29 January 2012

Kalender Kegalauan


Galau. Kata yang intensitas pemakaiannya semakin meningkat belakangan ini. Selalu saja ada trend kata berganti-ganti. Setelah sebelumnya kata Lebay, Alhamdulillah ya, dan sesuatu, sekarang muncul lagi sebuah kata yang bisa ditemukan di hampir semua jejaring sosial di dunia maya. Orang yang berpuisi di facebook, hanya sekadar bermain-main kata dibilang galau, mengungkapkan isi hati juga dibilang galau. Kalau dulu orang bilang “Dia lagi ada masalah”, sekarang berubah menjadi “Dia lagi galau”.

Kemarin saya mengunjungi seorang teman. Sudah lama saya tidak menjarah kamarnya. Sesampainya di sana saya disuruh masuk sementara dia keluar sebentar. Cukup banyak yang berubah dari kamar itu meski dindingnya masih ramai dengan berbagai macam warna. Lalu mata saya tertumbuk pada dua lembar kertas yang ditempel asal-asalan di dinding kamar. Kertas itu adalah kalender yang ia buat sendiri dan jika dilihat dari kondosi kertasnya, bisa dipastikan si pemilik sudah bosan melihatnya setiap hari. Hari-hari yang sudah lewat diberi tanda disilang. Kemudian ada satu tanggal yang dilingkari merah. Di sana tertulis keterangan “Semangat”. Di bagian atasnya tertera nama kalender itu, “Kalender Kegalauan”. Saya tertawa membacanya. Belum selesai tertawa, teman saya sudah berdiri di depan pintu. Dia mengikuti arah mata saya dan tersenyum masam melihat kalender jadi-jadiannya ditertawakan .
 “Harusnya kan Kalender Semangat, bukan Kalender Kegalauan” kata saya.
“Ugh...intinya itu adalah hari-hari yang...arghhh pusing” dengusnya.

Well, apa itu Galau ? Iseng saya melacak definisinya di Mbah Google dan saya temukan bahwa menurut kamus bahasa Indonesia, Galau artinya : ramai-ramai, kacau balau (pikiran). Jika dilihat dari status-status yang beredar serta dengusan teman saya perihal kalender itu, maka definisi yang paling tepat untuk galau adalah kacau balaunya pikiran. Entah apa maksudnya memasukkan kata ramai-ramai sebagai salah satu definisi galau. Yang jelas galau tidaklah tepat disematkan pada orang yang baru saja menang undian berhadiah. Juga tidak tepat diberikan pada mereka yang jingkrak-jingkrak melihat saldo ATM-nya bertambah karena beasiswa sudah masuk. Bagi mahasiswa, galau adalah ketika bulan hampir berganti nama dan ransum sudah habis sementara kiriman belum nampak batang hidungnya. Galau adalah nilai E untuk hasil ujian. Galau adalah antrian setumpuk laporan, galau adalah saban hari naik turun tangga dan masuk-keluar lab dengan penelitian yang tak kunjung ada hasilnya, galau adalah dahi yang berlipat-lipat memikirkan kepengurusan, dan bagi teman saya tadi, Galau adalah skripsi. Ya, saat-saat menyusun skripsi adalah waktunya bergalau-galau ria. Galau saat judul yang diajukan tidak disetujui. Galau saat pembimbing satu bilang A sementara pembimbing dua bilang B dan tidak ada yang mau mengalah. Galau saat pembimbing minta ditemui di Rumah Sakit tapi begitu sampai di sana ternyata si pembimbing sudah pulang ke rumah.

Sebagai salah satu dari orang yang telah melewati masa ini (halah), saya juga pernah merasakan hal yang sama. Skripsi adalah saat ketika harus berkutat dengan ratusan kuesioner dan memeriksanya kembali berulang-ulang, saat ketika harus menelan puluhan buku sampai ingin muntah rasanya, saat ketika mata terus memelototi data-data yang akan dianalisis dan juga saat untuk menjadi detektif dadakan, yaitu melacak motif dibalik tidak adanya hubungan antara variabel independen dan dependen. Skripsi adalah saat dimana saya harus menemani rembulan terjaga sepanjang malam sejak masih berbentuk sabit kemudian menjadi cembung, separuh dan berbentuk sabit kembali dengan bergelas-gelas kopi yang akhirnya membuat saya ketagihan (Oh ya, ngomong-ngomong kopi tubruk Toraja itu sangat enak ^_^).

Mungkin karena itulah sehingga saat-saat menyusun skripsi disebut sebagai Kalender Kegalauan. Pada masa itu, rasanya ingin sekali meloncati waktu dan berhenti saat toga sudah tersemat di kepala. Tapi alam mengajarkan bahwa selalu ada proses. Manusia ketika diciptakan pun melalui sebuah proses. Kita hidup di dunia ini juga akan senantiasa diberi cobaan. Dan cobaan itulah yang menjadi proses menuju kematangan. Pernah nonton film yang berjudul The Pursuit of Happyness ? Film ini mengajarkan arti sebuah kebahagiaan dan kepuasan bukan karena hasil pencapaiannya, tapi karena proses yang telah ditempuh. Kita tidak akan pernah tahu rasa manis jika kita tidak mengenal rasa pahit. Kita tidak akan tahu definisi bahagia jika kita tak tahu apa itu derita.


Ada sebuah lelucon dalam film ini. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang hampir tenggelam, lalu datang kapal untuk menolongnya. Awak kapal berkata, “Apa kau butuh bantuan ?” Orang itu menjawab, “Tuhan akan menyelamatkanku” Lalu kapal lain datang dan berusaha menolongnya, tapi orang itu kembali berkata, “Tuhan akan menyelamatkanku” Orang itu kemudian mati dan masuk surga. Di sana ia bertanya pada Tuhan, “Tuhan, mengapa kau tidak menolongku ?” Tuhan menjawab, “Aku telah mengirimkan dua kapal untukmu, bodoh”. Dialog yang lucu sekaligus menyindir. Pertolongan tuhan tidak akan muncul seperti mukjizat yang langsung dilihat. Pertolongan itu bisa saja terselip di antara orang-orang di sekitar kita. Para ulama pun ketika sendal mereka putus tetap berdoa agar digantikan sendal yang baru. Tapi mereka tidak menunggu sendal baru itu jatuh dari langit. Karena setelah berdoa, mereka keluar rumah bekerja keras untuk membeli sendal yang baru. Andrea Hirata dalam buku Sang Pemimpi-nya menyebutkan bahwa berbuat terbaik di titik dimana kita berdiri, itulah realistis.


Ada sebuah nasihat sederhana dari seorang kawan bahwa ketika benang semakin menegang itu pertanda sebentar lagi akan putus, ketika malam semakin pekat maka itu pertanda fajar akan segera muncul. Bahwa setelah klimaks akan ada anti klimaks. Berusahalah sekuat tenaga karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat, dan yakinlah bahwa skripsi itu pun akan berakhir manis nanti.


*Untuk yang sedang menjalani Kalender Kegalauan, Gambaru...Fighting...!!!
13 January 2012

Ombak Kesendirian

30 Desember 2011... 

Belakangan ini sore kerap berkomplot dengan mendung. Persekutuan yang membuat bumi diliputi keremangan sepanjang hari. Awan kelabu terlalu tebal bagi matahari untuk membangunkan lazuardi. Akhirnya, tertidurlah ia untuk beberapa waktu yang tak pasti. Hujan pun semakin mempersempit jarak hadirnya. Tak menyisakan ruang bagi cerah. Menghilangkan aroma romansa yang disepakati kebanyakan orang di tempat ini. Apa boleh buat, setelah berhari-hari saling menyapa dengan mendung yang tak mau pergi, kupikir tak masalah jika memandang laut yang berlatar remang langit. Mungkin akan terasa lebih dingin dari biasanya. Dan, di sinilah aku terparkir. Marina, begitulah sebutan tempat ini. Kuacuhkan saja tatapan aneh orang-orang melihat seonggok makhluk terdampar sore hari di tepi pantai beratapkan mendung, sambil mengetik. 

“Berikanlah keberanian pada kami yang berdiri menghadap ombak kesendirian” 

Kalimat pertama yang kuisikan pada lembar microsoft word. Aku ingat karena pernah menemukannya dalam tulisanmu. Belakangan aku tahu kalau itu adalah kalimat penutup sebuah buku yang mendekam di perpustakaan. Kau juga pernah merapalnya berulang kali di Ruang Jingga sambil menatap langit yang baru saja berganti warna. Kini, ombak terhampar hanya beberapa meter dari tempatku berpijak. Lama aku menatapnya. Ombak itu tak sendiri. Mereka ada banyak. Seperti bukit-bukit yang menari. Seperti selendang yang dipermainkan angin. Seperti hempasan tetesan hujan raksasa yang jatuh dari langit. Ada banyak, aku bahkan tak bisa menghitung jumlahnya. Lalu mengapa menyebutnya ombak kesendirian ? Aku bingung. Filosofi-filosofi anehmu sering membuatku sakit kepala. Kubaca kembali kalimat ini. Kutatap laut sekali lagi....
Sekali lagi...
Sekali lagi...
Akhirnya angin kehilangan kesabarannya dan menamparku yang terlalu lambat siuman. Gelombang laut buru-buru menepi dan membisikkan sesuatu.
....
....
Di langit timur selimut malam mulai membentang. Bumi mengabut, seperti kaca yang buram oleh hembusan nafas. Kutinggalkan tempat itu dengan tulisan yang tak juga bertambah. Membiarkannya mengujar pada dingin yang dikirimkan benang-benang perak dari langit ;
“Wahai Sang Pemilik Keabadian, berikanlah keberanian pada kami yang berdiri menghadap ombak kesendirian...

Ruang Jingga

2  Januari, di kota kecil.... 

Bulan separuh. Malam ini bulan separuh. Dan bulan tersenyum simpul karena berhasil membelokkan langkahku menuju Ruang Jingga itu. Yah, Ruang Jingga, begitulah kita menyebutnya. Karena sebelum senja menyapa, sebelum langit berdarah ditikam malam, dalam putaran menit, ruang itu diliputi warna jingga. Warna yang memetakan siluet di lantai. Siluet bingkai jendela, siluet orang-orang yang bermesraan dengan buku, siluet sayap-sayap yang kau bentuk dengan kedua tanganmu dan siluet penjaga kunci yang tertidur pulas bersama letih. Sekilas tak ada yang istimewa dari ruang ini. Hanya deret buku yang tak terawat, lusuh ditinggal waktu. Tapi, bukankah di tempat ini kita mempertanyakan dan memahami banyak hal ? Di sini kita menggali ruang-ruang tersembunyi dalam pikiran masing-masing. 

Seharusnya di ruang ini ada dua atau mungkin tiga manusia yang sama-sama membaca Harlem Beat dan menertawakan kekonyolan Naruse. Seharusnya. Setidaknya begitulah adegan kepingan waktu yang kuingat. Tapi hanya ada sesosok tubuh yang memandang pantulan bayang lewat buramnya kaca malam. Sisanya, deret buku terpekur hening. Sehening malam. Sehening rembulan yang sendirian mengisi kekosongan langit. Kau selalu protes mengapa ruang penuh buku bersusun itu tak memiliki kursi. Sekarang kursi berjejer rapi, bahkan hampir tak muat lagi kududuki. Aku memaki diriku saat kusentuh deret buku dan tersadar sedang menjejak kaki di sana. Sadar sepenuhnya tak ada siapapun. Malam mendekap, mendekati garis eliminasi waktu yang memulangkan kita. Malam, yang menjadi alasan bagi kita menangisi hari yang lama. Malam, yang menidurkan sayap-sayap yang lelah mengembarai langit.

Selamat tidur. Semoga angin memelukmu dalam sejuk dan harum di awal pagi.
25 December 2011

Aku Suka Hujan


Aku suka hujan. Kedatangannya menyembunyikan matahari. Membuat bumi diliputi keremangan. Dan tak jarang dibayangi cahaya mematikan. 

Aku suka hujan. Memberi sejenak kesejukan untuk bumi. Meredam jalanan kota yang ribut ini. Dari gerak mesin yang berisik sepanjang waktu. 

Aku suka hujan. Saat orang-orang menggerutu kebasahan, belahan bumi lain bersujud melepas dahaga. 

Aku suka hujan, yang membuat jendela kamar berembun. Walau kadang bergandengan dengan hati yang ikut mendingin.

Aku suka hujan. Memberi kesempatan berlari menembusnya. Merasakan kebebasan tanpa teduhan payung. Dan menyamarkan air mata yang menghujam tanah.

Aku suka hujan, karena ada kehidupan yang mengikutinya. Meski kepergiannya tak selalu menyisakan pelangi. 

“Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit)”
“kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya”
“Lalu disana kami tumbuhkan biji-bijian”
“Dan anggur dan sayur-sayuran”
“Dan zaitun dan pohon kurma”
“Dan kebun-kebun yang rindang”
“Dan buah-buahan serta rerumputan”
“(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”
(Q.S ‘Abasa : 25-32)

Terbit dan Terbenam

Saya teringat akan temuan Andre Hirata tentang bagaimana mengenal manusia melalui takaran gula dan kopi yang diminumnya dalam buku Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Dalam Buku Besar Peminum Kopi-nya ia menuturkan bahwa orang yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Namun mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern, mereka disebut Player. 

Orang yang takaran gula, kopi dan susunya proporsional umumnya adalah pegawai kantoran yang bekerja rutin dan berima itu-itu saja. Mereka adalah manusia ‘do-re-mi’ dan mereka telah menikah dengan seseorang yang bernama bosan. Kelompok anti perubahan ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyenyak dalam zona nyaman. Proporsi gula, kopi dan susu itu mencerminkan kepribadian mereka yang sungkan mengambil risiko. Tanpa mereka sadari kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik, menelikung mereka. wajahnya sembab karena tahu waktu telah melewatinya begitu saja. Kaum ini disebut safety player. 

Entah kita adalah Player ataupun Safety player, sebagai manusia kita akan selalu hidup berdampingan dengan masalah. Orang yang sekolah punya masalah, yang tidak sekolah juga bermasalah. Orang kaya punya masalah, orang miskin juga punya. Orang yang kuliah punya masalah, sarjana pun punya masalah. Orang yang bekerja punya masalah, yang pengangguran lebih-lebih lagi. Boleh dikata bahwa seseorang bukanlah manusia jika ia tidak pernah mempunyai masalah. Karenanya ada yang mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan tanpa akhir dan bahwa manusia yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan. 

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Ada yang berlari mengejarnya seperti player, ada yang berjalan lamban seperti safety player dan ada pula yang pasrah mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menderita. Pascal mengatakan bahwa seperti apapun penderitaaan dan kepedihan yang mencekik seseorang, di kedalaman wataknya terdapat kekuatan mahabesar yang mendorongnya pada kehidupan. Yah, justru masalahlah yang mengantarkan manusia pada kehidupan. Andaikata tidak ada lava gunung merapi, kita tidak akan mendapatkan tanah yang subur. Andaikata biru langit tak pernah dikeruhkan awan hitam, kita takkan pernah mengenal hujan. Andaikata matahari tidak pernah terbenam, maka bumi akan kekeringan dan mati. Andaikata tidak ada kehilangan dan duka, lalu kepada siapa kita akan memberi simpati. Andaikata tidak ada lagi kesedihan, maka kesabaran akan mati. 

Siapapun pasti akan merindukan saat-saat matahari terbenam. Siapapun pasti akan merindukan langit yang gelap disusul hujan. Siapapun pasti merindukan awan hitam dan paling tidak badai untuk menggantikan hembusan angin yang monoton. Karena sekiranya nikmat penderitaan telah hilang, maka jadilah bumi tanpa perasaan. Dingin, seperti kelengahan yang menyihir. Selama kita masih manusia, masalah akan terus muncul karena itu menunjukkan bahwa kita harus terus belajar.
24 December 2011

Pesona Pakaian

Seorang wanita dengan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang. Mereka turun dari kereta api di Boston, dan berjalan malu-malu menuju kantor pimpinan Harvard University. 

Sesampainya di sana, sang sekertaris universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard bahkan tidak pantas berada di Cambridge. 

“Kami ingin bertemu dengan pimpinan Harvard,” kata sang pria lembut
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sekertaris cepat
“Kami akan menunggu,” jawab sang wanita 

Selama empat jam, sekertaris itu mengabaikan mereka dengan harapan bahwa pasangan akan pergi. Namun nyatanya tidak. sang sekertaris mulsi frustasi, dan akhirnya memutuskan melapor kepada pimpinannya.
“Mungkin jika anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka kakan pergi,” katanya kepada sang pimpinan Harvard. 

Sang pimpinan menghela napas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika melihat dua orang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang pimpinan Harvard, dengan wajah galak, menuju pasangan tersebut. 

Sang wanita berkata kepadanya, “kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. tapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. Bolehkah ?” tanyanya, dengan mata penuh harap. 

Sang pimpinan tidak tersentuh. Wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut
“Nyonya,” katanya dengan kasar, “ Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan menjadi kuburan.”
“Oh, bukan,” sang wanita menjelaskan dengan cepat, “kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang pimpinan memutar matanya. Dia sekilas menatap baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak,
“Sebuah gedung ?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ? kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. sang pimpinan Harvard senang. Mungkin dia terbebas dari mereka sekarang. 

Sang wanita menoleh kepada suaminya dan berkata pelan, “ Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”
Suaminya mengangguk. Wajah sang pimpinan Harvard tampak bingung.
Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California. Di sana mereka mendirikan sebuah universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS. 
 ***
Pakaian atau apa-apa yang kita kenakan adalah hal yang paling mudah terlihat dari luar dan tidak jarang menipu mata. Kita seringkali tertipu sebab pesona pakaian bersifat instan, bisa dinilai dalam hitungan detik. Karenanya, kita gampang menjatuhkan nilai seseorang hanya dengan melihat tampilan luarnya. Seperti yang Andrea Hirata paparkan di Edensor tentang dilema seorang mahasiswa Indonesia yang menjadi guide bagi para petinggi yang ingin berutang. Saat para petinggi Jepang, yang memberi utang datang ke tempat pertemuan dengan memakai mobil mini bus carteran, sementara para petinggi Indonesia, yang berutang, datang satu per satu dengan limousine. Namun jika kita hanya melihat sekilas dari luar, semuanya akan tampak berbeda, bukan ?
20 December 2011

Untitled


Ini agak rumit. Saat kau bercerita, aku hanya termangu. Mudah tapi rumit, rumit tapi mudah. Tak ada yang tahu pasti. Begitulah takdir. Kadang takdir bisa jauh lebih rumit dari rumus fisika. Seperti kau yang berlalu lalang mencarinya. Yah, cukup lama menurutku. Tapi menemukannya sama saja seperti, misalnya, kau bisa berbalik saat anak panah yang ditembakkan padamu luput. Jika sedetik itu kau terlambat berbalik, kau bisa mati. Mungkin saja suatu hari di sebuah jalan, kau telah berbelok di tikungan, sementara orang yang kau cari-cari itu baru saja keluar dari pintu. Jika sedetik saja kau menunggu, mungkin kau akan bertemu dengannya.

Ini seperti permainan keberuntungan. Tapi seperti kata pepatah, menunggu keberuntungan sama saja dengan menunggu kematian. Jadi kau terus mencarinya. Dari di dunia nyata sampai dunia maya. Kau selalu berharap ia ada di antara pengendara yang memenuhi sesaknya jalanan, tiap kali aksi demonstrasi ditayangkan di TV, kau selalu berharap ia ada di antara orang-orang itu. Tapi tak pernah. Kau tak pernah menemukannya di kesibukan jalan raya. Tidak juga di antara para demonstran yang melakukan aksi. Pun di dunia maya, tak tertinggal jejaknya. Berkali-kali kau ketikkan nama atau apapun yang berhubungan dengan dirinya dan berharap google akan berbaik hati menemukannya. Tapi nihil. Aku hanya tertawa mendengar ceritamu. Oh, maaf...maaf kawan, aku hanya kagum atas usaha yang kau lakukan. Sama sekali bukan untuk mencela. Sayangnya, tak seorang pun tahu akan lahir dimana dan akan bertemu dengan siapa. Mungkin saja keberuntungan itu terletak beberapa detik di belakangmu. Tapi kau terus menjauh. Atau mungkin ia ada selangkah di depanmu, karena itu kau harus terus berlari mengejarnya. Tak ada yang tahu pasti.

Tak jarang pula takdir itu sederhana. Suatu waktu, aku tiba-tiba disergap rasa rindu pada seseorang. Lama kami tak bertemu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Seperti biasa, aku menatap langit sambil terus memikirkannya. Saat akan beranjak, tiba-tiba beberapa meter di depan, orang yang kucari itu sudah berdiri sambil tersenyum. Dunia memang tidak pernah berubah ukuran. Takdirlah yang membuatnya menjadi ‘sempit’ atau ‘luas’.

Dari arah timur, selimut malam mulai memudar. Di tengah langit sana, bulan surut berpendar.

Untuk seorang kawan, yang belum juga siuman di kala fajar
 
;