10 July 2015

Her Sunny Side (Hidamari no Kanojo)

 
Setelah sepuluh tahun, aku bertemu kembali dengan teman masa kecilku. Berbeda dengan dirinya dulu yang dijuluki ‘Anak Paling Bodoh di Sekolah’ dan sering ditindas, kini ia bertransformasi menjadi seorang gadis yang serba bisa, sekaligus sukses dalam pekerjaan. Tapi ternyata gadis itu menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit rahasia itu terbongkar.

Novel Koshigaya Osamu ini muncul pertama kali pertengahan 2013, tapi waktu itu tidak minat beli karena sinopsisnya yang ala drama komik jaman SMP. Hingga kemudian ketemu Bonus Track yang boleh dibilang tidak mengecewakan. Mulailah googling novel-novelnya yang lain dan dapat info tentang Her Sunny Side. Katanya novel ini terjual satu juta copy di Jepang dan sudah diangkat ke layar lebar. Matsumoto Jun dan Ueno Juri berperan sebagai tokoh utama. Sayangnya, setelah beberapa hari keluar masuk toko buku, stoknya selalu kosong. Akhirnya ditempuh jalur ask the audience dan phone a friend :P. Maksudnya pesan online di salah satu situs di internet. Nah, apakah novel ini mampu menghibur layaknya Bonus Track ? Sayangnya tidak.

Bonus Track menghibur karena persahabatan antara Tetsuya dan Ryota serta usaha mereka menemukan pelaku tabrak lari. Karakter Ryota yang lucu dan polos sering memancing tawa. Sedikit sekali porsi romantis di dalamnya. Sementara Her Sunny Side adalah romance yang dibumbui fantasi. Paruh pertama diawali dengan baik dan bikin penasaran. Tapi pertengahan hingga akhir mulai bertele-tele dan sering mengulur waktu. Ibarat mie yang dimasak terlalu lama; mengembang dan tidak enak dimakan. Awalnya saya kira “rahasia masa lalu” yang dimaksud adalah sesuatu yang kelam, menyakitkan dan tak bisa dimaafkan. Sejenis itulah. Ternyata sama sekali berbeda dari perkiraan. Jadi sedikit kecewa mengingat perjuangan untuk mendapatkan buku ini.
14 May 2015

Garis Batas

 

“Mana yang lebih penting, bebas bersuara tetapi kelaparan, ataukah mulut dibungkam tetapi perut selalu kenyang ?” 
~Agustinus Wibowo, Garis Batas~ 

Di antara ketiga buku Agustinus, Garis Batas adalah buku pertama yang saya beli. Tetapi buku kedua yang saya baca. Macam mana bisa begitu ? Panjang ceritanya. Saya belum pernah baca tulisan Agustinus Wibowo sebelumnya. Tapi buku Titik Nol pernah samar-samar terdengar karena banyak yang bilang bagus. Waktu ke Gramed juga sempat lihat buku itu nongol di posisi best seller. Tapi tidak tertarik beli. Maklum, masih kena demam Haruki Murakami. Iseng-iseng baca sekilas, saya langsung buka halaman terakhir, di situ ada informasi tentang buku Agustinus sebelumnya yang berjudul Garis Batas. Di sinopsisnya disebutkan kalau Garis Batas merangkum petualangan penulis di Asia Tengah yang misterius; Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkemnistan. Eh, tadi apa katanya, Kazakhstan ? Ini dia. Perempuan itu berasal dari Negara ini, bisik saya dalam hati. 

Mari kita undur waktu ke bulan Februari 2014. Ceritanya waktu itu shalat subuh baru saja usai. Puluhan orang berdesak-desakan keluar di pintu Masjidil Haram. Kami memilih menunggu beberapa bentar sampai kerumunan di pintu berkurang. Saya bersandar di salah satu tiang sambil memperhatikan sekitar. Tiba-tiba pandangan saya terpaku pada sosok berjubah hitam dan berkerudung biru muda. Yang membuat saya terpana adalah parasnya, masya Allah. Kalau hanya sekadar cantik, sudah sering saya lihat yang lalu-lalang mulai dari penduduk asli atau jamaah dari berbagai negara. Tapi yang satu ini, Masya Allah. Saking noraknya, sambil terus berucap Masya Allah, mata saya terus mengikuti perempuan yang sedang berjalan keluar masjid bersama rombongannya. Di punggungnya menggantung ransel yang dipakai seragam oleh setiap anggota rombongan bertuliskan : Kazakhstan. 

Jadi pertama, saya tertarik beli buku karena teringat perempuan itu. Kedua, seperti kata penulis, negeri-negeri “Stan” itu misterius. Kabar beritanya sangat jarang sampai ke Indonesia. Lihat saja buku-buku travel yang banyak dijual di gramed, jarang atau mungkin tidak ada yang mengupas tentang Tajikistan, Kirgiztan dan Negara Asia Tengah lainnya. Kebanyakan berputar di Eropa, Jepang, Korea, Yunani dan Asia Tenggara.
Sayangnya, setelah buku dibeli, sepupu datang berkunjung dan membawa pulang buku itu. Karena sudah penasaran stadium lanjut, dua hari kemudian saya kembali ke gramed dan memboyong buku pertama dan ketiga. Demikian ceritanya. Terima kasih sejauh ini tetap bertahan membaca. Hihihi… 

Setelah beberapa tahun tinggal di Afganistan, Agustinus melanjutkan perjalanannya menyeberangi Amu Darya, masuk ke negeri stan bersaudara. Sungai Amu Darya adalah garis batas. Menyeberangi garis batas berarti menyeberangi garis batas kultur dan ideologi. Negara-negara berakhiran “stan” yang dijelajahi penulis dulunya adalah bagian dari raksasa Uni Soviet yang luasnya mencapai lima belas persen luas daratan bumi. Lalu, raksasa itu ambruk. Kolaps. Seketika terpecah menjadi berbagai negara baru dengan nama aneh-aneh, dalam bentuk dan ukuran yang beragam.  

Tajikistan, belasan tahun lalu tak banyak orang tahu tentang Negara ini. Tidak nampak di peta dunia. Berbeda dengan Afganistan yang memiliki aturan ketat dalam berpakaian, di Tajikistan yang berlaku adalah modernitas ala Eropa : jas, dasi, kemeja, sepatu dan tas kerja. Lelaki Tajik memakai kemeja dan celana panjang, mengenakan jubah tebal yang menjuntai mirip jas kebesaran raja. Sementara kaum perempuan membiarkan rambut mereka tergerai. Jarang sekali terlihat perempuan mengenakan jilbab, apalagi burqa. Dibanding Stan-stan lainnya, Tajikistan adalah negara terkecil sekaligus termiskin. Tapi walau tidak kaya, mereka juga tidak mengemis atau menggelandang. Dan walaupun miskin, angka melek huruf di Tajikistan hampir seratus persen. Sebab di zaman Uni Soviet dulu, pemerintah selalu mendorong pendidikan sampai ke pedalaman. Suasanan bulan ramadhan di Tajikistan nyaris tidak terasa. Mayoritas memang muslim, tapi restoran dan warung ramai seperti biasa sebab kebanyakan tidak berpuasa. Para lelaki Tajik malah asyik menenggak vodka di siang hari. 

Kirgiztan, Negara pertama yang memproklamirkan kemerdekaannya dari Moskow. Negara pertama di Asia Tengah yang punya mata uang sendiri. Dan juga, Negara pecahan Soviet pertama yang menjadi anggota WTO, dengan bantuan IMF dan Bank Dunia tentunya. Sayang, jika dulu harus menurut perintah Moskow, kini harus manut pada aturan globalisasi, kapitalisme dan lembaga internasional. Mata uang Kirgiz, Som, langsung ambruk begitu diperkenalkan. Sekarang Kirgiztan kecil megap-megap ketika banyak penduduknya kehilangan pekerjaan. Kota-kota Kirgiztan pun jadi berbahaya ketika hari mulai gelap, karena pemabuk bisa-bisa melompat dari balik pohon dan menodongkan pisau. 

