Lukisan itu bersandar di sudut kamar. Bingkainya berwarna
hitam dengan sudut-sudut dilapisi kertas. Berhari-hari kubiarkan seperti itu, hingga
debu halus mulai menyelimutinya. Sesekali kupandangi lekat-lekat sambil
menyesap teh. Begitu dekat jaraknya dariku, namun begitu jauh dari jangkauanku.
Bulan-bulan berlalu, debu mengendap semakin tebal. Kuambil selembar kain, kubersihkan,
lalu kumasukkan ke dalam kantong kertas. Kubawa pada seorang kenalan yang akan
berangkat ke kota lain. Ia boleh menyimpan atau memberikannya, kataku padanya. Siapapun
tak masalah. Kemana pun tak masalah. Heran ia menerima, tapi tak juga berpanjang
tanya. Sudut kamarku pun kosong. Lukisan itu sudah tidak ada. Tak perlu lagi kuhabiskan
waku menatap begitu lama. Pagi berjalan seperti biasa. Kubuka jendela, kurapikan
buku, kusetrika baju, kuseduh segelas teh dan menyesapnya pelan-pelan. Kulirik kembali
sudut itu, mengingat jejaknya sewaktu masih ada. Cukup lama. Cukup lama.
Pembeli : Berapa harga kepala
kambing ini ?
Penjual : Lima puluh afgani
Pembeli : Lima puluh? Terlalu mahal! Dua puluh saja.
Penjual : Apa? Dua puluh afgani? Kamu Gila? Kamu kira ini kepala manusia ?
~Lelucon Kandahar~
Penjual : Lima puluh afgani
Pembeli : Lima puluh? Terlalu mahal! Dua puluh saja.
Penjual : Apa? Dua puluh afgani? Kamu Gila? Kamu kira ini kepala manusia ?
~Lelucon Kandahar~
Ketika harga tiket pesawat didiskon setengah harga, ditambah tawaran “pengalaman
tak terlupakan” dari agen-agen perjalanan, orang-orang pun antusias melakukan
perjalanan ke berbagai tempat, berwisata mengumpulkan foto-foto dan membukukan
kisah-kisah mereka. Namanya juga wisata, tempat yang dikunjungi tentulah tempat
yang indah dengan panorama yang eksotis. Tempat yang mampu membuat siapapun bersantai
menikmati tiap detik perjalanan. Tapi bagaimana bila tempat itu bernama Afghanistan
? Hm, sepertinya bukan plihan yang bagus. Sebab selain kamera, buku jurnal,
ransel, paspor dan uang, dibutuhkan bekal keberanian untuk memasuki negara ini.
Hebatnya lagi si penulis, Agustinus Wibowo, memulai petualangannya dari Beijing
ke Afghanistan dan Asia Tengah menggunakan jalur darat dan tinggal selama
beberapa tahun di sana.
Negara konflik, mungkin itu yang muncul di benak bila mendengar Afghanistan.
Walaupun saya tak tahu pasti konflik macam apa lagi yang terjadi di sana selain
perang melawan Rusia dan invasi Amerika Serikat. Tapi sejak bergolak pada tahun
2001, negara tersebut telah identik dengan bom dan kekacauan. Saat ini Afghanistan
hanya terdengar sambil lalu atau sesekali nyelip di ragam berita dunia. Itu pun
tak jauh-jauh dari bom bunuh diri dan sejenisnya. Negeri ini, seperti yang
diungkapkan penulis, menyimpan misteri di balik selimut debu yang tebal. Jadi,
apa yang sebenarnya si penulis cari di tempat yang panas dan berdebu itu ?
Lewat buku ini kita bisa mengintip sisi-sisi kehidupan Afghanistan yang ternyata
menyimpan warna-warni di balik selimutnya. Ada yang lucu, ironis dan
mengejutkan. Beberapa kenyataan yang ditemui dalam buku membuat saya kerap
bertanya, Masa sih ? Masa sih ?
Afghanistan tak hanya identik dengan perang, tapi juga hashish. Cheras. Ganja. Di Afghanistan, posisi ganja dan candu hanya setingkat rokok kretek di Indonesia. Afghanistan
juga terkenal dengan permadaninya. Seorang turis Jepang yang meneliti ragam
karpet Asia Tengah menyebutkan bahwa tak ada karpet yang lebih baik dari
permadani Afghanistan.
Agustinus memaparkan detil Afghanistan mulai dari bahasa, suku-suku, beda
corak pakaian antara suku satu dan lainnya, beda Sunni dan Syiah terkait Ali
bin Abi Thalib hingga peradaban Bamiyan ratusan tahun lalu yang kini telah
runtuh. Ada tribal area di perbatasan
Afghanistan-Pakistan bernama Darra Adam Khel, sebuah desa di mana orang bebas
membeli dan mencoba berbagai model senjata api mulai dari Kalashnikov sampai
pulpen yang bisa menembak. Desa ini tak pernah sepi dari rentetan bunyi
tembakan. Seluruh penduduk, baik langsung atau tidak langsung, terlibat dalam
bisnis pembuatan dan penjualan senjata. Anak umur sepuluh tahun sudah
mencangklong besi untuk pegangan bedil serta mempelajari model yang bakal laku
di pasaran. Mainan bocah-bocah di sana bukan kelereng, melainkan selongsong
peluru.
