26 January 2014

Nonton Drama

Kebanyakan orang menyukai drama. Mungkin karena itu, tayangan sinetron tak pernah berhenti. Karena itu drama Korea sangat digemari. Karena itu film-film India tak pernah mati. Di kos saya, terutama di area belakang adalah penggemar berat drama Korea. Setelah menonton, bisa dipastikan dapur akan heboh oleh komentar para penonton. Saya pernah melihat teman kos geleng-geleng kepala sambil memegang keningnya seperti sedang depresi. Setelah ditanya barulah saya paham, dia masih kepikiran drama korea yang baru saja ditontonnya.

Dari segi jenis drama, penghuni kos saya terbagi beberapa kecenderungan. Ada penyuka drama Korea, ada penyuka film India, ada penyuka film Indonesia asal pemerannya Reza Rahadian dan ada penyuka drama jepang. Beberapa kali saya ditawari nonton drama korea, tapi sangat jarang ada yang menarik, atau minimal memancing rasa penasaran. Saya selalu tidak bisa menyelesaikan episode pertama. Kalau satu episode saja tidak bisa selesai, bagaimana lagi episode selanjutnya. Selain itu, jujur saja, drama korea sering membuat saya bingung. Semuanya cantik, dan agak mirip satu sama lain. Saya jadi kesulitan membedakan setiap tokoh. Saya juga tidak suka adegan drama yang pemerannya menangis keras, kadang lebih cocok disebut berteriak dibanding menangis. Sejauh pengamatan saya, drama Korea banyak menampilkan hal semacam ini. Tapi faktor yang paling penting adalah jumlah episode. Saya pernah mencoba nonton salah satu drama korea, tapi begitu melihat jumlah episodenya yang mencapai angka 26, batal deh.

Setiap siang, biasanya ada satu atau dua penghuni kos yang khusyuk nonton film India di ruang tamu. Film jadul yang diputar berulang kali sampai-sampai penonton bisa hapal beberapa dialognya. Saya yang baru pulang memilih mengurung diri dalam kamar. Tapi, lari dari film India malah masuk drama Jepang (halah). Berawal dari opening yang unik, saya justru larut nonton drama. Ada lima kata di bagian opening drama ini yang mewakili karakter setiap tokoh yaitu : Love, Liberation, Agony, Solitude dan Contradiction. Ceritanya agak beda dengan drama kebanyakan karena mengusung tema domestic violence, broken home dan pengalaman traumatis. Karena tidak berminat lama-lama di drama sepanjang 11 episode ini, jadi saya menonton sambil men-skip. Bila sudah paham jalan cerita tiap episode, dialog yang panjang-panjang dilewati saja demi menghemat waktu. 

Di antara semua tokoh, yang paling menarik perhatian saya adalah karakter si Contradiction. Benar-benar kontradiksi. Paling antagonis di antara tokoh yang lain. Sikapnya yang posesif dan ringan tangan sukses membuat penonton emosi. Tapi di sisi lain, karakter ini justru bersikap hangat dan kebapakan terhadap anak kecil yang ditemuinya. Saya jadi tidak bisa membencinya. Ekspresi datarnya membuat saya beranggapan bahwa orang ini sebenarnya menderita. Akhir ceritanya juga boleh dibilang sempurna dengan kematian tokoh ini. Walau sebelum itu berkali-kali saya bergumam dalam hati, “Jangan mati. Ayolah, jangan mati. Kau bisa memulai semuanya dari awal lagi.” Drama yang bagus karena mampu membuat mata saya berkaca-kaca. Terakhir kali nangis sesenggukan (halah) nonton drama adalah sewaktu menonton Nankyoku Tairiku. Pemilihan Prisoner of Love-nya Utada Hikaru juga sangat pas dalam drama ini.
19 January 2014

Jodoh Itu (Kadang) Sederhana Saja

Kalau dipikir-pikir (halah), jodoh itu adalah perkara yang memusingkan. Ada yang rumit seperti rumus fisika. Dan ada pula yang sederhana. Sesederhana mengatakan bahwa hari minggu itu hari libur, jadi seluruh sekolah tutup. Beberapa fakta di lapangan yang saya saksikan juga menunjukkan demikian. Dua orang bertetangga. Satu kuliah di Makassar, satu kuliah di Jogja. Nyaris tidak pernah bertemu semasa kuliah. Setelah pulang kampung, bertemu secara tidak sengaja di sebuah toko, bulan depannya undangan sudah disebar.

Sepupu saya seorang pelaut. Bertahun-tahun hidup di tengah air asin dengan cuaca yang berubah-ubah, kadang cerah kadang badai. Mengingatkan saya pada kehidupan di anime One Piece. Dia sudah berkali-kali ganti kapal dan menginjakkan kaki di berbagai negara dan benua. Dan berkali-kali mengajukan “proposal” ke ibunya. Proposal pertama berisi calon istri asal India. Tante sebenarnya membolehkan, tapi diberi pertimbangan begini, “Ibu sudah tua dan tidak kuat bepergian jauh. Ibu berharap kamu menikah dengan orang yang tidak jauh dari rumah.”

Proposal pun batal, diganti dengan proposal lain yang beberapa tahun berikutnya masih terus berganti. Seingat saya, yang terakhir adalah seorang perempuan asal Sumatera. Tante mengiyakan. Tapi entah kenapa yang itu pun tidak jadi. Suatu ketika tante berpapasan dengan teman lama. Tiba-tiba pembicaraan berbelok ke persoalan anak yang belum menikah. Teman tante yang merupakan guru sejarah saya semasa SMP ternyata punya anak perempuan yang juga belum menikah dan sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah instansi di Jawa.

Dari pembicaraan tersebut timbullah rencana menikahkan keduanya. Percaya atau tidak, hanya dalam hitungan hari rencana itu terwujud. Saya bahkan tidak yakin apa sepupu saya dan calonnya itu dipertemukan terlebih dahulu atau hanya sekadar dikabari lewat telepon. Tapi bukan masalah karena sebenarnya mereka teman seangkatan sewaktu SMA walau hampir tidak pernah bertukar sapa. Sejak kelas satu si perempuan sudah menduduki kelas ekslusif untuk orang-orang pintar. Dan sesuai dengan doa ibunya, jodoh sepupu saya bukan orang yang jauh. Jarak antara kedua rumah mereka bila dihitung-hitung tidak sampai dua kilometer. Jodoh memang (kadang) sederhana ya.

Dan kali ini giliran si Arai wannabe. Saya masih tidak habis pikir. Orang ini tidak pernah serius, suka berkelakar dan sering sarkastis. Orang sini mengistilahkannya dengan maccalla. Kanjeng Mami sendiri bilang, siapapun yang berteman dengan makhluk antik ini harus siap-siap sakit hati :D. Btw, orang ini disebut antik karena di tengah gempuran media sosial, dia tidak tertarik bergabung di dunia twitter, facebook, line, whatsapp, wechat, BBM dll. Orang ini hanya bisa ditemui di dua tempat : yahoo messenger dan blog.

Orang ini suka maccalla. Sewaktu masih di China, sempat ditanya kenapa tidak memilih Jepang saja ? Dia menjawab : Jepang ? Apa tuh, negara kecil. Eh, beberapa bulan kemudian dia kena batunya. Harus ke Jepang dan tinggal di sana selama setengah tahun. Persoalan jodoh juga dia tidak pernah serius. Sampai berbusa mulut temannya menasihati orang ini. Inti nasihatnya hanya dua : lupakan perempuan itu dan cari yang lain. Tak disangka, jodohnya datang dengan cara yang terlalu sederhana. Tepatnya di sebuah warung. Warung jenis apa dia tidak mau bilang. Tapi karena disebut warung, bukan restoran atau rumah makan, pikiran saya jadi mengarah ke warung sari laut yang banyak ditemui di pinggir jalan.

Karena minimnya info yang diberikan, dia pun didemo. Kisahmu itu berliku-liku, masa cuma segitu ? Masa sesederhana itu ? Masa endingnya begitu ? Dia mengelak. Katanya kisahnya tidak berliku-liku, lurus-lurus saja. Hanya berisi satu orang tapi panjang dan lama. Dan sabtu kemarin, si Arai wannabe pun melangsungkan akad nikah. Sudah resmi ganti status. Untuk resepsi pernikahan di kampung, katanya nanti diselenggarakan setelah dia kembali dari India. Mungkin sekitar tiga atau empat bulan ke depan. Sebenarnya di hari pernikahannya saya ingin memposting tulisan yang dia tulis dalam sebuah buku harian sewaktu menjelang kelulusan SMA. Tapi izin terbit belum tembus jadi batal, deh. 

Iya, perkara jodoh memang (kadang) sederhana saja. Ada banyak kisah semacam ini di sekitar kita. Entah kita saksikan sendiri atau diceritakan lewat lisan orang lain. Tapi saya teringat dengan kicauan seorang teman pada suatu hari di dunia twitter. Persisnya bagaimana saya lupa, tapi intinya begini, jangan terburu-buru mencantumkan nama seseorang sebagai bagian dari masa depanmu, sebab belum tentu orang yang bersangkutan mencantumkan namamu sebagai bagian dari masa depannya. Dan teringat pula nasihat murabbi, tempuhlah jalan yang diridhai Allah. Teruslah belajar memperbaiki diri. Jangan lupa berdoa meminta kekuatan. Sebab, orang yang berilmu pun tidak ada yang aman dari perkara hati.
15 January 2014

Berita Cetar Membahana Tahun Ini


Jika muncul kekosongan, sesuatu harus datang mengisinya. Karena itulah yang dilakukan semua orang 
~Haruki Murakami~ 

Awal tahun lagi-lagi membawa berita yang disebut-sebut cetar membahana versi Kanjeng Mami. Kemarin, hujan turun cukup deras. Cuaca dingin. Saya sedang membaca buku sambil berbaring. Buku yang sudah dibaca, tapi dibaca kembali. Sama seperti ingatan yang dikumpulkan kembali menjadi kenangan (halah). Tiba-tiba ponsel berbunyi tanda satu pesan masuk. Saya meraih posel, membaca pesan itu sembari menguap. Hujan di siang hari memang momen yang sempurna untuk tidur. Tetapi, sebaris kalimat pendek dalam pesan itu langsung mengusir rasa kantuk saya. Mata saya melebar menangkap isi pesan itu. Gabungan antara kaget, tidak percaya dan bahagia. Saya terlonjak bangun dan membaca pesan itu sekali lagi. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Segera saya mengetik balasan. Saking semangatnya sampai banyak salah ketik di beberapa bagian. Tanpa peduli dengan susunan huruf yang kacau, pesan balasan pun dikirim.  Beberapa menit kemudian, tanda panggilan masuk berdering. Begitu mengangkat telepon, saya langsung mencecar si Kanjeng Mami dengan berbagai pertanyaan. What, Where, When, Who, Why and How (halah). Beberapa poin penting terjawab. Tapi masih samar-samar. Menyisakan ketidakpuasan bagi saya sebagai penanya. Telepon ditutup. Saya tercenung, sembari mengingat berita cetar membahana tahun lalu.

Bila tahun lalu kabar bahagia datang dari si Perempuan, pesan masuk tadi menyampaikan kabar bahwa kali ini, giliran si Arai wannabe (maafkan saya untuk nama samaranmu) yang membawa berita gembira. Tepatnya hari sabtu pekan ini. Pantas saja blognya kosong melompong selama dua bulan lebih. Terkejut juga dapat berita mendadak begini. Tapi bersyukur, karena akhirnya selesai juga cerita itu. Kini, teman-temannya tidak perlu lagi disibukkan dengan berbagai percobaan perjodohan.

Ngomong-ngomong, setelah sebelumnya terdampar di Jepang sono, makhluk ini kembali mendaratkan kakinya di Thailand dan tinggal selama beberapa bulan di sana. Sewaktu saya ikut dalam perjalanan enam hari di Bangkok, ada rencana bertemu demi oleh-oleh yang dipesan Kanjeng Mami. Tapi karena sesuatu dan lain hal, akhirnya pertemuan itu tidak jadi.

Setelah dua belas tahun menatap satu sosok, tak disangka jodohnya justru datang dari negeri antah berantah. Berdasarkan hasil investigasi, tersangka mengaku bahwa setelah menikah nanti, dia akan berkelana ke India. Katanya biar pulang nanti sudah pintar joget dan jadi artis. Tapi, masih menurut pengakuan tersangka, dia tidak akan membawa istrinya ke India, cukuplah dijadikan pajangan di rumah (sungguh terlalu). Demi acara pernikahannya nanti, dia sampai jauh-jauh datang ke rumah calon istrinya di Kalimantan dengan membawa keluarga besar (duileee…). Nah, berdasarkan penyelidikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa setelah menikah, pasangan ini terancam masuk salah satu kategori status yang sering disebut-sebut di twitter, LDR (haduh, saya jadi ikut-ikutan lebay). Tapi kurang lebih begitulah penuturan salah satu informan terpercaya kami.

Baiklah, sebelum berubah menjadi lebih konyol lagi, saya akhiri tulisan ini dengan doa yang senantiasa diucapkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam untuk orang yang melangsungkan pernikahan : 
Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a baynakumaa fii khair 
(Semoga Allah memberikan berkah kepadamu, semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadamu. Dan semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan) 

Setelah menulis, hujan di luar sudah reda. Matahari menyapu langit sore dengan warna keemasan. Mendung sepertinya sedang hijrah ke tempat lain. Bagaimana menurutmu tonganni mentia’ ? Sejauh ini belum ada konferensi pers untuk para fans club. Hohoho ^_^
05 January 2014

Menulis Bagi Saya

Saya ini pencoret-coret, bukan penulis. Orang disebut penulis bila sudah menerbitkan buku. Disebut penulis bila tulisannya dimuat di berbagai surat kabar, tabloid atau majalah. Disebut penulis bila tulisan tetap fokus dari awal sampai akhir. Sementara pencoret-coret, seperti saya misalnya, hanya tipe yang senang mengisi lembar kosong di kala senggang. Tipe yang bila menulis, judul lari ke timur dan isi lari ke barat.

Awal mula menulis, karena saya kesulitan menguraikan jalinan-jalinan rumit di kepala. Seperti ada benang panjang dengan berbagai warna berkelindan di dalam sana. Lebih buruk lagi saya bukan orang terbuka. Hasil tes sidik jari menyebutkan saya termasuk tipe introvert. Tapi juga tidak begitu menutup diri. Setidaknya masih tahu kapan harus membaur dan kapan harus menarik diri. Pribadi introvert membuat seseorang terbiasa mengungkapkan setengah saja dari apa yang dipikirkannya. Bahkan mungkin lebih sedikit lagi. Suatu ketika saya sadar semakin sulit mengekspresikan sesuatu. Saya lalu mengambil pena dan mulai menulis apa yang ada di kepala. Apa yang saya pikirkan, saksikan dan rasakan dituangkan dalam tulisan. Menulis membantu menemukan kata yang mewakili apa yang sebelumnya sulit saya ungkapkan. Menulis, pada awalnya, adalah cara untuk menolong diri saya sendiri.

Setidaknya, ada lima buku harian kecil hasil dari pekerjaan mencoret-coret itu. Dari keseluruhan, tidak ada yang benar-benar terisi sampai lembar terakhir. Selalu ada belasan lembar yang dibiarkan kosong begitu saja. Di suatu malam yang cerah, menjelang berangkat kuliah ke kota, buku-buku itu dikumpulkan di halaman rumah nenek. Ditumpuk bersama sampah plastik, ranting pohon, daun-daun kering dan beberapa kotak kardus, lalu dibakar hingga menjadi abu. Menulis adalah pekerjaan yang menyakitkan ternyata. Tetapi menulis juga bisa menyenangkan. Mungkin karena menjadi alat untuk mengenal diri. Mungkin juga untuk menipu diri. Mungkin juga semacam percobaan untuk menyembuhkan diri. Setiap orang bisa berpindah-pindah pada situasi berbeda.

Bagaimana pun, membubuhkan makna pada kalimat itu menyenangkan. Membaca kalimat yang indah itu menyenangkan. Menemukan kata yang tepat untuk suatu kondisi itu menyenangkan. Dan membagi hal-hal menyenangkan kepada orang lain pun sesuatu yang menyenangkan. Seperti kata Chris Johnson dalam Into The Wild, Happiness only real when shared. Kesepakatan saya dengan Chris hanya untuk kalimat terakhirnya sebelum wafat. Bukan pada pilihan hidupnya yang mengasingkan diri karena kecewa pada masyarakat. Kita memang harus berani hidup sendirian. Tapi bukan dengan lari dari orang-orang. Saya lebih sepakat dengan Eric Weiner dalam The Geography of Bliss, bahwa tak bisa dipungkiri, kebahagiaan itu berasal dari orang-orang di sekitar kita.

Kita adalah manusia yang terjebak di antara dua waktu. Masa lalu dan masa depan. Sesuatu yang tak dapat diubah dan sesuatu yang tak pernah pasti. Kita berjalan tepat di tengah-tengah. Terkadang, saya merasa seperti ditarik dari arah depan dan belakang. Kadang dari arah kiri dan kanan. Kadang juga seperti ditarik dari segala penjuru. Rasanya seperti berdiri dengan tubuh yang utuh tapi tercerai-berai di dalam. Mungkin itu tarikan dari sesuatu di masa lalu, mungkin tarikan harapan dari masa depan, mungkin tarikan pengaruh baik, mungkin juga dari pengaruh buruk. Saya berusaha menjabarkannya. Memilahnya satu-satu, mendefinisikannya satu per satu. Karena itu saya menulis.

Tapi saya hanya pencoret-coret. Tulisan saya bukan karya sastra, apalagi seni. Bila menginginkan seni atau sastra, kata Haruki Murakami, sebaiknya baca saja karya orang Yunani. Sebab sistem perbudakan sangat diperlukan untuk menciptakan seni murni. Begitulah yang terjadi di zaman Yunani kuno, budak-budak membajak ladang, mengolah makanan, mendayung perahu, sementara saat itu penduduk kota tenggelam dalam pembuatan sajak di bawah mentari laut tengah dan mengutak-atik matematika.

Kita hidup di tengah putaran waktu yang cepat. Segala sesuatu berlalu. Tak seorang pun mampu menangkap semua itu. Sebagian bisa dipetik hikmahnya. Sebagian lagi tidak. Sebagian kita sadari, selebihnya tidak. Seperti itulah kita menjalani hidup. Mungkin, karena itu juga saya menulis.

Saya bukan pensil yang bisa menulis kebahagiaan orang lain. Juga bukan penghapus yang bisa menghapus kesedihan orang lain. Tetapi Ali bin Abi Thalib pernah berkata, tulislah sesuatu yang akan membahagiakanmu di akhirat. Saya sadar, tulisan saya kebanyakan hal-hal yang tidak penting. Yang tidak berarti di antara ribuan tulisan lain yang memberi manfaat bagi orang-orang. Saya juga tidak berjanji akan selalu menulis hal-hal yang berguna. Tapi saya berharap, kata-kata Ali bin Abi Thalib itu selalu menjadi pengingat yang baik di kala terlupa.
02 January 2014

Setumpuk Ulang


Seperti rutinitas hari yang terus berulang. Secangkir teh, buku, kuliah, tugas, jurnal, begadang, deadline

Seperti jalanan kampus yang dilewati berulang. Samanea saman, lapangan, hutan, danau, masjid kampus,

Seperti hujan yang datang berulang. Basah, dingin, harum

Seperti rindu yang hadir berulang. Dermaga, angin, seragam putih abu-abu, rumah, masakan ibu

Seperti cerita yang dikisahkan berulang. Rembulan, jendela, bola mata dan ruang jingga

Untukmu,
Selalu ada lembar kosong bagi kata, yang ditulis berulang :
Selamat tidur, semoga angin memelukmu dalam sejuk dan harum di awal pagi


Nb : Hei, satu dekade sudah berlalu. Menurutmu, ombak itu masih sendirian ?

Ketika Buku Menjadi Petaka

Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran. Semangat generasi salaf dalam mencari ilmu tak jarang mengundang decak kagum. Seorang Ibnu Abbas pernah tidur berbantal kain hingga tertutup pasir di depan pintu rumah salah satu shahabat Nabi demi mendengar hadits Rasulullah. Seorang Abdullah bin Hamud Az Zubaidi pernah tidur di kandang ternak gurunya agar bisa mendahului murid-murid lain dan bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Seorang Ibnu Jandal Al Qurthubi pernah terkelupas daging punggungnya karena melewati terowongan bawah tanah yang sempit demi mengikuti sebuah majelis ilmu.

Seorang Imam Asy-Syafi’i yang yatim harus menulis ilmu di atas tulang putih sebab ibunya tak mampu membeli kertas. Seorang Abu Manshur Muhammad bin Husain An Naisaburi yang faqir menulis pelajaran dan mengulangi membacanya di bawah cahaya rembulan sebab tidak punya sesuatu untuk membeli minyak tanah. Ada pula ulama yang menempuh perjalanan satu bulan hanya demi memperbaiki satu hadits yang didengarnya. Betapa kita berhutang pada generasi tersebut atas hadits-hadits shahih yang sampai kepada kita saat ini. Mereka yang paham bahwa meski seluruh hidupnya digadaikan untuk ilmu, sang ilmu hanya memberikan sebagian dari dirinya. Maka bila semangat menekuni ilmu itu hanya setengah-setengah, ilmu pun akan memberikan dirinya lebih sedikit lagi.

Tidak hanya menjaga semangat, ulama salaf juga senantiasa menjaga kelurusan niat. Sebab sebagaimana adab pertama menuntut ilmu harus dengan niat ikhlas, maka hal pertama yang menghalangi masuknya ilmu adalah niat yang rusak. Niat bisa rusak karena adanya kecintaan akan popularitas. Ingin didengar, ingin terkenal dan ingin mendapat pujian dari manusia. Karenanya, popularitas menjadi sesuatu yang paling dijauhi para ulama. Sofyan ats-Tsauri pernah berkata bahwa tidak ada perkara yang lebih berat dan senantiasa beliau perbaiki selain niat. Beliau adalah seorang imam hadits yang bila bepergian, tidak ingin dikawal oleh murid-muridya. Yang bila melewati keramaian, akan mencari jalanan sepi karena takut orang-orang akan menyambutnya. Keikhlasan semacam inilah yang membuat mereka semakin tawadhu setiap kali keluar dari majelis ilmu.

Membaca dan menelaah banyak buku adalah salah satu cara menimba ilmu. Kitab-kitab warisan para ulama telah banyak diterjemahkan hingga akhirnya sampai ke tangan kita. Tetapi buku, akan menjadi sumber petaka bila yang dominan hanya mengumpulkan atau sebatas membaca untuk menambah pengetahuan, dan tidak dibarengi dengan amalan. Buku menjadi petaka ketika pemilik hanya menjadi kolektor demi memenuhi ruang-ruang kosong dalam lemari. Buku menjadi petaka ketika semangat baru muncul bila ada diskon buku, tetapi minus dalam penerapan. Ulama terdahulu menuntut ilmu bukan dengan mengoleksi buku. Mereka mencari ilmu dengan melakukan perjalanan mendatangi ratusan guru. Ilmu yang diperoleh itu kemudian dicatat dalam kitab-kitab. Begitulah seharusnya seorang penuntut ilmu.

(Kumpulan nasihat murabbiyah di akhir pekan). Nasihat yang dalam, kak…
31 December 2013

Taman Orang Jatuh Cinta


“Belum dapat dikatakan sebagai orang yang berakal, apabila ia hanya dapat membedakan yang baik dari yang buruk, tetapi orang yang benar-benar berakal adalah yang dapat membedakan yang lebih baik dari dua keburukan.” 
~Ùmar bin Khattab~ 

Ada dua alasan kenapa saya membeli buku ini dua tahun lalu di Grahamedia. Pertama, stok yang tersisa tinggal satu. Sepertinya ada hubungan yang terbalik antara stok buku dengan keinginan membeli. Semakin sedikit stok buku apalagi tersisa satu, semakin kuat pula keinginan untuk membeli. Semacam pemaksaan yang dilakukan secara halus. Kedua, buku ini ditulis oleh ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah, satu dari segelintir buku-buku yang dijual, yang membahas masalah cinta dari sudut pandang agama.

Tetapi, buku ini dikhatamkan nanti setelah setahun lebih mendekam dalam lemari. Dengan ketebalan 464 halaman, buku ini agak sulit dibawa ke mana-mana. Jadi sebaiknya memang dibaca di rumah saja. Selain itu belum ada faktor yang mendorong saya untuk benar-benar serius membacanya. Hingga suatu ketika, ada yang bertanya mengenai masalah ini. Dan saya diliputi kebingungan menjawabnya. Terlebih dengan tema yang seperti itu. Bila temanya menyangkut aqidah, fiqh, atau hal-hal yang bersiat teknis, jawaban bisa ditunda sampai mendapat penjelasan yang rinci dari ustadz atau orang yang lebih paham. Karena harus ada landasan kuat agar tidak terjadi kekeliruan dalam menyampaikan suatu ilmu.

Tetapi berbeda kondisinya bila masalah itu berkaitan dengan hati atau perasaan. Terlebih bila orang tersebut sudah menangis di depanmu. Paling tidak kau bisa memberi sedikit nasihat yang berguna untuk menenangkannya. Dalam kondisi kebingungan, saya hanya teringat nasihat sederhana seorang murabbiyah yang sangat berkesan buat saya. Yaitu, apabila engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Hanya sedikit yang saya sampaikan, selebihnya saya membantu dengan menawarkan buku. Dia termasuk orang yang suka membaca, jadi kusodorkan buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Salim A. Fillah dan Taman Orang Jatuh Cinta-nya Ibnul Qayyim. Dia memilih yang pertama. Beberapa hari kemudian buku itu dikembalikan. Wajahnya tampak lebih ceria dibanding terakhir kali bertemu. Sepulangnya, tak sengaja saya membolak-balik buku itu dan tersenyum menemukan lipatan penanda di hal.59. 

Selama ini saya memang lebih tertarik pada hal-hal yang bertema pemikiran (Ghazwul fikr). Tapi setelah kejadian tersebut, saya jadi tergerak membaca buku Ibnu Qayyim yang sudah sekian lama mendekam dalam lemari. Penasaran juga kenapa ada yang bisa sakit, menderita bahkan sampai gila gara-gara lima huruf itu. Awanya kupikir hanya dilebih-lebihkan. Ternyata memang ada dijelaskan dalam buku termasuk faktor penyebabnya. 

Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin adalah judul asli buku karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Sebelum memasuki materi, terlebih dahulu penulis membahas pentingnya akal bagi manusia. Dikisahkan ketika Allah menurunkan nabi Adam ke muka bumi, Jibril datang membawa tiga hal : agama, budi pekerti dan akal. Nabi Adam diperintahkan memilih salah satu di antara ketiganya. Beliau lalu mengulurkan tangannya dan memilih akal serta meminta dua hal yang tidak dipilihnya untuk naik ke langit. Kedua hal tersebut kemudian berkata bahwa mereka diperintahkan untuk menyertai akal di manapun berada. Maka, tiga hal itu pun menjadi milik nabi Adam.

Ketiga hal ini : agama, budi pekerti dan akal merupakan anugerah teragung yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Dan Allah juga menjadikan tiga lawan sebagai musuhnya yaitu hawa nafsu, setan dan nafsu amarah. Apabila kekuasaan ada di tangan akal, maka hawa nafsu akan tunduk dan mengikutinya. Sebaliknya, bila kekuasaan berada di tangan nafsu, akal akan menjadi tawanan dan mengikutinya. Manusia tidak akan pernah luput dari hawa nafsu, karena nafsu adalah bagian integral dari dirinya. Ibnu Qayyim menyusun buku ini dengan mempertimbangkan keseimbangan antara nafsu dan akal tadi. Ada 29 bab yang keseluruhannya membahas mengenai cinta mulai dari istilah-istilah cinta dan maknanya, benih-benih lahirnya cinta, cinta buta, kadar cinta, kelompok pemuja dan pencerca cinta, tanda-tanda cinta, cemburu, tentang pandangan mata, dialog antara mata dan hati, tentang mabuk asmara, tentang pelanggaran-pelanggaran yang diharamkan serta pembahasan apakah cinta itu takdir atau pilihan. Cinta yang dibahas dalam buku ini bukan hanya antar manusia, tetapi juga cinta kepada Allah. Bab-bab terakhir membahas tentang pengganti yang lebih baik bagi orang-orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah. Disertakan pula kisah orang-orang yang lebih memilih siksa dunia daripada melakukan hal-hal yang diharamkan. Pembahasan ditutup dengan kiat-kiat bagaimana mengendalikan hawa nafsu. 

Membaca buku ini menyadarkan saya kalau masalah cinta memang berat. Betapa orang yang sudah berlabel ahli ibadah pun bisa terjerumus karenanya. Sisi menarik buku ini adalah penulis banyak mencantumkan kutipan syair-syair. Juga mengkritisi pendapat-pendapat filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Selain itu saya suka metode yang dipakai bila membahas dua atau lebih kelompok yang bertentangan satu sama lain. Setiap kelompok atau pendapat dibahas satu per satu beserta dalil yang digunakan. Setelah itu penulis menarik kesimpulan dari keduanya. Terakhir, mohon maaf tidak bisa berpanjang lebar menguraikan isi buku. Cakupan materinya luas jadi lebih baik bila dibaca secara keseluruhan.
 
;