18 December 2014

Menuju Seperempat Abad

Sebaliknya bagi kita yang masih hidup, setiap tahun, setiap bulan, setiap hari, umur akan terus bertambah. Terkadang aku bahkan merasa bahwa umurku terus bertambah setiap jam. Yang menakutkan adalah bahwa hal itu memang demikian adanya.” 
~Haruki Murakami, Kaze No Uta O Kike~ 

Derek Heartfield, salah satu pengarang yang sezaman dengan Hemingway dan Fitzgerald, katanya hanya menyukai tiga hal. Senapan, kucing, dan kue yang dipanggang ibunya. Kesukaannya pada senjata menjadikannya kolektor yang nyaris sempurna di seluruh Amerika. Dari sejumlah senjata miliknya, yang paling dia banggakan adalah revolver 38 mm, yang gagangnya berhiaskan mutiara. Dia sering berkata bahwa suatu saat nanti akan menembak dirinya sendiri dengan benda itu. Tapi kemudian Heartfield memilih mati dengan cara lain. Ketika ibunya meninggal, dia naik ke puncak Empire State Building dan meloncat sambil memeluk lukisan Hitler di tangan kanan dan payung terbuka di tangan kirinya. Saya tidak tahu apa-apa tentang Heartfield. Dan tidak pernah membaca satu pun karangannya yang dipenuhi makhluk fantasi dari planet Mars itu. Murakami-lah yang memberitahu saya semua informasi tadi. 

Kematian, adalah tema yang paling jarang dibicarakan. Kita lebih memilih mengalihkan atau menghindari pembicaraan semacam itu. Tapi di kepala saya sudah lama muncul gagasan ini : mati muda. Sejak kecil, mungkin SD atau SMP, dengan segala keterbatasan pemahaman, selalu kepikiran bahwa sepertinya saya akan cepat mati. Tidak seperti nenek yang meninggal di usia renta 70 atau 80 tahun, saya merasa akan lebih cepat dari itu. Tak tahu juga kenapa begitu. Saya hidup sebagaimana layaknya anak-anak biasa,  belajar di sekolah dan bermain di luar rumah. Tapi pikiran tentang mati muda sering muncul di sela-sela waktu itu. Muncul begitu saja. Saya jadi sering menegur diri, kamu anak sekolahan, kenapa memikirkan hal seberat itu. Tapi hingga kini pun, pikiran itu tak pernah hilang. 

Suatu waktu saya berbincang dengan teman tentang bunuh diri. Teman saya berkata bahwa apapun alasannya, menghilangkan nyawa yang hanya satu-satunya adalah kenaifan. “Sayangnya”, dia melanjutkan, “Aku pun pernah berpikir senaif itu.” Jika Heartfield punya segudang koleksi senjata yang bisa kapan saja dia pakai untuk menembak dirinya, maka di dalam rumah ada berbagai macam benda semisal silet, pisau, gunting, tali jemuran atau cairan pembersih. Seorang teman dengan wajah datar pernah memamerkan bekas sayatan di pergelangan tangannya. Tapi saya tidak memikirkan tindakan semacam itu. Saya haya merasa bahwa waktu untuk pergi akan tiba lebih cepat. Entah dengan cara apa. 

Anak-anak dianugerahi rasa ingin tahu yang besar, dan kadang kelewat liar. Ingin tahu rasanya hujan-hujanan, ingin tahu rasanya panjat pohon, ingin tahu rasanya mahir naik sepeda  dan juga, ingin tahu seperti apa rasa sakit itu. Sewaktu kecil, saya pernah memasukkan biji jangung ke dalam hidung, menghirupnya kuat-kuat hingga tersangkut dan menutup aliran udara. Ketika mulai kesulitan bernapas, saya tergopoh-gopoh mendatangi ibu yang saat itu sedang menanak nasi. Sendok nasi yang dipegang ibu jatuh ke lantai. Berikutnya yang saya ingat, ibu berlari menggendong saya ke rumah dokter yang jaraknya ratusan meter dari rumah. Bodohnya, saya mengulang kasus yang sama di lain waktu. 

Saya juga pernah menyayat jempol tangan kiri. Saat itu sedang penasaran dengan benda bernama silet. Begitu kecil dan tipis. Ketipisannya mampu memotong kuku jari yang keras dan panjang. Saya tidak berpikir apa-apa ketika tahu-tahu sudah mulai menyayat dari ujung jempol lurus ke bawah hingga garis tengah. Ada rasa menyengat di sepanjang kulit yang tersayat. Awalnya hanya berupa garis merah kecil, lalu pelan-pelan garis kecil itu melebar, meluap seperti sungai. Darahnya jatuh menetes ke tanah. Melihat itu saya pun dilanda panik dan berlari kesana kemari mencari kapas dan plester. Sampai sekarang, jika melihat silet saya selalu teringat peristiwa itu. 

Pikiran tentang mati muda tak pernah saya ungkapkan kecuali sekali. Baiklah, dua kali dengan tulisan ini. Hasilnya adalah ekspresi yang sulit digambarkan. Seolah-olah orang itu baru saja melihat bentuk kue yang tidak lazim. Padahal saya berharap bisa menemukan sesuatu yang berbeda. Tapi hanya itulah yang saya tangkap. 

Bila kematian menjadi tema yang jarang dibicarakan, pernikahan sebaliknya. Tema terpopuler, terutama di kalangan usia 20an ke atas. Untuk ini pun saya punya firasat yang aneh. Beberapa bulan terakhir, salah satu teman SMA sering datang berkunjung. Seperti biasa bila cerita tentang masa SMA, ujung-ujungnya membahas teman mana saja yang sudah atau belum menikah. Di tengah percakapan, tiba-tiba ada jeda yang cukup lama. Teman saya memutuskan memecah keheningan, “Hei, tak tahu kenapa ya, tapi sepertinya masih lama baru saya bisa nikah”. Masa sih, tanya saya. “Yup, dan kalau kuperhatikan, kau juga akan mengalami nasib serupa”  Saya tertawa mendengarnya. Saya malah berpikir akan mati sebelum sempat menikah. Pernah suatu hari di musim hujan, saya pulang membawa kaos kaki baru yang rencananya akan dipakai untuk upacara sekolah. Saat hari senin tiba, baru sadar kalau ternyata kaos kaki itu tidak lengkap. Hanya ada bagian kanan. Kaos kaki itu mirip dengan nenek, yang tetap sendiri hingga akhir hayat. Yang tetap menjadi bagian yang tidak lengkap. Entah kenapa, saya punya firasat akan menjadi seperti kaos kaki itu. Jika untuk hidup saja sepertinya tak lama lagi, bagaimana bisa memikirkan hal lain bernama pernikahan ? 

Baiklah, saya tidak berharap yang demikian itu benar-benar terjadi. Tapi semakin lama pikiran itu semakin menguat. Hanya doa satu-satunya senjata agar dijauhkan dari firasat buruk. Berharap apa yang terus kepikiran itu tidak benar adanya. Banyak bekal yang lebih wajib saya cari. Banyak hal yang lebih mendesak untuk saya benahi. Dan banyak dosa yang lebih patut saya renungi.
16 December 2014

Tokyo Tower : Antara Aku, Ibu dan Terkadang Ayah


“Ketika hidup, kau rela mati demi anakmu. Ketika mati, kau ingin hidup untuk menjaga anakmu”
~Tokyo Tower~

Awalnya saya pikir orang barat yang nulis, namanya saja Lily Franky. Kan banyak tuh novel bernuansa jepang tapi ternyata penulisnya bukan orang Jepang. Jadi ragu mau beli atau tidak ? Beli tidak ? Tapi berhubung di cover ada kalimat bertulis “telah terjual lebih dari 2 juta kopi di Jepang”, serta “telah diangkat ke layar lebar dan serial TV”, akhirnya dibeli juga. Ngomong-ngomong, Lily Franky terdengar seperti nama perempuan kan ? Yup, saya tidak ragu, penulisnya pasti perempuan. Tapi setelah beberapa halaman, kok kayaknya bukan perempuan yang nulis. Tokoh utamanya laki-laki. Gaya bertuturnya pun beda dari penulis perempuan. Saat tanya ke salah satu teman kesannya akan buku ini, dia bilang dia tidak yakin kalau penulisnya perempuan. Tuh kan ? Jadi untuk lebih jelasnya kita pun meminta bantuan Daeng Google.

Daeng Google yang dimintai tolong malah mengarahkan kita ke halaman Dramawiki. Lho, penulis kok larinya ke dramawiki. Pas lihat fotonya, eh ini kok kayak kenal ya ? Maksudnya saya yang kenal dia, kalau dia sih mustahil kenal saya. Ternyata pemirsa, si Lliy Franky ini adalah aktor yang berperan sebagai bapaknya dr. Aizawa di dorama Code Blue, yang nyaris terlupakan karena saya lebih fokus ke dr. Aizawa sepanjang dorama. Menunggu momen kapan kira-kira si dokter ini akan tersenyum. Nama asli Lily Franky adalah Masaya Nakagawa, seorang aktor, illustrator, desainer, fotografer, penulis lagu, novelis dan vokalis band. Whoaaa…ini baru namanya multitalenta. Tokyo Tower bukan sekadar novel, tapi otobiografi dari Masaya Nakagawa.

Tak ada keluarga yang sempurna. Begitupun keluarga Masaya. Sejak kecil ia terbiasa hidup hanya berdua dengan ibunya. Orangtuanya tidak bercerai tetapi mereka memilih hidup terpisah. Bagi Masaya, ibunya ibarat pesawat Thunderbird 2 dalam serial TV Thunderbirds, yang membawanya sebagai muatan dan keberadaannya begitu dekat. Sementara ayahnya, ibarat pesawat Thunderbird 5 yang melayang di angkasa dan tidak pasti ada di mana. Muncul di saat tertentu dan menghilang saat disadari. 

Ibu Masaya adalah tipikal perempuan yang menyenangkan, suka tertawa dan menyukai pekerjaan rumah tangga. Ia sangat peduli pada hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian Masaya. Setiap makan, ibunya rutin menyediakan berbagai macam lauk di atas meja. Sementara untuk pakaian, ibunya rajin membelikan Masaya baju baru untuk berbagai acara atau perayaan. Tapi sang ibu sendiri selalu memakai pakaian yang sama selama bertahun-tahun. Hal itu membuat Masaya tak pernah merasa miskin meski mereka tidak punya rumah sendiri.

Ayah Masaya adalah tipikal laki-laki kasar, peminum berat dan suka ngamuk saat mabuk. Jenis manusia yang kaku dan tak peduli dengan sekitar. Saat Masaya lahir atau saat masuk rumah sakit, ayahnya sedang menghabiskan waktu di bar. Ayahnya tidak ikut membesarkan Masaya, tapi tetap mengurusnya. Ia peduli dengan pendidikan Masaya, menempuh berbagai cara agar anaknya diterima di sekolah seni dan membantunya mencari pekerjaan sewaktu kuliah di Tokyo. Ia selalu mendorong Masaya untuk hidup mandiri. Pekerjaannya sering berganti-ganti karena memang tipe manusia yang setengah-setengah menekuni sesuatu. Walau begitu, ia tetap menyisihkan penghasilan untuk istri dan anaknya. Jiwa seni yang mengalir dalam diri Masaya pun diturunkan oleh ayahnya. Sejujurnya, ayah Masaya tetap menjadi misteri bagi saya hingga akhir cerita. Tak bisa disebut baik, tapi juga tak bisa disebut jahat.

Memasuki masa SMA, Masaya keluar dari sarangnya, hidup sendiri dan bersekolah di Beppu. Di masa ini kehidupannya mulai tak teratur. Tak ada lagi ibu yang membangunkannya di pagi hari. waktunya dihabiskan di game center dan pachinko. Semangatnya akan sekolah dan seni pun perlahan-lahan surut. Tapi dengan susah payah Masaya berhasil masuk institut seni di Musashino, Tokyo bagian barat. Di Tokyo, tempat kebebasan dapat diperoleh dengan mudah, hidupnya makin tak teratur, digerus oleh kehidupan kota. Kondisinya sedikit demi sedikit membaik setelah ibunya ikut tinggal bersamanya.

Masaya banyak menyorot kehidupan hedonis orang-orang Tokyo. Ia menyindir definisi kaya dan miskin ala orang kota. Memiliki uang koin seratus yen di kantong tak dapat dikatakan miskin. Justru satu-satunya kekayaan berupa uang seribu yen dalam dompet Louis Vuitton yang dibeli secara kredit malah lebih tergolong miskin. 

Pun keluarga bagi Masaya adalah sesuatu yang rumit. Dan sesuatu yang rumit itu dimulai dari pernikahan. Ia mengutip dialog dalam opera The Marriage of Figaro bahwa “Di antara hal-hal yang serius, pernikahan adalah yang paling bodoh”. Ya, dua manusia bodoh melalui proses menjadi suami-istri, lalu menjadi orangtua, dan tanpa bisa berbuat apa-apa, tahu-tahu sudah terbelit dalam hubungan keluarga. Masaya beruntung memiliki ibu yang begitu dekat dan menyayanginya serta ayah yang tetap mengurus kebutuhannya. Tapi pengalaman dengan keluarganya tidak bisa disebut bahagia. Mungkin itulah mengapa sampai akhir hayat sang ibu, bahkan sampai sekarang pun Masaya memilih untuk tidak berkeluarga.

Saya kira wajar kalau novel ini laku keras. Ada sisi kehidupan yang nyaris hilang pada diri orang kota, yang muncul dalam novel ini. Tak banyak orang dewasa, apalagi di Tokyo, yang tetap berbakti pada orangtua hingga akhir hayat seperti halnya Masaya. Di negara maju, saat orangtua sudah tidak lagi mampu merawat dirinya, mereka cukup didaftarkan ke panti jompo. Sang anak hanya perlu sesekali menjenguk orangtua mereka. Tapi membawa serta ibu tinggal bersama di kota, merawatnya di saat sakit, memenuhi keinginan-keinginannya dan menemaninya di saat-saat terahir seperti yang dilakukan oleh Masaya adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan kebanyakan anak yang sudah mandiri.

Novel ini dibaca di sela-sela penelitian di bulan April. Untungnya saat itu saya berada di tengah-tengah keluarga bersama ibu, ayah dan kedua adik. Apa jadinya jika dibaca saat jauh dari rumah, di kos misalnya. Mungkin saya sudah meraung-raung di kamar memanggil nama ibu (lebay). Jadi, hati-hatilah membaca novel ini ketika jauh dari rumah.

“Ada begitu banyak perasaan di dunia ini, namun tidak ada yang menyerupai perasaan orangtua pada anak. Saat masih anak-anak, kita belum memahami hal itu. Tapi saat sudah berada pada posisi orangtua, kita pun akan memahami apa yang dipikirkan orangtua tentang anaknya”
~Lily Franky~
10 December 2014

Zankyou no Terror

 

“Itulah sebabnya kau menerima kasus ini. Karena kau tidak bisa memaafkan penjahat yang bermain-main dengan senjata nuklir”
~Kurahashi, Zankyou no Terror~

Terorisme tanpa korban jiwa, adakah ? Ada. Tapi hanya di dunia anime. Lagi-lagi, hal-hal bagus sering ditemukan secara tak sengaja. Saat berkunjung ke rumah teman untuk suatu urusan, tetangganya yang ternyata penggemar anime bercerita sekilas tentang anime ini. Kedengarannya menarik, lagipula kalau hanya 11 episode berdurasi 23 menit, kenapa tidak ?

Umumnya anime bercerita dari sudut pandang sang pahlawan. Tapi anime ini sebaliknya, bercerita dari sudut pandang si teroris. Berawal dari pencurian Plutonium di Aomori yang dilakukan oleh dua remaja bernama Nine (Kokonoe Arata) dan Twelve (Hisami Touji). Enam bulan sejak peristiwa itu, rangkaian teror bom mulai bermuculan di berbagai tempat di wilayah Tokyo. Sehari-harinya, kedua remaja ini menyamar sebagai siswa di sebuah sekolah tinggi. Selain mereka, ada pula tokoh lain bernama Mishima Lisa, gadis yang punya banyak masalah terutama menyangkut ibunya. Lisa menggambarkan senyum Twelve seperti matahari di musim panas dan mata Nine yang dingin seperti es.

Dalam setiap aksinya, mereka rutin mengunggah video ke internet sebagai teka-teki yang mengarah ke lokasi target bom. Dalam rekaman video, mereka memakai topeng Spinx, sejenis monster yang muncul dalam kisah mitologi Yunani, Oedipus Rex. Tragedi Oedipus dimulai ketika ayah Oedipus diberitahu oleh peramal bahwa ia akan dibunuh oleh putranya sendiri. Oleh karena itu sang ayah membuang Oedipus ke hutan tepat setelah kelahirannya. Namun Oedipus berhasil bertahan hidup dan tumbuh dewasa. Entah bagaimana ceritanya Oedipus memang akhirnya membunuh sang ayah tanpa tahu bahwa orang itu adalah ayahnya. Ia lalu berkunjung ke negeri ayahnya dan menikah dengan ibunya sendiri. Setelah tahu bahwa ia membunuh ayah dan menikah dengan ibu kandungnya, Oedipus pun mencongkel matanya dan menjadi buta.

Aksi Nine dan Twelve bukan sekadar remaja yang cari perhatian. Atau remaja yang bosan lalu membom berbagai tempat untuk menghilangkan kebosanan Aksi teror yang mengadopsi mitologi Oedipus Rex itu adalah sejenis pesan terkait apa yang mereka alami bertahun-tahun sebelumnya. Pesan yang berhubungan dengan proyek penelitian rahasia yang dilakukan oleh pemerintah terhadap 26 anak panti asuhan. Pesan yang tidak dapat mereka sampaikan hanya dengan melapor langsung ke polisi. Ibaratnya seperti teriakan kecil di tengah keributan, teriakan itu akan hilang sebelum sempat didengar oleh siapapun. Uniknya, aksi mereka direncanakan sedemikian matang hingga tak sampai menimbulkan korban jiwa.

Episode terakhir mengingatkan kita pada masa perang dunia kedua ketika bom atom menelan ribuan korban. Tapi bagi dua remaja ini, ada cara meledakkan bom nuklir tanpa melukai siapapun. Endingnya betul-betul menguras emosi. Lagi-lagi dibuat menangis oleh tokoh fiktif dan cerita rekaan. Perasaan mengambang menggantung lama bahkan setelah anime berakhir. Dari segi gambar, empat jempol untuk anime ini *angkat `jempol kaki*. Grafisnya mendetail, mirip dengan yang asli. Tata kota, pohon, jalan raya, kereta, hujan dan langitnya mirip dengan yang nyata. Seperti grafis anime Kotonoha no Niwa. Oleh karena itu dengan mantap saya nobatkan anime ini sebagai anime terbaik yang saya tonton sepanjang tahun 2014.

"Ingatlah jika kami pernah hidup” 
~Nine~
20 November 2014

Tiga Kuntum Daisy

Lukisan itu bersandar di sudut kamar. Bingkainya berwarna hitam dengan sudut-sudut dilapisi kertas. Berhari-hari kubiarkan seperti itu, hingga debu halus mulai menyelimutinya. Sesekali kupandangi lekat-lekat sambil menyesap teh. Begitu dekat jaraknya dariku, namun begitu jauh dari jangkauanku. Bulan-bulan berlalu, debu mengendap semakin tebal. Kuambil selembar kain, kubersihkan, lalu kumasukkan ke dalam kantong kertas. Kubawa pada seorang kenalan yang akan berangkat ke kota lain. Ia boleh menyimpan atau memberikannya, kataku padanya. Siapapun tak masalah. Kemana pun tak masalah. Heran ia menerima, tapi tak juga berpanjang tanya. Sudut kamarku pun kosong. Lukisan itu sudah tidak ada. Tak perlu lagi kuhabiskan waku menatap begitu lama. Pagi berjalan seperti biasa. Kubuka jendela, kurapikan buku, kusetrika baju, kuseduh segelas teh dan menyesapnya pelan-pelan. Kulirik kembali sudut itu, mengingat jejaknya sewaktu masih ada. Cukup lama. Cukup lama.
12 November 2014

Selimut Debu


Pembeli : Berapa harga kepala kambing ini ?
Penjual  : Lima puluh afgani
Pembeli : Lima puluh? Terlalu mahal! Dua puluh saja.
Penjual  : Apa? Dua puluh afgani? Kamu Gila? Kamu kira ini kepala manusia ? 
~Lelucon Kandahar~ 

Ketika harga tiket pesawat didiskon setengah harga, ditambah tawaran “pengalaman tak terlupakan” dari agen-agen perjalanan, orang-orang pun antusias melakukan perjalanan ke berbagai tempat, berwisata mengumpulkan foto-foto dan membukukan kisah-kisah mereka. Namanya juga wisata, tempat yang dikunjungi tentulah tempat yang indah dengan panorama yang eksotis. Tempat yang mampu membuat siapapun bersantai menikmati tiap detik perjalanan. Tapi bagaimana bila tempat itu bernama Afghanistan ? Hm, sepertinya bukan plihan yang bagus. Sebab selain kamera, buku jurnal, ransel, paspor dan uang, dibutuhkan bekal keberanian untuk memasuki negara ini. Hebatnya lagi si penulis, Agustinus Wibowo, memulai petualangannya dari Beijing ke Afghanistan dan Asia Tengah menggunakan jalur darat dan tinggal selama beberapa tahun di sana. 

Negara konflik, mungkin itu yang muncul di benak bila mendengar Afghanistan. Walaupun saya tak tahu pasti konflik macam apa lagi yang terjadi di sana selain perang melawan Rusia dan invasi Amerika Serikat. Tapi sejak bergolak pada tahun 2001, negara tersebut telah identik dengan bom dan kekacauan. Saat ini Afghanistan hanya terdengar sambil lalu atau sesekali nyelip di ragam berita dunia. Itu pun tak jauh-jauh dari bom bunuh diri dan sejenisnya. Negeri ini, seperti yang diungkapkan penulis, menyimpan misteri di balik selimut debu yang tebal. Jadi, apa yang sebenarnya si penulis cari di tempat yang panas dan berdebu itu ? 

Lewat buku ini kita bisa mengintip sisi-sisi kehidupan Afghanistan yang ternyata menyimpan warna-warni di balik selimutnya. Ada yang lucu, ironis dan mengejutkan. Beberapa kenyataan yang ditemui dalam buku membuat saya kerap bertanya, Masa sih ? Masa sih ? 

Afghanistan tak hanya identik dengan perang, tapi juga hashish. Cheras. Ganja. Di Afghanistan, posisi ganja dan candu  hanya setingkat rokok kretek di Indonesia. Afghanistan juga terkenal dengan permadaninya. Seorang turis Jepang yang meneliti ragam karpet Asia Tengah menyebutkan bahwa tak ada karpet yang lebih baik dari permadani Afghanistan. 

Agustinus memaparkan detil Afghanistan mulai dari bahasa, suku-suku, beda corak pakaian antara suku satu dan lainnya, beda Sunni dan Syiah terkait Ali bin Abi Thalib hingga peradaban Bamiyan ratusan tahun lalu yang kini telah runtuh. Ada tribal area di perbatasan Afghanistan-Pakistan bernama Darra Adam Khel, sebuah desa di mana orang bebas membeli dan mencoba berbagai model senjata api mulai dari Kalashnikov sampai pulpen yang bisa menembak. Desa ini tak pernah sepi dari rentetan bunyi tembakan. Seluruh penduduk, baik langsung atau tidak langsung, terlibat dalam bisnis pembuatan dan penjualan senjata. Anak umur sepuluh tahun sudah mencangklong besi untuk pegangan bedil serta mempelajari model yang bakal laku di pasaran. Mainan bocah-bocah di sana bukan kelereng, melainkan selongsong peluru. 

Penulis juga merekam berbagai ironi seperti orang-orang asing yang mengaku sebagai pekerja sosial di Afghanistan tetapi justru berjarak dengan penduduk setempat. Pekerja sosial itu malah melewatkan malam di Kabul dengan gemerlap ala Eropa ditemani botol-botol wiski dan vodka. Juga sejumput kemegahan bernama Kabul City Center, sebuah pusat perbelanjaan termewah di Afghanistan, berdiri megah di antara pemukiman kumuh dan runtuhan bangunan. 

Ironi lain yang menarik disimak adalah pendapat Nancy Hatch Dupree, seorang nenek usia delapan puluhan tahun berkewarganegaraan Amerika Serikat namun mengabdikan diri di Afghanistan. Nancy mengungkapkan bahwa orang Afghan adalah manusia paling ramah di dunia. Tapi keramahtamahan itu sering disalahgunakan oleh pendatang. Turis-turis enggan menghiraukan kultur setempat seperti memakai pakaian tipis dan tembus pandang. Seorang pemilik toko pernah menolong hippie yang terlunta-lunta di jalan. keesokan harinya turis tersebut sudah raib bersama seluruh dagangannya. Para pendatang dari negeri yang katanya kaya, maju dan “beradab” malah memanfaatkan penduduk setempat yang telah rela mengorbankan perut dan nyawa demi menolong musafir. 

Nancy juga kerap mengkritik para ahli gender mancanegara yang menyerbu Afghanistan dengan setumpuk program tanpa lebih dahulu memahami nilai-nilai kemasyarakatan. Kesetaraan gender sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional afghan, kata Nancy. Tak perlu mendatangkan konsep asing yang justru bertubrukan dengan nilai yang mereka anut. 

Dilanda perang bertahun-tahun membuat negeri ini penuh dengan orang-orang cacat. Ranjau bekas perang tak henti menelan korban tiap harinya. Ada yang kehilangan tungkai kaki, lengan, hingga lumpuh total. Jalan raya dipenuhi janda-janda berbalut burqa yang mengais belas kasihan sepanjang hari. Lapangan pekerjaan tak banyak tersedia. Anak kecil pun harus turun tangan membantu ekonomi keluarga. Bocah sepuluh tahun sudah jadi pelayan kedai teh, menyemir sepatu, membersihkan kaca mobil dan jualan permen. 

Hal yang mengejutkan dari Afghanistan adalah masalah playboy, dalam artian play with boy. Dikenal dengan istilah bachabazi, bacha artinya “bocah laki-laki” dan bazi artinya “bermain”. Bachabazi adalah kultur orang Uzbek di Afghanistan. Saat Taliban berkuasa, pelaku hubungan sejenis dihukum dengan diambruki tembok. Taliban tidak memberi ampun sedikit pun terhadap homoseksualitas, apalagi pemerkosaan terhadap perempuan. Candu dilarang dan kriminalitas ditumpas. Burqa adalah pakaian wajib bagi wanita. Mereka dilarang keras berkeliran di jalan tanpa ditemani lelaki anggota keluarga. 

Benak orang-orang ketika melihat wanita Afghan adalah bahwa betapa malangnya perempuan Afghanistan, tak ada kebebasan, tak ada kemerdekaan. Bush lalu menghujani negeri itu dengan roket, katanya untuk membebaskan rakyat Afghan, tapi di saat bersamaan justru menciptakan jutaan janda dan anak yatim piatu. Laura Bush pun ikut berkomentar bahwa serangan militer di Afghanistan telah berhasil sehingga perempuan tidak lagi terpenjara dalam rumahnya. 

Saat Taliban jatuh, media beramai-ramai menampilkan gambar perempuan Afghan yang melepas burqa dan bebas menyusuri jalanan kota Kabul. Kenyataannya, sebagian besar perempuan Afghan masih lebih nyaman berselimut burqa. Wanita-wanita yang memakai burqa masih saja ramai menyelimuti kota Kabul. Mereka tak dikenali laki-laki di jalan. Hidup dalam lindungan total suami yang selalu mengawal. 

Foto bergambar wanita Malaysia yang sibuk bekerja di sawah dan pabrik bukannya mengundang kagum wanita Afghan, malah membuat mereka jatuh kasihan. Aduh kasihan perempuan Malaysia harus kerja, aduh kasihan kenapa para suami tidak bekerja untuk mereka, aduh kasihan betul. Begitu kata mereka. Wanita adalah barang berharga yang harus dilindungi, dijaga dan dirawat. Burqa adalah salah satu alatnya. Bagi orang Pasthun, zan (wanita) adalah kehormatan bagi laki-laki. Jangankan bisa melihat wajah, nama perempuan pun terlalu berharga untuk disebut. 

Di negeri perang, ledakan bom, penembakan dan penculikan bukan lagi berita istimewa. Tingkatannya sudah turun seperti berita maling ayam di Indonesia. Selama bukan anggota keluarga yang jadi korban, orang-orang sudah kebal dan mati rasa terhadap berita semacam itu. Korban-korban hanya diberitakan dalam bentuk angka. Jika berita kecelakaan pesawat di Indonesia menampilkan nama-nama korban, di Afghanistan sana, korban-korban ledakan atau tembakan hanya berupa angka tanpa nama, berapa jumlah koban dan pukul berapa kejadian. 

Di negeri perang, anak sekolah belajar penjumlahan bukan dengan 1 kelereng + 2 kelereng =…, tapi “1 kalashnikov + 2 kalashnikov =…”. Atau “Jika saya membunuh tiga Rusia, kamu membunuh dua Rusia, berapa Rusia yang kita bunuh ?” 

Tapi di negeri perang sekalipun, ada surga tersembunyi bernama Lembah Wakhan. Lebih dari delapan abad yang lalu Marco Polo pernah berada di sana. Di tempat yang kebersihan udaranya membersihkan relung hati manusia manapun, gemercik airnya membawa kehidupan bagi semua makhluk, serta gunung-gunung yang saking tingginya bahkan burung pun tak mampu mencapai puncaknya. 

