16 May 2017

Hati

Hati tidak akan berubah selamanya

Hati akan berubah seiring berjalannya waktu

Semua itu tidaklah salah

Berubah juga tak masalah

Namun, tetap seperti itu pun tak masalah
13 May 2017

Wujudkan Ramadhan Terbaikmu!


Buku yang ditulis oleh Akmal Sjafril ini tipisnya cuma 73 halaman. Tapi isinya nendaaang.  Pas...pas... kena hatiku-lah istilahnya. Hihihi... Buku ini sebenarnya sudah dibaca sejak sebelum Ramadhan tahun lalu. Tapi waktu itu belum sempat nulis di blog. Buku kecil ini tidak dirancang untuk membahas fiqih Ramadhan, meski tetap ada kaitannya. Fokus utama pembahasannya adalah mengembalikan Ramadhan kepada perspektif yang paling sederhana. Sebab kebanyakan orang gagal memaknai Ramadhan, bukan karena kurang paham, tapi justru karena terlalu banyak hal yang menyibukkan dirinya di luar ibadah-ibadah Ramadhan.

Bab pertama menguraikan pokok masalah secara umum. Kesalahan utama dalam memahami shaum adalah kehilangan fokus pada tujuan. Misalnya saja, orang yang sudah belasan bahkan puluhan tahun melaksanakan ibadah shaum, tapi pikirannya masih saja berkisar seputar lapar dan haus, sehingga bekerjanya tanpa gairah, tidurnya lebih banyak, menuntut pulang cepat dan kegembiraan terbesarnya hanyalah mendapat THR di akhir bulan. Jika seharian di rumah, maka kerjanya hanya mencari hiburan lewat TV. Mulai dari bangun sahur nonton lawak, setelah matahari terbit lanjut nonton konser live yang diisi oleh host dan artis yang tetiba pakai baju koko dan hijab. Setelah itu lanjut nonton sinetron yang lain dari biasanya karena disesuaikan dengan bulan Ramadhan. Adapun program taushiyah yang agak serius hanya muncul sekitar 15-30 menit menjelang berbuka. Setelah itu, siklus hiburan berjalan seperti biasa sampai larut malam. Nah, kalau acara hiburannya live, kapan tarawihnya ? 

Bab dua mengajak pembaca untuk meninggalkan segala ‘masalah klasik’ yang membuat shaum menjadi kelihatan lebih rumit dari semestinya. “Don’t sweat it!”, kata orang. Agar bisa fokus pada hal penting, kita harus abaikan hal-hal yang tidak penting. Menjaga shalat dan ibadah lainnya itu penting, sementara nonton sinetron tidaklah penting. Berbuka bersama keluarga itu penting, sedangkan kebiasaan para artis ketika berbuka adalah berita yang tidak penting. Sahur itu penting, nonton acara lawak saat sahur sama sekali tidak penting. Sederhana, kan ? Banyak hal dalam ibadah kita yang justru menjadi runyam karena kita sendiri yang bikin runyam. Kita tidak akan punya cukup waktu untuk menyelesaikan tilawah dan target harian jika waktu kita habis untuk hal-hal yang tidak penting.

Bab tiga dan empat berusaha mendudukkan Ramadhan pada tempatnya. Bahwa ibadah shaum sejatinya tidak pernah dibatasi hanya dengan tidak makan dan tidak minum. Walaupun memang makan, minum dan berhubungan suami istrii adalah tiga hal yang membatalkan shaum. Ketiga hal ini adalah perbuatan halal. Artinya jika tidak sedang shaum, ketiganya halal dilakukan bahkan bisa bernilai ibadah. Tetapi ketiganya dilarang utnuk dilakukan saat shaum dan baru boleh setelah berbuka. Pertanyaan kritisnya : jika yang halal saja ada yang dilarang saat shaum, apalagi yang haram ? Lisan yang berdusta, mata yang tidak ditundukkan, atau telinga yang terus mendengar gosip tetap menuai dosa. Jadi kalau hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, anak-anak SD pun bisa. Oleh karena itu, tentu yang sudah lama jam terbangnya bisa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus. 

Hal penting lain yang disoroti buku ini adalah interaksi kita dengan Al Qur’an. Sebab salah satu keistimewaan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, maka cara terbaik menghayati Ramadhan adalah dengan mengakrabi Al Qur’an. Banyak orang bersemangat mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan. Ada yang hingga dua atau tiga kali, bahkan lebih. Itu semua baik. Target satu juz per hari jelas merupakan cita-cita mulia. Akan tetapi, satu juz per hari itu tidak wajib, sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid yang benar itulah kewajiban asasi dalam tilawah. Ada yang karena kejar target tilawah, bacaannya pun balap-balapan dan akhirnya belepotan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an secara perlahan-lahan (tartil). Oleh karena itu penting untuk belajar tahsin mulai sekarang, bahkan jauh hari sebelum Ramadhan. 

Bab kelima diberi judul “Playoff”. Bagaikan Playoff dalam sebuah musim kompetisi, umat muslim menjadikan Ramadhan sebagai titik klimaks dalam ibadah setahun. Bab keenam mengajak pembaca untuk bercermin kepada generasi sahabat dan bagaimana Allah men-tarbiyah mereka dengan Ramadhan. Bab ketujuh mengupas hal lain yang mengganggu fokus para pecinta Ramadhan seperti banyaknya riwayat palsu yang menjanjikan hal-hal bombastis kepada mereka yang melakukan amalan-amalan tertentu. Riwayat semacam ini banyak beredar di Indonesia dan tidak sedikit yang percaya. Bab tujuh membahas “Arti Kemenangan”, mengajak pembaca untuk bertanya pada diri sendiri : apakah selama ini kita sudah menang ? Dua bab terakhir menjelaskan bagaimana memilih teman yang baik sebagai rekan seperjuangan di bulan Ramadhan akan sangat menentukan hasil akhirnya. Juga menguraikan cara menjaga diri agar kebaikan-kebaikan yang kita peroleh di bulan Ramadhan tidak menguap begitu saja, sembari menunggu kedatangan Ramadhan berikutnya. 

Yup, demikian rangkuman buku ini. Semoga bisa jadi rekomendasi bacaan terkait bulan Ramadhan. Selamat mempersiapkan diri menyambutnya. Semoga umur kita sampai ke bulan suci tersebut. Aamiinn...
01 March 2017

Buku Yang Kubaca Tahun 2017 (2)

We Were Liars
Penulis : E. Lockhart
Penerbit : Gramedia
Halaman : 294

Novel ini berlatar sebuah pulau bernama Beechwood, pulau pribadi milik keluarga Sinclair. Harris Sinclair memiliki tiga orang putri yaitu Carry, Bess dan Penny. Carry memiliki dua anak : Johnny dan Will. Bess memiliki 4 anak : Mirren, Taft dan si kembar Liberty dan Bonnie. Sementara Penny hanya memiliki satu anak : Cadence. Setiap musim panas, keluarga ini menghabiskan liburan di pulau tersebut. Rutinitas tahunan itu membuat para cucu Sinclair terutama Mirren, Johnny, Gat dan Cadence menjadi dekat satu sama lain. Berbeda halnya dengan para ibu mereka yang lebih sering berselisih memperebutkan harta warisan Harris Sinclair. 

Menggunakan sudut pandang Cadence sebagai tokoh aku, novel diawali ketika Cadence mengunjungi kembali pulau Beechwood pada suatu musim panas di usianya yang ke delapan belas. Dua tahun sebelumnya, terjadi kecelakaan yang menimpa Cady di pulau itu. Kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan karena ia hanya mampu mengingat potongan kecil saat terjadi kecelakaan. Tujuan dari novel ini adalah untuk mengungkap kecelakaan macam apa yang terjadi pada Cady dua tahun sebelumnya, diselingi dengan penuturan Cady tentang konflik dalam keluarga Sinclair. Setelah selesai baca, saya baru paham maksud desain sampulnya. Sekilas gambar di sampul terkesan seperti seseorang yang dikucilkan atau kesepian. Ternyata sama sekali bukan itu.

Yang membuat saya penasaran dengan novel ini adalah karena di sinopsis tertulis bahwa We Were Liars adalah novel suspense modern yang masuk finalis National Book Award dan menerima Printz Award. Tapi mungkin karena suasana yang tidak tepat, saya tidak begitu menikmatinya. Saya membacanya dalam perjalanan pulang kampung. Membaca novel dalam perjalanan bukan kebiasaan saya. Dalam perjalanan pulang kampung, hal yang menyenangkan untuk dilakukan hanya dua, tidur atau memperhatikan pemandangan di luar jendela bus. Bagi saya pribadi, novel lebih nyaman dinikmati saat sedang sendiri di kamar.

Botchan
Penulis : Natsume Soseki
Penerbit : Gramedia
Halaman : 217

Novel ini sudah lama terparkir di rak buku sepupu. Tapi belum pernah tertarik membacanya. Waktu berselancar di online shop, ketemu satu toko yang menjual murah berbagai novel klasik dan original. Jadi saya pun memesan beberapa novel dari toko tersebut, termasuk novel ini. Botchan bercerita tentang guru muda yang berontak terhadap sistem pendidikan di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang terus terang dan tidak suka berpura-pura membuatnya kesulitan berinteraksi dengan sekitarnya yang suka berputar-putar dan tidak langsung ke inti pembicaraan. Botchan yang bebas sangat kontras dengan ketatnya kungkungan tatakrama social di Jepang. Itulah yang membuat novel ini popular. Ada banyak pandangan Soseki yang bagus dijadikan pelajaran. Karakter yang dimunculkan dalam novelnya mewakili karakter yang cukup sering dijumpai di sekeliling kita. Atau dalam dunia kerja kita. Kondisi siswa sekolah menengah yang dikeluhkan Botchan di tempat mengajarnya pun sedikit banyak mirip dengan kondisi siswa yang dihadapi para guru. Banyak kutipan bagus tapi yang paling saya suka adalah kutipan ini, “Hanya karena seseorang pandai berargumen, bukan berarti orang itu orang baik.”

Kontroversi 101 Mitos Kesehatan
Penulis : Florentina R. Wahjuni
Penerbit : Penebar Swadaya Grup
Halaman : 139

Buku yang dipinjam dari perpustakaan daerah ini membahas berbagai mitos kesehatan seperti mitos seputar mata, rambut, kulit, demam, ibu hamil, anak olahraga, diet, mulut, makanan, kanker, psikis dan beberapa mitos aneh lainnya. Beberapa yang masih saya ingat seperti mitos bahwa membaca tidur atau membaca sambil berbaring dapat membuat mata rabun atau minus. Faktanya, yang membuat mata minus adalah jarak antara mata dan bacaan yang terlalu dekat. Pencahayaan juga ikut berpengaruh dalam hal ini. Sebab semakin sedikit cahaya, semakin dekat jarak antara mata dan objek bacaan sehingga membuat mata cepat lelah. Jadi walaupun seseorang membaca sambil duduk atau berdiri, tapi jika jarak bacaan terlalu dekat, kurang dari 30 cm (kalau tidak salah) dari mata, maka akan berisiko mata minus. Ada pula mitos seputar psikis seperti anggapan bahwa orang yang antisosial adalah mereka yang introver, penyendiri atau tidak punya banyak teman. Hal ini tidak selamanya benar. Orang yang introver menjadi penyediri karena mereka tipe pemalu dan sulit memulai percakapan dengan orang lain. Tapi bukan berarti mereka tidak peduli. Bahkan mereka bisa sangat peduli dan peka terhadap orang lain (pengen peluk penulisnya pas baca bagian ini). Yang dimaksud antisosial adalah orang yang tidak segan mengorbankan kepentingan orang lain demi kepentingannya sendiri. Dan tidak jarang, orang yang antisosial ini adalah makhluk ekstrover. 

Edensor
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 288

Dibaca ulang. Kebetulan sedang di kampung halaman dan koleksi novel bang Ikal ada di sini.

Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 247

Dibaca ulang juga. Skip…^^

Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 529

Skip lagi. Hahah… Kali ini saya membaca dengan urutan terbalik, mulai dari Edensor kemudian Sang Pemimpi dan terakhir Laskar Pelangi. Maryamah Karpov tidak masuk karena belum punya bukunya. Ada yang mau ngasih ? >_<. Kalau tidak salah dulu lebih suka Sang Pemimpi ketimbang 3 novel lainnya. Setelah berulang kali baca, entah kenapa baru kali ini lebih suka Laskar Pelangi. Mungkin karena urutan terbalik tadi, kali ya ^^

Padang Bulan
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 254

Dibaca ulang juga. Dwilogi ini lebih cocok diberi judul Maryamah Karpov karena ceritanya berpusat pada kehidupan Mak Cik Maryamah. Justru dalam novel Maryamah Karpov, tokoh ini tidak banyak diceritakan. Yang menjadi fokus lebih kepada perjuangan Ikal menemukan A Ling. Tapi bukan masalah, mau diberi judul apapun, bahkan seumpamanya penulis menerbitkan novel berjudul Lelaki Berwajah Dangdut, saya akan tetap membaca tulisannya ^^

Cinta di Dalam Gelas
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 270

Skip lagi…

Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : 396

Dibaca ulang juga. Pertama kali terbit tahun 2015 lalu. Waktu itu ikut PO yang dapat edisi tanda tangan. Melihat tanda tangan tersebut, besar kemungkinan penulis setengah tertidur pada jam 2 pagi saat membubuhkannya atau tangannya pegal lantaran menandatangani ratusan eksamplar mengejar deadline. Yang paling saya suka dari novel ini selain kisah Sabari tentunya, adalah kisah Ukun dan Tamat yang menjelajahi Sumatera mencari Marlena dengan berbekal Kamus Umum Bahasa Indonesia. Saya terpingkal-pingkal setiap kali membaca dialog antara Ukun dengan orang-orang yang ditemuinya. Misalnya, “Dalam pada melintasi kota demi kota, adakah kiranya Kakanda Sopir pernah melihat perempuan manis berlesung pipit dalam foto ini ?” atau kepada Pak Pos, Ukun bertanya, “Dalam pada mengemban tugas mengantarkan amanah, adakah Kakanda pernah melihat orang-orang dalam foto ini ?” Lalu pak Pos menjawab, “Tiadalah saya pernah melihatnya. Namun, seumpama saya melihatnya, tentulah tersirat dalam hati saya untuk menyampaikan pada pihak-pihak yang ada dalam foto itu, bahwasanya dua orang pemuda dari negeri seberang samudra nan bergelora sedang mencari mereka.” Lucu membayangkan dua lelaki lugu dengan dandanan super norak yang setiap bertemu orang selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan bantuan kamus tebal di tangannya. Kedua orang ini, sesuai kata JonPijareli, patut dibekukan dan lalu ditempel di dinding atau dimasukkan ke dalam kotak kaca. Karena makhluk semacam ini sudah punah dari muka bumi.
19 January 2017

Buku Yang Kubaca Tahun 2017 (1)

Ehm…tes mic…tes…satu…dua…satu…dua…

Yosh, insya Allah tahun ini saya akan (usahakan) menulis daftar singkat buku-buku yang tamat dibaca. Mengingat tidak banyak lagi kesempatan mereview panjang lebar sebuah buku. Kesibukan saya memang belumlah selevel kesibukan ibu rumah tangga yang mengurus rumah, suami dan anak. Tapi pekerjaan saya bukan hanya membaca dan menulis blog saja. Ada beberapa amanah lain yang menuntut waktu lebih banyak. Selain itu membuat daftar singkat semacam ini jadi lebih praktis. Dan saya suka yang praktis-praktis. Hehehe… 

Kisah-kisah Nyata : Meninggalkan yang Haram Karena Allah, Mendapatkan yang Lebih Baik 

Penulis : Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi
Penerbit : Darul Haq
Halaman : 166

Sesuai dengan judulnya, buku kecil ini berisi 34 kisah penuh hikmah dari orang-orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah dan mendapat ganti yang lebih baik. Beberapa di antaranya sudah pernah kita dengar seperti kisah nabi Yusuf dan Zulaikha, atau kisah pemuda yang dijuluki al-Miski, atau kisah Cat Stevens (Yusuf Islam), penyanyi Inggris populer di tahun 70-an yang memeluk Islam dan meninggalkan dunia hiburan. Beberapa lainnya adalah kisah yang belum pernah saya dengar seperti kisah nabi Sulaiman yang mengurbankan kuda-kudanya karena Allah dan Allah menggantinya dengan anugerah angin yang dapat beliau kendarai kemana saja. Atau kisah ditahannya matahari untuk nabi Yusya’ bin Nun karena jihadnya di jalan Allah. Dan matahari tidak pernah ditahan kecuali untuk beliau. Kisah-kisah dalam buku ini bukan saja kisah para nabi dan rasul, tetapi juga para sahabat, tabi’in, orang-orang terdahulu maupun sekarang.

Misykat 

Penulis : Hamid Fahmi Zarkasy
Penerbit : INSISTS
Halaman : 302 

Selama ini saya membaca tulisan Dr. Hamid Fahmy lewat halaman Dr. Adian Husaini. Beliau memang jarang menerbitkan buku. Buku Misykat ini pun merupakan kumpulan tulisan beliau di Kolom Misykat Jurnal Islamia Republika. Tema yang dibahas dalam buku ini tergolong berat (bagi saya). Istilah-istilah semacam postmodernisme, iconoclasme, humanisme, deprivatization, averroisme, inklusif eksklusif, blasphemy, dll sudah cukup membuat kening berkerut-kerut. Tapi dalam buku ini, masalah tersebut dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga siapapun bisa membaca buku ini. 

The Geography of Faith 

Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Halaman : 497 

Eric Weiner kembali melakukan perjalanan, kali ini untuk melihat agama dan kepercayaan di berbagai belahan dunia. Atau dalam istilah Eric sendiri, mencari Tuhan. Eric adalah seorang Yahudi, tapi ia mendefinisikan dirinya sebagi “spiritual-tapi-tidak-religius”. Artinya ia menerima berbagai tradisi arif di dunia sekaligus menjauhi doktrin atau keyakinan sungguhan. Kelihatannya bijak, tapi justru terlihat seperti orang kebingungan. Eric mengalami depresi, ada semacam lubang dalam dirinya yang tidak tahu harus diisi dengan apa. Jadi Eric pun menyortir sembilan ribu sembilan ratus kepercayaan dan memilih delapan di antaranya yaitu : Sufisme, Buddhisme, Fransiskan, Raelisme, Taoisme, Wicca, Syamanisme dan Kabbalah. Dengan mempelajari berbagai kepercayaan itu, Eric berharap dapat mengatasi depresinya. 

Lewat buku ini saya baru tahu kalau ternyata ada kepercayaan yang berbasis UFO. Iya, UFO. Mereka percaya bahwa umat manusia diciptakan oleh ras asing bernama Elohim ribuan tahun silam. Ada pula Wicca, kepercayaan yang penganutnya menyebut diri mereka penyihir. Tapi bukan penyihir yang memakai topi runcing dan terbang dengan sapu. Tapi penyihir modern. Di akhir pencarian Tuhannya, Eric merenungi jati dirinya sebagai seorang Yahudi di Jerussalem. Walau ia pernah berputar dengan para darwis di Turki, meditasi dengan Dalai Lama, melatih chi bersama para Tao, bersenang-senang dengan Raelian atau melingkar seperti penyihir Wicca, selalu ada bagian dari dirinya yang tidak berubah. Ikan akan tetap jadi ikan, bukan wotel. Jadi ia pun berusaha menerapkan beberapa ajaran agamanya sendiri. Bagaimana pun Eric tetaplah Eric, yang menyimpan segudang keraguan. Secara umum, saya suka buku-buku terbitan Qanita. Ketiga buku Eric Weiner juga diterbitkan oleh penerbit ini. Sayangnya, buku terbitan Qanita sering tidak menyertakan bookmark di dalamnya. Arabian Nights yang tebal itu pun tidak ada bookmark-nya.

Everything Everything 

Penulis : Nicola Yoon
Penerbit : Spring
Halaman : 335

Madeline mengidap penyakit langka yang membuatnya harus tinggal di kamar steril sepanjang hidupnya. Dunianya hanya berotasi pada ibunya, perawatnya dan buku-bukunya. Satu hari sebuah truk pindahan tiba di sebelah rumahnya. Ada tetangga baru rupanya. Sepasang suami istri beserta dua orang anaknya. Anak laki-laki bernama Olly. Dan Madeline jatuh cinta padanya. Ehm…terus terang, cerita, alur maupun penokohannya terasa biasa saja. Tidak ada yang membuat saya terkejut, terharu atau tersentuh. Memang ada sedikit twist di akhir, tapi secara keseluruhan tidak begitu berkesan bagi saya. Kecuali tiga hal ini : cover, bookmark (ciri khas penerbit Spring adalah bookmark-nya yang keren-keren) dan ilustrasinya. Saya suka ilustrasi novel ini. Ternyata Nicola Yoon bekerja sama dengan suaminya. Ia menulis cerita, sedangkan suaminya, David Yoon yang membuat ilustrasi novelnya. 

The Rose & The Dagger 

Penulis : Renée Ahdieh
Penerbit :POP (imprint KPG)
Halaman : 480

Novel ini sebenarnya dikhatamkan bulan lalu, tapi saya masukkan saja ke dalam list ini. Plot yang ditawarkan di buku pertama (The Wrath & The Dawn) cukup menarik, yaitu membebaskan Khalid dari kutukan sihir. Awalnya saya kira itulah tujuan utama sekuel ini. Tapi konflik malah bertambah lebar ke mana-mana. Perebutan kekuasaan, pembalasan dendam dan cinta segitiga. Kutukan Khalid sendiri sudah beres di paruh awal novel. Selain itu, tokoh Ava yang membuat saya simpati di buku pertama tidak diceritakan lebih banyak di sini. Ending-nya persis seperti yang diharapkan dari novel romance : menikah, punya anak, kerajaan damai, dan hidup bahagia selamanya. 

Falling Into Place 

Penulis : Amy Zhang
Penerbit : POP
Halaman : 323

Ini novel paling menjengkelkan yang pernah saya baca. Lebih menjengkelkan dari The Beginning of Everything. Penokohannya lemah, chemistry antar sahabatnya tidak terasa, dan yang paling fatal, tokoh utamanya adalah sumber dari semua masalah tokoh lain dalam novel ini. Saya bahkan kesal dia masih selamat di akhir novel. Bunuh diri bukan solusi dari semua masalah yang ia buat, justru menunjukkan betapa pengecutnya Liz Emerson yang tidak siap meminta maaf dan mengakui perbuatannya secara langsung di hadapan orang-orang yang sudah dia hancurkan.

In The Dark, Dark Wood 

Penulis : Ruth Ware
Penerbit : Bentang
Halaman : 421

Untuk sebuah debut yang langsung bestseller, novel kriminal ini memang lumayan mencuri perhatian. Membacanya membuat kita tidak sabar membalik halaman berikutnya. Yang membuat kita penasaran adalah siapa yang terbunuh, kemudian siapa yang membunuh. Sebab nanti di pertengahan novel baru dijelaskan tokoh mana yang jadi korban pembunuhan. Adapun pelakunya tidaklah terlalu mengejutkan. Pembaca bisa menebak setelah disajikan karakter tokoh masing-masing dan masa lalunya. Tapi penulis tidak begitu saja membut pembaca yakin. Awalnya kita mencurigai satu tokoh, kemudian kita dibuat ragu-ragu dan mencurigai tokoh lain, kemudian ragu-ragu kembali. Begitu seterusnya dan ujung-ujungnya kembali lagi ke tokoh pertama yang kita curigai tadi. Bagi yang sering nonton film thriller, formula novel ini tidak asing lagi : pesta, rumah terpencil di tengah hutan, pembunuhan dan pelaku pembunuhan adalah salah satu dari peserta pesta. Tetapi penulis memodifikasi formula pasaran tersebut menjadi sedikit berbeda. Ada satu hal yang terasa tidak pas dalam novel ini. Nora yang diceritakan berprofesi sebagai penulis fiksi kriminal, idealnya selangkah lebih jauh dalam menganalisis kejahatan. Nyatanya tokoh utama ini selalu tertinggal di belakang. Dia yang seharusnya sibuk berpikir memecahkan kasus malah sibuk bermonolog ria tentang patah hatinya di masa lalu. Bahkan ketika pelakunya sudah jelas-jelas berdiri di hadapannya, dia masih belum sadar juga. Tapi sebagai novel debut, saya suka deskripsi ala Ruth Ware dan berharap bisa membaca karyanya yang lain. 

Himpunan Materi Kultum 

Penulis : Abdurrahman bin Abdullah as-Sanad
Penerbit : Darul Haq
Halaman : 166

Topik-topik yang dibahas dalam buku ini bervariasi mulai dari akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Diperuntukkan bagi para da’i atau para aktivis yang rutin mengisi kajian atau yang sering dadakan mengisi kultum. Materinya singkat, padat dan mudah dipahami. Tapi yang utama adalah karena buku ini berisi ilmu, jadi patut dibaca oleh siapa saja meski bukan seorang da’i.

My Grandmother Asked Me To Tell You She’s Sorry

Penulis : Fredrik Backman
Penerbit : Noura Books
Halaman : 489

Saya suka novel ini. Suka apanya ? Semuanya. Tokoh-tokohnya, plotnya, pemilihan katanya, humornya sampai endingnya. Saya selalu suka novel bertema keluarga. Membuat hati kita hangat. Dan terutama mengingatkanmu pada nenekmu. Ditambah jika separuh hidupmu dilewati bersama nenek. Nenek saya tidaklah se-ekstrim nenek Elsa dalam novel, juga tidak pernah mendongeng. Tapi satu hal yang pasti seperti kata Elsa, yaitu nenekmu adalah orang yang ingin kau bawa dalam peperangan. Ia akan membela dan melindungimu. Novel ini jauh lebih bagus dibanding novel pertama Fredrik Backman, A Man Called Ove. Perbedaan utamanya adalah karena tokoh-tokohnya. Dalam A Man Called Ove, sampai halaman terakhir saya masih belum benar-benar menyukai Ove. Tapi dalam novel ini, saya suka semua tokohnya. Dan sepertinya penulis memang sengaja membuatnya seperti itu. Tetap saja, ada bagian yang sedikit mengganjal. Berlebihan tepatnya. Misalnya Elsa, tokoh utama novel ini. Gadis kecil berusia tujuh hampir delapan tahun yang digambarkan cerdas dan berbeda dari anak-anak kebanyakan. Jika Elsa diceritakan sebagai anak yang sudah pandai membaca di usia yang begitu muda, tidak mengherankan bagi saya. Banyak di antara kita yang sudah pandai membaca di usia itu. Jika Elsa sudah pandai berselancar di Wikipedia mencari berbagai hal yang belum diketahuinya, itu masih bisa dimaklumi. Anak-anak memang hidup di jaman teknologi yang jauh lebih modern. Jika Elsa membaca komik X-Man atau Spiderman dan hafal di luar kepala semua kekuatan super para mutan atau segala hal menyangkut super hero tersebut, itu pun tidak begitu mengherankan. Tapi jika seorang anak berusia tujuh tahun diceritakan sudah menamatkan serial Harry Potter minimal 12 kali, rasanya agak berlebihan. Bukan hanya itu, Elsa juga membaca Odyssey, karya-karya Charles Dickens, George Orwell, J.R.R. Tolkien, drama-drama Shakespeare dan berbagai karya klasik lainnya. Saya bahkan curiga jangan-jangan Elsa juga membaca buku-bukunya Karl Marx, Mein Kampf-nya Hitler, atau Il Principle-nya Machiavelli. Sejak awal penulis memang sudah mengingatkan bahwa Elsa berbeda, dan kerena itu ia dibully teman-temannya. Tapi penggambaran tersebut, terlebih pemilihan kata dalam dialog-dialog Elsa, justru membuat saya ragu kalau tokoh ini berusia tujuh tahun. Malah tampak seperti orang dewasa yang dipaksa mendekam dalam tubuh anak kecil. Tapi bagian ini sedikit terselamatkan dengan berbagai tingkah lucu Elsa yang membuat saya kembali ingat bahwa ia masih 7 tahun. Selebihnya bagus menurut saya. Fredrik Backman mempertahankan gaya bahasanya yang sinis dan kocak pada saat yang sama.
16 December 2016

Buku-buku Yang Pernah Saya Baca, dan Saya Menyukainya

Singkatnya, buku-buku favorit versi saya. Tentu saja tergantung seberapa banyak buku yang sudah dibaca. Favorit itu kadang subjektif. Bisa jadi kita suka tapi orang lain tidak, dan sebaliknya. Buku favorit versi saya mungkin bisa diibaratkan kemudi. Saya menyukai bacaan yang mampu mengubah sesuatu dalam diri saya atau minimal menggerakkan kemudi itu. Membuat saya tidak lagi sama seperti sebelum membacanya. Kadang ada buku yang tidak begitu dikenal atau tidak laku di pasaran sampai-sampai harganya dibanting semurah mungkin, tapi ternyata saya menyukainya. Dan kadang ada buku yang terjual jutaan copy bahkan sudah difilmkan tapi saya merasa biasa saja. Dalam arti tidak juga suka, dan tidak juga tidak suka.

Jika membaca bagi para kutu buku adalah passion mereka, saya membaca hanya saat mood. Jika kutu buku mampu menamatkan puluhan bahkan ratusan buku dalam setahun, saya hanya membaca buku dalam hitungan jari. Jadi buku yang saya baca sangatlah sedikit. Meski begitu, inilah 27 daftar bacaan favorit versi saya :

Kategori Fiksi

Semua novel karangan Andrea Hirata
Pertama kali baca Laskar Pelangi waktu baru lulus SMA. Waktu itu belum ada label best seller-nya. Belum dilirik orang. Novel ini menjadi titik awal perubahan selera baca saya yang perlahan-lahan mulai meninggalkan teenlit. Setelah itu berturut-turut muncul Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Sebelas Patriot, Dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas serta Ayah

Novel karangan Haruki Murakami
Dengarlah Nyanyian Angin, Norwegian Wood, IQ84 jilid 1 sampai 3, dan Dunia Kafka. Saya berharap tuan-tuan penerbit akan menerjemahkan novel Murakami yang lain. Murakami identik dengan keterasingan. Jika diminta merekomendasikan novel, saya tidak akan memasukkan Murakami dalam daftar. Saya sangat suka tulisannya. Hanya saja, mungkin saya akan lebih bahagia jika tidak pernah membaca novelnya. Mirip dengan paradoks terhadap kampung halaman. Ingin selamanya tinggal di sana, sekaligus ingin pergi sejauh-jauhnya dari sana.

Novel komedi hitam yang banyak memparodikan tokoh politik dunia. Berawal ketika seorang kakek memutuskan kabur dari panti jompo menjelang ulang tahunnya yang ke-100. Karya penulis asal Swedia ini masuk kategori best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Novelnya yang kedua berjudul The Girl Who Saved The King of Sweden. Tapi saya lebih suka yang pertama.

Burial Rites karangan Hannah Kent
Karya fiksi yang didasarkan pada kisah nyata Agnes Magnusdottir, orang terakhir yang dijatuhi hukuman mati atas peran sertanya dalam pembunuhan Natan Katilsson dan Petur Jonsson pada tahun 1828 di Illugastadir, Islandia Utara.

If I Stay karangan Gayle Forman
If I Stay, Where She Went, Just One Day, Just One Year, dan I Was Here adalah novel mbak Forman yang sudah diterjemahkan. Saya suka semuanya. Tapi paling suka If I Stay karena banyak bercerita tentang kehangatan keluarga.

Hector And The Search For Happiness karangan Francois Lelord 
Perjalanan seorang psikiater yang berkeliling dunia mencari arti kebahagiaan. Selama ini ia melihat banyak pasien yang tidak puas atau tidak bahagia dengan hidup mereka. Perjalanannya itu menghasilkan sederet daftar tentang kebahagiaan.

Kesetiaan Mr. X karangan Keigo Higashino
Salah satu seri Detektif Galileo. Dalam novel ini, detektif Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan teman semasa kuliahnya, Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko, tetangga kamarnya yang menjadi tersangka pembunuhan mantan suaminya sendiri. 

Paper Towns karangan John Green
Secara umum, saya suka semua novel John Green. Khas remaja. Hidup, penuh petualangan dan lucu. Tapi Paper Towns adalah yang terbaik. Sayangnya, adaptasi filmnya mengecewakan. So, don’t judge a book by its movie.

Dwilogi Samurai (Kastel Awan Burung Gereja dan Jembatan Musim Gugur) karangan Takashi Matsuoka
Novel yang kurang terkenal tapi bikin saya book hangover berhari-hari.

The Catcher in The Rye karangan JD. Salinger
Disebut sebagai 100 buku terbaik sepanjang masa. Sikap kenak-kanakan Holden memang menjengkelkan (umurnya baru 16 tahun), tapi caranya memandang hubungan antar manusia membuatnya seperti sudah hidup puluhan tahun. Bagian yang paling menyentuh adalah saat adiknya terseok-seok membawa koper karena ingin ikut kemana pun Holden pergi. 

The Rosie Project karangan Graeme Simsion
Tentang ahli genetika yang membuat proyek istri untuk mencari pendamping hidup ideal. Manis, ringan, menjengkelkan dan lucu.

Klub Film karangan David Gilmour
Diangkat dari kisah nyata sang penulis yang mengizinkan putranya berhenti sekolah dengan syarat mereka menonton 3 film setiap pekan.

Alex karya Pierre Lemaitre
Novel kriminal asal Perancis. Berbeda dengan The Girl on The Train-nya Paula Hawkins dan Gone Girl-nya Gillian Flynn, novel ini tidak mengandalkan twist yang memukau. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya tersentuh. Sesuatu yang biasanya tidak disajikan oleh genre semacam ini.

Aurora karangan Machito Satonaka
Apa komik bisa digolongkan sebagai buku ?
Sebenarnya ada banyak komik yang membekas dalam ingatan kanak-kanak saya, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Sebut saja Rose of Versailles, Harlem Beat, Slam Dunk, Pengantin Demos, One Thousand Years of Love Song, Samurai Kyo, Samurai X, Yasha, Detective Conan, Detective Q, dll. Tapi di antara semua itu, Aurora yang paling kuat jejaknya. Entah cerita dalam komik itu yang terus teringat, atau kenangan ketika membaca komik itu yang tidak mau hilang. 

Kategori Non Fiksi 

Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Kisah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari lahir hingga wafat. Buku ini saya tamatkan setelah lulus SMA, minjam punya sepupu. Buku ini mendapat predikat sirah terbaik yang diselenggarakan oleh Rabithah Al-Alam Al-Islami.

Knight Templar Knight Of Christ karya Rizki Ridyasmara
Saya masih kelas satu SMA waktu baca buku ini. Dan lagi-lagi minjam dari sepupu. Bacaan sepupu saya memang kece. Mulai tahu sedikit tentang konspirasi, Freemasonsry, zionis, dll lewat buku ini.

Buku-buku karya ustadz Salim A. Fillah
Kalau yang ini sudah tidak diragukan lagi. Karya-karya beliau selalu jadi best seller. Bukunya yang pertama kali saya baca kalau tidak salah adalah Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku-buku karya Akmal Sjafril
Bagi yang tertarik dengan tema perang pemikiran tanpa membuat jidat berkerut, buku-buku karya beliau patut jadi bacaan. Seperti Islam Liberal 101 dan Islam Liberal Ideologi Delusional.

Taman Orang Jatuh Cinta karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah
Membahas seputar cinta tidak akan ada habisnya. Ada ribuan bahkan jutaan buku yang membahas tema ini dari berbagai sudut pandang. Tapi dari sudut pandang agama sepertinya tidak banyak. Salah satunya buku ini. Serba-serbi cinta dalam padangan islam dibahas lengkap oleh Imam Ibnu Qayyim al-Juziyah. 

Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb
Buku ini mencoba menyambungkan benang sejarah Islam dari masa kenabian sampai ke masa kini. Dan sesuai dengan judulnya, banyak kejadian penting dalam sejarah islam yang mungkin saja tidak diketahui kebanyakan muslim. Penulis juga meluruskan bias sejarah yang sering ditemukan dalam tulisan para orientalis. Serta tidak lupa menghidupkan kembali kontribusi besar para pemikir dan ilmuwan muslim yang kerap diabaikan buku-buku sejarah.

Enjoy Your Life karya Dr. Muhammad al-'Areifi
Pada dasarnya buku ini mirip dengan buku-bukunya Dale Carniege yang berisi seni berinteraksi dengan sesama manusia. Bedanya, penulis memasukkan kisah-kisah inspiratif dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai contoh. Buku ini banyak menolong saya dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Melacak Kekafiran Berfikir karya Muhammad Thalib
Masih tema perang pemikiran. Buku ini bermaksud meluruskan aqidah dan membersihkan pemahaman tauhid generasi muda. Ada sebelas kerangka berpikir yang dikritisi oleh penulis yaitu paham relativisme, paham zaman sebagai ukuran, manusia sebagai penguasa alam, sikap sains, asumsi sebagai aqidah, budaya kilowatt, personifikasi dalam sastra, positivisme, ideologi emansipasi, prinsip pragmatisme dan, paham plurlisme agama.

Waras di Zaman Edan karya Prie GS
Prie GS adalah pengamat dan perangkai kata yang mengesankan. Ada-ada saja hikmah yang dipetik dari setiap kejadian. Tak banyak orang yang bisa seperti itu.

Buku-buku yang ditulis Malcolm Gladwell
Sejauh ini bukunya yang saya baca baru tiga : Blink, The Outliers dan What The Dog Saw. Dan sejauh ini saya menyukai ketiganya.

Think Like A Freak karya Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner
Dua penulis aneh yang membahas tentang cara berpikir ala orang aneh. Yang menarik bahwa orang aneh itu bukanlah orang yang berpikir rumit atau berpikir besar. Mereka hanya berpikir sederhana, dan terkadang seperti anak-anak.

The Geography of Bliss karya Eric Weiner
Ada 3 buku Eric Weiner yang sudah diterjemahkan : The Geography of Bliss, The Geography of Faith dan The Geography of Genius. The Geography of Faith sedikit mengecewakan. The Geography of Genius lumayan. Dan The Geography of Bliss adalah yang terbaik.

Trilogi Titik Nol karya Agustinus Wibowo
Kisah perjalanan Agustinus Wibowo ke berbagai negara. Selimut Debu menceritakan kisahnya selama beberapa tahun tinggal di Afganistan. Garis Batas bercerita tentang perjalanannya menjelajahi negeri-negeri “Stan” di Asia Tengah. Dibanding Selimut Debu dan Garis Batas, Titik Nol menjadi yang paling nyaman dibaca. Gaya bahasanya berkembang pesat di buku ini. Yang saya suka dari penulis ini adalah bahwa ia bukan pelancong yang hanya tinggal satu atau dua minggu di suatu tempat kemudian menulis kisah perjalanannya. Tapi ia tinggal bertahun-tahun di Afganistan sehingga benar-benar memahami kultur masyarakat di negara itu. Begitulah seharusnya traveler sejati.
01 December 2016

Klub Film


Ketika anak laki-laki David Gilmour yang berusia lima belas tahun, Jesse, mulai keteteran dalam semua mata pelajaran di sekolah, ayah yang satu ini menawarkan perjanjian yang tidak lumrah: Jesse boleh berhenti sekolah –tidak bekerja, tidak membayar sewa rumah–tapi dengan satu syarat. Dalam seminggu, Jesse harus menonton tiga film yang dipilih ayahnya. Maka, minggu demi minggu, ayah dan anak duduk bersebelahan menonton film-film terbaik (dan kadang terburuk) di dunia –serta mengobrol tentang film dan kehidupan. Kemudian, ketika klub film mereka hampir mencapai akhir yang membahagiakan sekaligus menyedihkan, tapi tak terelakkan, Jesse membuat keputusan yang membuat semua orang terkejut, termasuk ayahnya…

Boleh berhenti sekolah asal mau nonton 3 film tiap minggu ? Wow, sungguh Ayah yang anti mainstream. Secara garis besar buku ini berisi memoir sang penulis, David Gilmour, selama tiga tahun membuat klub film sebagai ganti pendidikan anaknya. Semua nilai mata pelajaran Jesse anjlok. Yang lebih parah, ia sudah kehilangan minat terhadap sekolah. Jadi Ayahnya menawarkan kesepakatan : Jesse boleh berhenti sekolah, tidak perlu kerja, tidak perlu bayar uang sewa, tapi ia harus nonton tiga film yang dipilih ayahnya setiap minggu. Selain itu Jesse dilarang memakai obat-obatan. Jika dilanggar maka kesepakatan batal.

Ada buku yang hanya akan dibaca kalau diharuskan. Itu seninya pendidikan formal. Orang dituntut membaca banyak hal yang biasanya tidak pernah mereka gubris. (hal. 32)

Jesse tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, Tina. Ini karena Maggie, ibu kandungnya, beranggapan bahwa remaja laki-laki sebaiknya tinggal bersama laki-laki dewasa. David dan Maggie sudah lama berpisah. Meski begitu mereka rutin berkomunikasi terutama jika menyangkut perkembangan Jesse. Bahkan saat David mendapat pekerjaan baru, ia mengajak Maggie dan Jesse liburan ke Kuba. Di sisi lain, Tina, istri David yang sekarang, adalah wanita yang sangat pengertian. Pembaca tidak akan menemukan drama istri-cemburu-pada-mantan istri. Atau ibu tiri jahat ala Cinderella. Tidak ada hal semacam itu. Tina boleh dibilang cukup dekat dengan Jesse. Ketika Jesse terpuruk karena patah hati, Tina mampu menjadi orang yang menyenangkan untuk diajak bicara oleh anak tirinya.

Memilih film bagi orang lain adalah urusan serius. Seperti halnya menulis surat untuk seseorang, hal itu bisa mengungkap jati diri kita. Hal yang menunjukkan pola pikir kita, menunjukkan apa yang menggugah perasaan kita, bahkan terkadang hal itu bisa menunjukkan pendapat kita tentang bagaimana cara dunia memandang kita. (hal 212)

Minggu demi minggu mereka lewati dengan nonton film. Kadang-kadang film terbaik, kadang-kadang film terburuk, kadang-kadang film horror, film sakit jiwa sampai film-film romantis. Mereka membahas banyak hal seperti adegan terbaik di setiap film, aktor dan aktris terbaik menurut pendapat masing-masing, mengapa aktor A begitu melegenda, siapa saja sutradara dan penulis skenario di balik film-film sukses, sampai pada kehidupan pribadi para aktor dan sutradara. Pembaca akan disuguhi daftar panjang film, tahun produksi, penjelasan singkat kehidupan sang aktor atau aktris dan apa saja yang terjadi di balik layar pembuatan film. 

Kebanyakan film-film yang mereka tonton adalah film klasik, produksi tahun 80-an ke bawah. Kadang-kadang disinggung juga beberapa film era 90-an. Di sela-sela pembahasan tentang film itulah David menyisipkan pelajaran untuk anaknya, yang biasanya diambil dari cerita film. Misalnya saat mereka menonton film pertama mereka, The 400 Blows, David pelan-pelan membimbing Jesse untuk mencari persamaan situasi antara tokoh utama dengan kehidupan Jesse sendiri. Film adalah hal yang dikuasai oleh David. Jadi dia mendekati anaknya lewat satu-satunya hal yang ia kuasai. David sudah berpengalaman mewawancarai berbagai selebriti dan public figure di acara TV bahkan menjadi penulis di sebuah majalah atau surat kabar (lupa yang mana) sebagai kritikus film. Tapi hebatnya, ia tidak pernah menggurui jesse atau menguliahinya tentang makna dari film-film yang mereka tonton. David hanya menjelaskan uraian singkat sebagai pengantar dan selebihnya mereka diskusikan bersama.

David menyadari bahwa sekolah bisa membuat seseorang menjadi pembohong dan licik. Ia menemukan berlembar-lembar tugas sekolah yang disembunyikan di kamar anaknya. Jesse takut dimarahi ayahnya, tapi di satu sisi ia juga tidak mampu mengerjakan tugas itu. Jadi ia menyembunyikannya dan berkata bahwa tidak ada tugas sekolah. Licik, bukan ? Tapi buku ini tidak sedang mengajak orangtua untuk menarik anak mereka dari sekolah. Bagaimana pun, David sendiri mengalami pergulatan batin yang hebat. Ia memikirkan bagaimana jika ternyata keputusannya menyuruh Jesse berhenti sekolah adalah kesalahan besar ? Bagaimana jika di masa depan anaknya akan hidup tanpa pekerjaan dan kecanduan obat-obatan. Tapi ia mengenal anaknya. Jesse bukan tipe orang yang bisa dipaksa, menakut-nakutinya hanya akan membuat anak itu membangun kastil yang tidak bisa dimasuki siapapun. Jadi David bersabar. Ia bicara jika perlu dan tidak memperpanjang kata-kata. Ia tidak akan memaksa masuk ketika ada saat Jesse menutup kastilnya. Malah kadang kupikir David ini begitu hati-hati terhadap anaknya. Seolah-olah anaknya terbuat dari kaca yang rapuh, yang jika disentuh sembarangan akan pecah berantakan. Ketika Jesse sedang kacau karena masalahnya, David biasanya memberi nasihat singkat misalnya kurang lebih seperti ini : Jesse, bagaimana pun kacaunya kau saat ini, saranku jangan pakai obat-obatan. Kokain hanya akan membuatmu semakin buruk. Saat ini mungkin tidak, tapi ketika terbangun nanti kau akan merasa seperti di neraka. Nah, berapa banyak orangtua yang bisa sesabar itu menghadapi anaknya ? Berapa banyak orangtua yang tetap diizinkan keluar masuk kastil anaknya ketika pelan-pelan anak-anak itu mulai dewasa dan menarik diri ?

Di satu sisi, Jesse membuat saya sedikit jengkel. Yah, sebenarnya anak ini manis. Sungguh. Lihat saja fotonya di halaman terakhir. Hehehe. Oke maksudnya bukan begitu. Maksudnya adalah dialog antara Jesse dan ayahnya yang heartwarming. Misalnya “Apa Ayah menyayangiku ? Karena aku menyayangi ayah.” atau “Apa Ayah marah ?” atau “Bagaimana, Yah ? Tidak jelek, bukan ?” Ayah-anak bisa saling terbuka dan mengungkapkan cinta satu sama lain itu benar-benar menyentuh. 

Tapiiiii (i-nya sampai lima)…yang lebih mendominasi masalah Jesse ternyata adalah soal pacar. Sebut saja Rebecca Ng atau Chloe Stanton McCabe. Polanya selalu berulang, Jesse naksir si cewek tapi si cewek suka orang lain, dan si orang lain itu malah tidak peduli sama si cewek . Begitu terus sampai negara api menyerang. Yah, sebenarnya tidak persis begitu juga. Rebecca meninggalkan Jesse awalnya karena sibuk mengejar karir, ingat, Jesse tidak sekolah dan pekerjaannya hanya mencuci piring di sebuah resto. Tapi dia kembali lagi dan pelan-pelan mulai tertarik pada Jesse. Ujung-ujungnya malah Jesse yang memutuskan Rebecca. 

Kau tahu apa yang dikatakan Lawrence Durell, Jesse ? Kalau kau ingin melupakan seorang wanita, jadikanlah dia tulisan.” (hal. 181)

Yang paling parah adalah sewaktu putus dengan Chloe, lagi-lagi (kalau tidak salah) Jesse yang memutuskan, tapi malah dia sendiri yang terpuruk. Akhirnya David memberi saran agar Jesse menulis lagu, kebetulan hobi sampingan Jesse adalah rap. Ia dan sahabatnya, Jack, punya group bernama Corrupted Nostalgia. Jesse pun menulis lagu berjudul Angels. Lagu itu itu adalah ungkapan patah hatinya pada Chloe. Mereka bahkan membuat video klip-nya. Dan tebak, siapa perempuan dalam video klip itu ? Yep, Chloe sendiri pemirsahhh… Karena artis yang seharusnya jadi model sedang sakit (atau apalah) sehingga Chloe dipilih jadi pengganti. Ajaib, kan ? Karena penasaran, saya pun melacak video klip itu di Youtube. Hahaha…

“Anak-anak menghabiskan masa kecilnya untuk bersiap-siap meninggalkan kita.”
“Iya, tetapi pernahkah mereka sepenuhnya meninggalkan kita ?” (hal. 258)

Setelah tiga tahun, klub film mereka hampir berakhir. Mereka sudah jarang nonton. Jesse sudah keluar dari rumah, itu hal yang wajar bagi anak usia 19 tahun untuk hidup mandiri dan menghidupi dirinya sendiri. Ini yang saya suka dari pendidikan mereka. Keputusan Jesse di akhir membuktikan bahwa klub film selama tiga tahun tidaklah sia-sia. Setidaknya ia sudah menemukan apa yang ia inginkan. Kupikir inilah yang paling penting. Terkadang kita hanya melaju terus tanpa benar-benar memahami apa yang kita lakukan. Atau untuk apa. Tapi ada orang-orang yang memilih berhenti dan merenungkan semuanya. Merenungkan mengapa mereka harus mengambil jalan itu. Mereka memang akan terlambat dibanding yang lain. Tapi ketika mereka menemukan jawabannya, mereka akan melesat dan tidak lagi bisa dihentikan. 

Ketika duduk di ranjang itu aku sadar bahwa dia tidak akan pernah kembali lagi sebagai sosok yang sama. Mulai sekarang, dia adalah tamu. Tetapi masa itu, masa tiga tahun dalam kehidupan seorang pemuda di mana biasanya dia akan mulai mengunci diri dari orangtuanya, sungguh merupakan sebah anugerah tak terduga yang menakjubkan dan langka. (hal. 264)
24 November 2016

Lost Islamic History


“Sebuah buku sejarah peradaban Islam popular yang lincah dan mampu membuka mata kita. Buku ini berusaha ‘memulihkan kelalaian’ buku-buku sejarah tentang kontribusi besar para pemikir Muslim, ilmuwan teolog, para penguasa, negarawan dan tentara. Karya ini juga mencakup potret tokoh-tokoh kunci, penemuan dan bongkahan sejarah yang hanya sedikit diketahui”
-Standbooks.com-

Berawal dari akun Lost Islamic History di twitter, saya pun mengenal buku ini. Dan menjadi urutan teratas buku-buku Islam yang ingin saya koleksi. Yang saya suka dari buku ini adalah karena membacanya serasa nonton film dokumenter. Emosi yang keluar dari gaya bahasanya benar-benar kuat. Terima kasih untuk penerjemah yang membuat buku ini nyaman dibaca.

Penulis mengawali dengan memperkenalkan kondisi bangsa Arab pada zaman pra-islam (era jahiliah). Lanskap yang keras dan iklim kering tak bersahabat membuat bangsa Arab hidup berpindah-pindah. Kata “Arab” sendiri berakar dari bahasa Semit yang berarti “mengembara”. Dalam masyarakat nomaden yang menjunjung tinggi kesukuan, sulit untuk mengungkapkan jiwa artistik sebab mereka tidak punya daya dan waktu menciptakan patung atau lukisan seperti masyarakat Mesir atau Yunani Kuno (jadi ingat kata-kata Dr. Adian Husaini bahwa Islam memang bukan peradaban batu sehingga yang diwariskan bukanlah bangunan batu melainkan ilmu). Sebagai gantinya masyarakat Arab menciptakan seni yang berbeda, yaitu bahasa. Bahasa Arab memiliki struktur kata dan kalimat yang luwes, banyak cara berbeda bagi seseorang untuk mengungkapkan satu gagasan yang sama. Oleh karena itu syair merupakan seni de facto-nya khazanah Arab. Tapi walaupun merupakan masyarakat sastra yang maju, kepenulisan jarang ada di semenanjung Arab. Mereka sudah merasa puas hanya dengan hafalan. Mereka mampu menghafal syair berjumlah ribuan baris di luar kepala. Kemampuan hafalan ini terbukti menjadi kemampuan vital ketika Islam muncul pada tahun 600-an.

Bab kedua membahas seputar kehidupan Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam sejak lahir, menerima wahyu pertama, mengalami penindasan, hijrah ke Madinah, peperangan, kemenangan dan akhir kenabian beliau. Bab ini sangat ringkas, hanya 16 halaman. Tapi buku ini memang tidak ditujukan untuk fokus pada kehidupan Nabi tapi lebih kepada menyambungkan benang sejarah Islam dari masa kenabian sampai ke masa kini. Adapun kehidupan Rasulullah secara lengkap dapat dibaca dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.

Bab ketiga membahas kepemimpinan para Khulafaa’ur Raasyidinin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali Radiyallahu ‘anhu. Pada masa ini Islam semakin berkembang pesat lewat penaklukan dan meluas ke berbagai belahan dunia. Puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Terjadi ledakan besar dalam kegiatan perekonomian. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, kekayaan besar datang ke tangan pemerintah muslim.

Bab keempat menguraikan awal pendirian Negara Islam. Akhir Khulafaa’ur Rasyidiin (khalifah yang mendapat petunjuk) ditandai dengan meninggalnya Ali dan diangkatnya Muawiyah sebagai khalifah. Pemerintahan Muawiyah menjadi awal kekhalifahan Umayyah yang juga mengawali jabatan yang bersifat herediter. Artinya pengangkatan khalifah didasarkan pada garis keturunan, sistem yang sangat berbeda dari masa Khulafaa’ur Rasyidiin. Pada masa ini muncul berbagai konflik internal yang terutama dipicu oleh perebutan kekuasaan. Jika di bab 3 pembaca dibuat semangat dan terkagum-kagum pada pribadi dan kepemimpinan Khulafaa’ur Rasyidiin, maka di bab ini pembaca akan banyak merenung betapa silau kekuasaan dan cinta dunia sungguh menjadi faktor utama keretakan dalam tubuh umat Islam. Meski begitu, pada masa ini pula ekspansi Muslim semakin meluas hingga ke benua Eropa. Sementara di bagian Timur, dataran Asia Tengah mulai bergabung dalam peradaban Islam melalui migrasi pada tahun 800-an. Masa ini menjadi akhir era penaklukan militer. Sebagai gantinya, penaklukan intelektual muslim dimulai.

Bab kelima diberi judul Zaman Keemasan Intelektual sebab selain menjadi jembatan antara pengetahuan kuno dan Renaisans Eropa, masa ini juga merupakan dasar bagi dunia ilmiah modern. Beberapa hal menarik dari buku ini adalah trivia yang tersebar di banyak halaman. Salah satunya adalah bahwa Universitas tertua di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin ternyata didirikan oleh seorang wanita muslim di Maroko tahun 859. Khalifah Al Makmun mendirikan lembaga pendidikan di Baghdad yang dikenal dengan Bait Al-Hikmah, Rumah Kebijaksanaan. Ruang lingkupnya yang sangat luas benar-benar menyindir instansi pendidikan modern saat ini. Bagaimana tidak, Bait Al-Hikmah merupakan Universitas, perpustakaan, lembaga terjemahan dan sekaligus laboratorium penelitian, semuanya dalam satu kampus. Konon, cendekiawan yang berhasil menerjemahkan buku apa pun ke dalam bahasa Arab akan mendapatkan emas seberat bobot buku tersebut. Bab ini juga membahas kontribusi muslim terhadap berbagai bidang ilmu mulai dari matematika ada Al-Khawarizmi, Omar Khayyam dan Al-battani. Di bidang astronomi ada Al-Biruni dan Al-Majriti. Bidang geografi ada Muhammad Al-Idrisi dan Al-Mas’udi. Bidang kedokteran ada Ar-Razi dan Ibnu Sina, bidang fisika ada Ibnu Haitham, begitu pula di bidang fiqh, hadits dan teologi. Bagian tengah buku dilengkapi foto-foto dengan kertas ekslusif.

Selanjutnya masuk ke pergolakan yang muncul saat terjadi perang salib dan invasi bangsa Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan. Invasi bangsa Mongol mengawali periode kehancuran peradaban Islam di Persia, Irak dan Suriah. Bukhara hancur total. Ribuan naskah dibuang ke sungai Oxus dan lebih dari 3,7 juta jiwa tewas dibantai. Bagian ini benar-benar bikin ngeri membayangkan kebengisan bangsa Mongol.
Bagian berikutnya membahas pendirian Islam di Granada, Spanyol. Terjadi flukutasi kejayaan Islam di masa ini. Namun akhirnya runtuh juga setelah raja Ferdinand dan Ratu Isabella, monarki Katolik yang terkenal menyatukan kekuatan mereka sehingga amir yang menjabat saat itu, Muhammad XII terpaksa menyerahkan kunci kota dan Alhambra kepada para penakluk pagi-pagi buta ketika penduduk masih tidur kemudian meninggalkan kota itu sambil berurai air mata. 

Bab selanjutnya membahas dunia islam yang terabaikan atau yang disebut wilayah tepian seperti Afrika Barat, Afrika Timur, Tiongkok, India dan Asia Tenggara. Umumnya wilayah ini menjadi bagian peradaban islam lewat jalur perdagangan dan asimilasi budaya. Hingga kemudian Islam mengalami kebangkitan kembali dengan berdirinya Khalifah Utsmaniyah di Turki. Khalifah Utsmaniyah sempat melewati masa keemasan, kemudian pelan-pelan mengalami kemunduran terlebih sejak diberlakukannya reformasi liberal. Para wazir dan sultan mereorganisasi pemerintah dengan mengikuti gaya eropa dan mulai menanggalkan identitas islam. Pendidikan disesuaikan dengan standar Eropa, surban dan jubah yang menjadi pakaian pegawai selama berabad-abad diganti dengan celana, jaket dan sepatu bot kulit, pengetahuan ilmiah mulai dipisahkan dari pengetahuan agama, bahasa Arab yang telah berabad-abad menjadi lingua franca diubah ke bahasa Turki. 

Puncaknya terjadi saat khilafah terakhir jatuh pada tahun 1924. Setelah itu diberlakukan pelarangan jilbab, larangan adzan di masjid dan secara resmi mencabut hukum syariah. Umat Islam benar-benar mengalami kemunduran. Di saat yang sama Israel yang baru berdiri menggunakan perang untuk mengusir ratusan ribu muslim Arab dan Kristen keluar dari tanah air mereka, Palestina. Mereka mengungsi ke negara tetangga seperti Yordania, Mesir, Suriah dan Lebanon. Demikianlah akhir buku ini. Bagaimana pun kondisi umat Islam saat ini, penulis tetap optimis bahwa suatu saat Islam akan kembali mencapai masa kejayaannya. Sebab memang kemenangan dan kekalahan itu dipergilirkan. Tergantung pada bagaimana umat ini menghadapi dikotomi sekularisme dan politik Islam yang terjadi di seluruh dunia. Apakah syariat Islam akan kembali memainkan peran utama atau nasionalisme dan sekularisme yang menjadi arus utama? Jawaban itu akan menentukan era baru bagi Dunia Islam di masa yang akan datang.
 
;