28 April 2016

Random (9)

Gud morning, epribadeeh!! Apa kabar ? Alhamdulillah saya di sini baik-baik saja. *siapa yang nanya ?^^ 

Belakangan ini saya jadi pelupa. Lupa helm di lantai 3 sementara saya sudah di parkiran. Lupa menanyakan pertanyaan yang sama ke orang yang sama selama tiga minggu berturut-turut. Lupa janji ketemu teman, padahal kita mau minum es kelapa muda, hikz! Lupa kembalikan buku-bukunya orang, karena sudah serasa milik sendiri *dilempar sepatu. Dan lupa kalau ada blog yang harus ditunaikan haknya. Untunglah saya tidak lupa nama sendiri. Itu amnesia namanya. 

Well, aktivitas tidak banyak berubah sejak datang ke sini setahun lalu. Wow, sudah setahun rupanya. Tidak terasa, ya. Rutinitas biasanya berputar di 6 K : Kampus, Kamar, Kajian, Kamali, Kota Mara dan Kajili-jili. Yang terakhir itu mungkin hanya orang selatan yang paham. Tapi anggap saja itu rutinitas acak supaya tidak bosan. Kampus-kamar berlangsung selama beberapa hari seminggu. Ikut kajian minimal dua kali sepekan. Insya Allah bulan depan akan ada Tabligh Akbar di masjid raya kota ini. Bertahun-tahun halaqah di Makassar kemudian pindah ke halaqah baru, dengan orang-orang baru, di tempat baru, dengan kultur yang sama sekali berbeda bukanlah proses yang mudah. Sepupu pernah bilang waktu terakhir ketemu, katanya mungkin saya belum dapat chemistry-nya. Tapi pelan-pelan saya mulai merasa nyaman di sini. Kenyamanan juga butuh waktu, nikmati saja. 

Kamali itu area pantai. Kadang-kadang seminggu atau dua minggu sekali makan di salah satu kedai di area ini. Kadang sendiri, kadang sama teman dan kadang sama paman dan bibi. Btw, orang sini kebiasaannya panggil paman dan bibi, bukan om dan tante. Kota Mara juga wilayah pantai, ada Islamic Center di sana. Saya juga belum tahu kenapa disebut kota. Saya suka lewat sini sore-sore karena pemandangan laut dan langitnya. Ingat tidak saya pernah bilang kalo belum ada tempat di mana matahari terbenam begitu indah selain di pantai kota Benteng ? Ingat ? Nampaknya saya harus merevisi kata-kata itu. Karena langit sore di sini cantik betul, apalagi selepas hujan. Kadang-kadang awannya berwarna pink, seperti warna permen kapas. Rembulan juga terlihat lebih terang dan besar. Mungkin karena pengaruh topografinya yang bergunung-gunung. Kadang-kadang selepas makan malam, saya ikut paman dan bibi mutar-mutar keliling kota. Pemandangan paling bagus terlihat dari benteng keraton. Karena kota yang dihiasi lampu-lampu terlihat kecil dari atas situ.   

Oke cukup sekian kabar-kabarinya. Sekarang mau bahas buku dulu. Soalnya belum tahu kapan bisa update tulisan lagi. Semakin hari saya semakin jarang mencoret-coret di blog. Padahal ada banyak yang ingin saya tuliskan. Toko buku jarang dijumpai di kota ini. Kalau pun ada, beberapa di antaranya buku bajakan. Kemarin sempat nemu Bumi Manusia-nya Pram di salah satu toko buku. Tapi harganya hampir setengah harga normal. Setelah saya perhatikan, kualitas kertasnya juga beda. Rasanya berdosa kalau beli buku bajakan, apalagi bukunya Pramoedya. Jadi demi memuaskan hasrat membaca, pesan online jadi satu-satunya pilihan. 

Salah satu jenis buku yang saya suka adalah buku yang membuat pembacanya lebih mengenal diri mereka sendiri. Seperti Think Like A Freak dan Hector And The Search For Happiness yang baru-baru ini saya baca. Yang satu non fiksi dan satunya lagi novel yang sepertinya banyak mengambil kisah pribadi penulis. Selain itu saya juga suka buku yang mengupas karakter manusia seperti karakter menurut golongan darah atau karakter berdasarkan sidik jari. Walau kupikir analisis sidik jari lebih akurat dibanding golongan darah. Salah satu sepupu yang kuliah di jurusan komunikasi sering mengoleksi buku-buku pengembangan diri. Malcolm Gladwell, David J. Lieberman dan Dale Carniege saya tahu lewat dia. 

Selera baca saya banyak dipengaruhi orang lain. Mulai tertarik tema konspirasi waktu SMA setelah baca bukunya Rizki Ridyasmara berjudul Knight Templar Knight of Christ yang dibawa pulang sepupu saat libur semester. Mulai nge-fans sama Andrea Hirata ketika pra kuliah dulu teman sepupu berkunjung dan membawa novel Laskar Pelangi. Waktu itu belum ada label bestseller-nya. Mulai suka novel-novelnya Gayle Forman ketika suatu hari diundang teman makan siang di rumahnya, dan secara tak sengaja melihat If I Stay di salah satu deretan bukunya. Mulai baca trilogy Titik Nol-nya Agustinus Wibowo setelah tak sengaja melihat rombongan perempuan berparas Masyaa Allah di pelataran masjid, dan mereka berasal dari Kazakhstan. Mulai suka buku-bukunya Adian Husaini setelah baca novel Kemi yang secara tak sengaja (ah, kenapa banyak sekali ketaksengajaan dalam hidup saya ?) ditemukan di salah satu stan ketika ikut seminar di LAN. 

Mulai suka Haruki Murakami setelah membaca Norwegian Wood. Yang setelah itu lanjut ke buku-bukunya yang sudah diterjemahkan. Tapi sebenarnya ketertarikan pada novel-novel Jepang dimulai jauh sebelum itu, setelah membaca novel thriller-nya Ryu Murakami berjudul In the Miso Soup dan genre komedi berjudul Tahun 69 yang dipinjam di Snoppy. Dan jika waktu diundur lagi, mungkin setelah membaca dwilogi Samurai-nya Takashi Matsuoka yang dipinjam dari seorang teman. Atau mungkin setelah baca tetralogi Klan Otori yang dipinjam dari temannya teman. Saya sendiri sudah lupa yang mana duluan. 