Penulis juga merekam berbagai ironi seperti orang-orang asing yang
mengaku sebagai pekerja sosial di Afghanistan tetapi justru berjarak dengan
penduduk setempat. Pekerja sosial itu malah melewatkan malam di Kabul dengan
gemerlap ala Eropa ditemani botol-botol wiski dan vodka. Juga sejumput
kemegahan bernama Kabul City Center, sebuah pusat perbelanjaan termewah di Afghanistan,
berdiri megah di antara pemukiman kumuh dan runtuhan bangunan.
Ironi lain yang menarik disimak adalah pendapat Nancy Hatch Dupree, seorang
nenek usia delapan puluhan tahun berkewarganegaraan Amerika Serikat namun
mengabdikan diri di Afghanistan. Nancy mengungkapkan bahwa orang Afghan adalah
manusia paling ramah di dunia. Tapi keramahtamahan itu sering disalahgunakan
oleh pendatang. Turis-turis enggan menghiraukan kultur setempat seperti memakai
pakaian tipis dan tembus pandang. Seorang pemilik toko pernah menolong hippie yang terlunta-lunta di jalan.
keesokan harinya turis tersebut sudah raib bersama seluruh dagangannya. Para pendatang
dari negeri yang katanya kaya, maju dan “beradab” malah memanfaatkan penduduk
setempat yang telah rela mengorbankan perut dan nyawa demi menolong musafir.
Nancy juga kerap mengkritik para ahli gender mancanegara yang menyerbu Afghanistan
dengan setumpuk program tanpa lebih dahulu memahami nilai-nilai kemasyarakatan.
Kesetaraan gender sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional afghan, kata
Nancy. Tak perlu mendatangkan konsep asing yang justru bertubrukan dengan nilai
yang mereka anut.
Dilanda perang bertahun-tahun membuat negeri ini penuh dengan
orang-orang cacat. Ranjau bekas perang tak henti menelan korban tiap harinya. Ada
yang kehilangan tungkai kaki, lengan, hingga lumpuh total. Jalan raya dipenuhi
janda-janda berbalut burqa yang mengais belas kasihan sepanjang hari. Lapangan pekerjaan
tak banyak tersedia. Anak kecil pun harus turun tangan membantu ekonomi
keluarga. Bocah sepuluh tahun sudah jadi pelayan kedai teh, menyemir sepatu, membersihkan
kaca mobil dan jualan permen.
Hal yang mengejutkan dari Afghanistan
adalah masalah playboy, dalam artian play with boy. Dikenal dengan istilah bachabazi, bacha artinya “bocah laki-laki” dan bazi artinya “bermain”. Bachabazi
adalah kultur orang Uzbek di Afghanistan. Saat Taliban berkuasa, pelaku hubungan
sejenis dihukum dengan diambruki tembok. Taliban tidak memberi ampun sedikit pun
terhadap homoseksualitas, apalagi pemerkosaan terhadap perempuan. Candu dilarang
dan kriminalitas ditumpas. Burqa
adalah pakaian wajib bagi wanita. Mereka dilarang keras berkeliran di jalan
tanpa ditemani lelaki anggota keluarga.
Benak orang-orang ketika melihat wanita Afghan adalah bahwa betapa
malangnya perempuan Afghanistan, tak ada kebebasan, tak ada kemerdekaan. Bush lalu
menghujani negeri itu dengan roket, katanya untuk membebaskan rakyat Afghan,
tapi di saat bersamaan justru menciptakan jutaan janda dan anak yatim piatu.
Laura Bush pun ikut berkomentar bahwa serangan militer di Afghanistan telah
berhasil sehingga perempuan tidak lagi terpenjara dalam rumahnya.
Saat Taliban jatuh, media beramai-ramai menampilkan gambar perempuan
Afghan yang melepas burqa dan bebas menyusuri jalanan kota Kabul. Kenyataannya,
sebagian besar perempuan Afghan masih lebih nyaman berselimut burqa. Wanita-wanita
yang memakai burqa masih saja ramai menyelimuti kota Kabul. Mereka tak dikenali
laki-laki di jalan. Hidup dalam lindungan total suami yang selalu mengawal.
Foto bergambar wanita Malaysia yang sibuk bekerja di sawah dan pabrik
bukannya mengundang kagum wanita Afghan, malah membuat mereka jatuh kasihan. Aduh
kasihan perempuan Malaysia harus kerja, aduh kasihan kenapa para suami tidak
bekerja untuk mereka, aduh kasihan betul. Begitu kata mereka. Wanita adalah
barang berharga yang harus dilindungi, dijaga dan dirawat. Burqa adalah salah
satu alatnya. Bagi orang Pasthun, zan
(wanita) adalah kehormatan bagi laki-laki. Jangankan bisa melihat wajah, nama
perempuan pun terlalu berharga untuk disebut.
Di negeri perang, ledakan bom, penembakan dan penculikan bukan lagi
berita istimewa. Tingkatannya sudah turun seperti berita maling ayam di
Indonesia. Selama bukan anggota keluarga yang jadi korban, orang-orang sudah
kebal dan mati rasa terhadap berita semacam itu. Korban-korban hanya diberitakan
dalam bentuk angka. Jika berita kecelakaan pesawat di Indonesia menampilkan
nama-nama korban, di Afghanistan sana, korban-korban ledakan atau tembakan
hanya berupa angka tanpa nama, berapa jumlah koban dan pukul berapa kejadian.
Di negeri perang, anak sekolah belajar penjumlahan bukan dengan 1
kelereng + 2 kelereng =…, tapi “1 kalashnikov + 2 kalashnikov =…”. Atau “Jika
saya membunuh tiga Rusia, kamu membunuh dua Rusia, berapa Rusia yang kita bunuh
?”
Tapi di negeri perang sekalipun, ada surga tersembunyi bernama Lembah Wakhan.
Lebih dari delapan abad yang lalu Marco Polo pernah berada di sana. Di tempat yang
kebersihan udaranya membersihkan relung hati manusia manapun, gemercik airnya
membawa kehidupan bagi semua makhluk, serta gunung-gunung yang saking tingginya
bahkan burung pun tak mampu mencapai puncaknya.
Daya
tarik buku ini adalah, apa lagi kalau bukan foto-fotonya. Beragam foto yang
ditampilkan cukup untuk menggambarkan kondisi kehidupan di Afghanistan. Mulai dari
foto masjid Shahe Do Shamsera yang dikerubungi ratusan burung-burung, foto
Mazar-e-Sharif yang diyakini orang Syiah sebagai makam Ali bin Abi Thalib, foto
bocah-bocah yang sedang mandi sambil tertawa riang, foto orang-orang yang
berkaki palsu, foto bayi yang mengalami malnutrisi, foto para gadis cantik nan
jelita hingga foto danau Band-e-Amir yang berwarna biru jernih. Begitu lengkap
dalam satu buku. Bacalah, dan kita akan melihat sisi lain Afganistan di balik
selimut debu.
“Maka, untuk sementara kita kembali ke kota. Kembali
ke peradaban.”
~Haruki Murakami, Kafka on the Shore~
Peradaban, kata Jean-Jacques Rousseau, sama seperti ketika manusia membangun pagar. Semua peradaban merupakan produk dari kurangnya kebebasan akibat kungkungan. Suku Aborigin di Australia adalah pengecualian. Mereka berhasil mempertahankan peradaban yang tidak terpagar hingga abad ketujuh belas. Benar-benar bebas. Pergi kemana saja mereka mau, melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Sewaktu bangsa Inggris tiba serta membangun pagar untuk melindungi ternak mereka, suku Aborigin tidak dapat memahaminya. Dan kerena tidak tahu prinsip-prinsip yang digunakan bangsa Inggris, mereka dianggap berbahaya sekaligus anti-sosial sehingga diusir ke daerah terpencil. Karena itu, orang-orang yang membangun pagar paling tinggi dan kuat adalah mereka yang paling mampu bertahan. Kenyataan itu dapat disangkal hanya bila seseorang membiarkan dirinya masuk ke dalam hutan belantara.
Kembali ke peradaban bagi saya adalah saat ketika kaki menapaki tanah kota Daeng. Dengan gedung tingginya, pusat perbelanjaannya, cuaca panasnya, bunyi klaksonnya, keributan jalanannya, dan debu-debunya yang menyumbat paru-paru. Dan tentu saja, macetnya. Macet adalah lambang peradaban negeri ini. Dihiasi wajah pengendara dan pengemudi yang keras dan tegang. Wajah yang kata Ahmad Tohari, mengusung semua lambang kekotaan ; keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Jalan raya menyadarkan kita bahwa berjalan kaki adalah pekerjaan yang berbahaya. Tak ada tempat bagi golongan ini. Trotoar yang selayaknya diperuntukkan bagi pejalan kaki lebih sering dipakai pengendara motor. Demi mengatasai macet, pemerintah memperlebar jalan raya. Jalan raya diperlebar, trotoar dihilangkan. Trotoar hilang, pejalan kaki gigit jari. Pun saat menyeberang jalan, bersiap-siap dibentak klakson mobil dan motor. Melihat ada yang mau menyeberang jalan, semakin cepat pula pengendara memacu kendaraannya. Ketika lampu merah menyala, ada-ada saja yang nekat menerobos. Mereka seperti dikejar sesuatu yang tak nampak. Entah apa.
Orang-orang yang muak hidup di kota memilih mengasingkan diri. Kembali ke alam, pergi ke Bhutan, atau kemana saja asal menjauh dari kota. Tidak mudah hidup seperti itu walaupun beberapa dapat melakukannya. Mengasingkan diri di tempat yang tenang, damai dan tidak melakukan apa-apa sejatinya adalah istirahat panjang. Tapi istirahat dapat menjadi suatu ancaman.
Saat ini, pulang kampung adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengasingkan diri. Menetralisir diri dari pengaruh kota. Setidaknya di sana tidak ada gedung tinggi, tidak ada macet, bunyi klakson jarang terdengar serta kepedulian yang masih kental. Kota itu berjalan lambat. Seperti orang tua. Datar, nyaris tanpa riak. Hiruk-pikuk baru ditemui di sekitar pantai di sore hari ketika matahari mulai terbenam. Di sana tidak ada mall, tidak ada bioskop. Jadi pantai adalah satu-satunya pilihan melepas penat. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada yang bersepeda, main bola, berenang, lomba dayung dan ada yang bersiap melaut. Duduklah di sana menghadap matahari, tutup mata, lalu dengarkan angin. Lima detik saja. Sangat drama kedengaran. Tapi itu membuat saya sedikit lebih baik. Hehehe
Berada di sana membuat saya menggunakan kembali bahasa daerah, bersosialisasi dengan orang-orang tua, dan makan makanan sehat. Kebetulan, saat itu bertepatan dengan lomba gerak jalan dalam rangka memperingati hari jadi Sulsel yang ke-345.
Tempat itu menenangkan. Tempat semua kenangan masa kecil hingga remaja tersimpan. Berada di sana membuat saya santai, tak perlu memikirkan apapun selain mengenang. Suatu kondisi yang perlahan-lahan membuat saya membusuk. Mungkin itu sebabnya mengapa istirahat disebut sebagai ancaman. Jadi, untuk sementara saya harus kembali ke kota. Kembali ke peradaban.
Dan,
sekarang pekerjaan dimulai
Dan sekarang kebahagiaan dimulai
Sekarang tahun-tahun persiapan
Pelajaran yang membosankan
Dan pembelajaran yang menarik dijelaskan
Kumpulan kata-kata dan
Lilitan ide-ide besar dan kecil
Mulai tersusun
Dan pagi ini kau bisa melihat
Sebagian kecil dari
Rencana besar masa depanmu
Jam-jam lamaran pekerjaanmu,
Harapan-harapan orangtuamu,
Dan tugas-tugas dari gurumu
Membawa saat ini
Ke dalam tanganmu
Hari ini, kalian adalah putri-putri dan pangeran-pangeran
Pagi hari
Nyonya-nyonya dan tuan-tuan musim panas
Kalian telah memperlihatkan
Nilai-nilai kebaikan yang paling mengagumkan
Karena hari ini saat kalian duduk
Terbalut dalam jubah-jubah kerja keras
Secara harafiah ataupun kiasan,
Aku melihat kalian dipenuhi keberanian
Karena meskipun kalian semua
Menjadi cemerlang, cerdik secara intelektual,
Kalian harus menggunakan keberanian
Untuk sampai pada saat ini
Kalian mungkin saja,
Seperti yang digambarkan tentang kalian,
Istimewa, yang tentu saja berarti
Kaya, atau terlahir dengan perjuangan memenuhi kebutuhan
Dalam kedua kasus, kalian harus menumbuhkan
Keberanian luar biasa
Untuk menemukan saat ini
Dari semua perlengkapanmu, usia muda,
Kecantikan, kecerdasan, kebaikan hati,
Belas kasih,
Keberanian adalah pencapaian terbesarmu
Karena kau, tanpa itu, tidak bisa melakukan
kebaikan lain dengan konsistensi.
Sekarang kau telah menunjukkan
Bahwa kau mampu untuk membuat
Kebaikan yang paling menakjubkan itu
Kau harus tanyakan pada diri sendiri,
Apa yang akan kau lakukan dengan itu.
Yakinlah bahwa pertanyaan itu
Ada di dalam pikiran,
Leluhurmu, orangtuamu dan orang asing
Yang tak mengenal namamu,
Teman muridmu yang lain yang
Tahun depan, atau tahun-tahun yang akan datang
Akan duduk, berjubah dan bertopi wisuda
Di tempat kau duduk sekarang.
Dan akan bertanya
Apa yang akan kau lakukan ?
Ada satu pepatah afrika
Yang sesuai dengan situasimu.
