29 August 2014

Metafora

Kususun selaksa kepingan
Begitu lama dan melelahkan
Pada keping terakhir kukatakan :
“Ini akan menggenapkan”
Hingga kuperhatikan,
Bentuk itu tak pernah utuh
Sejak awal,
Aku telah menyusun sesuatu yang tak pernah lengkap

Kubangun sebuah rumah 
Yang ingin kusebut rumah impian
Tak lama berselang
Bangunan itu runtuh berserakan
Kubangun kembali
Dan hancur kembali
Pelan kusadari,
Aku telah membangun rumah
Di atas pasir yang bergeser

Bertemu,
Lalu kehilangan pada suatu waktu,
Menemukannya kembali
Dan kehilangan lagi

Berapa banyak waktu harus berlalu,
Dalam keadaan yang terbatas ini ?
Kita terus berjalan,
Dan apa yang kita temukan?
25 August 2014

Lemari Ingatan

All of my memories keep you near
In silent moments
Imagine you'd be here
All of my memories keep you near
The silent whispers, silent tears
 ~Memories, Within Temptation~ 

Kubuka pintu berkarat, di sebuah ruang bernama ingatan. Deritnya mengingatkan, betapa sunyi tempat itu. Kutatap sekeliling, dua puluh lima rak berukuran besar berbaris sejajar. Beragam warna buku mengisi setiap baris. Jika hidup masih berjalan, lemari itu akan terus bertambah. Tak ada yang tahu kapan jumlahnya akan terhenti. Nenekku tutup usia di umur 73 tahun. Tapi lemari ingatannya berhenti di bilangan 71. Dalam rentang dua tahun itu, apa yang mengisi memorinya adalah misteri.

Buku yang awalnya terusun rapi di dalam menjadi acak-acakan. Saat kusuapkan makanan, ia berkata akan menjahitkan pakaian baru untukku. Yang punya pita merah di bagian pinggang. Dalam ingatannya yang terperangkap, aku masih seorang bocah tujuh tahun yang rutin dijahitkan pakaian dan dibawa ke pesta pernikahan. Suatu sore, saat masih berseragam abu-abu, ia pernah berkata bahwa mungkin hidupnya tidak akan sampai pada waktu ketika topi wisuda menudungi kepalaku. Ucapannya terbukti bertahun kemudian. Kini, topi kedua akan kembali menaungi kepalaku.

Dalam ruang bernama ingatan, kita mengambil buku tertentu, membawanya ke ruang terbuka, membacakannya pada manusia selain kita. Tapi, buku yang tak kita perlihatkan, buku yang tetap kita simpan, jauh lebih banyak. Kita tak pernah tahu, jumlah buku yang disimpan seseorang dalam ingatannya.

Dalam buku ingatan, ada lembar bercetak jelas, ada lembar yang samar, nyaris tak terbaca, dan ada yang kosong, seolah tak pernah ada tulisan di sana. Ingatan yang hilang. Sifat alamiah manusia. Mungkin itu patut disyukuri. Sebab, ada situasi ketika lupa membuat hidup lebih mudah dijalani. Dalam kesendiriannya, dalam ingatan yang terperangkap, kurasa nenekku pun begitu. Hidup bersamanya kulewati lebih dari separuh umurku. Ia menempati ruang tersendiri dalam hati dan ingatanku. Kuharap, lembar yang menulis tentangnya akan tercetak jelas hingga waktu berhenti di garis batas.
03 August 2014

Rekreasi Ke Tamammelong

Jika rekreasi tahun lalu kami jauh-jauh menyeberang ke Liang Kareta, maka selepas lebaran tahun ini kami memilih tempat yang dekat dari kota. Namanya Tamammelong. Awalnya saya kira “Taman Melon” yang terpengaruh dialek sehingga menjadi Tamammelong. Tapi kata teman, namanya memang Tamammelong. Jangan tanya artinya, saya tidak tahu. Tapi jadi lebih cocok bila dibanding “Taman Melon”, karena di pantai tidak ada pohon melon. Selayar bukan penghasil melon. Yang ada cuma pohon kelapa sejauh mata memandang. 

Tamammelong dapat dicapai dengan berkendara 20 menit ke arah selatan. Letaknya berdekatan dengan pantai Baloiya. Resort Baloiya dulunya dikelola orang Jepang yang sekarang sudah berpindah tangan. Pengunjung wajib bayar tiket kalau mau masuk. Kalau tidak salah seratus ribu per orang. Sementara kami cari yang gretongan. Bisa habis gaji satu bulan kalau setiap orang bayar seratus ribu. Biar begitu pemandangan sunset dari pantai Baloiya memang sangat indah. Tamammelong sendiri adalah pantai biasa. Seperti pantai lain di selayar, semuanya biasa, pasir putih, air laut yang jernih dan barisan pohon kelapa yang bila ditiup angin buahnya berjatuhan ke tanah.

Tugas dibagi sebelum hari H. Ada yang membeli ikan, udang dan cumi-cumi, ada yang mengumpulkan sabut kelapa, ada yang menyiapkan tenda, ada yang menanak nasi santan, ada yang membawa buah-buahan dan ada yang membeli air mineral. Ibu sendiri kebagian tugas membuat sambal. 

Kami berangkat dengan tiga mobil dan beberapa motor. Semua keponakan dimasukkan ke mobil biar tidak bikin repot. Saya dan beberapa sepupu memilih naik motor. Sesampai di sana, tidak ada orang lain selain kami. Bagus. Kami menguasai pantai ini. hehehe. Turun dari mobil, yang bapak-bapak langsung mencari pelepah kelapa untuk tempat bakar ikan. Ibu-ibu cekatan membersihkan dan mengeluarkan isi perut ikan. Para suami sepupu menggelar tenda untuk alas duduk. Para kurcaci alias ponakan langsung menyerbu laut. Sepupu dan saya sibuk motret kiri kanan sebelum turun ke laut. Yang penting jepret dulu, berenang urusan nanti.

Ngomong-ngomong, bagaimana suasana lebaran kalian ? Dapat angpau tidak ?? Di sebelah kiri mana suaranya ?? Apa ?? Ditanya terus kapan nikah ?? Ignore.  Saya sarankan beli cotton buds banyak-banyak untuk korek kuping kalau nanti ditanya lagi. Atau sumbat telinga pakai kapas dan menulilah seharian. Atau pura-pura amnesia sekalian, saya siapa ? Kamu siapa ? Ini dimana ? Nikah itu apa ?


Ada sepupu saya yang rutin kasih angpau ke saudara, sepupu dan ponakannya tiap Idul Fitri. Sementara para orangtua biasanya dihadiahi kemeja, gamis dan mukena. Dia dan istrinya hanya setahun sekali pulang kampung. Istrinya bekerja di Depok sementara dia berlayar ke berbagai tempat. Jadi sekali pulang, barang bawaannya bisa sangat banyak. 

Ternyata untuk bersenang-senang pun butuh perjuangan, terlebih bagi orang yang tak tahu berenang. Saya dan sepupu harus “perang” dulu sama ponakan memperebutkan pelampung baru bisa berenang jauh ke tengah laut. Setelah beberapa jam berenang, aroma ikan, udang dan cumi bakar memanggil-manggil dari kejauhan. Kami pun mengikuti asal aroma itu, seperti upin-ipin mencium bau ayam goreng. Ah, sedapnya bau… 

Perut sudah berdemo minta diisi. Nasi santan masih hangat. Ikan, udang dan cumi-cumi baru diangkat dari pemanggang. Dilengkapi sambal buatan ibu. Bila dimakan bersamaan, rasanya…uhm…sadeesss!! *iklan


Acara makan diiringi dengan humor sepupu yang terkenal gokilnya. Sakit perut yang saya rasa entah karena kekenyangan atau karena kebanyakan tawa. Campur aduk sudah. Selesai makan, berenang sesi kedua dilanjutkan. Saya menonton ponakan dan sepupu berenang sambil bersandar di bawah pohon kelapa. Semoga tidak ada kelapa yang jatuh. Angin bertiup kencang. Menerbangkan debu dan abu pembakaran. Gemersik dedaunan seolah sedang berbisik satu sama lain. Rasanya seperti dipanggil seseorang dari seberang laut.

Cuaca cerah. Langit berwarna biru cerah. Gumpalan awan dengan berbagai bentuk menggantung di langit seperti kapas raksasa, juga dengan warna putih cerah. Lalu pandangan saya arahkan ke kumpulan ponakan yang sedang belajar berenang. Warna anak-anak adalah warna cerah. Merah, kuning, hijau, biru, jingga, semuanya cerah. Ketika beranjak dewasa, warna itu tetap ada, tapi tak lagi cerah, bercampur dengan kelabu. Ada warna merah, merah kelabu. Ada warna hijau, hijau kelabu. Ada biru, biru kelabu. Warna orang dewasa adalah warna yang kelabu. Anak-anak tertawa. Tawa yang manis dan ringan. Orang dewasa tertawa. Tawa yang tawar dan berat. 

Seorang dosen pernah memotong doa mahasiswa yang mendoakan umurnya panjang. Katanya buat apa umur panjang bila raga sudah tak mampu. Baginya, umur 60-65 tahun sudah cukup. Dosen itu mungkin tak tahu bahwa ada orang yang ingin mati sebelum umur 27 tahun. Ada orang yang tak berniat melewati umur 30, 40 atau 50 tahun. Di saat yang sama, ada pula yang berharap bisa hidup ribuan tahun. Betapa beragamnya keinginan manusia, termasuk untuk hidup dan mati.

Siklus kehidupan berputar tanpa henti. Orang-orang lahir dan mati. Orang-orang datang dan pergi. Dulu mereka adalah anak-anak yang dimarahi orangtua bila tak mengaji atau berbuat onar saat shalat berjamaah di masjid. Kini mereka menjadi orangtua yang memarahi anak-anaknya yang berbuat sama. Dulu mereka berusaha lepas dari kekangan ayah dan ibu yang selalu khawatir akan keselamatan dan masa depan mereka. Sekarang mereka menjadi ayah dan ibu yang mengusahakan segala cara untuk menjaga anaknya. Dulu mereka anak-anak yang keinginannya harus dituruti. Sekarang mereka orang dewasa yang banting tulang memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dulu mereka anak-anak yang menganggap betapa menyebalkannya orang dewasa. Sekarang mereka orang dewasa yang menyadari betapa menyusahkannya anak-anak. 


Hari beranjak petang. Sebentar lagi akan terbenam dan mati. Mimpi-mimpi menarik selimut di balik kelopak malam. Sebagian tetap utuh hingga esok. Sebagian lagi hancur dan tenggelam bersama gelap. Lalu hari baru datang. Membawa rencana dan harapan baru. Siklus hidup berputar kembali. Meninggalkan sesuatu yang berharga di masa lalu. Dan membawa sesuatu yang sama berharganya untuk menyongsong hari esok.
24 July 2014

Minal 'Aidin Wal Faizin

Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, rasanya tidak ada yang lebih popular dari kalimat ini saat momen idul fitri datang hingga habisnya bulan Syawal. Ada yang menarik untuk dikritisi dari kalimat ini. Tentang susunan kalimatnya, makna yang terkandung di dalamnya, begitu pun tentang kebiasaan orang dalam melafalkan dan menuliskannya. Dan termasuk asal usul kalimat ini, sekaligus hukum melafalkannya sebagai ucapan saat datang idul fithri. 

Tentang lafal dan tulisan, kita sering dapatkan ada beberapa versi ungkapan yang terpajang di spanduk, kartu lebaran dan media cetak, begitupun dalam pelafalan. Seperti; minal aidzin wal faizin, minal aizin wal faidzin, atau minal aizin wal faizin. Tak semua memahami asal dari kalimat tersebut, atau sekadar tulisannya dalam versi Arab juga jarang didapatkan. Yang ada biasanya versi tulisan latin dengan pilihan font yang seperti huruf arab. Sebagian lagi mendapatkan hanya dari mulut ke mulut, sehingga ada sisi kesalahan ucap secara bahasa. Supaya lebih jelas, jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia sekurang-kurangnya berbunyi “Minal ‘aidin wal Faizin”.

Yang kedua, dari susunan kalimatnya. Dhahir kalimat tersebut sepertinya tidak menunjukkan sebagai jumlah mufiidah (kalimat sempurna) yang setidaknya memenuhi unsur Mubtada’ dan Khabar jika jumlah ismiyah (kalimat yang diawali dengan kata benda), atau fi’il dan fa’il jika berupa jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja).

Mungkin benar apa yang dikatakan Qaris Tajudin dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO. Di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama islam maupun Kristen.

Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam tema kata per kata. 

Ungkapan tersebut seperti penggalan dari sebuah kalimat, atau ada yang tersembunyi di bagian awalnya. Mungkin dengan mengucapkan penggalan kalimat tersebut, yang diajak bicara sudah dianggap paham maksud dan arti secara keseluruhan. Dan sayangnya, kebanyakan kaum muslimin di Indonesia tidak banyak yang mengetahui penggalan awalnya. Karena memang baasa Arab bukan menjadi bahasa yang dipahami kebanyakan kita. Sekurang-kurangnya penggalan awal dari kalimat tersebut berbunyi :

"Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin"

Poin ketiga yang menarik untuk dikritisi adalah sisi makna. Dalam survey kecil-kecilan yang penulis lakukan, masyarakat mengartikan kalimat “minal ‘aidin wal faizin” dengan mohon maaf lahir dan batin”. Mungkin karena kedua kalimat itu sering disandingkan, maka banyak yang mengira keduanya bermakna sama. Padahal, antara keduanya memiliki makna yang jauh.

Adapun secara harafiah, makna penggalan kalimat tersebut adalah ‘min’ artinya dari (termasuk dari), ‘aidin artinya orang-orang yang kembali (kepada Allah), wa artinya dan, sedangkan al-faizin maknanya golongan orang-orang yang sukses atau memperoleh kemenangan. 

Jika digabung dengan penggalan kalimat pertama, maka makna “Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin” adalah, “Semoga Allah menjadikan kami dan juga Anda termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada Allah dan sukses (dalam mengisi Ramadhan).”

Jadi kalimat tersebut secara makna tidak ada kaitannya dengan saling meminta maaf dan memaafkan, tapi berupa ungkapan untuk saling mendoakan. 

Ungkapan minal ‘aidin wal faizin sama sekali tidak dikenal di zaman salaf dan tak ada sama sekali riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan hal itu. Ungkapan tahniah (ucapan selamat) yang disebutkan atsarnya dari para shahabat adalah, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” semoga Allah menerima amal kami dan juga amal kalian.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan  “Taqabbalallahu minna wa minka” ketika saling bertemu di hari Idul Fitri”. Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “sanadnya hasan”. Syeikh al-Albani dalam Tamaamul Minnah mengomentari bahwa sanad dari riwayat ini shahih. 

Tentang ucapan selamat dengan versi yang lain, di antara ulama seperti Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin membolehkan ucapan selamat dengan ungkapan ‘ied Mubarak dan semisalnya. Hanya saja, apa yang menjadi kebiasaan para shahabat tentu lebih baik. Wallahu a’lam 

*Ditulis oleh Abu Umar Abdillah di salah satu edisi majalah ar-risalah terbitan tahun lalu
02 July 2014

Basa-Basi

Saat seseorang bertanya, “Bagaimana kabarmu ?” atau “Apa kabar ?”, orang itu belum tentu ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya. Tapi sudah paten bahwa kalimat itu adalah kunci untuk membuka percakapan. Pun kita, tak selalu jujur ketika menjawab, sebab jika dilakukan, dapat memutus percakapan yang baru akan dimulai. Jujur itu baik, tapi bukan berarti kita harus mengatakan segala hal. Jika kita menjawab, “Oh, kabarku buruk. Sakitku kambuh lagi. Tagihan listrik nunggak dua bulan. Biaya kontrakan naik. Anakku bermasalah di sekolah. Dan blablabla”, bisa dipastikan percakapan akan terhenti saat itu juga. Jadi kita pun memasang senyum dan menjawab, “Kabarku baik”. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa memberi dan menerima kebohongan semacam itu. 

Kata orang basa-basi itu menyebalkan. Tentu saja, jika dilakuan secara berlebihan dan di waktu yang tidak tepat. Tapi sesungguhnya ada manfaat di balik basa-basi itu. Kita dapat kenalan baru setelah berbasa-basi. Kita dapat informasi baru dari basa-basi. Usaha seseorang untuk mengambil hati orang lain pun lewat basa-basi. Di jurusan sepupu saya, Heiji, ada seorang dosen yang dikenal sebagai penjelmaaan Hitler. Jika sudah bilang A, walau semua manusia berubah jadi zombie tidak akan berubah jadi B. Saking sulitnya mengubah keputusan beliau, beberapa mahasiswa memberinya julukan “yang maha kuasa”. Malangnya nasib Heiji dan beberapa temannya, dosen tersebut terpilih jadi pembimbing mereka saat menyusun tesis.

Setelah konsultasi judul, semua mahasiswa bimbingan beliau mengeluhkan hal yang sama. Dosen itu memerintahkan -bukan mengusulkan- judul yang menurut mereka menyulitkan. Bukannya mereka tidak bisa, tapi waktu yang dibutuhkan untuk penelitian jadi lebih lama. Layaknya mahasiswa, mereka mengejar target wisuda beberapa bulan ke depan agar tidak lagi membayar uang semester. Akhirnya setiap mahasiswa melakukan berbagai usaha agar sang dosen berkenan mengganti judul mereka. Dari level memelas hingga berdebat. Dan belum ada yang berhasil. Suatu ketika, giliran Heiji tiba. 

Heiji yang saya kenal punya keterampilan komunikasi yang cemerlang. Saya menonton aksinya menyelesaikan persoalan di berbagai kesempatan. Peristiwa yang paling teringat terjadi sekitar dua tahun lalu. Suatu malam semua saudara ibu berkumpul di rumah Heiji. Dalam dunia persilatan, Ibu Heiji adalah kakak pertama, sementara ibu saya adik kedua (halah). Sudah menjadi kebiasaan keluarga besar kami ketika ada masalah akan dimusyawarahkan bersama. Tempat musyawarah disesuaikan dengan siapa yang bermasalah. Malam itu musyawarah dilakukan di rumah Heiji. Ada masalah pelik yang dialami keluarga kakak laki-laki Heiji.

Biasanya, musyawarah hanya melibatkan para tetua dan orang yang bermasalah. Sementara sisanya, berkumpul di kamar atau ruang tengah. Tapi malam itu sedikit berbeda dari biasanya. Ayah, ibu, om dan tante serta para sepupu berkumpul dalam lingkaran besar di ruang tengah. Sebagian ponakan diungsikan ke tempat lain. Dua orang sepupu ditugaskan menjaga mereka. Atmosfir di ruang tengah mulai tidak nyaman. Pertanda ketegangan makin meningkat. Baru beberapa menit musyawarah berjalan, suara-suara mulai meninggi. Kakak Heiji sebagai “terdakwa” yang awalnya diam saja mendengar kritik tajam ayah dan saudaranya, mulai menunjukkan penolakan. Suasana tegang. Ibu yang biasanya tak tahan kalau tak bicara, kini memilih diam. Hanya sesekali menghela napas panjang. Ayah juga bersikap sama, diam dan mendengarkan. 

Ketegangan mencapai puncaknya ketika tak ada pihak yang mau menurunkan tekanan suara antara kakak dan ayah Heiji. Teriakan berhamburan di udara. Kulihat salah satu sepupu mengatupkan tangan di kedua telinga anaknya. Di saat genting itu, Heiji yang sedari awal diam saja, akhirnya masuk ke arena sambil merentangkan tangannya, seperti wasit yang berusaha memisahkan dua petinju. Betapa sulit menemukan titik temu di antara keduanya, hingga kemudian Heiji turun tangan. Kemampuan diplomasinya langsung bekerja. Terlihat dari menurunnya intonasi suara di kedua belah pihak. Heiji pun menyampaikan pendapatnya. Mengusulkan dua solusi serta menjabarkan konsekuensi masing-masing pilihan. Menurutku inilah yang membedakan antara Heiji dan ayahnya. Ayahnya memaksakan keinginan, Heiji menyodorkan pilihan. Usulan Heiji diterima baik oleh kakaknya dan semua orang. Malam itu masalah ditutup dengan sempurna berkat bantuan Heiji.

Konflik muncul karena perbedaan. Karena satu pihak tidak memahami perbedaan situasi di pihak lain. Diplomasi ada untuk memahamkan keduanya bahwa mereka berbeda. Mereka punya pikiran yang berbeda. Mereka berada dalam situasi yang berbeda. Karena itu dalam diplomasi penting untuk mencari kata-kata yang tepat agar apa yang dirasakan setiap pihak sampai kepada pihak lainnya. Jika hal itu tercapai, maka setiap pihak akan memecahkan masalah dengan mempertimbangan kondisi pihak lain. 

Dalam sistem hirarki keluarga, anak-anak tetaplah anak-anak, yang pendapatnya belum layak didengarkan. Ketika anak mampu membuat orangtuanya menyimak pendapat mereka dengan cara yang baik, itu bisa disebut prestasi. Sebab menjadi langkah awal orangtua mulai memperhitungkan pandangan kita akan suatu masalah. Bukan gelar akademik yang dibutuhkan, tetapi kemampuan komunikasi kita dengan orang-orang terdekat, terlebih bila mereka memiliki sifat yang keras. Saya pernah mengalami transisi semacam itu.

Suatu malam ayah dan ibu bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan. Tapi karena suatu hal, ayah terlibat silang pendapat dengan adik saya. Adik saya adalah remaja yang baru tumbuh. Remaja di usia itu penuh dengan pemberontakan dan penolakan. Tidak ada yang membuat pikiran lebih keriting bagi orangtua selain anak di usia remaja. Tapi dalam masalah itu, jelas adik saya salah. Masalahnya adalah bagaimana dia mengakui kesalahannya tanpa merasa terpaksa. Saya berusaha tidak memihak salah satunya. 

Saat itu mereka duduk berdampingan di ruang tamu. Sementara saya duduk dua meter di depan mereka berdua dan bicara tanpa henti. Menyampaikan pendapat saya, mengkritik keduanya dan mengusulkan solusi. Selepas bicara, ada jeda yang panjang. Di keheningan yang cukup lama itu, saya tersadar, astaga, saya baru saja memarahi ayah. Saat mengangkat wajah, betapa terkejutnya saya melihat mata ayah berkaca-kaca. Oh nooo…bagaimana ini ??? Tapi detik berikutnya membuat saya bernapas lega, ayah tersenyum. Senyum yang sulit digambarkan. Khas orang yang baru menyadari sesuatu yang penting. Tepat di momen itu ibu keluar dari kamar dan memberi isyarat untuk segera berangkat. Saya masih mematung di tempat duduk. Sebelum melangkah keluar, di ambang pintu ayah berbalik,

“Ayah-ibu berangkat dulu”, katanya tersenyum 

Ada yang berubah sejak saat itu. Ayah mulai mendengarkan pendapat saya. Bila ingin membeli peralatan baru, beliau meminta pendapat saya. Bila membahas keadaan dua adik saya di sekolah, beliau meminta pendapat saya. Sampai berita politik di TV, ayah rutin bertanya, “Bagaimana menurutmu ?”

Ehm, ngomong-ngomong tadi saya mau nulis apa ya? *gagal fokus. 

Oke, kembali ke Heiji. Tiba gilirannya bergerilya membujuk sang dosen. Alasannya cuma satu, dia tidak tertarik dengan tema yang diberikan. Ada masalah lain yang menurutnya lebih menarik untuk diteliti. Beruntungnya, dosen itu pernah mengulas tema tersebut dalam bukunya. Suatu pagi yang cerah, Heiji siap menemui sang dosen dengan membawa setumpuk buku. Beberapa di antara buku itu adalah buku yang ditulis oleh beliau.

Saat bertemu, Heiji tidak langsung membahas inti masalah. Ia mengawali dengan menanyakan kabar –dosen itu baru saja menjalani operasi-. Lalu perlahan percakapan berpindah membahas penyakit dan pengobatan yang dijalani sang dosen. Lalu berpindah ke anaknya yang kuliah di luar negeri. Lalu masuk ke soal buku-buku yang pernah beliau tulis. Heiji menyimak setiap cerita dosennya dengan penuh perhatian. Perlahan-lahan ia menggiring dosen tersebut untuk membahas satu tema di salah satu bab bukunya. Tepat ketika sampai pada titik yang dimaksud, Heiji pun mengutarakan pendapatnya terkait masalah itu. Menit-menit berikutnya dihabiskan hanya untuk membahas satu tema. Terakhir, Heiji menyatakan ketertarikannya dan meminta pertimbangan sang dosen untuk mengganti judul awal. Usulan itu langsung disetujui. 

Heiji pun pamit pulang sambil melayang. Maksudnya, langkah kakinya lebih ringan begitu keluar dari ruangan sang dosen. Katanya, seperti ada batu besar yang baru saja terangkat dari kepalanya. Dari sekian mahasiswa bimbingan sang dosen, hanya Heiji yang berhasil mengubah keputusan si “yang maha kuasa”. Itulah pentingnya berbasa-basi dan menyimak orang lain. Bagi orangtua, tidak ada yang lebih menyenangkan dari perhatian orang lain akan cerita mereka. Mereka senang didengarkan. Setiap orang memang senang didengarkan, tapi bagi orang tua, itu adalah perhatian yang sangat berharga. Jika Heiji menemui dosennya dan langsung to the point : “Permisi prof, maaf saya mau ganti judul. Judul ini tidak menarik buat saya”, besar kemungkinan nasibnya akan berakhir sama seperti teman-temannya yang lain.

Bertahun-tahun saya hidup berdua dengan nenek. Selama masa itu saya menyadari bahwa yang membuat nenek merasa lebih baik meski sakit-sakitan ada dua : bila ada yang menanyakan kabarnya dan mendengar keluhannya. 

Pada situasi yang berbeda, ibu punya cara basa-basi yang cukup merepotkan. Ibu aktif ikut berbagai arisan. Bermacam-macam kategori arisan mulai dari arisan rekan seprofesi, arisan donator masjid, arisan sesama pengajian, arisan sesama alumni sekolah dan kategori lain yang entah apa lagi namanya. Dalam sebulan ibu bisa menghadiri enam sampai delapan acara arisan. Hidangan yang disajikan dalam arisan umumnya berupa kue basah, kue jajanan atau yang manis-manis dan dilengkapi dengan minuman seperti teh atau sirup. Setiap kali dapat giliran, bukannya menyiapkan hidangan yang simple semacam itu, ibu malah rutin memasak menu utama.

Hidangannya berganti-ganti mulai dari coto, sop konro, mie ayam, sampai makanan khas lebaran yang lengkap seperti ketupat, buras, ayam goreng, ayam kari, perkedel, acar, sayur sup dan kawanannya. Lalu ditambah lagi hidangan penutup seperti pudding atau makanan yang manis-manis. Menu arisan inilah yang membuat saya sering melayangkan protes ke ibu. “Oh ibuuu, bisakah kita membuat hidangan yang simple saja ? Hidangan semacam ini butuh tenaga ekstra. Jangan menyusahkan diri sendiri.”, Begitu selalu protes saya, yang juga selalu tidak diindahkan. 

Kebiasaan ibu juga setiap kali mengadakan arisan di rumah adalah rutin memanggil kerabat untuk datang membantu menyiapkan makanan. Kerabat juga tidak datang sendirian, mereka membawa kurcacinya masing-masing. Pasukan Ponakan yang tidak bisa diam di tempat. Seketika rumah yang biasanya tenang, damai dan membosankan berubah menjadi ribut, ceria dan berantakan. Malamnya saya langsung tepar begitu piring terakhir selesai dicuci. Andai hidangannya simple kita tak perlu secapek ini, tidak perlu manggil orang untuk bantu masak, begitu pikir saya. Tapi jawaban ibu kemudian membuat saya berhenti komentar.

“Hanya dengan cara ini keluarga besar kita bisa ngumpul lagi”, kata ibu 

Kupikir-pikir, memang sih, saat arisan keluarga ibu yang lain akan terpusat di rumah. Biasanya arisan dihadiri rekan kerja ibu yang tidak lebih dari sepuluh orang, sebelas ditambah ustad yang mengisi ceramah. Anggota arisannya cuma segitu tapi kerabat yang datang bantu masak jauh lebih banyak, apalagi kalau ditambah rombongan kurcaci yang jumlahnya mencapai belasan ekor. Selain lebaran atau pesta pernikahan, memang hanya arisan yang mengumpulkan kembali keluarga besar kami. Rupanya ibu bersusah payah membuat menu yang bikin repot demi agar keluarganya bisa sering-sering kumpul bersama.

Saat memasak, para tante berkumpul di dapur. Mereka bertukar cerita sambil memotong daging dan sayur. Saya dan sepupu ngumpul di ruang makan membuat pudding. Di ruang tengah para kurcaci bermain dengan sesamanya. Sementara di teras, para lelaki larut dalam perbincangan santai sambil minum teh. Tidak berhenti sampai di situ. Setelah para tamu pulang, ibu akan menelpon kerabat yang belum hadir untuk makan malam di rumah. Selepas shalat maghrib, rumah sudah penuh oleh kerabat. Mereka yang sudah pisah pun duduk bersama dalam lingkaran, makan bersama dan tertawa bersama. Basa-basi ibu memang merepotkan, tapi itu dilakukan demi menyambung silaturahmi antar keluarga. 

Basa-basi untuk menarik perhatian orang bukan keahlian saya. Itu keahlian yang dimiliki orang-orang ekstrover. Tapi kupikir, jika kita sedikit berusaha, mungkin kita bisa menjadi pribadi yang lebih menyenangkan bagi orang lain.
27 June 2014

Ramadhan, Nasi Goreng dan Kepala Suku

Ingatan akan orang yang pernah membersamai kita seringkali tertelan oleh kesibukan sehari-hari. Ingatan itu baru muncul ketika ada momen yang memancingnya. Seperti hari ini. Saya baru tiba di kos. Baru mau masuk kamar ketika teman kos mencegat di depan pintu dan tanya dimana nantinya saya buka puasa pertama ? Dia mengajak penghuni yang tidak pulang kampung untuk  buka bersama di kos. Biar rame, katanya. Saya menggeleng tidak tahu. Memang belum ada rencana dimana akan buka puasa. Mungkin bareng sepupu, mungkin dengan teman kampus, mungkin dengan teman kos atau mungkin buka puasa sendiri di jalan. Tergantung situasi nanti. 

Ramadhan tinggal hitungan jam. Dan saya teringat lagi dengan para penghuni kos yang sebelumnya saya tinggali. Pondok Istiqomah namanya. Satu demi satu mereka menyebar ke berbagai daerah. Pondok itu menyimpan ingatan tersendiri di laci kepala saya. Yang paling teringat adalah Misi Penghematan Ekstrim yang dijalankan berdua oleh saya dan “kepala suku”. Saat itu masa-masa ‘paceklik’. Agar tetap survive sampai bulan berikutnya, nyaris dua minggu kami hanya makan nasi dan sambal botol. Kami patungan membeli sebotol bumbu nasi goreng untuk persediaan beberapa hari. Di rumah, nasi yang sudah matang kemudian diolah menjadi nasi goreng dengan bumbu botol tadi. Lalu dimakan tanpa lauk, hanya tambahan rasa pedas dari sambal botol. Selama berhari-hari, siang dan malam kami makan itu terus. Kadang malah sebungkus mie instan dimakan berdua. Hasilnya luar biasa, saya bisa menghemat sampai lima puluh persen. Tapi gara-gara itu juga, selama beberapa waktu saya tidak menyentuh nasi goreng. Eneg rasanya. Terharu juga kalau diingat lagi. Tapi disitulah momen yang kurasa paling berkesan. 

Walaupun terpisah, tapi pernah bertemu di aliran sungai yang sama. Bukankah itu sudah cukup ? Kata-kata yang diambil dari buku ini selalu menjadi penghibur bagi saya setiap kali ada yang pergi. Ketika kos semakin sepi karena hanya tersisa empat orang, dia selalu menjadi imam shalat. Karena itu dia dipanggil kepala suku. Kamarnya juga sering jadi tempat nongkrong, tempat sahur dan berbuka, dan tempat mengungsi jika pertengahan hari kamar saya berubah jadi oven dadakan karena terpanggang matahari. Terakhir saya dapat kabar kalau dia bekerja di Bogor, dekat kampus IPB. 

Dia berani keluar dari zona nyaman. Berjuang, jatuh, lalu berjuang lagi. Mendatangi tempat-tempat asing, bekerja keras, hidup sendirian, jauh dari kerabat dan orang-orang dekat. Saya tidak tahu apa bisa bertahan bila berada di posisinya. Ustadz Abu ‘Umar Basyir menulis dalam dalam bukunya, Sandiwara Langit, bahwa orang yang bekerja keras memang belum tentu mendapat rezeki berlimpah. Tapi Allah menyukai orang-orang yang bekerja dan berusaha lebih keras dibanding yang lain. 

Untuk kepala suku Istiqomers, berusahalah yang terbaik. Jangan lupa untuk sesekali memberi kabar dari sana. Semoga Allah selalu melindungi dan menguatkanmu di mana pun berada. Salam Ultraman :P
25 June 2014

Gara-gara Sinetron

Salah satu novel Asma Nadia diangkat ke layar kaca dan menjadi tontonan yang saat ini digemari banyak orang. Saya belum baca novelnya, juga tidak mengikuti serialnya. Tapi waktu nginap di rumah sepupu, saya ikut menemaninya nonton. Berhubung tidak paham jalan cerita dan berhubung sepupu sudah baca novelnya jauh sebelum difilmkan, maka dia pun menjadi narasumber. Dialog pemain di TV bersaing dengan tanya jawab antara saya dan sepupu. Mana pemeran utamanya ? Itu siapa ? Masalah keluarganya apa ? Kalau itu siapa ? Cerita di TV sejalan dengan novel tidak ? Akhirnya bagaimana ? Lama-lama sepupu terganggu juga dengan rentetan pertanyaan itu. Jadi saya tutup mulut dan ngikut saja cerita di TV. Ketika scene menampilkan si suami yang berusaha menutupi hubungannya dengan seorang bawahan di kantor dari istrinya, saya melirik sepupu. Menunggu komentar. Biasanya kalau melihat hal-hal semacam itu akan ada komentar sinis yang ikut. 

“Laki-laki memang tidak ada yang baik”

Tuh, kan. Apa saya bilang ? Dia selalu sinis kalau bicara tentang pernikahan dan problematikanya. Karena itu saya menjulukinya Ratu Sinis Pernikahan. Mungkin karena dia sering ketemu masalah serupa di dunia nyata. Mulai dari rekan-rekannya, sahabatnya sampai mutarabbinya. Kupikir, boleh jadi karena itu pula dia masih sendiri. Maksudku, menikah memang persoalan takdir. Tapi pemikirannya itu punya andil besar kenapa sampai sekarang dia betah seperti itu. 

“Bodoh sekali orang yang menikah dan mencari bahagianya saja”

“Orang menikah memang bukan cari sengsara, kak”, celutuk saya 

Ups,dia mendelik. Menatap saya seperti melihat seorang amatiran.

“Dengar nah, menikah itu tidak semata-mata blablabla. Menikah tanpa persiapan itu sama saja dengan blablablabla. Masalah akan bermunculan blablabla. Lalu blablabla…dan blablabla hingga blablabla dan akhirnya blablabla…” 

Alamak, saya cuma ngomong satu kalimat, dia balas satu paragraf.

“Kau belum lihat apa yang kulihat. Jadi tidak akan paham” 

Angkat tangan deh. Saya tidak mau bicara lebih jauh tentang hal yang tak pernah saya alami. Kita tidak akan memahami sesuatu hingga mengalaminya sendiri. Kurasa sepupuku pun sama saja. Melihat atau menyaksikan itu satu hal, mengalami sendiri adalah hal yang lain. Kita sering melihat kematian, tapi kita tak pernah tahu seperti apa rasanya sampai kematian itu datang. Yang kita alami hanyalah dekat dengan kematian entah karena sakit, kecelakaan, jatuh atau lainnya. Begitu pun pernikahan, kita hanya menyaksikan dari luar. Menjadi penonton atau pengamat dan belajar dari pengalaman orang lain. Tapi kita tidak akan paham hingga menjalaninya sendiri. Karenanya tak perlu menghabiskan waktu terus menerus membicarakan pernikahan, mengira-ngira kehidupan di dalamnya, lalu menulisnya berulang-ulang sementara kita sendiri belum mengalaminya.

Berdiskusi karena ingin belajar atau mencari solusi memang perlu, tapi yang banyak terjadi hanya pembicaraan tak terarah dan tak punya ujung pangkal. Kenapa ? Karena mereka belum punya pengalaman menjalani kehidupan semacam itu. Jadi yang muncul hanya dugaan. Kalau pun sudah menjalaninya lalu mengalami masalah, cara mencari solusi bukan dengan curhat panjang lebar di blog, update status di facebook atau berkicau di twitter. Tapi cari orang yang dipercaya bisa memberi solusi baik itu orangtua, murabbi, atau sahabat sendiri lalu diskusikan langsung dengannya. 

Murabbi saya sering menekankan hal ini pada kami. Masalah rumah tangga adalah masalah yang sangat pribadi. Membicarakannya harus hati-hati. Banyak hal yang tak seharusnya diketahui orang lain. Banyak hal yang tidak seharusnya keluar dari pintu rumah. Cukup orang dalam saja yang tahu dan selesaikan sendiri. Bukankan itu salah satu risiko pernikahan ? Menahan diri dari banyak hal demi menjaga kehormatan keluarga.

Sejak menikah, murabbi saya pantang meminta apapun dari orangtuanya. Bagaimana pun sulitnya keadaan, ia menutup rapat mulutnya dari mengeluh dan menahan tangannya dari meminta meski orangtuanya bisa dengan mudah memberi bantuan. Hal itu dilakukan demi menjaga harga diri suaminya. Berbusa-busa curhat di blog, facebook atau twitter dengan niat mencari solusi hanya akan menambah rumitnya masalah. Tujuan awalnya memang baik, tapi cara menyelesaikannya justru dengan menambah masalah baru. 

Seperti halnya sepupu, saya juga sering sinis memandang pernikahan karena yang lebih banyak muncul di kepala adalah seabrek masalahnya. Yang sering saya saksikan adalah orang-orang yang memilih berpisah. Yang sering saya lihat adalah mereka yang marah dan kecewa. Tapi itu bukan berarti bahwa semua laki-laki tidak ada yang baik. Maksudku, baik dan buruk. Hitam dan putih. Orang-orang hanya condong ke salah satunya. Tidak sepenuhnya di kiri atau di kanan. Bila menyangkut keikhlasan, dikatakan bahwa wanita itu lebih besar keikhlasannya dari kaum laki-laki. Di salah satu edisi majalah Qiblati, Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi berkata bahwa kita tidak pernah menemukan dalam hati wanita kecuali satu kamar yang hanya dimasuki satu orang laki-laki. Sementara hati laki-laki seperti hotel yang dipenuhi oleh berbagai kamar. Mungkin ini yang membuat sepupu berpendapat seperti tadi. Dan ini pula yang menjadi inti masalah sang istri dalam novel Asma Nadia. Juga alasan mengapa beberapa orang di sekitar saya memutuskan berpisah. 

Oke deh, tulisan ini sudah lebay stadium empat. Beginilah efek dari menonton sinetron. Akhirulkalam, mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan di hati.
 
;