24 November 2011

Percakapan Konyol

Lokasi : Kompleks Kos Mahasiswa
Waktu : Maghrib
Pemeran Utama : Dua mahasiswi
Figuran : Seorang lelaki, seekor kucing dan saya

Ceritanya, dua orang mahasiswi sedang bercakap-cakap dari dua rumah yang berdekatan. Figuran lelaki sedang duduk di sebuah tanah kosong sambil memetik gitar dan minum kopi. Saya sedang membaca dan menyaksikan dialog tersebut lewat jendela kamar.

Mahasiswi 1    : (berteriak pada mahasiswi 2 yang berada di sebelah rumah kosnya) 
                             Bagaimana caranya ini obat diminum ?
Mahasiswi 2    : Dua kali sehari
Mahasiswi 1    : Oh, maksudnya satu hari saya makan dua biji ?
Mahasiswi 2    : Iya, kau makan begitu sudah
Mahasiswi 1    : Yayaya, nanti saya tulis di bungkusannya 1 x 2
Mahasiswi 2    : Salah kau, bukan 1 x 2, tapi 2 x 1
Mahasiswi 1    : Sama saja, hasilnya 2
Seorang lelaki : (merasa terganggu) Woooiiiiiii....
Saya                : (sambil guling-guling)  Hmmmpppppuahahahahahahahaha...
Kucing             : Miawww..miaw....
23 November 2011

Memori Pertarungan Terakhir

Baru saja Closing Ceremony Sea Games XXVI berakhir dengan pesta kembang api yang mengagumkan. Meski hanya melihatnya lewat sekotak TV 14 inchi, tapi saya bisa merasakan kemeriahan dan kebanggaan di dalamnya. Setelah penantian empat belas tahun tahun, akhirnya gelar juara umum dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Dengan begini, selesai sudah hari-hari nonton bersama kawan-kawan. Selesai sudah hari-hari dimana teriakan macam orang kesetanan sambil menunjuk-nunjuk TV, dianggap biasa. Selesai sudah masa-masa mendebarkan, detik-detik ketika gemuruh jantung penonton berpacu dengan peluh para atlet Indonesia yang mati-matian menumbangkan lawan lewat pertarungan sengit. Sea Games kali ini sukses menyalakan sumbu nasionalisme dalam diri saya yang hampir kolaps diisi berita-berita yang menggambarkan carut marutnya negeri ini setiap hari.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali bergairah menonton pertandingan olahraga yang melibatkan Indonesia di dalamnya. Saat Indonesia berlaga melawan Malaysia dalam pertandingan sepakbola beberapa tahun lalu, ketika rakyat Indonesia marah karena kasus laser, saya tidak begitu peduli. Bahkan setelah beberapa hari Sea Games berlangsung pun saya masih malas-malasan mengikutinya. Hingga suatu malam saya menyaksikan Indonesia bertarung melawan Thailand dalam pertandingan sepakbola. 

Saat itulah saya langsung jatuh cinta pada tim Indonesia, terlebih pada permainan dan semangatnya. Beberapa kali tim Indonesia jatuh bangun menghadapi permainan keras dari Thailand hingga kemudian peluit panjang ditiup, tanda permainan selesai dengan skor memihak kepada tim Garuda Muda. Saya jadi teringat kata-kata Andrea Hirata, bahwa mencintai sepak bola, adalah 10 % mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air. Karena dalam sepak bola kita membawa sebuah nama.

Setelah malam itu, saya jadi bersemangat menyaksikan pertandingan lain yang disiarkan di TV seperti bulutangkis dan bola voli, dua jenis olahraga yang saya gemari. Saking semangatnya, saya sering menolak ajakan teman untuk jalan-jalan atau hunting buku dan lebih senang duduk sendirian di depan TV menyaksikan pertarungan para atlet. Terkadang saya lebih senang nonton sendiri agar bisa bebas berekspresi seperti guling-guling di kasur atau menggigit bantal menahan teriakan.  

Akhirnya, setelah menyatakan “Goodbye Vietnam” pada pertarungan memperebutkan tiket final, Indonesia akan bertatap muka kembali dengan tetangga sekaligus –yang orang-orang sebut- musuh bebuyutannya, Malaysia. Dari hasil baca-baca di Yahoo, FB dan Twitter, pertandingan ini disebut-sebut sebagai sebuah pembalasan dendam sekaligus pertarungan berdarah demi mengulang sejarah 20 tahun yang lalu, ketika Indonesia meraih medali emas setelah mengenyahkan Malaysia tahun 1991. 

Selanjutnya, tidak perlu berpanjang lebar menggambarkan 120 menit yang melelahkan. Pertarungan mati-matian, menguras tenaga dan emosi, jatuh bangun menyerang dan mempertahankan bola, membuat wasit berkali-kali mengeluarkan kartu kuning bagi kedua tim. Menegangkan. Berkali kali saya memegang dada, mencoba meredakan detak jantung yang bergemuruh. Dan hanya bisa tersenyum pahit melihat dua gol dari Indonesia tidak sah karena perangkap offside. Jari-jari tangan saya hampir kaku karena tidak sadar dikepal dalam waktu yang lama. 

Setelah skor imbang 1-1 dan setelah babak tambahan 2 kali 15 menit habis, akhirnya tim Indonesia benar-benar dihadapkan pada pertarungan dramatis, mengulang kejadian 20 tahun silam, adu penalti. Selanjutnya yang saya ingat adalah mulut saya tidak henti-hentinya merapal doa kepada yang bersemayan di langit ketujuh, agar kemenangan berlari ke pelukan Indonesia. Beberapa teman memilih keluar dari kamar dan hanya mendengar di balik pintu, mereka tidak mau melihat partarungan terakhir itu. Sehingga yang bertahan memelototi TV hanya saya dan dua orang teman. 

Lalu kemudian, tendangan terakhir, yang akan menjadi penentu apakah skor masih imbang atau akan mengakhiri pertandingan dan menyerahkan medali emas pada Malaysia. Karena dua pemain Indonesia gagal memasukkan bola. Sementara dari pihak malaysia juga mengalami satu kali kegagalan setelah tendangan pemainnya dimentahkan oleh penjaga gawang Indonesia. Satu meter dari tempat saya duduk, lewat TV 14 inci itu saya melihat tendangan terakhir kapten Malaysia sempat membentur kaki penjaga gawang Indonesia, Kurniawan Meiga, lalu kemudian dengan pelan bola itu bergulir melewati garis dan akhirnya dipeluk net gawang. 

Kamar hening, Senayan senyap, puluhan ribu suporter Indonesia terdiam. Lalu sedetik kemudian, tim Malaysia meneriakkan kemenangan sambil berlari ke arah pendukungnya. Bersamaan dengan itu, rasa sesak dan gemuruh yang melanda jantung dan paru-paru saya serta merta terlepas dan menghilang entah kemana. Saya tidak tahu itu kelegaan atau apa tapi seperti ada beban yang terangkat seiring dengan berakhirnya pertandingan yang memukau dan berakhir menyakitkan tadi. Saya menyaksikan para penonton menangis sambil tetap melambaikan bendera merah putih, saya menoleh ke arah dua teman saya yang bersandar di dinding dan memandang kosong ke arah TV. Tidak ada air mata, tapi saya tahu sebenarnya kami pun ikut menangis. Menangis dengan cara berbeda. 

Sebelum berangkat tidur, saya masih sempat keluar kamar menatap langit yang tengah dilukis kilat dan membuat beberapa area terang benderang selama beberapa detik. Cahaya putih itu muncul berganti-gantian, timbul tenggelam di angkasa. Layar TV menayangkan sisa-sisa pertandingan, masih terlihat satu per satu raut wajah para pemain sebelum akhirnya saya mematikan TV. 

"Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya."
~Ayah Andrea Hirata, Sebelas Patriot~
21 November 2011

Postulat Pertama

Dunia ini penuh dengan orang-orang yang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. Itulah postulat pertama hukum keseimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat (Andrea Hirata)

Laut, Langit, Bulan

Malam itu adalah malam terakhir di kota kecilku. Sudah sepekan lebih aku menghabiskan waktu bersama keluarga untuk merayakan Id Adha. Sepulang dari acara syukuran kelulusan seorang teman, kularikan motor ke arah barat, melewati toko milik orang-orang Tionghoa, berbelok di pertigaan lapangan, melintasi patung pejuang yang telah puluhan tahun berdiri dan terakhir belok kanan, masuk ke gerbang dermaga. Area sekitar dermaga dibatasi pagar besi. Sejak awal, aku memang sudah berencana mengunjungi dermaga itu sebelum kembali lagi ke kota ini.

Dermaga itu gelap dan sepi, hanya satu dua orang berlalu lalang. Setelah melewati pos jaga, aku meninggalkan motor di sisi kanan jalan. Jauh di seberang laut, pulau Gusung berkelap-kelip oleh cahaya lampu. Pulau itu terlihat indah di malam hari. Lalu apa yang kucari di sana ? Hanya menemui kawan lama. Sebuah benda bulat yang mengambang di angkasa. Yang mengisi kekosongan ketika langit dirantai gelap. Tergantung sempurna ribuan mil dari tempatku berdiri. Samar seperti dilapisi kabut. Bulan.

Dermaga itu adalah tempat yang paling tepat menikmati bulan saat fase purnama penuh, terutama ketika baru muncul di atas cakrawala. Laut seperti dicelup tinta hitam, kemudian menjelma menjadi cermin saat disiram rembulan. Laut dan langit malam adalah perpaduan lukisan yang menakjubkan. Indah, magis dan dingin. Berada di antara lukisan alam itu, membuatku seperti tersedot ke tempat yang jauh. Seperti dihisap sebuah Black Hole, melesat meninggalkan bima sakti dan terdampar di galaksi lain. Meski kenyataannya, aku masih terparkir di antara nelayan yang bersiap mengarungi laut bersama dinginnya malam. Kenyataannya, kakiku tak pernah beranjak dari tempat itu. Masih di antara orang-orang memandang langit dari geledak kapal, meraba-raba cuaca. Jauh di langit utara, petir menyemburkan cabang-cabang listrik ribuan volt, melukis angkasa dengan cahaya putih berkilau.

Aku berdiri di bibir dermaga, memandang laut yang pekat. Dua meter di bawah sana, karang-karang dibelai lembut riak laut. Tak ada gemuruh ombak, semuanya tenang, dan dingin. Bahkan orang-orang yang melintas pun tak bersuara. Aku menengadah menatap langit. Lalu, sebuah percakapan yang ditinggalkan waktu, muncul di antara riak-riak air. Sebuah enigma.

Enigma

Between sun and moon, i’m the moon
Moon ?
The Moon!

Kutatap tajam ke arah langit, melewati troposfer, menembus lapisan ozon, mesosfer dan berakhir di hadapan bulan, meminta pembenaran. Tapi tiba-tiba, bulan itu retak. Retakan yang membentuk garis bercabang ke semua sisi lengkungnya. Sedetik kemudian, kepingannya pecah berhamburan, saling menjauh, memenuhi angkasa raya.

Angin membisu
Aku membeku

Murid Bukan Sasak Tinju

Belakangan ini berita-berita nasional sering menyangkan berita kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa. Di antara siswa-siswa yang menjadi korban, ada yang sampai lumpuh akibat pukulan dan tendangan gurunya. Saya juga sempat melihat sebuah rekaman yang yang memperlihatkan seorang guru memukul wajah muridnya sampai terbanting ke tanah. Tidak sampai di situ, sang guru bahkan menambahkan tendangan ke murid tersebut. Kasus lain juga menyebutkan bahwa seorang kepala sekolah menghukum muridnya yang tidak mengerjakan PR dengan mendudukkannya di tengah lingkaran api yang diberi bensin. Hal itu membuat siswa tersebut trauma. Ada juga seorang murid yang tidak berani lagi keluar rumah dan hanya mengurung diri di kamar setelah dihukum berdiri oleh gurunya.

Guru adalah titik pusat perhatian murid di lingkungan sekolah. Setiap tindak tanduknya kelak besar kemungkinan ditiru oleh para murid. Karena itulah seorang guru selalu dituntut untuk menjadi teladan. Tapi sayangnya, tidak semua guru adalah seorang pendidik. Guru yang gemar menjadikan murid-muridnya sebagai sasak tinju tidak pantas mendapat gelar itu. Menjadi seorang guru tidaklah semudah yang terlihat. Meski telah menempuh pendidikan di perguruan tiggi selama kurang lebih empat tahun dan telah menjalani magang di berbagai sekolah serta telah diberi keterampilan mengajar, tidak langsung membuat seseorang bisa menjadi guru yang sebenar-benarnya.

Saya sempat beberapa kali terlibat diskusi dengan teman-teman yang mengambil jurusan keguruan atau yang sudah menjalani magang di beberapa sekolah atau teman yang sudah menjadi guru di sebuah sekolah. Mereka semua mengaku bahwa menjadi guru itu sangat berat. Selain harus menguasai materi, menjaga sikap dan wibawa, mereka juga harus senantiasa melatih kesabaran. Dan inilah yang paling sulit yaitu menjaga kestabilan emosi terutama jika menghadapi siswa yang nakal. Dari semua tingkatan, mereka mengatakan bahwa yang paling sulit adalah mengajar murid SD. Tentu saja, mengajarkan puluhan anak hal-hal dasar seperti mengeja huruf, menulis, dan berhitung memang menuntut keahlian dan kesabaran yang luar biasa.

Saya pernah bertanya, apa yang mereka lakukan jika berada di puncak emosi menghadapi menghadapi kenakalan siswanya ? Beberapa mengatakan hanya menggebrak meja, atau memukulkan sapu ke meja sampai sapu itu patah. Tapi pantang baginya melakukan kekerasan fisik pada murid sehingga yang menjadi korban kemarahannya adalah sapu dan meja. Hal yang menurutnya paling fatal yang pernah dia lakukan adalah mencubit seorang murid dan memarahinya di depan kelas. Katanya murid itu sampai menangis tapi teman saya bilang bahwa tangisan itu bukan karena sakitnya cubitan, tapi hatinya yang sakit karena dipermalukan di depan umum. Lihat, betapa kesabaran adalah sebuah harga yang sangat mahal bagi seorang guru.

Sejak sekolah dari SD sampai SMA, hukuman yang bersifat kekerasan yang pernah saya saksikan hanya sebatas tamparan di wajah. Tidak pernah lebih dari itu. Tapi itu tetap membuat hati saya miris dan sejujurnya, wibawa seorang guru berkurang di mata saya jika dia sudah berani memukul. Saya tidak lagi hormat atau segan padanya tapi turun tingkat menjadi takut padanya. Beberapa kali saya melihat teman-teman saya ditampar karena hal-hal yang sebenarnya sangat sepele. Hati saya ikut sakit.
Guru adalah contoh, teladan bagi siswanya. Mungkinkah siswa bisa taat aturan untuk tidak merokok dalam sekolah jika gurunya saja bebas merokok dalam kelas dengan alasan tidak bisa berpikir tanpa rokok ? Mungkinkah menjadikan seorang siswa gemar membaca jika gurunya saja hanya membaca satu buku pegangan untuk satu mata pelajaran ? Mungkinkah menumbuhkan siswa yang bermoral dengan guru yang kerap menjadikan muridnya sebagai sasak tinju ?

Bisakah kekerasan mengubah seorang murid ?
Mungkin ya, mungkin tidak. Entahlah. Seorang teman pernah mengatakan bahwa andaikan dulu dia tidak ditampar oleh gurunya mungkin dia tidak akan berubah. Tapi saya pribadi tidak sepakat. Meski itu ‘hanya’ sebuah tamparan. Karena saya pun pernah mengalaminya sewaktu masih SD. Bukan sebuah tamparan, tapi pukulan penggaris kayu satu meter di kaki karena tidak bisa menjawab soal matematika di papan tulis. Hasilnya, saya semakin membenci matematika dan juga guru saya. Untunglah, hubungan saya dan matematika berubah tepat di awal masa SMA oleh seorang guru yang agak nyentrik, senang bercanda dan tegas. Dia tidak pernah memukul saya dengan penggaris satu meter tapi memancing rasa penasaran saya bagaimana memecahkan soal. Jika saya tertarik saya pasti akan berusaha keras mencari tahu. Sejak saat itu saya menyukai matematika bahkan berencana masuk jurusan matematika saat kuliah walaupun karena sebuah alasan ‘konyol’, akhirnya saya memutuskan masuk jurusan lain. Saya tidak akan melupakan jasa guru itu. Satu-satunya guru yang membuat saya menyukai matematika.

Mendidik siswa dengan cara menjadikannya sebagai sasak tinju tidak akan mengubah generasi bangsa ini menjadi lebih baik. Justru akan melahirkan predator-predator baru yang mungkin saja lebih sadis dari sebelumnya.
04 November 2011

'Iedul Adha

Cuma mau ngucapin Taqabballallahu Minna Wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat hari raya ‘Iedul Adha 1432 H. ^_^
 
;