29 February 2012

Dua Kata dan Selembar Waktu

Orang itu seperti angin musim dingin. 
Meninggalkan warna kesedihan dan menghilang dalam sekejap” 
~Miwako Sato~


Ia seperti angin subuh yang mengembun di pucuk dedaunan. Menyesap pelan dan menyisakan aroma pagi. Aroma yang begitu cepat hilang, terganti oleh terik siang. Ia seperti tanah yang lelah menanti butiran air, pada hujan pertama di awal musim. Dan ia seperti sore yang selalu menyiramkan semburat jingga pada riak laut. Mengukir siluet di pasir yang terpekur. Kemudian menghilang dalam belantara malam. Menunggu purnama yang tak kunjung datang. Aku mengenalnya, tak lebih dari dua kata dan selembar waktu. 

“Stay where you belong... in my memories”
“I will... never be a memory” 

Di antara gelombang sunyi dan riak-riak keriuhan, kita hanyalah kasus waktu yang menambah porsi dalam ruang kenangan. Kenangan yang mungkin indah atau hanya akan mengendap seperti kuburan fosil jutaan tahun silam. Menunggu untuk ditemukan, entah di lapisan ke berapa atau mungkin malah tidak sama sekali. Dan membiarkannya hilang bersama tiupan sangkakala. Aku mulai lelah dengan hipotesa yang semakin rumit diuraikan. Hipotesa yang mau tak mau memasukkan variabel waktu ke dalamnya. Meski aku tak ingin. Meski tak ingin. Karena seterang matahari di puncak musim panas, sepasti itulah waktu. Waktu yang tak pernah melambat. Tak pernah mundur. Tak pernah menunggu. Dan kita tak bisa menahan laju atau pun memutarbalikkannya. Sesederhana itulah ajaran detak jatung kita. Kita, seperti juga manusia lainnya, adalah orang-orang yang saban hari bersaing dengan waktu. Seperti nelayan yang menakar-nakar cuaca, seperti laki-laki berpakaian rapi di belakang kemudi, seperti sales yang tak lelah menawarkan dagangan, dan seperti rombongan siswa putih abu-abu pontang-panting menggapai gerbang sekolah yang hampir tertutup.

Aku tak begitu paham di titik mana kau berdiri dengan waktu karena kau selalu menutupinya seperti awan. Tapi serumit apapun kau ingin mendefinisikannya, seperti poster-poster yang tertempel di ruang jingga, ia tidak akan lebih dari yang seharusnya. Siang tak akan mengembalikan malam yang berlalu meski kau memaki sekuat tenaga. Meski kau menghujat. Ia hanya akan terganti oleh malam-malam baru yang membuat kita terjebak dalam pusaran kisah. Terjebak dalam rentetan peristiwa. Jika ada yang hilang dari rentetan itu, semua takkan sama. Kita tidak akan bertemu dan cerita menjadi berbeda. Seseorang pernah berkata bahwa manusia terhubung oleh benang-benang rumit yang tak terlihat. Benang yang menghubungkan satu dengan lainnya. Kau, aku, mereka. Lalu, di antaranya ada yang memperpendek dan ada pula yang memperpanjang jarak benang itu. Kau memilih yang kedua.

Tidak ada yang salah jika kau menyisakan ruang di hati untuk bertanya. Mengawalinya dengan keraguan dan mengakhirinya dengan kepastian. Karena kita bukanlah langit yang tak memerlukan tiang penyangga. Tapi kau lupa bahwa akan ada yang kehilangan. Akan ada yang merindukan. Atau kau sadari, tapi itu tak cukup untuk menahanmu pergi. Aku hanya berharap kau tak membanting pintu, karena kau harus kembali suatu saat. Bila nanti kau mengetuk lagi pintu itu, mungkin aku tidak berada di sana. Tapi itu tidak penting karena akan ada yang selalu yang membukanya untukmu. Kau datang, bagiku itu sudah cukup.

Dan biarkan yang tersembunyi awan, tetap bersinar tanpa harus sampai ke bumi...
18 February 2012

Life Traveler, Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan


“Where are you going to go ?”
“Going home”
“You don’t look like someone who will be going home”
“Sorry, what do you mean?”
‘Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself. Home is a place where you can find your love, young lady”

Sebuah travelogue yang ditulis oleh Windy Ariestanty, seorang editor buku, tentang perjalanannya ke beberapa negara dan apa saja yang ia temui selama di sana. Dengan lama cuti yang hanya 2 pekan ia mulai menjelajahi beberapa tempat seperti Viet Nam, Kamboja, Frankfurt, Praha, Heidelberg, Lucerne di Swiss, Paris, Thailand dan Belanda. Saya tertarik membeli buku ini karena sampulnya yang bergambar daun maple. Sebuah ikon musim gugur. Yah, saya akui, desain cover masih memberi porsi yang cukup signifikan bagi saya untuk memutuskan membeli sebuah buku. Selain cerita perjalanannya, buku ini juga memuat tips-tips bagi para traveler serta lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi di setiap negara. Melalui buku ini saya jadi tahu kalau di Viet Nam ada yang namanya sleeping bus dan peraturan unik bagi kendaraan bermotor baik mobil maupun motor hanya boleh berjalan dengan batas kecepatan 40 km/jam. Tidak peduli jalanan sepi atau ramai, ada polisi atau tidak. Ajaibnya, semua penduduk patuh. Kalau di Indonesia jangankan penumpang, sopir pun bisa stres dengan kecepatan sekecil itu.

Ada juga cerita tentang coffee shop bernama Toi-Toi yang sebenarnya adalah nama sebuah fasilitas toilet berbentuk kotak dan bisa dipindah-pindahkan. Tentang Kastil Heidelberg yang merupakan reruntuhan paling romantis di Jerman dan penduduk Swiss yang tak suka pamer kekayaan. Mereka cenderung menghindari pembicaraan soal uang. Bahkan ada budaya tak tertulis di antara penduduk Swiss bahwa semakin kaya seseorang, semakin bersahaja penampilannya. Istilah kerennya sih, zuhud. Bahkan seseorang yang berusaha menunjukkan kekayaannya justru membuat orang lain curiga bahwa ia memiliki masalah keuangan. Prinsipnya adalah ‘Don’t shine the spotlight too brightly on yourself or you might get shot’. Satu lagi, hampir semua penduduk Swiss berjalan kaki atau naik kendaraan umum ke mana-mana. Tentu saja itu karena mereka didukung oleh fasilitas umum yang bagus serta jadwal kereta yag selalu tepat waktu.

Di kota Mode, Paris, ada cerita tentang Galeries Lafayette, mal yang telah berusia lebih dari seratus tahun dan hanya buka sampai jam 8 malam serta tutup hari minggu. Aneh, padahal kalau dihitung-hitung bisa rugi kalau sebuah mal ditutup hari minggu. Selain itu ada Louis Vuitton yang mempunyai staf khusus untuk melayani orang cina dan Jepang. Jadi mereka tidak perlu repot-repot belajar bahasa inggris hanya untuk membeli produk fashion papan atas tersebut. Enak sekali ya mereka. Dan ada cerita tentang Red Light District, sebuat wilayah prostitusi legal di Amsterdam. Saya juga pernah membaca tentang ini di majalah Qiblati. Belanda memang termasuk negara yang melegalkan prostitusi dan ganja sehingga banyak sex shop yang menjual beragam peralatan untuk semua orientasi seksual baik lesbian, gay, straight. Semua!
Na’udzubillah.

Selain memaparkan tempat-tempat yang menarik, penulis buku ini juga membagi pelajaran dari setiap tempat ataupun orang yang ia temui selama perjalanan. Mulai dari alasan dasar mengapa sebuah perjalanan dilakukan, pelajaran di sleeping bus Viet Nam tentang bagaimana rasanya merindukan orang yang bahkan sebenarnya ada di dekat kita. Sepasang kakek nenek yang ia temui di bangku taman kota Siem Reap mengajarkan tentang bahasa yang tak bersuara dan ada aksara yang tak memerlukan kata-kata.

Juga pelajaran tentang bahasa memahami dari seorang nenek berusia 50 tahun yang telah melakukan perjalanan panjang dari Vladimir Putin ke negara-negara di dataran Indocina seorang diri sementara si nenek tidak bisa berbahasa inggris. Pelajaran dari seorang kakek penjual tas di Heidelberg bahwa sikap jujur memerlukan ketegasan. Dan tidak ada yang tampak konyol jika kita mempertahankan sesuatu yang benar.

Pelajaran bahwa salah satu hal yang menyenangkan menjadi perempuan adalah bebas bereaksi spontan. Hal itu terjadi ketika seorang perempuan setengah berteriak mengetahui harga tas yang dipakai penulis hanya US$7 di sebuah distro di Bandung, sementara saat itu mereka berdua sedang mengantri di Louis Vuitton yang harga produk-produknya mencapai langit. Laki-laki tak mungkin melakukan hal itu. Lucu juga membayangkan laki-laki, misalnya, berteriak seperti ini: “Haaaahhh....harga tasmu cuma Rp.70.000,-, NOWAY“.

Kemudian cerita tentang seorang perempuan pemandu wisata asal Belanda yang fasih bahasa Indonesia dan Arab dan lebih merasa menjadi orang Indonesia dibanding orang Belanda. Pemandu itu mengaku belajar mengenal manusia lebih dalam dari rombongan wisatawan Indonesia. Kelebihan orang Indonesia meski mereka memiliki sifat jam karet dan gila belanja, adalah bahwa mereka ramah, gembira, punya sifat gotong royong tinggi dan kreatif. Hal itu berbeda dengan karakter orang Prancis yang sombong atau orang Amerika dan India yang rewel jika ada masalah dalam sebuah tur. Orang indonesia memiliki kecenderungan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Dan terakhir, sekaligus bagian yang paling saya suka, adalah  konsep ‘rumah’ dan ‘pulang’ yang diajarkan oleh seorang perempuan tua asal Cina di O’Hare.

Overall, Buku ini bagus jadi referensi wawasan tentang negara lain terutama bagi mereka yang senang melancong atau setidaknya penghibur bagi mereka yang sedang jauh dari rumah. Membaca buku ini membuat saya jadi tambah pengen bepergian.

Catatan gak penting :
-       Kalau tidak salah gambar jembatan cinta di depan Notre Dame dalam buku ini adalah salah satu lokasi syuting dorama Nodame Cantabile
-       Baru tahu kalau kuil Ta Prohm yang menjadi lokasi syuting Tomb Rider itu letaknya di Kamboja, bukan di Thailand, seperti anggapan saya selama ini. Kamboja dan Thailand memang mirip soalnya. hehehe
-       Sepakat dengan penulis, mengunjungi Paris adalah waktunya untuk bertemu Lady Oscar. Rupanya kami sama-sama menyukai Rose Of Versailles

"Kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home."
29 January 2012

Kalender Kegalauan


Galau. Kata yang intensitas pemakaiannya semakin meningkat belakangan ini. Selalu saja ada trend kata berganti-ganti. Setelah sebelumnya kata Lebay, Alhamdulillah ya, dan sesuatu, sekarang muncul lagi sebuah kata yang bisa ditemukan di hampir semua jejaring sosial di dunia maya. Orang yang berpuisi di facebook, hanya sekadar bermain-main kata dibilang galau, mengungkapkan isi hati juga dibilang galau. Kalau dulu orang bilang “Dia lagi ada masalah”, sekarang berubah menjadi “Dia lagi galau”.

Kemarin saya mengunjungi seorang teman. Sudah lama saya tidak menjarah kamarnya. Sesampainya di sana saya disuruh masuk sementara dia keluar sebentar. Cukup banyak yang berubah dari kamar itu meski dindingnya masih ramai dengan berbagai macam warna. Lalu mata saya tertumbuk pada dua lembar kertas yang ditempel asal-asalan di dinding kamar. Kertas itu adalah kalender yang ia buat sendiri dan jika dilihat dari kondosi kertasnya, bisa dipastikan si pemilik sudah bosan melihatnya setiap hari. Hari-hari yang sudah lewat diberi tanda disilang. Kemudian ada satu tanggal yang dilingkari merah. Di sana tertulis keterangan “Semangat”. Di bagian atasnya tertera nama kalender itu, “Kalender Kegalauan”. Saya tertawa membacanya. Belum selesai tertawa, teman saya sudah berdiri di depan pintu. Dia mengikuti arah mata saya dan tersenyum masam melihat kalender jadi-jadiannya ditertawakan .
 “Harusnya kan Kalender Semangat, bukan Kalender Kegalauan” kata saya.
“Ugh...intinya itu adalah hari-hari yang...arghhh pusing” dengusnya.

Well, apa itu Galau ? Iseng saya melacak definisinya di Mbah Google dan saya temukan bahwa menurut kamus bahasa Indonesia, Galau artinya : ramai-ramai, kacau balau (pikiran). Jika dilihat dari status-status yang beredar serta dengusan teman saya perihal kalender itu, maka definisi yang paling tepat untuk galau adalah kacau balaunya pikiran. Entah apa maksudnya memasukkan kata ramai-ramai sebagai salah satu definisi galau. Yang jelas galau tidaklah tepat disematkan pada orang yang baru saja menang undian berhadiah. Juga tidak tepat diberikan pada mereka yang jingkrak-jingkrak melihat saldo ATM-nya bertambah karena beasiswa sudah masuk. Bagi mahasiswa, galau adalah ketika bulan hampir berganti nama dan ransum sudah habis sementara kiriman belum nampak batang hidungnya. Galau adalah nilai E untuk hasil ujian. Galau adalah antrian setumpuk laporan, galau adalah saban hari naik turun tangga dan masuk-keluar lab dengan penelitian yang tak kunjung ada hasilnya, galau adalah dahi yang berlipat-lipat memikirkan kepengurusan, dan bagi teman saya tadi, Galau adalah skripsi. Ya, saat-saat menyusun skripsi adalah waktunya bergalau-galau ria. Galau saat judul yang diajukan tidak disetujui. Galau saat pembimbing satu bilang A sementara pembimbing dua bilang B dan tidak ada yang mau mengalah. Galau saat pembimbing minta ditemui di Rumah Sakit tapi begitu sampai di sana ternyata si pembimbing sudah pulang ke rumah.

Sebagai salah satu dari orang yang telah melewati masa ini (halah), saya juga pernah merasakan hal yang sama. Skripsi adalah saat ketika harus berkutat dengan ratusan kuesioner dan memeriksanya kembali berulang-ulang, saat ketika harus menelan puluhan buku sampai ingin muntah rasanya, saat ketika mata terus memelototi data-data yang akan dianalisis dan juga saat untuk menjadi detektif dadakan, yaitu melacak motif dibalik tidak adanya hubungan antara variabel independen dan dependen. Skripsi adalah saat dimana saya harus menemani rembulan terjaga sepanjang malam sejak masih berbentuk sabit kemudian menjadi cembung, separuh dan berbentuk sabit kembali dengan bergelas-gelas kopi yang akhirnya membuat saya ketagihan (Oh ya, ngomong-ngomong kopi tubruk Toraja itu sangat enak ^_^).

Mungkin karena itulah sehingga saat-saat menyusun skripsi disebut sebagai Kalender Kegalauan. Pada masa itu, rasanya ingin sekali meloncati waktu dan berhenti saat toga sudah tersemat di kepala. Tapi alam mengajarkan bahwa selalu ada proses. Manusia ketika diciptakan pun melalui sebuah proses. Kita hidup di dunia ini juga akan senantiasa diberi cobaan. Dan cobaan itulah yang menjadi proses menuju kematangan. Pernah nonton film yang berjudul The Pursuit of Happyness ? Film ini mengajarkan arti sebuah kebahagiaan dan kepuasan bukan karena hasil pencapaiannya, tapi karena proses yang telah ditempuh. Kita tidak akan pernah tahu rasa manis jika kita tidak mengenal rasa pahit. Kita tidak akan tahu definisi bahagia jika kita tak tahu apa itu derita.


Ada sebuah lelucon dalam film ini. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang hampir tenggelam, lalu datang kapal untuk menolongnya. Awak kapal berkata, “Apa kau butuh bantuan ?” Orang itu menjawab, “Tuhan akan menyelamatkanku” Lalu kapal lain datang dan berusaha menolongnya, tapi orang itu kembali berkata, “Tuhan akan menyelamatkanku” Orang itu kemudian mati dan masuk surga. Di sana ia bertanya pada Tuhan, “Tuhan, mengapa kau tidak menolongku ?” Tuhan menjawab, “Aku telah mengirimkan dua kapal untukmu, bodoh”. Dialog yang lucu sekaligus menyindir. Pertolongan tuhan tidak akan muncul seperti mukjizat yang langsung dilihat. Pertolongan itu bisa saja terselip di antara orang-orang di sekitar kita. Para ulama pun ketika sendal mereka putus tetap berdoa agar digantikan sendal yang baru. Tapi mereka tidak menunggu sendal baru itu jatuh dari langit. Karena setelah berdoa, mereka keluar rumah bekerja keras untuk membeli sendal yang baru. Andrea Hirata dalam buku Sang Pemimpi-nya menyebutkan bahwa berbuat terbaik di titik dimana kita berdiri, itulah realistis.


Ada sebuah nasihat sederhana dari seorang kawan bahwa ketika benang semakin menegang itu pertanda sebentar lagi akan putus, ketika malam semakin pekat maka itu pertanda fajar akan segera muncul. Bahwa setelah klimaks akan ada anti klimaks. Berusahalah sekuat tenaga karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat, dan yakinlah bahwa skripsi itu pun akan berakhir manis nanti.


*Untuk yang sedang menjalani Kalender Kegalauan, Gambaru...Fighting...!!!
13 January 2012

Ombak Kesendirian

30 Desember 2011... 

Belakangan ini sore kerap berkomplot dengan mendung. Persekutuan yang membuat bumi diliputi keremangan sepanjang hari. Awan kelabu terlalu tebal bagi matahari untuk membangunkan lazuardi. Akhirnya, tertidurlah ia untuk beberapa waktu yang tak pasti. Hujan pun semakin mempersempit jarak hadirnya. Tak menyisakan ruang bagi cerah. Menghilangkan aroma romansa yang disepakati kebanyakan orang di tempat ini. Apa boleh buat, setelah berhari-hari saling menyapa dengan mendung yang tak mau pergi, kupikir tak masalah jika memandang laut yang berlatar remang langit. Mungkin akan terasa lebih dingin dari biasanya. Dan, di sinilah aku terparkir. Marina, begitulah sebutan tempat ini. Kuacuhkan saja tatapan aneh orang-orang melihat seonggok makhluk terdampar sore hari di tepi pantai beratapkan mendung, sambil mengetik. 

“Berikanlah keberanian pada kami yang berdiri menghadap ombak kesendirian” 

Kalimat pertama yang kuisikan pada lembar microsoft word. Aku ingat karena pernah menemukannya dalam tulisanmu. Belakangan aku tahu kalau itu adalah kalimat penutup sebuah buku yang mendekam di perpustakaan. Kau juga pernah merapalnya berulang kali di Ruang Jingga sambil menatap langit yang baru saja berganti warna. Kini, ombak terhampar hanya beberapa meter dari tempatku berpijak. Lama aku menatapnya. Ombak itu tak sendiri. Mereka ada banyak. Seperti bukit-bukit yang menari. Seperti selendang yang dipermainkan angin. Seperti hempasan tetesan hujan raksasa yang jatuh dari langit. Ada banyak, aku bahkan tak bisa menghitung jumlahnya. Lalu mengapa menyebutnya ombak kesendirian ? Aku bingung. Filosofi-filosofi anehmu sering membuatku sakit kepala. Kubaca kembali kalimat ini. Kutatap laut sekali lagi....
Sekali lagi...
Sekali lagi...
Akhirnya angin kehilangan kesabarannya dan menamparku yang terlalu lambat siuman. Gelombang laut buru-buru menepi dan membisikkan sesuatu.
....
....
Di langit timur selimut malam mulai membentang. Bumi mengabut, seperti kaca yang buram oleh hembusan nafas. Kutinggalkan tempat itu dengan tulisan yang tak juga bertambah. Membiarkannya mengujar pada dingin yang dikirimkan benang-benang perak dari langit ;
“Wahai Sang Pemilik Keabadian, berikanlah keberanian pada kami yang berdiri menghadap ombak kesendirian...

Ruang Jingga

2  Januari, di kota kecil.... 

Bulan separuh. Malam ini bulan separuh. Dan bulan tersenyum simpul karena berhasil membelokkan langkahku menuju Ruang Jingga itu. Yah, Ruang Jingga, begitulah kita menyebutnya. Karena sebelum senja menyapa, sebelum langit berdarah ditikam malam, dalam putaran menit, ruang itu diliputi warna jingga. Warna yang memetakan siluet di lantai. Siluet bingkai jendela, siluet orang-orang yang bermesraan dengan buku, siluet sayap-sayap yang kau bentuk dengan kedua tanganmu dan siluet penjaga kunci yang tertidur pulas bersama letih. Sekilas tak ada yang istimewa dari ruang ini. Hanya deret buku yang tak terawat, lusuh ditinggal waktu. Tapi, bukankah di tempat ini kita mempertanyakan dan memahami banyak hal ? Di sini kita menggali ruang-ruang tersembunyi dalam pikiran masing-masing. 

Seharusnya di ruang ini ada dua atau mungkin tiga manusia yang sama-sama membaca Harlem Beat dan menertawakan kekonyolan Naruse. Seharusnya. Setidaknya begitulah adegan kepingan waktu yang kuingat. Tapi hanya ada sesosok tubuh yang memandang pantulan bayang lewat buramnya kaca malam. Sisanya, deret buku terpekur hening. Sehening malam. Sehening rembulan yang sendirian mengisi kekosongan langit. Kau selalu protes mengapa ruang penuh buku bersusun itu tak memiliki kursi. Sekarang kursi berjejer rapi, bahkan hampir tak muat lagi kududuki. Aku memaki diriku saat kusentuh deret buku dan tersadar sedang menjejak kaki di sana. Sadar sepenuhnya tak ada siapapun. Malam mendekap, mendekati garis eliminasi waktu yang memulangkan kita. Malam, yang menjadi alasan bagi kita menangisi hari yang lama. Malam, yang menidurkan sayap-sayap yang lelah mengembarai langit.

Selamat tidur. Semoga angin memelukmu dalam sejuk dan harum di awal pagi.
25 December 2011

Aku Suka Hujan


Aku suka hujan. Kedatangannya menyembunyikan matahari. Membuat bumi diliputi keremangan. Dan tak jarang dibayangi cahaya mematikan. 

Aku suka hujan. Memberi sejenak kesejukan untuk bumi. Meredam jalanan kota yang ribut ini. Dari gerak mesin yang berisik sepanjang waktu. 

Aku suka hujan. Saat orang-orang menggerutu kebasahan, belahan bumi lain bersujud melepas dahaga. 

Aku suka hujan, yang membuat jendela kamar berembun. Walau kadang bergandengan dengan hati yang ikut mendingin.

Aku suka hujan. Memberi kesempatan berlari menembusnya. Merasakan kebebasan tanpa teduhan payung. Dan menyamarkan air mata yang menghujam tanah.

Aku suka hujan, karena ada kehidupan yang mengikutinya. Meski kepergiannya tak selalu menyisakan pelangi. 

“Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit)”
“kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya”
“Lalu disana kami tumbuhkan biji-bijian”
“Dan anggur dan sayur-sayuran”
“Dan zaitun dan pohon kurma”
“Dan kebun-kebun yang rindang”
“Dan buah-buahan serta rerumputan”
“(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”
(Q.S ‘Abasa : 25-32)

Terbit dan Terbenam

Saya teringat akan temuan Andre Hirata tentang bagaimana mengenal manusia melalui takaran gula dan kopi yang diminumnya dalam buku Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Dalam Buku Besar Peminum Kopi-nya ia menuturkan bahwa orang yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Namun mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern, mereka disebut Player. 

Orang yang takaran gula, kopi dan susunya proporsional umumnya adalah pegawai kantoran yang bekerja rutin dan berima itu-itu saja. Mereka adalah manusia ‘do-re-mi’ dan mereka telah menikah dengan seseorang yang bernama bosan. Kelompok anti perubahan ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyenyak dalam zona nyaman. Proporsi gula, kopi dan susu itu mencerminkan kepribadian mereka yang sungkan mengambil risiko. Tanpa mereka sadari kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik, menelikung mereka. wajahnya sembab karena tahu waktu telah melewatinya begitu saja. Kaum ini disebut safety player. 

Entah kita adalah Player ataupun Safety player, sebagai manusia kita akan selalu hidup berdampingan dengan masalah. Orang yang sekolah punya masalah, yang tidak sekolah juga bermasalah. Orang kaya punya masalah, orang miskin juga punya. Orang yang kuliah punya masalah, sarjana pun punya masalah. Orang yang bekerja punya masalah, yang pengangguran lebih-lebih lagi. Boleh dikata bahwa seseorang bukanlah manusia jika ia tidak pernah mempunyai masalah. Karenanya ada yang mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan tanpa akhir dan bahwa manusia yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan. 

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Ada yang berlari mengejarnya seperti player, ada yang berjalan lamban seperti safety player dan ada pula yang pasrah mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menderita. Pascal mengatakan bahwa seperti apapun penderitaaan dan kepedihan yang mencekik seseorang, di kedalaman wataknya terdapat kekuatan mahabesar yang mendorongnya pada kehidupan. Yah, justru masalahlah yang mengantarkan manusia pada kehidupan. Andaikata tidak ada lava gunung merapi, kita tidak akan mendapatkan tanah yang subur. Andaikata biru langit tak pernah dikeruhkan awan hitam, kita takkan pernah mengenal hujan. Andaikata matahari tidak pernah terbenam, maka bumi akan kekeringan dan mati. Andaikata tidak ada kehilangan dan duka, lalu kepada siapa kita akan memberi simpati. Andaikata tidak ada lagi kesedihan, maka kesabaran akan mati. 

Siapapun pasti akan merindukan saat-saat matahari terbenam. Siapapun pasti akan merindukan langit yang gelap disusul hujan. Siapapun pasti merindukan awan hitam dan paling tidak badai untuk menggantikan hembusan angin yang monoton. Karena sekiranya nikmat penderitaan telah hilang, maka jadilah bumi tanpa perasaan. Dingin, seperti kelengahan yang menyihir. Selama kita masih manusia, masalah akan terus muncul karena itu menunjukkan bahwa kita harus terus belajar.
 
;