01 February 2016

The Girl Who Saved The King of Sweden


Bahwa seorang gadis buta huruf kelahiran Soweto, sebuah perkampungan kumuh di Afrika Selatan, akan tumbuh dan kelak terkurung dalam sebuah truk pengangkut kentang bersama raja dan perdana menteri Swedia adalah kejadian dengan probabilitas statistik 1 : 45.766.212.810. Itu menurut perhitungan Nombeko Mayeki, si gadis buta huruf itu sendiri. 

Setelah meninggalkan Soweto yang suram tanpa masa depan, suatu hari Nombeko justru menjadi anomali dari probabilitas statistik yang dihitungnya sendiri. Bertemu raja dan perdana menteri Swedia bagi gadis sepertinya saja sudah luar biasa. Tetapi, terkurung di dalam truk pengangkut kentang bersama mereka ? Yang benar saja! 

Kegilaan ini tidak akan terjadi kalau bukan karena bom atom ketujuh, bom atom yang seharusnya tidak ada. Nombeko tahun terlalu banyak tentangnya, dan sekarang (walau terpaksa), nasib dunia berada di tangannya. Bersama kakak beradik kembar yang salah satu keberadaannya tidak diakui secara resmi dan rekan lain yang tidak kompeten, Nombeko tahu misi ini tidak akan mudah. Dan, ya…memang begitulah. 

Jika tokoh utama dalam buku The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared adalah kakek berusia 100 tahun, kali ini Jonas Jonasson menjadikan gadis 14 tahun dari Afrika Selatan sebagai tokoh sentral. Tema cerita masih seputar politik dan bom atom yang dibalut dalam komedi hitam. Sepertinya penulis sangat menyukai tema semacam ini. 

“Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah bahwa kecerdasan ada batasnya.” 
-Anonim- 

Nombeko Mayeki, gadis buta huruf dari Soweto sehari-harinya bekerja sebagai penguras jamban di kota itu. Suatu ketika ia harus meninggalkan tanah kelahirannya setelah ditabrak mobil seorang insinyur pemabuk, Engelbrecht van der Westhuizen. Berdasarkan hasil keputusan pengadilan (yang sangat tidak adil dan konyol), Nombeko dinyatakan bersalah dan harus mengganti rugi sebesar lima ribu rand serta diwajibkan mengabdi pada Westhuizen selama 7 tahun. 

Westhuizen sendiri adalah seorang insinyur yang memimpin sebuah proyek paling rahasia; membuat Afrika Selatan menjadi negara bersenjata nuklir. Proyek tersebut dilakukan dalam sebuah laboratorium riset di Pelindaba, sebuah tempat di sebelah utara Johannesburg. Laboratorium itu memiliki pengawasan ketat dan berlapis. Dikelilingi pagar setinggi tiga meter yang dialiri listrik 12 ribu volt. Di lingkar dalamnya ada pengawal dan anjing penjaga. Di lingkar yang lebih dalam lagi ada pagar dengan tinggi yang sama dan aliran listrik yang sama besarnya. Dan di antara kedua pagar tersebut ditanam ranjau darat yang mengelilingi laboratorium. Selama bertahun-tahun Nombeko terkurung dalam laboratorium, mengabdi pada Westhuizen sebagai cleaning service. 

“Masa kini- bagian dari keabadian yang memisahkan wilayah kekecewaan dari alam harapan.” 
-Ambrose Bierce- 

Nombeko sebenarnya tidaklah sebuta huruf yang disebutkan. Selama di Soweto ia belajar membaca buku. Bahkan tujuan Nombeko meninggalkan Soweto setelah ibunya meninggal adalah untuk mengunjungi perpustakaan besar di Swedia. Keahlian utama Nombeko adalah masalah hitung-hitungan. Ia ahli menghitung berderet angka sampai ke titik desimal yang bagi orang biasa harus menggunakan kalkulator. Dengan kemampuannya itu, ditambah wawasannya yang luas karena rajin membaca buku, Nombeko secara tidak langsung banyak membantu Westhuizen dalam proyek pembuatan bom. 

“Hidup tidak harus mudah, apapun asal bukan kehidupan yang kosong.” 
-Lisa Meitner- 

Masalah dimulai justru setelah proyek tersebut selesai. Tugas Westhuizen adalah membuat enam bom. Tapi kebodohan insinyur pemabuk ini membuatnya salah perhitungan sehingga tercipta tujuh buah bom. Setelah bebas dari laboratorium, dan setelah Westhuizen mati dibunuh agen Mossad, Nombeko merasa bertanggung jawab terhadap bom atom ketujuh. Selama perlariannya dari dua agen Mossad yang menginginkan bom itu, Nombeko bertemu banyak orang mulai dari si kembar Holger, seorang gadis pemarah yang sulit diatur bernama Celestine, nenek Celestine, perdana menteri Tiongkok sampai Raja Swedia. 

“Tak pernah sekali pun dalam hidupku kulihat seorang fanatik yang memiliki selera humor.” 
-Amos Oz- 

Petualangan yang diciptakan Jonas Jonasson masih fantastis seperti biasa. Ceritanya penuh dengan anomali. Sementara tokoh-tokohnya kaya akan karakter unik (dan absurd) yang membuat pembaca geleng-geleng kepala. Tapi ada sedikit perbedaan dengan buku pertama. Jika dalam The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared Jonas Jonasson mengambil jarak dengan menjadi orang luar yang mengkritik dan mengomentari berbagai fenomena politik, maka dalam buku ini ia berpindah-pindah pada setiap karakter untuk menuangkan kritikannya. Jadi boleh dibilang ia menjadikan setiap tokohnya sebagai sindiran terhadap berbagai hal. Setiap kebodohan, kefanatikan atau kekonyolan tokoh-tokohnya adalah sindiran penulis. 

Yang fanatik benar-benar dibuat fanatik sampai mati. Seperti karakter Ingmar, ayah Holger bersaudara yang awalnya begitu memuja sistem monarki tiba-tiba berubah 180 derajat setelah dikecewakan oleh raja. Ia pun “mendedikasikan” hidupnya untuk menumbangkan monarki dan menggulingkan raja. Ia menghabiskan uang istrinya dan mendidik anak-anaknya untuk memenuhi ambisinya. Doktrin Ingmar kemudian menurun pada Holger Satu yang tidak pernah punya ide dan hanya membebek pada ajaran ayahnya. 

Yang polos dan bodoh tapi selalu beruntung juga dibuat seperti itu sampai akhir cerita seperti tiga gadis Tiongkok yang ditemui Nombeko dalam laboratorium. Atau sindiran Jonas Jonasson terhadap sistem suap yang lumrah terjadi di negara-negara secara umum dan secara tidak langsung ia memuji Swedia yang terkenal sebagai salah satu negara paling tidak korup di dunia. Sindiran sekaligus pujian itu dituangkan lewat alotnya prosedur yang dilalui Nombeko dan Holger Dua untuk bertemu Raja serta bertahun-tahun usaha mereka untuk sekadar berbicara dengan perdana menteri. Tidak satu pun staf pemerintahan yang bisa disuap untuk mempertemukan mereka. Para staf itu sangat patuh menjalankan protokol.

Di antara dua buku Jonas Jonasson, terus terang terang petualangan Allan lebih mengasyikkan dibanding Nombeko. Keabsurdan dalam novel kedua ini agak berlebihan (mungkin seperti itulah ciri khas penulis). Selain itu saya sempat bosan di pertengahan, yang membuat buku ini butuh waktu lama untuk diselesaikan.
22 January 2016

Attachments


Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat melamar pekerjaan sebagai petugas keamanan internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan. Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan. Lagipula, apa yang bisa ia katakan ? 

Pengalaman membaca Eleanor & Park membuat saya mencari lagi novel Rainbow Rowell yang lain. Suka cara bertuturnya, karakter tokoh-tokohnya dan juga humornya. Attachments adalah novel pertama yang ia tulis dan lagi-lagi mengambil latar 90-an, masa sebelum smartphone melipat jarak. Tapi masa Attachments sudah lebih canggih dibanding Eleanor & Park karena internet sudah eksis dan orang-orang mulai berkirim pesan lewat E-mail. 

“Kalau seorang cowok berani menikah, berarti dia adalah orang dewasa.” 
(Beth, hal. 15)

Novel ini bercerita tentang dua sahabat, Beth dan Jennifer, yang rutin berkirim E-mail di sela-sela jam kerja mereka. Keduanya bekerja di surat kabar The Courier  dan ditempatkan di bagian yang berbeda. Beth di bagian redaksi yang bekerja meresensi film sementara Jennifer adalah copy editor yang ditempatkan di bagian feature. Adapun Lincoln masih terbilang pegawai baru yang ditempatkan sebagai petugas keamanan internet. Awalnya ia berpikir akan melindungi surat kabar itu dari serangan hacker. Nyatanya, pekerjaannya hanya memantau E-mail para karyawan dan mengirimkan memo pada mereka yang kedapatan melanggar aturan.

