17 August 2017

Si Nomor Dua

“Bagaimana kondisinya ?” Tanyaku lewat telepon 
“Sudah sadar. Mau bicara ?” Ibu balik bertanya 
“Boleh”
“Halo, Assalamu’alaikum” 
“Wa’alaikumsalam. Hei, bagaimana rasanya ?” Tanyaku 
“Mana bisa dirasa ? Kan, dibius total. Tapi sekarang sakit kalau gerak” 
Setelah itu telepon diserahkan kembali ke Ibu. Kami bicara agak lama sebelum akhirnya ditutup.
 
Aku sudah pernah menulis tentang adikku yang bungsu. Kupikir sore ini aku ingin menulis tentang si nomor dua. Ingatan tentang masa kecil kami sudah samar di kepalaku. Tapi ada beberapa perisitiwa yang masih kuingat dengan jelas. Sewaktu bayi, dia pernah sakit. Penyakit itu lama-kelamaan bertambah parah. Dokter sudah berupaya, tapi akhirnya mereka hanya meminta kami banyak berdoa. Saat itu, Ibu berpikir bahwa mungkin adikku tidak akan bertahan. Aku punya keping ingatan yang kabur tentang ini. Di ingatan itu, kulihat para kerabat dengan wajah sedih berkumpul di sekeliling adikku. Sementara aku hanya bisa menatap sosoknya yang kecil terbaring timbul tenggelam di antara punggung para kerabatku. Ternyata Allah berkehendak lain. Hari demi hari kondisinya perlahan membaik. Ia selamat.
 
Di masa kanak-kanaknya, sudah tidak terhitung berapa kali dia jatuh, entah jatuh dari sepeda, jatuh dari tangga, jatuh dari pohon dan berbagai jatuh lainnya. Dia punya banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Ada satu peristiwa yang lagi-lagi membuat jantung kami serasa mau copot. Saat itu aku masih SD dan adikku belum masuk TK. Ibu tengah mengajar di kelas, ketika salah satu muridnya berlari masuk dan mengabarkan bahwa adikku jatuh dari pohon. Ada pecahan beling menancap di kepalanya. Sekarang dia di rumah sakit Bu, kata murid tadi. Aku sedang bermain di halaman sekolah bersama teman-temanku. Begitu mendengar berita tadi, aku langsung berlari ke rumah sakit yang berdampingan dengan sekolah. Dua temanku yang diminta menjadi kurir berita berlari menuju kantor Ayah. Kulihat darah menetes di sepanjang koridor rumah sakit. Saat masuk ke ruangan, kulihat dokter dan perawat sibuk mengobati kepalanya yang berlumuran darah. Adikku menangis dan ketika melihatku, tangannya menggapai-gapai ke arahku. “Kepalaku hilang…! kepalaku hilang…!”, teriaknya. Aku memegang tangannya. Air mataku sudah hampir jebol. Tapi di saat yang sama aku tertawa mendengarnya. “Kepalamu masih ada.”, kataku. Ketika Ayah dan Ibu akhirnya muncul di balik pintu, aku berlari memeluk mereka. Mereka menepuk-nepuk punggungku. Tidak apa-apa, katanya berulang-ulang. Itu adalah peristiwa yang masih kuingat jelas sampai sekarang.
 
Ia sudah kelas 2 SMP ketika aku masuk kuliah. Jika pulang kampung saat libur semester, tiap sore ia kuajak jalan-jalan ke pelabuhan. Malamnya kami ke perpustakaan daerah atau main PS di rumah nenek. Setelah kembali ke Makassar, Ibu pernah menelpon hanya untuk mengabarkan bahwa si nomor dua tiap sore naik sepeda ke pelabuhan sendirian. Waktu ibu tanya kenapa, dia jawab begini : “Kangen kakak !” Hahaha…
 
Tapi adik laki-laki itu biasanya menyenangkan hanya sampai usia SMP. Memasuki SMA, mereka mulai menyebalkan. Masa puber memang menyebalkan. Teman-temannya mulai banyak. Ia jadi lebih sering nongkrong bersama temannya. Sementara kalau di rumah, dia lebih banyak mengunci diri di kamar. Pernah saat maghrib sudah masuk, aku mengetuk pintu mengingatkannya untuk shalat. Ia hanya menjawab ya, tanpa mengecilkan volume musik yang berisik di kamarnya. Kutegur dua kali, tidak ada perubahan. Kutegur tiga kali, masih sama. Aku kehilangan kesabaran. Kami bertengkar malam itu. Ia tidak mau mengajakku bicara sampai aku kembali ke Makassar.
 
Lalu lebaran Idul Adha tiba. Saat itu sang Khatib memberikan ceramah tentang pentingnya meminta maaf dan memberi maaf. Pesannya benar-benar menyentuh, kulihat banyak jamaah yang meneteskan air mata menyimak ceramah sang khatib. Sepulang ke rumah, kulihat adikku mencium kedua tangan ayah dan ibu, lalu dengan enggan mengulurkan tangannya kepadaku. Kugenggam tangannya sedikit lebih lama lalu kuusap kepalanya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia langsung memelukku dan mulai terisak. Maafkan saya, kak, katanya. Ayah dan ibu heran melihatnya. Pertengkaran sore itu memang hanya kami yang tahu. Di lain waktu, dia pernah memperlihatkan foto seorang gadis. “Manis tidak ?” Tanyanya. “Pacarmu ?” aku balik bertanya. Dia mengangguk. Aku tidak berkomentar, karena sebenarnya dia sudah tahu bagaimana pandanganku soal pacaran.
 
