08 April 2012

Hening...


Waktu kembali memainkan perannya, peran yang sangat apik. Begitu pelan dan hati-hati sehingga aku lupa bahwa untuk pertama kalinya melihatmu bukan dari bawah sinar bulan tapi dari semburat mentari pagi. Mungkin itu bukan pilihan yang buruk tapi cukup membuatku tertawayang menyisakan kekosongan di ujungnya. Kekosongan karena aku harus bersaing dengan sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang selama ini membuatmu menutup diri dari sorotan matahari. Tapi asal kau tahu, aku lebih suka melihatmu berada di bawah payung malam, walau langit kota memang sudah tidak punya banyak bintang. 

Jarum jam merangkak lesu membebaskan detik-detik yang hening di setiap putarannya. Menciptakan ruang hampa dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dan dengan leluasa memberi kesempatan pada sunyi untuk mengambang di garis batas. Kau masih berdiam dalam kata dan suara. Namun apa yag terbaca takkan selalu menjadi apa yang seharusnya. Karena jika ia seperti itu, maka tak ada ruang untuk damai, kan? Itu yang selalu kau pegang erat. Dan itu pula alasan mengapa aku menghapus baris-baris kalimat di rongga pemisah. Aku tak ingin lagi bersandar pada waktu yang mengikat. Karena itu berarti aku akan membiarkanmu -dengan senyum sinismu- menghancurkan konstruksi yang kubangun tanpa ampun. Senyum sinis yang bisa kuterka dari pena yang kau goreskan. Senyum, yang membuat jari-jariku pun tergerak menulis, menuangkan pikiran seperti yang pernah kau sarankan. Membuatku mampu memilah-milah rasa dan menguraikannya dalam sebuah tulisan. Aku berterima kasih untuk itu. 

Tapi memandangmu dan -lagi-lagi- senyum sinis itu, hanya akan membawaku pada ruang gelap dan suram. Seperti foto-foto lama penuh debu yang ditinggalkan di gudang penyimpanan. Seperti memandang langit abu-abu yang berisi rasa kagum dan benci. Mungkin tidak seharusnya lembaran itu terbuka. Ia serupa mimpi buruk, meninggalkan kehampaan yang menganga lebar saat terbangun. Dan kau masih sama, masih seperti biasa. Memantulkan bayangan di salah satu sisi cermin hingga siapapun tak bisa menguak bagian yang tersembunyi. Ya ya ya, penghormatan tak membutuhkan pengertian. Aku sudah bosan mendengarnya darimu. Sudahlah, kita berhenti di titik itu saja.
07 April 2012

Dracula (1)


“Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaan dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat”  
~Milan Kundera, Sastrawan Cekoslovakia~

Dracula adalah satu dari sekian sejarah yang dipelintir untuk menutupi kisah yang sesungguhnya. Jika kita menyebut kata Dracula, maka yang umum muncul di kepala orang-orang adalah makhluk bertaring yang gemar menghisap darah, takut salib dan bawang putih, identik dengan kelelawar, tidur di siang hari dan memangsa di malam hari. Belakangan ini muncul versi baru tentang jenis dracula atau vampir yang digambarkan sebagai sosok tampan yang bisa membaca pikiran orang lain, punya keluarga, bersekolah seperti manusia umumnya dan jatuh cinta pada seorang gadis yang tidak bisa ia baca pikirannya (you know what i mean).

Tapi sangat jarang ada yang tahu bahwa Dracula sebenarnya adalah sebuah sejarah kelam penuh darah yang berhubungan dengan perang salib dan umat islam. Buku yang ditulis oleh Hyphatia Cnejna ini pertama kali terbit tahun 2007. Walaupun agak asing, mungkin sudah banyak yang membacanya. Buku ini bukanlah novel tentang makhluk bertaring seperti yang ditulis oleh Bram Stoker pada abad ke-19, tapi merupakan buku sejarah yang menguak asal-usul, kehidupan dan kekejaman seorang yang telah membantai umat islam dalam perang salib. Walaupun agak lemah dari segi motodologi penelitian, tapi penulisnya mampu menguraikan hal-hal menarik yang masih jarang diketahui masyarakat.

Perang salib merupakan perang dua peradaban besar yang sedang menggeliat pada abad pertengahan. Tanggal 25 Agustus 1095 adalah permulaan rangkaian perang salib. Sebanyak 150.000 prajurit yang berasal dari bangsa Prancis dan Norman bergerak menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Mereka dipimpin oleh Godfrey, Bomemond dan Raymond. Sementara itu pasukan Islam dipimpin oleh Imaduddin Zanki. Perang pertama terjadi di Edessa, wilayah yang berdekatan dengan Baghdad, berada di jalur Mesopotamia dan Mediterania. Perang ini dimenangkan oleh pasukan Islam. Setelah Zanki wafat, ia digantikan oleh anaknya, Numuddin Zanki yang kemudian berhasil merebut Antiochea dan seluruh wilayah Edessa. Setelah Numuddin wafat, pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalahuddin Al Ayyubi tahun 1175. Di tangan penglima inilah Yerussalem berhasil direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam genggaman pasukan salib. Peristiwa itu terjadi dalam perang Hattin pada tanggal 2 oktober 1187 M.

Film yang berjudul “Kingdom of Heaven” juga menggambarkan tentang keberanian dan keluhuran budi seorang Shalahuddin. Ada kalimat pendek dalam sebuah dialog saat Shalahuddin ditanya arti Yerussalem bagi orang islam. Kalau tidak salah jawabannya begini, ‘Nothing...this is everything”. Berbeda dengan pasukan salib ketika merebut Yerussalem dan membantai umat Islam, Shalahuddin membiarkan umat Kristen aman di dalamnya. Berita bahwa Shalahuddin tidak melukai satupun umat kristen membuat Paus di Roma mati mendadak karena terkejut ada manusia semulia itu. Raja Richard bahkan mengeluarkan statemen seperti ini, "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi ." Sikap ksatrianya membuat Shalahuddin dihormati kawan maupun lawan.

Perang salib membawa kemajuan bagi masyarakat Eropa. Pada masa itu Eropa yang berada dalam zaman kegelapan mendapatkan cahaya benderang dari peradaban islam. Orang-orang mulai belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada rentang abad X-XV peradaban islam sangat maju. Salah satu mercusuarnya adalah Cordoba (sekarang Spanyol). Saat itu perpustakaan-perpustakaan di Cordoba adalah tempat berkumpulnya para intelektual islam. Namun sayang, kebencian dan permusuhan terhadap islam sangat besar. Luka akibat kekalahan perang salib masih membekas di hati orang-orang barat. Barat kemudian berusaha mengaburkan sejarah dan menampakkan seolah-olah islam adalah agama yang hanya ditegakkan oleh pedang dan kekerasan. Tidak mengherankan jika saat ini umat islam digambarkan sebagai kaum teroris.

Setelah perang salib berlalu, umat islam mengalami kemunduran. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya menjadi ujung tombak kemajuan, pelan-pelan ditinggalkan. Cordoba jatuh ke tangan barat. Begitu pula identitas sebagai orang islam perlahan-lahan ditanggalkan oleh umatnya. Kemunduran ini mengakibatkan perasaan inferior sehingga dengan mudah pola pikir mereka dicengkeram. Lama kelamaan umat islam lupa bahwa mereka pernah menjadi mercusuar peradaban dunia.

Dracula (2)

Dan Beranikah dirimu membuktikan kebenaran yang paling kau benci ?” 
~Byron~

Selama ini sosok Drcula hanya dianggap imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, makhluk yang berada antara ada dan tiada. Padahal sejarah hidup Dracula adalah kisah banjir darah yang belum ada tandingannya hingga kini. Dan semua itu tak bisa dipisahkan dengan perang salib serta jatuhnya Konstantinopel ke tangan kerajaan Turki Ottoman.