Pelaggarannya macam-macam mulai dari E-mail yang berisi lelucon jorok, pegawai yang berjudi online atau pegawai yang menghabiskan jam kerja mengisi kuis kepribadian online. Jadi ada semacam program bernawa WebShark yang dibangun untuk mengawasi apapun yang dilakukan oleh pegawai di internet dan jaringan internet. Semuanya, setiap E-mail, setiap website dan setiap kata. Jika ada E-mail yang bermuatan kasar, rasis atau kata yang dicurigai, maka WebShark akan memberi tanda bendera merah dan menyimpan E-mail tersebut. Pekerjaan Lincoln-lah membaca semua E-mail berbendera merah itu dan melaporkannya jika dianggap sudah keterlaluan. Kedengarannya membosankan yah. Lincoln pun berpikir begitu. 

“Masalahnya, digaji untuk tidak melakukan apa-apa terus-menerus mengingatkanku bahwa aku tidak melakukan apa pun.” 
(Lincoln, hal. 42)

Nah, suatu ketika Lincoln membaca E-mail Beth dan Jennifer yang bertanda bendera merah. Kedua wanita itu sepertinya tidak peduli bahwa ada seseorang di suatu tempat dalam kantor yang terus memantau E-mail mereka. Mereka membahas banyak hal, termasuk hal-hal yang bersifat pribadi. Lincoln tahu ia harus mengirim peringatan, tapi setelah membaca sekitar setengah lusin E-mail yang bertanda merah, peringatan tak kunjung dilakukan. Boleh dibilang, Lincoln penasaran untuk terus membaca E-mail tersebut. Ia menyukai keduanya, terutama Beth.

Melalui rangkaian E-mail itu, Rainbow Rowell menceritakan kehidupan Beth dan Jennifer. Ceritnya selang-seling tiap bab antara kisah Beth dan Jennifer dalam E-mail, dengan kisah Lincoln. Jennifer dan suaminya, Mitch, terlihat seperti pasangan suami istri lainnya. Kecuali bahwa Jennifer tidak menginginkan anak. Ia punya semacam ketakutan mempunyai anak. Mungkin trauma masa lalu. Ayahnya pergi saat ia masih kecil. Jennifer dan ibunya kemudian hidup menumpang dari satu rumah ke rumah lain. 

“Ibuku tidak berjuang untuk persamaan hak. Dia bahkan tidak tahu peristiwa itu pernah terjadi. Ayahku pergi dua puluh tahun yang lalu, dan ibuku masih terus-menerus mengatakan bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga.” 
(Jennifer, hal. 147)

Sementara Beth tinggal bersama Chris, seorang gitaris band. Mereka sudah bersama selama tujuh tahun (kalau tidak salah). Dan hal yang paling diimpikan Beth adalah suatu saat Chris akan melamarnya. Suatu saat yang entah kapan karena Chris, seperti gitaris pada umumnya, adalah tipe orang yang tidak mau terikat komitmen. Chris ini menimbulkan banyak tanya bagi saya. Mungkin karena porsinya terlalu sedikit. Tapi saya sedikit paham, bahwa ada orang-orang yang tidak ingin memenuhi kepalanya akan seseorang, tidak ingin perasaannya terlalu besar dan tidak mau membuat dirinya bergantung pada orang itu. Kesannya tokoh ini seperti menyimpan banyak rahasia. Pembaca tidak tahu asalnya dari mana, masa lalunya bagaimana, apa yang ia suka dan tidak suka, atau apa yang bisa membuatnya bahagia. 

“Kurasa kadang memang dia seperti itu. Merasa perlu menarik diri. Aku menganggapnya seperti musim dingin. Selama musim dingin, bukannya matahari menghilang. Kau masih bisa melihatnya di langit. Tapi matahari terlihat lebih jauh di musim dingin.” 
(Beth, hal. 174)

Kehidupan Lincoln lain lagi. Setelah lulus kuliah dan kembali bekerja di kota kelahirannya, Lincoln memilih tetap tinggal bersama ibunya. Lincoln punya kakak perempuan yang jarang akur dengan ibunya. Kakaknya sering mendesak Lincoln untuk tinggal sendiri, agar ia punya kehidupan sendiri seperti orang-orang normal seharusnya. Rutinitas harian Lincoln agak monoton, pekerjaannya hanya membaca E-mail sepanjang hari kerja. Akhir pekan dihabiskan dengan main game bersama teman-teman semasa SMAnya atau menyewa film dan menonton sendirian. Tokoh ini kikuk dan pemalu. Tapi jujur, ramah dan selalu siap membantu. Benar-benar baik hati. Dia senang berbasa-basi dengan orang yang lebih tua. Saya suka bagian persahabatannya dengan Doris. Sewaktu SMA, Lincoln pernah lama bersama Sam, gadis yang pertama baginya dan yang dia anggap sempurna. Lincoln berniat kuliah di mana pun Sam Kuliah. Dia malah berencana menikahi Sam. Tapi di tahun kedua perkuliahan, Sam mencampakkannya demi seorang yang menjadi lawan mainnya di teater kampus. Lincoln pun hancur. 

“Cinta pertama selalu berakhir. Semua cinta pertama selalu berakhir. Tidak ada yang menikah dengan cinta pertama mereka. Cinta pertama hanya sebatas itu. Yang pertama. Itu artinya akan ada yang lain setelah itu.” 
(Sam, hal. 190)

Awalnya karakter Lincoln biasa saja. Polos dan cenderung naïf. Saya tertawa waktu sampai di bagian Lincoln yang menangis seperti anak kecil ketika dicampakkan Sam. Antara lucu dan merasa kasihan. Lebih cenderung ke Chris sebenarnya. Biasalah pemirsa, pembaca tuh penasaran sama yang misteriyuz-misteriyuz begitu. Yang setiap masuk bagiannya seolah-olah suhu turun ke titik nol derajat celcius. Dingin. Pertanyaanku selalu untuk Chris adalah, akankah ia berubah ? Apakah ia mau komitmen dengan Beth di akhir cerita? Chris langsung menjawab, 

“Aku selalu mencintaimu, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menikahimu.”
 (Chris, hal. 359)

Aigoo…sungguh teganya dirimu..teganya…teganya…teganya…
Ini kalimat paling melegenda dalam novel. Kata-katanya ibarat tendangan seribu bayangan (halah). Tapi demikian akhir kisah Chris, dia walkout dari kehidupan Beth. Benar-benar karakter yang tidak tertolong.

Btw, yang membuat pembaca gregetan adalah kapan Lincoln dan Beth akan bertemu. Sebab selama membaca rangkaian E-mail itu, Lincoln belum pernah melihat sosok Beth. Sebenarnya boleh dibilang dia sengaja tidak ingin melihatnya. Ini jadi pertanyaan juga, bisakah seseorang jatuh hati pada orang lain karena tulisannya, padahal belum pernah melihat orangnya secara langsung ? 

“Ada sesuatu yang sangat romantis tentang hal itu. Semua wanita menginginkan seorang pria yang jatuh cinta pada jiwanya, selain juga penampilannya.” 
(Christine, hal. 238)

Yang paling terasa adalah kemampuan Rainbow Rowell membuat karakter Lincoln yang dari biasa saja, pelan-pelan berubah menjadi karakter yang disukai. Pembaca akan menyadari betapa manisnya tokoh ini. Satu lagi yang saya suka -dan itulah kenapa cenderung memilih novel terjemahan- karena banyaknya karakter yang diceritakan dalam satu novel. Kekurangan dari novel-novel romance yang pernah saya baca adalah minimnya eksplorasi berbagai karakter. Seolah-olah dunia hanya milik dua tokoh utama saja. Yang lain cuma nempel. Padahal banyak hal yang bisa diceritakan, tentang ayah-ibu tokoh utama, tentang adik-kakak tokoh utama, tentang sahabat-sahabat tokoh utama, tetangga, guru, atasan, rekan kerja, tentang buku, tentang sains, seni, macam-macamlah. Jadi pembaca tidak melulu terpaku pada dua tokoh saja sementara tokoh lain sekadar numpang lewat. Banyaknya karakter membuat pembaca lebih bisa memilih tokoh mana yang akan ia sukai. 
05 January 2016

Catatan Awal Tahun

Banyak yang lupa bagaimana rasanya berumur 19 ketika beranjak 20, atau 25 ketika beranjak 26. Tahun 2015 menjadi tahun tercepat yang pernah saya alami. Seperti ada sesuatu yang melintas dengan kecepatan tinggi. Atau seperti semburan air yang deras. Kau mengulurkan tanganmu, berharap bisa menangkap banyak hal di dalamnya. Tapi hanya sedikit yang masuk dalam genggaman.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang resolusi awal tahun. Sejujurnya saya jarang memikirkan hal-hal semacam itu. Seperti saya ingin begini tahun ini. Atau saya ingin begini sebelum umur segini. Atau dalam sekian tahun saya sudah akan begini. Tidak, saya jarang seperti itu. Tapi bukan berarti tidak ada rencana atau tujuan sama sekali. Hanya saja, untuk beberapa hal saya lebih suka let it flow. Hidup ini tak tertebak. Terkadang hal-hal di luar rencana memberi kejutan yang lebih menyenangkan.

Salah satu hal yang saya pikirkan adalah, apa yang akan saya lakukan terhadap blog ini. Pernah kepikiran untuk menutup blog. Ada banyak alasan sih, sebenarnya. Pertama, setelah diperhatikan secara seksama dan dalam tempo seimut-imutnya, bisa disimpulkan kalau blog ini, seperti latarnya, begitu suram. Atau hanya saya yang berpikir begitu ? Kedua, tulisan di dalamnya kebanyakan curcol tidak penting (sebenarnya lebih tepat disebut tidak berguna, tapi saya tidak tega menggunakan kata ini. Hehehe). Kalimat-kalimatnya pekat, saya sendiri sesak membacanya. Ketiga, saya tidak ingin ada “kerumitan” yang lain lagi. Kadang saya pikir, jangan-jangan penyebabnya tak lain adalah blog ini. Pernah disinggung sebelumnya bahwa menulis adalah cara untuk menolong diri saya sendiri. Semacam upaya penyembuhan. Tapi menulis itu paradoks. Melegakan di satu sisi, dan menyakitkan di saat yang sama. Memang bukan hal buruk memiliki wadah menuangkan pikiran yang terbatas dilakukan di media lain. Tetapi lama-kelamaan ada hal lain yang mengikut. Hal-hal di luar dugaan, dan itu memperumit keadaan.

Pertama kali punya blog, umurnya lebih pendek dari umur jagung. Walaupun saya suka namanya. Sementara blog yang kedua ini bisa bertahan empat tahun lamanya dengan sedikitnya dua peraturan : Kolom komentar ditutup dan identitas anonim. Tidak menyebutkan nama, walaupun nampaknya beberapa orang sudah tahu. Toh blog ini tidak dirahasiakan. Pun orang-orang yang saya ceritakan lebih banyak menggunakan julukan. Awalnya, saya hanya berbagi blog dengan dua orang teman. Kedua teman saya ini lebih parah. Blognya tidak dibuka untuk umum. Untuk masuk pun mesti minta izin dulu. Tapi lama-lama keduanya tidak aktif lagi karena kesibukan masing-masing. Tinggallah blog saya yang lanjut ngalor-ngidul.

Belakangan, blog ini lebih banyak berisi tentang buku-buku yang saya baca. Dan itu lebih menyenangkan dibanding membahas yang lain. Membaca buku kemudian menuliskan kesanmu sebenarnya mirip dengan membahas diri sendiri secara tidak langsung. Seperti seni, membaca buku lebih menyangkut bagaimana melihat dirimu dibanding apa yang tertulis di atas kertas. Books are for people who wish to be somewhere else. Buku juga menjadi alternatif untuk berkunjung ke berbagai tempat, berbagai karakter dan budaya ketika di saat yang sama saya tidak beranjak kemana-mana. Kemampuan saya terbatas. Tapi buku punya kemampuan semacam itu.

Saya paling suka baca buku cerita, entah itu fiksi atau kisah nyata. Karena cerita membuat saya bebas mengambil hikmah apa saja. Kesan nasihatnya lebih dalam dan kuat dibanding jika harus dijejali teori bahwa saya harusnya begini atau idealnya harus begitu. Selain itu, kebiasaan ini juga bawaan dari SMP yang gemar baca komik. Duh, ngomongin komik jadi kangen koleksi komik jadul yang sudah hilang. Jadi ceritanya pernah ada koleksi komik yang lumayanlah, sekitar dua kardus berisi serial Rose of Versailles, Aurora, Harlem Beat, Sailor Moon, Lady Oscar, Detective Conan, Q.E.D, Pengantin Demos, komik-komiknya Yu Asagiri, Kyoko Hikawa dan beberapa lagi yang saya lupa. Terakhir kali komik-komik ini terlihat tahun 2009. Dan karena memang tidak dijaga dengan baik, sewaktu pulang kampung kardus-kardusnya sudah raib entah kemana.

Setelah komik, lanjut ke novel-novel lama yang ada di perpus sekolah, kemudian beralih ke novel remaja ketika Teenlit booming kala itu. Saya bukan kutu buku, tapi saya suka membaca genre apa saja; suspense, thriller/kriminal, drama, romance, sains fiksi, fantasi, dystopian, metropop, komedi, chicklit atau sastra (saya tidak terlalu paham pembagian genre). Pilihannya tergantung mood dan situasi. Sebenarnya kadang kepikiran juga, apa saya tidak buang-buang waktu membaca novel-novel ini ? Pernah saya tanya ke teman, dia bilang, pekerjaanmu bukan baca novel to’ saja, kan ? Jadi tidak masalah, katanya. Saya membaca untuk mengalihkan perhatian dari rutinitas, kata saya. Ya bagus itu, katanya lebih lanjut, saya sendiri  baca novel untuk mengusir sepi.

Ada blog teman yang sering dia sebut si Ijo. Teman saya ini sangat suka warna hijau. Tema blognya hijau. Tulisannya pun hijau-hijau. Hehehe. Maksudnya, Kalau kau membaca tulisannya, kau seperti memasuki padang rumput yang sejuk. Pemilihan diksinya filosofis dan dalam. Tapi menenangkan.

Ada juga blog milik teman yang lain. Yang satu ini tipe orang yang to the point, idealis dan perfeksionis. Kritikannya tajam dan pedas. Kalau orang pertama kali terlibat kegiatan bersamanya, dan belum mengenal karakternya, mungkin akan terkaget-kaget dengan sikapnya yang sangat to the point dalam menyampaikan pendapat. Yang saya suka darinya adalah, bahwa dia jujur menilai diri sendiri di hadapan orang lain. Dia tidak menutupi kekurangannya. Dia ingin orang melihatnya apa adanya. Dalam arti mengetahui letak kekurangannya. Hal yang jarang dijumpai. Saya sendiri tidak yakin ketika ada yang mengatakan “terimalah dirimu apa adanya” atau “jadilah dirimu apa adanya”. Kupikir jarang ada orang yang benar-benar ingin menerima dirinya apa adanya. Terutama jika bagian dari “apa adanya” itu adalah sesuatu yang buruk. Tak ada orang yang senang dalam keburukan. Maka yang sering kita lakukan adalah berusaha untuk memperbaiki sisi yang buruk itu, minimal menutupinya dari mata orang lain. Alih-alih berharap mereka memakluminya.

Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang pekerja keras, perfeksionis, penuh semangat dan percaya diri. Kritikannya terhadap orang lain memang pedas, tapi kritikannya terhadap diri sendiri jauh lebih pedas. Dia menyebut dirinya sebagai orang yang brengsek. Yah, itu istilah yang dia pakai. Padahal setahu saya, dia orang yang selalu berusaha tetap berada dalam koridor, berusaha keras untuk tidak melenceng keluar dari lingkaran. Tapi dia menganggap ada bagian dari dirinya yang brengsek. Terutama caranya menilai orang lain. Bahwa ia bisa menjadi sangat picik karena menjudge orang lain bahkan sebelum orang itu memperkenalkan diri. Saya tersenyum membacanya. Kalau begitu aturannya, maka ada banyak orang brengsek di dunia ini.

Sejauh ini belum ada keputusan final (halah) mengenai masa depan blog ini. Bagaimana pun “rumah” ini sudah dibangun selama empat tahun. Sesuatu tidak otomatis berubah hanya karena dihilangkan atau dihentikan begitu saja.
20 December 2015

Menjadi Dewasa ?

Aku pikir, semakin tua akan mengubahku menjadi dewasa

Aku pikir, aku cukup mencari kerja dan menikah,
dan menjadi dewasa 

Tapi, tidak satu pun dari hal-hal itu terjadi 

Biar pun aku sudah tumbuh semakin dewasa, 

Aku merasa tidak ada yang berubah 

Aku masih tidak benar-benar merasakan, 

Bagaimana menjadi dewasa itu

(Kimi to Boku season 2 chapter 3)
14 December 2015

Epilog

Matanya pernah, menatap lama ke mataku, yang selalu menatap jauh ke luar jendela. Itu menyesakkan baginya. Dan menyakitkan bagiku.

Lalu suatu ketika, matanya beralih ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang membalas tatapannya. Dan dia pun, tersenyum lepas.

Prolog

Ada beberapa hal yang ingin kukatakan. Tapi biar kuceritakan dulu sesuatu yang lain. Aku punya sepupu. Dan sepupuku ini sering mengistilahkan “tak tertolong” untuk hal-hal yang menurutnya tidak bisa atau sulit diperbaiki. Ponselnya pernah pecah berkeping-keping karena jatuh dari lantai tiga. Dia bilang, “Hpku sudah tak tertolong.” Adiknya pernah salah pakai shampoo yang membuat rambutnya kaku semua. Melihat itu ia tertawa, ”Wow, rambutmu benar-benar tak tertolong.” Begitu pun saat menonton berita konyol di TV, biasanya dia akan berkomentar, “Negeri ini tak tertolong.” 

Ketika bertemu, kami lebih sering bercanda, jarang membicarakan hal-hal serius. Kalaupun ada, ujung-ujungnya dibawa bercanda juga. Selera humornya cocok denganku. Saat libur semester aku menginap di rumahnya. Awalnya kami hanya membahas suasana kota tempatku bekerja. Lalu membahas tentang keluarga. Lalu ke novel. Lalu ke film. Lalu hal-hal lain yang tidak penting seperti betapa konyolnya Lee Kwang Soo dalam Running Man. Dan tiba-tiba tema berubah haluan ke…kau tahulah. Pandangan tentang masa depan. 

Saat tiba giliranku, kuceritakan momen ketika suatu hari aku mengantar ibu menjenguk temannya yang sakit. Teman ibu bercerita panjang lebar dan melompat-lompat tentang anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan baru-baru ini lahir cucunya yang kesekian. Di momen itu, tiba-tiba ibu menatapku agak lama. Lalu ia menoleh ke temannya dan menunjuk ke arahku sambil berkata, “Mungkin anakku ini akan selalu sendiri. Seperti mendiang neneknya”. Aku yang saat itu tengah mencicipi teh dan kue sajian tuan rumah nyaris tersedak mendengarnya. Saat kuceritakan, kedua sepupuku tertawa terbahak-bahak. 

“Sepertinya mulai sekarang aku harus ikut asuransi jaminan masa tua. Kalau-kalau itu terbukti benar”, kataku. Mereka tertawa lagi. 

Dalam hal ini kami sebenarnya sama saja. Hanya alasannya yang sedikit berbeda. Mereka siap, sementara aku tidak. 

“Aku masih nyaman seperti ini, kak”, kataku 

Sepupu menggeleng, “Itu yang bahaya,” 

“Kau benar-benar tak tertolong,” timpal sepupu yang lain 

Di waktu yang berbeda, tepatnya saat diskusi dengan rekan kerja di ruang rapat. Salah seorang di antara mereka adalah senior yang sudah lama berkerja di kampus ini. Dan juga senior semasa kuliah dulu. Pembahasan tidak jauh-jauh dari situ. Dia menanyakan pandanganku dan pendapatku masih sama seperti sebelumnya. Kukemukakan juga alasan lain yang selalu kupakai untuk mengakhiri diskusi semacam ini. Dia menggeleng mendengarnya. 

“Cara pandangmu perlu diperbaiki.” katanya, “Ada yang keliru di situ” 

Tak tertolong. Aku pun tidak begitu paham. Hanya saja sering kulihat keburukan dan kekecewaan sebelum cukup mampu memahaminya. Cenderung kulihat kehidupan dari sudut pandang yang gelap. Kadang kupikir, sepertinya ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba berhenti entah sejak kapan. Membuatku tak bisa bergerak, baik untuk maju ataupun mundur. Membuatku jadi sinis akan masa depan. Happy ending seperti menjadi dongeng yang hanya ada dalam cerita Walt Disney. Bukan dalam realita yang kita jalani. Seperti membuka pintu yang kau tidak tahu ada apa di baliknya. Jika bukan sesuatu yang menyenangkan, bagiku lebih baik tak perlu membukanya sama sekali. Kau lihat kan, betapa melelahkan menghadapi orang sepertiku. 

Tak banyak orang yang mau mendengarkan cerita orang lain. Karena masing-masing punya cerita yang ingin diperdengarkan. Kau adalah pendengar yang baik. Tak pernah kutemui ada yang mendengar ceritaku dari awal sampai akhir. Yang meluangkan waktu untuk membaca semua tulisan di sini. Sepertinya memang ada orang-orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali. 

“Silence is the most powerful scream 

Aku membaca ceritamu. Semuanya. Dan aku memilih diam. Bukan karena tidak peduli. Atau mendiamkan pertanyaan. Tapi lebih karena kupikir itulah jawaban terbaik. Jawaban terbaik memang belum tentu jawaban sebenarnya. Dan jawaban sebenarnya mungkin bukan jawaban yang menyenangkan.  Jadi jangan membenciku. Sebab kuharap ada hikmah yang bisa diambil dari semua kerumitan ini.
09 December 2015

Under The Blue Moon


Kuharap aku tidak terlambat. Semoga aku bertemu Shadow. Semoga aku bertemu Poet juga, tapi terutama Shadow. Cowok yang melukis dalam kegelapan. Melukis burung-burung yang terperangkap di tembok bata dan orang-orang yang tersesat di hutan hantu. 
Malam ini aku harus bertemu dengannya. 
Apapun yang terjadi. 

Graffiti Moon adalah judul asli novel ini, yang entah kenapa dalam versi terjemahan diganti menjadi Under The Blue Moon. Padahal dilihat dari isinya, Graffiti Moon adalah judul yang benar-benar pas. Covernya juga keren binggo (lihat gambar di bawah). Sementara Blue Moon, setahu saya, adalah istilah untuk fenomena alam ketika purnama muncul dua kali dalam sebulan. Seingatku, di tahun ini pernah terjadi Blue Moon,  tapi lupa bulan berapa. 


“Kata Mom, ketika keinginan bertabrakan dengan pemenuhan, itulah momen kebenaran.(Lucy) 

Sebenarnya saya tidak tahu kenapa tiba-tiba beli novel ini. Tapi mungkin saja karena graffiti mengingatkan pada tembok di sepanjang jalan Pettarani di Makassar. Dulu lukisannya bagus-bagus, tapi kemudian dihapus dan diganti dengan lukisan baru yang lebih payah (sorry). 

“Itulah yang kusukai dari seni, yaitu apa yang kau lihat terkadang lebih menyangkut siapa dirimu daripada apa yang terpampang di tembok. Aku memandang lukisan ini dan memikirkan betapa semua orang menyimpan rahasia.” (Lucy) 

Edward Phil(omena) Skye dan Leopold Green bersahabat sejak kecil. Ed menyukai seni tapi memiliki masalah dalam baca-tulis. Sementar Leo suka puisi dan tulisan tangannya sangat bagus. Leo selalu membantu menuliskan tugas-tugas Ed. Mereka berdua menyamar menjadi Shadow dan Poet yang melukis dinding-dinding kota. Shadow yang melukis dan Poet membubuhkan kata-kata dalam lukisan itu. Saya suka bagian ini karena apa dilukis Shadow tidak harus sesuai dengan kata-kata Poet. Artinya lukisan dan kata-kata dalam adalah dua persepsi yang berbeda. Seperti ketika Shadow melukis seekor burung yang telentang menghadap langit, Poet membubuhkan kata Damai dalam lukisan itu. Tapi Shadow tak merasa demikian dalam lukisannya. 

Lucu rasanya, dua orang bisa menatap hal yang sama tapi melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku tidak menemukan kedamaian ketika melihat burung itu. Aku melihat masa depanku, dan kuharap masa depanku cuma sedang tidur.  (Ed/Shadow) 

Sementara Lucy yang menghabiskan waktunya di studio pengrajin kaca, terobsesi oleh sosok Shadow dan Poet. Terutama Shadow. Ia sangat ingin bertemu dengannya. Hingga suatu malam menjelang akhir kelas 12, Lucy mengajak dua sahabatnya, Jazz dan Daisy serta tiga lainnya yaitu Ed, Leo dan Dylan untuk mencari sosok Shadow. Di sini masalahnya, karena Ed dan Leo harus berpura-pura ikut mencari sosok misterius yang tak lain adalah diri mereka sendiri. Ed dan Lucy kenal satu sama lain, tapi ada pengalaman tak menyenangkan dua tahun sebelumnya yang membuat Lucy mematahkan hidung Ed.

“Namun, itu tidak kulakukan, karena definisi gila adalah melakukan sesuatu yang hampir sama dua kali dan mengharapkan akhir yang berbeda” (Ed/Shadow) 

Novel ini mengambil sudut pandang yang berganti-ganti antara Lucy Ed, dan kadang-kadang Leo. Tapi bagian Leo semuanya diisi oleh bait-bait puisi. Saya suka karakter tokoh-tokohnya. Tidak ada kesan karakter laki-laki ditulis oleh perempuan. Selain itu pemilihan kata-kata penulisnya keren. Untuk menggambarkan malam saja penulisnya membuat seolah-olah malam itu bola raksasa yang gelap. Sisanya, saya begong saja, karena bukan anak seni jadi banyak yang tidak saya pahami. Tentang proses pembuatan kaca, tentang pemilihan warna cat atau tokoh-tokoh seni yang tidak saya kenal. 

“Jika terlalu dingin, ia akan pecah. Terlalu panas, bentuknya akan berubah. Ketahuilah sifat-sifat kaca, dan kau bisa membentuknya menjadi apa pun yang kau inginkan.” (Al) 

Satu-satunya kekurangan (jika bisa disebut kekurangan), adalah tidak ada visualisasi yang mendukung. Saya penasaran seperti apa lukisan-lukisan Shadow yang dideskripsikan dalam novel. Atau seperti apa model huruf buatan Poet yang beri nama empty itu. Tidak adanya visualisasi membuat saya sulit konsentrasi. Sepertinya kata-kata yang saya baca berhamburan keluar sebelum sempat saya cerna. 

“Mimpi adalah satu-satunya cara pergi ke tempat mana pun.”  (Ed/Shadow) 

Terakhir, ada dua puisi Poet yang yang saya suka berjudul Mungkin  dan Detak di Dalam. Puisi Mungkin sebenarnya datar-datar saja, tapi entah kenapa seperti tidak asing kubaca.  

Mungkin 
Mungkin kau dan aku 
Mungkin kau dan aku 
Mungkin kau dan aku 
Tapi mungkin tidak 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Mungkin aku akan melupakan dia 
Tapi mungkin tidak

Detak di Dalam 
Di dalam tubuhnya ada pagar kawat 
Dan di balik pagar kawat itu ada anjing 
Dan di balik anjing itu ada pencuri-pencuri 
Dan di balik pencuri-pencuri itu 
Ada segerombolan mimpi buruk 
Dan di balik mimpi-mimpi itu 
Jika kau bisa melewati mimpi-mmpi itu 
Ada hal-hal yang membuatnya berdetak
Tak, tak, tak
 
;