Kami sering berbeda pendapat. Dia keras kepala, ceroboh dan susah dinasihati. Ibuku sering bilang bahwa pikirannya bisa keriting menghadapi anak laki-lakinya yang keras kepala bukan main itu. Tapi biar begitu, dia punya rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Saat ini dia sedang di rumah sakit. Kata Ibu, banyak teman-temannya yang datang menjenguk. Syafakallah, laaba’sa thohurun insya Allah. Lekas sembuh, bro!
16 August 2017

Gintama


Mulai mengikuti anime ini sejak tahun lalu, yang kemudian saya beri gelar sebagai anime terfavorit. Gelar itu masih bertahan sampai sekarang. Anime ini datang di saat yang tepat, saat saya sudah bosan mengikuti One Piece. Anime itu semacam hiburan bagi para generasi 90an yang sekarang sudah bekerja. Berdasarkan pengamatan terhadap teman-temanku, semakin dewasa seseorang semakin sedikit hal yang bisa menghibur mereka. Sepanjang hari bekerja ditambah lembur, tidak banyak waktu untuk jalan-jalan atau berkumpul dengan yang lain. Kalaupun ada, biasanya sulit menyatukan waktu satu sama lain. Semua sibuk bekerja. Pulang ke rumah sudah lelah. Jadi nonton adalah satu dari sedikit hiburan di rumah. Yang jelas bukan TV, apa pun asal bukan TV. Mereka biasanya memilih drama Korea, film dan anime. Ngomong-ngomong, kenapa pula saya membahas ini ? Bukannya yang mau dibahas itu Gintama ?

Nah, Gintama dapat dari salah satu teman yang boleh disebut sebagai bandar anime. Mulai dari season satu sampai yang terbaru semua dia punya. Setiap kali pulang, pertanyaan pertama yang selalu saya tanyakan, “Ada Gintama ?”. Waktu kubilang saya mulai malas nonton One Piece, dia pun menjelaskan panjang lebar kalau kemungkinan lima tahun lagi bakal tamat. Katanya, sekarang ceritanya tambah seru. Dan ini itu lainnya. Tapi sejak nonton Gintama, pandangan saya tentang anime sedikit berubah. Dan itu yang mau dijelaskan dalam tulisan ini.

Gintama menggabungkan latar Edo di zaman samurai dengan dunia masa depan. Bayangkan saja para samurai sedang berjalan dengan pedang di pinggangnya dan handphone di tangannya. Di masa depan, perjalanan bukan lagi antar negara, tapi antar galaksi. Ras pun terbagi-bagi, ada manusia bumi, ada ras Yato dan ada Amanto. Amanto boleh dibilang semacam alien yang menginvasi bumi. Mereka datang membawa teknologi canggih dan memajukan peradaban. Amanto ini mungkin perumpaan untuk orang-orang Barat. Ketika pengaruh mereka mulai masuk ke Jepang selama periode perang dunia puluhan tahun silam.

Kebanyakan episode Gintama hanya bercerita seputar kehidupan sehari-hari yang dihiasi parodi dan hal-hal nonsense lainnya. Bahkan di saat adegan serius pun ada-ada saja yang korslet. Entah apa tujuan anime ini. Kalau tujuan Luffy jelas, jadi raja bajak laut dan menemukan One Piece. Naruto ingin jadi Hokage dan diakui semua orang. Kalau Gintoki ? Kulihat dia hanya ingin hidup tenang, baca Jump setiap minggunya, makan yang manis-manis dan pura-pura lupa bayar uang sewa. Kutipan yang dipajang di rumahnya pun bukan kalimat kepahlawanan ala samurai, tapi malah “Kontrol Gula Darahmu” 

Hal pertama yang saya suka dari anime ini adalah judul-judul tiap episodenya. Judulnya terkesan nyeleneh tapi punya pesan yang bagus. Bikin kita senyum sendiri. Misalnya :
“Kenapa Air Laut Itu Asin ? Karena Kalian Kencing Saat Berenang”
“Seperti Rumah Hantu, Kehidupan Juga Penuh dengan Rasa Takut”
“Jangan Mengeluh Tentang Pekerjaanmu di Rumah. Lakukanlah di Tempat Lain”
“Orang Yang Pilih-Pilih Makanan, Maka Makanan Juga Akan Begitu Padanya”
“Ketika Seseorang Yang Berkacamata Tak Memakai Kacamata, Rasanya Seperti Ada Yang Kurang”
“Menikah itu Memperpanjang Ilusi dalam Hidupmu”
“Make up Terbaik Seorang Wanita Adalah Senyumnya”
“Dunia Nyata Maupun Video Game Semuanya Penuh dengan Bug”
"Setiap Orang Adalah Seorang Pelarian dari Penjara Yang Disebut”Diri Sendiri”
“Ketika Kau Mencari Sesuatu Yang Hilang, Ingatlah Apa Yang Sedang Kau Lakukan Ketika Itu Hilang”
“Terkadang Sang Pemburu Mumi Bisa Menjadi Mumi Itu Sendiri”
"Jika Berat Badanmu Ingin Turun, Berhentilah Makan dan Bergeraklah!"
"Pria Yang Beruntung Itu, Yang Bangun Pagi dan Pergi Kerja"
"Anak Hanya Meniru Hal Negatif dari Ayahnya"
"Hal Yang Baik Tidak Datang Dua Kali (Tapi Hal Buruk, Ya)" 

Kedua, anime ini sering menyindir fenomena sosial dengan gayanya yang khas. Mulai dari anak muda sekarang yang kebanyakan main video game dan jarang keluar rumah. Atau tentang kehidupan otaku dengan idol mereka. Atau orang-orang yang tidak bisa lepas dari smartphone. Dan banyak lagi. Pesan-pesannya terasa dekat dengan kehidupan kita. Ketiga, gemar memparodikan anime lain. Sebut saja Prince of Tennis, Kuroko no Basket, Gundam, One Piece, Bleach, Black Butler, Naruto, Hunter X Hunter, Dragon Ball, Death Note, Detective Conan, bahkan Ultraman dan masih banyak lagi. Animenya sendiri pernah diparodikan dan dibanding-bandingkan dengan anime lain. Baru kali ini ada anime yang karakter-karakternya tahu bahwa mereka sedang bermain peran dalam suatu cerita fiksi. Keempat, tidak ada penamaan jurus dalam anime ini. Kalau mereka bertarung, ya bertarung saja. Tidak ada yang teriak kamehameha, atau gomu gomu no, atau kage bushin no justu, atau hiten-mitsurugi-ryu. Seingatku ada salah satu episodenya yang berjudul “Ada Dua Jenis Orang : Orang Yang Meneriakkan Jurusnya dan Yang Tidak Meneriakkan Jurusnya” (panjang amat judulnya). Di episode ini Shinpachi bilang, dia bisa keburu mati kalau setiap kali bertarung harus sebut jurus dulu. Apalagi kalau nama jurusnya panjang.

Tulisan ini bukan bermaksud melebihkan Gintama dibanding One Piece, Bleach atau anime top lainnya. Sama sekali bukan. Semua orang mengakui kehebatan One Piece. Betapa kreatif ide cerita, latar dan karakter-karakternya. Tapi bagi saya Gintama itu berbeda (ah, klise sekali kata-kata ini). Ada sesuatu yang saya temui di sini yang tidak saya dapatkan di anime lain (oke, mari hentikan kata-kata klise ini). Bagaimana ya menjelaskannya ? Pokoknya begitulah. Rasanya lebih bisa dijangkau. Karakter terfavorit jelas Gintoki, si tokoh utama. Biasanya lebih suka karakter pendukung. Tapi khusus Gintama, tokoh utamanya adalah yang terbaik. Saat tulisan ini dibuat, episode yang terakhir saya nonton adalah episode 328. Sejak kematian Shogun Shigeshige dan kemunculan Shoyo, anime ini berubah jadi serius dan mulai jelas alur dan tujuannya. Berharap mereka bisa kembali ke Edo dan menjalani hari-hari konyol seperti biasa.
10 August 2017

Aku Ingin

Aku ingin menulis kisah yang sedih
Kisah yang jika kubaca kembali, akan membuatku menangis 

Aku ingin menulis cerita yang lucu 
Cerita yang jika kuingat kembali, masih membuatku tertawa. Minimal tersenyum. 

Aku ingin menulis kisah yang indah 
Kisah yang jika kubaca lagi, bisa menghangatkan hatiku 

Aku belum tahu pasti, kisah macam apa yang akan kutulis 
Tapi aku tahu, kau akan ada di sana 
Di dalam cerita

Melihat dari Jauh

Biasanya, kita mudah menyukai sesuatu dari kejauhan. Karena jauh membuatnya terlihat lebih indah. Jauh membuatnya terlihat misterius. Jauh membuatnya seakan tak tergapai. Tapi bila kau sedikit lebih dekat, boleh jadi itu tidaklah seindah yang kau bayangkan. Bila kau melihat lebih dekat, mungkin itu hanyalah hal biasa, seperti kebanyakan. Dan bila lebih dekat lagi, kau akan menyadari bahwa tak ada yang benar-benar misterius hingga kau melihatnya dari dekat. Kau terlanjur menciptakan ilusi di kepalamu. Kau pikir kau menyukainya. Tapi sebenarnya, kau menyukai sesuatu yang lain yang kau pikir dia. Kau menyukai ilusi yang kau buat sendiri.

Kita mudah menyukai sesuatu dari kejauhan. Karena jauh membuatnya terlihat indah. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kau pahami dari jauh. Rembulan selalu terlihat indah bila dipandang dari bumi. Tapi tak kehidupan di sana. Hanya ada ruang hampa. Apapun yang ada di dekatmu saat ini, yang bisa kau jangkau dengan kedua tanganmu, tempatmu selalu kembali, tempat yang selalu menerimamu, sebenarnya jauh lebih indah. Dan lebih berharga.
06 August 2017

Buku Yang Kubaca Tahun 2017 (4)

Rashomon 
Penulis : Ryunosuke Akutagawa 
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) 
Halaman : 167 


Kumpulan cerpen Akutagawa ini adalah buku pertama yang saya pinjam di iPusnas. Sepertinya dari salah satu cerpen inilah muncul istilah Rashomon Effect. Yaitu teknik penceritaan satu kejadian yang sama tapi dari sudut pandang masing-masing tokoh. Cerita menurut satu tokoh saling bertolak belakang dengan cerita versi tokoh lain. Sehingga kita tidak tahu cerita mana yang benar. 

Tewasnya Gagak Hitam 
Penulis : Sidik Nugroho 
Penerbit : Gramedia 


Seorang pelukis bernama Elang tertarik dengan berita di surat kabar yang berjudul “Pengarang Ditemukan Tewas Gantung Diri”. Ketertarikannya disebabkan karena korban tersebut tidak meninggalkan identitas. Yang diketahui hanya nama samarannya, Gagak Hitam. Awalnya tertarik minjam novel ini di iPusnas karena judul dan covernya. Tapi saya jadi heran, kenapa pelukis tiba-tiba tertarik menyelidiki kasus kematian. Lebih heran lagi, kenapa polisinya juga begitu mudah melibatkan si pelukis dalam kasus tersebut. 

The Geography of Love 
Penulis : Peter Thiesen 
Penerbit : Qanita 


Judul asli buku ini adalah Liebe in Zeiten der Cola (Love in The Time of Cola), pelesetan dari novel klasik, Love in The Time of Cholera. Rasa Coca Cola di mana-mana sama. Tapi bagaimana rasanya cinta ? Peter Theisen, pria 44 tahun asal Jerman, sukses dalam karier dan berpenampilan menarik. Belum punya anak, sementara pernikahan baginya masih terasa jauh, sejauh jarak ke planet Venus. Ia adalah tipe orang yang ketika hubungan mulai serius, akan mulai menjaga jarak. Hmm, sepertinya saya cukup kenal sifat semacam ini. Hahaha... Nah, di usianya yang tidak lagi bisa disebut muda ini, Peter merasa belum juga belajar tentang cinta. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk keliling dunia sembari meneliti makna cinta di berbagai belahan bumi. Mungkin tidak terlalu tepat jika disebut keliling dunia, karena hanya beberapa tempat yang menjadi destinasi penelitian Peter yaitu Georgia, Kolombia, Zanzibar, Sumatra dan Polinesia. Tapi buku ini benar-benar menarik. Penulisnya sopan dan lucu. Berbeda dengan Eric Weiner yang khas dengan sindiran dan komentar sinis dalam buku-buku perjalanannya, Peter terasa lebih halus dan santun.

Nguping Jakarta 
Penulis : Kuping Kiri dan Kuping Kanan 
Penerbit : Bentang 

Buku ini sudah pernah saya singgung dalam tulisan sebelumnya. Tapi baru kali ini benar-benar membacanya dari awal sampai akhir. Terima kasih kepada iPusnas atas pinjaman bukunya. Karena saya baru tahu kalau nama asli Kuping Kanan sungguh-sungguh absurd : Rangga Sastrowardoyo! 

Nguping Selebrity 
Minjam di iPusnas juga. Tapi lupa nama penulis dan penerbitnya. Awalnya saya kira mirip dengan nguping Jakarta, hanya terbatas di kalangan selebriti. Eh, ternyata bukan. Sama sekali bukan buku lucu. 

Halaqah Cinta 
Penulis : @teladanrasul 
Penerbit : QultumMedia 
Halaman : 302 


Dipinjamkan sama teman. Isinya tidak jauh-jauh dari provokasi untuk menikah. 

Love Life 
Penulis : Ray Kluun 
Penerbit : Alvabet 
Halaman : 416 


Tahun 2011 lalu sebenarnya pernah lihat novel ini di antara deretan buku di Papirus. Tapi belum minat beli. Ternyata ada juga di iPUsnas. Abaikan covernya yang mengingatkanmu pada novel-novel Mira. W, sebab novel ini adalah pemenang The Duch 2006 NS Publiek Book of The Year. Bercerita dari sudut pandang Dan, seorang suami yang istrinya divonis kanker. Dan dan Carmen memiliki segalanya, muda, kaya, tampan dan cantik. Vonis tersebut mengubah kehidupan rumah tangga mereka. Sementara Carmen menjalani kemoterapi dan masektomi, Dan yang hedonis berusaha menghibur diri dengan teman-temannya dan sejumlah perempuan. Novel asal Belanda yang terbit tahun 2003 ini disebut sebagai kisah cinta yang radikal. Tentang suatu penyakit tak tersembuhkan yang tidak dilebih-lebihkan atau mengandung sentimen palsu. Kau tidak akan menemukan drama cinta sampai mati ala korea di novel ini. Tapi itu yang membuatnya terasa nyata. Terasa mencerminkan kehidupan. 

You go, I’ll stay here, but I want to thank you, 
For what you’ve done, farewell always comes too soon… 

Kalau pasanganmu sakit dan tak mampu lagi memenuhi kewajibannya sebagai istri, masihkah kau mencintainya ? Bisakah kau tetap di sisinya sampai akhir ? Jika iya, apa kau yakin ? Di awal, tentu kau akan mendukungnya. Tapi lama kelamaan kau akan lelah, dan mulai bertanya-tanya kapan semua itu berakhir. Saat itu tiba, kau akan mempertanyakan kembali perasaanmu padanya. Mungkin itu bukan lagi cinta, tapi belas kasih. Mungkin kau berada di sisinya lebih karena kewajiban sebagai pasangan. Inilah yang digambarkan Ray Kluun dalam novelnya. Realistis, kontroversial, menyentuh dan juga menyakitkan. Kluun seakan ingin membuat pembaca memaklumi perilaku Dan di luar rumah. Itu dianggap sebagai hiburan di sela kesibukannya mengurus rumah, merawat istri yang sakit dan anak yang masih kecil. Kluun membuat seolah euthanasia bisa dibenarkan demi kebaikan kedua pihak. Novel ini banyak menyisipkan lirik lagu dari berbagai penyanyi dan band mulai dari Madonna, David Bowie sampai U2. 

Saya tersentuh oleh kebaikan Dan dalam mendukung Carmen sejak hantaman pertama. Dia selalu ada untuk Carmen. Walaupun kata “selalu ada” mempunyai makna yang berbeda dari yang kita pikirkan. Inilah yang kumaksud tadi. Dan butuh tenaga untuk merawat istrinya. Dia butuh kekuatan untuk mengatasi rasa frustasinya. Tapi kekuatan itu ia dapatkan dari perempuan lain. Jadi kita akan bertanya-tanya : 

“Love, so what is love ?” 
~Andre Hazes~ 

Nenek Hebat dari Saga 
Penulis : Yoshichi Shimada 
Penerbit : Kansha Publishing 
Halaman : 256 


“Saat jarum jam dinding berputar ke kiri orang akan menganggapnya rusak dan membuangnya. Manusia pun tidak boleh menengok ke belakang, terus maju dan maju, melangkah ke depan!” 

Novel ini bercerita tentang kehidupan semasa kecil Tokunaga yang tinggal bersama neneknya di Saga selama beberapa tahun. Ibu Tokunaga terpaksa menitipkan anaknya karena kehidupan di Hiroshima begitu sulit untuk mereka berdua, terutama setelah jatuhnya bom atom di kota itu. Nenek Osano lahir di era Meiji (tahun 1900). Pada masa perang tahun 1942, suaminya meninggal. Sejak saat itu ia hidup sebagai tukang bersih-bersih di Universitas Saga yang terafiliasi dengan SD/SMP. Bertahan hidup sambil membesarkan tujuh orang anak. Saat Tokunaga tinggal bersama neneknya, nenek Osano sudah berusia 58 tahun, tapi masih bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Hidupnya jauh dari kemewahan, tapi entah kenapa, beliau selalu saja tampak ceria dan bersemangat. Di masa-masa tinggal bersama neneknya itulah, Tokunaga banyak belajar tentang prinsip hidup dari sang nenek. 

“Tidak ada uang, maka tidak bahagia. Menurutku, semua orang kini kelewat terikat dengan perasaan seperti itu. kemudian, karena orang dewasa berpikir demikian, anak-anak pun ikut dibesarkan dalam keadaan ini.” 

Osano-bachan punya prinsip bahwa ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Sulitnya hidup membuat mereka pandai berhemat. Lauk sehari-hari mereka ambil dari apa saja yang tersangkut di galah yang ditaruh di sungai depan rumah. Jika yang tersangkut adalah timun, maka lauk mereka hari itu adalah acar timun. Jika yang tersangkut adalah lobak setengah rusak, maka bagian yang rusak dibuang kemudian bagian yang masih bagus dipotong-potong lalu direbus. Bagi kedua orang ini, sungai di depan rumah itu ibarat pasar atau mini market. Menu sehari-hari tergantung dari apa yang tersangkut di galah. 

“Sebenarnya tidaklah sulit mencapai kehidupan yang baik. Kita hanya perlu menikmati apa pun yang terjadi dalam hidup, mensyukuri makanan apa pun yang ada di depan mata, lalu hidup dengan tawa setiap harinya.” 

Prinsip hidup yang diajarkan sang nenek terus mengakar sampai Tokunaga dewasa. Hingga kini ia tidak mengenal kata-kata benda bermerk atau sajian mewah. Yang ada hanya sandang, pangan dan papan dalam kehidupan yang sederhana. Jadi teringat kata-kata Lily Franky dalam memoarnya, Tokyo Tower, bahwa memiliki uang koin seratus yen di kantong tak dapat dikatakan miskin. Justru satu-satunya kekayaan berupa uang seribu yen dalam dompet Louis Vuitton yang dibeli secara kredit malah lebih tergolong miskin. Novel ini akan membuat kita bernostalgia dengan masa kecil. Terutama jika kita besar dalam asuhan nenek. 

Big Little Lies 
Penulis : Liane Moriarty 
Penerbit : Gramedia 
Halaman : 512 


“Pembunuhan ? Kecelakaan tragis ? Yang pasti seseorag tewas. Tapi, siapa yang melakukan apa ?”
Semuanya bermula pada hari orientasi TK di Pirriwee Public School: ketika Jane –seorang ibu tunggal yang penuh rahasia– mengantar putranya ke sekolah dan bertemu dengan Madeline yang sinis dan penuh semangat, serta Celeste yang cantik tapi selalu gelisah. Saat insiden kecil yang melibatkan anak-anak ketiga wanita itu dengan cepat berubah serius, dan bisik-bisik antar ibu menjadi gosip-gosip jahat, tidak ada lagi yang tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong. Hingga seseorang harus membayar dengan nyawa. 

Awalnya saya kira ini novel kriminal yang melibatkan detektif, polisi dan serangkaian analisis kasus. Ternyata novel tentang persahabatan. Persahabatan antara tiga ibu rumah tangga yang dimulai sejak masa orientasi anak-anak mereka. Madeline, ibu tiga anak yang sudah menikah dua kali. Suami pertamanya, Nathan, meninggalkannya sewaktu anak pertama mereka –Abighail– masih balita. Madeline kemudian menikah dengan Ed dan lahirlah Chloe serta Fred. Sementara Nathan menikah dengan Bonnie, wanita yang usianya lebih muda dari Madeline. Mereka memiliki anak perempuan bernama Skye. Anak-anak mereka bersekolah di TK yang sama. Madeline tidak pernah memaafkan mantan suaminya yang tidak bertanggungjawab itu. Setiap kali bertemu, pasti terjadi aksi saling menyindir. Walaupun diam-diam Madeline mengakui bahwa mantan suaminya banyak berubah sejak menikah dengan Bonnie. 

Jane, ibu satu anak, orangtua tunggal yang baru pindah ke Pirriwee. Setiap kali anaknya, Ziggy, bertanya tentang siapa ayahnya, Jane selalu menjawab tidak tahu. Sewaktu berkenalan dengan Madeline, Jane mengaku ia pindah karena dorongan hati mencari suasana baru. Tapi sebenarnya ada alasan lain di balik kepindahan itu. Alasan yang nanti terungkap di akhir cerita. Dan itu berhubungan dengan identitas ayah Ziggy. 

Celeste, ibu dari si kembar Max dan Josh. Para orangtua murid di TK seringkali iri dengan kehidupan Celeste yang sempurna. Punya wajah yang cantik, suami yang tampan dengan kekayaan yang luar biasa banyaknya, rumah yang besar, pakaian dan perhiasan yang mahal serta dua anak yang manis. Wanita mana yang tidak menginginkan itu semua ? Dalam setiap pesta yang diadakan, pasangan inilah yang paling menarik perhatian. Merekalah Raja dan Ratu Prom. Tapi seperti kata orang, tidak ada pernikahan yang sempurna di dunia ini. Celeste berniat meninggalkan suaminya. Dan dia punya alasan kuat untuk itu. 

Madeline yang ceria dan blak-blakan, Jane yang pemalu serta Celeste yang selalu gugup dan gelisah. Saya suka karakter ketiga wanita ini. Tapi secara keseluruhan, saya paling suka keluarga Madeline. Mereka lucu dan hangat. Dialog antara Madeline dengan anak-anaknya atau dengan suaminya biasanya sukses memancing tawa. Kalau tokoh laki-laki, saya paling suka Tom O’Brien si barista. Pemilik kafe Blue Blues. Pandai memasak, suka bermain jigsaw, menolong di saat yang tepat, kopi racikannya membuat orang kecanduan, dan yang paling penting, seratus persen normal. 

Ketiga sahabat ini rutin bertemu di kafe Blue Blues setelah seharian sibuk membagi waktu antara mengurus pekerjaan dan mengurus anak. Masalah dimulai ketika, anak Jane, Ziggy, dituduh sebagai perisak oleh salah seorang anak yang menyebabkan leher anak itu lebam. Awalnya saya bingung kenapa penerjemah memakai kata risak. Ini kata yang baru saya dengar. Menurut KBBI, risak artinya mengganggu atau mengusik. Jadi mungkin sama dengan istilah bully. 

Ngomong-ngomong soal perisakan, ada 2 jens orang (terlalu sempit sebenarnya kalau hanya 2): orang yang merisak dan orang yang dirisak. Kamu masuk tipe yang mana ? Yah walaupun bisa saja seseorang menjadi perisak, kemudian di lain waktu menjadi orang yang dirisak. Atau bisa jadi ada orang yang seumur-umur tidak pernah merisak dan tidak pernah dirisak. Orang-orang yang sudah melewati masa sekolah biasanya pernah mengalami perisakan dengan tingkatan berbeda. Waktu jamanku dulu (duh, bahasa orangtua :D) perisakan belum separah sekarang. Orang yang dirisak tidak disakiti secara fisik, tapi dikucilkan. Tidak ada yang mau berteman atau berbicara dengannya dalam jangka waktu tertentu. Tapi semua berubah ketika Negara Api menyerang. Hahahah… Maksudnya hal-hal semacam ini pelan-pelan hilang sendiri dengan bertambah dewasanya seseorang. Orang yang pernah merisakmu semasa SMP entah kenapa bisa jadi sahabatmu saat SMA. Hidup memang penuh dengan berbagai kemungkinan. Setidaknya begitulah menurut pengalaman saya. Baru-baru ini saya menonton serial TV bertema bullying. Judulnya 13 Reasons Why. Bercerita tentang remaja SMA bernama Hannah yang bunuh diri. Alasan bunuh dirinya direkam dalam 13 kaset pita yang kemudian dipaketkan ke rumah temannya. Katanya serial ini menjadi serial Netflix yang paling laris. Tapi entah kenapa saya tidak klop dengan cerita dan tokoh-tokohnya. Jadi saya tidak bisa mengatakan saya menyukainya.
27 May 2017

Buku Yang Kubaca Tahun 2017 (3)

Animal Farm 
Penulis : George Orwell 
Penerbit : Bentang 
Halaman : 142 

Novel ini sudah lama masuk dalam daftar buku yang ingin dibeli. Tapi baru terealisasi setelah dipanas-panasi oleh Yoru. Ceritanya kami beritiga, Yoru, saya dan Aie meet up di sebuah rumah makan. Reunian alumni Pondok Istiqamah jaman kuliah. Waktu itu Yoru membawa novel ini, dan terus menerus berkicau tentang betapa bagusnya novel ini. Ah, menjengkelkan sekali. Baiklah akan kubeli juga. Ternyata kicauannya benar. Novel klasik yang tipis ini memang bagus. 

Animal Farm merupakan metafor politik yang berlatar di sebuah peternakan bernama Peternakan Manor. Para binatang di peternakan itu berencana melakukan pemberontakan terhadap manusia dan mewujudkan sebuah dunia di mana binatang dapat berkuasa atas dirinya sendiri. Setelah kekuasaan manusia digulingkan, tampil dua pemimpin baru, Snowball dan Napoleon. Dua babi yang merupakan binatang paling cerdas di antara seluruh binatang di peternakan. Tapi di mana-mana pemimpin itu hanya satu. Tidak boleh ada dualisme kepemimpinan. Jika ada dua, maka salah satunya harus disingkirkan. Tujuan yang awalnya ingin memerdekakan diri dari perbudakan manusia, pelan-pelan bergeser menjadi tujuan untuk merebut kekuasaan. Setelah satu pemimpin disingkirkan, maka penguasa berikutnya akan melakukan apa saja…apa saja untuk melanggengkan kekuasaannya. 

Novel ini mengingatkan saya pada kata-kata Jonas Jonasson dalam The 100-Year-Old Man Who ClimbedOut of The Window and Disappeared bahwa balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk. Persis seperti yang menimpa para binatang di peternakan itu. Mereka memang sudah bebas dari perbudakan oleh manusia. Tapi mereka tidak lepas dari perbudakan sesama binatang. Dan kehidupan mereka tidak jauh lebih baik dibanding sebelum revolusi. 

Ketika Malaikat Tak Bersayap 

Dipnjam dari teman. Tapi karena sudah dikembalikan, saya lupa nama pengarang dan penerbitnya. Buku ini berisi puluhan kisah manusia penuh hikmah mulai dari kisah para Nabi, Rasul maupun orang-orang saleh di masa dahulu dan masa sekarang. Di setiap akhir kisah disertakan poin-poin pelajaran yang bisa diambil. 

The Great of Two Umars 
Penulis : Fuad Abdurrahman 
Penerbit : Zaman 
Halaman : 316 

Buku ini sudah beberapa kali pindah tangan sebelum akhirnya bisa membacanya. Dibeli sewaktu pulang kampung beberapa bulan lalu. Ternyata orangtua di rumah tertarik membacanya. Bahkan kadang-kadang mereka rebutan membaca ketika ada waktu senggang di sore hari. Keduanya punya bookmark yang berbeda di buku ini, tergantung sejauh mana bacaannya. Usai membaca biasanya mereka menceritakan ulang kisah-kisah di dalamnya. Rasanya senang sekali ketika orangtua ikut membaca buku-buku kita. 

Sesuai judulnya, buku ini becerita tentang kehidupan dua orang khalifah, yaitu Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya masih satu garis keturunan. Pada suatu malam, seperti biasa Umar bin Khattab berkeliling memeriksa rakyatnya. Ketika sampai di salah satu rumah, ia mendengar percakapan antara seorang ibu dan putrinya. Ibu tersebut memerintahkan putrinya untuk mencampurkan susu dengan air agar mereka mendapatkan keuntungan berlipat. Apalagi tidak ada seorang pun yang melihat. Namun gadis tersebut menolak karena takut kepada Allah, bukan kepada khalifah. Keesokan harinya Umar bin Khattab mengajak anak laki-lakinya yang belum menikah bernama ‘Ashim untuk menemui Ibu gadis tersebut dan melamarnya untuk anaknya. Dari mereka berdua lahir anak perempuan. Anak perempuan itulah yang kelak melahirkan Umar bin Abdul Aziz. 

Buku ini dipecah menjadi dua bagian. Bagian pertama memuat kisah-kisah Umar bin Khattab baik sebelum maupun setelah menjadi khalifah, sedangkan bagian kedua memuat kisah-kisah Umar bin Abdul Aziz. Di tulisan ini saya akan lebih fokus pada kisah Umar bin Abdul Aziz, sebab insya Allah kebanyakan dari kita sudah mengenal mengenal sosok Umar bin Khattab, Sang Pembeda yang terkenal dengan ketegasannya, dan bahwa wilayah Islam berkembang pesat di bawah kepemimpinan beliau. Kalau tidak salah beliau juga masuk dalam salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh menurut Michael H. Hart. 

Umar bin Abdul Aziz tumbuh di Madinah. Sejak kecil ia gemar menuntut ilmu dari para syekh Madinah. Kebiasaannya yang menonjol adalah ia sering duduk bersama para sesepuh Quraisy dan jarang sekali duduk bersama para pemuda. Ia diasuh oleh pamannya, Abdul Malik bin Marwan, yang kala itu menjabat sebagai khalifah. Kemudian Umar dinikahkan dengan putri khalifah sendiri, Fatimah binti Abdul Malik. 

Umar adalah satu-satunya keturunan Bani Umayyah yang tidak mencerca Ali bin Abi Thalib. Cercaan itu berlatar dari perseisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sehingga pada masa kekhalifahan Bani Umayah, para gubernur gemar mengutuk Ali dalam berbagai kesempatan termasuk saat khotbah Jumat. Tapi sejak Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur, kemudian menjadi khalifah, beliau menyurati semua gubernur agar tidak lagi mengutuk Ali bin Abi Thalib di setiap khotbah Jumat. 

Sebelum masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, ada beberapa keturunan Abdul Malik yang menjabat sebagai khalifah yaitu Al-Walid bin Abdul Malik dan Sulaiman bin Abdul Malik. Sejak pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, kekhalifahan memang tidak lagi dipilih berdasarkan ketaqwaan seseorang, tapi berubah menjadi kekuasaan yang diwariskan. Sementara itu, Umar bin Abdul Aziz bukanlah keturunan Abdul Malik. Meski demikian, khalifah yang menjabat saat itu, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik sangat dekat dengan Umar bin Abdul Aziz. Beliau diangkat sebagai menteri dan penasihat Khalifah. Berbeda dengan pendahulunya, Al-Walid bin Abdul Malik, khalifah Sulaiman bukanlah orang yang sombong dan egois. Ia juga tidak mudah dipengaruhi oleh para bawahannya. 

Ketika khalifah Sulaiman merasa bahwa ajalnya semakin dekat, ia berunding dengan penasihatnya, Raja bin Haiwah, tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Akhirnya diputuskan bahwa Umar bin Abdul Aziz yang akan menjadi khalifah berikutnya. Namun mengingat bahwa akan terjadi kekacauan jika ia tidak mengangkat salah seorang anak-anak Abdul Malik, maka dalam surat keputusan tersebut ditambahkan bahwa Yazid bin Abdul Malik akan menjadi khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz. Di tempat yang berbeda, Umar mulai gelisah, ia khawatir jika dirinya ditunjuk sebagai khalifah. Anak-anak Sulaiman pun harap-harap cemas siapa di antara mereka yang akan ditunjuk sebagai khalifah. Sesaat setelah Sulaiman wafat, Raja bin Haiwah mengumpulkan Umar bin Abul Aziz dan seluruh keluarga Sulaiman. Ia kemudian mengumumkan bahwa khalifah berikutnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Tentu saja keluarga Sulaiman tidak terima keputusan tersebut. Tapi Raja bin Haiwah membentak dan mengancam akan mengeksekusi jika mereka tidak taat pada keputusan tersebut. Ini pentingnya peran penasihat yang tegas dan amanah. Akhirnya, mereka pun membaiat Umar. Ketika dibaiat, Umar mengucapkan “Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’un” sebab ia diberi perkara yang tidak disukainya. Baru kali ini saya membaca ada pemimpin yang ketika diberi kekuasaan justru menanggapnya sebagai ujian. Nah, bagaimana kerja-kerja beliau selama menjabat sebagai khalifah ? 

“Kalian merugikan diri sendiri! Kalian menikah dengan anak cucu Umar bin Khattab, tetapi hanya Umar bin Abdul Aziz yang meneladaninya.” (Bibi Umar bin Abdul Aziz) 

Kerja pertama Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah adalah menjual semua fasilitas khalifah yang diberikan kepadanya dan uangnya dimasukkan ke dalam Baitu Mal. Ia juga menolak tradisi khalifah sebelumnya yang semua pakaian dan wewangian diwariskan kepada khalifah sesudahnya. Umar memasukkan semua warisan itu ke Baitul Mal. Kemudian ia mengembalikan satu per satu harta orang-orang yang dirampas secara zalim di masa pemerintahan sebelumnya. Ia memutus pemberian hadiah kepada Bani Umayah, mengambil harta mereka dan mengembalikannya ke Baitul Mal serta membatalkan kaveling-kaveling tanah yang dibagikan untuk mereka. Ia menolak segala bentuk hadiah yang diberikan kepadanya. Baginya perbedaan besar hadiah pada zaman Nabi dengan zamannya adalah bahwa hadiah pada zaman itu tetap disebut hadiah, namun di masanya hadiah itu bisa jadi bentuk suap. Ia memecat gubernur dan pejabat yang zalim dan menggantinya dengan orang yang paling taat beragama. Seringkali ia melakukan tes terhadap calon pejabat yang akan diangkatnya. Umar juga menolak permintaan kenaikan tunjangan para Amir dan mempermudah urusan birokrasi. Suatu hari ia mengirim surat kepada salah satu gubernurnya : 

“Aku tahu jika aku menyuruhmu menyembelih kambing dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin, kau pasti akan mengirim surat padaku menanyakan kambing betina atau jantan. Dan jika kujawab, kau akan bertanya lagi, ‘Besar atau kecil ?’ Jika kujawab lagi, kau akan kembali bertanya, ‘Apa warnanya ?’ Jika aku mengirimimu surat berisi perintah, kerjakan saja, asal tidak menyalahi prinsip kebenaran. Tak perlu banyak tanya.” 

Bandingkan dengan ribetnya birokrasi saat ini. 

“Pergilah ke rumah yang bernama al-makas (retribusi), robohkan rumah itu, dan buang rerntuhannya ke laut.” (Surat Umar bin Abdul Aziz kepada Abdullah bin Auf) 

Umar bin Abdul Aziz juga mengembalikan hak-hak para mawali. Mawali adalah orang-orang Nashrani, Yahudi dan Majusi yang memeluk Islam. Sebelum masa Umar, mereka dizalimi dengan kewajiban bayar pajak. Begitupun terhadap ahli dzimmah (warga non muslim yang ada dalam perlindungan pemerintahan islam). Sebelum masa Umar, mereka diperlakukan tak semestinya. Nilai pajak mereka dua kali lipat dari seharusnya. Khalifah Umar kemudian menghapus kebijakan itu. Umar juga menghapus retribusi. Baginya, zakat dan jizyah sudah cukup. Umar juga memerintahkan salah satu gubernurnya untuk memperbaiki bagunan gereja yang dirobohkan demi perluasan Masjid Umayyah. Ia tidak ingin membangun masjid yang dilandaskan rasa benci. Namun akhirnya minoritas Nashrani merelakan gereja mereka setelah mendapat ganti gereja yang bernilai lebih dan megah. 

Yang menarik, selama masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, penggembala kambing pun merasakan kesalehan sang pemimpin, meski tidak pernah bertemu dengannya. Diceritakan bahwa suatu ketika, Hasan al-Qashshar melewati seorang penggembala dengan kambing-kambingnya. Dan di antara gerombolan kambing itu ada sekitar tiga puluh serigala. Tetapi tidak ada seekor kambing pun yang diganggu. Pengembala tersebut berkata bahwa bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang saleh, serigala tidak akan mengganggu kambing-kambing mereka lagi. Lalu pada suatu malam, serigala menyerang seekor kambing. Gembala tersebut berkata bahwa mungkin khalifah saleh itu telah meninggal dunia. Ternyata benar, keesokan harinya Umar bin Abdul Aziz telah wafat.

Salah satu sisi yang menyentuh dari kisah Umar bin Abdul Aziz yaitu kehidupannya bersama sang istri, Fatimah binti Abdul Malik. Jika membaca kisahnya, kita akan melihat bahwa mereka berdua romantis dengan cara yang berbeda dari definisi romantis yang kita pahami. Pada hari pertama menjabat khalifah, Umar memberi kebebasan istrinya untuk memilih, apakah tetap menjadi istri khalifah dengan risiko menanggung pekerjaan berat namun penghasilan pas-pasan, ditambah berkurangnya perhatian kepada anak dan istri. Atau, memilih masa berpisah. Dan Fatimah memilih mendampingi suaminya. Sebelum Umar menjadi khalifah, Fatimah memiliki bayak emas dan batu mulia warisan pemerintahan ayahnya. Namun setelah suaminya menjadi khalifah, ia disuruh memilih : mengembalikan semua harta itu ke Baitul Mal atau ia berpisah dengan Umar. Lagi-lagi Fatimah memilih suaminya. Bahkan kelak, setelah suaminya wafat dan ia ditawari untuk mengambil kembali semua perhiasan itu, Fatimah tetap menolaknya. Justru Yazid bin Abdul Malik, khalifah pengganti Umar yang mengambil dan membagi-bagikan harta itu untuk keluarganya sendiri. Menjelang wafat, ketika Umar meminta semua orang keluar kerena ia tidak ingin didampingi siapapun, Fatimah tetap tak keluar, ia hanya diam di ruangan yang berbeda yang dipisahkan oleh sebuah pintu. Sampai berkaca-kaca saya membaca kisah ini. Sosok Fatimah bin Abdul Malik sebagai seorang istri benar-benar luar biasa. Semoga kita bisa meneladani pribadi beliau. 

Sejak menjadi khalifah, Umar hanya punya satu baju. Ia kerap menangis jika berbicara tentang mati dan akhirat. Ia tak pernah lagi terlihat tersenyum. Tubuhnya semakin kurus dan kulitnya menjadi kusam. Seorang budak bahkan sempat mengira ia tukang batu karena penampilannya yang serba kekurangan. Keluarga Umar juga sering kelaparan. Anak-anak perempuannya pernah hanya makan bawang untuk menghilangkan lapar. Atau kadang mereka hanya makan kacang adas. Padahal kekayaan umat Islam berlimpah ruah pada masa itu. Tapi Umar sangat menjaga keluarganya dari harta zalim dan menjaga perut keluarganya dari makanan yang bukan hak mereka. Saat wafat pun Umar tidak meninggalkan harta untuk anak istrinya. Tapi ia meninggalkan banyak kebaikan yang kelak akan terlihat manfaatnya. 

“Wahai Mughirah, sesungguhnya ada orang-orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada Umar, tetapi aku sama sekali tidak pernah melihat orang yang lebih banyak mengingat Allah daripada Umar.” (Fatimah binti Abdul Malik) 

Semua kebijakan Umar jelas membuat geram Bani Umayah. Mereka sakit hati dan merasa disingkirkan. Berbagai jalan ditempuh untuk menjatuhkan Umar. Puncaknya ketika mereka menjadi otak di balik pembunuhan sang khalifah. Mereka mengintimidasi pelayan Umar untuk mencampur racun dalam minuman beliau. Tanpa curiga Umar meminumnya. Racun tersebut membuatnya jatuh sakit. Umar tahu bahwa ia diracun. Ia juga tahu siapa pelakunya dan juga tahu siapa dalang dibalik kejahatan itu. Tapi ia memilih memaafkan pelayannya dan memerintahkannya untuk pergi ke tempat yang tak seorangpun bisa menemukannya. Umar bin Abdul Aziz kemudian wafat pada Jumat, 20 Rajab 101 Hijriah setelah bergelut dengan penyakit akibat racun selama dua puluh hari. 

Masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sangat singkat, yaitu hanya 2 tahun 5 bulan dan 4 hari, namun ia berhasil menghidupkan kejayaan Islam sebagaimana pendahulunya. Ia membuat prestasi dan kebijakan yang menguntungkan rakyat, mengembalikan fungsi Baitul Mal, memperbaiki birokrasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghapus pajak-pajak tambahan dan retribusi, mengadakan uji kelayakan bagi calon gubernur atau pejabat negara dan masih banyak lagi. Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz adalah bukti sejarah yang membantah anggapan bahwa negara yang menerapkan hukum dan syariat Islam rentan terhadap problem dan krisis. 

Selain sebagai pemimpin, beliau juga adalah ahli fikih, hafidz dan mujtahid. Sejarawan menyebut beliau sebagai pembaharu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa pada setiap seratus tahun Allah mengutus orang yang akan memperbaiki persoalan agama ini. Dan Imam Ahmad melihat bahwa pembaharu pada masa seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz. 

Perbedaan utama pemerintahan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz adalah bahwa ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, masih banyak sahabat Rasul yang siap membantu menegakkan kebenaran. Sementara Umar bin Abdul Aziz hidup pada masa yang jauh dari masa sahabat, sehingga sedikit sekali yang akan menolongnya dalam menegakkan kebaikan. Maka di sinilah pentingnya mentarbiyah masyarakat. Sebab bahkan para Nabi dan Rasul pun membutuhkan pengikut bukan hanya dari segi jumlah tapi juga kualitas keimanan, sehingga akan lahir orang-orang yang siap membantu perjuangan.
 
;