Saat
seseorang bertanya, “Bagaimana kabarmu ?” atau “Apa kabar ?”, orang itu belum
tentu ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya. Tapi sudah paten bahwa kalimat
itu adalah kunci untuk membuka percakapan. Pun kita, tak selalu jujur ketika menjawab,
sebab jika dilakukan, dapat memutus percakapan yang baru akan dimulai. Jujur
itu baik, tapi bukan berarti kita harus mengatakan segala hal. Jika kita
menjawab, “Oh, kabarku buruk. Sakitku kambuh lagi. Tagihan listrik nunggak dua
bulan. Biaya kontrakan naik. Anakku bermasalah di sekolah. Dan blablabla”, bisa
dipastikan percakapan akan terhenti saat itu juga. Jadi kita pun memasang senyum
dan menjawab, “Kabarku baik”. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa memberi
dan menerima kebohongan semacam itu.
Kata
orang basa-basi itu menyebalkan. Tentu saja, jika dilakuan secara berlebihan
dan di waktu yang tidak tepat. Tapi sesungguhnya ada manfaat di balik basa-basi
itu. Kita dapat kenalan baru setelah berbasa-basi. Kita dapat informasi baru
dari basa-basi. Usaha seseorang untuk mengambil hati orang lain pun lewat
basa-basi. Di jurusan sepupu saya, Heiji, ada seorang dosen yang dikenal
sebagai penjelmaaan Hitler. Jika sudah bilang A, walau semua manusia berubah
jadi zombie tidak akan berubah jadi B. Saking sulitnya mengubah keputusan
beliau, beberapa mahasiswa memberinya julukan “yang maha kuasa”. Malangnya
nasib Heiji dan beberapa temannya, dosen tersebut terpilih jadi pembimbing mereka
saat menyusun tesis.
Setelah
konsultasi judul, semua mahasiswa bimbingan beliau mengeluhkan hal yang sama.
Dosen itu memerintahkan -bukan mengusulkan- judul yang menurut mereka menyulitkan.
Bukannya mereka tidak bisa, tapi waktu yang dibutuhkan untuk penelitian jadi
lebih lama. Layaknya mahasiswa, mereka mengejar target wisuda beberapa bulan ke
depan agar tidak lagi membayar uang semester. Akhirnya setiap mahasiswa melakukan
berbagai usaha agar sang dosen berkenan mengganti judul mereka. Dari level
memelas hingga berdebat. Dan belum ada yang berhasil. Suatu ketika, giliran
Heiji tiba.
Heiji
yang saya kenal punya keterampilan komunikasi yang cemerlang. Saya menonton
aksinya menyelesaikan persoalan di berbagai kesempatan. Peristiwa yang paling
teringat terjadi sekitar dua tahun lalu. Suatu malam semua saudara ibu
berkumpul di rumah Heiji. Dalam dunia persilatan, Ibu Heiji adalah kakak
pertama, sementara ibu saya adik kedua (halah). Sudah menjadi kebiasaan
keluarga besar kami ketika ada masalah akan dimusyawarahkan bersama. Tempat
musyawarah disesuaikan dengan siapa yang bermasalah. Malam itu musyawarah
dilakukan di rumah Heiji. Ada masalah pelik yang dialami keluarga kakak
laki-laki Heiji.
Biasanya,
musyawarah hanya melibatkan para tetua dan orang yang bermasalah. Sementara
sisanya, berkumpul di kamar atau ruang tengah. Tapi malam itu sedikit berbeda
dari biasanya. Ayah, ibu, om dan tante serta para sepupu berkumpul dalam lingkaran
besar di ruang tengah. Sebagian ponakan diungsikan ke tempat lain. Dua orang sepupu
ditugaskan menjaga mereka. Atmosfir di ruang tengah mulai tidak nyaman. Pertanda
ketegangan makin meningkat. Baru beberapa menit musyawarah berjalan,
suara-suara mulai meninggi. Kakak Heiji sebagai “terdakwa” yang awalnya diam
saja mendengar kritik tajam ayah dan saudaranya, mulai menunjukkan penolakan. Suasana
tegang. Ibu yang biasanya tak tahan kalau tak bicara, kini memilih diam. Hanya
sesekali menghela napas panjang. Ayah juga bersikap sama, diam dan
mendengarkan.
Ketegangan
mencapai puncaknya ketika tak ada pihak yang mau menurunkan tekanan suara
antara kakak dan ayah Heiji. Teriakan berhamburan di udara. Kulihat salah satu
sepupu mengatupkan tangan di kedua telinga anaknya. Di saat genting itu, Heiji
yang sedari awal diam saja, akhirnya masuk ke arena sambil merentangkan
tangannya, seperti wasit yang berusaha memisahkan dua petinju. Betapa sulit
menemukan titik temu di antara keduanya, hingga kemudian Heiji turun tangan. Kemampuan
diplomasinya langsung bekerja. Terlihat dari menurunnya intonasi suara di kedua
belah pihak. Heiji pun menyampaikan pendapatnya. Mengusulkan dua solusi serta menjabarkan
konsekuensi masing-masing pilihan. Menurutku inilah yang membedakan antara
Heiji dan ayahnya. Ayahnya memaksakan keinginan, Heiji menyodorkan pilihan.
Usulan Heiji diterima baik oleh kakaknya dan semua orang. Malam itu masalah ditutup
dengan sempurna berkat bantuan Heiji.
Konflik
muncul karena perbedaan. Karena satu pihak tidak memahami perbedaan situasi di pihak
lain. Diplomasi ada untuk memahamkan keduanya bahwa mereka berbeda. Mereka
punya pikiran yang berbeda. Mereka berada dalam situasi yang berbeda. Karena
itu dalam diplomasi penting untuk mencari kata-kata yang tepat agar apa yang
dirasakan setiap pihak sampai kepada pihak lainnya. Jika hal itu tercapai, maka
setiap pihak akan memecahkan masalah dengan mempertimbangan kondisi pihak
lain.
Dalam
sistem hirarki keluarga, anak-anak tetaplah anak-anak, yang pendapatnya belum
layak didengarkan. Ketika anak mampu membuat orangtuanya menyimak pendapat
mereka dengan cara yang baik, itu bisa disebut prestasi. Sebab menjadi langkah
awal orangtua mulai memperhitungkan pandangan kita akan suatu masalah. Bukan gelar
akademik yang dibutuhkan, tetapi kemampuan komunikasi kita dengan orang-orang
terdekat, terlebih bila mereka memiliki sifat yang keras. Saya pernah mengalami
transisi semacam itu.
Suatu
malam ayah dan ibu bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan. Tapi karena
suatu hal, ayah terlibat silang pendapat dengan adik saya. Adik saya adalah
remaja yang baru tumbuh. Remaja di usia itu penuh dengan pemberontakan dan penolakan.
Tidak ada yang membuat pikiran lebih keriting bagi orangtua selain anak di usia
remaja. Tapi dalam masalah itu, jelas adik saya salah. Masalahnya adalah
bagaimana dia mengakui kesalahannya tanpa merasa terpaksa. Saya berusaha tidak memihak
salah satunya.
Saat
itu mereka duduk berdampingan di ruang tamu. Sementara saya duduk dua meter di
depan mereka berdua dan bicara tanpa henti. Menyampaikan pendapat saya,
mengkritik keduanya dan mengusulkan solusi. Selepas bicara, ada jeda yang panjang.
Di keheningan yang cukup lama itu, saya tersadar, astaga, saya baru saja memarahi
ayah. Saat mengangkat wajah, betapa terkejutnya saya melihat mata ayah
berkaca-kaca. Oh nooo…bagaimana ini ??? Tapi detik berikutnya membuat saya
bernapas lega, ayah tersenyum. Senyum yang sulit digambarkan. Khas orang yang
baru menyadari sesuatu yang penting. Tepat di momen itu ibu keluar dari kamar
dan memberi isyarat untuk segera berangkat. Saya masih mematung di tempat
duduk. Sebelum melangkah keluar, di ambang pintu ayah berbalik,
“Ayah-ibu
berangkat dulu”, katanya tersenyum
Ada
yang berubah sejak saat itu. Ayah mulai mendengarkan pendapat saya. Bila ingin
membeli peralatan baru, beliau meminta pendapat saya. Bila membahas keadaan dua
adik saya di sekolah, beliau meminta pendapat saya. Sampai berita politik di
TV, ayah rutin bertanya, “Bagaimana menurutmu ?”
Ehm,
ngomong-ngomong tadi saya mau nulis apa ya? *gagal fokus.
Oke,
kembali ke Heiji. Tiba gilirannya bergerilya membujuk sang dosen. Alasannya cuma
satu, dia tidak tertarik dengan tema yang diberikan. Ada masalah lain yang menurutnya
lebih menarik untuk diteliti. Beruntungnya, dosen itu pernah mengulas tema
tersebut dalam bukunya. Suatu pagi yang cerah, Heiji siap menemui sang dosen
dengan membawa setumpuk buku. Beberapa di antara buku itu adalah buku yang
ditulis oleh beliau.
Saat
bertemu, Heiji tidak langsung membahas inti masalah. Ia mengawali dengan
menanyakan kabar –dosen itu baru saja menjalani operasi-. Lalu perlahan
percakapan berpindah membahas penyakit dan pengobatan yang dijalani sang dosen.
Lalu berpindah ke anaknya yang kuliah di luar negeri. Lalu masuk ke soal
buku-buku yang pernah beliau tulis. Heiji menyimak setiap cerita dosennya
dengan penuh perhatian. Perlahan-lahan ia menggiring dosen tersebut untuk
membahas satu tema di salah satu bab bukunya. Tepat ketika sampai pada titik
yang dimaksud, Heiji pun mengutarakan pendapatnya terkait masalah itu. Menit-menit
berikutnya dihabiskan hanya untuk membahas satu tema. Terakhir, Heiji
menyatakan ketertarikannya dan meminta pertimbangan sang dosen untuk mengganti
judul awal. Usulan itu langsung disetujui.
Heiji
pun pamit pulang sambil melayang. Maksudnya, langkah kakinya lebih ringan
begitu keluar dari ruangan sang dosen. Katanya, seperti ada batu besar yang
baru saja terangkat dari kepalanya. Dari sekian mahasiswa bimbingan sang dosen,
hanya Heiji yang berhasil mengubah keputusan si “yang maha kuasa”. Itulah
pentingnya berbasa-basi dan menyimak orang lain. Bagi orangtua, tidak ada yang
lebih menyenangkan dari perhatian orang lain akan cerita mereka. Mereka senang
didengarkan. Setiap orang memang senang didengarkan, tapi bagi orang tua, itu
adalah perhatian yang sangat berharga. Jika Heiji menemui dosennya dan langsung
to the point : “Permisi prof, maaf saya mau ganti judul. Judul ini tidak
menarik buat saya”, besar kemungkinan nasibnya akan berakhir sama seperti
teman-temannya yang lain.
Bertahun-tahun
saya hidup berdua dengan nenek. Selama masa itu saya menyadari bahwa yang
membuat nenek merasa lebih baik meski sakit-sakitan ada dua : bila ada yang
menanyakan kabarnya dan mendengar keluhannya.
Pada
situasi yang berbeda, ibu punya cara basa-basi yang cukup merepotkan. Ibu aktif
ikut berbagai arisan. Bermacam-macam kategori arisan mulai dari arisan rekan
seprofesi, arisan donator masjid, arisan sesama pengajian, arisan sesama alumni
sekolah dan kategori lain yang entah apa lagi namanya. Dalam sebulan ibu bisa
menghadiri enam sampai delapan acara arisan. Hidangan yang disajikan dalam
arisan umumnya berupa kue basah, kue jajanan atau yang manis-manis dan dilengkapi
dengan minuman seperti teh atau sirup. Setiap kali dapat giliran, bukannya
menyiapkan hidangan yang simple semacam itu, ibu malah rutin memasak menu utama.
Hidangannya
berganti-ganti mulai dari coto, sop konro, mie ayam, sampai makanan khas
lebaran yang lengkap seperti ketupat, buras, ayam goreng, ayam kari, perkedel, acar,
sayur sup dan kawanannya. Lalu ditambah lagi hidangan penutup seperti pudding
atau makanan yang manis-manis. Menu arisan inilah yang membuat saya sering melayangkan
protes ke ibu. “Oh ibuuu, bisakah kita membuat hidangan yang simple saja ? Hidangan
semacam ini butuh tenaga ekstra. Jangan menyusahkan diri sendiri.”, Begitu selalu
protes saya, yang juga selalu tidak diindahkan.
Kebiasaan
ibu juga setiap kali mengadakan arisan di rumah adalah rutin memanggil kerabat
untuk datang membantu menyiapkan makanan. Kerabat juga tidak datang sendirian,
mereka membawa kurcacinya masing-masing. Pasukan Ponakan yang tidak bisa diam
di tempat. Seketika rumah yang biasanya tenang, damai dan membosankan berubah
menjadi ribut, ceria dan berantakan. Malamnya saya langsung tepar begitu piring
terakhir selesai dicuci. Andai hidangannya simple kita tak perlu secapek ini, tidak
perlu manggil orang untuk bantu masak, begitu pikir saya. Tapi jawaban ibu
kemudian membuat saya berhenti komentar.
“Hanya
dengan cara ini keluarga besar kita bisa ngumpul lagi”, kata ibu
Kupikir-pikir,
memang sih, saat arisan keluarga ibu yang lain akan terpusat di rumah. Biasanya
arisan dihadiri rekan kerja ibu yang tidak lebih dari sepuluh orang, sebelas ditambah
ustad yang mengisi ceramah. Anggota arisannya cuma segitu tapi kerabat yang datang
bantu masak jauh lebih banyak, apalagi kalau ditambah rombongan kurcaci yang jumlahnya
mencapai belasan ekor. Selain lebaran atau pesta pernikahan, memang hanya
arisan yang mengumpulkan kembali keluarga besar kami. Rupanya ibu bersusah
payah membuat menu yang bikin repot demi agar keluarganya bisa sering-sering
kumpul bersama.
Saat
memasak, para tante berkumpul di dapur. Mereka bertukar cerita sambil memotong
daging dan sayur. Saya dan sepupu ngumpul di ruang makan membuat pudding. Di ruang
tengah para kurcaci bermain dengan sesamanya. Sementara di teras, para lelaki larut
dalam perbincangan santai sambil minum teh. Tidak berhenti sampai di situ. Setelah
para tamu pulang, ibu akan menelpon kerabat yang belum hadir untuk makan malam
di rumah. Selepas shalat maghrib, rumah sudah penuh oleh kerabat. Mereka yang
sudah pisah pun duduk bersama dalam lingkaran, makan bersama dan tertawa
bersama. Basa-basi ibu memang merepotkan, tapi itu dilakukan demi menyambung silaturahmi
antar keluarga.
Basa-basi
untuk menarik perhatian orang bukan keahlian saya. Itu keahlian yang dimiliki
orang-orang ekstrover. Tapi kupikir, jika kita sedikit berusaha, mungkin kita
bisa menjadi pribadi yang lebih menyenangkan bagi orang lain.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact