26 June 2012

Lagi Ngelantur

Berbicara tentang menulis, saya termasuk manusia yang mengobati luka dan sepi (halah) dengan cara mencoret-coret microsoft word.

 
Kadang ada hal yang ingin saya diskusikan dengan orang lain tapi bingung bagaimana memulainya. Ujung-ujungnya saya hanya bisa menuliskan pikiran-pikiran itu di atas kertas atau microsoft word. Menulis telah menjadi semacam penawar yang tidak bisa digantikan dengan yang lain *menerawang ke langit*.

Orang-orang yang pernah tinggal bersama saya pun umumnya seperti itu. Mereka suka menulis bahkan memang ada penulis di antaranya. Kalau tidak salah dia sudah menerbitkan tiga antologi cerpen. Ada juga yang senang membuat puisi dan mencoret-coret blog. Pokoknya inilah yang membuat saya betah tinggal serumah dengan mereka walau air PAM jarang ngalir (T_T).

Sewaktu masih di bangku SMA, saya belum punya komputer, jadi lebih sering menulis di atas kertas dan menuangkan pikiran-pikiran atau pertanyaan-pertanyaan saya di sana. Kemudian kertas-kertas itu saya satukan. Tapi kebanyakan ia menjadi tulisan sepi yang mengendap bersama waktu. Akhirnya saya membakarnya sendiri sehari sebelum berangkat ke kota tempat saya kuliah. Dan kebanyakan pikiran ataupun pertanyaan-pertanyaan dalam kertas itu tidak mendapatkan penyelesaian.
24 June 2012

Blogger Favorit

Dua tahun lalu saya menemukan sebuah blog pribadi yang isinya, apa ya tepatnya...keren. Yah, sangat keren. Awalnya saya hanya membaca postingan yang lucu-lucu saja karena kebanyakan tulisannya berat-berat, lebih berat dari sekarung beras. Tapi lama kemudian saya jadi penasaran dengan tulisannya yang lain. Jadilah saya mendownload seluruh isi blog itu dan menghabiskan waktu seminggu untuk membaca semuanya. Sebagian besar tulisannya sering membuat kepala saya pening bahkan kadang mual-mual mencerna isinya. Yah, otak saya memang lamban. Dan gara-gara membaca blog ini jugalah saya sering menunda bertemu dengan dosen pembimbing, menolak ajakan teman untuk jalan-jalan, bahkan seharian bisa tidak keluar rumah. Ini memang keterlaluan, tapi saya sudah meniatkan untuk terlebih dahulu membaca habis tulisannya yang mencapai ratusan itu.

Singkat kata, seluruh postingnya saya khatamkan walau hanya sedikit yang bisa tersimpan di memori otak. Dalam banyak hal, saya tidak sependapat bahkan kadang geram dengan pemikirannya. Tapi seringkali pula tulisannya membuat saya merenung dan mengangguk-angguk setuju. Malah -ah, saya malu mengakuinya- saya pernah menangis karena tulisannya. Entah kenapa seperti ada yang hilang pada diri orang itu. Saya juga tidak tahu apa, mungkin hanya pendapat subjektif saya saja. Tapi rasanya seperti ada kesedihan yang selalu terselip di antara tulisan-tulisannya. Jujur saja orang ini adalah blogger favorit saya. Dan karena orang ini pula, untuk pertama kalinya saya mulai menulis di blog. Boleh dibilang dia banyak memberikan inspirasi buat saya.
23 June 2012

Will You Miss Me ?

Aku merindukanmu.
Sepintas terdengar klise. Tapi ternyata tak semua orang bisa mendapatkannya. Kalimat “Aku merindukanmu” hanya berlaku pada mereka yang keberadaannya diinginkan. Setiap manusia pasti ingin keberadaannya diharapkan. Saya tidak ingat ini quote siapa dan dari mana tapi saya pernah membaca sebuah kalimat bahwa saat kau telah dilupakan maka saat itu juga kau telah mati. Ciri orang yang dilupakan adalah ketiadaan dan keberadaannya sama saja. Atau lebih parah, ketiadaaanya lebih diinginkan dibanding keberadaannya.

Buku Notes From Qatar 2 membagi manusia menjadi lima macam. Manusia wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya selalu dirindukan karena bermanfaat bagi orang lain dan ketiadaannya akan membuat orang-orang kehilangan. Manusia sunnah adalah mereka yang kehadirannya membawa manfaat tapi ketiadaannya tidak membuat orang-orang merasa kehilangan. Manusia mubah adalah mereka yang keberadaan dan ketiadaannya sama saja, tidak bermanfaat juga tidak merugikan. Manusia makruh adalah mereka yang keberadaannya justru merugikan dan ketiadaannya membuat orang tidak apa-apa. Dan manusia haram adalah mereka yang kehadirannya selalu membawa bencana sehingga ketiadaannya lebih dirindukan karena orang merasa tenang.

Mengatakan rindu pada seseorang bukanlah hal yang sepele. Kalimat ini adalah bukti bahwa orang itu penting bagimu atau kau penting bagi orang itu. Coba hitung-hitung berapa banyak orang yang selama ini mengatakan rindu padamu. Jika terlalu banyak sampai kau tidak bisa menghitungnya, kuucapkan selamat, kau sangat beruntung. Jika ada beberapa, bersyukurlah, keberadaanmu masih diinginkan. Jika tidak ada sama sekali, yah, kau masih bisa mengubahnya.

Merasa Beruntung

Kalau melihat anak-anak sekarang, saya sering merasa beruntung lahir dan menjalani masa kecil sebelum mereka. Waktu memang selalu membawa perubahan. Dulu, anak-anak lebih banyak bermain di alam terbuka. Mereka lebih sering menjelajah dan lebih dekat dengan alam. Lebih sering mandi di sungai, waktu bermain dihabiskan dengan mencari cacing sebagai umpan ikan, lebih sering tidur di atas pohon dibanding di kamar, sampai bertualang ke gua-gua yang dianggap keramat. Mainannya pun adalah warisan turun temurun seperti Engrang, kelereng, lompat tali, Tangkal, Asing. Sekarang semua jenis permainan itu terancam punah. Anak-anak lebih sering dibawa ke Time zone yang bisa dijumpai di pusat perbelanjaan. Area sempit yang kebanyakan mainannya plastik. Mereka jadi semakin asing dengan alam.


Sehabis shalat maghrib biasanya anak-anak akan tetap tinggal di masjid untuk belajar mengaji sampai masuk waktu shalat Isya. Semakin hari hal ini semakin jarang dijumpai. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya main PS atau game online dibanding mengaji. Orang tua juga lebih suka memanggil guru privat mengaji karena anak-anak tidak punya lagi semangat ke mesjid. Perubahan juga merembes pada gaya berpakaian. Anak perempuan generasi sebelumnya selalu memakai baju yang sopan meski berada di dalam rumah. Sementara saat ini, anak-anak SD pun tidak malu lagi keluar rumah dengan hanya memakai baju tali temali dan rok mini.

Bukan apanya, saya hanya bersyukur dengan hidup ini. Bersyukur lahir di tengah-tengah lingkungan yang masih menjaga budaya seperti itu. Bersyukur lahir di masa internet belum luas dipakai sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku dibanding duduk di depan laptop sambil online. Waktu memang selalu membawa perubahan tapi ada hal-hal yang patut dipertahankan.

Sebaliknya

Orang dewasa selalu berkata, "Anak muda sulit dipahami." Aku pun ingin mengatakan sebaliknya.

Menginginkan Keinginan

Pagi tadi saya membaca sebuah tulisan yang membuat saya galau seharian. Sepanjang perjalanan hari ini kepala saya dipenuhi oleh tulisan itu. Mungkin terdengar sederhana, tapi tidak semua bahkan mungkin sebagian besar orang tidak bisa melakukannya. Tulisan itu mengulas sedikit tentang arti kebahagiaan. Penulisnya menyimpulkan bahwa kebahagiaan baginya adalah jika kita benar-benar mengetahui apa yang kita inginkan.

Saya kadang merasa kacau dengan diri sendiri. Saat kecil saya sering panik jika ditanya oleh guru, “Kamu ingin jadi apa ?”. Dan jawaban yang saya berikan selalu berubah. Kadang saya bilang ingin jadi guru (ini jawaban umum). Kadang bilang ingin jadi arkeolog (ini gara-gara Rei) bahkan pernah bilang ingin jadi astronom (ini karena kecintaan saya pada bulan dan benda-benda yang muncul di langit malam).

Berbicara tentang keinginan, saya pernah punya keinginan konyol untuk tinggal di bulan . Keinginan ini muncul setelah nonton film science fiction yang saya sudah tidak ingat lagi judulnya. Ending film itu memperlihatkan sebuah pesawat luar angkasa yang sudah tidak bisa kembali ke bumi dan terus bergerak menuju matahari sampai kehabisan bahan bakar. Di dalam pesawat itu tertinggal seorang wanita yang memandang ke luar melalui jendela, menunggu kematiannya. Beberapa tahun kemudian, saya menonton sebuah anime berjudul Gundam. Saya jadi sering berpikir bahwa hidup di luar angkasa seperti yang digambarkan dalam anime ini pasti sangat menyenangkan.

Katanya, orang-orang lebih banyak mengetahui apa yang tidak mereka inginkan dibanding apa yang mereka inginkan. Kita hidup di dunia yang selalu menuntut dengan ribuan pertanyaan. Ingin masuk sekolah mana, nanti lanjut kuliah dimana, pilih jurusan apa, IPK-nya berapa, kapan skripsinya selesai, kapan wisudanya, kapan kerja, kerja di mana, gajinya berapa, kapan menikah, kapan punya anak, mau punya anak berapa, anaknya sudah kelas berapa, anaknya dapat ranking berapa dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan ada habisnya sampai kita mati. Dan hidup kita dihabiskan untuk menjawab pertanyaan itu. Kenapa ? Karena kita takut tidak bisa hidup sesuai tuntutan masyarakat. Kita takut tidak bisa menjadi seperti apa yang masyarakat inginkan. Kita selalu ingin memperlihatkan yang terbaik sehingga lupa untuk bertanya pada diri sendiri, “Inikah yang saya inginkan ?” Orang-orang yang tidak tahan memilih bunuh diri sebagai penyelesaiannya. Mungkin karena tuntutan itu jugalah alasan kenapa saya pernah punya keinginan tinggal di luar angkasa

Saya terkesan pada seorang tokoh bernama Inuzuka dalam dorama Nankyoko Tairiku yang nekat ikut serta dalam petualangan ekspedisi Antartika hanya untuk menemukan apa yang diinginkannya dalam hidup. Mencari apa yang kita inginkan membuat kita seperti terombang-ambing di tengah waktu yang berdetak cepat. Dan tanpa disadari, waktu telah melangkah terlalu jauh. Yah, sepertinya hal yang paling sulit di muka bumi ini adalah selalu mengetahui dengan akurat apa yang benar-benar kita inginkan. Tapi bukankah itu lebih baik dibanding tak punya keinginan sama sekali ? Mati karena berusaha keras mencari tahu apa yang kita inginkan lebih baik dibanding mati bunuh diri tanpa tahu apa-apa.
15 June 2012

Kebetulan ?

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya telah diatur. Saya percaya itu. Seperti cerita tentang dua anak kembar yang hidup terpisah tetapi ternyata tinggal di kota yang sama, menikah di hari yang sama, bahkan lagu pernikahan yang dinyanyikan juga sama persis. Dan seperti malam ini, walau tidak sama persis tapi mempunyai inti yang sama. Saat membaca tulisan dari dua orang yang berbeda dengan tema yang sama. Yang satu menulis tentang perempuan dewasa dan satunya lagi menulis tentang keibuan. Hmm...
 
;