Yaitu, “masalah bagi pencuri adalah
bukan bagaimana mencuri terompet kepala suku,
Tapi di mana bisa memainkannya.”
Apakah kau dipersiapkan untuk bekerja
Untuk menjadikan Negara ini, Negara kita
Lebih dari hari ini ?
Karena itulah pekerjaan yang harus dilakukan
Itulah alasan kau sudah
Bekerja keras, pengorbanan
Energi dan waktumu,
Uang orangtuamu
Atau pemerintah yang telah membayarimu
Agar kau bisa mengubah
Negara dan duniamu.
Lihatlah di luar topimu yang bertali
Dan kalian akan melihat ketidakadilan
Di ujung jari-jarimu
Kau akan menemukan kekejaman
Kebencian irasional, kepedihan sekeras batu
Dan kesepian yang menakutkan.
Itulah pekerjaanmu.
Membuat suatu perbedaan
Menggunakan gelar yang
Telah kau dapatkan untuk meningkatkan
Kebaikan di duniamu
Kalian, semua orang,
Berharap agar kalian
adalah orang-orang yang melakukan hal itu
Tugas ini begitu besar,
Kebutuhannya luar biasa besar,
namun kalian bisa berlega hati
karena kalian tahu bahwa kalian telah menunjukkan
keberanian.
Dan simpanlah dalam pikiran
Satu orang, dengan tujuan baik,
Bisa, mengangkat mayoritas.
Karena hidup adalah anugerah kita yang paling berharga
Dan karena kita hanya diberi hidup sekali,
Maka marilah jalani hidup yang tak akan kita sesali
Tahun-tahun kesia-siaan dan tanpa perubahan
Kau akan terkejut bahwa pada waktunya
Hari-hari penelitian yang berpikiran tunggal
Dan malam-malam kelumpuhan dan kebuntuan
Akan terlupakan.
Kau akan terkejut bahwa tahun-tahun
Dengan malam-malam tanpa tidur dan bulan-bulan
Dengan hari-hari yang tidak mudah
Akan bergulir menuju
Suatu kejadian yang disebut “masa lalu yang indah”,
dan kau tidak akan bisa
mengunjungi hari-hari itu lagi
bahkan dengan sebuah undangan
Karena seperti itulah kau harus menghadapi masa sekarang
Kalian telah disiapkan
Keluarlah dan ubahlah dunia kalian
Selamat datang di hari kelulusan
Selamat….
*Tulisan Maya Angelou dalam buku “Letter to My Daughter”
Dan sekarang kebahagiaan dimulai
Sekarang tahun-tahun persiapan
Pelajaran yang membosankan
Dan pembelajaran yang menarik dijelaskan
Kumpulan kata-kata dan
Lilitan ide-ide besar dan kecil
Mulai tersusun
Dan pagi ini kau bisa melihat
Sebagian kecil dari
Rencana besar masa depanmu
Jam-jam lamaran pekerjaanmu,
Harapan-harapan orangtuamu,
Dan tugas-tugas dari gurumu
Membawa saat ini
Ke dalam tanganmu
Hari ini, kalian adalah putri-putri dan pangeran-pangeran
Pagi hari
Nyonya-nyonya dan tuan-tuan musim panas
Kalian telah memperlihatkan
Nilai-nilai kebaikan yang paling mengagumkan
Karena hari ini saat kalian duduk
Terbalut dalam jubah-jubah kerja keras
Secara harafiah ataupun kiasan,
Aku melihat kalian dipenuhi keberanian
Karena meskipun kalian semua
Menjadi cemerlang, cerdik secara intelektual,
Kalian harus menggunakan keberanian
Untuk sampai pada saat ini
Kalian mungkin saja,
Seperti yang digambarkan tentang kalian,
Istimewa, yang tentu saja berarti
Kaya, atau terlahir dengan perjuangan memenuhi kebutuhan
Dalam kedua kasus, kalian harus menumbuhkan
Keberanian luar biasa
Untuk menemukan saat ini
Dari semua perlengkapanmu, usia muda,
Kecantikan, kecerdasan, kebaikan hati,
Belas kasih,
Keberanian adalah pencapaian terbesarmu
Karena kau, tanpa itu, tidak bisa melakukan
kebaikan lain dengan konsistensi.
Sekarang kau telah menunjukkan
Bahwa kau mampu untuk membuat
Kebaikan yang paling menakjubkan itu
Kau harus tanyakan pada diri sendiri,
Apa yang akan kau lakukan dengan itu.
Yakinlah bahwa pertanyaan itu
Ada di dalam pikiran,
Leluhurmu, orangtuamu dan orang asing
Yang tak mengenal namamu,
Teman muridmu yang lain yang
Tahun depan, atau tahun-tahun yang akan datang
Akan duduk, berjubah dan bertopi wisuda
Di tempat kau duduk sekarang.
Dan akan bertanya
Apa yang akan kau lakukan ?
Ada satu pepatah afrika
Yang sesuai dengan situasimu.
Yaitu, “masalah bagi pencuri adalah
bukan bagaimana mencuri terompet kepala suku,
Tapi di mana bisa memainkannya.”
Apakah kau dipersiapkan untuk bekerja
Untuk menjadikan Negara ini, Negara kita
Lebih dari hari ini ?
Karena itulah pekerjaan yang harus dilakukan
Itulah alasan kau sudah
Bekerja keras, pengorbanan
Energi dan waktumu,
Uang orangtuamu
Atau pemerintah yang telah membayarimu
Agar kau bisa mengubah
Negara dan duniamu.
Lihatlah di luar topimu yang bertali
Dan kalian akan melihat ketidakadilan
Di ujung jari-jarimu
Kau akan menemukan kekejaman
Kebencian irasional, kepedihan sekeras batu
Dan kesepian yang menakutkan.
Itulah pekerjaanmu.
Membuat suatu perbedaan
Menggunakan gelar yang
Telah kau dapatkan untuk meningkatkan
Kebaikan di duniamu
Kalian, semua orang,
Berharap agar kalian
adalah orang-orang yang melakukan hal itu
Tugas ini begitu besar,
Kebutuhannya luar biasa besar,
namun kalian bisa berlega hati
karena kalian tahu bahwa kalian telah menunjukkan
keberanian.
Dan simpanlah dalam pikiran
Satu orang, dengan tujuan baik,
Bisa, mengangkat mayoritas.
Karena hidup adalah anugerah kita yang paling berharga
Dan karena kita hanya diberi hidup sekali,
Maka marilah jalani hidup yang tak akan kita sesali
Tahun-tahun kesia-siaan dan tanpa perubahan
Kau akan terkejut bahwa pada waktunya
Hari-hari penelitian yang berpikiran tunggal
Dan malam-malam kelumpuhan dan kebuntuan
Akan terlupakan.
Kau akan terkejut bahwa tahun-tahun
Dengan malam-malam tanpa tidur dan bulan-bulan
Dengan hari-hari yang tidak mudah
Akan bergulir menuju
Suatu kejadian yang disebut “masa lalu yang indah”,
dan kau tidak akan bisa
mengunjungi hari-hari itu lagi
bahkan dengan sebuah undangan
Karena seperti itulah kau harus menghadapi masa sekarang
Kalian telah disiapkan
Keluarlah dan ubahlah dunia kalian
Selamat datang di hari kelulusan
Selamat….
*Tulisan Maya Angelou dalam buku “Letter to My Daughter”
Take me away upon a plateau
Far, far away from fears and shadow
Strengthen my heart in times of sorrow
Light the way to bright tomorrows
Far, far away from fears and shadow
Strengthen my heart in times of sorrow
Light the way to bright tomorrows
~Take Me Away, Globus~
Kata mahasiswa semester akhir, momen paling bahagia ada dua, saat kaki melangkah keluar dari ruang ujian, dan kedua, saat topi wisuda menaungi kepala. Entah yang lain sepakat atau tidak, tapi menurutku, apa yang terasa selepas ujian meja lebih tepat disebut lega ketimbang bahagia. Pun momen wisuda, bagi saya, tak lebih dari sekadar formalitas kelulusan. Pakai toga, datang ke Baruga, duduk berjam-jam, naik ke panggung, foto-foto, salam-salaman dan selesai.
Saat masih skripsi, selepas ujian meja, saya berdiri di lantai tiga depan jurusan. Cukup lama sampai membuat kaki pegal. Sedang menunggu momen bahagia kata orang. Tapi momen itu tak kunjung datang. Mungkin nanti di Baruga, begitu pikir saya, yang ternyata juga keliru. Duduk di Baruga justru menjadi saat yang paling menekan. Saya duduk di sana, tapi pikiran entah kemana. Setelah ini bagaimana ?, tanya saya pada diri sediri. Setelah ini harus kemana ?
Baruga dipenuhi lautan manusia berpakaian sama. Saling bertukar cerita dengan senyum yang tak henti menghiasi sudut bibir mereka. Mars Universitas Hasanuddin mengalun pelan dari sebelah kiri. Saya menunduk menatap lantai, menyembunyikan kerut di wajah yang sekuat tenaga menahan tangis. Sesosok manusia yang ikut menumpang di planet bumi bersama milyaran manusia lain, berjibaku di tengah kota menjadi yang diperhitungkan. Rasanya seperti terseret arus ke dasar laut yang dalam. Ke tempat yang tak dicapai matahari. Sesak dan gelap. Dalam kegelapan itu, tangan terulur menggapai ke segala arah. Mencari pegangan. Lambat-laut, ada yang datang menyambut. Sesosok makhluk bernama sunyi. Di kedalaman yang kosong itu, kesunyian adalah satu-satunya suara yang dapat kau dengar. Perasaan semacam ini sangat jarang muncul. Tapi sekali muncul, saya tahu tidak akan mampu mengatasinya.