Daya tarik buku ini adalah, apa lagi kalau bukan foto-fotonya. Beragam foto yang ditampilkan cukup untuk menggambarkan kondisi kehidupan di Afghanistan. Mulai dari foto masjid Shahe Do Shamsera yang dikerubungi ratusan burung-burung, foto Mazar-e-Sharif yang diyakini orang Syiah sebagai makam Ali bin Abi Thalib, foto bocah-bocah yang sedang mandi sambil tertawa riang, foto orang-orang yang berkaki palsu, foto bayi yang mengalami malnutrisi, foto para gadis cantik nan jelita hingga foto danau Band-e-Amir yang berwarna biru jernih. Begitu lengkap dalam satu buku. Bacalah, dan kita akan melihat sisi lain Afganistan di balik selimut debu.
28 October 2014

Kembali ke Peradaban

“Maka, untuk sementara kita kembali ke kota. Kembali ke peradaban.” 
~Haruki Murakami, Kafka on the Shore~ 

Peradaban, kata Jean-Jacques Rousseau, sama seperti ketika manusia membangun pagar. Semua peradaban merupakan produk dari kurangnya kebebasan akibat kungkungan. Suku Aborigin di Australia adalah pengecualian. Mereka berhasil mempertahankan peradaban yang tidak terpagar hingga abad ketujuh belas. Benar-benar bebas. Pergi kemana saja mereka mau, melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Sewaktu bangsa Inggris tiba serta membangun pagar untuk melindungi ternak mereka, suku Aborigin tidak dapat memahaminya. Dan kerena tidak tahu prinsip-prinsip yang digunakan bangsa Inggris, mereka dianggap berbahaya sekaligus anti-sosial sehingga diusir ke daerah terpencil. Karena itu, orang-orang yang membangun pagar paling tinggi dan kuat adalah mereka yang paling mampu bertahan. Kenyataan itu dapat disangkal hanya bila seseorang membiarkan dirinya masuk ke dalam hutan belantara. 

Kembali ke peradaban bagi saya adalah saat ketika kaki menapaki tanah kota Daeng. Dengan gedung tingginya, pusat perbelanjaannya, cuaca panasnya, bunyi klaksonnya, keributan jalanannya, dan debu-debunya yang menyumbat paru-paru. Dan tentu saja, macetnya. Macet adalah lambang peradaban negeri ini. Dihiasi wajah pengendara dan pengemudi yang keras dan tegang. Wajah yang kata Ahmad Tohari, mengusung semua lambang kekotaan ; keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Jalan raya menyadarkan kita bahwa berjalan kaki adalah pekerjaan yang berbahaya. Tak ada tempat bagi golongan ini. Trotoar yang selayaknya diperuntukkan bagi pejalan kaki lebih sering dipakai pengendara motor. Demi mengatasai macet, pemerintah memperlebar jalan raya. Jalan raya diperlebar, trotoar dihilangkan. Trotoar hilang, pejalan kaki gigit jari. Pun saat menyeberang jalan, bersiap-siap dibentak klakson mobil dan motor. Melihat ada yang mau menyeberang jalan, semakin cepat pula pengendara memacu kendaraannya. Ketika lampu merah menyala, ada-ada saja yang nekat menerobos. Mereka seperti dikejar sesuatu yang tak nampak. Entah apa.

Orang-orang yang muak hidup di kota memilih mengasingkan diri. Kembali ke alam, pergi ke Bhutan, atau kemana saja asal menjauh dari kota. Tidak mudah hidup seperti itu walaupun beberapa dapat melakukannya. Mengasingkan diri di tempat yang tenang, damai dan tidak melakukan apa-apa sejatinya adalah istirahat panjang. Tapi istirahat dapat menjadi suatu ancaman. 

Saat ini, pulang kampung adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengasingkan diri. Menetralisir diri dari pengaruh kota. Setidaknya di sana tidak ada gedung tinggi, tidak ada macet, bunyi klakson jarang terdengar serta kepedulian yang masih kental. Kota itu berjalan lambat. Seperti orang tua. Datar, nyaris tanpa riak. Hiruk-pikuk baru ditemui di sekitar pantai di sore hari ketika matahari mulai terbenam. Di sana tidak ada mall, tidak ada bioskop. Jadi pantai adalah satu-satunya pilihan melepas penat. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada yang bersepeda, main bola, berenang, lomba dayung dan ada yang bersiap melaut. Duduklah di sana menghadap matahari, tutup mata, lalu dengarkan angin. Lima detik saja. Sangat drama kedengaran. Tapi itu membuat saya sedikit lebih baik. Hehehe


Berada di sana membuat saya menggunakan kembali bahasa daerah, bersosialisasi dengan orang-orang tua, dan makan makanan sehat. Kebetulan, saat itu bertepatan dengan lomba gerak jalan dalam rangka memperingati hari jadi Sulsel yang ke-345. 


Tempat itu menenangkan. Tempat semua kenangan masa kecil hingga remaja tersimpan. Berada di sana membuat saya santai, tak perlu memikirkan apapun selain mengenang. Suatu kondisi yang perlahan-lahan membuat saya membusuk. Mungkin itu sebabnya mengapa istirahat disebut sebagai ancaman. Jadi, untuk sementara saya harus kembali ke kota. Kembali ke peradaban.
09 September 2014

Pidato Kelulusan

Dan, sekarang pekerjaan dimulai 
Dan sekarang kebahagiaan dimulai
Sekarang tahun-tahun persiapan 
Pelajaran yang membosankan
Dan pembelajaran yang menarik dijelaskan

Kumpulan kata-kata dan
Lilitan ide-ide besar dan kecil 
Mulai tersusun
Dan pagi ini kau bisa melihat 
Sebagian kecil dari
Rencana besar masa depanmu

Jam-jam lamaran pekerjaanmu,
Harapan-harapan orangtuamu, 
Dan tugas-tugas dari gurumu
Membawa saat ini 
Ke dalam tanganmu

Hari ini, kalian adalah putri-putri dan pangeran-pangeran
Pagi hari 
Nyonya-nyonya dan tuan-tuan musim panas
Kalian telah memperlihatkan 
Nilai-nilai kebaikan yang paling mengagumkan
Karena hari ini saat kalian duduk 
Terbalut dalam jubah-jubah kerja keras
Secara harafiah ataupun kiasan, 
Aku melihat kalian dipenuhi keberanian
Karena meskipun kalian semua 
Menjadi cemerlang, cerdik secara intelektual,
Kalian harus menggunakan keberanian 
Untuk sampai pada saat ini

Kalian mungkin saja,
Seperti yang digambarkan tentang kalian,
Istimewa, yang tentu saja berarti 
Kaya, atau terlahir dengan perjuangan memenuhi kebutuhan
Dalam kedua kasus, kalian harus menumbuhkan 
Keberanian luar biasa
Untuk menemukan saat ini

Dari semua perlengkapanmu, usia muda,
Kecantikan, kecerdasan, kebaikan hati, 
Belas kasih,
Keberanian adalah pencapaian terbesarmu

Karena kau, tanpa itu, tidak bisa melakukan
kebaikan lain dengan konsistensi. 
Sekarang kau telah menunjukkan
Bahwa kau mampu untuk membuat 
Kebaikan yang paling menakjubkan itu  

Kau harus tanyakan pada diri sendiri,

Apa yang akan kau lakukan dengan itu.
Yakinlah bahwa pertanyaan itu 
Ada di dalam pikiran,
Leluhurmu, orangtuamu dan orang asing 
Yang tak mengenal namamu,
Teman muridmu yang lain yang 
Tahun depan, atau tahun-tahun yang akan datang
Akan duduk, berjubah dan bertopi wisuda 
Di tempat kau duduk sekarang.
Dan akan bertanya 
Apa yang akan kau lakukan ?
Ada satu pepatah afrika 
Yang sesuai dengan situasimu.
Yaitu, “masalah bagi pencuri adalah 
bukan bagaimana mencuri terompet kepala suku,
Tapi di mana bisa memainkannya.”

Apakah kau dipersiapkan untuk bekerja
Untuk menjadikan Negara ini, Negara kita 
Lebih dari hari ini ?

Karena itulah pekerjaan yang harus dilakukan
Itulah alasan kau sudah 
Bekerja keras, pengorbanan
Energi dan waktumu, 
Uang orangtuamu
Atau pemerintah yang telah membayarimu 
Agar kau bisa mengubah
Negara dan duniamu.

Lihatlah di luar topimu yang bertali
Dan kalian akan melihat ketidakadilan 
Di ujung jari-jarimu
Kau akan menemukan kekejaman 
Kebencian irasional, kepedihan sekeras batu
Dan kesepian yang menakutkan. 
Itulah pekerjaanmu.
Membuat suatu perbedaan 
Menggunakan gelar yang
Telah kau dapatkan untuk meningkatkan 
Kebaikan di duniamu

Kalian, semua orang,
Berharap agar kalian 
adalah orang-orang yang melakukan hal itu

Tugas ini begitu besar,
Kebutuhannya luar biasa besar, 
namun kalian bisa berlega hati
karena kalian tahu bahwa kalian telah menunjukkan 
keberanian.
Dan simpanlah dalam pikiran 
Satu orang, dengan tujuan baik,
Bisa, mengangkat mayoritas. 
Karena hidup adalah anugerah kita yang paling berharga
Dan karena kita hanya diberi hidup sekali, 
Maka marilah jalani hidup yang tak akan kita sesali
Tahun-tahun kesia-siaan dan tanpa perubahan

Kau akan terkejut bahwa pada waktunya
Hari-hari penelitian yang berpikiran tunggal 
Dan malam-malam kelumpuhan dan kebuntuan
Akan terlupakan.

Kau akan terkejut bahwa tahun-tahun
Dengan malam-malam tanpa tidur dan bulan-bulan 
Dengan hari-hari yang tidak mudah
Akan bergulir menuju 
Suatu kejadian yang disebut “masa lalu yang indah”,
dan kau tidak akan bisa 
mengunjungi hari-hari itu lagi 
bahkan dengan sebuah undangan 
Karena seperti itulah kau harus menghadapi masa sekarang 
Kalian telah disiapkan
Keluarlah dan ubahlah dunia kalian

Selamat datang di hari kelulusan

Selamat…. 

*Tulisan Maya Angelou dalam buku “Letter to My Daughter”
 
;