09 September 2014

Pidato Kelulusan

Dan, sekarang pekerjaan dimulai 
Dan sekarang kebahagiaan dimulai
Sekarang tahun-tahun persiapan 
Pelajaran yang membosankan
Dan pembelajaran yang menarik dijelaskan

Kumpulan kata-kata dan
Lilitan ide-ide besar dan kecil 
Mulai tersusun
Dan pagi ini kau bisa melihat 
Sebagian kecil dari
Rencana besar masa depanmu

Jam-jam lamaran pekerjaanmu,
Harapan-harapan orangtuamu, 
Dan tugas-tugas dari gurumu
Membawa saat ini 
Ke dalam tanganmu

Hari ini, kalian adalah putri-putri dan pangeran-pangeran
Pagi hari 
Nyonya-nyonya dan tuan-tuan musim panas
Kalian telah memperlihatkan 
Nilai-nilai kebaikan yang paling mengagumkan
Karena hari ini saat kalian duduk 
Terbalut dalam jubah-jubah kerja keras
Secara harafiah ataupun kiasan, 
Aku melihat kalian dipenuhi keberanian
Karena meskipun kalian semua 
Menjadi cemerlang, cerdik secara intelektual,
Kalian harus menggunakan keberanian 
Untuk sampai pada saat ini

Kalian mungkin saja,
Seperti yang digambarkan tentang kalian,
Istimewa, yang tentu saja berarti 
Kaya, atau terlahir dengan perjuangan memenuhi kebutuhan
Dalam kedua kasus, kalian harus menumbuhkan 
Keberanian luar biasa
Untuk menemukan saat ini

Dari semua perlengkapanmu, usia muda,
Kecantikan, kecerdasan, kebaikan hati, 
Belas kasih,
Keberanian adalah pencapaian terbesarmu

Karena kau, tanpa itu, tidak bisa melakukan
kebaikan lain dengan konsistensi. 
Sekarang kau telah menunjukkan
Bahwa kau mampu untuk membuat 
Kebaikan yang paling menakjubkan itu  

Kau harus tanyakan pada diri sendiri,

Apa yang akan kau lakukan dengan itu.
Yakinlah bahwa pertanyaan itu 
Ada di dalam pikiran,
Leluhurmu, orangtuamu dan orang asing 
Yang tak mengenal namamu,
Teman muridmu yang lain yang 
Tahun depan, atau tahun-tahun yang akan datang
Akan duduk, berjubah dan bertopi wisuda 
Di tempat kau duduk sekarang.
Dan akan bertanya 
Apa yang akan kau lakukan ?
Ada satu pepatah afrika 
Yang sesuai dengan situasimu.
Yaitu, “masalah bagi pencuri adalah 
bukan bagaimana mencuri terompet kepala suku,
Tapi di mana bisa memainkannya.”

Apakah kau dipersiapkan untuk bekerja
Untuk menjadikan Negara ini, Negara kita 
Lebih dari hari ini ?

Karena itulah pekerjaan yang harus dilakukan
Itulah alasan kau sudah 
Bekerja keras, pengorbanan
Energi dan waktumu, 
Uang orangtuamu
Atau pemerintah yang telah membayarimu 
Agar kau bisa mengubah
Negara dan duniamu.

Lihatlah di luar topimu yang bertali
Dan kalian akan melihat ketidakadilan 
Di ujung jari-jarimu
Kau akan menemukan kekejaman 
Kebencian irasional, kepedihan sekeras batu
Dan kesepian yang menakutkan. 
Itulah pekerjaanmu.
Membuat suatu perbedaan 
Menggunakan gelar yang
Telah kau dapatkan untuk meningkatkan 
Kebaikan di duniamu

Kalian, semua orang,
Berharap agar kalian 
adalah orang-orang yang melakukan hal itu

Tugas ini begitu besar,
Kebutuhannya luar biasa besar, 
namun kalian bisa berlega hati
karena kalian tahu bahwa kalian telah menunjukkan 
keberanian.
Dan simpanlah dalam pikiran 
Satu orang, dengan tujuan baik,
Bisa, mengangkat mayoritas. 
Karena hidup adalah anugerah kita yang paling berharga
Dan karena kita hanya diberi hidup sekali, 
Maka marilah jalani hidup yang tak akan kita sesali
Tahun-tahun kesia-siaan dan tanpa perubahan

Kau akan terkejut bahwa pada waktunya
Hari-hari penelitian yang berpikiran tunggal 
Dan malam-malam kelumpuhan dan kebuntuan
Akan terlupakan.

Kau akan terkejut bahwa tahun-tahun
Dengan malam-malam tanpa tidur dan bulan-bulan 
Dengan hari-hari yang tidak mudah
Akan bergulir menuju 
Suatu kejadian yang disebut “masa lalu yang indah”,
dan kau tidak akan bisa 
mengunjungi hari-hari itu lagi 
bahkan dengan sebuah undangan 
Karena seperti itulah kau harus menghadapi masa sekarang 
Kalian telah disiapkan
Keluarlah dan ubahlah dunia kalian

Selamat datang di hari kelulusan

Selamat…. 

*Tulisan Maya Angelou dalam buku “Letter to My Daughter”
08 September 2014

Memungut Semangat

Take me away upon a plateau
Far, far away from fears and shadow
Strengthen my heart in times of sorrow
Light the way to bright tomorrows
 
 ~Take Me Away, Globus~

Kata mahasiswa semester akhir, momen paling bahagia ada dua, saat kaki melangkah keluar dari ruang ujian, dan kedua, saat topi wisuda menaungi kepala. Entah yang lain sepakat atau tidak, tapi menurutku, apa yang terasa selepas ujian meja lebih tepat disebut lega ketimbang bahagia. Pun momen wisuda, bagi saya, tak lebih dari sekadar formalitas kelulusan. Pakai toga, datang ke Baruga, duduk berjam-jam, naik ke panggung, foto-foto, salam-salaman dan selesai. 

Saat masih skripsi, selepas ujian meja, saya berdiri di lantai tiga depan jurusan. Cukup lama sampai membuat kaki pegal. Sedang menunggu momen bahagia kata orang. Tapi momen itu tak kunjung datang. Mungkin nanti di Baruga, begitu pikir saya, yang ternyata juga keliru. Duduk di Baruga justru menjadi saat yang paling menekan. Saya duduk di sana, tapi pikiran entah kemana. Setelah ini bagaimana ?, tanya saya pada diri sediri. Setelah ini harus kemana ?

Baruga dipenuhi lautan manusia berpakaian sama. Saling bertukar cerita dengan senyum yang tak henti menghiasi sudut bibir mereka. Mars Universitas Hasanuddin mengalun pelan dari sebelah kiri. Saya menunduk menatap lantai, menyembunyikan kerut di wajah yang sekuat tenaga menahan tangis. Sesosok manusia yang ikut menumpang di planet bumi bersama milyaran manusia lain, berjibaku di tengah kota menjadi yang diperhitungkan. Rasanya seperti terseret arus ke dasar laut yang dalam. Ke tempat yang tak dicapai matahari. Sesak dan gelap. Dalam kegelapan itu, tangan terulur menggapai ke segala arah. Mencari pegangan. Lambat-laut, ada yang datang menyambut. Sesosok makhluk bernama sunyi. Di kedalaman yang kosong itu, kesunyian adalah satu-satunya suara yang dapat kau dengar. Perasaan semacam ini sangat jarang muncul. Tapi sekali muncul, saya tahu tidak akan mampu mengatasinya. 

Dibanding dulu, sekarang sedikit lebih baik. Tekanan lebih berat, kejutan muncul silih berganti, tapi sebanding dengan kekuatan yang ada. Kekuatan yang sepertinya dapat dipungut bahkan di tepi jalan. Suatu pagi, saya memacu motor dengan isi kepala yang didominasi berbagai rencana penelitian. Teman yang lain sudah berlomba mengajukan judul ke pembimbing. Sementara saya masih diliputi kebimbangan. Hitung sana hitung sini. Mikir ini mikir itu. Setelah berbelok di perempatan jalan, saya melewati barisan baliho berisi iklan rokok. Iklan rokok, biar begitu, sering memuat kutipan keren. “Berhenti mengukur masalah, mulailah membangun langkah”, begitu tertulis di sana. Kalimat yang biasa. Tapi saya tertegun. Rasanya baliho itu sedang mengajak bicara. Andai orang lain, siapa pun dia, yang mengucapkan kata-kata itu, efeknya tidak akan seberapa.  Kupikir, kata-kata itu hanya bisa masuk jika berbentuk tulisan, bukan ucapan. Ia harus dibaca, bukan didengar.

Jika membaca buku, saya sering berlama-lama di kalimat tertentu. Mungkin semua orang juga begitu. Menyerap dan memaknainya dengan cara sendiri. Hingga sampai pada apakah saya setuju atau tidak dengan kalimat itu. Menerima atau menolaknya. Cara semacam ini akan menuntun pada sebuah kesadaran. Lalu berujung pada pembentukan pola pikir dan sikap yang akan saya ambil. Ada lima baliho berdiri sejajar dan semuanya menuliskan hal yang sama. Saya sadar, inti masalah sebenarnya bukan di luar, tapi ada dalam diri sendiri. Tak peduli sesederhana atau serumit apapun suatu masalah, semuanya ditentukan oleh langkah yang kita bangun. Terlalu banyak pertimbangan atau perhitungan hanya membuat kita jalan di tempat. Tentu saja berpikir atau menimbang tetap diperlukan. Tapi harus ada keberanian untuk memulai sesuatu. Klasik bukan ? Para motivator juga sudah ribuan kali mengatakan hal serupa. Tapi ternyata, kalimat dari iklan rokoklah yang mampu menembus kesadaran itu. Jadi, lakukan saja, kata saya pada diri sendiri. Pelan-pelan kebimbangan itu memudar. Pelan-pelan ada kekuatan yang menyusup masuk lewat sebaris iklan rokok di pinggir jalan. Pulang ke rumah, kalimat itu saya pindahkan ke white board kamar dan masih tertulis hingga kini. 

Suatu malam, ketika jarum jam menunjuk angka tujuh, saya berempat dengan teman masih mondar-mandir di kampus mengurus administrasi. Saat mengetik pesan di ponsel, saya perhatikan jari-jari tangan pucat dan gemetaran. Ada apa ini ? Tiba-tiba terdengar bunyi perut keroncongan. Membahana di tengah lego-lego yang sepi. Oops, ternyata bunyi itu berasal dari perut saya. Baru ingat kalau sejak pagi yang masuk ke lambung hanya cairan. Pagi teh hangat, siang es teh manis dan sore lagi-lagi es teh manis. Saya belum menyentuh nasi sejak semalam, eh bukan, sejak kemarin. Iya, sejak kemarin belum ada sebutir nasi yang mengisi perut. Emergency, saya benar-benar butuh makan secepatnya. Tapi bagaimana bisa makan sambil mondar-mandir ? Dan lagi pukul tujuh malam kantin kampus sudah tutup semua. Selesai mengetik pesan, ponsel saya taruh di atas map lalu menunduk dengan dahi menempel di meja. Menunggu balasan dan menahan lapar. Malam itu salah satu teman tersangkut urusan tanda tangan. Hal yang sepele sebenarnya, tapi entah kenapa selalu jadi momok di saat-saat genting. Dia bermaksud mendatangi rumah sang dosen tapi takut diusir karena sudah lewat jam tujuh. Dosen juga butuh istirahat. Dia bingung. Buntu. Di tengah kebuntuan itu, tiba-tiba teman yang duduk di samping saya berkata begini,

“Rin, yang wajib kamu lakukan hanya datang ke rumah beliau. Diterima atau tidak, bukan lagi urusanmu. Kita berusaha, itu saja” 

Kata-kata emas. Saya lelah dan kelaparan. Lutut gemetar tak karuan karena seharian naik turun tangga. Perut berdemo tanpa henti. Tapi kata-katanya barusan membuat saya tersenyum. Rasanya seperti dapat asupan dalam bentuk lain. Dengan kepala masih bertumpu di meja, pelan saya meraih dan menepuk pundaknya. Kamu luar biasa!!

Sumber kekuatan bisa berasal dari mana saja. Lewat kitab, lewat tulisan, kata-kata seseorang, atau apa saja. Ada kalimat tertentu, yang dapat menembus hati jika berbentuk tulisan. Masuk lewat mata. Begitupun, ada kalimat yang menembus jiwa jika berbentuk ucapan. Masuk lewat telinga. Saya berharap bisa sering menemukan hal semacam ini nantinya. Sebab setelah ini, dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk menghadapi hari-hari baru. 

Ada yang bilang, kehidupan sebenarnya dimulai saat kau lulus kuliah. Ada yang bilang, hidup sebenarnya adalah saat kau mulai bekerja. Ada yang bilang kehidupan sebenarnya adalah saat kau sudah menikah. Ada pula yang menambahkan, nanti, setelah kau punya anak. Kenapa harus menunggu punya anak lalu dikatakan hidup yang sebenarnya. Manusia sudah hidup sejak jantungnya berdetak, sejak ruh ditiup ke dalam raganya. Mereka hanya berpindah zona seiring berjalannya waktu. Tapi segala yang ia lalui dalam rentang waktu itu adalah sesuatu yang juga akan dihitung. Sekian lama hidup di kampus, sekarang waktunya pindah zona. Waktunya turun gunung. Welcome to the jungle.
29 August 2014

Metafora

Kususun selaksa kepingan
Begitu lama dan melelahkan
Pada keping terakhir kukatakan :
“Ini akan menggenapkan”
Hingga kuperhatikan,
Bentuk itu tak pernah utuh
Sejak awal,
Aku telah menyusun sesuatu yang tak pernah lengkap

Kubangun sebuah rumah 
Yang ingin kusebut rumah impian
Tak lama berselang
Bangunan itu runtuh berserakan
Kubangun kembali
Dan hancur kembali
Pelan kusadari,
Aku telah membangun rumah
Di atas pasir yang bergeser

Bertemu,
Lalu kehilangan pada suatu waktu,
Menemukannya kembali
Dan kehilangan lagi

Berapa banyak waktu harus berlalu,
Dalam keadaan yang terbatas ini ?
Kita terus berjalan,
Dan apa yang kita temukan?
25 August 2014

Lemari Ingatan

All of my memories keep you near
In silent moments
Imagine you'd be here
All of my memories keep you near
The silent whispers, silent tears
 ~Memories, Within Temptation~ 

Kubuka pintu berkarat, di sebuah ruang bernama ingatan. Deritnya mengingatkan, betapa sunyi tempat itu. Kutatap sekeliling, dua puluh lima rak berukuran besar berbaris sejajar. Beragam warna buku mengisi setiap baris. Jika hidup masih berjalan, lemari itu akan terus bertambah. Tak ada yang tahu kapan jumlahnya akan terhenti. Nenekku tutup usia di umur 73 tahun. Tapi lemari ingatannya berhenti di bilangan 71. Dalam rentang dua tahun itu, apa yang mengisi memorinya adalah misteri.

Buku yang awalnya terusun rapi di dalam menjadi acak-acakan. Saat kusuapkan makanan, ia berkata akan menjahitkan pakaian baru untukku. Yang punya pita merah di bagian pinggang. Dalam ingatannya yang terperangkap, aku masih seorang bocah tujuh tahun yang rutin dijahitkan pakaian dan dibawa ke pesta pernikahan. Suatu sore, saat masih berseragam abu-abu, ia pernah berkata bahwa mungkin hidupnya tidak akan sampai pada waktu ketika topi wisuda menudungi kepalaku. Ucapannya terbukti bertahun kemudian. Kini, topi kedua akan kembali menaungi kepalaku.

Dalam ruang bernama ingatan, kita mengambil buku tertentu, membawanya ke ruang terbuka, membacakannya pada manusia selain kita. Tapi, buku yang tak kita perlihatkan, buku yang tetap kita simpan, jauh lebih banyak. Kita tak pernah tahu, jumlah buku yang disimpan seseorang dalam ingatannya.

Dalam buku ingatan, ada lembar bercetak jelas, ada lembar yang samar, nyaris tak terbaca, dan ada yang kosong, seolah tak pernah ada tulisan di sana. Ingatan yang hilang. Sifat alamiah manusia. Mungkin itu patut disyukuri. Sebab, ada situasi ketika lupa membuat hidup lebih mudah dijalani. Dalam kesendiriannya, dalam ingatan yang terperangkap, kurasa nenekku pun begitu. Hidup bersamanya kulewati lebih dari separuh umurku. Ia menempati ruang tersendiri dalam hati dan ingatanku. Kuharap, lembar yang menulis tentangnya akan tercetak jelas hingga waktu berhenti di garis batas.
03 August 2014

Rekreasi Ke Tamammelong

Jika rekreasi tahun lalu kami jauh-jauh menyeberang ke Liang Kareta, maka selepas lebaran tahun ini kami memilih tempat yang dekat dari kota. Namanya Tamammelong. Awalnya saya kira “Taman Melon” yang terpengaruh dialek sehingga menjadi Tamammelong. Tapi kata teman, namanya memang Tamammelong. Jangan tanya artinya, saya tidak tahu. Tapi jadi lebih cocok bila dibanding “Taman Melon”, karena di pantai tidak ada pohon melon. Selayar bukan penghasil melon. Yang ada cuma pohon kelapa sejauh mata memandang. 

Tamammelong dapat dicapai dengan berkendara 20 menit ke arah selatan. Letaknya berdekatan dengan pantai Baloiya. Resort Baloiya dulunya dikelola orang Jepang yang sekarang sudah berpindah tangan. Pengunjung wajib bayar tiket kalau mau masuk. Kalau tidak salah seratus ribu per orang. Sementara kami cari yang gretongan. Bisa habis gaji satu bulan kalau setiap orang bayar seratus ribu. Biar begitu pemandangan sunset dari pantai Baloiya memang sangat indah. Tamammelong sendiri adalah pantai biasa. Seperti pantai lain di selayar, semuanya biasa, pasir putih, air laut yang jernih dan barisan pohon kelapa yang bila ditiup angin buahnya berjatuhan ke tanah.

Tugas dibagi sebelum hari H. Ada yang membeli ikan, udang dan cumi-cumi, ada yang mengumpulkan sabut kelapa, ada yang menyiapkan tenda, ada yang menanak nasi santan, ada yang membawa buah-buahan dan ada yang membeli air mineral. Ibu sendiri kebagian tugas membuat sambal. 

Kami berangkat dengan tiga mobil dan beberapa motor. Semua keponakan dimasukkan ke mobil biar tidak bikin repot. Saya dan beberapa sepupu memilih naik motor. Sesampai di sana, tidak ada orang lain selain kami. Bagus. Kami menguasai pantai ini. hehehe. Turun dari mobil, yang bapak-bapak langsung mencari pelepah kelapa untuk tempat bakar ikan. Ibu-ibu cekatan membersihkan dan mengeluarkan isi perut ikan. Para suami sepupu menggelar tenda untuk alas duduk. Para kurcaci alias ponakan langsung menyerbu laut. Sepupu dan saya sibuk motret kiri kanan sebelum turun ke laut. Yang penting jepret dulu, berenang urusan nanti.

Ngomong-ngomong, bagaimana suasana lebaran kalian ? Dapat angpau tidak ?? Di sebelah kiri mana suaranya ?? Apa ?? Ditanya terus kapan nikah ?? Ignore.  Saya sarankan beli cotton buds banyak-banyak untuk korek kuping kalau nanti ditanya lagi. Atau sumbat telinga pakai kapas dan menulilah seharian. Atau pura-pura amnesia sekalian, saya siapa ? Kamu siapa ? Ini dimana ? Nikah itu apa ?


Ada sepupu saya yang rutin kasih angpau ke saudara, sepupu dan ponakannya tiap Idul Fitri. Sementara para orangtua biasanya dihadiahi kemeja, gamis dan mukena. Dia dan istrinya hanya setahun sekali pulang kampung. Istrinya bekerja di Depok sementara dia berlayar ke berbagai tempat. Jadi sekali pulang, barang bawaannya bisa sangat banyak. 

Ternyata untuk bersenang-senang pun butuh perjuangan, terlebih bagi orang yang tak tahu berenang. Saya dan sepupu harus “perang” dulu sama ponakan memperebutkan pelampung baru bisa berenang jauh ke tengah laut. Setelah beberapa jam berenang, aroma ikan, udang dan cumi bakar memanggil-manggil dari kejauhan. Kami pun mengikuti asal aroma itu, seperti upin-ipin mencium bau ayam goreng. Ah, sedapnya bau… 

Perut sudah berdemo minta diisi. Nasi santan masih hangat. Ikan, udang dan cumi-cumi baru diangkat dari pemanggang. Dilengkapi sambal buatan ibu. Bila dimakan bersamaan, rasanya…uhm…sadeesss!! *iklan


Acara makan diiringi dengan humor sepupu yang terkenal gokilnya. Sakit perut yang saya rasa entah karena kekenyangan atau karena kebanyakan tawa. Campur aduk sudah. Selesai makan, berenang sesi kedua dilanjutkan. Saya menonton ponakan dan sepupu berenang sambil bersandar di bawah pohon kelapa. Semoga tidak ada kelapa yang jatuh. Angin bertiup kencang. Menerbangkan debu dan abu pembakaran. Gemersik dedaunan seolah sedang berbisik satu sama lain. Rasanya seperti dipanggil seseorang dari seberang laut.

Cuaca cerah. Langit berwarna biru cerah. Gumpalan awan dengan berbagai bentuk menggantung di langit seperti kapas raksasa, juga dengan warna putih cerah. Lalu pandangan saya arahkan ke kumpulan ponakan yang sedang belajar berenang. Warna anak-anak adalah warna cerah. Merah, kuning, hijau, biru, jingga, semuanya cerah. Ketika beranjak dewasa, warna itu tetap ada, tapi tak lagi cerah, bercampur dengan kelabu. Ada warna merah, merah kelabu. Ada warna hijau, hijau kelabu. Ada biru, biru kelabu. Warna orang dewasa adalah warna yang kelabu. Anak-anak tertawa. Tawa yang manis dan ringan. Orang dewasa tertawa. Tawa yang tawar dan berat. 

Seorang dosen pernah memotong doa mahasiswa yang mendoakan umurnya panjang. Katanya buat apa umur panjang bila raga sudah tak mampu. Baginya, umur 60-65 tahun sudah cukup. Dosen itu mungkin tak tahu bahwa ada orang yang ingin mati sebelum umur 27 tahun. Ada orang yang tak berniat melewati umur 30, 40 atau 50 tahun. Di saat yang sama, ada pula yang berharap bisa hidup ribuan tahun. Betapa beragamnya keinginan manusia, termasuk untuk hidup dan mati.

Siklus kehidupan berputar tanpa henti. Orang-orang lahir dan mati. Orang-orang datang dan pergi. Dulu mereka adalah anak-anak yang dimarahi orangtua bila tak mengaji atau berbuat onar saat shalat berjamaah di masjid. Kini mereka menjadi orangtua yang memarahi anak-anaknya yang berbuat sama. Dulu mereka berusaha lepas dari kekangan ayah dan ibu yang selalu khawatir akan keselamatan dan masa depan mereka. Sekarang mereka menjadi ayah dan ibu yang mengusahakan segala cara untuk menjaga anaknya. Dulu mereka anak-anak yang keinginannya harus dituruti. Sekarang mereka orang dewasa yang banting tulang memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dulu mereka anak-anak yang menganggap betapa menyebalkannya orang dewasa. Sekarang mereka orang dewasa yang menyadari betapa menyusahkannya anak-anak. 


Hari beranjak petang. Sebentar lagi akan terbenam dan mati. Mimpi-mimpi menarik selimut di balik kelopak malam. Sebagian tetap utuh hingga esok. Sebagian lagi hancur dan tenggelam bersama gelap. Lalu hari baru datang. Membawa rencana dan harapan baru. Siklus hidup berputar kembali. Meninggalkan sesuatu yang berharga di masa lalu. Dan membawa sesuatu yang sama berharganya untuk menyongsong hari esok.
24 July 2014

Minal 'Aidin Wal Faizin

Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, rasanya tidak ada yang lebih popular dari kalimat ini saat momen idul fitri datang hingga habisnya bulan Syawal. Ada yang menarik untuk dikritisi dari kalimat ini. Tentang susunan kalimatnya, makna yang terkandung di dalamnya, begitu pun tentang kebiasaan orang dalam melafalkan dan menuliskannya. Dan termasuk asal usul kalimat ini, sekaligus hukum melafalkannya sebagai ucapan saat datang idul fithri. 

Tentang lafal dan tulisan, kita sering dapatkan ada beberapa versi ungkapan yang terpajang di spanduk, kartu lebaran dan media cetak, begitupun dalam pelafalan. Seperti; minal aidzin wal faizin, minal aizin wal faidzin, atau minal aizin wal faizin. Tak semua memahami asal dari kalimat tersebut, atau sekadar tulisannya dalam versi Arab juga jarang didapatkan. Yang ada biasanya versi tulisan latin dengan pilihan font yang seperti huruf arab. Sebagian lagi mendapatkan hanya dari mulut ke mulut, sehingga ada sisi kesalahan ucap secara bahasa. Supaya lebih jelas, jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia sekurang-kurangnya berbunyi “Minal ‘aidin wal Faizin”.

Yang kedua, dari susunan kalimatnya. Dhahir kalimat tersebut sepertinya tidak menunjukkan sebagai jumlah mufiidah (kalimat sempurna) yang setidaknya memenuhi unsur Mubtada’ dan Khabar jika jumlah ismiyah (kalimat yang diawali dengan kata benda), atau fi’il dan fa’il jika berupa jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja).

Mungkin benar apa yang dikatakan Qaris Tajudin dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO. Di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama islam maupun Kristen.

Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam tema kata per kata. 

Ungkapan tersebut seperti penggalan dari sebuah kalimat, atau ada yang tersembunyi di bagian awalnya. Mungkin dengan mengucapkan penggalan kalimat tersebut, yang diajak bicara sudah dianggap paham maksud dan arti secara keseluruhan. Dan sayangnya, kebanyakan kaum muslimin di Indonesia tidak banyak yang mengetahui penggalan awalnya. Karena memang baasa Arab bukan menjadi bahasa yang dipahami kebanyakan kita. Sekurang-kurangnya penggalan awal dari kalimat tersebut berbunyi :

"Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin"

Poin ketiga yang menarik untuk dikritisi adalah sisi makna. Dalam survey kecil-kecilan yang penulis lakukan, masyarakat mengartikan kalimat “minal ‘aidin wal faizin” dengan mohon maaf lahir dan batin”. Mungkin karena kedua kalimat itu sering disandingkan, maka banyak yang mengira keduanya bermakna sama. Padahal, antara keduanya memiliki makna yang jauh.

Adapun secara harafiah, makna penggalan kalimat tersebut adalah ‘min’ artinya dari (termasuk dari), ‘aidin artinya orang-orang yang kembali (kepada Allah), wa artinya dan, sedangkan al-faizin maknanya golongan orang-orang yang sukses atau memperoleh kemenangan. 

Jika digabung dengan penggalan kalimat pertama, maka makna “Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin” adalah, “Semoga Allah menjadikan kami dan juga Anda termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada Allah dan sukses (dalam mengisi Ramadhan).”

Jadi kalimat tersebut secara makna tidak ada kaitannya dengan saling meminta maaf dan memaafkan, tapi berupa ungkapan untuk saling mendoakan. 

Ungkapan minal ‘aidin wal faizin sama sekali tidak dikenal di zaman salaf dan tak ada sama sekali riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan hal itu. Ungkapan tahniah (ucapan selamat) yang disebutkan atsarnya dari para shahabat adalah, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” semoga Allah menerima amal kami dan juga amal kalian.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan  “Taqabbalallahu minna wa minka” ketika saling bertemu di hari Idul Fitri”. Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “sanadnya hasan”. Syeikh al-Albani dalam Tamaamul Minnah mengomentari bahwa sanad dari riwayat ini shahih. 

Tentang ucapan selamat dengan versi yang lain, di antara ulama seperti Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin membolehkan ucapan selamat dengan ungkapan ‘ied Mubarak dan semisalnya. Hanya saja, apa yang menjadi kebiasaan para shahabat tentu lebih baik. Wallahu a’lam 

*Ditulis oleh Abu Umar Abdillah di salah satu edisi majalah ar-risalah terbitan tahun lalu
02 July 2014

Basa-Basi

Saat seseorang bertanya, “Bagaimana kabarmu ?” atau “Apa kabar ?”, orang itu belum tentu ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya. Tapi sudah paten bahwa kalimat itu adalah kunci untuk membuka percakapan. Pun kita, tak selalu jujur ketika menjawab, sebab jika dilakukan, dapat memutus percakapan yang baru akan dimulai. Jujur itu baik, tapi bukan berarti kita harus mengatakan segala hal. Jika kita menjawab, “Oh, kabarku buruk. Sakitku kambuh lagi. Tagihan listrik nunggak dua bulan. Biaya kontrakan naik. Anakku bermasalah di sekolah. Dan blablabla”, bisa dipastikan percakapan akan terhenti saat itu juga. Jadi kita pun memasang senyum dan menjawab, “Kabarku baik”. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa memberi dan menerima kebohongan semacam itu. 

Kata orang basa-basi itu menyebalkan. Tentu saja, jika dilakuan secara berlebihan dan di waktu yang tidak tepat. Tapi sesungguhnya ada manfaat di balik basa-basi itu. Kita dapat kenalan baru setelah berbasa-basi. Kita dapat informasi baru dari basa-basi. Usaha seseorang untuk mengambil hati orang lain pun lewat basa-basi. Di jurusan sepupu saya, Heiji, ada seorang dosen yang dikenal sebagai penjelmaaan Hitler. Jika sudah bilang A, walau semua manusia berubah jadi zombie tidak akan berubah jadi B. Saking sulitnya mengubah keputusan beliau, beberapa mahasiswa memberinya julukan “yang maha kuasa”. Malangnya nasib Heiji dan beberapa temannya, dosen tersebut terpilih jadi pembimbing mereka saat menyusun tesis.

Setelah konsultasi judul, semua mahasiswa bimbingan beliau mengeluhkan hal yang sama. Dosen itu memerintahkan -bukan mengusulkan- judul yang menurut mereka menyulitkan. Bukannya mereka tidak bisa, tapi waktu yang dibutuhkan untuk penelitian jadi lebih lama. Layaknya mahasiswa, mereka mengejar target wisuda beberapa bulan ke depan agar tidak lagi membayar uang semester. Akhirnya setiap mahasiswa melakukan berbagai usaha agar sang dosen berkenan mengganti judul mereka. Dari level memelas hingga berdebat. Dan belum ada yang berhasil. Suatu ketika, giliran Heiji tiba. 

Heiji yang saya kenal punya keterampilan komunikasi yang cemerlang. Saya menonton aksinya menyelesaikan persoalan di berbagai kesempatan. Peristiwa yang paling teringat terjadi sekitar dua tahun lalu. Suatu malam semua saudara ibu berkumpul di rumah Heiji. Dalam dunia persilatan, Ibu Heiji adalah kakak pertama, sementara ibu saya adik kedua (halah). Sudah menjadi kebiasaan keluarga besar kami ketika ada masalah akan dimusyawarahkan bersama. Tempat musyawarah disesuaikan dengan siapa yang bermasalah. Malam itu musyawarah dilakukan di rumah Heiji. Ada masalah pelik yang dialami keluarga kakak laki-laki Heiji.

Biasanya, musyawarah hanya melibatkan para tetua dan orang yang bermasalah. Sementara sisanya, berkumpul di kamar atau ruang tengah. Tapi malam itu sedikit berbeda dari biasanya. Ayah, ibu, om dan tante serta para sepupu berkumpul dalam lingkaran besar di ruang tengah. Sebagian ponakan diungsikan ke tempat lain. Dua orang sepupu ditugaskan menjaga mereka. Atmosfir di ruang tengah mulai tidak nyaman. Pertanda ketegangan makin meningkat. Baru beberapa menit musyawarah berjalan, suara-suara mulai meninggi. Kakak Heiji sebagai “terdakwa” yang awalnya diam saja mendengar kritik tajam ayah dan saudaranya, mulai menunjukkan penolakan. Suasana tegang. Ibu yang biasanya tak tahan kalau tak bicara, kini memilih diam. Hanya sesekali menghela napas panjang. Ayah juga bersikap sama, diam dan mendengarkan. 

Ketegangan mencapai puncaknya ketika tak ada pihak yang mau menurunkan tekanan suara antara kakak dan ayah Heiji. Teriakan berhamburan di udara. Kulihat salah satu sepupu mengatupkan tangan di kedua telinga anaknya. Di saat genting itu, Heiji yang sedari awal diam saja, akhirnya masuk ke arena sambil merentangkan tangannya, seperti wasit yang berusaha memisahkan dua petinju. Betapa sulit menemukan titik temu di antara keduanya, hingga kemudian Heiji turun tangan. Kemampuan diplomasinya langsung bekerja. Terlihat dari menurunnya intonasi suara di kedua belah pihak. Heiji pun menyampaikan pendapatnya. Mengusulkan dua solusi serta menjabarkan konsekuensi masing-masing pilihan. Menurutku inilah yang membedakan antara Heiji dan ayahnya. Ayahnya memaksakan keinginan, Heiji menyodorkan pilihan. Usulan Heiji diterima baik oleh kakaknya dan semua orang. Malam itu masalah ditutup dengan sempurna berkat bantuan Heiji.

Konflik muncul karena perbedaan. Karena satu pihak tidak memahami perbedaan situasi di pihak lain. Diplomasi ada untuk memahamkan keduanya bahwa mereka berbeda. Mereka punya pikiran yang berbeda. Mereka berada dalam situasi yang berbeda. Karena itu dalam diplomasi penting untuk mencari kata-kata yang tepat agar apa yang dirasakan setiap pihak sampai kepada pihak lainnya. Jika hal itu tercapai, maka setiap pihak akan memecahkan masalah dengan mempertimbangan kondisi pihak lain. 

Dalam sistem hirarki keluarga, anak-anak tetaplah anak-anak, yang pendapatnya belum layak didengarkan. Ketika anak mampu membuat orangtuanya menyimak pendapat mereka dengan cara yang baik, itu bisa disebut prestasi. Sebab menjadi langkah awal orangtua mulai memperhitungkan pandangan kita akan suatu masalah. Bukan gelar akademik yang dibutuhkan, tetapi kemampuan komunikasi kita dengan orang-orang terdekat, terlebih bila mereka memiliki sifat yang keras. Saya pernah mengalami transisi semacam itu.

Suatu malam ayah dan ibu bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan. Tapi karena suatu hal, ayah terlibat silang pendapat dengan adik saya. Adik saya adalah remaja yang baru tumbuh. Remaja di usia itu penuh dengan pemberontakan dan penolakan. Tidak ada yang membuat pikiran lebih keriting bagi orangtua selain anak di usia remaja. Tapi dalam masalah itu, jelas adik saya salah. Masalahnya adalah bagaimana dia mengakui kesalahannya tanpa merasa terpaksa. Saya berusaha tidak memihak salah satunya. 

Saat itu mereka duduk berdampingan di ruang tamu. Sementara saya duduk dua meter di depan mereka berdua dan bicara tanpa henti. Menyampaikan pendapat saya, mengkritik keduanya dan mengusulkan solusi. Selepas bicara, ada jeda yang panjang. Di keheningan yang cukup lama itu, saya tersadar, astaga, saya baru saja memarahi ayah. Saat mengangkat wajah, betapa terkejutnya saya melihat mata ayah berkaca-kaca. Oh nooo…bagaimana ini ??? Tapi detik berikutnya membuat saya bernapas lega, ayah tersenyum. Senyum yang sulit digambarkan. Khas orang yang baru menyadari sesuatu yang penting. Tepat di momen itu ibu keluar dari kamar dan memberi isyarat untuk segera berangkat. Saya masih mematung di tempat duduk. Sebelum melangkah keluar, di ambang pintu ayah berbalik,

“Ayah-ibu berangkat dulu”, katanya tersenyum 

Ada yang berubah sejak saat itu. Ayah mulai mendengarkan pendapat saya. Bila ingin membeli peralatan baru, beliau meminta pendapat saya. Bila membahas keadaan dua adik saya di sekolah, beliau meminta pendapat saya. Sampai berita politik di TV, ayah rutin bertanya, “Bagaimana menurutmu ?”

Ehm, ngomong-ngomong tadi saya mau nulis apa ya? *gagal fokus. 

Oke, kembali ke Heiji. Tiba gilirannya bergerilya membujuk sang dosen. Alasannya cuma satu, dia tidak tertarik dengan tema yang diberikan. Ada masalah lain yang menurutnya lebih menarik untuk diteliti. Beruntungnya, dosen itu pernah mengulas tema tersebut dalam bukunya. Suatu pagi yang cerah, Heiji siap menemui sang dosen dengan membawa setumpuk buku. Beberapa di antara buku itu adalah buku yang ditulis oleh beliau.

Saat bertemu, Heiji tidak langsung membahas inti masalah. Ia mengawali dengan menanyakan kabar –dosen itu baru saja menjalani operasi-. Lalu perlahan percakapan berpindah membahas penyakit dan pengobatan yang dijalani sang dosen. Lalu berpindah ke anaknya yang kuliah di luar negeri. Lalu masuk ke soal buku-buku yang pernah beliau tulis. Heiji menyimak setiap cerita dosennya dengan penuh perhatian. Perlahan-lahan ia menggiring dosen tersebut untuk membahas satu tema di salah satu bab bukunya. Tepat ketika sampai pada titik yang dimaksud, Heiji pun mengutarakan pendapatnya terkait masalah itu. Menit-menit berikutnya dihabiskan hanya untuk membahas satu tema. Terakhir, Heiji menyatakan ketertarikannya dan meminta pertimbangan sang dosen untuk mengganti judul awal. Usulan itu langsung disetujui. 

Heiji pun pamit pulang sambil melayang. Maksudnya, langkah kakinya lebih ringan begitu keluar dari ruangan sang dosen. Katanya, seperti ada batu besar yang baru saja terangkat dari kepalanya. Dari sekian mahasiswa bimbingan sang dosen, hanya Heiji yang berhasil mengubah keputusan si “yang maha kuasa”. Itulah pentingnya berbasa-basi dan menyimak orang lain. Bagi orangtua, tidak ada yang lebih menyenangkan dari perhatian orang lain akan cerita mereka. Mereka senang didengarkan. Setiap orang memang senang didengarkan, tapi bagi orang tua, itu adalah perhatian yang sangat berharga. Jika Heiji menemui dosennya dan langsung to the point : “Permisi prof, maaf saya mau ganti judul. Judul ini tidak menarik buat saya”, besar kemungkinan nasibnya akan berakhir sama seperti teman-temannya yang lain.

Bertahun-tahun saya hidup berdua dengan nenek. Selama masa itu saya menyadari bahwa yang membuat nenek merasa lebih baik meski sakit-sakitan ada dua : bila ada yang menanyakan kabarnya dan mendengar keluhannya. 

Pada situasi yang berbeda, ibu punya cara basa-basi yang cukup merepotkan. Ibu aktif ikut berbagai arisan. Bermacam-macam kategori arisan mulai dari arisan rekan seprofesi, arisan donator masjid, arisan sesama pengajian, arisan sesama alumni sekolah dan kategori lain yang entah apa lagi namanya. Dalam sebulan ibu bisa menghadiri enam sampai delapan acara arisan. Hidangan yang disajikan dalam arisan umumnya berupa kue basah, kue jajanan atau yang manis-manis dan dilengkapi dengan minuman seperti teh atau sirup. Setiap kali dapat giliran, bukannya menyiapkan hidangan yang simple semacam itu, ibu malah rutin memasak menu utama.

Hidangannya berganti-ganti mulai dari coto, sop konro, mie ayam, sampai makanan khas lebaran yang lengkap seperti ketupat, buras, ayam goreng, ayam kari, perkedel, acar, sayur sup dan kawanannya. Lalu ditambah lagi hidangan penutup seperti pudding atau makanan yang manis-manis. Menu arisan inilah yang membuat saya sering melayangkan protes ke ibu. “Oh ibuuu, bisakah kita membuat hidangan yang simple saja ? Hidangan semacam ini butuh tenaga ekstra. Jangan menyusahkan diri sendiri.”, Begitu selalu protes saya, yang juga selalu tidak diindahkan. 

Kebiasaan ibu juga setiap kali mengadakan arisan di rumah adalah rutin memanggil kerabat untuk datang membantu menyiapkan makanan. Kerabat juga tidak datang sendirian, mereka membawa kurcacinya masing-masing. Pasukan Ponakan yang tidak bisa diam di tempat. Seketika rumah yang biasanya tenang, damai dan membosankan berubah menjadi ribut, ceria dan berantakan. Malamnya saya langsung tepar begitu piring terakhir selesai dicuci. Andai hidangannya simple kita tak perlu secapek ini, tidak perlu manggil orang untuk bantu masak, begitu pikir saya. Tapi jawaban ibu kemudian membuat saya berhenti komentar.

“Hanya dengan cara ini keluarga besar kita bisa ngumpul lagi”, kata ibu 

Kupikir-pikir, memang sih, saat arisan keluarga ibu yang lain akan terpusat di rumah. Biasanya arisan dihadiri rekan kerja ibu yang tidak lebih dari sepuluh orang, sebelas ditambah ustad yang mengisi ceramah. Anggota arisannya cuma segitu tapi kerabat yang datang bantu masak jauh lebih banyak, apalagi kalau ditambah rombongan kurcaci yang jumlahnya mencapai belasan ekor. Selain lebaran atau pesta pernikahan, memang hanya arisan yang mengumpulkan kembali keluarga besar kami. Rupanya ibu bersusah payah membuat menu yang bikin repot demi agar keluarganya bisa sering-sering kumpul bersama.

Saat memasak, para tante berkumpul di dapur. Mereka bertukar cerita sambil memotong daging dan sayur. Saya dan sepupu ngumpul di ruang makan membuat pudding. Di ruang tengah para kurcaci bermain dengan sesamanya. Sementara di teras, para lelaki larut dalam perbincangan santai sambil minum teh. Tidak berhenti sampai di situ. Setelah para tamu pulang, ibu akan menelpon kerabat yang belum hadir untuk makan malam di rumah. Selepas shalat maghrib, rumah sudah penuh oleh kerabat. Mereka yang sudah pisah pun duduk bersama dalam lingkaran, makan bersama dan tertawa bersama. Basa-basi ibu memang merepotkan, tapi itu dilakukan demi menyambung silaturahmi antar keluarga. 

Basa-basi untuk menarik perhatian orang bukan keahlian saya. Itu keahlian yang dimiliki orang-orang ekstrover. Tapi kupikir, jika kita sedikit berusaha, mungkin kita bisa menjadi pribadi yang lebih menyenangkan bagi orang lain.
 
;