07 April 2012

Dracula (2)

Dan Beranikah dirimu membuktikan kebenaran yang paling kau benci ?” 
~Byron~

Selama ini sosok Drcula hanya dianggap imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, makhluk yang berada antara ada dan tiada. Padahal sejarah hidup Dracula adalah kisah banjir darah yang belum ada tandingannya hingga kini. Dan semua itu tak bisa dipisahkan dengan perang salib serta jatuhnya Konstantinopel ke tangan kerajaan Turki Ottoman.

Ayah Dracula bernama Vlad II. Nama aslinya Basarab. Basarab kemudian bergabung dengan kerajaan Honggaria dan direkrut sebagai pasukan elit garda depan perang salib. Tahun 1431 istri Basarab mengandung anak kedua mereka. Mereka kemudian pindah ke Transylvania, tepatnya di Benteng Sighisoara. Di tempat inilah istri Basarab melahirkan anak keduanya, Dracula. Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan pada bulan November atau Desember 1431 M. Asal-usul kata Dracula adalah karena ayahnya (Vlad II) merupakan anggota orde naga dan selalu membawa lencana orde tersebut kemana-mana. Orang-orang Wallachia kemudian memanggilnya dengan sebutan “Vlad Dracul” dalam bahasa Rumania, “Dracul” artinya Naga, sehingga Vlad Dracul berarti Vlad Sang Naga. Sementara akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak dari”. Dari kata tersebut Vlad III atau Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa inggris dilafalkan menjadi Dracula) yang berarti anak dari Vlad Dracul.

Karena ayahnya sering terjun ke medan perang dan kehidupannya hanya mengenal sosok ibu, Dracula tumbuh menjadi sosok tertutup dan inferior. Situasi politik membuat ia dan adiknya, Randu dikirim ke Turki sebagai jaminan dari ayahnya. Dracula tumbuh menjadi remaja pembangkang dan pendendam. Untuk menghibur rasa kesepiannya, Dracula sering menangkap tikus dan burung kemudian ditusuk-tusuk dengan tombak kecil. dia sangat girang melihat hewan-hewan tersebut menggelepar sekarat. Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam tapi hanya untuk tujuan politik. Di sana ia belajar memainkan segala jenis senjata dan strategi perang. Dia mempunyai satu kelebihan yang sulit dicari tandingannya, yaitu naluri membunuh. Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman mati semakin menjadi. Boleh dikata ia kecanduan jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat etika pedang ditebaskan. Bibit kekejaman itu ia dapatkan sewaktu masih di Wallachia. Di kota itu pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-hari. Udara kota itu selalu anyir bau darah.

Tahun 1448 kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula. Setelah bebas, Ia dan pasukannya kemudian berhasil merebut Wallachia. Selanjutnya, masa pemerintahan Dracula merupakan masa-masa teror yang mengerikan. Naluri kekejamannya benar-benar tersalurkan setelah ia menjadi penguasa di Wallachia. Hanya dalam waktu kurang dari setahun ia telah membunuh ribuan orang dengan cara yang kejam yaitu disula. Bagian ke III buku ini menggambarkan penyiksaan ala Dracula. Boleh dikata Dracula adalah seorang kreator penyiksaan. Mulai dari penyulaan, pemotongan dan perusakan organ seksual, merebus korban hidup-hidup, menguliti kepala dan bagian tubuh lainnya, mencekik, memotong otot-otot tertentu, memotog hidung dan telinga, membutakan mata, membakar hidup-hidup, memaku kepala, memangsakan si korban pada binatang buas, menarik korban dengan dua kuda, memendam tubuh korban dan memanggang. Saya tidak perlu ceritakan secara mendetail karena bagi saya itu terlalu sadis. Kesadisan Dracula melebihi kesadisan suku-suku paling primitif yang ada di muka bumi.

Pembantaian Dracula terhadap umat islam juga tak bisa dipisahkan dari perang salib. Sebagai salah satu panglima perang salib di daerah Transylvania, Dracula bertugas mencegah pasukan Turki Ottoman menuju Eropa Timur dan Barat. Ia memakai segala cara, salah satunya dengan meneror umat islam yang ada di Wallachia. Dracula juga berusaha mencari sekutu dari kerajaan yang sama besarnya dengan Turki, yaitu Honggaria. Langkah pertamanya untuk mendapat simpati dari Honggaria adalah dengan pindah agama. Ia memeluk Katolik. Langkah ini berhasil, ia diterima sebagai bagian dari pasukan salib bahkan dinikahkan dengan saudara raja Honggaria. Setelah itu, ia baru berani secara terbuka menyatakan bahwa dirinya adalah musuh kerajaan Turki Ottoman. Ia mulai meneror dan membantai umat islam di wilayah sekitarnya. Sejarah mencatat sekitar 300.000 umat islam dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya. Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau Snagov setelah tak sanggup melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Namun kekejamannya tidak pernah terungkap secara terbuka karena beberapa sebab :
  1. Pembantaian Dracula terhadap umat islam tidak bisa dilepaskan dari perang salib. Negara-negara barat yang menjadi pendukung pasukan salib tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengore-ngorek kekejaman Hitlet dan Polpot enggan membuka aib sendiri.
  2. Dracula, betapapun kejamnya adalah pahlawan pasukan salib sehingga nama baiknya selalu dilindungi. Dan sampai saat ini, di Rumania, Dracula dianggap sebagai pahlawan.

Seperti itulah politik sejarah. Negara adidaya akan memaksakan kebenaran sejarah menurut selera mereka. jika tidak jeli, kita akan terjebak pada kebenaran yang sebenarnya adalah kebohongan. Dengan kemampuan keuangan dan teknologi mereka berupaya untuk memelintir sejarah. Contohnya adalah perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa dalam perang itu Amerika harus menerima kekalahan telak. Banyak prajurit yang tewas dan tidak sedikit yang cacat seumur hidup. Amerika pun menciptakan sosok super hero lewat film. Mereka memproduksi film Rambo dengan berbagai judul dan variasi untuk menunjukkan bahwa merekalah pemenang di perang Vietnam. Rambo adalah mitos baru untuk menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan Dracula tak ubahnya seperti Rambo. Bedanya, kalau Rambo adalah sosok fiksi yang seolah-olah dibuat nyata, maka Dracula sebaliknya, yaitu sosok nyata yang diubah menjadi fiksi.

Selain itu, tujuan lain dari penjajahan sejarah adalah menghilangkan pahlawan dari pihak musuh. Superoritas barat menginginkan bahwa hanya merekalah  yang memiliki pahlawan. Dalam mitos Dracula, sosok Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al Fatih dihilangkan sama sekali. Padahal sejarah resmi mencatat peran sang sultan dalam mengakhiri kekejaman Dracula dalam dua kali gempuran besar-besaran. Serangan pertama membuat Dracula kehilangan tahta dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh. Tapi semua fakta itu telah dihapus oleh barat. Sosok sultan Mehmed II memang sangat dibenci kerena telah berhasi merebut konstantinopel dan membuat barat kehilangan muka. Karena itulah mereka berusaha untuk menghapus nama Sultan Mehed II dalam sejarah. Harus diakui usaha itu cukup berhasil. Buktinya, bahkan umat islam sendiri pun jika ditanya tentang sultan Mehmed II akan menggelengkan kepala namun jika ditanya tentang Dracula, mereka bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sosoknya.

Bila suatu umat tidak mengenal pahlawannya maka mereka tidak akan bangga terhadap umatnya sendiri. Mereka akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggap lebih superior. Gejalanya bisa dilihat dari pemujaan secara berlebihan terhadap budaya barat. Kondisi seperti ini yang diinginkan barat karena negara yang tidak lagi bangga pada bangsanya sendiri akan dengan mudah diarahkan. Inilah bentuk penjajahan gaya baru. Begitu halus, tak ada perang, tak ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.

“Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuangan manusia melawan dirinya sendiri”

Si Kecil

Setiap manusia memiliki keunikan karakter dan sifat yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sekian banyak orang-orang yang pernah saya temui, baru kali ini saya menemukan keunikan yang berbeda dari seseorang. Saya sering memanggilnya “Si Kecil” karena tinggi badannya memang imut, mengingatkan saya akan tokoh Kugy dalam novel Perahu Kertas. Saya mengenalnya baru setahun belakangan ini. Usianya empat tahun lebih muda dari saya. Dia anak yang penurut dan suka menolong. Jika ia berbicara, saya tidak menemukan titik pemberhentian kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, lancar tanpa henti. Pun ketika bercerita, dia sering memperagakan apa yang ia ceritakan. Sehingga melihatnya berbicara tak ubahnya seperti menonton teater. Ia sering menceritakan teman-temannya pada saya seolah-olah saya juga mengenal mereka. Dia anak yang ceria tapi sangat gampang menangis. Banyak hal-hal biasa atau bahkan remeh di mata saya tapi justru bisa membuatnya menangis.

Dia termasuk salah satu korban Korean Wave. Drama City Hunter yang bergenre action  itu justru membuatnya terisak-isak. Entah bagian mananya yang membuat dia sampai menangis-nangis. Jika seseorang mengeluarkan suara yang agak keras padanya, dia pasti menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia dibentak-bentak seniornya saat ospek mahasiswa baru. Untungnya, ospek di fakultasnya dihapuskan. Yang paling aneh adalah kejadian pada suatu sore. Ia tinggal sekamar dengan dua orang temannya. Hari itu giliran ia piket membersihkan kamar. Sore harinya, teman sekamarnya pulang kuliah dan mencari-cari headphone hp-nya namun tidak ketemu. Si Kecil langsung panik karena hari itu adalah hari piketnya dan ia merasa bersalah jika headphone temannya hilang. Kepanikannya tidak beralasan, toh saat membersihkan kamar, headphone itu memang sudah tidak ada. Tapi ia tetap merasa bersalah. Sambil tergopoh-gopoh ia mendatangi saya dan bertanya berapa harga sebuah headphone. Saya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya pun bertanya, apa memang dia yang menghilangkan headphone itu, ia jawab tidak. Saya tanya lagi, apa temannya minta digantikan headphone baru, ia menjawab tidak. Saya menarik napas panjang, ya ampun anak ini benar-benar, deh. Sambil menahan jengkel, saya bilang bahwa ia tidak perlu sepanik itu apalagi sampai berniat menggantinya karena bukan dia yang menghilangkannya. Melihat saya yang memasang raut wajah jengkel, eh dia malah nangis. Astaga...*jidat nempel ke tembok*

Sifatnya yang seperti itu menimbulkan rasa ingin melindungi dari orang-orang di sekitarnya. Ia bisa membuat orang tertawa sekaligus kasihan di saat yang bersamaan. Uniknya, ia tidak pernah menyimpan dendam pada orang yang membuatnya menangis. Menangis telah menjadi semacam penawar baginya. Ia bisa menangis 10 menit lamanya lalu kembali berbicara pada orang yang membuatnya menangis seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hal yang hebat menurut saya, karena jarang ada bisa seperti itu. Tidak juga saya.
26 March 2012

Random (1)

Beberapa hari yang lalu saya ke rumah sakit menjenguk ibu seorang teman yang terkena kanker. Sebenarnya saya tidak terlalu suka rumah sakit. Bukan karena takut dokter, jarum suntik atau obat-obatan, tapi rumah sakit identik dengan penderitaan. Jika melewati kamar-kamar pasien, yang terlihat adalah manusia-manusia yang berjuang melawan ganasnya penyakit. Seperti itu pula pemandangan yang saya temui di kamar tempat ibu itu dirawat, erangan kesakitan yang tak putus-putus. Saya terenyuh ketika di sela-sela rasa sakitnya, ibu itu berkata pada teman saya, anaknya, “Tolong ibu, nak”. Teman saya terdiam mendengarnya. Ia menunduk dalam-dalam di sisi ibunya, merenggut seprai, berusaha mengumpulkan kekuatan. Ia lalu mengangkat wajah, membelai kening ibunya dan terus membesarkan hatinya. Setelah beberapa lama akhirnya ibu itu bisa tertidur. Teman saya masih menelungkupkan wajah ke tangan ibunya. Saya menyentuh pundaknya, dan mendapati matanya berkaca-kaca menahan tangis. Di luar, azan ashar berkumandang.

*************************

Kemarin, jam 8 malam saya sudah tepar. Berhubung kegiatan hari itu cukup menguras tenaga, sepulang dari kampus saya langsung mencari bantal dan...zzzzz. Mendekati pukul 12, hp berdering tanda panggilan masuk. Dengan malas saya mengangkat telepon tanpa melihat dari siapa. Ternyata dari seorang teman (ya iyalah). Dia satu tingkat di atas saya tapi kami akrab seperti layaknya teman sebaya. Dia mengabarkan akan menikah bulan depan. Mata saya langsung melebar, kaget mendengarnya. Saya tidak menyangka jodohnya akan datang secepat itu. Saya selalu berpikir dia masih muda dan belum ada tanda-tanda akan menikah. Ternyata yang namanya jodoh memang tidak pandang bulu. Berkurang lagi deh, satu teman yang single. :D Barakallah...barakallah...


*************************

Hari ini, di rumah salah seorang sepupu, saya menikmati sore ditemani sebuah buku. Saya senang membaca di tempat terbuka, jadi saya memilih teras lantai dua. Tapi kesenangan sore itu terusik oleh sepasang manusia yang asyik berpacaran di depan rumah. Saya berusaha mengabaikannya tapi gaya mereka berpacaran justru mengundang perhatian siapapun yang lewat. Jadi saya memilih kembali ke kamar dan melanjutkan bacaan di sana. Ah, semakin hari dunia ini semakin parah.

*************************

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya merasa lebih ringan menulis. Seperti ada ikatan yang lepas. Yang membuat saya benar-benar menikmati menulis. Saya senang.
23 March 2012

Harlem Beat (Ending)

"Cuaca sering berubah-ubah ya ? seperti hati."

Kalau tidak salah itu adalah kalimat pembuka salah satu novel karangan Tere-Liye. Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini ? Tidak ada. Hanya saja sekarang di luar hujan turun cukup deras. Belakangan ini cuaca sulit ditebak. Sebentar hujan, sebentar terik. Mengingatkan saya akan kalimat pembuka tadi. Sekarang waktu menunjukkan pukul 01.00 am. Di luar hujan turun deras. Segelas teh hangat di samping laptop sudah tandas. Dingin-dingin begini memang paling enak minum teh hangat sambil makan gorengan. Hehehe

Well, kemarin saya baru saja menamatkan serial komik jadul berjudul Harlem Beat. Komik ini adalah salah satu komik favoritku. Pertama kali membacanya waktu masih kelas satu SMA. Tapi waktu itu serialnya tidak lengkap dan baru sekarang saya membaca lanjutannya. Rasanya sedih juga mengatakan Sayonara pada tokoh-tokoh-nya, Naruse, Sawamura, Sakurai, Kiriko, Mizuki, Kobayashi, dll. Terutama si Sawamura.

Sampai akhir, Sawamura, pahlawan street basket ini tetaplah si cuek yang mata duitan. Saya suka penggambaran tokoh Sawamura sebagai orang yang bebas dan tidak terlibat hubungan romansa dengan siapapun. Penulisnya saja bahkan tidak tahu sampai kapan Sawamura akan bertahan di tim basket SMA Johnan mengingat sifatnya yang tidak suka dikekang. Karakter tokoh ini mirip Kirimaru di Ninja Rantaro dan Ma’il di Upin Ipin. Sama-sama cuek, pekerja keras dan tentu saja, mata duitan.




Sakurai (Syu) dan Kiriko telah lulus SMA. Syu masuk universitas jurusan kedokteran dan Kiriko berminat jadi penata rambut (heran juga sama pilihan Kiriko). Hubungan mereka yang kaku akhirnya bisa mencair. Kiriko bahkan menerima ajakan Syu untuk berlibur sementara waktu. Syu, si kapten basket berkacamata yang lembut dan baik hati dan Kiriko, si manajer klub basket yang selalu dijuluki penyihir karena kejahilannya. Ia sering tidak dianggap sebagai perempuan karena kejahilannya yang keterlaluan. Tapi si kapten dan manajer tetap cocok satu sama lain. Meski Syu dkk telah lulus, tim basket Johnan terus beregenerasi. Banyak pemain-pemain baru yang akan melanjutkan perjuangan mereka. Tugas Naruse, Sawamura dan Kobayashi selanjutnya adalah membawa Johnan menjadi pemenang di pertandingan basket nasional.

Terharu juga pas sampai endingnya. Kalau dibandingkan, komik-komik jadul macam Harlem Beat, Slum Dunk, dan Rose Of Versailles masih lebih menyenangkan dibaca dibanding komik-komik yang beredar sekarang. Membaca komik ini selalu mengingatkan masa-masa SMA. Karena sewaktu SMA saya suka sekali baca komik di perpustakaan. Jadi membaca komik ini membuat saya bernostalgi dengan ruang perpus itu.


“Suatu saat nanti, akan tiba waktunya, saat masa muda itu berlalu menjadi sebuah kenangan. Namun perasaan dan impian di masa itu takkan menghilang. Walaupun tertimbun dalam kesibukan sehari-hari yang padat, ia akan terus bersinar di suatu tempat yang isitmewa di hati kita. Jadi, janganlah kamu melupakannya. Di dalam dirimu ada batu permata yang akan selalu bercahaya, kalau kamu merentangkan tangan, ia pasti akan selalu memberimu kekuatan. Di saat hari esok tidak terlihat, ia akan menjadi obor yang akan menunjukkan jalan. Kemudian, kamu pun suatu saat nanti akan jadi pahlawan yang bersinar”  
~Harlem Beat, halaman terakhir~
22 March 2012

in Memorian

“Makanya, kapok-kapoklah menyimpan dua soulmate di tempat yang sama”

Itu adalah nasihat seorang senior setelah saya kehilangan dua soulmate. Sebenarnya sih, tiga. Tapi kebanyakan orang tidak terlalu menganggap yang satunya. Mungkin karena jika diukur dengan rupiah tidak akan sebanding dengan dua lainnya. Tapi bagi saya itu tetap bernilai karena merupakan pemberian. Oh, maaf sebelumnya, yang dimaksud dengan soulmate di sini adalah tiga benda yang selalu menyertai saya kemana-mana yaitu HP (namanya si Ungu), gantungan berbentuk kupu-kupu dan sebuah flash disk. Hp itu adalah hadiah dari ayah tiga tahun yang lalu. Saat itu sangat berkesan karena ayah datang tanpa pemberitahuan, tahu-tahu si Ungu itu sudah nongol di depan mata. Benda kedua adalah gantungan hp berbentuk kupu-kupu yang juga berwarna ungu. Ini pemberian teman, katanya biar si ungu ada yang temani. Dan terakhir sebuah flash disk pemberian adik saya.


Berhubung FD itu berukuran kecil dan akan kerepotan mencarinya jika dibutuhkan, maka saya pun menggantungkannya bersama gantungan kupu-kupu tadi. Jadi boleh dibilang itu adalah FD pertama yang bisa dihubungi karena tinggal telepon hp-nya maka FD itu akan ditemukan juga. Tapi qadarallah, mungkin memang sudah waktunya mereka pergi setelah bertahun-tahun menemani dan membantu segala aktivitas yang behubungan dengan komunikasi dan kirim-mengirim data. Terlebih lagi di FD itu tersimpan folder yang berisi semua tulisan saya mulai dari buletin, puisi, dan tulisan lain yang sudah dan tidak pernah diposting. Sayangnya lagi, saya tidak menyimpan salinan datanya di komputer.  T_T


Pelajaran untuk angkoters sejati, berhati-hatilah di dalam angkot terutama bila anda satu-satunya penumpang saat itu. Jika ada empat atau lima laki-laki naik dari tempat yang tidak berjauhan satu sama lain dan tidak ada satupun dari mereka yang memilih duduk di dekat sopir padahal kursi itu sedang kosong, maka berhati-hatilah. Jika di antara mereka ada yang bertanya “Jam berapa sekarang ?” padahal sudah jelas kau tidak punya jam tangan, maka berhati-hatilah. Jika salah satu dari mereka tiba-tiba muntah padalah sebelumnya tidak nampak tanda-tanda sakit padanya, jangan simpati dulu. Perhatikan baik-baik orang itu, jika hasil dari sikap muntah-muntah tadi hanya berupa cairan ludah, berhati-hatilah. Kecuali jika seluruh isi lambungnya sudah keluar berarti orang itu memang sedang sakit. Hal itulah yang terlambat saya sadari sehingga berakibat hilangnya si Ungu dan kawan-kawannya. Sebagai seorang detektif Kudo, saya merasa gagal (halah).


Sebenarnya alarm di kepala saya sudah siaga satu pada dua detik pertama saat memperhatikan ke empat orang itu. Alarm itu memberitahu bahwa ada yang tidak pada tempatnya. Ada yang tidak biasa. Ada yang tidak beres. Berdasarkan pengalaman membaca komik Detektif Conan, Kudo Shinichi-kun pernah berpesan bahwa petunjuk pertama untuk memecahkan sebuah kasus adalah lihat apa yang menjadi rutinitas. Jika ada yang hilang atau tidak sesuai dengan sebagaimana ia biasanya, maka dari sanalah kau memulai. Pertama, walaupun mereka naik di tempat yang berbeda dan tidak bicara satu sama lain, insting saya berkata bahwa sebenarnya mereka saling mengenal. Kau bisa membacanya lewat mata. Sekali lagi, teori bahwa mata tidak pernah berbohong adalah benar. Pernah ada seseorang yang menyapa saya, dia mengenal saya, tahu beberapa hal tentang saya. Sayangnya memori di otak saya tidak bisa menemukan bayangan orang itu. Saya pun bersikap seolah-olah mengenalnya karena tak ingin dia tersinggung. Tapi kemudian ia berkata, “Sudahlah, sepertinya kau tidak mengenaliku. Bisa kulihat di matamu”. Gubrak. Saya buru-buru minta maaf.


Oke, balik lagi ke masalah yang tadi. Petunjuk kedua, umumnya penumpang laki-laki akan memilih duduk di kursi samping sopir jika kursi itu masih kosong, tapi keempat orang itu tidak. Ketiga, salah seorang dari mereka menanyakan waktu saat itu padahal jelas-jelas, bahkan nenek-nenek pun tahu bahwa kau tidak memakai jam tangan. Lagipula di era teknologi ini, bahkan tukang becak pun punya hp yang bisa digunakan sebagai penunjuk waktu sehingga kau tidak perlu bertanya ke orang lain. Itu adalah trik basi untuk mengetahui di bagian mana kau menaruh hp di tasmu. Keempat, salah seorang dari mereka pura-pura batuk keras dan seperti akan muntah padahal sebelumnya ia sehat-sehat saja bahkan muntahnya pun hanya cairan ludah. lalu temannya yang lain pura-pura panik untuk mengacaukan situasi. Itu hanya kamuflase agar perhatianmu teralih pada orang yang muntah tadi sementara tanpa sadar seseorang yang duduk di sampingmu dengan cepat dan halus telah menarik resleting tasmu dan mengambil sebuah hp di dalamnya.


Tapi petunjuk-petunjuk itu menjadi tidak berguna karena saya terlalu lamban menganggapi situasi. Penampilan mereka terlihat seperti mahasiswa S2 yang mau berangkat kuliah. Sama sekali tidak ada tampang pencopet seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron Indonesia. Saya lupa petuah abang Ikal bahwa dalam catatan sejarah, pembunuh berdarah dingin yang membantai musuh-musuhnya dan menjadikan tanah banjir darah adalah orang-orang yang berpenampilan rapi, bersikap santun dan  bertutur kata sopan. Alexander Agung dan Cortez adalah contohnya. Sementara mereka yang brewokan, suka pamer tato dan bertampang sangar tak lebih dari begundal kelas teri yang kerjanya hanya mencuri ayam. Mereka bukan tipe orang yang bisa membunuh tanpa melepaskan rokok dari mulutnya.


Begitulah kisah si Ungu dkk yang sudah berpindah tangan. Rasanya sedih juga mengingat ketiga benda itu adalah pemberian. Nilai sebuah pemberian berbeda dengan nominal rupiahnya. Bahkan meski hadiah itu hanya berupa gelang karet hitam yang bisa kau dapatkan sendiri dengan harga lima ribu rupiah. Ini memang terdengar sentimentil, tapi yah begitulah. Malang juga nasib keempat pencuri itu karena mereka hanya mendapatkan hp butut yang tidak akan seberapa jika laku dijual. Beberapa teman sering menyindir untuk meng-upgrade Si Ungu dengan yang baru karena tombol-tombolnya sudah tidak lengkap dan beberapa retakan di badannya. Bahkan jika ada panggilan masuk harus di loudspeaker dulu baru suara si penelpon kedengaran. Dan sepertinya sindiran mereka dikabulkan, meski dengan cara yang tidak menyenangkan. Kalau ada kesempatan bertemu lagi dengan pencurinya, saya ingin bilang begini, “Pak, gak mau sekalian ambil cash hpnya ?”
29 February 2012

Dua Kata dan Selembar Waktu

Orang itu seperti angin musim dingin. 
Meninggalkan warna kesedihan dan menghilang dalam sekejap” 
~Miwako Sato~


Ia seperti angin subuh yang mengembun di pucuk dedaunan. Menyesap pelan dan menyisakan aroma pagi. Aroma yang begitu cepat hilang, terganti oleh terik siang. Ia seperti tanah yang lelah menanti butiran air, pada hujan pertama di awal musim. Dan ia seperti sore yang selalu menyiramkan semburat jingga pada riak laut. Mengukir siluet di pasir yang terpekur. Kemudian menghilang dalam belantara malam. Menunggu purnama yang tak kunjung datang. Aku mengenalnya, tak lebih dari dua kata dan selembar waktu. 

“Stay where you belong... in my memories”
“I will... never be a memory” 

Di antara gelombang sunyi dan riak-riak keriuhan, kita hanyalah kasus waktu yang menambah porsi dalam ruang kenangan. Kenangan yang mungkin indah atau hanya akan mengendap seperti kuburan fosil jutaan tahun silam. Menunggu untuk ditemukan, entah di lapisan ke berapa atau mungkin malah tidak sama sekali. Dan membiarkannya hilang bersama tiupan sangkakala. Aku mulai lelah dengan hipotesa yang semakin rumit diuraikan. Hipotesa yang mau tak mau memasukkan variabel waktu ke dalamnya. Meski aku tak ingin. Meski tak ingin. Karena seterang matahari di puncak musim panas, sepasti itulah waktu. Waktu yang tak pernah melambat. Tak pernah mundur. Tak pernah menunggu. Dan kita tak bisa menahan laju atau pun memutarbalikkannya. Sesederhana itulah ajaran detak jatung kita. Kita, seperti juga manusia lainnya, adalah orang-orang yang saban hari bersaing dengan waktu. Seperti nelayan yang menakar-nakar cuaca, seperti laki-laki berpakaian rapi di belakang kemudi, seperti sales yang tak lelah menawarkan dagangan, dan seperti rombongan siswa putih abu-abu pontang-panting menggapai gerbang sekolah yang hampir tertutup.

Aku tak begitu paham di titik mana kau berdiri dengan waktu karena kau selalu menutupinya seperti awan. Tapi serumit apapun kau ingin mendefinisikannya, seperti poster-poster yang tertempel di ruang jingga, ia tidak akan lebih dari yang seharusnya. Siang tak akan mengembalikan malam yang berlalu meski kau memaki sekuat tenaga. Meski kau menghujat. Ia hanya akan terganti oleh malam-malam baru yang membuat kita terjebak dalam pusaran kisah. Terjebak dalam rentetan peristiwa. Jika ada yang hilang dari rentetan itu, semua takkan sama. Kita tidak akan bertemu dan cerita menjadi berbeda. Seseorang pernah berkata bahwa manusia terhubung oleh benang-benang rumit yang tak terlihat. Benang yang menghubungkan satu dengan lainnya. Kau, aku, mereka. Lalu, di antaranya ada yang memperpendek dan ada pula yang memperpanjang jarak benang itu. Kau memilih yang kedua.

Tidak ada yang salah jika kau menyisakan ruang di hati untuk bertanya. Mengawalinya dengan keraguan dan mengakhirinya dengan kepastian. Karena kita bukanlah langit yang tak memerlukan tiang penyangga. Tapi kau lupa bahwa akan ada yang kehilangan. Akan ada yang merindukan. Atau kau sadari, tapi itu tak cukup untuk menahanmu pergi. Aku hanya berharap kau tak membanting pintu, karena kau harus kembali suatu saat. Bila nanti kau mengetuk lagi pintu itu, mungkin aku tidak berada di sana. Tapi itu tidak penting karena akan ada yang selalu yang membukanya untukmu. Kau datang, bagiku itu sudah cukup.

Dan biarkan yang tersembunyi awan, tetap bersinar tanpa harus sampai ke bumi...
18 February 2012

Life Traveler, Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan


“Where are you going to go ?”
“Going home”
“You don’t look like someone who will be going home”
“Sorry, what do you mean?”
‘Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself. Home is a place where you can find your love, young lady”

Sebuah travelogue yang ditulis oleh Windy Ariestanty, seorang editor buku, tentang perjalanannya ke beberapa negara dan apa saja yang ia temui selama di sana. Dengan lama cuti yang hanya 2 pekan ia mulai menjelajahi beberapa tempat seperti Viet Nam, Kamboja, Frankfurt, Praha, Heidelberg, Lucerne di Swiss, Paris, Thailand dan Belanda. Saya tertarik membeli buku ini karena sampulnya yang bergambar daun maple. Sebuah ikon musim gugur. Yah, saya akui, desain cover masih memberi porsi yang cukup signifikan bagi saya untuk memutuskan membeli sebuah buku. Selain cerita perjalanannya, buku ini juga memuat tips-tips bagi para traveler serta lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi di setiap negara. Melalui buku ini saya jadi tahu kalau di Viet Nam ada yang namanya sleeping bus dan peraturan unik bagi kendaraan bermotor baik mobil maupun motor hanya boleh berjalan dengan batas kecepatan 40 km/jam. Tidak peduli jalanan sepi atau ramai, ada polisi atau tidak. Ajaibnya, semua penduduk patuh. Kalau di Indonesia jangankan penumpang, sopir pun bisa stres dengan kecepatan sekecil itu.

Ada juga cerita tentang coffee shop bernama Toi-Toi yang sebenarnya adalah nama sebuah fasilitas toilet berbentuk kotak dan bisa dipindah-pindahkan. Tentang Kastil Heidelberg yang merupakan reruntuhan paling romantis di Jerman dan penduduk Swiss yang tak suka pamer kekayaan. Mereka cenderung menghindari pembicaraan soal uang. Bahkan ada budaya tak tertulis di antara penduduk Swiss bahwa semakin kaya seseorang, semakin bersahaja penampilannya. Istilah kerennya sih, zuhud. Bahkan seseorang yang berusaha menunjukkan kekayaannya justru membuat orang lain curiga bahwa ia memiliki masalah keuangan. Prinsipnya adalah ‘Don’t shine the spotlight too brightly on yourself or you might get shot’. Satu lagi, hampir semua penduduk Swiss berjalan kaki atau naik kendaraan umum ke mana-mana. Tentu saja itu karena mereka didukung oleh fasilitas umum yang bagus serta jadwal kereta yag selalu tepat waktu.

Di kota Mode, Paris, ada cerita tentang Galeries Lafayette, mal yang telah berusia lebih dari seratus tahun dan hanya buka sampai jam 8 malam serta tutup hari minggu. Aneh, padahal kalau dihitung-hitung bisa rugi kalau sebuah mal ditutup hari minggu. Selain itu ada Louis Vuitton yang mempunyai staf khusus untuk melayani orang cina dan Jepang. Jadi mereka tidak perlu repot-repot belajar bahasa inggris hanya untuk membeli produk fashion papan atas tersebut. Enak sekali ya mereka. Dan ada cerita tentang Red Light District, sebuat wilayah prostitusi legal di Amsterdam. Saya juga pernah membaca tentang ini di majalah Qiblati. Belanda memang termasuk negara yang melegalkan prostitusi dan ganja sehingga banyak sex shop yang menjual beragam peralatan untuk semua orientasi seksual baik lesbian, gay, straight. Semua!
Na’udzubillah.

Selain memaparkan tempat-tempat yang menarik, penulis buku ini juga membagi pelajaran dari setiap tempat ataupun orang yang ia temui selama perjalanan. Mulai dari alasan dasar mengapa sebuah perjalanan dilakukan, pelajaran di sleeping bus Viet Nam tentang bagaimana rasanya merindukan orang yang bahkan sebenarnya ada di dekat kita. Sepasang kakek nenek yang ia temui di bangku taman kota Siem Reap mengajarkan tentang bahasa yang tak bersuara dan ada aksara yang tak memerlukan kata-kata.

Juga pelajaran tentang bahasa memahami dari seorang nenek berusia 50 tahun yang telah melakukan perjalanan panjang dari Vladimir Putin ke negara-negara di dataran Indocina seorang diri sementara si nenek tidak bisa berbahasa inggris. Pelajaran dari seorang kakek penjual tas di Heidelberg bahwa sikap jujur memerlukan ketegasan. Dan tidak ada yang tampak konyol jika kita mempertahankan sesuatu yang benar.

Pelajaran bahwa salah satu hal yang menyenangkan menjadi perempuan adalah bebas bereaksi spontan. Hal itu terjadi ketika seorang perempuan setengah berteriak mengetahui harga tas yang dipakai penulis hanya US$7 di sebuah distro di Bandung, sementara saat itu mereka berdua sedang mengantri di Louis Vuitton yang harga produk-produknya mencapai langit. Laki-laki tak mungkin melakukan hal itu. Lucu juga membayangkan laki-laki, misalnya, berteriak seperti ini: “Haaaahhh....harga tasmu cuma Rp.70.000,-, NOWAY“.

Kemudian cerita tentang seorang perempuan pemandu wisata asal Belanda yang fasih bahasa Indonesia dan Arab dan lebih merasa menjadi orang Indonesia dibanding orang Belanda. Pemandu itu mengaku belajar mengenal manusia lebih dalam dari rombongan wisatawan Indonesia. Kelebihan orang Indonesia meski mereka memiliki sifat jam karet dan gila belanja, adalah bahwa mereka ramah, gembira, punya sifat gotong royong tinggi dan kreatif. Hal itu berbeda dengan karakter orang Prancis yang sombong atau orang Amerika dan India yang rewel jika ada masalah dalam sebuah tur. Orang indonesia memiliki kecenderungan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Dan terakhir, sekaligus bagian yang paling saya suka, adalah  konsep ‘rumah’ dan ‘pulang’ yang diajarkan oleh seorang perempuan tua asal Cina di O’Hare.

Overall, Buku ini bagus jadi referensi wawasan tentang negara lain terutama bagi mereka yang senang melancong atau setidaknya penghibur bagi mereka yang sedang jauh dari rumah. Membaca buku ini membuat saya jadi tambah pengen bepergian.

Catatan gak penting :
-       Kalau tidak salah gambar jembatan cinta di depan Notre Dame dalam buku ini adalah salah satu lokasi syuting dorama Nodame Cantabile
-       Baru tahu kalau kuil Ta Prohm yang menjadi lokasi syuting Tomb Rider itu letaknya di Kamboja, bukan di Thailand, seperti anggapan saya selama ini. Kamboja dan Thailand memang mirip soalnya. hehehe
-       Sepakat dengan penulis, mengunjungi Paris adalah waktunya untuk bertemu Lady Oscar. Rupanya kami sama-sama menyukai Rose Of Versailles

"Kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home."
 
;