09 April 2012

Dompet Multifungsi

Saya termasuk salah satu manusia yang ribet memakai dompet. Maksudnya dompet yang model lipat dan memiliki banyak sekat-sekat. Umumnya model dompet kebanyakan sama, yaitu model lipat yang mempunyai sekat khusus untuk uang receh, kartu, uang kertas dan juga khusus tempat foto. Model seperti ini yang membuat saya kerepotan karena terlalu banyak ruang dalam satu dompet. Saya lebih nyaman memasukkan semuanya dalam satu tempat tanpa harus memisahkan barang satu dengan lainnya. Selain itu, model dompet lipat umumnya menebal jika telah terisi, jadi sering tidak muat masuk saku rok. Terus-menerus memegang dompet selama belanja adalah hal yang merepotkan. Jika sedang sibuk memilih barang atau saat khusyuk membaca di Gramedia, saya sering lupa menaruh dompet di sembarang tempat. Karena itulah beberapa dompet yang pernah saya beli atau hadiah dari teman hanya menjadi pajangan di lemari. 

Untuk mengatasinya, saya mengalihfungsikan tas tempat pulpen menjadi dompet. Ini lebih gampang. Saya hanya perlu menarik res tanpa harus membuka lipatan-lipatan yang merepotkan. Walaupun sekarang sudah banyak dompet yang simpel (bukan lagi model lipat), tapi saya belum berniat mengganti tas tempat pulpen tadi. Selain tidak ribet, tas ini juga bisa menjadi penyamar yang baik. Tak jarang pencopet yang sering menyantroni angkot terkecoh karena mengira isinya hanya alat tulis menulis. Tapi ini juga yang sering membuat saya ditegur ibu. Katanya, barang-barang itu harus dipakai sesuai fungsinya. Memang sih, saya sering mengubah fungsi beberapa barang, tapi tidak ekstrim-ekstrim amat. Hanya gelang diubah jadi ikat rambut, guling dijadikan bantal tidur, sendal gunung dipakai ke acara nikahan, baju kaos dipakai saat ujian meja atau jilbab dijadikan gorden. Untunglah, sampai sekarang belum ada dan sepertinya tidak akan ada undang-undang yang mengatur perihal model dompet yang dipakai rakyat. Pemerintah belum kurang kerjaan mengurus itu.

Antara Realistis dan Pesimis

Tanpa kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang” 
~Andrea Hirata, Sang Pemimpi~

Masa depan adalah misteri. Gaib. Tak seorangpun yang bisa memastikan dirinya lima atau 10 tahun ke depan. Jangankan bilangan tahun, apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian pun tidak. Kematian, kecelakaan, penyakit, kegagalan, dan lainnya adalah pengingat yang menakutkan. Tak jarang, saya sering dihinggapi pikiran-pikiran buruk tentang masa depan. Beberapa hari yang lalu saya satu angkot dengan seorang ibu yang menggendong bayinya. Awalnya saya tidak memperhatikan karena tenggelam dalam buku yang saya baca. Buku itu bercerita tentang memoar seorang ibu, survivor kanker payudara. Setelah beberapa orang turun, penumpang yang tersisa tinggal saya, ibu itu dan anaknya. Cuaca yang panas membuat saya berhenti membaca dan mengalihkan perhatian pada ibu tadi. Beberapa detik kemudian, saya menyadari sesuatu yang membuat saya berhenti bernapas beberapa detik. Anak yang ada dalam gendongan ibu itu -yang awalnya saya kira adalah bayi- ternyata memiliki tulang yang sangat kecil. Ia memakai celana panjang biru gelap, kemeja lengan pendek warna biru muda yang kebesaran di tubuhnya, dan peci di kepala. Wajahnya serupa balita tapi tulangnya terlalu kecil. Siapapun yang melihat akan tahu bahwa ada yang tidak normal pada anak itu. Melihat saya yang terus memperhatikan anaknya, ibu itu tersenyum. 

“Usianya 17 tahun tapi terlihat seperti bayi. Kena penyakit tulang”, Ibu itu menjelaskan tanpa menunggu saya bertanya. Setelah terlibat dalam percakapan pendek, saya tahu anak itu bernama Putra. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Melihat anak itu membuat hati saya seperti diremas-remas. Di usianya remaja, seharusnya ia sedang memakai seragam putih abu-abu. Seharusnya ia sedang ngos-ngosan berlari, berkelahi dengan waktu untuk mencapai gerbang sekolah yang hampir ditutup oleh guru piket. Seharusnya ia sedang sibuk hilir mudik mengurus kegiatan osis. Seharusnya ia sedang tenggelam mencatat rumus-rumus dan teori di meja kelasnya.  Seharusnya ia sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Seharusnya ia sedang giat belajar untuk persiapan masuk universitas. Seharusnya... 

Baru sepekan yang lalu setelah saya mengunjungi ibu teman yang terkena kanker, tiba-tiba dua hari kemudian datang berita yang membawa kabar kematian beliau. Di lain waktu, saat senja diliputi keremangan dan titik-titik hujan turun satu-satu, seorang anak berjalan sambil memeluk tubuh melawan hawa dingin. Di tangannya terdapat buku-buku kumal untuk dijual. Ia menawarkan dari satu rumah ke rumah lain. Beberapa pemilik rumah langsung menyerahkan selembar uang tanpa melirik buku itu. Sisanya menutup pintu, membiarkan anak itu kelelahan mengucapkan salam dan akhirnya pergi. Pemilik rumah baru keluar setelah bunyi kentongan gerobak bakso lewat. 

Begitulah, beberapa hal yang saya temui, kadang mendatangkan rasa cemas akan apa yang terjadi pada diri saya di masa mendatang. Kematian orangtua teman saya membuat saya membayangkan bagaimana jika saya juga mengalaminya. Saya pernah berkata pada ibu, bahwa jika saja bisa memilih, saya akan memilih menjadi orang yang meninggalkan, bukan yang ditinggalkan. Apa yang terjadi pada anak tadi membuat saya berpikir bagaimana jika nanti saya punya anak. Bisakah saya menjadi ibu yang baik, bisakah saya merawatnya, apakah dia akan sehat dan normal seperti anak-anak lainnya. Jika kami sekeluarga berkumpul, saya selalu berpikir bisakah saya membangun keluarga yang seperti ini. Jika hanya akan berakhir dengan kekecewaan, mungkin sebaiknya tak perlu memulai apapun. Yah, sangat pesimis memang. Tapi seperti itulah cara kerja realistis, seperti pedal rem. Dan saya harus melepaskan cengkeramannya sedikit demi sedikit.

Tentang Kepekaan

Ibu adalah perempuan yang peka terhadap hal-hal di sekitarnya. Berbanding terbalik dengan saya. Sejak dulu saya sudah kenyang disebut cuek, entah apa indikatornya. Komentar itu diaminkan berjamaah mulai dari teman-teman, sepupu bahkan ayah dan ibu saya sendiri. Sejak kecil ibu hidup susah tapi beliau tak pernah menceritakannya. Kisah perjuangannya saya dengar dari ayah. Dulu, sebelum berangkat sekolah ibu harus mengupas kelapa puluhan butir. Dari hasil kerja inilah ibu mendapatkan uang saku dan mampu membeli buku. Nenek saya (ibunya ibu) adalah perempuan yang buta sehingga ibu dan saudara-saudaranya bahu-membahu mengurus rumah. Karena itulah ikatan persaudaraan mereka sangat erat. Bahkan meski Ibu dan saudara-saudaranya telah berkeluarga, mereka sepakat untuk membangun rumah yang berdekatan satu sama lain sehingga teman bermainku tak lain adalah sepupu-sepupuku sendiri. Jika ada masalah yang menimpa rumah tangga salah satu saudara ibu, pasti akan dimusyawarahkan. Dibicarakan bersama-sama. Sms atau telpon jarkom musyawarah adalah hal yang rutin dalam keluarga besar kami. Tapi kami -anak-anaknya- masih jarang dilibatkan kecuali jika masalah yang dimusyawarahkan menyangkut salah satu di antara kami, misalnya ketika salah satu sepupu saya bermasalah dengan temannya atau saat sepupu saya meminta izin untuk meminang seorang perempuan. Bahkan kadang, meski hanya tentang universitas apa yang akan dimasuki sang anak, mereka pasti akan berkumpul membicarakannya.

Kehidupan yang susah sejak kecil membentuk ibu menjadi pribadi yang tegas dan peka. Pernah di hari lebaran, saat rumah disesaki orang-orang yang datang bersilaturahmi, ibu membawa masuk beberapa anak remaja seusia saya dan menyuruh mereka makan. Tak satupun di antara mereka yang saya kenal. Ternyata ibu juga tidak. Saat saya tanya, ibu hanya menjawab bahwa mereka anak-anak pesantren yang tidak pulang kampung yang ditemuinya sepulang shalat ‘Ied di lapangan. Juga saat anak tetangga sakit ketika ditinggal orangtuanya yang tugas di luar kota, ibu yang pertama tahu. Ibu memasakkan makanan dan membantunya minum obat. Ibu juga pernah menampung seorang anak yang kabur dari rumah karena tidak tahan perlakuan ibu tirinya. Beberapa hari kemudian anak itu akhirnya memilih pulang. Walau begitu, Ibu jarang memperlihatkan perasaannya. Saya hanya pernah mendengar dari sepupu bahwa ibu menangis mengetahui saya sakit ketika masih kuliah. Mengingat itu semua selalu menjadi motivasi bagi saya untuk peka dengan sekitar. Semoga ke depannya saya tidak lagi dilabeli cuek oleh orang-orang.
08 April 2012

Hening...


Waktu kembali memainkan perannya, peran yang sangat apik. Begitu pelan dan hati-hati sehingga aku lupa bahwa untuk pertama kalinya melihatmu bukan dari bawah sinar bulan tapi dari semburat mentari pagi. Mungkin itu bukan pilihan yang buruk tapi cukup membuatku tertawayang menyisakan kekosongan di ujungnya. Kekosongan karena aku harus bersaing dengan sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang selama ini membuatmu menutup diri dari sorotan matahari. Tapi asal kau tahu, aku lebih suka melihatmu berada di bawah payung malam, walau langit kota memang sudah tidak punya banyak bintang. 

Jarum jam merangkak lesu membebaskan detik-detik yang hening di setiap putarannya. Menciptakan ruang hampa dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dan dengan leluasa memberi kesempatan pada sunyi untuk mengambang di garis batas. Kau masih berdiam dalam kata dan suara. Namun apa yag terbaca takkan selalu menjadi apa yang seharusnya. Karena jika ia seperti itu, maka tak ada ruang untuk damai, kan? Itu yang selalu kau pegang erat. Dan itu pula alasan mengapa aku menghapus baris-baris kalimat di rongga pemisah. Aku tak ingin lagi bersandar pada waktu yang mengikat. Karena itu berarti aku akan membiarkanmu -dengan senyum sinismu- menghancurkan konstruksi yang kubangun tanpa ampun. Senyum sinis yang bisa kuterka dari pena yang kau goreskan. Senyum, yang membuat jari-jariku pun tergerak menulis, menuangkan pikiran seperti yang pernah kau sarankan. Membuatku mampu memilah-milah rasa dan menguraikannya dalam sebuah tulisan. Aku berterima kasih untuk itu. 

Tapi memandangmu dan -lagi-lagi- senyum sinis itu, hanya akan membawaku pada ruang gelap dan suram. Seperti foto-foto lama penuh debu yang ditinggalkan di gudang penyimpanan. Seperti memandang langit abu-abu yang berisi rasa kagum dan benci. Mungkin tidak seharusnya lembaran itu terbuka. Ia serupa mimpi buruk, meninggalkan kehampaan yang menganga lebar saat terbangun. Dan kau masih sama, masih seperti biasa. Memantulkan bayangan di salah satu sisi cermin hingga siapapun tak bisa menguak bagian yang tersembunyi. Ya ya ya, penghormatan tak membutuhkan pengertian. Aku sudah bosan mendengarnya darimu. Sudahlah, kita berhenti di titik itu saja.
07 April 2012

Dracula (1)


“Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaan dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat”  
~Milan Kundera, Sastrawan Cekoslovakia~

Dracula adalah satu dari sekian sejarah yang dipelintir untuk menutupi kisah yang sesungguhnya. Jika kita menyebut kata Dracula, maka yang umum muncul di kepala orang-orang adalah makhluk bertaring yang gemar menghisap darah, takut salib dan bawang putih, identik dengan kelelawar, tidur di siang hari dan memangsa di malam hari. Belakangan ini muncul versi baru tentang jenis dracula atau vampir yang digambarkan sebagai sosok tampan yang bisa membaca pikiran orang lain, punya keluarga, bersekolah seperti manusia umumnya dan jatuh cinta pada seorang gadis yang tidak bisa ia baca pikirannya (you know what i mean).

Tapi sangat jarang ada yang tahu bahwa Dracula sebenarnya adalah sebuah sejarah kelam penuh darah yang berhubungan dengan perang salib dan umat islam. Buku yang ditulis oleh Hyphatia Cnejna ini pertama kali terbit tahun 2007. Walaupun agak asing, mungkin sudah banyak yang membacanya. Buku ini bukanlah novel tentang makhluk bertaring seperti yang ditulis oleh Bram Stoker pada abad ke-19, tapi merupakan buku sejarah yang menguak asal-usul, kehidupan dan kekejaman seorang yang telah membantai umat islam dalam perang salib. Walaupun agak lemah dari segi motodologi penelitian, tapi penulisnya mampu menguraikan hal-hal menarik yang masih jarang diketahui masyarakat.

Perang salib merupakan perang dua peradaban besar yang sedang menggeliat pada abad pertengahan. Tanggal 25 Agustus 1095 adalah permulaan rangkaian perang salib. Sebanyak 150.000 prajurit yang berasal dari bangsa Prancis dan Norman bergerak menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Mereka dipimpin oleh Godfrey, Bomemond dan Raymond. Sementara itu pasukan Islam dipimpin oleh Imaduddin Zanki. Perang pertama terjadi di Edessa, wilayah yang berdekatan dengan Baghdad, berada di jalur Mesopotamia dan Mediterania. Perang ini dimenangkan oleh pasukan Islam. Setelah Zanki wafat, ia digantikan oleh anaknya, Numuddin Zanki yang kemudian berhasil merebut Antiochea dan seluruh wilayah Edessa. Setelah Numuddin wafat, pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalahuddin Al Ayyubi tahun 1175. Di tangan penglima inilah Yerussalem berhasil direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam genggaman pasukan salib. Peristiwa itu terjadi dalam perang Hattin pada tanggal 2 oktober 1187 M.

Film yang berjudul “Kingdom of Heaven” juga menggambarkan tentang keberanian dan keluhuran budi seorang Shalahuddin. Ada kalimat pendek dalam sebuah dialog saat Shalahuddin ditanya arti Yerussalem bagi orang islam. Kalau tidak salah jawabannya begini, ‘Nothing...this is everything”. Berbeda dengan pasukan salib ketika merebut Yerussalem dan membantai umat Islam, Shalahuddin membiarkan umat Kristen aman di dalamnya. Berita bahwa Shalahuddin tidak melukai satupun umat kristen membuat Paus di Roma mati mendadak karena terkejut ada manusia semulia itu. Raja Richard bahkan mengeluarkan statemen seperti ini, "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi ." Sikap ksatrianya membuat Shalahuddin dihormati kawan maupun lawan.

Perang salib membawa kemajuan bagi masyarakat Eropa. Pada masa itu Eropa yang berada dalam zaman kegelapan mendapatkan cahaya benderang dari peradaban islam. Orang-orang mulai belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada rentang abad X-XV peradaban islam sangat maju. Salah satu mercusuarnya adalah Cordoba (sekarang Spanyol). Saat itu perpustakaan-perpustakaan di Cordoba adalah tempat berkumpulnya para intelektual islam. Namun sayang, kebencian dan permusuhan terhadap islam sangat besar. Luka akibat kekalahan perang salib masih membekas di hati orang-orang barat. Barat kemudian berusaha mengaburkan sejarah dan menampakkan seolah-olah islam adalah agama yang hanya ditegakkan oleh pedang dan kekerasan. Tidak mengherankan jika saat ini umat islam digambarkan sebagai kaum teroris.

Setelah perang salib berlalu, umat islam mengalami kemunduran. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya menjadi ujung tombak kemajuan, pelan-pelan ditinggalkan. Cordoba jatuh ke tangan barat. Begitu pula identitas sebagai orang islam perlahan-lahan ditanggalkan oleh umatnya. Kemunduran ini mengakibatkan perasaan inferior sehingga dengan mudah pola pikir mereka dicengkeram. Lama kelamaan umat islam lupa bahwa mereka pernah menjadi mercusuar peradaban dunia.

Dracula (2)

Dan Beranikah dirimu membuktikan kebenaran yang paling kau benci ?” 
~Byron~

Selama ini sosok Drcula hanya dianggap imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, makhluk yang berada antara ada dan tiada. Padahal sejarah hidup Dracula adalah kisah banjir darah yang belum ada tandingannya hingga kini. Dan semua itu tak bisa dipisahkan dengan perang salib serta jatuhnya Konstantinopel ke tangan kerajaan Turki Ottoman.

Ayah Dracula bernama Vlad II. Nama aslinya Basarab. Basarab kemudian bergabung dengan kerajaan Honggaria dan direkrut sebagai pasukan elit garda depan perang salib. Tahun 1431 istri Basarab mengandung anak kedua mereka. Mereka kemudian pindah ke Transylvania, tepatnya di Benteng Sighisoara. Di tempat inilah istri Basarab melahirkan anak keduanya, Dracula. Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan pada bulan November atau Desember 1431 M. Asal-usul kata Dracula adalah karena ayahnya (Vlad II) merupakan anggota orde naga dan selalu membawa lencana orde tersebut kemana-mana. Orang-orang Wallachia kemudian memanggilnya dengan sebutan “Vlad Dracul” dalam bahasa Rumania, “Dracul” artinya Naga, sehingga Vlad Dracul berarti Vlad Sang Naga. Sementara akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak dari”. Dari kata tersebut Vlad III atau Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa inggris dilafalkan menjadi Dracula) yang berarti anak dari Vlad Dracul.

Karena ayahnya sering terjun ke medan perang dan kehidupannya hanya mengenal sosok ibu, Dracula tumbuh menjadi sosok tertutup dan inferior. Situasi politik membuat ia dan adiknya, Randu dikirim ke Turki sebagai jaminan dari ayahnya. Dracula tumbuh menjadi remaja pembangkang dan pendendam. Untuk menghibur rasa kesepiannya, Dracula sering menangkap tikus dan burung kemudian ditusuk-tusuk dengan tombak kecil. dia sangat girang melihat hewan-hewan tersebut menggelepar sekarat. Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam tapi hanya untuk tujuan politik. Di sana ia belajar memainkan segala jenis senjata dan strategi perang. Dia mempunyai satu kelebihan yang sulit dicari tandingannya, yaitu naluri membunuh. Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman mati semakin menjadi. Boleh dikata ia kecanduan jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat etika pedang ditebaskan. Bibit kekejaman itu ia dapatkan sewaktu masih di Wallachia. Di kota itu pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-hari. Udara kota itu selalu anyir bau darah.

