Ia pernah menulis,
Seikat puisi tentang penantian
Namun ibarat kisah 180 Hari Lagi,
Waktu perlahan menuju titik nol
Setiap penantian hanya punya dua muara
Sebab itu, ada hal yang tidak bisa dipaksakan
Tercatat sebelum keberadaan
Ketika tiba di titik itu
Dan jam miliknya masih berputar
Maka,
Cukuplah diingat
Tak perlu dikenang
Ingat saja, tak perlu dikenang
6 maret 2015
Dalam perjalanan laut menuju kota Daeng
“Suatu hari kelak, aku pasti akan kalah oleh waktu dan
jarak yang tak terlampaui.”
~Takaki~
“Aku sudah benar-benar berhasil menjadikanmu kenangan,
kan ?”
~Akari~
“Walaupun dia tersenyum lembut padaku, hatinya seakan
menghadap sesuatu di kejauhan.”
~Kanae~
Sebenarnya berat menulis tentang anime ini (halah). Walaupun sudah dinonton
sejak tahun lalu, jauh sebelum lulus. Waktu itu hanya setengah-setengah karena
fokus pada persiapan sidang. Selesai ujian, Yoru yang sudah duluan nonton mendesak
saya untuk nonton juga. Katanya wajib, supaya saya ikut-ikutan sesak (apa
maksud ?). Akhirnya memang dinonton juga, yang membuat saya menyesal. Kenapa ?
Karena anime ini benar-benar bikin sesak napas. Selepas nonton buru-buru saya
buka jendela dan menarik napas dalam-dalam (sambil merapal mantra “hidup ini
indah, anginnya sepoi-sepoi”). Karena masih tak nyaman juga, anime itu langsung
di-shift+delete dari laptop.
Pepatah bilang, seekor tupai tak akan jatuh di lubang yang sama.
Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi Snoppy, mencari seri terakhir The
Hunger Games, Mockingjay, yang minta dipinjamkan sama sepupu. Sejak filmnya
sukses di pasaran, novelnya jadi susah didapat karena banyak yang antri. Si
sepupu yang belum baca sampai tuntas penasaran dengan seri terakhir, tapi juga
tak niat beli. Maunya cumi, cuma minjam. Seperti yang diperkirakan, si
Mockingjay masih di tangan orang lain. Saya sudah memutuskan untuk pulang
ketika secara tak sengaja (ah, lagi-lagi tak disengaja) mata saya menabrak dua jilid
manga yang duduk manis di atas meja pengembalian. Manga yang judulnya membuat
saya tiba-tiba diserang sesak napas, 5 cm
Per Second.
Pinjam. Tidak. Pinjam. Tidak. Berdiri tiga menit dengan jari
mengetuk-ngetuk meja hanya untuk masalah sepele antara pinjam atau tidak. Adakalanya bersikap ringan itu penting. Dipikir-pikir,
yah, hanya manga. It’s not a a big deal. Berharap ada sesuatu di dalamnya yang
menjawab hal yang tidak terjawab di anime. Walau hanya sedikit tidak masalah.
Saya butuh itu. Dan si tupai pun jatuh di lubang yang sama.
5 cm per second dipercaya sebagai kecepatan jatuhnya bunga sakura.
Cerita versi anime terbagi tiga segmen dengan tiga tokoh penting : Takaki,
Akari dan Kanae. Sementara cerita versi manga lebih panjang yang dipecah ke
dalam sebelas segmen dengan tambahan tokoh Risa Mizuno, yang dalam anime hanya
muncul sebentar. Tempo yang dipakai di kedua versi sama-sama lambat. Tempo yang
lambat dengan nuansa sendu memang paling bisa menimbulkan sesak, asal didukung
oleh cerita yang menarik. Keunggulan anime ini ada pada ceritanya yang berat,
rumit dan realistis serta artwork yang keren. Kalau artwork yang super keren
masih dipegang oleh Kotonoha no Niwa
(Garden of Words). Keduanya sama-sama digarap oleh Makoto Shinkai, tapi dilihat
dari kedua sisi, cerita dan grafis, 5 cm
Per Second lebih unggul.
Masuk pada cerita dan tokoh-tokohnya. Sejujurnya, yang bikin sesak bukan
kisah antara Takaki dan Akari. Yah, sesak juga, sih. Tapi bukan itu yang utama.
Bagaimana pun, aneh rasanya murid kelas empat SD sudah mengalami apa yang
disebut perasaan-yang-sulit-diungkapkan, apalagi terbawa hingga dewasa. Masa
itu adalah masa bermain. Mereka belum terganggu oleh perasaan semacam itu. Tapi
entahlah ya, kalau di Jepang sana. Jika hal itu harus muncul, paling minimal
saat kelas dua atau tiga SMP. Karenanya saya lebih memahami perasaan Kanae pada
Takaki dibanding Takaki-Akari.
Membaca manga-nya memang sudah sesak sedari awal. Memasuki bagian Kanae
kemudian bagian Risa Mizuno, sesaknya jadi menumpuk. Menjelang akhir, Kanae
bertutur tentang Takaki setelah sepuluh tahun berlalu, Dia seperti bintang bersinar yang selalu ada di sana, namun tak
terjangkau. Saat itu aku sadar aku takkan bisa meraihnya. Saat membaca bagian ini, mata yang sudah
berkaca-kaca pun pecah. Ah, tolong, di antara segala pilihan kata, kenapa harus
kata-kata ini yang muncul ? Tapi ada hal penting yang saya temukan dalam manga,
ketika Takaki dewasa melintasi rel kereta dan di seberang jalan, di balik
punggungnya, Akari kecil berdiri melambaikan tangan. Mungkin, itu jawaban yang
saya cari. Endingnya memang terbuka bagi penonton untuk menyimpulkan sendiri.
Ini hebatnya Makoto Shinkai mengeksekusi akhir yang indah sekaligus
menyakitkan.
Dalam novel Kafka on The Shore
karya Murakami, ada kalimat berbunyi seperti ini, “Kafka, dalam kehidupan setiap manusia, ada suatu titik di mana kau
tidak dapat kembali lagi. Dan pada beberapa kasus, itu berarti titik di mana
kau juga tidak dapat maju. Ketika kita tiba pada titik itu, yang dapat kita
lakukan hanyalah menerima kenyataan. Dengan cara itulah kita bertahan.” Baik Takaki, Akari, Kanae bahkan Risa adalah
tokoh-tokoh yang berada pada titik itu. Dan juga sedang bertahan dengan cara
seperti itu. Masing-masing dari mereka berusaha, agar jam kembali berputar.
Takaki yang mulai menerima dirinya apa adanya, Akari yang akan selalu menyukai
Takaki dan Kanae yang mengunjungi Tokyo mencari jawaban dari pernyataannya
sepuluh tahun yang lalu.
Buat
yang sudah nonton animenya, saya sarankan baca juga manganya. Mungkin ada hal
lain yang bisa kau temukan di sana.
“Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik
dibandingkan dengan keseluruhan album”
~Koshigaya Osamu, Bonus Track~
Kusano Tetsuya (26 tahun) bekerja sebagai manajer di restoran hamburger
besar di kotanya. Jam kerjanya bukan main lamanya, bisa lebih dari dua belas
jam. Dengan waktu luang yang begitu sedikit, Kusano nyaris tak punya waktu
untuk menikmati hidup. Hari libur pun dilewati dengan makan-tidur-makan-tidur. Suatu
malam, saat pulang kerja dengan mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak
lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang
pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan. Kusano mencoba
menolong pemuda itu, namun sudah terlambat. Kejadian itu membuat Kusano demam
tinggi dan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya,
bahkan tidur-tiduran di atas sofanya.
Yokoi Ryota (19 tahun), seorang mahasiswa yang selalu bernasib sial. Bila
mengantri di kedai ramen, sup ramen-nya habis persis ketika gilirannya tiba. Bila
bermain gunting batu kertas, hanya ia saja yang menjulurkan batu padahal
semuanya menjulurkan kertas. Selama masa SD dan SMP, Ryota yang tak punya
kemampuan fisik harus mempersenjatai dirinya dengan kemampuan yang disebut ‘menjilat-orang-yang-senang-dipuji’
agar bertahan hidup di tengah lingkungan yang brutal. Ia jadi ingin secepatnya
keluar dari kampungnya dan kuliah di universitas di Tokyo. Namun bukannya masuk
ke universitas di Tokyo, Ryota malah terpeleset ke universitas kelas dua
setengah (tidak tinggi, juga tidak rendah) di Saitama. Ia juga lahir di zaman
yang salah, sebab krisis moneter yang terjadi saat itu membuat ia tidak boleh
menganggur barang setahun untuk menyembuhkan depresinya sebagai si lemah yang
hidup di lingkungan yang-kuat-memakan-yang-lemah. Dan kesialan terakhir terjadi
ketika ia menjadi korban tabrak lari sebuah mobil norak dengan bunyi mesin yang
seperti kentut monster.
Ryota percaya bahwa kalau orang sudah mati, ya sudah sampai situ saja.
Sayangnya, lagi-lagi ia kurang beruntung, karena sepertinya ia malah berubah
menjadi semacam, ehm, arwah. Atau hantu. Sejenis itulah. Yang bisa mendengar
dan melihat sosok Ryota adalah Kusano. Jadi ia membuntuti terus Kusano hingga
ke apartemennya untuk meminta bantuan Kusano mencari mobil yang menabraknya
hingga tewas.
Ini pertama kalinya saya membaca karya Koshigaya Osamu. Diterbitkan di
Jepang tahun 2004 dan butuh waktu sepuluh tahun untuk diterbitkan di Indonesia
(hadeh, kenapaaa???). Walaupun agak bosan di bagian awal tapi mulai seru mendekati
pertengahan dan diakhiri dengan sedikit dramatis. Dialog antara Ryota dan Kusano
yang saling menyindir bikin saya senyum-senyum. Persahabatan mereka terjalin
pelan-pelan dan natural. Saya suka karakter Ryota yang periang, jahil dan sok. Ia
pengamat yang baik, karena itu ia menjadi penasihat Kusano dalam mengatur para
pekerja di restoran. Ryota juga paham bagaimana memperlakukan tiap-tiap orang. Bersama
Ryota, hidup Kusano pun sedikit berubah. Ia jadi punya teman bercerita dan
bermain game. Hari libur yang biasanya lesu menjadi lebih seru dengan kehadiran
Ryota. Selain kedua karakter ini, muncul pula beberapa karakter lain yang ikut serta
dalam misi pencarian pelaku tabrak lari. Walau ada bagian yang dramatis tapi
masih dalam porsi yang pas.
Membaca
novel ini bagaikan menonton drama ala Jepang yang bertema from zero to hero.
Kusano yang awalnya kesulitan dengan tugas manajer dan sering dibebani oleh
pikirannya sendiri mulai mempercayakan beberapa tugas penting ke para stafnya.
Ryota yang selalu bernasib sial mulai melihat sisi baik kehidupannya. Atau kematiannya,
karena ia baru memahami hal itu setelah mati. Kata Ryota, jika kehidupannya
diringkas mungkin menjadi “Album debut sebuah punk band” yang selesai dengan cepat. Tapi di dalam album yang
cepat selesai itu ada sebuah bonus track.
Kadang bonus track itu sendiri malah
lebih baik dibanding keseluruhan album. Hidup Ryota memang selesai dengan
cepat, ia meninggal di usia yang belum genap 20 tahun. Tapi Ryota mendapat bonus track setelah kematiannya, dan baginya
itu lebih baik dibanding keseluruhan hidupnya.
“I
was really there. And that was enough to make me feel infinite. I feel
infinite.”
~Charlie, The Perks of Being Wallflower~
Pukul delapan malam itu, saat Oshin, sebut saja begitu
karena orang-orang pun nyaris lupa nama aslinya, mengajakku ke dermaga. Kami
berlari ke kolong rumah mengambil sepeda dan mengayuh cepat-cepat, takut
bertemu nenek di jalan. Saat melewati masjid, dari jendela kaca kulihat nenek
masih duduk bersama jamaah lain. Kebiasaan beliau selepas shalat Isya adalah
berlama-lama cerita dengan temannya. Jantungku serasa mau lompat karena takut
bercampur senang. Itu pelarian paling mendebarkan yang pernah kualami. Karena
setelahnya nenek mengerahkan para sepupu dan tetangga ke seantero kota Benteng untuk
mencari dua bocah perempuan yang keluar malam tanpa pamit. Padahal kami
mengunjungi dermaga yang letaknya hanya dua blok dari rumah.
Saat itu langit cerah, ribuan bintang memadati langit. Seperti serpihan kaca. Kami menggotong sepeda turun ke pantai. Oshin bersepeda menyusuri garis pantai. Sementara aku berguling-guling di atas pasir, mirip Enola dan Helen di film Waterworld yang begitu girang ketika akhirnya menemukan Dryland. Bunyi ombak, suara Oshin yang tertawa, semilir angin laut, pantai yang gelap dan langit malam yang kutatap. Di momen itu, untuk pertama kalinya aku merasa bebas.
Saat itu langit cerah, ribuan bintang memadati langit. Seperti serpihan kaca. Kami menggotong sepeda turun ke pantai. Oshin bersepeda menyusuri garis pantai. Sementara aku berguling-guling di atas pasir, mirip Enola dan Helen di film Waterworld yang begitu girang ketika akhirnya menemukan Dryland. Bunyi ombak, suara Oshin yang tertawa, semilir angin laut, pantai yang gelap dan langit malam yang kutatap. Di momen itu, untuk pertama kalinya aku merasa bebas.
“Walaupun tinggal serumah dengan bulan dan matahari
namun hati tidak tentram, maka itu bukan sumber kebahagiaan”
~Ibu~
Aku terkagum-kagum pada kalimat itu sampai-sampai
kucatat agar tidak lupa. Diucapkan dalam bahasa Selayar dan menurutku lebih
mengena dibanding bahasa Indonesia. Tapi kira-kira seperti itulah
terjemahannya. Siang itu aku membantu mengetikkan tugas-tugas ibu. Lalu sepupu
ibu datang berkunjung. Mereka pun terlibat diskusi serius tentang berita yang mencuat
belakangan ini. Tak disangkal jika materi dan kedudukan adalah dua dari sekian indikator
kebahagiaan. Ada orang yang memiliki berbagai materi yang hanya bisa diimpikan
orang lain. Bolak-balik plesiran ke luar negeri seperti layaknya bolak-balik ke
toilet. Serta punya kedudukan tinggi dalam pekerjaan. Karena itulah disebut “tinggal
serumah dengan bulan dan matahari”. Tetapi rumah yang punya segala materi itu
tak bisa memberi ketentraman batin. Masalah di dalamnya membuat penghuni lebih
betah berada di luar dibanding di rumah. Dan lebih nyenyak tidur di kantor
dibanding di kamar. “Mereka telah menjadi lebih kaya,
mereka bekerja jauh lebih sedikit, mereka
memiliki
hiburan lebih panjang, mereka lebih
sering mengadakan
perjalanan, mereka hidup
lebih lama, dan mereka lebih sehat.”
Kata Richard Layard, professor dari London School of Economics, “Namun,
mereka tidak lebih bahagia.” Bagaimana menurutmu ?
Oh ya, pemateri dalam seminar yang kuikuti kemarin memberi
tips bahwa bila ingin merasakan ketenangan, maka sering-seringlah memeluk ibu, sebab
pelukan ibu membawa ketenangan sebagaimana ketenangan dalam rahim.
Selamat
tidur, semoga angin memelukmu kembali dalam sejuk dan harum di awal pagi.
“Sebaliknya bagi kita yang masih hidup,
setiap tahun, setiap bulan, setiap hari, umur akan terus bertambah. Terkadang
aku bahkan merasa bahwa umurku terus bertambah setiap jam. Yang menakutkan adalah
bahwa hal itu memang demikian adanya.”
~Haruki Murakami, Kaze No Uta O Kike~
Derek Heartfield, salah satu pengarang yang sezaman dengan Hemingway dan Fitzgerald, katanya hanya menyukai tiga hal. Senapan, kucing, dan kue yang dipanggang ibunya. Kesukaannya pada senjata menjadikannya kolektor yang nyaris sempurna di seluruh Amerika. Dari sejumlah senjata miliknya, yang paling dia banggakan adalah revolver 38 mm, yang gagangnya berhiaskan mutiara. Dia sering berkata bahwa suatu saat nanti akan menembak dirinya sendiri dengan benda itu. Tapi kemudian Heartfield memilih mati dengan cara lain. Ketika ibunya meninggal, dia naik ke puncak Empire State Building dan meloncat sambil memeluk lukisan Hitler di tangan kanan dan payung terbuka di tangan kirinya. Saya tidak tahu apa-apa tentang Heartfield. Dan tidak pernah membaca satu pun karangannya yang dipenuhi makhluk fantasi dari planet Mars itu. Murakami-lah yang memberitahu saya semua informasi tadi.
Kematian, adalah tema yang paling jarang dibicarakan. Kita lebih memilih mengalihkan atau menghindari pembicaraan semacam itu. Tapi di kepala saya sudah lama muncul gagasan ini : mati muda. Sejak kecil, mungkin SD atau SMP, dengan segala keterbatasan pemahaman, selalu kepikiran bahwa sepertinya saya akan cepat mati. Tidak seperti nenek yang meninggal di usia renta 70 atau 80 tahun, saya merasa akan lebih cepat dari itu. Tak tahu juga kenapa begitu. Saya hidup sebagaimana layaknya anak-anak biasa, belajar di sekolah dan bermain di luar rumah. Tapi pikiran tentang mati muda sering muncul di sela-sela waktu itu. Muncul begitu saja. Saya jadi sering menegur diri, kamu anak sekolahan, kenapa memikirkan hal seberat itu. Tapi hingga kini pun, pikiran itu tak pernah hilang.
Suatu waktu saya berbincang dengan teman tentang bunuh diri. Teman saya berkata bahwa apapun alasannya, menghilangkan nyawa yang hanya satu-satunya adalah kenaifan. “Sayangnya”, dia melanjutkan, “Aku pun pernah berpikir senaif itu.” Jika Heartfield punya segudang koleksi senjata yang bisa kapan saja dia pakai untuk menembak dirinya, maka di dalam rumah ada berbagai macam benda semisal silet, pisau, gunting, tali jemuran atau cairan pembersih. Seorang teman dengan wajah datar pernah memamerkan bekas sayatan di pergelangan tangannya. Tapi saya tidak memikirkan tindakan semacam itu. Saya haya merasa bahwa waktu untuk pergi akan tiba lebih cepat. Entah dengan cara apa.
Anak-anak dianugerahi rasa ingin tahu yang besar, dan kadang kelewat liar. Ingin tahu rasanya hujan-hujanan, ingin tahu rasanya panjat pohon, ingin tahu rasanya mahir naik sepeda dan juga, ingin tahu seperti apa rasa sakit itu. Sewaktu kecil, saya pernah memasukkan biji jangung ke dalam hidung, menghirupnya kuat-kuat hingga tersangkut dan menutup aliran udara. Ketika mulai kesulitan bernapas, saya tergopoh-gopoh mendatangi ibu yang saat itu sedang menanak nasi. Sendok nasi yang dipegang ibu jatuh ke lantai. Berikutnya yang saya ingat, ibu berlari menggendong saya ke rumah dokter yang jaraknya ratusan meter dari rumah. Bodohnya, saya mengulang kasus yang sama di lain waktu.
Saya juga pernah menyayat jempol tangan kiri. Saat itu sedang penasaran dengan benda bernama silet. Begitu kecil dan tipis. Ketipisannya mampu memotong kuku jari yang keras dan panjang. Saya tidak berpikir apa-apa ketika tahu-tahu sudah mulai menyayat dari ujung jempol lurus ke bawah hingga garis tengah. Ada rasa menyengat di sepanjang kulit yang tersayat. Awalnya hanya berupa garis merah kecil, lalu pelan-pelan garis kecil itu melebar, meluap seperti sungai. Darahnya jatuh menetes ke tanah. Melihat itu saya pun dilanda panik dan berlari kesana kemari mencari kapas dan plester. Sampai sekarang, jika melihat silet saya selalu teringat peristiwa itu.
Pikiran tentang mati muda tak pernah saya ungkapkan kecuali sekali. Baiklah, dua kali dengan tulisan ini. Hasilnya adalah ekspresi yang sulit digambarkan. Seolah-olah orang itu baru saja melihat bentuk kue yang tidak lazim. Padahal saya berharap bisa menemukan sesuatu yang berbeda. Tapi hanya itulah yang saya tangkap.
Bila kematian menjadi tema yang jarang dibicarakan, pernikahan sebaliknya. Tema terpopuler, terutama di kalangan usia 20an ke atas. Untuk ini pun saya punya firasat yang aneh. Beberapa bulan terakhir, salah satu teman SMA sering datang berkunjung. Seperti biasa bila cerita tentang masa SMA, ujung-ujungnya membahas teman mana saja yang sudah atau belum menikah. Di tengah percakapan, tiba-tiba ada jeda yang cukup lama. Teman saya memutuskan memecah keheningan, “Hei, tak tahu kenapa ya, tapi sepertinya masih lama baru saya bisa nikah”. Masa sih, tanya saya. “Yup, dan kalau kuperhatikan, kau juga akan mengalami nasib serupa” Saya tertawa mendengarnya. Saya malah berpikir akan mati sebelum sempat menikah. Pernah suatu hari di musim hujan, saya pulang membawa kaos kaki baru yang rencananya akan dipakai untuk upacara sekolah. Saat hari senin tiba, baru sadar kalau ternyata kaos kaki itu tidak lengkap. Hanya ada bagian kanan. Kaos kaki itu mirip dengan nenek, yang tetap sendiri hingga akhir hayat. Yang tetap menjadi bagian yang tidak lengkap. Entah kenapa, saya punya firasat akan menjadi seperti kaos kaki itu. Jika untuk hidup saja sepertinya tak lama lagi, bagaimana bisa memikirkan hal lain bernama pernikahan ?
Baiklah, saya tidak berharap yang demikian itu benar-benar terjadi. Tapi semakin lama pikiran itu semakin menguat. Hanya doa satu-satunya senjata agar dijauhkan dari firasat buruk. Berharap apa yang terus kepikiran itu tidak benar adanya. Banyak bekal yang lebih wajib saya cari. Banyak hal yang lebih mendesak untuk saya benahi. Dan banyak dosa yang lebih patut saya renungi.
“Ketika hidup, kau rela mati demi anakmu. Ketika mati, kau ingin hidup untuk menjaga anakmu”
~Tokyo Tower~
Awalnya saya pikir orang barat yang nulis, namanya saja Lily Franky. Kan banyak tuh novel bernuansa jepang tapi ternyata penulisnya bukan orang Jepang. Jadi ragu mau beli atau tidak ? Beli tidak ? Tapi berhubung di cover ada kalimat bertulis “telah terjual lebih dari 2 juta kopi di Jepang”, serta “telah diangkat ke layar lebar dan serial TV”, akhirnya dibeli juga. Ngomong-ngomong, Lily Franky terdengar seperti nama perempuan kan ? Yup, saya tidak ragu, penulisnya pasti perempuan. Tapi setelah beberapa halaman, kok kayaknya bukan perempuan yang nulis. Tokoh utamanya laki-laki. Gaya bertuturnya pun beda dari penulis perempuan. Saat tanya ke salah satu teman kesannya akan buku ini, dia bilang dia tidak yakin kalau penulisnya perempuan. Tuh kan ? Jadi untuk lebih jelasnya kita pun meminta bantuan Daeng Google.
Daeng Google yang dimintai tolong malah mengarahkan kita ke halaman Dramawiki. Lho, penulis kok larinya ke dramawiki. Pas lihat fotonya, eh ini kok kayak kenal ya ? Maksudnya saya yang kenal dia, kalau dia sih mustahil kenal saya. Ternyata pemirsa, si Lliy Franky ini adalah aktor yang berperan sebagai bapaknya dr. Aizawa di dorama Code Blue, yang nyaris terlupakan karena saya lebih fokus ke dr. Aizawa sepanjang dorama. Menunggu momen kapan kira-kira si dokter ini akan tersenyum. Nama asli Lily Franky adalah Masaya Nakagawa, seorang aktor, illustrator, desainer, fotografer, penulis lagu, novelis dan vokalis band. Whoaaa…ini baru namanya multitalenta. Tokyo Tower bukan sekadar novel, tapi otobiografi dari Masaya Nakagawa.
Tak ada keluarga yang sempurna. Begitupun keluarga Masaya. Sejak kecil ia terbiasa hidup hanya berdua dengan ibunya. Orangtuanya tidak bercerai tetapi mereka memilih hidup terpisah. Bagi Masaya, ibunya ibarat pesawat Thunderbird 2 dalam serial TV Thunderbirds, yang membawanya sebagai muatan dan keberadaannya begitu dekat. Sementara ayahnya, ibarat pesawat Thunderbird 5 yang melayang di angkasa dan tidak pasti ada di mana. Muncul di saat tertentu dan menghilang saat disadari.
Ibu Masaya adalah tipikal perempuan yang menyenangkan, suka tertawa dan menyukai pekerjaan rumah tangga. Ia sangat peduli pada hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian Masaya. Setiap makan, ibunya rutin menyediakan berbagai macam lauk di atas meja. Sementara untuk pakaian, ibunya rajin membelikan Masaya baju baru untuk berbagai acara atau perayaan. Tapi sang ibu sendiri selalu memakai pakaian yang sama selama bertahun-tahun. Hal itu membuat Masaya tak pernah merasa miskin meski mereka tidak punya rumah sendiri.
Ayah Masaya adalah tipikal laki-laki kasar, peminum berat dan suka ngamuk saat mabuk. Jenis manusia yang kaku dan tak peduli dengan sekitar. Saat Masaya lahir atau saat masuk rumah sakit, ayahnya sedang menghabiskan waktu di bar. Ayahnya tidak ikut membesarkan Masaya, tapi tetap mengurusnya. Ia peduli dengan pendidikan Masaya, menempuh berbagai cara agar anaknya diterima di sekolah seni dan membantunya mencari pekerjaan sewaktu kuliah di Tokyo. Ia selalu mendorong Masaya untuk hidup mandiri. Pekerjaannya sering berganti-ganti karena memang tipe manusia yang setengah-setengah menekuni sesuatu. Walau begitu, ia tetap menyisihkan penghasilan untuk istri dan anaknya. Jiwa seni yang mengalir dalam diri Masaya pun diturunkan oleh ayahnya. Sejujurnya, ayah Masaya tetap menjadi misteri bagi saya hingga akhir cerita. Tak bisa disebut baik, tapi juga tak bisa disebut jahat.
Memasuki masa SMA, Masaya keluar dari sarangnya, hidup sendiri dan bersekolah di Beppu. Di masa ini kehidupannya mulai tak teratur. Tak ada lagi ibu yang membangunkannya di pagi hari. waktunya dihabiskan di game center dan pachinko. Semangatnya akan sekolah dan seni pun perlahan-lahan surut. Tapi dengan susah payah Masaya berhasil masuk institut seni di Musashino, Tokyo bagian barat. Di Tokyo, tempat kebebasan dapat diperoleh dengan mudah, hidupnya makin tak teratur, digerus oleh kehidupan kota. Kondisinya sedikit demi sedikit membaik setelah ibunya ikut tinggal bersamanya.
Masaya banyak menyorot kehidupan hedonis orang-orang Tokyo. Ia menyindir definisi kaya dan miskin ala orang kota. Memiliki uang koin seratus yen di kantong tak dapat dikatakan miskin. Justru satu-satunya kekayaan berupa uang seribu yen dalam dompet Louis Vuitton yang dibeli secara kredit malah lebih tergolong miskin.
Pun keluarga bagi Masaya adalah sesuatu yang rumit. Dan sesuatu yang rumit itu dimulai dari pernikahan. Ia mengutip dialog dalam opera The Marriage of Figaro bahwa “Di antara hal-hal yang serius, pernikahan adalah yang paling bodoh”. Ya, dua manusia bodoh melalui proses menjadi suami-istri, lalu menjadi orangtua, dan tanpa bisa berbuat apa-apa, tahu-tahu sudah terbelit dalam hubungan keluarga. Masaya beruntung memiliki ibu yang begitu dekat dan menyayanginya serta ayah yang tetap mengurus kebutuhannya. Tapi pengalaman dengan keluarganya tidak bisa disebut bahagia. Mungkin itulah mengapa sampai akhir hayat sang ibu, bahkan sampai sekarang pun Masaya memilih untuk tidak berkeluarga.
Saya kira wajar kalau novel ini laku keras. Ada sisi kehidupan yang nyaris hilang pada diri orang kota, yang muncul dalam novel ini. Tak banyak orang dewasa, apalagi di Tokyo, yang tetap berbakti pada orangtua hingga akhir hayat seperti halnya Masaya. Di negara maju, saat orangtua sudah tidak lagi mampu merawat dirinya, mereka cukup didaftarkan ke panti jompo. Sang anak hanya perlu sesekali menjenguk orangtua mereka. Tapi membawa serta ibu tinggal bersama di kota, merawatnya di saat sakit, memenuhi keinginan-keinginannya dan menemaninya di saat-saat terahir seperti yang dilakukan oleh Masaya adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan kebanyakan anak yang sudah mandiri.
Novel ini dibaca di sela-sela penelitian di bulan April. Untungnya saat itu saya berada di tengah-tengah keluarga bersama ibu, ayah dan kedua adik. Apa jadinya jika dibaca saat jauh dari rumah, di kos misalnya. Mungkin saya sudah meraung-raung di kamar memanggil nama ibu (lebay). Jadi, hati-hatilah membaca novel ini ketika jauh dari rumah.
“Ada begitu banyak perasaan di dunia ini, namun tidak ada yang menyerupai perasaan orangtua pada anak. Saat masih anak-anak, kita belum memahami hal itu. Tapi saat sudah berada pada posisi orangtua, kita pun akan memahami apa yang dipikirkan orangtua tentang anaknya”
~Lily Franky~
Subscribe to:
Posts (Atom)








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact