yang membekas di hatimu. Kau pun mulai rutin membaca coretannya yang lain. Sepertinya kau punya pengalaman yang sama dengan penulis, dan dengan cara tertentu kau merasa bahwa si penulis memahami dirimu. Ketahuilah, orang bisa benar-benar berbeda dalam tulisan.

Dalam sesi wawancara dengan Jonas Jonasson, penulis asal Swedia itu ditanya apakah sehari-hari ia sama lucunya dengan novel karangannya. Jonas menjawab dengan mengutip kalimat Mark Twain di atas bahwa membaca buku yang menarik kemudian bertemu dengan pengarangnya, seperti makan paté hati angsa yang enak sekali kemudian harus bertemu angsanya. Memang benar tulisan adalah cerminan pikiran dan hati seseorang, tapi benar pula bahwa orang bisa sangat berbeda dalam tulisan. Bagaimana ya mengatakannya, ini sedikit rumit. Misalnya saja Raditya Dika, yang dikenal sebagai penulis novel komedi itu katanya sehari-hari adalah orang yang serius. Atau salah satu blogger yang dulunya favorit saya, yang muatan blognya berat, dark dan serius, katanya suka bercanda dan jarang bersikap serius di dunia nyata. Dulu saya suka tulisannya. Sampai membaca habis isi blognya, menyimpan semua tulisannya, melacak buku-buku karangannya dan menghabiskan waktu berjam-jam mencari tahu tentangnya. Tapi ibarat demam, suhu pelan-pelan kembali ke titik normal.

Yang ingin kukatakan, bahwa pada dasarnya yang kita sukai adalah tulisannya. Tulisannya, bukan si penulis. Beberapa orang sulit membedakan kedua hal ini sehingga mereka terjebak dalam ilusi sesat yang sesaat. Dengan berjalannya waktu, pelan-pelan kita akan menyadarinya sendiri.
23 July 2015

Random (8)

Waktu Samurai X pertama tayang di stasiun TV nasional, nyaris tak pernah absen kuikuti serialnya tiap minggu. Di salah satu episodenya, entah yang keberapa, ada instrumen yang jadi latar ketika Misao dan Kenshin berjalan di atas jembatan. Ceritanya mereka baru saja mengembalikan sekantong uang yang dicuri Misao. Keduanya tengah dalam perjalanan kemudian bertemu untuk pertama kali. Kenshin menuju Kyoto untuk menghentikan Shishio sementara Misao sedang mencari Aoshi. Setelah mengembalikan uang, mereka berjalan melewati jembatan kayu di atas sungai. Instrumen itu muncul sejak keduanya masuk jembatan, diiringi riak air yang mengalir di bawahnya. Bunyi yang hanya beberapa detik itu ternyata terekam jelas di kepala. Aku baru menyadarinya kemudian hari.

***

Suatu malam terjadi pemadaman listrik di seluruh kota Benteng. Padahal posisiku sudah siaga satu depan TV, menunggu Extravaganza yang jadwal tayangnya tiap malam minggu. Kau tahulah, tidak ada yang lebih membosankan dibanding listrik mati di malam minggu ketika perpustakaan umum tutup, dan teknologi media belum seperti sekarang. Tak ada tontonan, tak ada obrolan dan tak ada bacaan. Jadi kuputuskan jalan-jalan sebentar ke tepi pantai. Melihat kapal mungkin, atau membeli sesuatu untuk dimakan. Kuraih jaket yang tergantung di dinding dan memeriksa sejumlah uang di sakunya, kuambil walkman di laci, kupasang earphone di telinga, kukenakan sandal, kuputar kenop pintu dan melangkah keluar.

Angin timur berhembus kencang. Jenis angin yang membuat kulit kering dan pecah-pecah. Kumasukkan kedua tangan ke dalam saku dan menggenggamnya erat-erat untuk menahan hawa dingin. Kota dikepung gelap. Rumah-rumah diterangi satu atau dua batang lilin yang meliuk kesana kemari. Kadang lilin itu harus menyerah kalah karena angin bisa tiba-tiba menyambar lalu kembali tenang dalam sekejap. Jalanan juga lengang, sesekali ada kendaraan yang lewat. Sinar lampunya timbul tenggelam di sisi kiri dan kanan jalan. Di malam minggu semacam itu, beberapa orang memilih mendarat di pinggir lapangan, ngobrol panjang lebar sambil mengunyah bakso. Sebagian lagi memilih tepi pantai, ditemani gelas-gelas sara’ba dan sepiring pisang goreng. Seingatku, dulu salah satu tetanggaku kerap memboncengku ke pinggir pantai sekadar makan gorengan dan minum sara’ba. Tapi kebiasaan itu terhenti sejak dia menikah dan pindah ke rumah baru.

Jika tidak sedang buru-buru, biasanya kuambil jalan memutar, menjauh dari tempat tujuan. Salah satu kesenanganku adalah suka lama-lama di jalan. Tapi hanya di malam hari. Suka melihat kerlip lampu yang menerangi kota. Suka menatap cahaya dari tempat yang gelap. Pandangan yang awalnya lurus ke depan kualihkan ke langit, ada yang tidak biasa di atas sana. Malam itu bulan mati, tapi langit penuh bintang. Bukan penuh, sesak malah, seperti pasir yang dihamburkan. Ribuan bintang membentuk aliran seperti sungai yang memanjang ke selatan. Sampai takjub dibuatnya. Saking takjubnya aku nyaris teriak, tapi suaraku malah tercekat. Gabungan antara ingin mengekspresikan rasa kagum dan desakan untuk menahannya. Andai sendirian, sepertinya tak masalah mengucapkan “wow” yang panjang, atau merentangkan tangan dan telentang menghadap langit. Tapi itu jalan raya. Dan malam hari. Walau cukup sunyi, tak boleh macam-macam kalau tak ingin jadi bahan tertawaan. Gagasan bahwa ketika listrik mati seorang gadis tidur-tiduran di tengah jalan sepertinya bukan gagasan yang bagus. Jadi atas nama sikap, kutahan keinginan konyol itu. Kuteruskan langkah seperti biasa tapi lebih lambat dari sebelumnya. Setengah berharap waktu terhenti detik itu juga, pagi jangan datang dulu dan jalanan yang kulalui tidak punya ujung. Bukankah menyenangkan bisa terus berjalan di bawah langit seperti itu ? Bila tiba di tujuan, rasanya seperti ada sesuatu yang akan berakhir. Bagaimana pun, jika terus melangkah, lambat laun kita akan tiba di suatu tempat. Seperti langkah kakiku yang terhenti di depan penjual martabak manis. Selain gorengan, pantai juga ramai oleh gerobak martabak. Jadi kupesan satu lalu berbalik pulang, lagi-lagi mengambil jalan memutar.

***

Di malam yang lain, lama setelahnya, aku sedang membeli pesanan teman di salah satu kedai makan di jalan Hertasning. Sekotak TV yang sedang menyiarkan berita di balik punggungku mengirim sinyal ke telinga, membuatku tidak tahan untuk tidak berbalik. Yang menarik bukan beritanya, aku bahkan tidak tahu itu berita apa, tapi di ujungnya diselipkan sepotong instrumen yang sama persis dengan yang di Samurai X. Dan baru-baru ini, ada acara talkshow yang menampilkan salah satu publik figur yang menceritakan kehidupannya sejak kecil. Jelasnya bagaimana aku tidak tahu, tapi yang penting adalah instrumennya. Gara-gara itu, aku yang tengah membaca di beranda melesat masuk ke ruang tengah untuk memastikan. Benar saja, itu nada yang sama dengan yang di Samurai X.

Latar bunyi dan sungai bintang. Secara teknis, tidak ada kaitan antara keduanya. Tapi jika tiba-tiba mendengarnya entah di mana, yang langsung teringat adalah pemandangan langit waktu itu. Hingga kini, belum pernah lagi kulihat sungai bintang sebanyak malam itu.

Coba dengarkan bunyi yang kumaksud, kalau kau kurang kerjaan tentunya. Hehe. Abaikan!
20 November 2014

Tiga Kuntum Daisy

Lukisan itu bersandar di sudut kamar. Bingkainya berwarna hitam dengan sudut-sudut dilapisi kertas. Berhari-hari kubiarkan seperti itu, hingga debu halus mulai menyelimutinya. Sesekali kupandangi lekat-lekat sambil menyesap teh. Begitu dekat jaraknya dariku, namun begitu jauh dari jangkauanku. Bulan-bulan berlalu, debu mengendap semakin tebal. Kuambil selembar kain, kubersihkan, lalu kumasukkan ke dalam kantong kertas. Kubawa pada seorang kenalan yang akan berangkat ke kota lain. Ia boleh menyimpan atau memberikannya, kataku padanya. Siapapun tak masalah. Kemana pun tak masalah. Heran ia menerima, tapi tak juga berpanjang tanya. Sudut kamarku pun kosong. Lukisan itu sudah tidak ada. Tak perlu lagi kuhabiskan waku menatap begitu lama. Pagi berjalan seperti biasa. Kubuka jendela, kurapikan buku, kusetrika baju, kuseduh segelas teh dan menyesapnya pelan-pelan. Kulirik kembali sudut itu, mengingat jejaknya sewaktu masih ada. Cukup lama. Cukup lama.
28 October 2014

Kembali ke Peradaban

“Maka, untuk sementara kita kembali ke kota. Kembali ke peradaban.” 
~Haruki Murakami, Kafka on the Shore~ 

Peradaban, kata Jean-Jacques Rousseau, sama seperti ketika manusia membangun pagar. Semua peradaban merupakan produk dari kurangnya kebebasan akibat kungkungan. Suku Aborigin di Australia adalah pengecualian. Mereka berhasil mempertahankan peradaban yang tidak terpagar hingga abad ketujuh belas. Benar-benar bebas. Pergi kemana saja mereka mau, melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Sewaktu bangsa Inggris tiba serta membangun pagar untuk melindungi ternak mereka, suku Aborigin tidak dapat memahaminya. Dan kerena tidak tahu prinsip-prinsip yang digunakan bangsa Inggris, mereka dianggap berbahaya sekaligus anti-sosial sehingga diusir ke daerah terpencil. Karena itu, orang-orang yang membangun pagar paling tinggi dan kuat adalah mereka yang paling mampu bertahan. Kenyataan itu dapat disangkal hanya bila seseorang membiarkan dirinya masuk ke dalam hutan belantara. 

Kembali ke peradaban bagi saya adalah saat ketika kaki menapaki tanah kota Daeng. Dengan gedung tingginya, pusat perbelanjaannya, cuaca panasnya, bunyi klaksonnya, keributan jalanannya, dan debu-debunya yang menyumbat paru-paru. Dan tentu saja, macetnya. Macet adalah lambang peradaban negeri ini. Dihiasi wajah pengendara dan pengemudi yang keras dan tegang. Wajah yang kata Ahmad Tohari, mengusung semua lambang kekotaan ; keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Jalan raya menyadarkan kita bahwa berjalan kaki adalah pekerjaan yang berbahaya. Tak ada tempat bagi golongan ini. Trotoar yang selayaknya diperuntukkan bagi pejalan kaki lebih sering dipakai pengendara motor. Demi mengatasai macet, pemerintah memperlebar jalan raya. Jalan raya diperlebar, trotoar dihilangkan. Trotoar hilang, pejalan kaki gigit jari. Pun saat menyeberang jalan, bersiap-siap dibentak klakson mobil dan motor. Melihat ada yang mau menyeberang jalan, semakin cepat pula pengendara memacu kendaraannya. Ketika lampu merah menyala, ada-ada saja yang nekat menerobos. Mereka seperti dikejar sesuatu yang tak nampak. Entah apa.

Orang-orang yang muak hidup di kota memilih mengasingkan diri. Kembali ke alam, pergi ke Bhutan, atau kemana saja asal menjauh dari kota. Tidak mudah hidup seperti itu walaupun beberapa dapat melakukannya. Mengasingkan diri di tempat yang tenang, damai dan tidak melakukan apa-apa sejatinya adalah istirahat panjang. Tapi istirahat dapat menjadi suatu ancaman. 

Saat ini, pulang kampung adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengasingkan diri. Menetralisir diri dari pengaruh kota. Setidaknya di sana tidak ada gedung tinggi, tidak ada macet, bunyi klakson jarang terdengar serta kepedulian yang masih kental. Kota itu berjalan lambat. Seperti orang tua. Datar, nyaris tanpa riak. Hiruk-pikuk baru ditemui di sekitar pantai di sore hari ketika matahari mulai terbenam. Di sana tidak ada mall, tidak ada bioskop. Jadi pantai adalah satu-satunya pilihan melepas penat. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada yang bersepeda, main bola, berenang, lomba dayung dan ada yang bersiap melaut. Duduklah di sana menghadap matahari, tutup mata, lalu dengarkan angin. Lima detik saja. Sangat drama kedengaran. Tapi itu membuat saya sedikit lebih baik. Hehehe


Berada di sana membuat saya menggunakan kembali bahasa daerah, bersosialisasi dengan orang-orang tua, dan makan makanan sehat. Kebetulan, saat itu bertepatan dengan lomba gerak jalan dalam rangka memperingati hari jadi Sulsel yang ke-345. 


Tempat itu menenangkan. Tempat semua kenangan masa kecil hingga remaja tersimpan. Berada di sana membuat saya santai, tak perlu memikirkan apapun selain mengenang. Suatu kondisi yang perlahan-lahan membuat saya membusuk. Mungkin itu sebabnya mengapa istirahat disebut sebagai ancaman. Jadi, untuk sementara saya harus kembali ke kota. Kembali ke peradaban.
27 June 2014

Ramadhan, Nasi Goreng dan Kepala Suku

Ingatan akan orang yang pernah membersamai kita seringkali tertelan oleh kesibukan sehari-hari. Ingatan itu baru muncul ketika ada momen yang memancingnya. Seperti hari ini. Saya baru tiba di kos. Baru mau masuk kamar ketika teman kos mencegat di depan pintu dan tanya dimana nantinya saya buka puasa pertama ? Dia mengajak penghuni yang tidak pulang kampung untuk  buka bersama di kos. Biar rame, katanya. Saya menggeleng tidak tahu. Memang belum ada rencana dimana akan buka puasa. Mungkin bareng sepupu, mungkin dengan teman kampus, mungkin dengan teman kos atau mungkin buka puasa sendiri di jalan. Tergantung situasi nanti. 

Ramadhan tinggal hitungan jam. Dan saya teringat lagi dengan para penghuni kos yang sebelumnya saya tinggali. Pondok Istiqomah namanya. Satu demi satu mereka menyebar ke berbagai daerah. Pondok itu menyimpan ingatan tersendiri di laci kepala saya. Yang paling teringat adalah Misi Penghematan Ekstrim yang dijalankan berdua oleh saya dan “kepala suku”. Saat itu masa-masa ‘paceklik’. Agar tetap survive sampai bulan berikutnya, nyaris dua minggu kami hanya makan nasi dan sambal botol. Kami patungan membeli sebotol bumbu nasi goreng untuk persediaan beberapa hari. Di rumah, nasi yang sudah matang kemudian diolah menjadi nasi goreng dengan bumbu botol tadi. Lalu dimakan tanpa lauk, hanya tambahan rasa pedas dari sambal botol. Selama berhari-hari, siang dan malam kami makan itu terus. Kadang malah sebungkus mie instan dimakan berdua. Hasilnya luar biasa, saya bisa menghemat sampai lima puluh persen. Tapi gara-gara itu juga, selama beberapa waktu saya tidak menyentuh nasi goreng. Eneg rasanya. Terharu juga kalau diingat lagi. Tapi disitulah momen yang kurasa paling berkesan. 

Walaupun terpisah, tapi pernah bertemu di aliran sungai yang sama. Bukankah itu sudah cukup ? Kata-kata yang diambil dari buku ini selalu menjadi penghibur bagi saya setiap kali ada yang pergi. Ketika kos semakin sepi karena hanya tersisa empat orang, dia selalu menjadi imam shalat. Karena itu dia dipanggil kepala suku. Kamarnya juga sering jadi tempat nongkrong, tempat sahur dan berbuka, dan tempat mengungsi jika pertengahan hari kamar saya berubah jadi oven dadakan karena terpanggang matahari. Terakhir saya dapat kabar kalau dia bekerja di Bogor, dekat kampus IPB. 

Dia berani keluar dari zona nyaman. Berjuang, jatuh, lalu berjuang lagi. Mendatangi tempat-tempat asing, bekerja keras, hidup sendirian, jauh dari kerabat dan orang-orang dekat. Saya tidak tahu apa bisa bertahan bila berada di posisinya. Ustadz Abu ‘Umar Basyir menulis dalam dalam bukunya, Sandiwara Langit, bahwa orang yang bekerja keras memang belum tentu mendapat rezeki berlimpah. Tapi Allah menyukai orang-orang yang bekerja dan berusaha lebih keras dibanding yang lain. 

Untuk kepala suku Istiqomers, berusahalah yang terbaik. Jangan lupa untuk sesekali memberi kabar dari sana. Semoga Allah selalu melindungi dan menguatkanmu di mana pun berada. Salam Ultraman :P
 
;