05 January 2016

Catatan Awal Tahun

Banyak yang lupa bagaimana rasanya berumur 19 ketika beranjak 20, atau 25 ketika beranjak 26. Tahun 2015 menjadi tahun tercepat yang pernah saya alami. Seperti ada sesuatu yang melintas dengan kecepatan tinggi. Atau seperti semburan air yang deras. Kau mengulurkan tanganmu, berharap bisa menangkap banyak hal di dalamnya. Tapi hanya sedikit yang masuk dalam genggaman.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang resolusi awal tahun. Sejujurnya saya jarang memikirkan hal-hal semacam itu. Seperti saya ingin begini tahun ini. Atau saya ingin begini sebelum umur segini. Atau dalam sekian tahun saya sudah akan begini. Tidak, saya jarang seperti itu. Tapi bukan berarti tidak ada rencana atau tujuan sama sekali. Hanya saja, untuk beberapa hal saya lebih suka let it flow. Hidup ini tak tertebak. Terkadang hal-hal di luar rencana memberi kejutan yang lebih menyenangkan.

Salah satu hal yang saya pikirkan adalah, apa yang akan saya lakukan terhadap blog ini. Pernah kepikiran untuk menutup blog. Ada banyak alasan sih, sebenarnya. Pertama, setelah diperhatikan secara seksama dan dalam tempo seimut-imutnya, bisa disimpulkan kalau blog ini, seperti latarnya, begitu suram. Atau hanya saya yang berpikir begitu ? Kedua, tulisan di dalamnya kebanyakan curcol tidak penting (sebenarnya lebih tepat disebut tidak berguna, tapi saya tidak tega menggunakan kata ini. Hehehe). Kalimat-kalimatnya pekat, saya sendiri sesak membacanya. Ketiga, saya tidak ingin ada “kerumitan” yang lain lagi. Kadang saya pikir, jangan-jangan penyebabnya tak lain adalah blog ini. Pernah disinggung sebelumnya bahwa menulis adalah cara untuk menolong diri saya sendiri. Semacam upaya penyembuhan. Tapi menulis itu paradoks. Melegakan di satu sisi, dan menyakitkan di saat yang sama. Memang bukan hal buruk memiliki wadah menuangkan pikiran yang terbatas dilakukan di media lain. Tetapi lama-kelamaan ada hal lain yang mengikut. Hal-hal di luar dugaan, dan itu memperumit keadaan.

Pertama kali punya blog, umurnya lebih pendek dari umur jagung. Walaupun saya suka namanya. Sementara blog yang kedua ini bisa bertahan empat tahun lamanya dengan sedikitnya dua peraturan : Kolom komentar ditutup dan identitas anonim. Tidak menyebutkan nama, walaupun nampaknya beberapa orang sudah tahu. Toh blog ini tidak dirahasiakan. Pun orang-orang yang saya ceritakan lebih banyak menggunakan julukan. Awalnya, saya hanya berbagi blog dengan dua orang teman. Kedua teman saya ini lebih parah. Blognya tidak dibuka untuk umum. Untuk masuk pun mesti minta izin dulu. Tapi lama-lama keduanya tidak aktif lagi karena kesibukan masing-masing. Tinggallah blog saya yang lanjut ngalor-ngidul.

Belakangan, blog ini lebih banyak berisi tentang buku-buku yang saya baca. Dan itu lebih menyenangkan dibanding membahas yang lain. Membaca buku kemudian menuliskan kesanmu sebenarnya mirip dengan membahas diri sendiri secara tidak langsung. Seperti seni, membaca buku lebih menyangkut bagaimana melihat dirimu dibanding apa yang tertulis di atas kertas. Books are for people who wish to be somewhere else. Buku juga menjadi alternatif untuk berkunjung ke berbagai tempat, berbagai karakter dan budaya ketika di saat yang sama saya tidak beranjak kemana-mana. Kemampuan saya terbatas. Tapi buku punya kemampuan semacam itu.

Saya paling suka baca buku cerita, entah itu fiksi atau kisah nyata. Karena cerita membuat saya bebas mengambil hikmah apa saja. Kesan nasihatnya lebih dalam dan kuat dibanding jika harus dijejali teori bahwa saya harusnya begini atau idealnya harus begitu. Selain itu, kebiasaan ini juga bawaan dari SMP yang gemar baca komik. Duh, ngomongin komik jadi kangen koleksi komik jadul yang sudah hilang. Jadi ceritanya pernah ada koleksi komik yang lumayanlah, sekitar dua kardus berisi serial Rose of Versailles, Aurora, Harlem Beat, Sailor Moon, Lady Oscar, Detective Conan, Q.E.D, Pengantin Demos, komik-komiknya Yu Asagiri, Kyoko Hikawa dan beberapa lagi yang saya lupa. Terakhir kali komik-komik ini terlihat tahun 2009. Dan karena memang tidak dijaga dengan baik, sewaktu pulang kampung kardus-kardusnya sudah raib entah kemana.

Setelah komik, lanjut ke novel-novel lama yang ada di perpus sekolah, kemudian beralih ke novel remaja ketika Teenlit booming kala itu. Saya bukan kutu buku, tapi saya suka membaca genre apa saja; suspense, thriller/kriminal, drama, romance, sains fiksi, fantasi, dystopian, metropop, komedi, chicklit atau sastra (saya tidak terlalu paham pembagian genre). Pilihannya tergantung mood dan situasi. Sebenarnya kadang kepikiran juga, apa saya tidak buang-buang waktu membaca novel-novel ini ? Pernah saya tanya ke teman, dia bilang, pekerjaanmu bukan baca novel to’ saja, kan ? Jadi tidak masalah, katanya. Saya membaca untuk mengalihkan perhatian dari rutinitas, kata saya. Ya bagus itu, katanya lebih lanjut, saya sendiri  baca novel untuk mengusir sepi.

Ada blog teman yang sering dia sebut si Ijo. Teman saya ini sangat suka warna hijau. Tema blognya hijau. Tulisannya pun hijau-hijau. Hehehe. Maksudnya, Kalau kau membaca tulisannya, kau seperti memasuki padang rumput yang sejuk. Pemilihan diksinya filosofis dan dalam. Tapi menenangkan.

Ada juga blog milik teman yang lain. Yang satu ini tipe orang yang to the point, idealis dan perfeksionis. Kritikannya tajam dan pedas. Kalau orang pertama kali terlibat kegiatan bersamanya, dan belum mengenal karakternya, mungkin akan terkaget-kaget dengan sikapnya yang sangat to the point dalam menyampaikan pendapat. Yang saya suka darinya adalah, bahwa dia jujur menilai diri sendiri di hadapan orang lain. Dia tidak menutupi kekurangannya. Dia ingin orang melihatnya apa adanya. Dalam arti mengetahui letak kekurangannya. Hal yang jarang dijumpai. Saya sendiri tidak yakin ketika ada yang mengatakan “terimalah dirimu apa adanya” atau “jadilah dirimu apa adanya”. Kupikir jarang ada orang yang benar-benar ingin menerima dirinya apa adanya. Terutama jika bagian dari “apa adanya” itu adalah sesuatu yang buruk. Tak ada orang yang senang dalam keburukan. Maka yang sering kita lakukan adalah berusaha untuk memperbaiki sisi yang buruk itu, minimal menutupinya dari mata orang lain. Alih-alih berharap mereka memakluminya.

Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang pekerja keras, perfeksionis, penuh semangat dan percaya diri. Kritikannya terhadap orang lain memang pedas, tapi kritikannya terhadap diri sendiri jauh lebih pedas. Dia menyebut dirinya sebagai orang yang brengsek. Yah, itu istilah yang dia pakai. Padahal setahu saya, dia orang yang selalu berusaha tetap berada dalam koridor, berusaha keras untuk tidak melenceng keluar dari lingkaran. Tapi dia menganggap ada bagian dari dirinya yang brengsek. Terutama caranya menilai orang lain. Bahwa ia bisa menjadi sangat picik karena menjudge orang lain bahkan sebelum orang itu memperkenalkan diri. Saya tersenyum membacanya. Kalau begitu aturannya, maka ada banyak orang brengsek di dunia ini.

Sejauh ini belum ada keputusan final (halah) mengenai masa depan blog ini. Bagaimana pun “rumah” ini sudah dibangun selama empat tahun. Sesuatu tidak otomatis berubah hanya karena dihilangkan atau dihentikan begitu saja.
20 December 2015

Menjadi Dewasa ?

Aku pikir, semakin tua akan mengubahku menjadi dewasa

Aku pikir, aku cukup mencari kerja dan menikah,
dan menjadi dewasa 

Tapi, tidak satu pun dari hal-hal itu terjadi 

Biar pun aku sudah tumbuh semakin dewasa, 

Aku merasa tidak ada yang berubah 

Aku masih tidak benar-benar merasakan, 

Bagaimana menjadi dewasa itu

(Kimi to Boku season 2 chapter 3)
14 December 2015

Epilog

Matanya pernah, menatap lama ke mataku, yang selalu menatap jauh ke luar jendela. Itu menyesakkan baginya. Dan menyakitkan bagiku.

Lalu suatu ketika, matanya beralih ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang membalas tatapannya. Dan dia pun, tersenyum lepas.

Prolog

Ada beberapa hal yang ingin kukatakan. Tapi biar kuceritakan dulu sesuatu yang lain. Aku punya sepupu. Dan sepupuku ini sering mengistilahkan “tak tertolong” untuk hal-hal yang menurutnya tidak bisa atau sulit diperbaiki. Ponselnya pernah pecah berkeping-keping karena jatuh dari lantai tiga. Dia bilang, “Hpku sudah tak tertolong.” Adiknya pernah salah pakai shampoo yang membuat rambutnya kaku semua. Melihat itu ia tertawa, ”Wow, rambutmu benar-benar tak tertolong.” Begitu pun saat menonton berita konyol di TV, biasanya dia akan berkomentar, “Negeri ini tak tertolong.” 

Ketika bertemu, kami lebih sering bercanda, jarang membicarakan hal-hal serius. Kalaupun ada, ujung-ujungnya dibawa bercanda juga. Selera humornya cocok denganku. Saat libur semester aku menginap di rumahnya. Awalnya kami hanya membahas suasana kota tempatku bekerja. Lalu membahas tentang keluarga. Lalu ke novel. Lalu ke film. Lalu hal-hal lain yang tidak penting seperti betapa konyolnya Lee Kwang Soo dalam Running Man. Dan tiba-tiba tema berubah haluan ke…kau tahulah. Pandangan tentang masa depan. 

Saat tiba giliranku, kuceritakan momen ketika suatu hari aku mengantar ibu menjenguk temannya yang sakit. Teman ibu bercerita panjang lebar dan melompat-lompat tentang anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan baru-baru ini lahir cucunya yang kesekian. Di momen itu, tiba-tiba ibu menatapku agak lama. Lalu ia menoleh ke temannya dan menunjuk ke arahku sambil berkata, “Mungkin anakku ini akan selalu sendiri. Seperti mendiang neneknya”. Aku yang saat itu tengah mencicipi teh dan kue sajian tuan rumah nyaris tersedak mendengarnya. Saat kuceritakan, kedua sepupuku tertawa terbahak-bahak. 

“Sepertinya mulai sekarang aku harus ikut asuransi jaminan masa tua. Kalau-kalau itu terbukti benar”, kataku. Mereka tertawa lagi. 

Dalam hal ini kami sebenarnya sama saja. Hanya alasannya yang sedikit berbeda. Mereka siap, sementara aku tidak. 

“Aku masih nyaman seperti ini, kak”, kataku 

Sepupu menggeleng, “Itu yang bahaya,” 

“Kau benar-benar tak tertolong,” timpal sepupu yang lain 

Di waktu yang berbeda, tepatnya saat diskusi dengan rekan kerja di ruang rapat. Salah seorang di antara mereka adalah senior yang sudah lama berkerja di kampus ini. Dan juga senior semasa kuliah dulu. Pembahasan tidak jauh-jauh dari situ. Dia menanyakan pandanganku dan pendapatku masih sama seperti sebelumnya. Kukemukakan juga alasan lain yang selalu kupakai untuk mengakhiri diskusi semacam ini. Dia menggeleng mendengarnya. 

“Cara pandangmu perlu diperbaiki.” katanya, “Ada yang keliru di situ” 

Tak tertolong. Aku pun tidak begitu paham. Hanya saja sering kulihat keburukan dan kekecewaan sebelum cukup mampu memahaminya. Cenderung kulihat kehidupan dari sudut pandang yang gelap. Kadang kupikir, sepertinya ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba berhenti entah sejak kapan. Membuatku tak bisa bergerak, baik untuk maju ataupun mundur. Membuatku jadi sinis akan masa depan. Happy ending seperti menjadi dongeng yang hanya ada dalam cerita Walt Disney. Bukan dalam realita yang kita jalani. Seperti membuka pintu yang kau tidak tahu ada apa di baliknya. Jika bukan sesuatu yang menyenangkan, bagiku lebih baik tak perlu membukanya sama sekali. Kau lihat kan, betapa melelahkan menghadapi orang sepertiku. 

Tak banyak orang yang mau mendengarkan cerita orang lain. Karena masing-masing punya cerita yang ingin diperdengarkan. Kau adalah pendengar yang baik. Tak pernah kutemui ada yang mendengar ceritaku dari awal sampai akhir. Yang meluangkan waktu untuk membaca semua tulisan di sini. Sepertinya memang ada orang-orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali. 

“Silence is the most powerful scream 

Aku membaca ceritamu. Semuanya. Dan aku memilih diam. Bukan karena tidak peduli. Atau mendiamkan pertanyaan. Tapi lebih karena kupikir itulah jawaban terbaik. Jawaban terbaik memang belum tentu jawaban sebenarnya. Dan jawaban sebenarnya mungkin bukan jawaban yang menyenangkan.  Jadi jangan membenciku. Sebab kuharap ada hikmah yang bisa diambil dari semua kerumitan ini.
09 December 2015

Under The Blue Moon


Kuharap aku tidak terlambat. Semoga aku bertemu Shadow. Semoga aku bertemu Poet juga, tapi terutama Shadow. Cowok yang melukis dalam kegelapan. Melukis burung-burung yang terperangkap di tembok bata dan orang-orang yang tersesat di hutan hantu. 
Malam ini aku harus bertemu dengannya. 
Apapun yang terjadi. 

Graffiti Moon adalah judul asli novel ini, yang entah kenapa dalam versi terjemahan diganti menjadi Under The Blue Moon. Padahal dilihat dari isinya, Graffiti Moon adalah judul yang benar-benar pas. Covernya juga keren binggo (lihat gambar di bawah). Sementara Blue Moon, setahu saya, adalah istilah untuk fenomena alam ketika purnama muncul dua kali dalam sebulan. Seingatku, di tahun ini pernah terjadi Blue Moon,  tapi lupa bulan berapa. 


“Kata Mom, ketika keinginan bertabrakan dengan pemenuhan, itulah momen kebenaran.(Lucy) 

Sebenarnya saya tidak tahu kenapa tiba-tiba beli novel ini. Tapi mungkin saja karena graffiti mengingatkan pada tembok di sepanjang jalan Pettarani di Makassar. Dulu lukisannya bagus-bagus, tapi kemudian dihapus dan diganti dengan lukisan baru yang lebih payah (sorry). 

“Itulah yang kusukai dari seni, yaitu apa yang kau lihat terkadang lebih menyangkut siapa dirimu daripada apa yang terpampang di tembok. Aku memandang lukisan ini dan memikirkan betapa semua orang menyimpan rahasia.” (Lucy) 

Edward Phil(omena) Skye dan Leopold Green bersahabat sejak kecil. Ed menyukai seni tapi memiliki masalah dalam baca-tulis. Sementar Leo suka puisi dan tulisan tangannya sangat bagus. Leo selalu membantu menuliskan tugas-tugas Ed. Mereka berdua menyamar menjadi Shadow dan Poet yang melukis dinding-dinding kota. Shadow yang melukis dan Poet membubuhkan kata-kata dalam lukisan itu. Saya suka bagian ini karena apa dilukis Shadow tidak harus sesuai dengan kata-kata Poet. Artinya lukisan dan kata-kata dalam adalah dua persepsi yang berbeda. Seperti ketika Shadow melukis seekor burung yang telentang menghadap langit, Poet membubuhkan kata Damai dalam lukisan itu. Tapi Shadow tak merasa demikian dalam lukisannya. 

Lucu rasanya, dua orang bisa menatap hal yang sama tapi melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku tidak menemukan kedamaian ketika melihat burung itu. Aku melihat masa depanku, dan kuharap masa depanku cuma sedang tidur.  (Ed/Shadow) 

Sementara Lucy yang menghabiskan waktunya di studio pengrajin kaca, terobsesi oleh sosok Shadow dan Poet. Terutama Shadow. Ia sangat ingin bertemu dengannya. Hingga suatu malam menjelang akhir kelas 12, Lucy mengajak dua sahabatnya, Jazz dan Daisy serta tiga lainnya yaitu Ed, Leo dan Dylan untuk mencari sosok Shadow. Di sini masalahnya, karena Ed dan Leo harus berpura-pura ikut mencari sosok misterius yang tak lain adalah diri mereka sendiri. Ed dan Lucy kenal satu sama lain, tapi ada pengalaman tak menyenangkan dua tahun sebelumnya yang membuat Lucy mematahkan hidung Ed.

“Namun, itu tidak kulakukan, karena definisi gila adalah melakukan sesuatu yang hampir sama dua kali dan mengharapkan akhir yang berbeda” (Ed/Shadow) 

Novel ini mengambil sudut pandang yang berganti-ganti antara Lucy Ed, dan kadang-kadang Leo. Tapi bagian Leo semuanya diisi oleh bait-bait puisi. Saya suka karakter tokoh-tokohnya. Tidak ada kesan karakter laki-laki ditulis oleh perempuan. Selain itu pemilihan kata-kata penulisnya keren. Untuk menggambarkan malam saja penulisnya membuat seolah-olah malam itu bola raksasa yang gelap. Sisanya, saya begong saja, karena bukan anak seni jadi banyak yang tidak saya pahami. Tentang proses pembuatan kaca, tentang pemilihan warna cat atau tokoh-tokoh seni yang tidak saya kenal. 

“Jika terlalu dingin, ia akan pecah. Terlalu panas, bentuknya akan berubah. Ketahuilah sifat-sifat kaca, dan kau bisa membentuknya menjadi apa pun yang kau inginkan.” (Al) 

Satu-satunya kekurangan (jika bisa disebut kekurangan), adalah tidak ada visualisasi yang mendukung. Saya penasaran seperti apa lukisan-lukisan Shadow yang dideskripsikan dalam novel. Atau seperti apa model huruf buatan Poet yang beri nama empty itu. Tidak adanya visualisasi membuat saya sulit konsentrasi. Sepertinya kata-kata yang saya baca berhamburan keluar sebelum sempat saya cerna. 

“Mimpi adalah satu-satunya cara pergi ke tempat mana pun.”  (Ed/Shadow) 

Terakhir, ada dua puisi Poet yang yang saya suka berjudul Mungkin  dan Detak di Dalam. Puisi Mungkin sebenarnya datar-datar saja, tapi entah kenapa seperti tidak asing kubaca.  

Mungkin 
Mungkin kau dan aku 
Mungkin kau dan aku 
Mungkin kau dan aku 
Tapi mungkin tidak 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Tapi mungkin tidak

Detak di Dalam 
Di dalam tubuhnya ada pagar kawat 
Dan di balik pagar kawat itu ada anjing 
Dan di balik anjing itu ada pencuri-pencuri 
Dan di balik pencuri-pencuri itu 
Ada segerombolan mimpi buruk 
Dan di balik mimpi-mimpi itu 
Jika kau bisa melewati mimpi-mmpi itu 
Ada hal-hal yang membuatnya berdetak
Tak, tak, tak
23 November 2015

Eleanor & Park


Eleanor itu gendut
Dirinya pun berpikir dia begitu...
Sebenarnya dia tidak segendut yang dipikirkannya
Pikirnya, aku pasti tidak semenjijikkan itu

Bono, vokali U2, bertemu istrinya di SMA, kata Park
Begitu pula Jerry Lee Lewis, jawab Eleanor
Aku tidak bercanda, Park meyakinkan
Tentu, Eleanor menambahkan, kita ini 16 tahun
Bagaimana dengan Romeo dan Juliet ?
Dangkal, bingung, lalu mati
Aku mencintaimu, Park meyakinkan
Karena itulah..., jawab Eleanor
Aku tidak bercanda, katanya
Kau memang tidak boleh bercanda

Skefo, gambar yang di atas itu bukan cover terbitan Phoenix. Karena yang itu sedikit aneh dan kurang nyaman dilihat (sorry). Ngomong-ngomong soal cover, terutama untuk novel, saya tidak begitu terkesan dengan desain yang bergambar manusia. Lebih suka kalau mengambil tema lain yang tetap menggambarkan isi. Daun-daun kering, pohon-pohon, jalan raya, sepeda, langit, pelangi, kereta, jam dinding dan benda-benda lainnya lebih menarik di mata ketimbang foto manusia. Eh tapi, seumur-umur saya belum pernah lihat cover novel bergambar tiang listrik dengan kabel-kabel melintang yang berlatar langit sore. Pasti keren kalau ada yang semacam itu. Oke, back to the topic!

Tertarik baca novel ini karena ada embel-embel "Buku Fiksi Terbaik Boston Globe Book Award 2013" serta rating bagus dari beberapa review yang saya baca. Selain novel ini, ada pula Fangirl, novel lain Rainbow Rowell yang juga banyak dibicarakan. Tapi ini novelnya yang pertama saya baca. Kalau suka, mungkin saya akan membaca novelnya yang lain.

Bermula dari bulan Agustus 1986. Eleanor, murid baru di sebuah sekolah menengah di Omaha, dan Park Sheridan, remaja blasteran Amerika-Korea, terpaksa duduk bersebelahan dalam bus sekolah setiap hari. Eleanor berasal dari keluarga yang kacau. Tinggal bersama ibu dan keempat adiknya serta ayah tiri yang pemabuk dan gemar melempar barang-barang ketika marah. Sementara Park dibesarkan dalam keluarga harmonis yang langka. Eleanor dengan gaya pakaian yang nyentrik dan Park yang tenang, disukai dan jago Taekwondo. Mereka saling mengacuhkan, tak pernah berbicara satu sama lain. Eleanor menyebut Park Anak Asia Bodoh, sementara Park menyebut Eleanor Gadis Aneh. Kekakuan di antara mereka perlahan luntur ketika Park yang doyan baca komik menyadari bahwa Eleanor juga ikut membaca komiknya selama perjalanan dalam bus. Dan cerita pun berlanjut. Silakan baca sendiri yah.

Bagi yang kangen era 90-an, novel ini menawarkan nuansa semacam itu. Kaset pita, telepon rumah, film Chocolate Factory, walkman, U2, piringan hitam. Jadi ingat masa ketika dering telepon rumah menjadi sesuatu yang mewah. Kau akan berebutan dengan adikmu demi menjadi yang pertama mengangkat telepon. Atau kau akan mengingatkan seisi rumah kalau kau sedang menunggu telepon penting dari seorang teman. Walkman, kaset pita dan sekotak baterai juga menjadi teman yang setia. Kau bisa belajar semalaman suntuk bersama mereka. Atau membaca setumpuk komik di sela-sela tugas sekolah. Saya menikmati bagian ini. Dan juga bagian awal-awal cerita yang temponya berubah-ubah. Membuatmu senyum-senyum sendiri dan ber-ciee selama membaca. Yang saya suka adalah kekakuan antara Eleanor dan Park yang cair dengan begitu natural. Bahkan nyaris tanpa kata-kata perkenalan atau semacamnya. Bagaimana bisa suasana akrab terjalin pada orang yang duduk berdampingan dan tak pernah berbicara satu sama lain ? Padahal sebelumnya mereka berusaha saling menyingkirkan dalam diam. Berterima kasihlah pada komik-komik itu.

Karakter Park tenang, tapi sikapnya kadang tak terduga. Itu yang membuatnya menyenangkan. Dia tidak sepopuler Ezra dalam The Beginning of Everything. Tapi cukup disukai orang-orang. Dan bagi orang yang berdarah campuran, Park merasa tidak punya tempat di antara kawan-kawannya. Orang-orang selalu menganggapnya sebagai orang Asia, tapi Park lahir dan besar di Amerika, tak pernah menginjak Korea dan bahkan jarang mendengar tentang Korea dari ibunya sendiri. Park tak pernah menanggap dirinya menarik karena standar menarik bagi Amerika bukan yang seperti dia. Teman-temannya menganggapnya feminin karena kulitnya yang dominan Asia.

Eleanor berambut merah keriting, bertubuh besar dan gaya pakaian yang aneh. Nyaris tak ada yang mau jadi temannya karena tampilan fisiknya. Dia menyadari kekurangannya tapi selalu menjadi dirinya sendiri. Walaupun dia gampang tersinggung ketika ada yang mengomentari kekurangan itu. Dia tidak berusaha mengubah dandanannya karena sudah nyaman seperti itu. Kuat dan cengeng di waktu yang bersamaan. Kuat karena bisa menahan ejekan dan kelakuan Tina and the gank. Kuat karena tak perlu menceritakan pada ibunya yang bisa membuatnya khawatir. Tapi moodnya berubah-ubah dan cepat tersinggung, terutama jika bersama Park. Menjengkelkan juga tokoh ini.

Sayangnya ciee-ciee yang sering dilontarkan di awal, hanya berhenti sampai di situ. Ketika dialog ambil bagian dan ketika hubungan semakin dekat, itu berubah menjadi berlebihan. Saya tidak suka kata-kata yang berlebihan. Mencintaimu selamanya. Milikmu selalu. Kau matahariku. Dan kata-kata semisal itu, cenderung emosional. Kau tahulah. Di satu sisi mungkin kau ingin memercayainya. Tapi kau juga tahu bahwa sebagian besarnya hanya omong kosong. Ketika berjanji, orang sering tidak menyadari apa yang mereka katakan. Maksudku bukan tentang Eleanor atau Park (saya menyukai kedua tokoh ini), tapi kalimat-kalimatnya secara umum. Tentu tidak semuanya seperti itu, sebagiannya lagi tetap realistis dan menyentuh. Tapi tetap saja yang tadi itu sedikit mengganggu. Saya suka kata-kata yang dingin, sedikit kejam tapi jujur dan tidak mengada-ada, dengan campuran antara pahit dan manis. Seperti cokelat mungkin. Saya tidak terkesan kalau ada banyak kalimat cinta. Menulis kata ini pun canggung rasanya. Karena sulit diukur dan terlalu rumit  menentukan kriteria objektifnya. Kenapa tidak disederhanakan saja menjadi suka atau kagum ? Ini lebih mudah menurutku. Tapi ya suka-suka penulisnya toh, mau menulis apa saja yang dia mau.

Akhir cerita boleh dibilang menggantung. Pembaca disuruh menebak-nebak isi pesan di baris terakhir. Tapi opsi mana saja tidak masalah. Saya sudah terhibur membaca novel ini di tengah kerjaan kampus.
05 November 2015

Arigatou

Entah kapan terakhir kali mendengar kata-kata Mr. Children ini. Karena suatu alasan tertentu, malam ini jadi teringat kembali. Akan tiba masa ketika kita harus menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Maka datang dan pergi adalah hal yang biasa. Jadi, terima kasih karena telah bersedia membaca coretan-coretanku. Terima kasih.

Sayonara ga mukae ni kuru koto
Even if we knew from the beginning

Saisho kara wakatte ita to shitatte
That we would eventually have to say goodbye

Mou ikkai, mou ikkai
Once more, once more

Mou ikkai, mou ikkai
Once more. once more

Kimi ni kokoro kara arigatou o iu yo
I want to say "thank you" to you from my heart

(Hanabi, Mr. Children)
 
;