10 June 2012

Nakyoku Tairiku


“Jika, seperti yang kau katakan, sebuah mimpi bisa mengubah Jepang. Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri” 
 -Himuro Haruaki-
Yosh, sekarang saya mau mengulas dorama lagi. Kali ini adalah dorama yang disebut-sebut sebagai dorama termahal sepanjang sejarah TBS, Nakyoku Tairiku (Benua Antartika).

Dorama ini menceritakan perjuangan Kuramochi dkk bersama anjing-anjing Sakhalin Huskie mengembarai benua yang belum pernah tersentuh sebelumnya, Benua Antartika. Berlatar era pasca perang tahun 1955, saat perlahan-lahan Jepang bangkit setelah kekalahan dalam perang dunia II. Antartika merupakan tempat yang memegang banyak kunci misteri di bumi. Banyak daerah-daerahnya yang belum pernah terjamah manusia. Antartika adalah satu-satunya tempat dimana jepang bisa berdiri selaras dengan sisi dunia lainnya. Dengan kata lain, Ekspedisi Antartika akan mengakhiri era pasca perang.

Ekspedisi Jepang ke Antartika yang pertama kali dilakukan tahun 1912 dipimpin oleh Letnan Shirase. Tapi karena keadaan yang keras membuat mereka tidak bisa melakukan pengamatan. Ayah Kuramochi yang merupakan seorang pelaut adalah salah satu anggota ekspedisi tersebut. Dalam konferensi Internasional di Brussels, semua negara yang hadir kecuali jepang adalah negara-negara yang menang dalam perang dunia II. Banyak negara yang menolak keikutsertaan Jepang, namun entah kenapa akhirnya jepang berhasil diterima dalam ekspedisi Antartika.

Awalnya ekspedisi ini ditentang oleh pemerintah karena memerlukan biaya 500 juta yen. Dalam pandangan anggaran nasional saat itu, jumlah tersebut terlampau mahal. Sementara di saat yang sama, jepang memfokuskan diri pada pengembangan nuklir. Kuramochi kemudian meminta dukungan masyarakat dengan bantuan Utsumi melalui media surat kabar dan mengumpulkan sumbangan dari perusahaan-perusahaan. Dalam pembagian area survei, Jepang ditempatkan di pantai Prince Harald. Prince Harald berada di bagian timur Antartika, antara stasiun Mawson dan stasiun Norwegia. Sayangnya tempat ini “Inaccessible”, tidak dapat diakses.

Saat-saat yang genting itu memunculkan harapan baru ketika anak-anak yang mendukung penuh ekspedisi Antartika, mengumpulkan koin sumbangan. Dengan segera kotak sumbangan dibentuk di sekolah-sekolah di seluruh negeri. Setelah itu perhatian Jepang mulai tertuju pada ekspedisi Antartika yang sebelumnya diabaikan, bahkan akhirnya diakui secara resmi sebagai proyek nasional. Banyak perusahaan-perusahaan mengesampingkan keuntungannya dan memberikan dukungan mereka pada ekspedisi Antartika. Mereka antara lain adalah Honda Suichiro, pendiri Motor Honda Company. Juga  Ibuka Masaru dan Morita Akio yang merupakan teknisi dari Tokyo Telecommunications Engineering Corp yang kelak mendirikan Sony.

Selanjutnya, Jepang mempunyai waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri. Yang pertama dilakukan adalah merekrut anggota tim lalu membangun stasiun penelitian. Dan terakhir, mencari kapal yang akan membawa tim ekspedisi ke Antartika. Dalam proses perekrutan, ada seorang remaja laki-laki bernama Inuzuka. Ia adalah pelajar yang sedang meneliti Aurora. Ketika sesi wawancara, ia terpaksa berbohong bahwa pernah melatih anjing Sakhalin. Kenyataanya, ia adalah manusia yang kebingungan dalam hidup. Inuzuka berpikir bahwa mungkin sepulang dari ekpedisi itu, ia bisa tahu apa yang ia ingin lakukan di samping juga keinginannya meneliti Aurora secara langsung.

Karena seluruh kapal pemecah es telah habis dibeli negara lain, maka Jepang yang tidak kebagian memutuskan merekonstruksi sebuah kapal bernama Soya. Soya adalah kapal perang tua yang disebut sebagai kapal ajaib. Berapa kali pun Soya dikirim ke medan perang, ia selalu kembali dengan selamat. Sebelas tahun setelah kalah perang, bersama Soya, semangat orang-orang Jepang bangkit dari reruntuhan. Kamis, 8 November 1956 adalah momen keberangkatan Soya dan tim eskpedisi menuju Prince Harald Antartika, membuktikan pada dunia bahwa mereka bisa bertahan di tempat yang di peta dilabeli dengan “Inaccesible” itu.

Setelah menimbang bahwa pengamatan tidak bisa dilakukan hanya dengan waktu yang sebentar, maka dibentuklah Tim Ekspedisi Lintas Musim Dingin Antartika yang pertama. Tim ini akan tinggal di Antartika selama setahun dan melewati musim dingin di sana. Ekspedisi ini beranggotakan 11 orang. Pemimpinnya adalah profesor Hoshino Eitaro. Berturut-turut anggotanya adalah Kuramochi yang bertugas sebagai asisten, Utsumi Noriaki bertanggung jawab atas pers dan urusan umum, Yokomine Shinkichi bertanggung jawab atas komunikasi. Tani Kennosuke bertanggung jawab atas perawatan medis, Samejima Naohito bertanggung jawab atas mesin. Funaki Ikuzo dan Arashiyama Hajime bertanggung jawab atas konstruksi. Yamazato Manpei bertanggung jawab atas makanan alias koki. Inuzuka Natsuo bertanggung jawab atas kereta luncur anjing. Dan terakhir, Himuro Haruaki bertindak sebagai auditor. Dari sini, petualangan sebelas manusia dan 19 Anjing Sakhalin selama setahun di Antartika pun dimulai. Apakah mereka semua selamat dalam petualangan tersebut ? Selamat menonton...

Komentar :
Ini yang selalu saya suka dari dorama jepang, tentang mimpi, semangat dan pengorbanan. Doramanya selalu bisa bikin nangis tanpa harus melibatkan sisi romantis di dalamnya. Persahabatan manusia dan anjing pun bisa dibuat mengharu biru begitu, di samping backsound-nya yang memang mendukung. Anjing-anjingnya juga pintar berakting. Raut wajah senang dan sedihnya terekam jelas.

Menonton dorama ini sekali lagi membuat saya terkagum-kagum dengan dorama Jepang. Pantas saja dorama ini menghabiskan banyak biaya, syutingnya saja sampai Antartika. Dari segi pemain, hanya sedikit yang saya tahu. Sebagiannya adalah wajah-wajah yang baru saya lihat. Takuya Kimura seperti biasa, aktingnya natural. Saya selalu menebak-nebak bahwa mungkin seperti itulah ia di dunia nyata. Ayase Haruka sebagai Miyuki sudah pernah menjadi lawan main Kimutaku di dorama sebelumnya, Mr. Brain. Tapi menurutku akting Haruka agak kaku. Dia lebih cocok berperan sebagai Himono-Onna di Hotaru no Hikari. Yamamoto Yusuke sebagai Inuzuka juga sudah tidak asing lagi. Ia sudah sering muncul di berbagai dorama dan film seperti Hanazakari no Kimitachi e dan Paradise Kiss

Aktor yang berperan sebagai Yokomine juga pernah main dalam dorama Bloody Monday. Dan yang bikin salut adalah si Profesor Hoshino. Lagi-lagi saya dibuat pangling dengan perbedaan karakter yang dia mainkan. Nanti sampai di episode tiga saya baru sadar kalau si Profesor Hoshino yang sabar dan sering tersenyum ini adalah orang yang sama dengan yang main di Mr. Brain sebagai polisi temperamen dan suka ngamuk-ngamuk. Perbedaan karakter yang dia mainkan seperti bumi dan langit. Salut...!! Lewat dorama ini akhirnya saya bisa melihat lagi adegan perpisahan di dermaga. Umumnya adegan perpisahan terjadi di bandara. Padahal menurutku, kesan sedih lebih tertangkap jika latarnya adalah laut dan kapal, lebih mengharukan gimana gitu. Dan seperti dorama pada umumnya, banyak adegan klise di sini, tapi saya tetap suka karena petualangannya seru.

Terakhir, tentang tokoh yang paling saya suka, Himuro Haruaki. Sikapnya kaku, pemikirannya realistis dan posisinya selalu dilematis sebagai penyeimbang antara pemerintah dan tim ekspedisi. Awalnya saya tidak suka tokoh ini karena seperti ada kesan jahat. Tapi setelah episode demi episode berlalu, baru ketahuan kalau dia pun memiliki kenangan yang menyakitkan. Pengorbanannya demi ekspedisi Antartika yang ketiga membuat saya simpati. Yang paling berkesan dari Himuro adalah saat ia bermain bersama anjing-anjing yang menyelamatkannya dari badai salju. Untuk pertama kalinya dia benar-benar tersenyum, bukan menyeringai seperti biasanya. Dan senyumnya itu benar-benar manis.

Orang-orang dilahirkan untuk mengumpulkan pengalaman 
-Albert Einstein-
 
;