Tahun 1448 kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula. Setelah bebas, Ia dan pasukannya kemudian berhasil merebut Wallachia. Selanjutnya, masa pemerintahan Dracula merupakan masa-masa teror yang mengerikan. Naluri kekejamannya benar-benar tersalurkan setelah ia menjadi penguasa di Wallachia. Hanya dalam waktu kurang dari setahun ia telah membunuh ribuan orang dengan cara yang kejam yaitu disula. Bagian ke III buku ini menggambarkan penyiksaan ala Dracula. Boleh dikata Dracula adalah seorang kreator penyiksaan. Mulai dari penyulaan, pemotongan dan perusakan organ seksual, merebus korban hidup-hidup, menguliti kepala dan bagian tubuh lainnya, mencekik, memotong otot-otot tertentu, memotog hidung dan telinga, membutakan mata, membakar hidup-hidup, memaku kepala, memangsakan si korban pada binatang buas, menarik korban dengan dua kuda, memendam tubuh korban dan memanggang. Saya tidak perlu ceritakan secara mendetail karena bagi saya itu terlalu sadis. Kesadisan Dracula melebihi kesadisan suku-suku paling primitif yang ada di muka bumi.

Pembantaian Dracula terhadap umat islam juga tak bisa dipisahkan dari perang salib. Sebagai salah satu panglima perang salib di daerah Transylvania, Dracula bertugas mencegah pasukan Turki Ottoman menuju Eropa Timur dan Barat. Ia memakai segala cara, salah satunya dengan meneror umat islam yang ada di Wallachia. Dracula juga berusaha mencari sekutu dari kerajaan yang sama besarnya dengan Turki, yaitu Honggaria. Langkah pertamanya untuk mendapat simpati dari Honggaria adalah dengan pindah agama. Ia memeluk Katolik. Langkah ini berhasil, ia diterima sebagai bagian dari pasukan salib bahkan dinikahkan dengan saudara raja Honggaria. Setelah itu, ia baru berani secara terbuka menyatakan bahwa dirinya adalah musuh kerajaan Turki Ottoman. Ia mulai meneror dan membantai umat islam di wilayah sekitarnya. Sejarah mencatat sekitar 300.000 umat islam dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya. Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau Snagov setelah tak sanggup melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Namun kekejamannya tidak pernah terungkap secara terbuka karena beberapa sebab :
  1. Pembantaian Dracula terhadap umat islam tidak bisa dilepaskan dari perang salib. Negara-negara barat yang menjadi pendukung pasukan salib tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengore-ngorek kekejaman Hitlet dan Polpot enggan membuka aib sendiri.
  2. Dracula, betapapun kejamnya adalah pahlawan pasukan salib sehingga nama baiknya selalu dilindungi. Dan sampai saat ini, di Rumania, Dracula dianggap sebagai pahlawan.

Seperti itulah politik sejarah. Negara adidaya akan memaksakan kebenaran sejarah menurut selera mereka. jika tidak jeli, kita akan terjebak pada kebenaran yang sebenarnya adalah kebohongan. Dengan kemampuan keuangan dan teknologi mereka berupaya untuk memelintir sejarah. Contohnya adalah perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa dalam perang itu Amerika harus menerima kekalahan telak. Banyak prajurit yang tewas dan tidak sedikit yang cacat seumur hidup. Amerika pun menciptakan sosok super hero lewat film. Mereka memproduksi film Rambo dengan berbagai judul dan variasi untuk menunjukkan bahwa merekalah pemenang di perang Vietnam. Rambo adalah mitos baru untuk menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan Dracula tak ubahnya seperti Rambo. Bedanya, kalau Rambo adalah sosok fiksi yang seolah-olah dibuat nyata, maka Dracula sebaliknya, yaitu sosok nyata yang diubah menjadi fiksi.

Selain itu, tujuan lain dari penjajahan sejarah adalah menghilangkan pahlawan dari pihak musuh. Superoritas barat menginginkan bahwa hanya merekalah  yang memiliki pahlawan. Dalam mitos Dracula, sosok Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al Fatih dihilangkan sama sekali. Padahal sejarah resmi mencatat peran sang sultan dalam mengakhiri kekejaman Dracula dalam dua kali gempuran besar-besaran. Serangan pertama membuat Dracula kehilangan tahta dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh. Tapi semua fakta itu telah dihapus oleh barat. Sosok sultan Mehmed II memang sangat dibenci kerena telah berhasi merebut konstantinopel dan membuat barat kehilangan muka. Karena itulah mereka berusaha untuk menghapus nama Sultan Mehed II dalam sejarah. Harus diakui usaha itu cukup berhasil. Buktinya, bahkan umat islam sendiri pun jika ditanya tentang sultan Mehmed II akan menggelengkan kepala namun jika ditanya tentang Dracula, mereka bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sosoknya.

Bila suatu umat tidak mengenal pahlawannya maka mereka tidak akan bangga terhadap umatnya sendiri. Mereka akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggap lebih superior. Gejalanya bisa dilihat dari pemujaan secara berlebihan terhadap budaya barat. Kondisi seperti ini yang diinginkan barat karena negara yang tidak lagi bangga pada bangsanya sendiri akan dengan mudah diarahkan. Inilah bentuk penjajahan gaya baru. Begitu halus, tak ada perang, tak ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.

“Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuangan manusia melawan dirinya sendiri”

Si Kecil

Setiap manusia memiliki keunikan karakter dan sifat yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sekian banyak orang-orang yang pernah saya temui, baru kali ini saya menemukan keunikan yang berbeda dari seseorang. Saya sering memanggilnya “Si Kecil” karena tinggi badannya memang imut, mengingatkan saya akan tokoh Kugy dalam novel Perahu Kertas. Saya mengenalnya baru setahun belakangan ini. Usianya empat tahun lebih muda dari saya. Dia anak yang penurut dan suka menolong. Jika ia berbicara, saya tidak menemukan titik pemberhentian kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, lancar tanpa henti. Pun ketika bercerita, dia sering memperagakan apa yang ia ceritakan. Sehingga melihatnya berbicara tak ubahnya seperti menonton teater. Ia sering menceritakan teman-temannya pada saya seolah-olah saya juga mengenal mereka. Dia anak yang ceria tapi sangat gampang menangis. Banyak hal-hal biasa atau bahkan remeh di mata saya tapi justru bisa membuatnya menangis.

Dia termasuk salah satu korban Korean Wave. Drama City Hunter yang bergenre action  itu justru membuatnya terisak-isak. Entah bagian mananya yang membuat dia sampai menangis-nangis. Jika seseorang mengeluarkan suara yang agak keras padanya, dia pasti menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia dibentak-bentak seniornya saat ospek mahasiswa baru. Untungnya, ospek di fakultasnya dihapuskan. Yang paling aneh adalah kejadian pada suatu sore. Ia tinggal sekamar dengan dua orang temannya. Hari itu giliran ia piket membersihkan kamar. Sore harinya, teman sekamarnya pulang kuliah dan mencari-cari headphone hp-nya namun tidak ketemu. Si Kecil langsung panik karena hari itu adalah hari piketnya dan ia merasa bersalah jika headphone temannya hilang. Kepanikannya tidak beralasan, toh saat membersihkan kamar, headphone itu memang sudah tidak ada. Tapi ia tetap merasa bersalah. Sambil tergopoh-gopoh ia mendatangi saya dan bertanya berapa harga sebuah headphone. Saya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya pun bertanya, apa memang dia yang menghilangkan headphone itu, ia jawab tidak. Saya tanya lagi, apa temannya minta digantikan headphone baru, ia menjawab tidak. Saya menarik napas panjang, ya ampun anak ini benar-benar, deh. Sambil menahan jengkel, saya bilang bahwa ia tidak perlu sepanik itu apalagi sampai berniat menggantinya karena bukan dia yang menghilangkannya. Melihat saya yang memasang raut wajah jengkel, eh dia malah nangis. Astaga...*jidat nempel ke tembok*

Sifatnya yang seperti itu menimbulkan rasa ingin melindungi dari orang-orang di sekitarnya. Ia bisa membuat orang tertawa sekaligus kasihan di saat yang bersamaan. Uniknya, ia tidak pernah menyimpan dendam pada orang yang membuatnya menangis. Menangis telah menjadi semacam penawar baginya. Ia bisa menangis 10 menit lamanya lalu kembali berbicara pada orang yang membuatnya menangis seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hal yang hebat menurut saya, karena jarang ada bisa seperti itu. Tidak juga saya.
 
;