Dibanding dulu, sekarang sedikit lebih baik. Tekanan lebih berat, kejutan muncul silih berganti, tapi sebanding dengan kekuatan yang ada. Kekuatan yang sepertinya dapat dipungut bahkan di tepi jalan. Suatu pagi, saya memacu motor dengan isi kepala yang didominasi berbagai rencana penelitian. Teman yang lain sudah berlomba mengajukan judul ke pembimbing. Sementara saya masih diliputi kebimbangan. Hitung sana hitung sini. Mikir ini mikir itu. Setelah berbelok di perempatan jalan, saya melewati barisan baliho berisi iklan rokok. Iklan rokok, biar begitu, sering memuat kutipan keren. “Berhenti mengukur masalah, mulailah membangun langkah”, begitu tertulis di sana. Kalimat yang biasa. Tapi saya tertegun. Rasanya baliho itu sedang mengajak bicara. Andai orang lain, siapa pun dia, yang mengucapkan kata-kata itu, efeknya tidak akan seberapa. Kupikir, kata-kata itu hanya bisa masuk jika berbentuk tulisan, bukan ucapan. Ia harus dibaca, bukan didengar.
Jika membaca buku, saya sering berlama-lama di kalimat tertentu. Mungkin semua orang juga begitu. Menyerap dan memaknainya dengan cara sendiri. Hingga sampai pada apakah saya setuju atau tidak dengan kalimat itu. Menerima atau menolaknya. Cara semacam ini akan menuntun pada sebuah kesadaran. Lalu berujung pada pembentukan pola pikir dan sikap yang akan saya ambil. Ada lima baliho berdiri sejajar dan semuanya menuliskan hal yang sama. Saya sadar, inti masalah sebenarnya bukan di luar, tapi ada dalam diri sendiri. Tak peduli sesederhana atau serumit apapun suatu masalah, semuanya ditentukan oleh langkah yang kita bangun. Terlalu banyak pertimbangan atau perhitungan hanya membuat kita jalan di tempat. Tentu saja berpikir atau menimbang tetap diperlukan. Tapi harus ada keberanian untuk memulai sesuatu. Klasik bukan ? Para motivator juga sudah ribuan kali mengatakan hal serupa. Tapi ternyata, kalimat dari iklan rokoklah yang mampu menembus kesadaran itu. Jadi, lakukan saja, kata saya pada diri sendiri. Pelan-pelan kebimbangan itu memudar. Pelan-pelan ada kekuatan yang menyusup masuk lewat sebaris iklan rokok di pinggir jalan. Pulang ke rumah, kalimat itu saya pindahkan ke white board kamar dan masih tertulis hingga kini.
Suatu malam, ketika jarum jam menunjuk angka tujuh, saya berempat dengan teman masih mondar-mandir di kampus mengurus administrasi. Saat mengetik pesan di ponsel, saya perhatikan jari-jari tangan pucat dan gemetaran. Ada apa ini ? Tiba-tiba terdengar bunyi perut keroncongan. Membahana di tengah lego-lego yang sepi. Oops, ternyata bunyi itu berasal dari perut saya. Baru ingat kalau sejak pagi yang masuk ke lambung hanya cairan. Pagi teh hangat, siang es teh manis dan sore lagi-lagi es teh manis. Saya belum menyentuh nasi sejak semalam, eh bukan, sejak kemarin. Iya, sejak kemarin belum ada sebutir nasi yang mengisi perut. Emergency, saya benar-benar butuh makan secepatnya. Tapi bagaimana bisa makan sambil mondar-mandir ? Dan lagi pukul tujuh malam kantin kampus sudah tutup semua. Selesai mengetik pesan, ponsel saya taruh di atas map lalu menunduk dengan dahi menempel di meja. Menunggu balasan dan menahan lapar. Malam itu salah satu teman tersangkut urusan tanda tangan. Hal yang sepele sebenarnya, tapi entah kenapa selalu jadi momok di saat-saat genting. Dia bermaksud mendatangi rumah sang dosen tapi takut diusir karena sudah lewat jam tujuh. Dosen juga butuh istirahat. Dia bingung. Buntu. Di tengah kebuntuan itu, tiba-tiba teman yang duduk di samping saya berkata begini,
“Rin, yang wajib kamu lakukan hanya datang ke rumah beliau. Diterima atau tidak, bukan lagi urusanmu. Kita berusaha, itu saja”
Kata-kata emas. Saya lelah dan kelaparan. Lutut gemetar tak karuan karena seharian naik turun tangga. Perut berdemo tanpa henti. Tapi kata-katanya barusan membuat saya tersenyum. Rasanya seperti dapat asupan dalam bentuk lain. Dengan kepala masih bertumpu di meja, pelan saya meraih dan menepuk pundaknya. Kamu luar biasa!!
Sumber kekuatan bisa berasal dari mana saja. Lewat kitab, lewat tulisan, kata-kata seseorang, atau apa saja. Ada kalimat tertentu, yang dapat menembus hati jika berbentuk tulisan. Masuk lewat mata. Begitupun, ada kalimat yang menembus jiwa jika berbentuk ucapan. Masuk lewat telinga. Saya berharap bisa sering menemukan hal semacam ini nantinya. Sebab setelah ini, dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk menghadapi hari-hari baru.
Ada yang bilang, kehidupan sebenarnya dimulai saat kau lulus kuliah. Ada yang bilang, hidup sebenarnya adalah saat kau mulai bekerja. Ada yang bilang kehidupan sebenarnya adalah saat kau sudah menikah. Ada pula yang menambahkan, nanti, setelah kau punya anak. Kenapa harus menunggu punya anak lalu dikatakan hidup yang sebenarnya. Manusia sudah hidup sejak jantungnya berdetak, sejak ruh ditiup ke dalam raganya. Mereka hanya berpindah zona seiring berjalannya waktu. Tapi segala yang ia lalui dalam rentang waktu itu adalah sesuatu yang juga akan dihitung. Sekian lama hidup di kampus, sekarang waktunya pindah zona. Waktunya turun gunung. Welcome to the jungle.
Kususun selaksa kepingan
Begitu lama dan melelahkan
Pada keping terakhir kukatakan :
“Ini akan menggenapkan”
Hingga kuperhatikan,
Bentuk itu tak pernah utuh
Sejak awal,
Aku telah menyusun sesuatu yang tak pernah lengkap
Kubangun sebuah rumah
Yang ingin kusebut rumah impian
Tak lama berselang
Bangunan itu runtuh berserakan
Kubangun kembali
Dan hancur kembali
Pelan kusadari,
Aku telah membangun rumah
Di atas pasir yang bergeser
Bertemu,
Lalu kehilangan pada suatu waktu,
Menemukannya kembali
Dan kehilangan lagi
Berapa banyak waktu harus berlalu,
Dalam keadaan yang terbatas ini ?
Kita terus berjalan,
Dan apa yang kita temukan?
All of my memories keep you near
In silent moments
Imagine you'd be here
All of my memories keep you near
The silent whispers, silent tears
~Memories, Within Temptation~
Kubuka pintu berkarat, di sebuah ruang bernama ingatan. Deritnya
mengingatkan, betapa sunyi tempat itu. Kutatap sekeliling, dua puluh
lima rak berukuran besar berbaris sejajar. Beragam warna buku mengisi
setiap baris. Jika hidup masih berjalan, lemari itu akan terus
bertambah. Tak ada yang tahu kapan jumlahnya akan terhenti. Nenekku
tutup usia di umur 73 tahun. Tapi lemari ingatannya berhenti di bilangan
71. Dalam rentang dua tahun itu, apa yang mengisi memorinya adalah
misteri.
Buku yang awalnya terusun rapi di dalam menjadi
acak-acakan. Saat kusuapkan makanan, ia berkata akan menjahitkan pakaian
baru untukku. Yang punya pita merah di bagian pinggang. Dalam
ingatannya yang terperangkap, aku masih seorang bocah tujuh tahun yang
rutin dijahitkan pakaian dan dibawa ke pesta pernikahan. Suatu sore,
saat masih berseragam abu-abu, ia pernah berkata bahwa mungkin hidupnya
tidak akan sampai pada waktu ketika topi wisuda menudungi kepalaku.
Ucapannya terbukti bertahun kemudian. Kini, topi kedua akan kembali
menaungi kepalaku.
Dalam ruang bernama ingatan, kita
mengambil buku tertentu, membawanya ke ruang terbuka, membacakannya pada
manusia selain kita. Tapi, buku yang tak kita perlihatkan, buku yang
tetap kita simpan, jauh lebih banyak. Kita tak pernah tahu, jumlah buku
yang disimpan seseorang dalam ingatannya.
Dalam buku ingatan, ada lembar bercetak jelas, ada lembar yang samar,
nyaris tak terbaca, dan ada yang kosong, seolah tak pernah ada tulisan
di sana. Ingatan yang hilang. Sifat alamiah manusia. Mungkin itu patut
disyukuri. Sebab, ada situasi ketika lupa membuat hidup lebih mudah
dijalani. Dalam kesendiriannya, dalam ingatan yang terperangkap, kurasa
nenekku pun begitu. Hidup bersamanya kulewati lebih dari separuh umurku.
Ia menempati ruang tersendiri dalam hati dan ingatanku. Kuharap, lembar
yang menulis tentangnya akan tercetak jelas hingga waktu berhenti di
garis batas.
Subscribe to:
Posts (Atom)













- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact