29 July 2013

Pemilik Sepatu Boot

Satu keteladanan lebih bermakna dibanding ribuan kata 

Sepasang sepatu boot berwarna hijau lumut bertengger di sisi kiri pintu sebuah masjid. Letak sepatu itu agak terpisah, sekitar dua jengkal dari barisan sandal lain yang berjejer tak rapi. Dari segi penampilan, sepatu boot itu adalah produk massal yang dibuat untuk para pekerja pertanian. Tapi pemiliknya bukanlah seorang petani. Ia seorang lelaki sepuh yang mengandalkan tongkat dan indera peraba sebagai pengganti kedua matanya. Matanya telah memutih sejak puluhan tahun silam. Tapi sosoknya mempunyai tempat tersendiri di hati para jamaah lain. 

Untuk mencapai masjid, setiap lima waktu sehari kakek itu harus melewati lorong sempit di depan rumahnya. Sampai di ujung lorong, beliau masih perlu menyeberangi jalan ke tempat di mana masjid tersebut berdiri. Kakek itu bisa melakukannya sendiri. Namun, bila sudah berada di tepi jalan, siapapun yang melihat -entah anak-anak, remaja nongkrong, atau orang dewasa- seperti sudah dikomando, akan menghampiri sang kakek, mengangkat tongkatnya dan menuntunnya sampai depan pintu masjid. Di depan pintu masjid, sang kakek akan melepas sepatu boot hijau lumutnya, menyadarkan tongkatnya ke tiang dan berjalan meraba jendela menuju shaf paling depan. Kakek itu bisa melakukannya sendiri. Namun, jamaah yang sudah lebih dahulu ada di dalam masjid -entah anak-anak, remaja masjid, atau orang dewasa- seperti sudah dikomando, akan menghampiri sang kakek, memegang tangan beliau lalu menuntunnya menuju shaf pertama paling pinggir kanan. 

Lima waktu sehari, selama puluhan tahun, tak peduli hujan deras atau sengatan matahari, berbekal sepatu boot, tongkat dan semangat, kakek itu menjaga shalat jamaahnya di masjid. Pun, selama lima waktu sehari, baik anak-anak, remaja hingga orang dewasa di kompleks itu setia bergantian menuntun sang kakek menuju masjid. Kau bisa mendapati kumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain di tepi jalan akan jeda sejenak ketika melihat kakek itu muncul di ujung lorong. Salah seorang dari mereka akan menghampiri sang kakek dan menuntunnya menuju masjid. Setelah itu ia kembali bermain bersama kawanannya. Atau di sore hari menjelang maghrib, kau bisa mendapati remaja yang sedang khusyuk makan bakso akan meletakkan mangkuknya begitu melihat kakek tersebut muncul di ujung lorong. Dia baru melanjutkan kembali makannya setelah menuntun sang kakek masuk ke masjid. 

Begitu seterusnya, selama bertahun-tahun. Sejak mereka masih anak-anak yang baru belajar mengeja huruf hingga kuliah di kota besar. Jika pulang kampung, rutinitas mereka menuntun sang kakek ke masjid tak pernah berubah. Ketika Ramadhan tiba, setiap harinya kakek tersebut ikut berbuka di masjid. Dengan piring plastik dan gelas besar miliknya, beliau akan duduk bersandar di dekat tiang, berdzikir sambil menunggu waktu berbuka. 

Hingga suatu sore tepat hari ke sembilan Ramadhan, orang-orang terlihat sibuk membangun tenda dan mengatur kursi plastik di depan rumah beliau. Remaja laki-laki mengangkat meja dengan mata sembab. Beberapa orang dewasa mengikat tenda sambil mengusap lendir hidung dengan kerah baju. Tak jauh dari jejeran kursi dan tenda itu, matahari sore menyapu selembar bendera putih yang berkibar tertiup angin laut.

Kakek itu kembali menghadap Penciptanya di usia 83 tahun. Beliau meninggalkan pesan tak tertulis yang membekas di hati para jamaah lain bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk melaksanakan kewajiban. Beliau adalah teladan lima kali sehari bagi mereka yang memiliki fisik yang kuat serta indera yang lengkap namun masih berat melangkahkan kakinya menuju masjid.
19 July 2013

Dari Balik Kaca

Perempuan itu terjaga dari lelapnya. Roda bus yang melaju di atas jalan yang tidak rata membuat kepalanya terantuk-antuk kaca jendela. Ia lalu menyandarkan kepala di dinding kursi, menarik paksa sebagian kesadarannya yang masih mengambang di alam tidur. Diliriknya jam digital yang menggantung di ujung lorong bus, pukul 3 dini hari. Butuh waktu dua jam lagi untuk sampai ke pelabuhan kemudian menyeberang menggunakan kapal laut. Perempuan itu menatap sekeliling, namun tak melihat jelas karena lampu dalam bus dipadamkan. Sepertinya hanya dua orang yang terjaga, ia dan sang supir.

Bunyi dari speaker bus masih mengalun sejak memulai perjalanannya empat jam yang lalu. Berbagai bahasa dan genre diputar bergantian. Awal perjalanan didominasi oleh bahasa daerah, entah daerah mana. Tengah perjalanan berganti dengan bahasa nasional. Dan pukul tiga dini hari itu dikuasai bahasa internasional. Starlight Muse telah berakhir, berganti dengan When You’re Gone milik Avril Lavigne. Bus yang gelap, jalanan yang lengang, hawa dingin yang menusuk, intro yang sedih. Perempuan itu mendengus, momen yang sempurna. Ia merogoh ransel, mengaduk-aduk isinya dan mengeluarkan sebungkus roti isi cokelat dari sana. Lumayan untuk mengganjal perutnya yang mulai berkicau. Ia sedang meraih botol air yang ditaruh dibawa kursi dan meneguknya perlahan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

From : +628xxxxxxxxxx
Hei kamu, sombong amat…:p 

Perempuan itu melirik jam digital di sudut kanan atas ponsel, memastikan itu memang pukul tiga dini hari. Bukan waktu yang tepat untuk mengirim sms.
 ***
Laut berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Bus dan puluhan mobil serta motor mengantri masuk ke badan kapal. Perempuan itu membuang pandangan jauh ke laut lewat kaca bus. Dua hal yang membuatnya merasa bebas atau paling tidak, lebih lapang dengan hanya melihat, laut dan langit. Kedua hal itu kini terhampar di hadapannya. Ia meraih ponsel dan mengarahkan mata kamera ke kaca jendela. Sejenak tangannya menggantung di udara. Digesernya ponsel sedikit ke sebelah kanan, mengambil satu huruf yang tertempel di kaca luar bus.

***
Jari jemari bergantian menekan layar ponsel, larut dalam sebuah game bernama onet. Gerakan jemari itu terhenti ketika peluit kapal berbunyi, pertanda sebentar lagi akan berlabuh. Pemilik jemari menekan tombol exit game dan menaruh ponselnya di sisi kanan. Ia lalu memeluk kedua kakinya yang terlipat dan menyandarkan dahinya di atas lutut. Perjalanan berjam-jam membuat kepalanya pening. Bus dan puluhan kendaraan lainnya satu per satu merayap keluar dari badan kapal. Tubuh penumpang sedikit terguncang ketika roda bus berpindah ke atas dermaga yang posisinya lebih rendah dibanding lantai kapal.

Satu titik air dari langit jatuh menimpa kaca bus, meluncur turun dan mendarat di atas jalan. Satu titik air itu diikuti titik air lain yang semakin lama semakin banyak. Menimbulkan bunyi ketukan yang ribut di atap bus. Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap ke luar. Hujan. Disandarkannya dagunya ke bingkai kaca. Hembusan napas yang hangat perlahan membuat kaca di depannya menjadi buram. 

Semakin jauh kita pergi, rasa rindu untuk pulang semakin besar.
…
...
Tapi rindu, adalah persoalan yang amat rapuh. 

Kalimat-kalimat di buku Prie GS melintas dalam benak perempuan itu. Belakangan ia sering menerima ucapan kangen baik lewat DM di Twitter, Line, hingga yang lebih privasi seperti sms. Ia menghela napas panjang, membuat kaca di depan wajahnya semakin berkabut. 
Rindu itu rapuh. Seperti titik air di kaca ini. 


Perempuan itu kembali meraih ponselnya dan membuka aplikasi twitter. Aplikasi yang katanya dibuat untuk orang-orang kesepian. Tak ada manusia yang tak pernah kesepian. Dibacanya satu persatu tweet di timeline, hingga sampai pada satu tweet,

Mendahului kehendak Tuhan kah ini ? Tidak! Karena Tuhan yang menghendaki ini 

Perempuan itu tersenyum sinis, kau sudah mendahului kehendak Tuhan dengan menyatakan “Tuhan yang menghendaki ini”. Ditutupnya aplikasi itu setelah mendengar percakapan penumpang di kursi depan bahwa terminal sudah dekat. Ia pun sibuk mengemasi barang bawaannya.
 ***
Huruf demi huruf terangkai dalam lembar microsoft word, mengikuti perintah tombol keyboard yang ditekan oleh jari-jari perempuan itu. Sejak pukul tujuh pagi ia telah berkutat dengan tugas kuliah. Tangan kanannya meraih mug yang berada di samping notebook, sementara matanya tidak lepas menatapi layar monitor. Didekatkannya mug itu ke bibirnya. Sedetik kemudian matanya melirik isi mug, tak ada setetes air yang turun. Mugnya sudah kosong. Perempuan itu berdecak. Dilihatnya kotak plastik transparan berisi minuman instan tak jauh dari tempatnya duduk. Persediaan milo-nya sudah habis, yang tersisa hanya kopi. Ia sedang tidak berminat mengisi lambungnya -yang belum terisi nasi sejak pagi- dengan kafein. Dipaksanya kedua kakinya berjalan menuju dispenser. Ia berlutut menekan keran hingga air meluncur mengisi mug sampai penuh. Sambil memegang mug, ia berjalan mendekati jendela. Langit di luar mulai gelap. Maghrib sebentar lagi mampir. Perempuan itu baru akan melepas kait penyangga jendela ketika matanya tertumbuk pada siluet di atap bangunan setengah jadi di depan kosnya. Rupanya ia tidak sendirian menangkap senja.

16 July 2013

Di Bawah Langit Terminal

Matahari terus bergerak ke arah barat, mengubah warna awan menjadi keemasan. Uniknya, langit yang menjadi latar masih bertahan dengan warna birunya. Sementara itu, di bumi, kepungan gelap membuat beberapa benda terlihat seperti siluet.

Seorang perempuan bersandar di dinding sebuah ruko, menatap sandal gunung penuh debu yang melekat di kedua kakinya. Hampir setengah jam ia berdiri di sana. Melakukan pekerjaan paling membosankan menurut sebagian orang : menunggu.

Lalu lintas jalan raya di hadapannya mulai memasuki situasi macet. Orang-orang berlomba pulang ke rumah masing-masing, mengejar momen buka puasa bersama keluarga. Perempuan itu menoleh ke mini market yang berjarak tiga ruko dari tempatnya berdiri. Memastikan jika ia harus berbuka di pinggir jalan. Sebenarnya ia tidak perlu khawatir, karena di dalam ransel yang menggantung di bahu kirinya, sudah tersedia sebotol air putih dan lima biji kurma yang diberikan seorang teman beberapa jam sebelumnya. 

Lalu lintas di depan tak lagi menarik perhatiannya. Perempuan itu mengangkat wajah, menatap langit yang perlahan ditinggalkan matahari. Ia meraih ponsel dari saku ransel, mengusap layar untuk membuka kunci, menekan ikon kamera dan membidikkannya ke arah langit. Ia menurunkan ponselnya, memeriksa momen yang baru saja ia tangkap. Kedua sudut bibirnya tertarik ke arah yang berlawanan, membentuk garis lengkung pelangi terbalik. Satu bunyi ayat melintas di kepalanya, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan ? 


Di saat yang sama, suara lain memanggil namanya dari seberang jalan. Suara itu dikirim lewat perantara udara, menembus gendang telinga dan diteruskan ke otak. Otak merespon informasi berupa perintah untuk menoleh. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke seberang jalan, mencari pemilik suara. Di antara padatnya lalu lalang mesin beroda, satu sosok tertangkap di lensa matanya. Lengkung pelangi terbalik kembali menghiasi sudut bibirnya. Pekerjaan paling membosankan itu berakhir sudah.
29 June 2013

Random (6)

“Ketika ilmu dijauhkan dari tuntunan wahyu, ketika ilmu diabadikan untuk memenuhi hawa nafsu, maka bencana kemanusiaan tak mungkin terhindarkan”
~Harun Yahya~

Petang kemarin, salah satu stasiun TV menyiarkan berita kekacauan yang terjadi di puncak acara miss waria yang diadakan di Peru. Bermula ketika runner up menyerang juara pertama yang berujung pada perkelahian. Kekacauan tersebut disinyalir karena kesalahan juri saat membacakan nama pemenang. Si Runner up dan Juara Pertama terlibat baku hantam layaknya laki-laki biasa. Gaun mereka robek tak karuan. Wig yang dipakai pun hancur terinjak-injak. Kekacauan baru berakhir ketika panitia acara turun tangan melerai. Benar-benar konyol. Lucu sekaligus miris melihatnya. Kondisi manusia saat ini seakan ingin mengulang kembali sejarah mengerikan bangsa Luth. Suatu kaum dengan perilaku yang belum pernah dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya. Mereka diazab dengan cara dijungkirbalikkan. Kisah kaum ini diabadikan dalam Al Qur’an sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya bagaimana kesudahan orang-orang yang menjauhi fitrah. Maka, janganlah kita memancing laknat Allah, karena bencana terjadi tidak lain disebabkan oleh perbuatan kita sendiri.
***
 Sulit menahan diri untuk tidak tertawa melihat sosok mungil di depan saya. Usianya sekitar 3 tahun, memakai baju panjang warna hitam, lengkap dengan jilbab bunga-bunga yang menutup sampai tangan. Dia sedang shalat di samping umminya. Setiap gerakan shalat dia ikuti dengan tenang. Tidak menengok kiri kanan. Hingga ketika sampai pada bagian tasyahud, dia juga ikut menggerak-gerakkan telunjuknya. Haduh, gemasnya. Pengen betul mencubit pipi tembemnya. Anak hebat tentulah hasil didikan dari ibu yang hebat pula. Mendidik anak bukanlah pekerjaan mudah. Itu adalah tugas yang berat sekaligus -menurut pendapat pribadi- menakutkan. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Untuk bisa membentuk pribadi shaleh dan shalehah pada diri anak, tentulah ibu yang pertama kali wajib membekali diri. Seperti nasihat seorang murabbiyah, bahwa untuk menjadi ibu, seorang wanita harus mempersiapkan diri sejak sepuluh tahun sebelumnya. 
***
Di malam tanggal 18 Sya’ban, saya melihat fenomena yang sudah sekian lama saya tunggu. Saat itu saya dan sepupu baru pulang dari sebuah rumah makan. Rumah sepupu saya berada di area Antang. Sebelum memasuki kompleks rumah, kami singgah di mini market membeli minuman. Belakangan ini dia rutin minum susu lima kotak sehari. Katanya untuk jaga daya tahan tubuh. Sementara saya cuma membeli sebotol air putih. Karena dia kelamaan kasak kusuk di kasir, jadi saya memilih menunggu di luar. Sambil membuka penutup botol, saya duduk di atas motor memperhatikan segerombolan anak yang baru pulang dari masjid. Saat minum, saya mendongak ke langit dan hampir tersedak melihat benda bulat keemasan menggantung di sana. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa benda itu adalah bulan. Seumur-umur, pertama kalinya saya melihat bulan sebesar itu. Padahal saya tidak terlalu berharap karena supermoon sudah lewat sehari sebelumnya. Tapi malam itu bulan benar-benar besar. Langit yang jadi latarnya pun hitam pekat. Memberi batas tegas dengan warna emas bulan. Saat sadar, sepupu sudah berada di samping saya, ikut-ikutan melihat bulan. Saya melempar senyum penuh arti. Dia angkat bahu, sudah tahu kebiasaan saya. Kami pun pasang jaket, memutar kunci dan melarikan motor mencari tempat yang lebih tinggi. Kami berhenti di tepi jalan menanjak yang terletak di depan pertigaan. Motor diparkir dan sepupu saya berjaga di sana. Dia membiarkan saya menyendiri sambil mengangkat jam tangannya sebagai peringatan. “Lima menit saja, oke ? Kita sudah melanggar jam malam”. Saya angkat jempol. Oke. Dan, lima menit waktu yang diberikan saya gunakan untuk diam menatap langit. Jika melihat bulan saja sudah sebahagia ini, bagaimana ya rasanya bila diberi kesempatan melihat wajah Penciptanya ?
***
Ngomong-ngomong, barusan si Valentino Rossi menang tuh di arena MotoGP. Saya tegang nontonnya, sampai tidak sadar sudah gigit bantal. Hehehe *gak penting*
25 June 2013

The Truth About Distance

Tidak semua orang mampu mengungkapkan pikir dan rasanya lewat ucapan. Karenanya sebagian memilih cara lain. Lewat tulisan, lewat lukisan, lewat senyuman bahkan kadang, hanya lewat tatapan. Dan beruntunglah bila ada yang mampu memaknai bahasa mata. Karena bahkan mata pun, punya tirai yang tak semua orang mampu menyingkapnya. Suatu waktu kau dipertemukan sepasang mata yang jujur dan apa adanya. Di lain waktu, kau bertemu dengan mata yang polos dan kekanak-kanakan. Kemudian, ada masa kau bertemu dengan sepasang mata yang jauh. Melihat matanya, kau menyadari bahwa jauh bukan lagi persoalan jarak. Bahwa ada orang-orang yang tak mampu kita jangkau, meski ia terpaut hanya dua langkah kaki.

Song for My Sweet Home

Pulang, pulang 
Ayo pulang ke rumah 
Jika perut sudah lapar, 
Jika rasa sedih datang, 
Ayo pulang ke rumah 
Tempat keluarga menunggu kita 
~Song for My Sweet Home~ 

Komik 4 jilid karangan Yuuki Fujimoto ini bercerita tentang Hanadera Himawari, murid SMA kelas 1, anak ketiga dari lima bersaudara. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan saat dia masih kecil. Himawari tinggal bersama keempat saudara laki-lakinya yang unik. Anak pertama bernama Hanadera Sakura (21 tahun), anggota band rock yang bekerja part time di berbagai tempat demi menjadi tiang utama keluarga. Suaranya bagus dan punya banyak penggemar. Sejak kecil sudah jadi langganan juara lomba menyanyi. Sifatnya keras tapi sangat perhatian terhadap adik-adiknya. Anak kedua, Hanadera Kikunosuke (19 tahun) adalah kakak laki-laki yang feminin. Dia sekolah di sekolah peñata rambut. Bila mabuk, Kikunosuke akan berubah menjadi sangat laki-laki. Setiap hari dia selalu bertengkar dengan Sakura memperebutkan gel rambut dan ikat pinggang.


Anak ketiga, Hanadera Himawari (16 tahun), adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga ini. Ia bertindak sebagai pengganti ibu. Rutinitasnya setiap hari selain sekolah adalah memasak makanan untuk semua anggota keluarga, menyiapkan bekal makanan, mencuci pakaian dan mengurus rumah. Anak keempat, Hanadera Aoi (14 tahun), siswa SMP kelas 3 yang kalau seminggu tidak makan puding minimal dua, kondisinya mendadak jadi aneh. Gemetar tak karuan. Dia dijuluki “Angel smile” karena orangnya selalu serius dan jarang senyum. Tapi sekali tersenyum, orang-orang yang melihatnya bisa meleleh. Dia bertindak sebagai bendahara, mengurus buku keuangan, sekaligus punya hak memutuskan apa yang perlu dan tidak perlu dibeli oleh setiap anggota keluarga. Terakhir anak kelima, Hanadera Umeta (6 tahun), si bungsu yang cengeng tapi paling baik hati. Pernah hidup terpisah dengan saudara-saudaranya sampai umur tiga tahun kerena dititipkan di tempat penitipan anak. 

Walau hanya terdiri dari 4 jilid, tapi komik ini mampu menggambarkan hubungan keluarga yang erat dari lima bersaudara. Berbagai pemasalahan yang muncul semakin menambah kekompakan mereka. Ceritanya juga ringan, menghibur dan membuat kita jadi teringat keluarga di rumah. Entah bagaimana rasanya kondisi rumah tanpa kehadiran ayah dan ibu. Kenangan orang-orang yang pergi meninggalkan kita memang tidak akan bisa terhapus. Sampai kapan pun, rasa sedih itu pasti ada. Tapi selagi kita hidup, jagalah apa yang kita miliki. Bila suatu saat kesedihan itu tak bisa ditahan, boleh saja kita menangis. Setelah itu tersenyumlah kembali.
21 June 2013

Bukan Bulan Biasa


“Allah mencipta yang Dia kehendaki dan memilih (ciptaan-Nya) yang Dia kehendaki “, demikian kutipan terjemahan sebuah ayat Al Qur’an. Sebuah isyarat Allah memilih dari setiap ciptaan-Nya dan menjadikannya sebagai makhluk paling mulia di sisi-Nya. Sebagaimana Allah telah memuliakan dan melebihkan sebagian manusia  dari yang lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam lebih mulia dari Nabi dan Rasul yang lain, Malaikat Jibril lebih mulia dibanding malaikat lainnya, hari jumat lebih mulia dibanding hari-hari lain dalam sepekan, Allah Ta’ala juga telah memuliakan dan memberkahi bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i) 

Beberapa keutamaan bulan Ramadhan adalah di dalamnya di turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup serta syaithan dibelenggu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Jika datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah para syetan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintu-pun yang tertutup, berseru seorang penyeru; "Wahai orang yang ingin kebaikan, lakukanlah! Wahai orang yang ingin kejelekan, kurangilah! Dan bagi Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi pada setiap malam" [HR. Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah].

Pada bulan ini pula disunnahkan shalat tarawih untuk mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai oleh Allah daripada minyak kasturi dan do'a orang yang berpuasa mustajab serta malaikat berdo'a dan beristigfar untuk orang yang berpuasa hingga mereka berbuka. 

Selain itu, pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar. Mereka yang beribadah dan mendapatkan malam ini, maka ibadah-ibadahnya setara dengan ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan atau 83 tahun 4 bulan.  Pada malam ini pintu-pintu langit dibuka, do’a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Setiap tahun, Ramadhan selalu tampak istimewa. Perubahan drastis terlihat di mana-mana. Sebagian yang tadinya malas melakukan kewajiban agama, berubah tunduk dan patuh pada syariat. Mereka rela menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Masjid-masjid yang awalnya sepi menjadi sesak oleh jama’ah shalat tarwih. Namun ternyata masih banyak kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan bahkan kadang menjadi tradisi selama bulan ramadhan. 

Pertama, menyia-nyiakan waktu dengan main game, nonton sinetron, atau hal-hal lain yang tidak bermanfaat. Tidak semestinya kita melewatkan Ramadhan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena sangat mustahil bagi orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat dibulan Ramadhan untuk mendapatkan manfaat di bulan-bulan yang lain. Puasa mengajarkan kita bahwa ada saat-saat dimana kita harus belajar meninggalkan sesuatu yang sebenarnya halal demi meraih yang lebih utama. Meninggalkan yang mubah karena takut, jika terlalu larut menikmatinya akan terjerumus kepada yang haram atau kehilangan suatu keutamaan. 

Kedua, Berlebih-lebihan di waktu berbuka dalam hal makan dan minum. Di antara adab puasa adalah tidak memenuhi perut dengan makanan tetapi makan sekadarnya saja. Karena tidaklah anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk dari perutnya sendiri. Terlalu banyak makan hanya akan mengundang rasa malas yang akan berdampak pada tidak optimalnya melaksanakan ibadah karena terlalu kekenyangan. 

Ketiga, menyegerakan makan sahur kemudian tidur kembali padahal kita disunnahkan untuk mengakhirkan sahur. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, “Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat” Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.” Ibnu Hajar mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat.” 

Keempat, Hanyut pada maksiat dan dosa seperti saksi palsu, berdusta, berdebat kusir dan bertengkar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan  dusta, beramal dengannya, dan tindakan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan usaha dia dalam meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari). Maksudnya, jika seorang yang berpuasa tidak bisa menjaga lisan dan anggota badannya dari ucapan dan perbuatan yang haram, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan memberikan pahala atas puasanya meskipun selama sehari penuh dia menahan lapar dan haus. Sebab, adab puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun secara khusus adalah menjaga seluruh anggota badan baik mata, lidah, hati maupun perbuatan yang diharamkan dan dimakruhkan. Jadi, upaya untuk memperbanyak amal kebaikan harus beriringan dengan upaya untuk membersihkan diri dari segala bentuk kemaksiatan. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. 

Kelima, Menyibukkan diri menyambut ledul Fitri dengan membuat kue dan belanja pakaian di pasar. Umumnya pemandangan yang sering kita lihat adalah bahwa di hari-hari pertama Ramadhan, animo masyarakat sangat besar, namun memasuki malam-malam pertengahan sampai akhir, mesjid-mesjid mulai kehilangan penghuninya. Sebagian orang mulai disibukkan oleh berbagai pesiapan menjelang iedul fitri seperti membuat berbagai macam masakan dan membeli pakaian baru. Padahal seharusnya di akhir-akhir Ramadhan adalah saat dimana kita lebih giat beribadah karena malam Lailatul Qadar yang dicari-cari itu ada pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. 

Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits dari Aisyah radiyallahu anha, ia berkata, “Tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memasuki sepuluh hari (yang terakhir pada bulan Ramadhan), maka beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan waktu malamnya dan membangunkan keluarganya.”. Kita tidak dilarang mempersiapkan diri menyambut iedul fitri namun hendaknya kita tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jangan sampai kesibukan tersebut melalaikan kita untuk meraih keagungan Lailatul Qadar. 

Bulan ramadhan bukanlah momen untuk “beristirahat” dari maksiat. Sebagian orang menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai momen untuk “beristirahat” dari berbagai maksiat yang biasa dia lakukan di luar bulan Ramadhan. Namun, ternyata di benaknya masih ada niatan untuk mengulangi lagi kebiasaan jelek tersebut selepas Ramadhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Orang yang meninggalkan maksiat pada bulan Ramadhan, dan di antara niatnya adalah akan mengulanginya lagi pada selain bulan Ramadhan, maka dia termasuk orang yang terus-menerus (berbuat maksiat itu) juga.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara syarat taubat adalah meninggalkan perbuatan maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Sehingga apabila seseorang telah meninggalkan suatu perbuatan maksiat, namun masih ada padanya keinginan dan tekad untuk mengulanginya lagi, maka dia belum dikatakan orang yang jujur dan sungguh-sungguh dalam taubatnya. 

Allah berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 135). Puasa ramadhan mengajarkan kita akan hakikat takwa yang paling sempurna. Yaitu suatu sikap kehati-hatian yang sangat terhadap berbagai hal yang diharamkan atau yang menjurus kepada yang haram. Maka janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun untuk mengamalkannya dan janganlah meremehkan keburukan sekecil apapun untuk menghindarinya.

 Sumber :
Minhajul Qashidin
Majalah Ar Risalah edisi 87 vol.VIII No.3
 
;