Hector And The Search For Happiness, Think Like A Freak, Ugly Love, O-nya Eka Kurniawan dan Seribu Bangau (Senbazuru)-nya Yasunari Kawabata adalah buku-buku yang sebulan terakhir saya baca. Ini pertama kalinya baca karya Kawabata atas rekomendasi seorang penikmat sastra. Menurutnya, Kawabata lebih bagus dari Murakami. Wow, penasaran juga. Beberapa tahun lalu pernah lihat Snow Country-nya di gramed, tapi belum minat beli. Setelah itu masih ada antrian Never Let Me Go-nya Kazuo Ishiguro, What I Talk About When I Talk About Running-nya Haruki Murakami dan beberapa buku lagi. The Silmarillion-nya J.R.R Tolkie belum ada sepertiga saya baca. Banyaknya tokoh dan rumitnya sejarah dunia Middle-Earth membuat buku ini harus dibaca dalam mode petapa. Selain itu masih ada buku-buku kuliah yang memang jadi bacaan wajib. Karena pekerjaan yang sekarang membuat saya belajar jauh lebih keras dibanding waktu kuliah. Hehehe…

Yap, sekian cuap-cuapnya. Sudah ada panggilan rapat dari tadi. Sampai ketemu di tulisan berikutnya ^^
08 March 2016

Yang Tidak Kita Sukai dari Perubahan

“Jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain.”
~J.D. Salinger, The Catcher in The Rye~

“Selayar itu masih virgin yah ?”, komentar Yoru ketika (pertama kali) melihat seekor tupai melintasi kabel listrik di sepanjang jalan depan rumah. Beberapa waktu lalu Yoru berkunjung lagi ke Selayar, untuk ketiga kalinya. Dia sudah jalan-jalan ke pulau Tinabo, Jinato, Liang Kareta dan banyak tempat lainnya dengan gratis. Benar-benar bikin iri. Saya yang asli orang sini saja belum pernah main-main ke Tinabo dan Jinato. Lha dia, orang jauh dari Bima sono tiba-tiba sudah kesana-kemari, gratis pula! Wahai…

Melihat satu-dua ekor tupai berlarian di atas kabel listrik merupakan pemandangan yang biasa untuk ukuran kota kecil ini, terutama di area jalur dua. Tapi pemandangan biasa ini mungkin tidak akan kau temui di kota besar dan padat. Sehingga mengundang rasa kagum tersendiri. Sebab masih ada yang belum berubah ketika semua hal nyaris berubah. Saya sendiri tidak tahu berapa lama tupai-tupai itu bertahan di habitatnya. Kota ini pelan-pelan mulai giat membangun. Yang dulunya hutan sekarang berubah jadi bangunan.

Internet, TV kabel atau smartphone pun dikonsumsi nyaris semua kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa. Dari pejabat sampai pengayuh becak. Hal-hal semacam ini, bagaimana pun membawa dampak yang saling bertolak belakang. Baik dan buruk. Pada suatu kesempatan saya pernah dibuat geleng-geleng kepala mendengar celotehan remaja SMA di pinggir jalan. Nyaris tidak percaya mereka memakai istilah-istilah yang tidak pantas diucapkan oleh orang-orang berpendidikan. Mereka bahkan tidak malu mengatakannya dengan suara nyaring. Di kota kecil yang jauh dari peradaban ini, dari mana lagi mereka mendapatkannya jika bukan dari tontonan atau internet yang bisa diakses dua puluh empat jam.

Memang program TV kita saat ini kebanyakan tidak mendidik. Bahkan ada yang bilang kalau kita tidak perlu repot-repot menggunakan otak saat nonton TV. Herannya, justru hal-hal buruk yang ditampilkan TV yang banyak ditiru penontonnya. Seolah-olah itu merupakan sesuatu yang keren. Adikku sering mengeluh karena setiap kali ganti saluran yang dia temukan hanya sinetron atau program lain yang sama membosankannya. Maka tidak heran kalau beberapa orang menempatkan TV ke dalam daftar barang-barang yang tidak disukai.

Lain waktu ketika berkunjung ke SMA tempat sekolah dulu, saya dapat kesempatan mengamati kegiatan para siswa. Dalam beberapa hal mereka lebih baik dibanding generasi kami. Mereka didukung sarana dan prasarana yang lebih memadai. Kegiatan eskul lebih beragam. Mereka juga mampu mengakses berbagai pengetahuan lebih cepat. Hubungan guru dan siswa terlihat lebih dekat dan santai. Yang terakhir ini membuat saya sedikit iri, mengingat kakunya dulu interaksi antara guru dan siswa.

“Anak-anak jaman sekarang berbeda dengan kalian dulu. Kekerasan bukan lagi cara yang efektif mendidik mereka.”, kata salah seorang guru ketika kami duduk-duduk di ruang tunggu. Kekerasan tidak pernah menjadi cara efektif untuk mendidik, ujar saya dalam hati. Tapi mungkin generasi sekarang lebih keras kepala dan kritis dibanding dulu. Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Maka saya mencoba berhenti membanding-bandingkan.

Bel sekolah berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas, berdesak-desakan di pintu gerbang, pulang ke rumah masing-masing. Saya punya waktu sekitar 90 menit sebelum sekolah ramai kembali. Biasanya kegiatan eskul dimulai pukul tiga sore. Sambil memain-mainkan kunci motor, saya mulai berkeliling sekolah. Setelah beberapa menit melihat ruangan satu per satu, langkah saya berhenti di depan salah satu kelas. Di bagian atas pintunya tertulis 3 IPA II. Belum berubah, pikir saya. Yang pertama saya perhatikan adalah dindingnya. Mungkin lukisan itu masih ada. Tapi yang menghiasi dinding hanya beberapa poster, struktur organisasi kelas dan jadwal piket harian. Tentu saja, delapan tahun sudah lewat, mustahil masih di sana. Lagipula itu hanya lukisan biasa hasil karya teman yang menang lomba melukis antar kelas. Kemudian saya berjongkok, memeriksa satu per satu bagian bawah meja.

“Ayo ukir nama kita di bawah meja. Untuk kenangan-kenangan.”, kata seorang teman waktu itu sambil mengacungkan sebotol Tipe X.
“Itu bukan kenang-kenangan. Itu vandalisme.” Kata saya.

Sayangnya saya tidak menemukan nama-nama yang saya kenal. Mungkin meja yang dulu sudah rusak, atau sudah ditutupi tulisan generasi berikutnya. Prie GS pernah berkata dalam salah satu bukunya bahwa ketidaksukaan kita pada perubahan lebih dikarenakan kita tidak suka ada yang mengacak-acak kenangan kita. Kata-kata Prie sangat tepat untuk situasi saya. Nyaris semua berubah. Tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi saya satu per satu diubah, diganti atau bahkan dihilangkan sama sekali. Dermaga, sekolah, lapangan, perpustakaan, sampai rumah nenek.

Beberapa batang pohon rindang masih tegak berdiri. Pohon mengkudu juga masih berbuah dan mengeluarkan aroma yang sengit. Tidak ada lagi kelas yang dipisahkan papan kayu sehingga antar tetangga bisa saling mengintip. Tak ada lagi lonceng besi peninggalan Belanda (begitu kami menyebutnya) yang selalu memakan korban. Korbannya adalah jidat para siswa yang benjol karena poisisi ujung lonceng setinggi kepala siswa rata-rata. Saya pernah terhuyung-huyung setelah kepala menabrak ujung lonceng karena berlari sambil say hello dengan teman yang berpapasan di lorong sekolah.

Ada yang bilang masa paling indah adalah masa sekolah. Bisa jadi. Bukan hanya karena itu masa setiap orang mulai membentuk diri. Atau karena banyak hal menyenangkan terjadi. Atau karena hal-hal bodoh yang dilakukan. Tapi mungkin karena itu masa terakhir orang-orang memaklumi hal-hal bodoh itu. Apa yang menyenangkan dari masa kanak-kanak ? Kebebasan dan pemakluman. Kita bebas melakukan apa saja, dan orang-orang memaklumi. Kita merusak benda-benda, orang-orang akan berkata, maklum anak-anak. Kita punya banyak keinginan ini itu, mereka maklum, anak-anak katanya. Kita marah-marah, berteriak-teriak, atau menangis sekencang mungkin, maklum anak-anak. Garis batas pemakluman itu adalah masa SMA. Sebab setelahnya orang menganggap kita sudah dewasa.

Pada jenjang itu, remaja mencoba banyak hal dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Pencarian identitas katanya. Bagaimana pun, setiap orang memiiki nilai yang mereka anut. Yang sudah ditanamkan sejak mereka kecil. Sehingga akan kita temui ada remaja yang memilih untuk tidak merokok, tidak minum atau tidak pacaran. Karenanya agak menjengkelkan bagi orang-orang seperti ini ketika berada di tengah orang yang tidak sejalan dengan pikiran mereka. Namun pada akhirnya kita akan melupakan kejengkelan itu. Saya baru menyadarinya sekarang. Pada akhirnya, kita akan lebih merindukan mereka. Dalam The Catcher in The Rye, Holden sering mencibir teman-temannya, menjulukinya macam-macam, memaki mereka bila perlu. Tapi kemudian Holden mengakui bahwa ia merindukan teman-temannya yang sering ia sebut konyol itu.
04 March 2016

Egois

Kurniawan Gunadi dalam tulisannya yang berjudul Introvert berkata bahwa orang introvert itu sulit nyambung dengan orang lain tapi dengan sejenisnya bisa langsung nyaman saat bertemu. Mereka membuat seolah-olah orang lain tahu banyak tentang mereka, padahal tidak sama sekali. Ketika orang lain pusing dengan tidak adanya teman, mereka senang sendirian. Mereka tidak suka keramaian, tidak banyak bicara dan suka mengamati orang lain. Yang terakhir ini kurang sepakat. Saya bukan orang yang suka mengamati orang lain. Saya hanya suka mengamati orang yang membuat saya tertarik.

Daya tarik, seperti kata Kurniawan Gunadi, bukan soal rupa atau materi. Tapi semacam energi yang membuat kita merasa nyaman, merasa “klik” dengan orang tertentu. Kadang hanya karena satu hal pada dirinya yang membuat kita terkesan. Dan itu sering tidak disadari orang tersebut. Kita memang biasanya tidak tahu faktor apa yang membuat kita “klik” dengan orang tertentu. Katanya mungkin itu karena kita dan mereka berada dalam frekuensi energi yang sama. Kalau begitu, bisa jadi perbedaan frekuensi energi pula yang membuat kita kadang lelah berhadapan dengan orang lain. Walaupun mereka punya banyak kesamaan dengan kita, walaupun kita sudah lama bersama dengan mereka, tapi perasaan “klik” itu tidak ada.

Setiap orang punya dinding yang mereka jadikan pemisah antara dirinya dan orang lain. Sebuah tembok dengan ketinggian berbeda-beda pada tiap orang. Ada banyak lubang dan retak di tembok itu. Kadang pula ada bagian yang hancur karena lemparan besar. Dan orang-orang tak pernah berhenti membangun dinding tersebut. Mereka terus menambal lubang di sana-sini. Terus memperkuat bagian yang hancur.

Saya jadi berpikir bahwa mungkin saja ada pintu yang bisa dimasuki tanpa harus menghancurkan dinding. Pintu yang sulit terdeteksi letaknya. Pemiliknya pun seringkali tidak tahu keberadaan pintu tersebut. Orang sekitar juga lebih fokus pada cara-cara menghancurkan dinding. Ketika seseorang merasa “klik” dengan orang lain, boleh jadi karena orang tersebut masuk lewat pintu tadi. Dan ia tidak sadar telah masuk lewat jalur yang tepat. Dinding akan tetap tegak. Jarak akan tetap ada. Bedanya, ia masuk tanpa harus menghancurkan dinding. Besar kemungkinan orang semacam inilah yang bertahan lama dalam hidup kita.

Sebagian orang introvert mungkin sejatinya adalah orang yang egois. Mereka senang sendirian. Tapi ada saat ketika mereka benar-benar butuh teman. Lalu setelah itu mereka ingin sendiri lagi. Kembali mengeluarkan penggaris, kembali mengukur jarak dengan orang lain. Begitu seterusnya. Egois bukan ? Apa orang semacam ini benar-benar bisa hidup bersama orang lain ? Dengan sikap yang selalu mengambil jarak dengan siapapun, sulit membayangkan mereka bisa tinggal satu atap, dua puluh empat jam dengan seseorang untuk waktu yang entah berapa lama. Karena itu sebagian orang introvert mungkin memang adalah makhluk yang egois.

Attention Please!

Terkadang, kita tidak ingin berteman dengan orang lain bukan karena perkara cocok atau tidak cocok, tapi lebih karena caranya yang tidak santun. Melanggar privasi kita misalnya. Lewat pesan-pesan tidak penting yang entah dari mana nomor ponsel kita ditemukan. Atau mencari akun kita di berbagai media sosial. Mau berteman, katanya. Alasan yang menggelikan. Apa menurutnya “pertemanan” bisa dijalin dengan cara seganjil itu ? Biasanya, ketika membangun hubungan sosial, kita jarang menargetkan orang tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya kita akan menemukan orang-orang yang bisa kita anggap sebagai teman. Begitu cara alamiah berteman. Berbeda dengan orang yang meracau macam-macam lewat sms, seakan kita mengenalnya padahal bertegur sapa sekalipun tidak pernah. Itu bukan sikap yang bisa disebut santun. Percayalah, tidak ada yang terkesan dengan cara semacam itu. Dan kalau mau jujur, tak pernah ada “teman” antara laki-laki dan perempuan. Karenanya agama kita begitu ketat mengatur interaksi antara keduanya.

Kata Kurniawan Gunadi, cara terbaik menjaga perempuan adalah dengan tidak menyebut namanya sembarangan. Kalau boleh ditambahkan, tidak mengganggunya dengan cara norak seperti yang disebutkan tadi. Seseorang tidak perlu memaksakan diri menjadi teman orang lain. Tidak perlu memaksa masuk dalam hidup orang lain. Tidakkah mereka berpikir bahwa tindakan semacam itu mengganggu ketenangan yang bersangkutan? Tidak ada yang suka wilayah privasinya diusik orang asing. Di era teknologi ini, ketika orang begitu mudah menyatakan perasaan mereka, diam memang adalah pilihan yang berat. Ketika seseorang dibutakan perasaan (sesaatnya), mereka menjadi terburu-buru dalam segala hal. Yang pada akhirnya melanggar batas.

Perasaan itu selalu berubah. Hari ini suka, besok tidak lagi. Hari ini kecewa, besok mungkin bahagia lagi. Hari ini sedih, besok mungkin ceria lagi. Karenanya tidak semua perasaan harus dikatakan, tidak semua perasaan harus ditindaklanjuti. Dan tidak semua perasaan mendapat balasan yang sama. Maka beruntunglah mereka yang tetap dalam diamnya. Beruntunglah mereka yang paham bahwa ada hal-hal yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri. Mungkin akan terasa menyakitkan, atau paling tidak menyesakkan. Tapi itu jauh lebih baik. Kita ini dibekali hati, suatu tempat yang dapat menampung segalanya. Suatu tempat yang orang lain tak bisa ukur kedalamannya. Atau rahasia apa saja yang ada di sana. Sebuah gudang penyimpanan, tempat kita memilah mana yang layak diperlihatkan dan mana yang sebaiknya tetap disimpan. Sebab nanti yang akan kita sesali bukan hanya apa yang tidak kita lakukan, tapi apa yang terburu-buru kita lakukan.
01 February 2016

The Girl Who Saved The King of Sweden


Bahwa seorang gadis buta huruf kelahiran Soweto, sebuah perkampungan kumuh di Afrika Selatan, akan tumbuh dan kelak terkurung dalam sebuah truk pengangkut kentang bersama raja dan perdana menteri Swedia adalah kejadian dengan probabilitas statistik 1 : 45.766.212.810. Itu menurut perhitungan Nombeko Mayeki, si gadis buta huruf itu sendiri. 

Setelah meninggalkan Soweto yang suram tanpa masa depan, suatu hari Nombeko justru menjadi anomali dari probabilitas statistik yang dihitungnya sendiri. Bertemu raja dan perdana menteri Swedia bagi gadis sepertinya saja sudah luar biasa. Tetapi, terkurung di dalam truk pengangkut kentang bersama mereka ? Yang benar saja! 

Kegilaan ini tidak akan terjadi kalau bukan karena bom atom ketujuh, bom atom yang seharusnya tidak ada. Nombeko tahun terlalu banyak tentangnya, dan sekarang (walau terpaksa), nasib dunia berada di tangannya. Bersama kakak beradik kembar yang salah satu keberadaannya tidak diakui secara resmi dan rekan lain yang tidak kompeten, Nombeko tahu misi ini tidak akan mudah. Dan, ya…memang begitulah. 

Jika tokoh utama dalam buku The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared adalah kakek berusia 100 tahun, kali ini Jonas Jonasson menjadikan gadis 14 tahun dari Afrika Selatan sebagai tokoh sentral. Tema cerita masih seputar politik dan bom atom yang dibalut dalam komedi hitam. Sepertinya penulis sangat menyukai tema semacam ini. 

“Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah bahwa kecerdasan ada batasnya.” 
-Anonim- 

Nombeko Mayeki, gadis buta huruf dari Soweto sehari-harinya bekerja sebagai penguras jamban di kota itu. Suatu ketika ia harus meninggalkan tanah kelahirannya setelah ditabrak mobil seorang insinyur pemabuk, Engelbrecht van der Westhuizen. Berdasarkan hasil keputusan pengadilan (yang sangat tidak adil dan konyol), Nombeko dinyatakan bersalah dan harus mengganti rugi sebesar lima ribu rand serta diwajibkan mengabdi pada Westhuizen selama 7 tahun. 

Westhuizen sendiri adalah seorang insinyur yang memimpin sebuah proyek paling rahasia; membuat Afrika Selatan menjadi negara bersenjata nuklir. Proyek tersebut dilakukan dalam sebuah laboratorium riset di Pelindaba, sebuah tempat di sebelah utara Johannesburg. Laboratorium itu memiliki pengawasan ketat dan berlapis. Dikelilingi pagar setinggi tiga meter yang dialiri listrik 12 ribu volt. Di lingkar dalamnya ada pengawal dan anjing penjaga. Di lingkar yang lebih dalam lagi ada pagar dengan tinggi yang sama dan aliran listrik yang sama besarnya. Dan di antara kedua pagar tersebut ditanam ranjau darat yang mengelilingi laboratorium. Selama bertahun-tahun Nombeko terkurung dalam laboratorium, mengabdi pada Westhuizen sebagai cleaning service. 

“Masa kini- bagian dari keabadian yang memisahkan wilayah kekecewaan dari alam harapan.” 
-Ambrose Bierce- 

Nombeko sebenarnya tidaklah sebuta huruf yang disebutkan. Selama di Soweto ia belajar membaca buku. Bahkan tujuan Nombeko meninggalkan Soweto setelah ibunya meninggal adalah untuk mengunjungi perpustakaan besar di Swedia. Keahlian utama Nombeko adalah masalah hitung-hitungan. Ia ahli menghitung berderet angka sampai ke titik desimal yang bagi orang biasa harus menggunakan kalkulator. Dengan kemampuannya itu, ditambah wawasannya yang luas karena rajin membaca buku, Nombeko secara tidak langsung banyak membantu Westhuizen dalam proyek pembuatan bom. 

“Hidup tidak harus mudah, apapun asal bukan kehidupan yang kosong.” 
-Lisa Meitner- 

Masalah dimulai justru setelah proyek tersebut selesai. Tugas Westhuizen adalah membuat enam bom. Tapi kebodohan insinyur pemabuk ini membuatnya salah perhitungan sehingga tercipta tujuh buah bom. Setelah bebas dari laboratorium, dan setelah Westhuizen mati dibunuh agen Mossad, Nombeko merasa bertanggung jawab terhadap bom atom ketujuh. Selama perlariannya dari dua agen Mossad yang menginginkan bom itu, Nombeko bertemu banyak orang mulai dari si kembar Holger, seorang gadis pemarah yang sulit diatur bernama Celestine, nenek Celestine, perdana menteri Tiongkok sampai Raja Swedia. 

“Tak pernah sekali pun dalam hidupku kulihat seorang fanatik yang memiliki selera humor.” 
-Amos Oz- 

Petualangan yang diciptakan Jonas Jonasson masih fantastis seperti biasa. Ceritanya penuh dengan anomali. Sementara tokoh-tokohnya kaya akan karakter unik (dan absurd) yang membuat pembaca geleng-geleng kepala. Tapi ada sedikit perbedaan dengan buku pertama. Jika dalam The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared Jonas Jonasson mengambil jarak dengan menjadi orang luar yang mengkritik dan mengomentari berbagai fenomena politik, maka dalam buku ini ia berpindah-pindah pada setiap karakter untuk menuangkan kritikannya. Jadi boleh dibilang ia menjadikan setiap tokohnya sebagai sindiran terhadap berbagai hal. Setiap kebodohan, kefanatikan atau kekonyolan tokoh-tokohnya adalah sindiran penulis. 

Yang fanatik benar-benar dibuat fanatik sampai mati. Seperti karakter Ingmar, ayah Holger bersaudara yang awalnya begitu memuja sistem monarki tiba-tiba berubah 180 derajat setelah dikecewakan oleh raja. Ia pun “mendedikasikan” hidupnya untuk menumbangkan monarki dan menggulingkan raja. Ia menghabiskan uang istrinya dan mendidik anak-anaknya untuk memenuhi ambisinya. Doktrin Ingmar kemudian menurun pada Holger Satu yang tidak pernah punya ide dan hanya membebek pada ajaran ayahnya. 

Yang polos dan bodoh tapi selalu beruntung juga dibuat seperti itu sampai akhir cerita seperti tiga gadis Tiongkok yang ditemui Nombeko dalam laboratorium. Atau sindiran Jonas Jonasson terhadap sistem suap yang lumrah terjadi di negara-negara secara umum dan secara tidak langsung ia memuji Swedia yang terkenal sebagai salah satu negara paling tidak korup di dunia. Sindiran sekaligus pujian itu dituangkan lewat alotnya prosedur yang dilalui Nombeko dan Holger Dua untuk bertemu Raja serta bertahun-tahun usaha mereka untuk sekadar berbicara dengan perdana menteri. Tidak satu pun staf pemerintahan yang bisa disuap untuk mempertemukan mereka. Para staf itu sangat patuh menjalankan protokol.

Di antara dua buku Jonas Jonasson, terus terang terang petualangan Allan lebih mengasyikkan dibanding Nombeko. Keabsurdan dalam novel kedua ini agak berlebihan (mungkin seperti itulah ciri khas penulis). Selain itu saya sempat bosan di pertengahan, yang membuat buku ini butuh waktu lama untuk diselesaikan.
22 January 2016

Attachments


Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat melamar pekerjaan sebagai petugas keamanan internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan. Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan. Lagipula, apa yang bisa ia katakan ? 

Pengalaman membaca Eleanor & Park membuat saya mencari lagi novel Rainbow Rowell yang lain. Suka cara bertuturnya, karakter tokoh-tokohnya dan juga humornya. Attachments adalah novel pertama yang ia tulis dan lagi-lagi mengambil latar 90-an, masa sebelum smartphone melipat jarak. Tapi masa Attachments sudah lebih canggih dibanding Eleanor & Park karena internet sudah eksis dan orang-orang mulai berkirim pesan lewat E-mail. 

“Kalau seorang cowok berani menikah, berarti dia adalah orang dewasa.” 
(Beth, hal. 15)

Novel ini bercerita tentang dua sahabat, Beth dan Jennifer, yang rutin berkirim E-mail di sela-sela jam kerja mereka. Keduanya bekerja di surat kabar The Courier  dan ditempatkan di bagian yang berbeda. Beth di bagian redaksi yang bekerja meresensi film sementara Jennifer adalah copy editor yang ditempatkan di bagian feature. Adapun Lincoln masih terbilang pegawai baru yang ditempatkan sebagai petugas keamanan internet. Awalnya ia berpikir akan melindungi surat kabar itu dari serangan hacker. Nyatanya, pekerjaannya hanya memantau E-mail para karyawan dan mengirimkan memo pada mereka yang kedapatan melanggar aturan.

Pelaggarannya macam-macam mulai dari E-mail yang berisi lelucon jorok, pegawai yang berjudi online atau pegawai yang menghabiskan jam kerja mengisi kuis kepribadian online. Jadi ada semacam program bernawa WebShark yang dibangun untuk mengawasi apapun yang dilakukan oleh pegawai di internet dan jaringan internet. Semuanya, setiap E-mail, setiap website dan setiap kata. Jika ada E-mail yang bermuatan kasar, rasis atau kata yang dicurigai, maka WebShark akan memberi tanda bendera merah dan menyimpan E-mail tersebut. Pekerjaan Lincoln-lah membaca semua E-mail berbendera merah itu dan melaporkannya jika dianggap sudah keterlaluan. Kedengarannya membosankan yah. Lincoln pun berpikir begitu. 

“Masalahnya, digaji untuk tidak melakukan apa-apa terus-menerus mengingatkanku bahwa aku tidak melakukan apa pun.” 
(Lincoln, hal. 42)

Nah, suatu ketika Lincoln membaca E-mail Beth dan Jennifer yang bertanda bendera merah. Kedua wanita itu sepertinya tidak peduli bahwa ada seseorang di suatu tempat dalam kantor yang terus memantau E-mail mereka. Mereka membahas banyak hal, termasuk hal-hal yang bersifat pribadi. Lincoln tahu ia harus mengirim peringatan, tapi setelah membaca sekitar setengah lusin E-mail yang bertanda merah, peringatan tak kunjung dilakukan. Boleh dibilang, Lincoln penasaran untuk terus membaca E-mail tersebut. Ia menyukai keduanya, terutama Beth.

Melalui rangkaian E-mail itu, Rainbow Rowell menceritakan kehidupan Beth dan Jennifer. Ceritnya selang-seling tiap bab antara kisah Beth dan Jennifer dalam E-mail, dengan kisah Lincoln. Jennifer dan suaminya, Mitch, terlihat seperti pasangan suami istri lainnya. Kecuali bahwa Jennifer tidak menginginkan anak. Ia punya semacam ketakutan mempunyai anak. Mungkin trauma masa lalu. Ayahnya pergi saat ia masih kecil. Jennifer dan ibunya kemudian hidup menumpang dari satu rumah ke rumah lain. 

“Ibuku tidak berjuang untuk persamaan hak. Dia bahkan tidak tahu peristiwa itu pernah terjadi. Ayahku pergi dua puluh tahun yang lalu, dan ibuku masih terus-menerus mengatakan bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga.” 
(Jennifer, hal. 147)

Sementara Beth tinggal bersama Chris, seorang gitaris band. Mereka sudah bersama selama tujuh tahun (kalau tidak salah). Dan hal yang paling diimpikan Beth adalah suatu saat Chris akan melamarnya. Suatu saat yang entah kapan karena Chris, seperti gitaris pada umumnya, adalah tipe orang yang tidak mau terikat komitmen. Chris ini menimbulkan banyak tanya bagi saya. Mungkin karena porsinya terlalu sedikit. Tapi saya sedikit paham, bahwa ada orang-orang yang tidak ingin memenuhi kepalanya akan seseorang, tidak ingin perasaannya terlalu besar dan tidak mau membuat dirinya bergantung pada orang itu. Kesannya tokoh ini seperti menyimpan banyak rahasia. Pembaca tidak tahu asalnya dari mana, masa lalunya bagaimana, apa yang ia suka dan tidak suka, atau apa yang bisa membuatnya bahagia. 

“Kurasa kadang memang dia seperti itu. Merasa perlu menarik diri. Aku menganggapnya seperti musim dingin. Selama musim dingin, bukannya matahari menghilang. Kau masih bisa melihatnya di langit. Tapi matahari terlihat lebih jauh di musim dingin.” 
(Beth, hal. 174)

Kehidupan Lincoln lain lagi. Setelah lulus kuliah dan kembali bekerja di kota kelahirannya, Lincoln memilih tetap tinggal bersama ibunya. Lincoln punya kakak perempuan yang jarang akur dengan ibunya. Kakaknya sering mendesak Lincoln untuk tinggal sendiri, agar ia punya kehidupan sendiri seperti orang-orang normal seharusnya. Rutinitas harian Lincoln agak monoton, pekerjaannya hanya membaca E-mail sepanjang hari kerja. Akhir pekan dihabiskan dengan main game bersama teman-teman semasa SMAnya atau menyewa film dan menonton sendirian. Tokoh ini kikuk dan pemalu. Tapi jujur, ramah dan selalu siap membantu. Benar-benar baik hati. Dia senang berbasa-basi dengan orang yang lebih tua. Saya suka bagian persahabatannya dengan Doris. Sewaktu SMA, Lincoln pernah lama bersama Sam, gadis yang pertama baginya dan yang dia anggap sempurna. Lincoln berniat kuliah di mana pun Sam Kuliah. Dia malah berencana menikahi Sam. Tapi di tahun kedua perkuliahan, Sam mencampakkannya demi seorang yang menjadi lawan mainnya di teater kampus. Lincoln pun hancur. 

“Cinta pertama selalu berakhir. Semua cinta pertama selalu berakhir. Tidak ada yang menikah dengan cinta pertama mereka. Cinta pertama hanya sebatas itu. Yang pertama. Itu artinya akan ada yang lain setelah itu.” 
(Sam, hal. 190)

Awalnya karakter Lincoln biasa saja. Polos dan cenderung naïf. Saya tertawa waktu sampai di bagian Lincoln yang menangis seperti anak kecil ketika dicampakkan Sam. Antara lucu dan merasa kasihan. Lebih cenderung ke Chris sebenarnya. Biasalah pemirsa, pembaca tuh penasaran sama yang misteriyuz-misteriyuz begitu. Yang setiap masuk bagiannya seolah-olah suhu turun ke titik nol derajat celcius. Dingin. Pertanyaanku selalu untuk Chris adalah, akankah ia berubah ? Apakah ia mau komitmen dengan Beth di akhir cerita? Chris langsung menjawab, 

“Aku selalu mencintaimu, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menikahimu.”
 (Chris, hal. 359)

Aigoo…sungguh teganya dirimu..teganya…teganya…teganya…
Ini kalimat paling melegenda dalam novel. Kata-katanya ibarat tendangan seribu bayangan (halah). Tapi demikian akhir kisah Chris, dia walkout dari kehidupan Beth. Benar-benar karakter yang tidak tertolong.

Btw, yang membuat pembaca gregetan adalah kapan Lincoln dan Beth akan bertemu. Sebab selama membaca rangkaian E-mail itu, Lincoln belum pernah melihat sosok Beth. Sebenarnya boleh dibilang dia sengaja tidak ingin melihatnya. Ini jadi pertanyaan juga, bisakah seseorang jatuh hati pada orang lain karena tulisannya, padahal belum pernah melihat orangnya secara langsung ? 

“Ada sesuatu yang sangat romantis tentang hal itu. Semua wanita menginginkan seorang pria yang jatuh cinta pada jiwanya, selain juga penampilannya.” 
(Christine, hal. 238)

Yang paling terasa adalah kemampuan Rainbow Rowell membuat karakter Lincoln yang dari biasa saja, pelan-pelan berubah menjadi karakter yang disukai. Pembaca akan menyadari betapa manisnya tokoh ini. Satu lagi yang saya suka -dan itulah kenapa cenderung memilih novel terjemahan- karena banyaknya karakter yang diceritakan dalam satu novel. Kekurangan dari novel-novel romance yang pernah saya baca adalah minimnya eksplorasi berbagai karakter. Seolah-olah dunia hanya milik dua tokoh utama saja. Yang lain cuma nempel. Padahal banyak hal yang bisa diceritakan, tentang ayah-ibu tokoh utama, tentang adik-kakak tokoh utama, tentang sahabat-sahabat tokoh utama, tetangga, guru, atasan, rekan kerja, tentang buku, tentang sains, seni, macam-macamlah. Jadi pembaca tidak melulu terpaku pada dua tokoh saja sementara tokoh lain sekadar numpang lewat. Banyaknya karakter membuat pembaca lebih bisa memilih tokoh mana yang akan ia sukai. 
05 January 2016

Catatan Awal Tahun

Banyak yang lupa bagaimana rasanya berumur 19 ketika beranjak 20, atau 25 ketika beranjak 26. Tahun 2015 menjadi tahun tercepat yang pernah saya alami. Seperti ada sesuatu yang melintas dengan kecepatan tinggi. Atau seperti semburan air yang deras. Kau mengulurkan tanganmu, berharap bisa menangkap banyak hal di dalamnya. Tapi hanya sedikit yang masuk dalam genggaman.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang resolusi awal tahun. Sejujurnya saya jarang memikirkan hal-hal semacam itu. Seperti saya ingin begini tahun ini. Atau saya ingin begini sebelum umur segini. Atau dalam sekian tahun saya sudah akan begini. Tidak, saya jarang seperti itu. Tapi bukan berarti tidak ada rencana atau tujuan sama sekali. Hanya saja, untuk beberapa hal saya lebih suka let it flow. Hidup ini tak tertebak. Terkadang hal-hal di luar rencana memberi kejutan yang lebih menyenangkan.

Salah satu hal yang saya pikirkan adalah, apa yang akan saya lakukan terhadap blog ini. Pernah kepikiran untuk menutup blog. Ada banyak alasan sih, sebenarnya. Pertama, setelah diperhatikan secara seksama dan dalam tempo seimut-imutnya, bisa disimpulkan kalau blog ini, seperti latarnya, begitu suram. Atau hanya saya yang berpikir begitu ? Kedua, tulisan di dalamnya kebanyakan curcol tidak penting (sebenarnya lebih tepat disebut tidak berguna, tapi saya tidak tega menggunakan kata ini. Hehehe). Kalimat-kalimatnya pekat, saya sendiri sesak membacanya. Ketiga, saya tidak ingin ada “kerumitan” yang lain lagi. Kadang saya pikir, jangan-jangan penyebabnya tak lain adalah blog ini. Pernah disinggung sebelumnya bahwa menulis adalah cara untuk menolong diri saya sendiri. Semacam upaya penyembuhan. Tapi menulis itu paradoks. Melegakan di satu sisi, dan menyakitkan di saat yang sama. Memang bukan hal buruk memiliki wadah menuangkan pikiran yang terbatas dilakukan di media lain. Tetapi lama-kelamaan ada hal lain yang mengikut. Hal-hal di luar dugaan, dan itu memperumit keadaan.

Pertama kali punya blog, umurnya lebih pendek dari umur jagung. Walaupun saya suka namanya. Sementara blog yang kedua ini bisa bertahan empat tahun lamanya dengan sedikitnya dua peraturan : Kolom komentar ditutup dan identitas anonim. Tidak menyebutkan nama, walaupun nampaknya beberapa orang sudah tahu. Toh blog ini tidak dirahasiakan. Pun orang-orang yang saya ceritakan lebih banyak menggunakan julukan. Awalnya, saya hanya berbagi blog dengan dua orang teman. Kedua teman saya ini lebih parah. Blognya tidak dibuka untuk umum. Untuk masuk pun mesti minta izin dulu. Tapi lama-lama keduanya tidak aktif lagi karena kesibukan masing-masing. Tinggallah blog saya yang lanjut ngalor-ngidul.

Belakangan, blog ini lebih banyak berisi tentang buku-buku yang saya baca. Dan itu lebih menyenangkan dibanding membahas yang lain. Membaca buku kemudian menuliskan kesanmu sebenarnya mirip dengan membahas diri sendiri secara tidak langsung. Seperti seni, membaca buku lebih menyangkut bagaimana melihat dirimu dibanding apa yang tertulis di atas kertas. Books are for people who wish to be somewhere else. Buku juga menjadi alternatif untuk berkunjung ke berbagai tempat, berbagai karakter dan budaya ketika di saat yang sama saya tidak beranjak kemana-mana. Kemampuan saya terbatas. Tapi buku punya kemampuan semacam itu.

Saya paling suka baca buku cerita, entah itu fiksi atau kisah nyata. Karena cerita membuat saya bebas mengambil hikmah apa saja. Kesan nasihatnya lebih dalam dan kuat dibanding jika harus dijejali teori bahwa saya harusnya begini atau idealnya harus begitu. Selain itu, kebiasaan ini juga bawaan dari SMP yang gemar baca komik. Duh, ngomongin komik jadi kangen koleksi komik jadul yang sudah hilang. Jadi ceritanya pernah ada koleksi komik yang lumayanlah, sekitar dua kardus berisi serial Rose of Versailles, Aurora, Harlem Beat, Sailor Moon, Lady Oscar, Detective Conan, Q.E.D, Pengantin Demos, komik-komiknya Yu Asagiri, Kyoko Hikawa dan beberapa lagi yang saya lupa. Terakhir kali komik-komik ini terlihat tahun 2009. Dan karena memang tidak dijaga dengan baik, sewaktu pulang kampung kardus-kardusnya sudah raib entah kemana.

Setelah komik, lanjut ke novel-novel lama yang ada di perpus sekolah, kemudian beralih ke novel remaja ketika Teenlit booming kala itu. Saya bukan kutu buku, tapi saya suka membaca genre apa saja; suspense, thriller/kriminal, drama, romance, sains fiksi, fantasi, dystopian, metropop, komedi, chicklit atau sastra (saya tidak terlalu paham pembagian genre). Pilihannya tergantung mood dan situasi. Sebenarnya kadang kepikiran juga, apa saya tidak buang-buang waktu membaca novel-novel ini ? Pernah saya tanya ke teman, dia bilang, pekerjaanmu bukan baca novel to’ saja, kan ? Jadi tidak masalah, katanya. Saya membaca untuk mengalihkan perhatian dari rutinitas, kata saya. Ya bagus itu, katanya lebih lanjut, saya sendiri  baca novel untuk mengusir sepi.

Ada blog teman yang sering dia sebut si Ijo. Teman saya ini sangat suka warna hijau. Tema blognya hijau. Tulisannya pun hijau-hijau. Hehehe. Maksudnya, Kalau kau membaca tulisannya, kau seperti memasuki padang rumput yang sejuk. Pemilihan diksinya filosofis dan dalam. Tapi menenangkan.

Ada juga blog milik teman yang lain. Yang satu ini tipe orang yang to the point, idealis dan perfeksionis. Kritikannya tajam dan pedas. Kalau orang pertama kali terlibat kegiatan bersamanya, dan belum mengenal karakternya, mungkin akan terkaget-kaget dengan sikapnya yang sangat to the point dalam menyampaikan pendapat. Yang saya suka darinya adalah, bahwa dia jujur menilai diri sendiri di hadapan orang lain. Dia tidak menutupi kekurangannya. Dia ingin orang melihatnya apa adanya. Dalam arti mengetahui letak kekurangannya. Hal yang jarang dijumpai. Saya sendiri tidak yakin ketika ada yang mengatakan “terimalah dirimu apa adanya” atau “jadilah dirimu apa adanya”. Kupikir jarang ada orang yang benar-benar ingin menerima dirinya apa adanya. Terutama jika bagian dari “apa adanya” itu adalah sesuatu yang buruk. Tak ada orang yang senang dalam keburukan. Maka yang sering kita lakukan adalah berusaha untuk memperbaiki sisi yang buruk itu, minimal menutupinya dari mata orang lain. Alih-alih berharap mereka memakluminya.

Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang pekerja keras, perfeksionis, penuh semangat dan percaya diri. Kritikannya terhadap orang lain memang pedas, tapi kritikannya terhadap diri sendiri jauh lebih pedas. Dia menyebut dirinya sebagai orang yang brengsek. Yah, itu istilah yang dia pakai. Padahal setahu saya, dia orang yang selalu berusaha tetap berada dalam koridor, berusaha keras untuk tidak melenceng keluar dari lingkaran. Tapi dia menganggap ada bagian dari dirinya yang brengsek. Terutama caranya menilai orang lain. Bahwa ia bisa menjadi sangat picik karena menjudge orang lain bahkan sebelum orang itu memperkenalkan diri. Saya tersenyum membacanya. Kalau begitu aturannya, maka ada banyak orang brengsek di dunia ini.

Sejauh ini belum ada keputusan final (halah) mengenai masa depan blog ini. Bagaimana pun “rumah” ini sudah dibangun selama empat tahun. Sesuatu tidak otomatis berubah hanya karena dihilangkan atau dihentikan begitu saja.
 
;