Ayah Dracula bernama Vlad II. Nama aslinya Basarab. Basarab kemudian bergabung dengan kerajaan Honggaria dan direkrut sebagai pasukan elit garda depan perang salib. Tahun 1431 istri Basarab mengandung anak kedua mereka. Mereka kemudian pindah ke Transylvania, tepatnya di Benteng Sighisoara. Di tempat inilah istri Basarab melahirkan anak keduanya, Dracula. Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan pada bulan November atau Desember 1431 M. Asal-usul kata Dracula adalah karena ayahnya (Vlad II) merupakan anggota orde naga dan selalu membawa lencana orde tersebut kemana-mana. Orang-orang Wallachia kemudian memanggilnya dengan sebutan “Vlad Dracul” dalam bahasa Rumania, “Dracul” artinya Naga, sehingga Vlad Dracul berarti Vlad Sang Naga. Sementara akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak dari”. Dari kata tersebut Vlad III atau Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa inggris dilafalkan menjadi Dracula) yang berarti anak dari Vlad Dracul.

Karena ayahnya sering terjun ke medan perang dan kehidupannya hanya mengenal sosok ibu, Dracula tumbuh menjadi sosok tertutup dan inferior. Situasi politik membuat ia dan adiknya, Randu dikirim ke Turki sebagai jaminan dari ayahnya. Dracula tumbuh menjadi remaja pembangkang dan pendendam. Untuk menghibur rasa kesepiannya, Dracula sering menangkap tikus dan burung kemudian ditusuk-tusuk dengan tombak kecil. dia sangat girang melihat hewan-hewan tersebut menggelepar sekarat. Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam tapi hanya untuk tujuan politik. Di sana ia belajar memainkan segala jenis senjata dan strategi perang. Dia mempunyai satu kelebihan yang sulit dicari tandingannya, yaitu naluri membunuh. Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman mati semakin menjadi. Boleh dikata ia kecanduan jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat etika pedang ditebaskan. Bibit kekejaman itu ia dapatkan sewaktu masih di Wallachia. Di kota itu pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-hari. Udara kota itu selalu anyir bau darah.

Tahun 1448 kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula. Setelah bebas, Ia dan pasukannya kemudian berhasil merebut Wallachia. Selanjutnya, masa pemerintahan Dracula merupakan masa-masa teror yang mengerikan. Naluri kekejamannya benar-benar tersalurkan setelah ia menjadi penguasa di Wallachia. Hanya dalam waktu kurang dari setahun ia telah membunuh ribuan orang dengan cara yang kejam yaitu disula. Bagian ke III buku ini menggambarkan penyiksaan ala Dracula. Boleh dikata Dracula adalah seorang kreator penyiksaan. Mulai dari penyulaan, pemotongan dan perusakan organ seksual, merebus korban hidup-hidup, menguliti kepala dan bagian tubuh lainnya, mencekik, memotong otot-otot tertentu, memotog hidung dan telinga, membutakan mata, membakar hidup-hidup, memaku kepala, memangsakan si korban pada binatang buas, menarik korban dengan dua kuda, memendam tubuh korban dan memanggang. Saya tidak perlu ceritakan secara mendetail karena bagi saya itu terlalu sadis. Kesadisan Dracula melebihi kesadisan suku-suku paling primitif yang ada di muka bumi.

Pembantaian Dracula terhadap umat islam juga tak bisa dipisahkan dari perang salib. Sebagai salah satu panglima perang salib di daerah Transylvania, Dracula bertugas mencegah pasukan Turki Ottoman menuju Eropa Timur dan Barat. Ia memakai segala cara, salah satunya dengan meneror umat islam yang ada di Wallachia. Dracula juga berusaha mencari sekutu dari kerajaan yang sama besarnya dengan Turki, yaitu Honggaria. Langkah pertamanya untuk mendapat simpati dari Honggaria adalah dengan pindah agama. Ia memeluk Katolik. Langkah ini berhasil, ia diterima sebagai bagian dari pasukan salib bahkan dinikahkan dengan saudara raja Honggaria. Setelah itu, ia baru berani secara terbuka menyatakan bahwa dirinya adalah musuh kerajaan Turki Ottoman. Ia mulai meneror dan membantai umat islam di wilayah sekitarnya. Sejarah mencatat sekitar 300.000 umat islam dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya. Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau Snagov setelah tak sanggup melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Namun kekejamannya tidak pernah terungkap secara terbuka karena beberapa sebab :
  1. Pembantaian Dracula terhadap umat islam tidak bisa dilepaskan dari perang salib. Negara-negara barat yang menjadi pendukung pasukan salib tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengore-ngorek kekejaman Hitlet dan Polpot enggan membuka aib sendiri.
  2. Dracula, betapapun kejamnya adalah pahlawan pasukan salib sehingga nama baiknya selalu dilindungi. Dan sampai saat ini, di Rumania, Dracula dianggap sebagai pahlawan.

Seperti itulah politik sejarah. Negara adidaya akan memaksakan kebenaran sejarah menurut selera mereka. jika tidak jeli, kita akan terjebak pada kebenaran yang sebenarnya adalah kebohongan. Dengan kemampuan keuangan dan teknologi mereka berupaya untuk memelintir sejarah. Contohnya adalah perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa dalam perang itu Amerika harus menerima kekalahan telak. Banyak prajurit yang tewas dan tidak sedikit yang cacat seumur hidup. Amerika pun menciptakan sosok super hero lewat film. Mereka memproduksi film Rambo dengan berbagai judul dan variasi untuk menunjukkan bahwa merekalah pemenang di perang Vietnam. Rambo adalah mitos baru untuk menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan Dracula tak ubahnya seperti Rambo. Bedanya, kalau Rambo adalah sosok fiksi yang seolah-olah dibuat nyata, maka Dracula sebaliknya, yaitu sosok nyata yang diubah menjadi fiksi.

Selain itu, tujuan lain dari penjajahan sejarah adalah menghilangkan pahlawan dari pihak musuh. Superoritas barat menginginkan bahwa hanya merekalah  yang memiliki pahlawan. Dalam mitos Dracula, sosok Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al Fatih dihilangkan sama sekali. Padahal sejarah resmi mencatat peran sang sultan dalam mengakhiri kekejaman Dracula dalam dua kali gempuran besar-besaran. Serangan pertama membuat Dracula kehilangan tahta dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh. Tapi semua fakta itu telah dihapus oleh barat. Sosok sultan Mehmed II memang sangat dibenci kerena telah berhasi merebut konstantinopel dan membuat barat kehilangan muka. Karena itulah mereka berusaha untuk menghapus nama Sultan Mehed II dalam sejarah. Harus diakui usaha itu cukup berhasil. Buktinya, bahkan umat islam sendiri pun jika ditanya tentang sultan Mehmed II akan menggelengkan kepala namun jika ditanya tentang Dracula, mereka bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sosoknya.

Bila suatu umat tidak mengenal pahlawannya maka mereka tidak akan bangga terhadap umatnya sendiri. Mereka akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggap lebih superior. Gejalanya bisa dilihat dari pemujaan secara berlebihan terhadap budaya barat. Kondisi seperti ini yang diinginkan barat karena negara yang tidak lagi bangga pada bangsanya sendiri akan dengan mudah diarahkan. Inilah bentuk penjajahan gaya baru. Begitu halus, tak ada perang, tak ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.

“Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuangan manusia melawan dirinya sendiri”

Si Kecil

Setiap manusia memiliki keunikan karakter dan sifat yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sekian banyak orang-orang yang pernah saya temui, baru kali ini saya menemukan keunikan yang berbeda dari seseorang. Saya sering memanggilnya “Si Kecil” karena tinggi badannya memang imut, mengingatkan saya akan tokoh Kugy dalam novel Perahu Kertas. Saya mengenalnya baru setahun belakangan ini. Usianya empat tahun lebih muda dari saya. Dia anak yang penurut dan suka menolong. Jika ia berbicara, saya tidak menemukan titik pemberhentian kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, lancar tanpa henti. Pun ketika bercerita, dia sering memperagakan apa yang ia ceritakan. Sehingga melihatnya berbicara tak ubahnya seperti menonton teater. Ia sering menceritakan teman-temannya pada saya seolah-olah saya juga mengenal mereka. Dia anak yang ceria tapi sangat gampang menangis. Banyak hal-hal biasa atau bahkan remeh di mata saya tapi justru bisa membuatnya menangis.

Dia termasuk salah satu korban Korean Wave. Drama City Hunter yang bergenre action  itu justru membuatnya terisak-isak. Entah bagian mananya yang membuat dia sampai menangis-nangis. Jika seseorang mengeluarkan suara yang agak keras padanya, dia pasti menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia dibentak-bentak seniornya saat ospek mahasiswa baru. Untungnya, ospek di fakultasnya dihapuskan. Yang paling aneh adalah kejadian pada suatu sore. Ia tinggal sekamar dengan dua orang temannya. Hari itu giliran ia piket membersihkan kamar. Sore harinya, teman sekamarnya pulang kuliah dan mencari-cari headphone hp-nya namun tidak ketemu. Si Kecil langsung panik karena hari itu adalah hari piketnya dan ia merasa bersalah jika headphone temannya hilang. Kepanikannya tidak beralasan, toh saat membersihkan kamar, headphone itu memang sudah tidak ada. Tapi ia tetap merasa bersalah. Sambil tergopoh-gopoh ia mendatangi saya dan bertanya berapa harga sebuah headphone. Saya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya pun bertanya, apa memang dia yang menghilangkan headphone itu, ia jawab tidak. Saya tanya lagi, apa temannya minta digantikan headphone baru, ia menjawab tidak. Saya menarik napas panjang, ya ampun anak ini benar-benar, deh. Sambil menahan jengkel, saya bilang bahwa ia tidak perlu sepanik itu apalagi sampai berniat menggantinya karena bukan dia yang menghilangkannya. Melihat saya yang memasang raut wajah jengkel, eh dia malah nangis. Astaga...*jidat nempel ke tembok*

Sifatnya yang seperti itu menimbulkan rasa ingin melindungi dari orang-orang di sekitarnya. Ia bisa membuat orang tertawa sekaligus kasihan di saat yang bersamaan. Uniknya, ia tidak pernah menyimpan dendam pada orang yang membuatnya menangis. Menangis telah menjadi semacam penawar baginya. Ia bisa menangis 10 menit lamanya lalu kembali berbicara pada orang yang membuatnya menangis seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hal yang hebat menurut saya, karena jarang ada bisa seperti itu. Tidak juga saya.
26 March 2012

Random (1)

Beberapa hari yang lalu saya ke rumah sakit menjenguk ibu seorang teman yang terkena kanker. Sebenarnya saya tidak terlalu suka rumah sakit. Bukan karena takut dokter, jarum suntik atau obat-obatan, tapi rumah sakit identik dengan penderitaan. Jika melewati kamar-kamar pasien, yang terlihat adalah manusia-manusia yang berjuang melawan ganasnya penyakit. Seperti itu pula pemandangan yang saya temui di kamar tempat ibu itu dirawat, erangan kesakitan yang tak putus-putus. Saya terenyuh ketika di sela-sela rasa sakitnya, ibu itu berkata pada teman saya, anaknya, “Tolong ibu, nak”. Teman saya terdiam mendengarnya. Ia menunduk dalam-dalam di sisi ibunya, merenggut seprai, berusaha mengumpulkan kekuatan. Ia lalu mengangkat wajah, membelai kening ibunya dan terus membesarkan hatinya. Setelah beberapa lama akhirnya ibu itu bisa tertidur. Teman saya masih menelungkupkan wajah ke tangan ibunya. Saya menyentuh pundaknya, dan mendapati matanya berkaca-kaca menahan tangis. Di luar, azan ashar berkumandang.

*************************

Kemarin, jam 8 malam saya sudah tepar. Berhubung kegiatan hari itu cukup menguras tenaga, sepulang dari kampus saya langsung mencari bantal dan...zzzzz. Mendekati pukul 12, hp berdering tanda panggilan masuk. Dengan malas saya mengangkat telepon tanpa melihat dari siapa. Ternyata dari seorang teman (ya iyalah). Dia satu tingkat di atas saya tapi kami akrab seperti layaknya teman sebaya. Dia mengabarkan akan menikah bulan depan. Mata saya langsung melebar, kaget mendengarnya. Saya tidak menyangka jodohnya akan datang secepat itu. Saya selalu berpikir dia masih muda dan belum ada tanda-tanda akan menikah. Ternyata yang namanya jodoh memang tidak pandang bulu. Berkurang lagi deh, satu teman yang single. :D Barakallah...barakallah...


*************************

Hari ini, di rumah salah seorang sepupu, saya menikmati sore ditemani sebuah buku. Saya senang membaca di tempat terbuka, jadi saya memilih teras lantai dua. Tapi kesenangan sore itu terusik oleh sepasang manusia yang asyik berpacaran di depan rumah. Saya berusaha mengabaikannya tapi gaya mereka berpacaran justru mengundang perhatian siapapun yang lewat. Jadi saya memilih kembali ke kamar dan melanjutkan bacaan di sana. Ah, semakin hari dunia ini semakin parah.

*************************

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya merasa lebih ringan menulis. Seperti ada ikatan yang lepas. Yang membuat saya benar-benar menikmati menulis. Saya senang.
23 March 2012

Harlem Beat (Ending)

"Cuaca sering berubah-ubah ya ? seperti hati."

Kalau tidak salah itu adalah kalimat pembuka salah satu novel karangan Tere-Liye. Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini ? Tidak ada. Hanya saja sekarang di luar hujan turun cukup deras. Belakangan ini cuaca sulit ditebak. Sebentar hujan, sebentar terik. Mengingatkan saya akan kalimat pembuka tadi. Sekarang waktu menunjukkan pukul 01.00 am. Di luar hujan turun deras. Segelas teh hangat di samping laptop sudah tandas. Dingin-dingin begini memang paling enak minum teh hangat sambil makan gorengan. Hehehe

Well, kemarin saya baru saja menamatkan serial komik jadul berjudul Harlem Beat. Komik ini adalah salah satu komik favoritku. Pertama kali membacanya waktu masih kelas satu SMA. Tapi waktu itu serialnya tidak lengkap dan baru sekarang saya membaca lanjutannya. Rasanya sedih juga mengatakan Sayonara pada tokoh-tokoh-nya, Naruse, Sawamura, Sakurai, Kiriko, Mizuki, Kobayashi, dll. Terutama si Sawamura.

Sampai akhir, Sawamura, pahlawan street basket ini tetaplah si cuek yang mata duitan. Saya suka penggambaran tokoh Sawamura sebagai orang yang bebas dan tidak terlibat hubungan romansa dengan siapapun. Penulisnya saja bahkan tidak tahu sampai kapan Sawamura akan bertahan di tim basket SMA Johnan mengingat sifatnya yang tidak suka dikekang. Karakter tokoh ini mirip Kirimaru di Ninja Rantaro dan Ma’il di Upin Ipin. Sama-sama cuek, pekerja keras dan tentu saja, mata duitan.




Sakurai (Syu) dan Kiriko telah lulus SMA. Syu masuk universitas jurusan kedokteran dan Kiriko berminat jadi penata rambut (heran juga sama pilihan Kiriko). Hubungan mereka yang kaku akhirnya bisa mencair. Kiriko bahkan menerima ajakan Syu untuk berlibur sementara waktu. Syu, si kapten basket berkacamata yang lembut dan baik hati dan Kiriko, si manajer klub basket yang selalu dijuluki penyihir karena kejahilannya. Ia sering tidak dianggap sebagai perempuan karena kejahilannya yang keterlaluan. Tapi si kapten dan manajer tetap cocok satu sama lain. Meski Syu dkk telah lulus, tim basket Johnan terus beregenerasi. Banyak pemain-pemain baru yang akan melanjutkan perjuangan mereka. Tugas Naruse, Sawamura dan Kobayashi selanjutnya adalah membawa Johnan menjadi pemenang di pertandingan basket nasional.

Terharu juga pas sampai endingnya. Kalau dibandingkan, komik-komik jadul macam Harlem Beat, Slum Dunk, dan Rose Of Versailles masih lebih menyenangkan dibaca dibanding komik-komik yang beredar sekarang. Membaca komik ini selalu mengingatkan masa-masa SMA. Karena sewaktu SMA saya suka sekali baca komik di perpustakaan. Jadi membaca komik ini membuat saya bernostalgi dengan ruang perpus itu.


“Suatu saat nanti, akan tiba waktunya, saat masa muda itu berlalu menjadi sebuah kenangan. Namun perasaan dan impian di masa itu takkan menghilang. Walaupun tertimbun dalam kesibukan sehari-hari yang padat, ia akan terus bersinar di suatu tempat yang isitmewa di hati kita. Jadi, janganlah kamu melupakannya. Di dalam dirimu ada batu permata yang akan selalu bercahaya, kalau kamu merentangkan tangan, ia pasti akan selalu memberimu kekuatan. Di saat hari esok tidak terlihat, ia akan menjadi obor yang akan menunjukkan jalan. Kemudian, kamu pun suatu saat nanti akan jadi pahlawan yang bersinar”  
~Harlem Beat, halaman terakhir~
22 March 2012

in Memorian

“Makanya, kapok-kapoklah menyimpan dua soulmate di tempat yang sama”

Itu adalah nasihat seorang senior setelah saya kehilangan dua soulmate. Sebenarnya sih, tiga. Tapi kebanyakan orang tidak terlalu menganggap yang satunya. Mungkin karena jika diukur dengan rupiah tidak akan sebanding dengan dua lainnya. Tapi bagi saya itu tetap bernilai karena merupakan pemberian. Oh, maaf sebelumnya, yang dimaksud dengan soulmate di sini adalah tiga benda yang selalu menyertai saya kemana-mana yaitu HP (namanya si Ungu), gantungan berbentuk kupu-kupu dan sebuah flash disk. Hp itu adalah hadiah dari ayah tiga tahun yang lalu. Saat itu sangat berkesan karena ayah datang tanpa pemberitahuan, tahu-tahu si Ungu itu sudah nongol di depan mata. Benda kedua adalah gantungan hp berbentuk kupu-kupu yang juga berwarna ungu. Ini pemberian teman, katanya biar si ungu ada yang temani. Dan terakhir sebuah flash disk pemberian adik saya.


Berhubung FD itu berukuran kecil dan akan kerepotan mencarinya jika dibutuhkan, maka saya pun menggantungkannya bersama gantungan kupu-kupu tadi. Jadi boleh dibilang itu adalah FD pertama yang bisa dihubungi karena tinggal telepon hp-nya maka FD itu akan ditemukan juga. Tapi qadarallah, mungkin memang sudah waktunya mereka pergi setelah bertahun-tahun menemani dan membantu segala aktivitas yang behubungan dengan komunikasi dan kirim-mengirim data. Terlebih lagi di FD itu tersimpan folder yang berisi semua tulisan saya mulai dari buletin, puisi, dan tulisan lain yang sudah dan tidak pernah diposting. Sayangnya lagi, saya tidak menyimpan salinan datanya di komputer.  T_T


Pelajaran untuk angkoters sejati, berhati-hatilah di dalam angkot terutama bila anda satu-satunya penumpang saat itu. Jika ada empat atau lima laki-laki naik dari tempat yang tidak berjauhan satu sama lain dan tidak ada satupun dari mereka yang memilih duduk di dekat sopir padahal kursi itu sedang kosong, maka berhati-hatilah. Jika di antara mereka ada yang bertanya “Jam berapa sekarang ?” padahal sudah jelas kau tidak punya jam tangan, maka berhati-hatilah. Jika salah satu dari mereka tiba-tiba muntah padalah sebelumnya tidak nampak tanda-tanda sakit padanya, jangan simpati dulu. Perhatikan baik-baik orang itu, jika hasil dari sikap muntah-muntah tadi hanya berupa cairan ludah, berhati-hatilah. Kecuali jika seluruh isi lambungnya sudah keluar berarti orang itu memang sedang sakit. Hal itulah yang terlambat saya sadari sehingga berakibat hilangnya si Ungu dan kawan-kawannya. Sebagai seorang detektif Kudo, saya merasa gagal (halah).


Sebenarnya alarm di kepala saya sudah siaga satu pada dua detik pertama saat memperhatikan ke empat orang itu. Alarm itu memberitahu bahwa ada yang tidak pada tempatnya. Ada yang tidak biasa. Ada yang tidak beres. Berdasarkan pengalaman membaca komik Detektif Conan, Kudo Shinichi-kun pernah berpesan bahwa petunjuk pertama untuk memecahkan sebuah kasus adalah lihat apa yang menjadi rutinitas. Jika ada yang hilang atau tidak sesuai dengan sebagaimana ia biasanya, maka dari sanalah kau memulai. Pertama, walaupun mereka naik di tempat yang berbeda dan tidak bicara satu sama lain, insting saya berkata bahwa sebenarnya mereka saling mengenal. Kau bisa membacanya lewat mata. Sekali lagi, teori bahwa mata tidak pernah berbohong adalah benar. Pernah ada seseorang yang menyapa saya, dia mengenal saya, tahu beberapa hal tentang saya. Sayangnya memori di otak saya tidak bisa menemukan bayangan orang itu. Saya pun bersikap seolah-olah mengenalnya karena tak ingin dia tersinggung. Tapi kemudian ia berkata, “Sudahlah, sepertinya kau tidak mengenaliku. Bisa kulihat di matamu”. Gubrak. Saya buru-buru minta maaf.


Oke, balik lagi ke masalah yang tadi. Petunjuk kedua, umumnya penumpang laki-laki akan memilih duduk di kursi samping sopir jika kursi itu masih kosong, tapi keempat orang itu tidak. Ketiga, salah seorang dari mereka menanyakan waktu saat itu padahal jelas-jelas, bahkan nenek-nenek pun tahu bahwa kau tidak memakai jam tangan. Lagipula di era teknologi ini, bahkan tukang becak pun punya hp yang bisa digunakan sebagai penunjuk waktu sehingga kau tidak perlu bertanya ke orang lain. Itu adalah trik basi untuk mengetahui di bagian mana kau menaruh hp di tasmu. Keempat, salah seorang dari mereka pura-pura batuk keras dan seperti akan muntah padahal sebelumnya ia sehat-sehat saja bahkan muntahnya pun hanya cairan ludah. lalu temannya yang lain pura-pura panik untuk mengacaukan situasi. Itu hanya kamuflase agar perhatianmu teralih pada orang yang muntah tadi sementara tanpa sadar seseorang yang duduk di sampingmu dengan cepat dan halus telah menarik resleting tasmu dan mengambil sebuah hp di dalamnya.


Tapi petunjuk-petunjuk itu menjadi tidak berguna karena saya terlalu lamban menganggapi situasi. Penampilan mereka terlihat seperti mahasiswa S2 yang mau berangkat kuliah. Sama sekali tidak ada tampang pencopet seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron Indonesia. Saya lupa petuah abang Ikal bahwa dalam catatan sejarah, pembunuh berdarah dingin yang membantai musuh-musuhnya dan menjadikan tanah banjir darah adalah orang-orang yang berpenampilan rapi, bersikap santun dan  bertutur kata sopan. Alexander Agung dan Cortez adalah contohnya. Sementara mereka yang brewokan, suka pamer tato dan bertampang sangar tak lebih dari begundal kelas teri yang kerjanya hanya mencuri ayam. Mereka bukan tipe orang yang bisa membunuh tanpa melepaskan rokok dari mulutnya.


Begitulah kisah si Ungu dkk yang sudah berpindah tangan. Rasanya sedih juga mengingat ketiga benda itu adalah pemberian. Nilai sebuah pemberian berbeda dengan nominal rupiahnya. Bahkan meski hadiah itu hanya berupa gelang karet hitam yang bisa kau dapatkan sendiri dengan harga lima ribu rupiah. Ini memang terdengar sentimentil, tapi yah begitulah. Malang juga nasib keempat pencuri itu karena mereka hanya mendapatkan hp butut yang tidak akan seberapa jika laku dijual. Beberapa teman sering menyindir untuk meng-upgrade Si Ungu dengan yang baru karena tombol-tombolnya sudah tidak lengkap dan beberapa retakan di badannya. Bahkan jika ada panggilan masuk harus di loudspeaker dulu baru suara si penelpon kedengaran. Dan sepertinya sindiran mereka dikabulkan, meski dengan cara yang tidak menyenangkan. Kalau ada kesempatan bertemu lagi dengan pencurinya, saya ingin bilang begini, “Pak, gak mau sekalian ambil cash hpnya ?”
 
;