01 September 2013

Gema

Suatu tempat, dengan hembusan angin yang selalu sama
Tiap senja,
Ada yang menyelinap dari balik kertas tua
Lalu berpindah ke bingkai jendela
Mematulkan segaris senyum lewat kaca
Padanya yang berada di seberang meja
22 August 2013

Motor Dan Topik Tanpa Ujung Pangkal


Masa depan itu gas, masa lalu itu rem, masa kini itu persneling. Hidup sungguh tidak matic. 
~Prie GS~ 

Tubuhnya penuh debu karena jarang mandi. Mesinnya mendingin, rodanya berlumpur, kaca spionnya buram dan bensinnya sekarat . Demikianlah kondisi si Kapten setelah ditinggal sebulan lebih. Dia agak ngambek karena jarang diprovokatori (baca : dipanas-panasi). 

“Hai bro, kamu tetap cakep ya, walau ditinggal sebulan,” sapa saya, basa-basi. Merasa sedikit bersalah karena sudah menelantarkannya. Tapi saya juga tidak kuat mengendarai motor pulang kampung saat sedang berpuasa. Memang konyol bicara dengan benda mati seperti motor. Sebenarnya ini juga belajar dari seorang teman. Pernah suatu malam dia kecelakaan di jalan. Kecelakaan tunggal. Motornya tergelincir karena jalanan licin oleh hujan. Dia hanya menderita luka gores di tangan dan kaki, tapi mesin motornya mati. Sambil menahan sakit, dia mengusap-usap si motor dan berkata, “Bertahanlah bro, rumah sudah dekat”. Setelah berusaha berkali-kali, diutak-atik sana-sini, akhirnya si motor mau diajak kompromi. 

Mengingat kejadian itu membuat saya senyum sendiri. Kadang, saya ikut meniru kebiasaan konyolnya. Seperti saat menyusun tugas akhir. Setiap kali selesai konsultasi dengan pembimbing, sepulang dari kampus saya langsung toss sama si laptop, “Kerja bagus, bos”. Dan sebagai wujud rasa terima kasih, namanya dimasukkan dalam daftar ucapan terima kasih di bagian kata pengantar. Hehehe 

Tahun-tahun sebelumnya, topik yang paling sering dibahas ketika silaturahim dengan teman sekolah masih berputar sekitar pekerjaan dan kuliah. Tapi tahun ini sepertinya menjadi permulaan dari satu topik yang tidak pernah habis dibahas. Yang tak punya ujung pangkal dengan berbagai lika-likunya. Topik yang selalu meninggalkan pertanyaan “Kapan ?” di akhir pertemuan.

Sebenarnya agak kaget juga mengetahui ada beberapa teman seangkatan yang sudah dan akan menikah ketika tiba di kampung halaman. Sampai geleng-geleng kepala sendiri karena lambatnya informasi sampai ke telinga. Si A ternyata menikah dengan si C setelah bertahun-tahun dengan si D. Si F akan menikah dengan si R padahal dua bulan sebelumnya masih dengan si G. Takdir memang tak bisa ditebak.

Membahas topik Tanpa Ujung Pangkal itu sering mengingatkan saya pada motor dan jalan raya. Sendiri mengendarai motor itu menyenangkan. Bebas. Ke mana pun ingin pergi, kau bebas. Bebas mengunjungi tempat yang ingin kau tuju. Bebas memilih rute mana yang akan kau tempuh. Bebas mengontrol kecepatan motor. Bahkan, kau bebas mengubah arah tujuan di tengah perjalanan. Tak ada yang akan protes. Kendali ada di tanganmu. Bila terjatuh, kau tidak begitu terbebani rasa bersalah karena yang terluka hanya kau sendiri. Risikonya kau juga harus bangun sendiri. Orang yang berlalu lalang di sekitarmu tidak selalu berbaik hati mengulurkan tangan. 

Berbeda ketika kau sedang membawa seseorang di belakangmu. Kau memang akan punya teman berbagi selama perjalanan, tidak melulu bicara dengan motor sendiri. Tetapi, kau harus sering-sering menjaga keseimbangan karena berat beban yang ditanggung menjadi bertambah. Kau tidak boleh egois melarikan motor karena keselamatan orang yang kau bawa menjadi tanggung jawabmu. Kau juga harus sepakat dengan orang di balik punggungmu dalam menentukan tujuan dan rute perjalanan. Selama perjalanan, beban mungkin akan bertambah lagi dengan kehadiran dua atau tiga anggota baru. Selain anggota baru, masalah juga akan muncul satu demi satu. Ban motormu bisa kempes atau malah bocor ketika tidak ada bengkel di sekitar situ. Bensinmu pun bisa sekarat ketika tak ada pom bensin terdekat. Karenanya, kau tidak boleh sesukamu mengubah tujuan yang telah disepakati. Hal itu bisa menyulut perselisihan. Berselisih di jalan raya dengan kecepatan lari yang tinggi akan memancing malapetaka. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Motor hancur, kau dan orang-orang yang kau bawa terluka. Atau, karena tidak tahan dengan beban yang kau bawa, akhirnya memilih meninggalkan mereka di tepi jalan. 

Seringkali, saya hanya bisa menunduk dalam-dalam melihat para pengendara di sisi kiri dan kanan satu per satu menurunkan orang-orang di balik punggungnya, yang telah mereka bawa bertahun-tahun. Meninggalkannya beserta dua, tiga bahkan kadang lima anggota kecil. Di antara pengendara itu ada yang berbaik hati membawa mereka pulang ke asal. Ada juga yang menyerahkan motornya agar dapat dipakai oleh orang yang ia tinggalkan. Namun, ada pula pengendara yang membiarkan mereka kebingungan di tepi jalan. Di saat yang sama, pengendara itu menggandeng orang baru dan berlalu begitu saja. Tersisa air mata, kebencian dan amarah yang terpantul dari mata orang-orang yang ditinggalkan. Dalam beberapa kasus, ada yang kehilangan akal sehat karena rasa sakit yang sangat. Akhirnya, bila dipikirkan kembali, menerima tawaran untuk ikut motor orang lain adalah keputusan yang berbahaya. Tak heran bila ada yang lebih memilih berkendara sendirian dengan segala risikonya.

17 Agustus

Menjelang hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kota Benteng sibuk dengan berbagai rangkaian kegiatan. Salah satunya adalah lomba berbaris indah. Seluruh sekolah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK di kecamatan Benteng ikut berpartisipasi dalam lomba ini.

Barisan murid SD
 
Barisan siswa SMP





















Barisan siswa SMA

Hari 17 Agustus pun tiba. Pukul setengah sepuluh pagi saya sudah berdiri di pinggir lapangan Pemuda Benteng, menyaksikan berlangsungnya upacara pengibaran bendera merah putih. Tentu saja yang paling ditunggu oleh para penonton dari seluruh rangkaian upacara tersebut adalah munculnya barisan makhluk berkaki jenjang, Paskibraka. 


Dan, bendera merah putih pun berkibar
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia disambut dengan berbagai kegiatan yang unik di setiap daerah. Di Aceh misalnya, upacara 17 Agustus diramaikan dengan aksi para penerjun payung yang membawa bendera berukuran besar. Di Solo, upacara 17 Agustus diperingati dengan menonjolkan sisi keberagaman etnis. Sementara di kampung saya, Selayar, Hari Kemerdekaan diperingati dengan pengibaran bendera merah putih di bawah laut, tepatnya di Kawasan Sitio Mardin 2, Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu. Pengibaran bendera ini melibatkan puluhan penyelam.

Rekreasi Ke Liang Kareta

Sehari setelah idul fitri, kami sekeluarga berlayar ke pulau seberang. Rekreasi ke tempat baru sudah menjadi tradisi dalam keluarga besar ketika semua anggota keluarga terkumpul lengkap. Dan hanya di momen idul fitri saja, semua anggota yang tercecer di berbagai wilayah bisa kembali ke kampung halaman. Berdasarkan berbagai pertimbangan, Liang Kareta dipilih sebagai tujuan rekreasi. Letaknya jauh di balik pulau Gusung. Pulau Gusung adalah salah satu pulau yang terpisah dari pulau utama Kabupaten Selayar. Pulau ini terletak tepat di depan kota Benteng. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Kami menyewa lima perahu. Satu perahu bisa menampung 20 penumpang. Cukup banyak memang mengingat jumlah anggota yang juga banyak. Khusus keponakan saja bila dikumpulkan bisa muat satu perahu, belum lagi ditambah para sepupu, tante dan om.

Pulau Gusung dari Kejauhan
Kami berangkat sekitar pukul 8 pagi. Air laut masih surut. Berhubung perahu tidak bisa merapat jadi kami ramai-ramai turun ke laut yang airnya setinggi lutut. Berbekal ransel di punggung dan sandal jepit di tangan, saya dan sepupu berlari menuju perahu. Kaos kaki yang awalnya berwarna putih berubah jadi coklat tanah. Surutnya air laut membuat perahu harus berlayar jauh ke luar. Di tengah laut airnya jernih, membuat batu-batu di bawahnya terlihat dari permukaan. Perjalanan baru 15 menit tapi penumpang sudah basah kuyup karena saling siram satu sama lain. Pemilik perahu sampai geleng-geleng kepala melihat penumpangnya yang seperti baru ketemu air asin. 

Di tengah Laut
Yang pakai baju oranye itu anak pemilik perahu
Perjalanan sempat terhenti beberapa kali karena baling-baling perahu terbentur batu dan terlilit rumput laut. Bapak pemilik perahu yang membawa kami dibantu anak laki-lakinya. Bocah itu yang terjun ke laut dan melepaskan lilitan rumput laut dari baling-baling. Setelah satu jam lebih, akhirnya Liang Kareta terlihat dari kejauhan. Ternyata sudah ada beberapa rombongan lain yang lebih dulu tiba di sana. Beberapa ceruk sudah terisi oleh mereka. Salah satu rombongan itu adalah senior-senior saya di SMA.

Kami akhirnya menemukan ceruk yang masih kosong. Segera perahu di arahkan ke sana. Pasir putih dan karang hitam yang tajam adalah ciri khas tempat itu. Airnya berwarna hijau turquoise. Banyak bintang laut di sana. Saya tidak punya banyak koleksi foto-foto tempat itu. Karena yang kebagian tugas dokumentasi adalah sepupu saya. Setelah menaruh ransel di atas batu, saya berlari turun ke laut sambil merebut pelampung yang sedang dipegang ponakan.

Liang Kareta, gambar ini diambil google
Dari arah laut, terlihat seluruh keluarga saya berkumpul di tepi pantai. Yang laki-laki, mulai dari ponakan, sepupu, om sampai ayah sibuk bermain bola. Ayah tertawa-tawa ketika salah satu cucunya (anak sepupu saya) berhasil merebut bola dari kakinya, membuatnya jatuh terguling-guling di atas pasir. Ibu yang tak jauh darinya geleng-geleng kepala melihat tingkah ayah yang tak beda dengan cucunya sendiri. Tapi tak lama kemudian, ibu sendiri mengambil cucu yang lain, meletakkannya di punggung lalu membawanya berenang. Saya dilanda déjà vu, seperti itulah cara ibu mengajak saya berenang sewaktu kecil. Tapi sampai sekarang saya tidak juga mahir berenang. Ini benar-benar aib buat saya. Anak pulau kok tidak bisa berenang ? Apa kata dunia ? Tanpa bantuan pelampung, cara saya berenang lebih tepat disebut berendam.

Setelah puas berendam, saya memutuskan ikut mendaki tebing. Karangnya tajam-tajam. Sesampainya di atas tebing, satu per satu kami melompat. Saya belum siap melompat ketika diam-diam adik saya mendorong dari belakang. Saya pun sukses terjun ke laut dengan gaya yang tidak keren sama sekali. Kalau yang lain melompat sambil bersalto atau berputar-putar dulu sebelum masuk ke air, saya lebih mirip pohon kelapa yang tumbang. Sungguh terlalu. 

Setelah dua jam berenang, semua perut mulai kelaparan. Dalam hitungan menit, ikan yang baru selesai dibakar sudah berubah jadi tulang belulang. Makanan tandas, berenang dilanjutkan kembali sambil bermain lempar bola hingga dua jam kemudian. Selepas dhuhur kami pulang dengan wajah kemerahan seperti kepiting rebus. Senang rasanya berkumpul dengan keluarga dalam momen seperti itu. Hanya di momen yang langka itu saja setiap orang dewasa kembali menjadi bocah. Bermain sesuka hatinya. Jadi orang dewasa memang menyenangkan, walau susah dijalani. *Halah..iklaaannn*
29 July 2013

Pemilik Sepatu Boot

Satu keteladanan lebih bermakna dibanding ribuan kata 

Sepasang sepatu boot berwarna hijau lumut bertengger di sisi kiri pintu sebuah masjid. Letak sepatu itu agak terpisah, sekitar dua jengkal dari barisan sandal lain yang berjejer tak rapi. Dari segi penampilan, sepatu boot itu adalah produk massal yang dibuat untuk para pekerja pertanian. Tapi pemiliknya bukanlah seorang petani. Ia seorang lelaki sepuh yang mengandalkan tongkat dan indera peraba sebagai pengganti kedua matanya. Matanya telah memutih sejak puluhan tahun silam. Tapi sosoknya mempunyai tempat tersendiri di hati para jamaah lain. 

Untuk mencapai masjid, setiap lima waktu sehari kakek itu harus melewati lorong sempit di depan rumahnya. Sampai di ujung lorong, beliau masih perlu menyeberangi jalan ke tempat di mana masjid tersebut berdiri. Kakek itu bisa melakukannya sendiri. Namun, bila sudah berada di tepi jalan, siapapun yang melihat -entah anak-anak, remaja nongkrong, atau orang dewasa- seperti sudah dikomando, akan menghampiri sang kakek, mengangkat tongkatnya dan menuntunnya sampai depan pintu masjid. Di depan pintu masjid, sang kakek akan melepas sepatu boot hijau lumutnya, menyadarkan tongkatnya ke tiang dan berjalan meraba jendela menuju shaf paling depan. Kakek itu bisa melakukannya sendiri. Namun, jamaah yang sudah lebih dahulu ada di dalam masjid -entah anak-anak, remaja masjid, atau orang dewasa- seperti sudah dikomando, akan menghampiri sang kakek, memegang tangan beliau lalu menuntunnya menuju shaf pertama paling pinggir kanan. 

Lima waktu sehari, selama puluhan tahun, tak peduli hujan deras atau sengatan matahari, berbekal sepatu boot, tongkat dan semangat, kakek itu menjaga shalat jamaahnya di masjid. Pun, selama lima waktu sehari, baik anak-anak, remaja hingga orang dewasa di kompleks itu setia bergantian menuntun sang kakek menuju masjid. Kau bisa mendapati kumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain di tepi jalan akan jeda sejenak ketika melihat kakek itu muncul di ujung lorong. Salah seorang dari mereka akan menghampiri sang kakek dan menuntunnya menuju masjid. Setelah itu ia kembali bermain bersama kawanannya. Atau di sore hari menjelang maghrib, kau bisa mendapati remaja yang sedang khusyuk makan bakso akan meletakkan mangkuknya begitu melihat kakek tersebut muncul di ujung lorong. Dia baru melanjutkan kembali makannya setelah menuntun sang kakek masuk ke masjid. 

Begitu seterusnya, selama bertahun-tahun. Sejak mereka masih anak-anak yang baru belajar mengeja huruf hingga kuliah di kota besar. Jika pulang kampung, rutinitas mereka menuntun sang kakek ke masjid tak pernah berubah. Ketika Ramadhan tiba, setiap harinya kakek tersebut ikut berbuka di masjid. Dengan piring plastik dan gelas besar miliknya, beliau akan duduk bersandar di dekat tiang, berdzikir sambil menunggu waktu berbuka. 

Hingga suatu sore tepat hari ke sembilan Ramadhan, orang-orang terlihat sibuk membangun tenda dan mengatur kursi plastik di depan rumah beliau. Remaja laki-laki mengangkat meja dengan mata sembab. Beberapa orang dewasa mengikat tenda sambil mengusap lendir hidung dengan kerah baju. Tak jauh dari jejeran kursi dan tenda itu, matahari sore menyapu selembar bendera putih yang berkibar tertiup angin laut.

Kakek itu kembali menghadap Penciptanya di usia 83 tahun. Beliau meninggalkan pesan tak tertulis yang membekas di hati para jamaah lain bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk melaksanakan kewajiban. Beliau adalah teladan lima kali sehari bagi mereka yang memiliki fisik yang kuat serta indera yang lengkap namun masih berat melangkahkan kakinya menuju masjid.
19 July 2013

Dari Balik Kaca

Perempuan itu terjaga dari lelapnya. Roda bus yang melaju di atas jalan yang tidak rata membuat kepalanya terantuk-antuk kaca jendela. Ia lalu menyandarkan kepala di dinding kursi, menarik paksa sebagian kesadarannya yang masih mengambang di alam tidur. Diliriknya jam digital yang menggantung di ujung lorong bus, pukul 3 dini hari. Butuh waktu dua jam lagi untuk sampai ke pelabuhan kemudian menyeberang menggunakan kapal laut. Perempuan itu menatap sekeliling, namun tak melihat jelas karena lampu dalam bus dipadamkan. Sepertinya hanya dua orang yang terjaga, ia dan sang supir.

Bunyi dari speaker bus masih mengalun sejak memulai perjalanannya empat jam yang lalu. Berbagai bahasa dan genre diputar bergantian. Awal perjalanan didominasi oleh bahasa daerah, entah daerah mana. Tengah perjalanan berganti dengan bahasa nasional. Dan pukul tiga dini hari itu dikuasai bahasa internasional. Starlight Muse telah berakhir, berganti dengan When You’re Gone milik Avril Lavigne. Bus yang gelap, jalanan yang lengang, hawa dingin yang menusuk, intro yang sedih. Perempuan itu mendengus, momen yang sempurna. Ia merogoh ransel, mengaduk-aduk isinya dan mengeluarkan sebungkus roti isi cokelat dari sana. Lumayan untuk mengganjal perutnya yang mulai berkicau. Ia sedang meraih botol air yang ditaruh dibawa kursi dan meneguknya perlahan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

From : +628xxxxxxxxxx
Hei kamu, sombong amat…:p 

Perempuan itu melirik jam digital di sudut kanan atas ponsel, memastikan itu memang pukul tiga dini hari. Bukan waktu yang tepat untuk mengirim sms.
 ***
Laut berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Bus dan puluhan mobil serta motor mengantri masuk ke badan kapal. Perempuan itu membuang pandangan jauh ke laut lewat kaca bus. Dua hal yang membuatnya merasa bebas atau paling tidak, lebih lapang dengan hanya melihat, laut dan langit. Kedua hal itu kini terhampar di hadapannya. Ia meraih ponsel dan mengarahkan mata kamera ke kaca jendela. Sejenak tangannya menggantung di udara. Digesernya ponsel sedikit ke sebelah kanan, mengambil satu huruf yang tertempel di kaca luar bus.

***
Jari jemari bergantian menekan layar ponsel, larut dalam sebuah game bernama onet. Gerakan jemari itu terhenti ketika peluit kapal berbunyi, pertanda sebentar lagi akan berlabuh. Pemilik jemari menekan tombol exit game dan menaruh ponselnya di sisi kanan. Ia lalu memeluk kedua kakinya yang terlipat dan menyandarkan dahinya di atas lutut. Perjalanan berjam-jam membuat kepalanya pening. Bus dan puluhan kendaraan lainnya satu per satu merayap keluar dari badan kapal. Tubuh penumpang sedikit terguncang ketika roda bus berpindah ke atas dermaga yang posisinya lebih rendah dibanding lantai kapal.

Satu titik air dari langit jatuh menimpa kaca bus, meluncur turun dan mendarat di atas jalan. Satu titik air itu diikuti titik air lain yang semakin lama semakin banyak. Menimbulkan bunyi ketukan yang ribut di atap bus. Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap ke luar. Hujan. Disandarkannya dagunya ke bingkai kaca. Hembusan napas yang hangat perlahan membuat kaca di depannya menjadi buram. 

Semakin jauh kita pergi, rasa rindu untuk pulang semakin besar.

...
Tapi rindu, adalah persoalan yang amat rapuh. 

Kalimat-kalimat di buku Prie GS melintas dalam benak perempuan itu. Belakangan ia sering menerima ucapan kangen baik lewat DM di Twitter, Line, hingga yang lebih privasi seperti sms. Ia menghela napas panjang, membuat kaca di depan wajahnya semakin berkabut. 
Rindu itu rapuh. Seperti titik air di kaca ini. 


Perempuan itu kembali meraih ponselnya dan membuka aplikasi twitter. Aplikasi yang katanya dibuat untuk orang-orang kesepian. Tak ada manusia yang tak pernah kesepian. Dibacanya satu persatu tweet di timeline, hingga sampai pada satu tweet,

Mendahului kehendak Tuhan kah ini ? Tidak! Karena Tuhan yang menghendaki ini 

Perempuan itu tersenyum sinis, kau sudah mendahului kehendak Tuhan dengan menyatakan “Tuhan yang menghendaki ini”. Ditutupnya aplikasi itu setelah mendengar percakapan penumpang di kursi depan bahwa terminal sudah dekat. Ia pun sibuk mengemasi barang bawaannya.
 ***
Huruf demi huruf terangkai dalam lembar microsoft word, mengikuti perintah tombol keyboard yang ditekan oleh jari-jari perempuan itu. Sejak pukul tujuh pagi ia telah berkutat dengan tugas kuliah. Tangan kanannya meraih mug yang berada di samping notebook, sementara matanya tidak lepas menatapi layar monitor. Didekatkannya mug itu ke bibirnya. Sedetik kemudian matanya melirik isi mug, tak ada setetes air yang turun. Mugnya sudah kosong. Perempuan itu berdecak. Dilihatnya kotak plastik transparan berisi minuman instan tak jauh dari tempatnya duduk. Persediaan milo-nya sudah habis, yang tersisa hanya kopi. Ia sedang tidak berminat mengisi lambungnya -yang belum terisi nasi sejak pagi- dengan kafein. Dipaksanya kedua kakinya berjalan menuju dispenser. Ia berlutut menekan keran hingga air meluncur mengisi mug sampai penuh. Sambil memegang mug, ia berjalan mendekati jendela. Langit di luar mulai gelap. Maghrib sebentar lagi mampir. Perempuan itu baru akan melepas kait penyangga jendela ketika matanya tertumbuk pada siluet di atap bangunan setengah jadi di depan kosnya. Rupanya ia tidak sendirian menangkap senja.

16 July 2013

Di Bawah Langit Terminal

Matahari terus bergerak ke arah barat, mengubah warna awan menjadi keemasan. Uniknya, langit yang menjadi latar masih bertahan dengan warna birunya. Sementara itu, di bumi, kepungan gelap membuat beberapa benda terlihat seperti siluet.

Seorang perempuan bersandar di dinding sebuah ruko, menatap sandal gunung penuh debu yang melekat di kedua kakinya. Hampir setengah jam ia berdiri di sana. Melakukan pekerjaan paling membosankan menurut sebagian orang : menunggu.

Lalu lintas jalan raya di hadapannya mulai memasuki situasi macet. Orang-orang berlomba pulang ke rumah masing-masing, mengejar momen buka puasa bersama keluarga. Perempuan itu menoleh ke mini market yang berjarak tiga ruko dari tempatnya berdiri. Memastikan jika ia harus berbuka di pinggir jalan. Sebenarnya ia tidak perlu khawatir, karena di dalam ransel yang menggantung di bahu kirinya, sudah tersedia sebotol air putih dan lima biji kurma yang diberikan seorang teman beberapa jam sebelumnya. 

Lalu lintas di depan tak lagi menarik perhatiannya. Perempuan itu mengangkat wajah, menatap langit yang perlahan ditinggalkan matahari. Ia meraih ponsel dari saku ransel, mengusap layar untuk membuka kunci, menekan ikon kamera dan membidikkannya ke arah langit. Ia menurunkan ponselnya, memeriksa momen yang baru saja ia tangkap. Kedua sudut bibirnya tertarik ke arah yang berlawanan, membentuk garis lengkung pelangi terbalik. Satu bunyi ayat melintas di kepalanya, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan ? 


Di saat yang sama, suara lain memanggil namanya dari seberang jalan. Suara itu dikirim lewat perantara udara, menembus gendang telinga dan diteruskan ke otak. Otak merespon informasi berupa perintah untuk menoleh. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke seberang jalan, mencari pemilik suara. Di antara padatnya lalu lalang mesin beroda, satu sosok tertangkap di lensa matanya. Lengkung pelangi terbalik kembali menghiasi sudut bibirnya. Pekerjaan paling membosankan itu berakhir sudah.
 
;