02 March 2014

Jejak Kaki di Tanah Suci (4)


Kami biasanya melakukan umrah dalam kelompok kecil yang hanya terdiri dari ayah, ibu, om tante dan saya, tanpa berpatok pada jadwal yang diberikan pihak travel. Berdasarkan jadwal tersebut, umrah dilakukan hanya dua kali. Padahal jika mampu, umrah bisa dilakukan setiap hari. Terutama bagi saya, belum tentu ada kesempatan besar seperti ini lagi di esok hari. Tidak seperti ibadah lain yang bisa dilakukan di mana saja, umrah hanya bisa dilakukan di Masjidil Haram. Thawaf hanya bisa dilakukan di Ka’bah. Di sanalah pusat kiblat kaum muslimin. Jadi mumpung berada di sana, waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Om dan tante yang sudah berpengalaman biasanya mengajak kami memulai umrah jam 3 pagi atau jam 3 sore. Bila start di siang hari, sebelum jam 3 sore kami berlima sudah naik bus besar menuju Tan’im untuk mengambil miqat. Laki-laki sudah memakai pakaian ihram sejak dari hotel. Jam 3 sore dipilih sebab diperkirakan ketika kembali dari Tan’im waktu sudah memasuki shalat ashar. Atau setidaknya bisa melakukan tahwaf dulu sekitar 3 atau 4 putaran sebelum masuk ashar. Ba’da shalat, tinggal menyempurnakan jumlah putaran lalu dilanjutkan sa’I dari Safa-Marwah dan terakhir tahallul. Jadi sebelum masuk maghrib atau isya, umrah sudah selesai. Begitu pun jika start jam 3 pagi diperkirakan umrah bisa selesai pada jam 7, bertepatan dengan waktu sarapan di hotel.

Ada lima titik tempat mengambil miqat yaitu Yalamlam, Qarnul Manazil, Dzatu Irq, Dzul Hulaifah (Bir Ali) dan Juhfa. Untuk jamaah asal Indonesia, bila start dari Madinah, maka miqatnya di Bir Ali. Bila langsung menuju Makkah, maka miqatnya adalah Yalamlam atau Qarnul Manazil (di atas pesawat). Bila sudah berada di Tanah Haram, maka harus keluar dari Tanah Haram dulu dan mengambil miqat di Tan’im, Ji’ronah atau Syumaisyi (perbatasan Tanah Haram dari arah Jeddah). Tempat kami biasa mengambil miqat selama di Tanah Haram adalah Tan’im.
 
Tan'im
Ada beberapa jenis kendaraan yang dapat dipilih untuk mencapai Tan’im. Pertama, Bus Besar, saya lupa istilahnya tapi bus itu berwarna merah atau biru. Kendaraan ini memang khusus digunakan bagi mereka yang ingin mengambil miqat di luar Makkah. Harganya pun paling murah di antara yang lain, hanya 2 SR atau Rp. 6.660/orang (1 SR = Rp. 3.330,-). Jadi pulang pergi per orang hanya diperlukan 4 SR. Bus besar mulai beroperasi nanti setelah shalat shubuh. Bagi yang ingin mengambil miqat sebelum waktu itu dapat memilih kendaraan lain. Kedua, bus kecil, lebih tepat di sebut mobil dibanding bus. tetapi dalam satu mobil bisa memuat 13 orang. Kendaraan jenis ini beroperasi setiap waktu. Harganya pun lebih mahal yaitu 5 SR per orang. Jadi pulang pergi dibutuhkan 10 SR per orang. Pilihan terakhir adalah taksi. Tapi demi penghematan, sebaiknya tidak memakai kendaraan ini sebab ongkosnya mahal, bisa mencapai ratusan SR.

Biaya hidup di kota Makkah memang tergolong mahal. Harga barang yang dijual paling rendah 3 SR. Malah ada sajadah yang per lembarnya mencapai tiga juta rupiah. Banyak orang dari negara tetangga Arab Saudi yang berumrah sendiri-sendiri tanpa memakai jasa travel. Mereka tidak tinggal di hotel. Jadi biaya lebih murah. Banyak pula yang ber-umrah ala backpacker. Biayanya tentu lebih kecil tapi yang jelas harus punya nyali. Siap tidur di pelataran masjid atau pinggir jalan, siap mandi di mana saja atau malah tidak mandi seharian, beli makan sendiri dan yang penting siap berhadapan dengan cuaca. Bila dini hari berjalan melewati masjid, sering saya dapati orang-orang yang tidur berselimut di pelataran masjid dengan ransel dan kotak makanan di sampingnya.

Teman suami sepupu yang kuliah di Sudan ber-umrah dengan cara seperti itu. Saat diajak, suami sepupu saya hanya menggeleng. Umrah dengan cara seperti itu memang bisa dilakukan laki-laki yang masih hidup sendiri. Berbeda kondisinya bila sudah berkeluarga, sebab mereka punya kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Mengingat hal ini, saya bersyukur Allah mengizinkan saya umrah saat kondisi saya masih sendiri dan usia yang belum seperempat abad. Saya tidak tahu bagaimana rasanya umrah bersama pasangan seperti yang dilakukan beberapa jamaah dalam rombongan. Tapi jujur, saya sangat menikmati perjalanan itu dengan kondisi saat ini, sendiri. Kupikir memang ada hal-hal yang sebaiknya dinikmati selagi sendirian. Semoga nanti bisa kembali lagi ke sana, mungkin bersama adik atau dengan ayah-ibu. Entah kenapa, pulang dari sana saya merasa seperti, ketinggalan dompet. Rasanya selalu ingin kembali dan kembali. Apa ya tepatnya…seperti ada yang belum selesai, sesuatu yang membuat saya ingin melihat lagi tempat itu, dan dengan orang-orang yang saya temui selama perjalanan.

Oh ya, ngomong-ngomong di sana saya kerap menyaksikan kebiasaan kaum laki-laki yang ketika bertemu kawannya berjabat tangan dan saling menepelkan pipi kiri dan kanan. Selama ini yang saya lihat laki-laki hanya berjabat tangan dengan saudaranya tanpa menempelkan pipi. Di tempat ini juga saya mendengar langsung lantunan ayat-ayat Al Qur’an para imam Masjidil Haram yang sebelumnya hanya saya dengar lewat laptop atau ponsel. Shalat di masjid itu ribuan kali lebih baik dibanding shalat di masjid manapun.

Di kota ini kau akan menemukan seluruh perempuan menutup auratnya. Di kota ini kau tidak akan menemui papan iklan memadati jalan raya. Di kota ini setiap kendaraan umum memutar murattal bukan musik yang mengganggu. Di kota ini orang-orang begitu semangat beribadah sehingga lafadz talbiyah dapat terdengar sampai keluar bus. Di kota ini kau akan mendapati petugas bandara atau polisi lalu lintas memegang tasbih di tangan yang satu, siwak di mulut dan tangan yang lain menertibkan kerumunan. Di tempat ini kau bisa melihat pemuda-pemuda berjalan dengan siwak di mulut, bukan selipan rokok seperti yang biasa ditemui sehari-hari. Yah, walaupun pernah sekali saya dapati seorang pemuda merokok, itu pun dilakukan sembunyi-sembunyi di dalam gang sempit. Bila perempuan naik bus, kau tidak perlu khawatir tidak dapat tempat duduk sebab kalaupun kursi penuh, para lelaki tidak akan segan berdiri dan mempersilakanmu menduduki kursinya. Pun di dalam bus, kau tidak perlu khawatir berdesakan dengan laki-laki sebab mereka sangat paham sehingga akan pindah kursi dengan sendirinya atau lebih memilih berdiri daripada duduk di dekat perempuan yag bukan mahramnya. Untuk semua alasan itu, saya sempat berpikir tidak ingin kembali ke tanah air. 

Detik berganti menit, menit berganti jam. Setelah berhari-hari berada di Makkah, tiba saatnya untuk pulang. Setelah Thawaf Wada’ selesai hampir tengah malam, kami pulang ke hotel beristirahat sebentar, sebab bus akan berangkat pukul 3 pagi menuju Jeddah. Menjelang subuh kami tiba di Jeddah dan singgah shalat di Masjid yang dibangun di tepi Laut Merah. Orang-orag menyebutnya masjid Terapung. Setelah itu bus melaju ke bandara internasional King Abdul Aziz. Selama perjalanan menuju bandara, saya melihat matahari berbeda dengan yang biasa saya lihat sehari-hari. Matahari pagi di Jeddah tampak seperti bulan, menggantung bulat dan berwarna kemerahan. Selama ini saya tidak bisa menatap matahari karena cahayanya yang menyilaukan. Tapi saat itu matahari dapat ditatap seperti menatap bulan. Indah sekali. Lewat pukul tujuh pagi, barulah cahaya menyilaukan itu muncul. Itu hal terakhir yang yang saya temui sebelum pulang ke Indonesia.

Masjid Terapung Jeddah
gambar diambil dari sini

Jejak Kaki di Tanah Suci (3)

Berbeda dengan Madinah yang dingin, cuaca di kota Makkah panas menyilaukan. Harga barang-barang di Makkah juga lebih mahal dibanding Madinah. Sejauh pengamatan saya, jarang dijumpai perempuan berdagang di kota itu. Kebanyakan pedagang adalah kaum laki-laki. Kecuali saat mengambil miqat di Tan’im, saya melihat pedagang perempuan di sekitar masjid. Di Madinah, perempuan ikut berjualan di pinggir jalan membantu suami mereka. Bila masuk waktu shalat, mereka akan meninggalkan barang dagangan dan ikut berjamaah di masjid Nabawi. Kondisi ini mengingatkan akan perbedaan wanita muhajirin dan wanita anshar di masa Rasulullah. Wanita anshar lebih aktif dan tidak segan-segan bertanya bila ada yang kurang mereka pahami ketika menuntut ilmu.

Masjidil Haram jauh lebih besar dan megah dibanding Masjid Nabawi. Juga lebih padat manusia. Bila Masjid Nabawi sepi pada jam 1-3 pagi, Masjidil Haram tak pernah sepi dari manusia. Semakin larut malam manusia semakin memadati masjid, entah melaksanakan shalat, thawaf, sai’I atau mengaji. Boleh dibilang mungkin itu satu-satunya tempat yang tak pernah sepi dari orang yang beribadah. Terlebih di hari Jumat, sebab Jumat merupakan hari libur di sana, bukan hari ahad. Di Masjidil Haram kita bisa sepuasnya minum air zam-zam. Orang-orang biasanya membawa botol kosong untuk diisi lalu diminum selama di hotel. Tetapi berbeda dengan Masjid Nabawi yang punya banyak toilet bawah tanah, di Masjidil Haram antrian toilet bisa sangat panjang dan berjam-jam. Karena itu disarankan pilihlah hotel yang dekat dari masjid sehingga bila ingin buang air tidak perlu lama-lama mengantri. Saat ini masjidil Haram dalam proses perluasan. Karena itu beberapa hotel di sekitarnya diruntuhkan. Proyek tersebut diperkirakan akan rampung pada tahun 2020.


Karena padatnya manusia di Masjidil Haram, orang jadi bebas berlalu lalang lewat di depan orang shalat. Saran saya, bawa tas selempang setiap ke masjid sebagai sutrah agar tidak melangkahi oang shalat. Selain daripada itu, yang paling penting adalah kekuatan bertahan dan kesabaran. Di masjidil Haram berkumpul kaum muslimin dari berbagai negara dan tentu saja budaya yang berbeda. Kita orang Indonesia rata-rata berperawakan kecil, berbeda dengan orang-orang Timur Tengah, Eropa atau Rusia yang tinggi besar. Pergerakan mereka juga cepat. Kita bisa terlempar kesana kemari kalau disenggol mereka. Kadang saat sujud, tangan atau kepala harus rela terinjak oleh mereka. Tapi begitulah kondisi di sana karena begitu padatnya manusia. Padahal sebenarnya mereka tidak berniat meyakiti.

Pernah saya lihat seorang bapak melewati satu barisan yang duduk-duduk menunggu waktu maghrib. Tanpa sengaja kakinya mengenai kepala bocah laki-laki berumur lima tahun. Ketika menyadari itu, si bapak berbalik mengusap kepala bocah itu dan mencium puncak kepalanya. Saya juga beberapa kali melihat orang yang sedang berjalan ditabrak kursi roda dari belakang. Orang yang mendorong kursi roda tersebut lalu memberi isyarat dengan meletakkan tangan di atas kepalanya dan menggumamkan beberapa kalimat yang saya tangkap sebagai permintaan maaf.

Selama di Makkah kami ziarah ke padang Arafah yang pada musim haji dipenuhi lautan manusia. Kami juga mengunjungi Jabal Tsur, tempat persembunyian Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wasallam  bersama Abu Bakar dari kejaran kafir Quraisy. Juga mengunjungi Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa. Sewaktu diturunkan ke bumi, Adam turun di Sri Lanka dan Hawa turun di Jeddah. Setelah 200 tahun keduanya bertemu kembali di Makkah, tepatnya di Jabal Rahmah. Wallahu’alam apakah cerita itu shahih atau tidak. Tapi yang jelas tempat itu hanya tempat bersejarah. Tidak ada keutamaan terkait jodoh seperti yang dipahami sebagian orang. Sayangnya, masih banyak yang melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam islam seperti menuliskan nama atau menyimpan foto di sela bebatuan dengan harapan agar berjodoh dengan orang yang ditulis namanya atau yang disimpan fotonya itu.

Jabal Tsur
Jabal Rahma

Jejak Kaki di Tanah Suci (2)

Lain waktu kami dibawa ke Jabal Uhud, lokasi perang Uhud pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kisah perang Uhud sudah berulang kali saya dengar dalam berbagai kesempatan, entah dalam tarbiyah, ta’lim ataupun nasihat ketika menjadi panitia suatu kegiatan. Tapi saat itu, Uhud bagi saya adalah sesuatu yang jauh, baik ruang maupun waktu. Saya tak punya gambaran apapun akan tempat itu. Yang dapat saya lakukan hanya mengambil hikmah di dalamnya. Tapi kini, saya menginjakkan kaki di atas lokasi medan perang itu. Kini saya berdiri di tempat yang sebelumnya hanya saya baca dari buku-buku shirah. Kini, saya melihat langsung bukit di mana 40 pasukan pemanah ditempatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihii Wasallam yang kemudian mengabaikan perintah beliau karena kilauan harta ghanimah. Akhirnya tersisa 10 orang yang bertahan di atas bukit. Saya bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya perang itu di masa lalu. Saya bisa membayangkan bagaimana Khalid bin Walid yang kala itu belum masuk islam, melihat peluang ketika pasukan pemanah beramai-ramai turun lalu menyerang kaum muslimin dari belakang. Saya bisa membayangkan bagaimana paman Nabi, Hamzah, terbunuh dalam perang tersebut. Saya bisa membayangkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  terluka parah dan nyaris terbunuh.

Gunung Uhud
Bukit pasukan pemanah
Area perang

Di area bekas tetesan darah Rasulullah yang terluka, hingga kini ada bau harum yang dapat tercium dari jarak 30 meter. Namun karena banyaknya orang yang melakukan kesyirikan di tempat itu, lokasi pun ditutup rapat dengan tembok batu. Sewaktu bus melewati area tersebut, sang sopir membuka pintu mobil bagian depan. Tiba-tiba Ahmad dan beberapa peserta yang duduk di depan mencium bau harum seperti mawar. Masya Allah. 

Ketika terjadi banjir bandang di Madinah, seluruh jenazah para syuhada uhud mengambang ke permukaan. Ajaibnya, jenazah mereka masih utuh seperti baru saja terjadi peperangan dengan darah yang masih mengalir di sekujur tubuh disertai bau yang harum. Tetapi hanya dua jenazah yang dapat dikenali. Salah satunya adalah Hamzah, paman Rasulullah, yang dapat dikenali karena jantungnya yang hilang diambil Hindun binti Utbah. Peristiwa ini sekaligus bukti nyata atas kebenaran perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa bumi tidak memakan jasad para syuhada.

Selain Jabal Uhud kami juga mendatangi masjid Quba dan melewati beberapa masjid lain di antaranya masjid Qiblatain, masjid dengan dua kiblat. Saat itu tahun kedua hijriyah, Rasullah sedang memimpin shalat yang kiblatnya masih menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa). Pada rakaat kedua, Rasulullah mendapat wahyu (surah Al Baqarah : 144) untuk mengubah arah kiblat ke Masjidil Haram (Ka’bah). Karena peristiwa inilah maka masjid tersebut dinamakan masjid Qiblatain.
 
Masjid Quba
Ada pula beberapa masjid kecil seperti masjid Salman al Farisi, masjid Fatah, masjid Ali, masjid Fatimah, masjid Abu Bakar, masjid Umar dan masjid Utsman. Tetapi tiga masjid terakhir yang disebutkan sudah dihancurkan. Pemandu juga menunjukkan lokasi parit sewaktu perang Khandaq yang kini berada di sekitar lampu merah. 

Setelah beberapa hari di Madinah, suatu siang selepas shalat dhuhur rombongan bersiap-siap berangkat ke Makkah sekaligus sebagai umrah yang pertama. Laki-laki sudah memakai pakaian ihram. Nantinya kami mengambil miqat di Dzul Hulaifah (Bir Ali). Perjalanan dari Bir Ali ke Makkah bisa memakan waktu enam jam naik bus. Selama perjalanan ihram itu kita disunnahkan memperbanyak lafadz talbiyah. Kata Ahmad, saat ini ada pembangunan rel kereta api yang akan menghubungkan Madinah dan Makkah. Sehingga waktu perjalanan yang ditempuh  menjadi lebih singkat.
 
Bir Ali

Kami tiba di Makkah sekitar pukul sepuluh malam. Langsung check in dan makan malam. Setelah itu menuju Masjidil Haram untuk menyelesaikan dua rukun umrah yang tersisa, thawaf dan sa’i. Selama ini Ka’bah hanya dapat saya lihat lewat layar TV yang menayangkan siaran Makkah. Tapi kini saya diberi kesempatan oleh Allah melihat Ka’bah dari dekat untuk pertama kali. Segalanya tumpah di sana. Kerinduan, doa, cinta, harap dan takut, semua tumpah di sana. Tak perlu berpanjang lebar tentang ini. Akan menjadi catatan tersendiri yang akan saya ingat seumur hidup. Menjelang pukul tiga pagi, kami menyelesaikan sa’I yang dilanjutkan dengan tahallul atau potong rambut. Umrah pertama selesai. Kami kembali ke hotel istirahat sebentar untuk persiapan shalat subuh.

Safa-Marwah

Jejak Kaki di Tanah Suci (1)

Ketika melihat hamparan padang pasir yang luas dari ketinggian ribuan kaki, saya sadar semakin dekat dengan tempat tujuan. Hingga beberapa bulan lalu, tak pernah terpikir saya bisa mengunjungi kedua kota ini, Madinah dan Makkah. Tak pernah terpikir saya bisa umrah sementara belum punya penghasilan tetap. Selama ini saya membayangkan, kalau pun bisa umrah mungkin nanti di umur 40an tahun. Tapi segalanya berlangsung demikian cepat. Pemberitahuan dari ibu, tumpukan tugas kuliah yang belum selesai, kebimbangan saya, nasihat tante, hingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Di kemudian hari, saya bersyukur itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Pun hari-hari selama berada di sana adalah hari-hari terbaik dalam hidup saya. Segala puji hanya milik Allah yang telah mengizinkan saya mengunjungi kedua kota yang penuh berkah itu. 

Pada hari Selasa, saya menjejakkan kaki di bandara internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Begitu keluar dari pintu pesawat, angin musim dingin bersuhuu 15 derajat celcius datang menyambut. Rasanya seperti berada di dalam ruangan kecil dengan lima pendingin udara. Sangat dingin. Mengingatkan suhu air di desa Bone-bone Enrekang pada jam tiga pagi.

Kami tiba pukul 8 pagi, sementara hotel baru buka sekitar pukul sembilan. Jadi sambil menunggu hotel buka, kami diajak keliling mengunjungi Jabal Magnet. Tempat itu bukanlah tempat bersejarah, hanya saja tanahnya mengandung magnet. Pemandu kami menyarankan bahwa sebaiknya peralatan seperti ponsel, kamera dan benda-benda elektronik lainnya di pegang erat-erat selama di sana sebab kekuatan magnetnya bisa menerbangkan benda-benda semacam itu. Tempat itu pertama kali diketahui mengandung magnet ketika mobil seorang pengemudi mogok saat melewati jalan itu. Anehnya, walaupun mesin sudah mati, mobil tersebut tetap melaju kencang. 



Selepas itu, pemandu berencana membawa kami ke percetakaan Al Qur’an. Tetapi karena terlambat dan percetakan sudah tutup, kami pun dibawa menuju hotel Dallah Thaibah, tempat penginapan kami selama beberapa hari di Madinah. Jarak antara hotel itu sangat dekat dari Masjid Nabawi, hanya perlu berjalan beberapa langkah. 


Jalanan di depan Masjid Nabawi dipenuhi berbagai macam dagangan mulai dari pakaian, jilbab, pernak-pernik, buah-buahan, coklat, tas, sepatu, kaos kaki, peralatan makan sampai Al Qur’an. Sambil menunggu kamar dipersiapkan, saya jalan-jalan sebentar di sekitar hotel. 


Jalan raya di Madinah tidak dbanyak dihiasi papan iklan. Seingat saya hanya papan iklan susu formula untuk balita dan merk kartu SIM ponsel yang sempat terlihat. Selain itu, papan-papan yang ada hanya ajakan berdzikir kepada Allah, berbeda dengan Indonesia yang banyak menampilkan wajah caleg di sepanjang jalan. Kota Madinah tidak terlalu ramai. Kendaraan didominasi oleh mobil. Saya hanya sekali melihat orang naik motor. Itu pun seorang polisi yang bertugas dengan motor dinas. Lalu lintas lancar, tidak ada istilah macet di sana.

Jalanan sekitar hotel selalu padat setiap menjelang shalat. Para pedagang mulai menutup toko atau meninggalkan dagangannya ketika adzan berkumandang. Pertama kali memasuki masjid Nabawi saya seperti orang udik, tak bisa menutup mulut karena mengagumi payung-payung raksasa di pelataran masjid. Ribuan muslim dari berbagai belahan dunia ada di sana. Wajah Eropa, Asia, Timur tengah dan Afrika berbaur menjadi satu. Sulit menjelaskan perasaan saya saat itu. Walaupun dari segi wajah sangat mudah dikenali bahwa saya orang Indonesia tapi di sana tak ada yang memandang aneh dengan jilbab yang saya kenakan. Tak ada yang memandang sinis apalagi takut. Berbeda ketika masih di bandara Soekarno Hatta Jakarta. 

 

Luas Masjid Nabawi 8,2 hektar. Di Masjid inilah terdapat Al-Rawdah, tempat yang makbul untuk berdoa. Makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta dua shahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ada di sana. Seluruh istri-istri Nabi dimakamkan di Madinah kecuali ibunda Khadijah dan Maemunah yang dimakamkan di kota Makkah. Masjid Nabawi dilengkapi deretan al Qur’an di setiap pilarnya. Al Qur’an terjemahan berbagai bahasa pun ada mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Turki, Rusia dll. Selain itu, ada ratusan tempat penampungan air zam-zam yang dapat diminum setiap saat.

Al-Rawdah
Ciri khas lain kota Madinah adalah pohon kurma yang menghasilkan kurma-kurma terbaik. Penduduk Makkah sendiri lebih sering membeli kurma Madinah karena keberkahannya. Pohon kurma juga mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan manusia. Salah satunya adalah tidak bisa tumbuh dengan baik bila ditanam sendirian. Sewaktu ziarah ke berbagai tempat, kami di bawa ke kebun dan toko kurma. Saat ibu sibuk membeli kurma, saya sibuk makan coklat, sebab semua coklat di sana halal. Halal yang dimaksud adalah kau bisa makan coklat  sepuasnya alias gratis. Saat saya bertanya apakah boleh mencoba setiap jenis coklat, penjual itu mengiyakan. Katanya, dari kotak sini sampai kotak sana kau bisa ambil sesukamu. Saya pun keluar dari toko itu dengan mengantongi belasan coklat mulai rasa jeruk sampai rasa kelapa. Tapi karena ini pulalah maka harga kurma yang dijual menjadi lebih mahal. Jadi sebenarnya tidak ada yang benar-benar gratis.  


Hujan adalah fenomena alam yang langka di sana. Sebegitu langkanya hingga bila hujan turun, orang akan beramai-ramai keluar menonton. Bila di Jakarta orang jenuh dengan banjir, orang Madinah justru senang melihat banjir. 

Semua informasi tersebut disampaikan oleh pemandu kami. Oh ya, perkenalkan pemandu kami bernama Ahmad, sudah lebih dari tiga tahun tinggal di Makkah. Orangnya sabar dan ramah menghadapi setiap peserta rombongan, terlebih pada mereka yang sudah tua dan sering kesasar bila keluar hotel. Usianya mungkin lebih muda dari saya. Setelah lulus pesantren di Jawa Timur dia langsung kuliah di Makkah. Tante bercerita bahwa umumnya orang Indonesia yang kuliah di sana kerja sampingan sebagai pemandu rombongan umrah, koki atau pramusaji.
28 February 2014

Dua Ujian


"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan"  
~QS. Al Anbiya : 35~ 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Makna ayat ini adalah : Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa"
28 January 2014

Keindahan Hukum di Zaman Umar

Kisah ini dikutip dari tulisan Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul Menyimak Kicau Merajut Makna. Sebuah kisah yang menggambarkan betapa adilnya proses hukum dan indahnya ukhuwah di zaman generasi terbaik. Kemampuan Salim A. Fillah mengolah kata mampu menyentuh hati para pembaca. Sampai terisak saya dibuatnya. Semoga Allah senantiasa menguatkan beliau dan mengistiqomahkannya dalam berdakwah menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Dan semoga pemimpin, penegak hukum serta kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah ini.

Suatu hari Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyura’ membahas aneka persoalan. Tiga orang pemuda datang menghadap; dua bersaudara berwajah marah mengapit pemuda lusuh yang tertunduk dalam belengguan mereka.

“Tegakkanlah keadilan untuk kami, hai Amirul Mukminin,” ujar seorang. “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”

Umar bangkit. “Bertakwalah kepada Allah,” serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda ?” selidiknya.

Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amirul Mukminin!” jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!” tukas Umar.

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan berbagai urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini,” ungkapnya. “Saat sampai,” lanjutnya, “kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut dan terpana. Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak dan ragas-rigis tanamannya. Sungguh aku sangat marah dan dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”

“Wahai Amirul Mukminin,” ujar seorang penggugat, “kau telah mendengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain. Umar galau dan bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu. “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya,” ujar Umar, “dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat.”

“Izinkan aku,” ujar Umar, “meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayar diyat atas kematian ayahmu.”

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda dengan mata masih menyala merah; sedih dan marah, “kami sangat menyayangi ayah kami. Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan untuk membuat kami kaya,” ujar salah satu, “hati kami hanya akan ridha jika jiwa dibalas dengan jiwa!”

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat.

“Wahai Amirul Mukminin,” ujar pemuda tergugat itu dengan anggun dan gagah, “tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha kepada ketentuan Allah,” lanjutnya, “hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah dan kewajiban yang tertanggung ini.”

“Apa maksudmu?” tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku,” ujar pemuda itu, “berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua. Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan qishash dalam Al-Qur’an, aku akan kembali 3 hari dari sekarang untuk menyerahkan jiwaku.”

“Mana bisa begitu!” teriak penggugat. “Nak,” ujar Umar, “tak punyakah kau kerabat dan kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini ?”

“Sayangnya tidak Amirul Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung utang dan tanggungan amanah lain ?”

“Baik,” sahut Umar, “aku memberimu tangguh 3 hari, tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau akan menepati janji untuk kembali.”

“Aku tidak memiliki seorang kerabat pun di sini. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman kepada-Nya,” rajuknya.

“Harus orang yang menjaminnya!” ujar penggugat, “andai pemuda ini ingkar janji, siapa yang akan gantikan tempatnya untuk diqishash?”

“Jadikan aku penjaminnya, hai Amirul Mukminin!” sebuah suara berat dan berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al-Farisi.

“Salman ?” hardik Umar, “demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”

“Pengenalanku kepadanya, tak beda dengan pengenalanmu ya Umar,” ujar Salman, “aku percaya kepadanya sebagaimana engkau memercayainya.”

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu sudah. Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan Salman. Shahabat perantau negeri; pengembara iman itu mulia dan tercinta di hati Rasul dan sahabatnya.

Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tenang dan tawakkal melangkah siap ke tempat qishash. Isak pilu tertahan. Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram; terseok, terjembab, lalu bangkit dan nyaris merangkak. “Itu dia!” pekik Umar.
Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh dan napas putus-putus ambruk di pangkuan Umar.

“Maafkan aku,” ujarnya, “hampir terlambat. Urusan kaumku memakan banyak waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari.”

“Demi Allah,” ujar Umar sambil menenangkan dan meminumi, “bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini ? Mengapa susah payah kembali ?”

“Supaya jangan sampai ada yang mengatakan,” ujar terdakwa dalam senyum, “di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”

“Lalu kau, hai Salman,” ujar Umar berkaca-kaca, “mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kaukenal sama sekali?”

“Agar jangan sampai dikatakan,” jawab Salman teguh, “di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara.”

“Allahu Akbar!” pekik dua pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, “Allah dan kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya.”

“Kalian,” kata Umar makin haru, “apa maksudnya ? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tidak jadi diqishash ? Allahu Akbar! Mengapa ?” 

“Agar jangan ada yang merasa,” sahut keduanya masih terisak,” di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan dan kasih sayang.”

Mencari Jalan Kebahagiaan

Kemarin siang saya berkeliaran di jalan raya memburu alamat rumah. Setelah keliling beberapa lama, alamat itu belum juga ditemukan, padahal jarum tanki sudah menunjuk garis merah tanda bensin sekarat. Akhirnya saya memutuskan mengisi bensin dulu di SPBU terdekat. Tidak ingin kejadian dorong-mendorong motor terulang lagi karena kehabisan bensin. Selesai mengisi bensin, pencarian dilanjutkan kembali. Berdasarkan petunjuk lewat sms, rumah itu berada di dalam kompleks dekat sebuah yayasan. Tetapi ada dua kompleks yang berdampingan di wilayah itu. Saya memilih masuk kompeks pertama. Setiap orang yang saya temui dan tanyakan tentang alamat itu menggeleng tidak tahu. Orang terakhir malah tersenyum simpul ketika ditanya letak alamat tersebut.

“Jalan Kebahagiaan ? Kedengarannya menarik. Sepertinya saya juga harus mencari jalan itu”, katanya menahan senyum.

Gubrakkk…

“Bukan, maksudnya Jalan Kebahagiaan Utara blok a. Tahu ?” 

“Maaf, tidak tahu”

Karena tidak dapat juga, saya memutuskan mencari di kompleks kedua yang berada tepat di samping kompleks pertama. Setelah mutar-mutar, belok kiri belok kanan, akhirnya ketemu juga alamat yang dimaksud. Ternyata letaknya tidak jauh dari gerbang masuk. Saya saja yang terlalu jauh mencari ke belakang. Jalan itu malah masih terlihat dari kompleks pertama. Jadi kepikiran, apa sebegitu parahnya pengaruh individualisme sampai-sampai tidak mengenal nama jalan yang berada tepat di samping kompleksnya ? Sekuat itukah dinding pemisah setinggi 2 meter untuk menjauhkan jarak yang sebenarnya dekat ? Ah sudahlah. Toh, alamat yang saya cari sudah ditemukan.

Alamat itu adalah alamat baru teman saya. Setelah menikah dia dan suaminya pindah rumah. Tetapi selama tinggal di rumah baru, saya belum pernah berkunjung ke sana. Tujuan utama sebenarnya untuk meminta dijahitkan selembar kain. Sejak pekan lalu ibu terus mendesak agar membawa kain itu ke penjahit karena harus saya kenakan dalam sebuah acara bulan depan. Teman saya terampil menjahit. Daripada membawanya ke tempat lain, lebih baik bawa ke dia saja. Setelah ngobrol beberapa lama, dia pun memberikan pilihan berbagai model pakaian. Banyaknya pilihan yang ditawarkan membuat saya bingung sendiri. Harusnya sebelum datang saya minta saja dia menyiapkan tiga model supaya lebih gampang memilih.

Setelah membolak-balik berbagai gambar, saya pun menunjuk satu model pakaian. Dia lalu menjelaskan panjang lebar mengenai model itu termasuk beberapa bahan tambahan yang diperlukan. Saya sesekali menimpali dengan “hmm” dan “oh, begitu”. Setelah itu, dia memastikan sekali lagi dan saya jawab oke. Gambar ditutup. Teman saya berjalan ke meja mengambil alat ukur dan memberi isyarat agar saya mendekat. Saat berdiri di hadapannya, tiba-tiba saya berubah pikiran.

“Kak, rencana berubah. Model yang tadi tidak jadi. Ganti dengan yang lebih simpel. Tidak perlu bahan tambahan. Cukupkan dengan kain yang ada.”

Dia yang sudah siap dengan meteran di tangannya terdiam, menatap saya lekat-lekat. Beberapa detik berlalu, tawanya pecah. Kening saya berkerut.

“Kenapa ketawa, kak ?”, tanya saya bingung. 

“Tidak. Tiidak ji. Bukan apa-apa. Hmm, tapi untuk persoalan yang lebih serius, jangan begitu ya”

“Persoalan yang lebih serius, misalnya ?”

“Misalnya, ada yang datang. Kamu sudah mengiyakan. Semua sudah setuju. Tapi tiba-tiba kamu batalkan sendiri. Bisa gawat, kan kalau begitu”

Seperti menyadari hal penting yang luput dari perhatian, saya tertegun sejenak. Diikuti anggukan kepala tanda setuju.

“Iya ya”

“Makanya jangan plin-plan”

Dalam perjalanan pulang, kata-katanya masih terus berputar di kepala. Jangan plin-plan. Pada situasi tertentu, saya bisa bersikap tegas. Bisa mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. Entah keputusan itu tepat atau tidak, sebab yang ditekankan adalah keyakinan saya ketika memutuskan. Setelah menakar berbagai kemungkinan tentunya. Yang saya sesali adalah jika ragu-ragu dengan keputusan yang saya ambil. Sampai kapan pun saya tidak akan tenang.

Pada situasi berbeda, saya juga bisa bersikap tidak jelas seperti tadi. Merasa blank, tak ada petunjuk untuk mengambil keputusan. Terlebih untuk sesuatu yang bersifat dadakan sementara tidak ada rencana atau persiapan sebelumnya. Biasanya, saya merencanakan sesuatu berurutan dan melakukannya sesuai rencana yang dibuat. Tapi seringnya, sesuatu yang tidak direncanakanlah yang justru terjadi. Seperti ungkapan terkenal John Lennon bahwa Life is what happens to you while you’re busy making other plans. Atau seperti nasihat kultum pondokan pada suatu malam bahwa di atas rencana kita, ada rencana Allah. 

Sejauh ini memang belum ada persoalan serius tingkat internasional menyangkut ke-plin-planan itu. Tapi kata-kata teman tadi, terus terang, membuat saya takut jika suatu saat benar-benar dihadapkan pada persoalan serius dan harus mengambil keputusan yang cepat dan tegas. Semoga saat itu tiba, saya diberi keyakinan kuat dan dituntun pada keputusan yang tepat.

 
;