04 September 2016

Kesetiaan Mr. X (Yõgisha X no Kenshin)


Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu. 

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami. 

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja. 

Ini pertama kalinya baca novel detektif karangan Keigo Higashino yang dilihat dari tahun terbit ternyata sudah lama beredar (pertama kali terbit tahun 2005 di Jepang). Novel ini juga sudah diadaptasi ke layar kaca. Beberapa tahun lalu sepupu sempat menyinggung dorama berjudul Galileo. Katanya ratingnya cukup tinggi di Jepang. Tapi cuma sebatas itu. Sampai sekarang belum pernah nonton karena tidak terjangkau radar si Tukang Donlot. Wehehehe… 

“Soal-soal dariku sama sekali tidak sulit. Aku hanya memanfaatkan lubang kelemahan dalam asmumsi mereka.” 

Dalam novel detektif, biasanya penulis menyajikan sederet nama agar pembaca ikut menebak pelaku kejahatan berdasarkan petunjuk yang disediakan. Tapi novel ini mengandalkan trik rahasia yang digunakan. Sebab pelaku pembunuhan sudah jelas di awal cerita yaitu Yasuko Hanoka. Yang kemudian tetangganya, Ishigami menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat dan menyelamatkan Yasuko dari tuduhan. 

“Mana yang paling sulit : membuat soal yang sulit dipecahkan orang lain atau memecahkan soal itu sendiri ?” 

Yukawa, sang professor Galileo, dan Ishigami adalah teman seangkatan di Universitas Teito. Ishigami mengambil jurusan matematika sementara Yukawa di jurusan fisika. Yukawa meneruskan penelitian hingga menjadi asisten profesor. Sementara Ishigami karena satu dan lain hal, berakhir menjadi guru matematika di SMA swasta. Kasus inilah yang mempertemukan mereka kembali. 

Nah, apa jadinya jika dua orang genius bertemu dengan tujuan yang saling bertolak belakang ? Yang satu ingin mengungkap kejahatan, dan satunya lagi berusaha melindungi pelaku kejahatan. Ishigami mengerahkan seluruh kemampuan dan kecerdasannya untuk membantu Yasuko dan putrinya. Ia mengajarkan mereka hal-hal yang harus dilakukan untuk memperkuat alibi, cara bersikap di depan polisi dan cara menjawab pertanyaan para detektif agar tidak ada kontradiksi. Semua dirancang secara sistematis oleh Ishigami sendiri. 

“Saat orang biasa berusaha menutupi kejahatannya serumit mungkin, justru kerumitan itu yang akan membuatnya menggali lubang kubur sendiri. Tapi orang genius takkan sampai berbuat begitu. Dia akan memilih metode sederhana, tapi tak pernah terpikirkan atau bakal dipilih orang biasa untuk membuat kasus itu menjadi sulit.” 

Poin penting kasus ini adalah trik yang digunakan Ishigami untuk membuat alibi Yasuko sulit dipatahkan. Saya sendiri tidak menyangka ia menggunakan trik semacam itu. Triknya terlihat tidak rumit, tapi tidak akan terlintas di pikiran orang biasa. 

"Mana yang paling mudah : menjawab berdasarkan pemikiran kita sendiri atau memastikan benar-tidaknya jawaban yang berasal dari pihak lain ?” 

Yang menarik, novel ini tidak melulu membahas tentang pemecahan kasus. Tapi juga mengajak pembaca untuk memahami menusia dan jalan pikiran mereka. Terutama manusia jenius yang jatuh cinta pada seorang pelaku pembunuhan. Penyelesaian kasus juga bukan dengan memojokkan pelaku berdasarkan bukti-bukti sehingga ia tak bisa lagi mengelak. Pendekatan yang dipakai sama sekali berbeda. Ending-nya boleh dibilang layak untuk semua tokoh. Saya sampai terharu dibuatnya. Bagaimanpun, ada rasa sedih yang tersisa meski kasus sudah ditutup. 

“Di dunia ini tak ada roga gigi yang tak bermanfaat dan yang bisa menentukan bagaimana dirinya akan digunakan hanya si roda gigi itu sendiri.”
01 September 2016

The Wrath & The Dawn


Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan adalah seorang monster. Dia menikahi perempuan muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba. Ketika sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran bersumpah akan menuntut balas. Ia mengajukan diri menjadi pengantin Sang Khalif. Shahrzad tak hanya bertekad untuk bertahan hidup, tapi juga bersumpah akan mengakhiri rezim kejam sang raja. 

Malam demi malam, Shahrzad memperdaya Khalid, menceritakan kisah-kisah memikat yang membuatnya terus bertahan, meski tiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya melihat matahari terbit. Tetapi sesuatu yang tak terduga mulai terkuak: ternyata Khalid bukanlah sosok yang Shahrzad bayangkan. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh berdarah dingin. Mata emasnya memancarkan kehangatan. Monster yang ingin dilawan Shahrzad itu tak lebih daripada pemuda dengan jiwa tersiksa. Dan Shahrzad mulai jatuh hati kepadanya… 

Well…well…tentang balas dendam yang berubah jadi jatuh hati, tentang cinta yang tidak direncanakan. Tema semacam ini biasanya selalu menarik minat pembaca romance. Tertarik baca novel ini karena latarnya yang kental nuansa Timur Tengah. Apalagi ceritanya terinspirasi dari novel klasik The Arabian Nights atau yang dikenal dengan Kisah 1001 Malam. Saya sendiri belum pernah baca novel itu tapi tahu sedikit lewat buku-buku lain. Buku Titik Nol-nya Agustinus Wibowo juga meminjam gaya The Arabian Nights. 

Alkisah, ada seorang Sultan yang sangat mencintai istrinya dan melakukan apapun demi sang istri. Sayangnya istri tersebut tidak mencintai sang Sultan, bahkan menipunya. Sultan yang kecewa dan sakit hati pun akhirnya membenci wanita. Baginya semua wanita sama liciknya dengan istrinya. Oleh karena itu jumlah mereka harus dikurangi. Maka setiap malam sang Sultan menikahi seorang perempuan, kemudian saat fajar ia memerintahkan wazir (penasihat)nya untuk membunuh perempuan itu. Begitu seterusnya hingga suatu hari putri sang wazir mengajukan diri untuk diperistri oleh Sultan. Putri tersebut menguasai filsafat, sastra, sains dan seni. Di malam hari sang Putri menceritakan kisah yang menarik minat Sultan. Tapi kisah itu berakhir menggantung ketika fajar tiba. Sultan yang penasaran dengan kelanjutan cerita memutuskan menunda eksekusi sang Putri. Malam demi malam sang Putri terus menceritakan kisah yang berakhir menggantung hingga akhirnya genap 1001 malam. Lewat kisah-kisah sang Putri itulah dikenal Aladin dan lampu ajaibnya, permadani terbang, kisah raja-raja hingga Sinbad si Pelaut Ulung. 

“Seratus kehidupan untuk satu nyawa yang kau ambil. Satu kehidupan untuk satu fajar.” 

The Wrath & The Dawn karya Renee Ahdieh ini adalah re-telling The Arabian Nights. Di kerajaan bernama Khorasan, berhembus rumor bahwa raja mereka, Khalid Ibnu al-Rashid telah berubah menjadi monster. Setiap malam ia menikahi perempuan muda yang dipilih secara acak. Perempuan-perempuan ini tidak ada yang hidup lebih dari satu hari dalam istana karena menjelang fajar leher mereka dijerat tali sutra hingga tewas. Suatu hari, sahabat Shazi bernama Shiva ikut menjadi korban sang Raja. Shazi yang ingin menuntut balas mengajukan diri menjadi istri sang Raja. Ia berniat membunuh Raja dengan tangannya sendiri. Malamnya Shazi menceritakan kisah tentang Agib si pelaut miskin. Kisah itu menggantung ketika fajar tiba sehingga Khalid, sang Raja, bersedia menunda eksekusi Shazi. Begitulah selama beberapa malam Shazi menceritakan kisah bersambung sambil mencari cara untuk membunuh Khalid. 

Tetapi Khalid yang tumbuh di lingkungan istana sejak kecil telah dilatih untuk berperang. Ia ahli menggunakan pedang. Secara fisik dan kemampuan, Khalid adalah lawan yang sulit dikalahkan. Pelan-pelan Shazi menyadari bahwa Khalid tidak seperti rumor yang beredar. Ia pun mulai mencari tahu alasan mengapa Khalid membunuh istri-istrinya. Ada rahasia gelap tersembunyi di dalam istana. 

Bagaimana, cukup menjanjikan bukan ? Hihihi… 

Buat penyuka romance, novel yang satu ini tidak boleh dilewatkan. Tokoh laki-lakinya sedingin es (dingin-dingin minta ditabok) sementara tokoh perempuannya kepala batu. Setelah lebih jauh, ternyata si tokoh laki-laki tidak seperti yang terlihat. Sebenarnya ia hangat dan penuh perhatian (eaaa…). Maka si tokoh perempuan pun jatuh kecebur, eh jatuh hati maksudnya. Karakter semacam Khalid sering dijumpai dalam novel atau film (atau anime), dan biasanya menjadi karakter yang memiliki baaaaanyak sekali fans. Itulah kenapa orang-orang lebih suka Rangga dibanding Mamet, atau Sasuke dibanding Naruto, atau Levi dibanding Eren. Tapi aku tetap padamuuu, Sanji-kun… *mulai gagal fokus* 

“Senyumnya merobek sesuatu yang mengaku sebagai jiwaku”  *ulalaa… 

Ceritanya lebih dititikberatkan pada tokoh Khalid, Shazi, serta konflik perebutan kekuasaan. Adapun kisah-kisah yang diceritakan Shazi hanya muncul di awal perkenalan mereka. Novel ini juga bisa disebut fantasi karena memuat unsur sihir dan semacamnya. 

“Ada perbedaan besar antara bermaksud melakukan sesuatu dan benar-benar melakukannya.” 

Ada banyak tokoh protagonis dalam novel tapi karena ceritanya berlanjut ke jilid dua jadi belum bisa dipastikan siapa yang benar-benar baik. Dibanding dua tokoh utama, saya lebih suka tokoh Jalal, sang Jenderal Al-Khoury, penasihat sekaligus sepupu Khalid. Tapi dalam novel ini karakternya belum banyak dikembangkan. Selain itu saya masih penasaran dengan tokoh Ava. Menurutku dialah yang paling layak dikasihani. Apa yang terjadi pada Ava membuat saya semakin jengkel sama Khalid.

Hal lain yang menarik adalah nuansa timur tengah yang kental (mungkin gabungan budaya India, Arab dan Persia) mulai dari menu makanan, pakaian, arsitektur bangunan, interior istana, model senjata, budaya hingga bahasa. Misalnya saja cara salam ketika bertemu atau berpisah. Kalau dalam budaya lain, salam bisa dilakukan dengan jabat tangan, cipika-cipiki, atau menangkupkan kedua telapak tangan di dada, atau membungkukkan badan. Dalam novel ini, salam dilakukan dengan membungkuk dan tangan menyentuh alis kemudian pindah ke dada, sedikit di atas jantung. Salam ini bermakna penghormatan dan kasih sayang. 

Dari segi bahasa juga banyak menggunakan kosa kata asing seperti effendi dan jan, akhiran yang melekat pada nama. Akhiran “effendi”  menunjukkan rasa hormat sementara akhiran “jan” berarti “sayangku”. Misalnya memanggil Jalal dengan Jalal-effendi  atau Khalid dengan Khalid-jan. Ada juga kata delam (jantung hatiku) dan joonam (segalaku) *mantap ^^. Meski arti kedua kata ini terdengar lebay, tapi ketika masuk dalam dialog dan dibaca dalam bahasa asli, ternyata dapat memicu efek doki-doki bagi pembaca *Hahaha… Kebayang Luffy atau Zoro memanggil dengan sebutan delam atau joonam, aiihh…bisa berbusa mulut penonton. 

“Kalaupun harus ada pilihan di antara kita, kau tidak perlu memilihnya, joonam. Tidak untukku.” 

Novel ini tampaknya lebih cocok untuk pembaca perempuan. Biasalah, perempuan suka cerita yang manis-manis menyakitkan. Kalo laki-laki mungkin akan bosan karena tidak banyak action berdarah-darah dan tidak ada super hero dalam cerita. 

“Ketika memikirkanmu, aku tidak dapat menemukan udara untuk bernapas. Dan sekarang, meskipun kau sudah pergi, tidak ada rasa sakit atau rasa takut. Yang tertinggal hanyalah rasa syukur."

Dongeng-dongeng yang pernah kita dengar semasa kecil, jika dipikirkan, memang merupakan kisah yang menakjubkan. Salah satu pelajaran yang dipetik adalah betapa sulitnya menjadi orang-orang dalam dongeng itu. Yang perempuan harus pandai bercerita agar selamat dari eksekusi. Sementara yang laki-laki harus membangun seribu candi demi mendapatkan seorang istri.

Random (10)

Canggung rasanya memainkan tombol-tombol di keyboard laptop. Sudah empat bulan saya tidak menulis apapun. Padahal setiap hari mengutak-atik laptop, tapi bukan untuk menulis. Kalau pun ada niat buat menulis, itu tidak cukup besar untuk ditindaklanjuti. Beberapa bulan ini dorongan menulis seperti samar-samar. Seperti embun yang menempel di kaca. 

Ada yang bilang menulis itu ibarat minum obat, yang kau butuhkan saat sakit dan berhenti setelah sembuh. Ada pula yang menganggapnya kebutuhan primer. Bagi saya, menulis bukan semacam obat, walau saat “sakit” saya bisa menulis lebih sering dari biasanya. Juga bukan kebutuhan yang setiap hari harus dilakukan layaknya makan dan minum. Jika memang ingin, saya akan menulis. Dan keinginan itu harus cukup kuat untuk menggerakkan. Jika memaksa menulis, biasanya saya tidak suka hasil tulisan yang saya buat. 

Terkadang saya membaca ulang semua tulisan di laptop. Beberapa di antaranya betul-betul saya suka, tapi banyak juga yang tidak. Jika diingat-ingat, tulisan yang saya suka itu adalah tulisan yang saya buat sepenuh hati. Sementara yang tidak mengesankan, sampai kapan pun tidak akan mengesankan. 

Saat membuat blog, saya memasang target untuk diri sendiri : minimal satu tulisan satu bulan. Target itu membuat saya seperti dikejar deadline. Padahal saya bukan penulis. Siapa pula yang menunggu tulisan saya ? Tapi saya tetap berusaha memenuhi target itu. Sayangnya, ada saat saya benar-benar tidak bisa memaksa menulis. Sesuatu yang dipaksakan biasanya tidak berakhir baik. Sama seperti berteman. Memaksa mendapat teman biasanya berakhir kekecewaan. Jika ada titik temu, kau akan berteman. Jika tidak, cukup jadi kenalan. Bukan berarti membatasi diri atau pilih-pilih. Setiap orang boleh berteman dengan siapa saja. Tapi bukankah setiap orang juga selalu membagi pertemanannya dalam lingkaran tertentu ? Di lingkaran pertama, atau yang paling dekat, tentu orang-orang yang ia percaya atau dengannya ia bisa membuka diri. Sementara di lingkaran berikutnya adalah yang di luar dari itu. 

Apa yang membuat kita berteman dengan orang lain ? Maksudku selain sebagai kebutuhan. Terhubung dengan orang-orang memang keniscayaan, tapi berteman adalah pilihan. Jawaban yang paling sering adalah karena cocok. Karena nge-klik secara alami. Kenapa bisa cocok ? Jawabannya bisa mudah atau bahkan tidak memiliki jawaban. Kita jarang bertanya lebih lanjut. Dan nampaknya memang tidak perlu. Kalau sudah cocok, selesai. 

Tapi kadang pertanyaan ini muncul di kepala saya. Apa yang membuat orang mau berteman dengan saya ? Mudah menjawabnya andaikan saya memiliki hal-hal yang bisa dijadikan jawaban. Karena cerdas, misalnya. Seperti salah satu teman seangkatan : cerdas dan keahliannya dibutuhkan banyak orang. Sering dimintai bantuan, dia pun senang membantu orang lain. Ramah dan tidak suka pamer. Orang-orang tentu senang berteman dengannya. Beberapa lagi yang kukenal memiliki wajah rupawan. Beberapa lagi pandai menarik perhatian. Membuat orang betah bersamanya karena selalu ada topik menarik dibicarakan. Mereka mampu membuat orang-orang di dekatnya masuk dalam topik itu. Atau sebaliknya, mampu mencari topik yang orang-orang mudah masuk ke dalamnya. Mereka juga berimbang membagi percakapan denganmu dan dengan orang lain. Saya selalu kagum pada orang-orang dengan kemampuan semacam ini. Beberapa lagi adalah orang berkelebihan. Membuatnya seperti cahaya lampu yang dikelilingi banyak laron. 

Tapi saya tidak memiliki satu pun dari semua itu. 

Saya adalah orang kebanyakan. Sangat biasa, bisa kau temui di mana saja. Untuk hal tertentu, beberapa orang memang terlihat lebih dibanding yang lain. Tapi dalam banyak sisi, kebanyakan adalah orang kebanyakan. Yang bila diteropong dalam skala besar semuanya tampak mirip. Jadi kadang saya ingin tahu : apa yang membuat orang mau berteman dengan saya ? Apa yang mereka cari ? Saya tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Tapi mereka tetap mau berteman.

Jika demikian adanya, itu benar-benar sesuatu yang patut disyukuri.
28 April 2016

Random (9)

Gud morning, epribadeeh!! Apa kabar ? Alhamdulillah saya di sini baik-baik saja. *siapa yang nanya ?^^ 

Belakangan ini saya jadi pelupa. Lupa helm di lantai 3 sementara saya sudah di parkiran. Lupa menanyakan pertanyaan yang sama ke orang yang sama selama tiga minggu berturut-turut. Lupa janji ketemu teman, padahal kita mau minum es kelapa muda, hikz! Lupa kembalikan buku-bukunya orang, karena sudah serasa milik sendiri *dilempar sepatu. Dan lupa kalau ada blog yang harus ditunaikan haknya. Untunglah saya tidak lupa nama sendiri. Itu amnesia namanya. 

Well, aktivitas tidak banyak berubah sejak datang ke sini setahun lalu. Wow, sudah setahun rupanya. Tidak terasa, ya. Rutinitas biasanya berputar di 6 K : Kampus, Kamar, Kajian, Kamali, Kota Mara dan Kajili-jili. Yang terakhir itu mungkin hanya orang selatan yang paham. Tapi anggap saja itu rutinitas acak supaya tidak bosan. Kampus-kamar berlangsung selama beberapa hari seminggu. Ikut kajian minimal dua kali sepekan. Insya Allah bulan depan akan ada Tabligh Akbar di masjid raya kota ini. Bertahun-tahun halaqah di Makassar kemudian pindah ke halaqah baru, dengan orang-orang baru, di tempat baru, dengan kultur yang sama sekali berbeda bukanlah proses yang mudah. Sepupu pernah bilang waktu terakhir ketemu, katanya mungkin saya belum dapat chemistry-nya. Tapi pelan-pelan saya mulai merasa nyaman di sini. Kenyamanan juga butuh waktu, nikmati saja. 

Kamali itu area pantai. Kadang-kadang seminggu atau dua minggu sekali makan di salah satu kedai di area ini. Kadang sendiri, kadang sama teman dan kadang sama paman dan bibi. Btw, orang sini kebiasaannya panggil paman dan bibi, bukan om dan tante. Kota Mara juga wilayah pantai, ada Islamic Center di sana. Saya juga belum tahu kenapa disebut kota. Saya suka lewat sini sore-sore karena pemandangan laut dan langitnya. Ingat tidak saya pernah bilang kalo belum ada tempat di mana matahari terbenam begitu indah selain di pantai kota Benteng ? Ingat ? Nampaknya saya harus merevisi kata-kata itu. Karena langit sore di sini cantik betul, apalagi selepas hujan. Kadang-kadang awannya berwarna pink, seperti warna permen kapas. Rembulan juga terlihat lebih terang dan besar. Mungkin karena pengaruh topografinya yang bergunung-gunung. Kadang-kadang selepas makan malam, saya ikut paman dan bibi mutar-mutar keliling kota. Pemandangan paling bagus terlihat dari benteng keraton. Karena kota yang dihiasi lampu-lampu terlihat kecil dari atas situ.   

Oke cukup sekian kabar-kabarinya. Sekarang mau bahas buku dulu. Soalnya belum tahu kapan bisa update tulisan lagi. Semakin hari saya semakin jarang mencoret-coret di blog. Padahal ada banyak yang ingin saya tuliskan. Toko buku jarang dijumpai di kota ini. Kalau pun ada, beberapa di antaranya buku bajakan. Kemarin sempat nemu Bumi Manusia-nya Pram di salah satu toko buku. Tapi harganya hampir setengah harga normal. Setelah saya perhatikan, kualitas kertasnya juga beda. Rasanya berdosa kalau beli buku bajakan, apalagi bukunya Pramoedya. Jadi demi memuaskan hasrat membaca, pesan online jadi satu-satunya pilihan. 

Salah satu jenis buku yang saya suka adalah buku yang membuat pembacanya lebih mengenal diri mereka sendiri. Seperti Think Like A Freak dan Hector And The Search For Happiness yang baru-baru ini saya baca. Yang satu non fiksi dan satunya lagi novel yang sepertinya banyak mengambil kisah pribadi penulis. Selain itu saya juga suka buku yang mengupas karakter manusia seperti karakter menurut golongan darah atau karakter berdasarkan sidik jari. Walau kupikir analisis sidik jari lebih akurat dibanding golongan darah. Salah satu sepupu yang kuliah di jurusan komunikasi sering mengoleksi buku-buku pengembangan diri. Malcolm Gladwell, David J. Lieberman dan Dale Carniege saya tahu lewat dia. 

Selera baca saya banyak dipengaruhi orang lain. Mulai tertarik tema konspirasi waktu SMA setelah baca bukunya Rizki Ridyasmara berjudul Knight Templar Knight of Christ yang dibawa pulang sepupu saat libur semester. Mulai nge-fans sama Andrea Hirata ketika pra kuliah dulu teman sepupu berkunjung dan membawa novel Laskar Pelangi. Waktu itu belum ada label bestseller-nya. Mulai suka novel-novelnya Gayle Forman ketika suatu hari diundang teman makan siang di rumahnya, dan secara tak sengaja melihat If I Stay di salah satu deretan bukunya. Mulai baca trilogy Titik Nol-nya Agustinus Wibowo setelah tak sengaja melihat rombongan perempuan berparas Masyaa Allah di pelataran masjid, dan mereka berasal dari Kazakhstan. Mulai suka buku-bukunya Adian Husaini setelah baca novel Kemi yang secara tak sengaja (ah, kenapa banyak sekali ketaksengajaan dalam hidup saya ?) ditemukan di salah satu stan ketika ikut seminar di LAN. 

Mulai suka Haruki Murakami setelah membaca Norwegian Wood. Yang setelah itu lanjut ke buku-bukunya yang sudah diterjemahkan. Tapi sebenarnya ketertarikan pada novel-novel Jepang dimulai jauh sebelum itu, setelah membaca novel thriller-nya Ryu Murakami berjudul In the Miso Soup dan genre komedi berjudul Tahun 69 yang dipinjam di Snoppy. Dan jika waktu diundur lagi, mungkin setelah membaca dwilogi Samurai-nya Takashi Matsuoka yang dipinjam dari seorang teman. Atau mungkin setelah baca tetralogi Klan Otori yang dipinjam dari temannya teman. Saya sendiri sudah lupa yang mana duluan. 

Hector And The Search For Happiness, Think Like A Freak, Ugly Love, O-nya Eka Kurniawan dan Seribu Bangau (Senbazuru)-nya Yasunari Kawabata adalah buku-buku yang sebulan terakhir saya baca. Ini pertama kalinya baca karya Kawabata atas rekomendasi seorang penikmat sastra. Menurutnya, Kawabata lebih bagus dari Murakami. Wow, penasaran juga. Beberapa tahun lalu pernah lihat Snow Country-nya di gramed, tapi belum minat beli. Setelah itu masih ada antrian Never Let Me Go-nya Kazuo Ishiguro, What I Talk About When I Talk About Running-nya Haruki Murakami dan beberapa buku lagi. The Silmarillion-nya J.R.R Tolkie belum ada sepertiga saya baca. Banyaknya tokoh dan rumitnya sejarah dunia Middle-Earth membuat buku ini harus dibaca dalam mode petapa. Selain itu masih ada buku-buku kuliah yang memang jadi bacaan wajib. Karena pekerjaan yang sekarang membuat saya belajar jauh lebih keras dibanding waktu kuliah. Hehehe…

Yap, sekian cuap-cuapnya. Sudah ada panggilan rapat dari tadi. Sampai ketemu di tulisan berikutnya ^^
08 March 2016

Yang Tidak Kita Sukai dari Perubahan

“Jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain.”
~J.D. Salinger, The Catcher in The Rye~

“Selayar itu masih virgin yah ?”, komentar Yoru ketika (pertama kali) melihat seekor tupai melintasi kabel listrik di sepanjang jalan depan rumah. Beberapa waktu lalu Yoru berkunjung lagi ke Selayar, untuk ketiga kalinya. Dia sudah jalan-jalan ke pulau Tinabo, Jinato, Liang Kareta dan banyak tempat lainnya dengan gratis. Benar-benar bikin iri. Saya yang asli orang sini saja belum pernah main-main ke Tinabo dan Jinato. Lha dia, orang jauh dari Bima sono tiba-tiba sudah kesana-kemari, gratis pula! Wahai…

Melihat satu-dua ekor tupai berlarian di atas kabel listrik merupakan pemandangan yang biasa untuk ukuran kota kecil ini, terutama di area jalur dua. Tapi pemandangan biasa ini mungkin tidak akan kau temui di kota besar dan padat. Sehingga mengundang rasa kagum tersendiri. Sebab masih ada yang belum berubah ketika semua hal nyaris berubah. Saya sendiri tidak tahu berapa lama tupai-tupai itu bertahan di habitatnya. Kota ini pelan-pelan mulai giat membangun. Yang dulunya hutan sekarang berubah jadi bangunan.

Internet, TV kabel atau smartphone pun dikonsumsi nyaris semua kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa. Dari pejabat sampai pengayuh becak. Hal-hal semacam ini, bagaimana pun membawa dampak yang saling bertolak belakang. Baik dan buruk. Pada suatu kesempatan saya pernah dibuat geleng-geleng kepala mendengar celotehan remaja SMA di pinggir jalan. Nyaris tidak percaya mereka memakai istilah-istilah yang tidak pantas diucapkan oleh orang-orang berpendidikan. Mereka bahkan tidak malu mengatakannya dengan suara nyaring. Di kota kecil yang jauh dari peradaban ini, dari mana lagi mereka mendapatkannya jika bukan dari tontonan atau internet yang bisa diakses dua puluh empat jam.

Memang program TV kita saat ini kebanyakan tidak mendidik. Bahkan ada yang bilang kalau kita tidak perlu repot-repot menggunakan otak saat nonton TV. Herannya, justru hal-hal buruk yang ditampilkan TV yang banyak ditiru penontonnya. Seolah-olah itu merupakan sesuatu yang keren. Adikku sering mengeluh karena setiap kali ganti saluran yang dia temukan hanya sinetron atau program lain yang sama membosankannya. Maka tidak heran kalau beberapa orang menempatkan TV ke dalam daftar barang-barang yang tidak disukai.

Lain waktu ketika berkunjung ke SMA tempat sekolah dulu, saya dapat kesempatan mengamati kegiatan para siswa. Dalam beberapa hal mereka lebih baik dibanding generasi kami. Mereka didukung sarana dan prasarana yang lebih memadai. Kegiatan eskul lebih beragam. Mereka juga mampu mengakses berbagai pengetahuan lebih cepat. Hubungan guru dan siswa terlihat lebih dekat dan santai. Yang terakhir ini membuat saya sedikit iri, mengingat kakunya dulu interaksi antara guru dan siswa.

“Anak-anak jaman sekarang berbeda dengan kalian dulu. Kekerasan bukan lagi cara yang efektif mendidik mereka.”, kata salah seorang guru ketika kami duduk-duduk di ruang tunggu. Kekerasan tidak pernah menjadi cara efektif untuk mendidik, ujar saya dalam hati. Tapi mungkin generasi sekarang lebih keras kepala dan kritis dibanding dulu. Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Maka saya mencoba berhenti membanding-bandingkan.

Bel sekolah berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas, berdesak-desakan di pintu gerbang, pulang ke rumah masing-masing. Saya punya waktu sekitar 90 menit sebelum sekolah ramai kembali. Biasanya kegiatan eskul dimulai pukul tiga sore. Sambil memain-mainkan kunci motor, saya mulai berkeliling sekolah. Setelah beberapa menit melihat ruangan satu per satu, langkah saya berhenti di depan salah satu kelas. Di bagian atas pintunya tertulis 3 IPA II. Belum berubah, pikir saya. Yang pertama saya perhatikan adalah dindingnya. Mungkin lukisan itu masih ada. Tapi yang menghiasi dinding hanya beberapa poster, struktur organisasi kelas dan jadwal piket harian. Tentu saja, delapan tahun sudah lewat, mustahil masih di sana. Lagipula itu hanya lukisan biasa hasil karya teman yang menang lomba melukis antar kelas. Kemudian saya berjongkok, memeriksa satu per satu bagian bawah meja.

“Ayo ukir nama kita di bawah meja. Untuk kenangan-kenangan.”, kata seorang teman waktu itu sambil mengacungkan sebotol Tipe X.
“Itu bukan kenang-kenangan. Itu vandalisme.” Kata saya.

Sayangnya saya tidak menemukan nama-nama yang saya kenal. Mungkin meja yang dulu sudah rusak, atau sudah ditutupi tulisan generasi berikutnya. Prie GS pernah berkata dalam salah satu bukunya bahwa ketidaksukaan kita pada perubahan lebih dikarenakan kita tidak suka ada yang mengacak-acak kenangan kita. Kata-kata Prie sangat tepat untuk situasi saya. Nyaris semua berubah. Tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi saya satu per satu diubah, diganti atau bahkan dihilangkan sama sekali. Dermaga, sekolah, lapangan, perpustakaan, sampai rumah nenek.

Beberapa batang pohon rindang masih tegak berdiri. Pohon mengkudu juga masih berbuah dan mengeluarkan aroma yang sengit. Tidak ada lagi kelas yang dipisahkan papan kayu sehingga antar tetangga bisa saling mengintip. Tak ada lagi lonceng besi peninggalan Belanda (begitu kami menyebutnya) yang selalu memakan korban. Korbannya adalah jidat para siswa yang benjol karena poisisi ujung lonceng setinggi kepala siswa rata-rata. Saya pernah terhuyung-huyung setelah kepala menabrak ujung lonceng karena berlari sambil say hello dengan teman yang berpapasan di lorong sekolah.

Ada yang bilang masa paling indah adalah masa sekolah. Bisa jadi. Bukan hanya karena itu masa setiap orang mulai membentuk diri. Atau karena banyak hal menyenangkan terjadi. Atau karena hal-hal bodoh yang dilakukan. Tapi mungkin karena itu masa terakhir orang-orang memaklumi hal-hal bodoh itu. Apa yang menyenangkan dari masa kanak-kanak ? Kebebasan dan pemakluman. Kita bebas melakukan apa saja, dan orang-orang memaklumi. Kita merusak benda-benda, orang-orang akan berkata, maklum anak-anak. Kita punya banyak keinginan ini itu, mereka maklum, anak-anak katanya. Kita marah-marah, berteriak-teriak, atau menangis sekencang mungkin, maklum anak-anak. Garis batas pemakluman itu adalah masa SMA. Sebab setelahnya orang menganggap kita sudah dewasa.

Pada jenjang itu, remaja mencoba banyak hal dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Pencarian identitas katanya. Bagaimana pun, setiap orang memiiki nilai yang mereka anut. Yang sudah ditanamkan sejak mereka kecil. Sehingga akan kita temui ada remaja yang memilih untuk tidak merokok, tidak minum atau tidak pacaran. Karenanya agak menjengkelkan bagi orang-orang seperti ini ketika berada di tengah orang yang tidak sejalan dengan pikiran mereka. Namun pada akhirnya kita akan melupakan kejengkelan itu. Saya baru menyadarinya sekarang. Pada akhirnya, kita akan lebih merindukan mereka. Dalam The Catcher in The Rye, Holden sering mencibir teman-temannya, menjulukinya macam-macam, memaki mereka bila perlu. Tapi kemudian Holden mengakui bahwa ia merindukan teman-temannya yang sering ia sebut konyol itu.
04 March 2016

Egois

Kurniawan Gunadi dalam tulisannya yang berjudul Introvert berkata bahwa orang introvert itu sulit nyambung dengan orang lain tapi dengan sejenisnya bisa langsung nyaman saat bertemu. Mereka membuat seolah-olah orang lain tahu banyak tentang mereka, padahal tidak sama sekali. Ketika orang lain pusing dengan tidak adanya teman, mereka senang sendirian. Mereka tidak suka keramaian, tidak banyak bicara dan suka mengamati orang lain. Yang terakhir ini kurang sepakat. Saya bukan orang yang suka mengamati orang lain. Saya hanya suka mengamati orang yang membuat saya tertarik.

Daya tarik, seperti kata Kurniawan Gunadi, bukan soal rupa atau materi. Tapi semacam energi yang membuat kita merasa nyaman, merasa “klik” dengan orang tertentu. Kadang hanya karena satu hal pada dirinya yang membuat kita terkesan. Dan itu sering tidak disadari orang tersebut. Kita memang biasanya tidak tahu faktor apa yang membuat kita “klik” dengan orang tertentu. Katanya mungkin itu karena kita dan mereka berada dalam frekuensi energi yang sama. Kalau begitu, bisa jadi perbedaan frekuensi energi pula yang membuat kita kadang lelah berhadapan dengan orang lain. Walaupun mereka punya banyak kesamaan dengan kita, walaupun kita sudah lama bersama dengan mereka, tapi perasaan “klik” itu tidak ada.

Setiap orang punya dinding yang mereka jadikan pemisah antara dirinya dan orang lain. Sebuah tembok dengan ketinggian berbeda-beda pada tiap orang. Ada banyak lubang dan retak di tembok itu. Kadang pula ada bagian yang hancur karena lemparan besar. Dan orang-orang tak pernah berhenti membangun dinding tersebut. Mereka terus menambal lubang di sana-sini. Terus memperkuat bagian yang hancur.

Saya jadi berpikir bahwa mungkin saja ada pintu yang bisa dimasuki tanpa harus menghancurkan dinding. Pintu yang sulit terdeteksi letaknya. Pemiliknya pun seringkali tidak tahu keberadaan pintu tersebut. Orang sekitar juga lebih fokus pada cara-cara menghancurkan dinding. Ketika seseorang merasa “klik” dengan orang lain, boleh jadi karena orang tersebut masuk lewat pintu tadi. Dan ia tidak sadar telah masuk lewat jalur yang tepat. Dinding akan tetap tegak. Jarak akan tetap ada. Bedanya, ia masuk tanpa harus menghancurkan dinding. Besar kemungkinan orang semacam inilah yang bertahan lama dalam hidup kita.

Sebagian orang introvert mungkin sejatinya adalah orang yang egois. Mereka senang sendirian. Tapi ada saat ketika mereka benar-benar butuh teman. Lalu setelah itu mereka ingin sendiri lagi. Kembali mengeluarkan penggaris, kembali mengukur jarak dengan orang lain. Begitu seterusnya. Egois bukan ? Apa orang semacam ini benar-benar bisa hidup bersama orang lain ? Dengan sikap yang selalu mengambil jarak dengan siapapun, sulit membayangkan mereka bisa tinggal satu atap, dua puluh empat jam dengan seseorang untuk waktu yang entah berapa lama. Karena itu sebagian orang introvert mungkin memang adalah makhluk yang egois.

Attention Please!

Terkadang, kita tidak ingin berteman dengan orang lain bukan karena perkara cocok atau tidak cocok, tapi lebih karena caranya yang tidak santun. Melanggar privasi kita misalnya. Lewat pesan-pesan tidak penting yang entah dari mana nomor ponsel kita ditemukan. Atau mencari akun kita di berbagai media sosial. Mau berteman, katanya. Alasan yang menggelikan. Apa menurutnya “pertemanan” bisa dijalin dengan cara seganjil itu ? Biasanya, ketika membangun hubungan sosial, kita jarang menargetkan orang tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya kita akan menemukan orang-orang yang bisa kita anggap sebagai teman. Begitu cara alamiah berteman. Berbeda dengan orang yang meracau macam-macam lewat sms, seakan kita mengenalnya padahal bertegur sapa sekalipun tidak pernah. Itu bukan sikap yang bisa disebut santun. Percayalah, tidak ada yang terkesan dengan cara semacam itu. Dan kalau mau jujur, tak pernah ada “teman” antara laki-laki dan perempuan. Karenanya agama kita begitu ketat mengatur interaksi antara keduanya.

Kata Kurniawan Gunadi, cara terbaik menjaga perempuan adalah dengan tidak menyebut namanya sembarangan. Kalau boleh ditambahkan, tidak mengganggunya dengan cara norak seperti yang disebutkan tadi. Seseorang tidak perlu memaksakan diri menjadi teman orang lain. Tidak perlu memaksa masuk dalam hidup orang lain. Tidakkah mereka berpikir bahwa tindakan semacam itu mengganggu ketenangan yang bersangkutan? Tidak ada yang suka wilayah privasinya diusik orang asing. Di era teknologi ini, ketika orang begitu mudah menyatakan perasaan mereka, diam memang adalah pilihan yang berat. Ketika seseorang dibutakan perasaan (sesaatnya), mereka menjadi terburu-buru dalam segala hal. Yang pada akhirnya melanggar batas.

Perasaan itu selalu berubah. Hari ini suka, besok tidak lagi. Hari ini kecewa, besok mungkin bahagia lagi. Hari ini sedih, besok mungkin ceria lagi. Karenanya tidak semua perasaan harus dikatakan, tidak semua perasaan harus ditindaklanjuti. Dan tidak semua perasaan mendapat balasan yang sama. Maka beruntunglah mereka yang tetap dalam diamnya. Beruntunglah mereka yang paham bahwa ada hal-hal yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri. Mungkin akan terasa menyakitkan, atau paling tidak menyesakkan. Tapi itu jauh lebih baik. Kita ini dibekali hati, suatu tempat yang dapat menampung segalanya. Suatu tempat yang orang lain tak bisa ukur kedalamannya. Atau rahasia apa saja yang ada di sana. Sebuah gudang penyimpanan, tempat kita memilah mana yang layak diperlihatkan dan mana yang sebaiknya tetap disimpan. Sebab nanti yang akan kita sesali bukan hanya apa yang tidak kita lakukan, tapi apa yang terburu-buru kita lakukan.
 
;