Kazakhstan, raksasa besar dengan luas wilayah menempati urutan kesembilan dunia, seluas Eropa Barat, masih lebih luas daripada keempat saudara Stan digabungkan sekaligus, hampir satu setengah kali luas daratan Indonesia. Tapi penduduknya tak sampai 16 juta jiwa. Dulu yang tinggal di padang luas Kazakhstan adalah bangsa pengembara, kehidupan berkutat pada rumput, ternak, sungai dan musim. Lima belas tahun setelah Kazakhstan berdiri, padang rumput itu berubah menjadi negara kaya. Penduduknya bukan lagi gembala kelaparan, tetapi gadis cantik berbalut syal dari bulu yang mahal, berhak sepatu tinggi, menenteng tas bermerk Paris atau Italia. Kaum pria menebarkan bau parfum impor dan berpakaian perlente. Nuansa mewah memancar di sudut toko di pusat kota Almaty dengan dengan label harga yang selangit. Harga bakmi instan saja bisa mencapai lima dolar. Tapi semahal-mahalnya Almaty, sebanding dengan gaji yang mereka dapat. Gaji bulanan guru bahasa inggris untuk militer Kazakhstan bisa lebih dari sepuluh ribu dolar, atau seratus juta rupiah. Dengan produksi minyak yang sampai ratusan ribu barel per hari, pendapatan Kazakhstan melonjak dari 100 dolar menjadi 6.000 dolar hanya dalam hitungan belasan tahun. Dua ladang minyak Kazakhstan termasuk yang terbesar di muka bumi. Sama-sama merdeka berbarengan, Kazakhstan terus memodernisasi diri, sementara Tajikistan harus tabah di barisan negara termiskin di dunia. 

Uzbekistan, terkenal sebagai salah satu pecahan Soviet yang paling anti Rusia. Patung-patung pahlawan komunis ditumbangkan. Bahasa Rusia diganti bahasa Uzbek. Begitu merdeka, etnis Rusia tergusur kedudukannya. Yang dulu penguasa sekarang warga kelas dua. Keturunan Rusia sulit mendapat pekerjaan, banyak yang terpaksa jadi pemulung dan pegemis. Yang menarik, ternyata universitas di Uzbekistan punya jurusan Bahasa Indonesia. Kalau di Indonesia, ada tidak ya kampus yang punya jurusan bahasa Uzbek ? Di Negara yang mayoritas muslim ini, Islam justru menjadi hal yang sangat sensitif. Pada masa Uni Soviet, Islam dianggap ancaman. Setelah Uzbekistan merdeka, keadaan tidak banyak berubah. Masjid terus dikontrol pemerintah, adzan tidak boleh dikumandangkan, isi khotbah harus sejalan dengan kebijakan pusat dan orang-orang yang dicurigai ditangkap. Secara umum, yang berkembang di Asia Tengah adalah ajaran sufi, bercampur dengan budaya dan tradisi. Sehingga tak jarang orang merancukan mana yang budaya dan mana yang benar-benar ajaran islam. 

Turkmenistan, ketika Negara-negara Asia Tengah lainnya gencar mengganti nama jalan, kota, sekolah, lapangan dan gedung yang berbau Uni Soviet atau Rusia, Turkmenistan lebih ekstrim lagi. Nama bulan-bulan di penanggalan pun ikut diganti. April menjadi Gubansoltan Eje, September menjadi Ruhnama dan ada pula bulan yang namanya sangat berbau propaganda, seperti bulan Netralitas, Bendera, dan Kemerdekaan. Perubahan nama juga merembet ke nama hari. ada hari isirahat (Minggu), hari bahagia (Rabu), dan hari roh (Sabtu). Melihat foto kota Ashgabat yang modern dan artifisial, rasanya seperti melihat dunia yang sama sekali asing. Pusat kota Ashbagat adalah daerah yag teramat sensitif. Ada mata-mata yang terus mengintai. Di setiap sudut jalan tentara mondar-mandir dengan langkah tegap. Setiap gerak-gerik terpantau, tidak boleh ambil gambar sembarangan, salah sedikit bisa berujung penjara.

Foto-foto yang ditampilkan dalam buku kedua ini jauh lebih banyak dibanding buku pertama. Yang menjadi masalah teknis dari trilogi buku ini adalah kualitas perekat yang kurang baik. Baru dibuka beberapa kali, lembarannya mulai lepas satu per satu. Bagi saya yang belum pernah menyentuh wilayah Asia Tengah, negeri-negeri Stan itu tetap misterius. Sebab antara membaca dan menyaksikan secara langsung itu jelas berbeda. Ah, semoga suatu saat nanti saya punya kesempatan berkunjung ke sana.
07 March 2015

Ketika

Ia pernah menulis,
Seikat puisi tentang penantian

Namun ibarat kisah 180 Hari Lagi,
Waktu perlahan menuju titik nol


Setiap penantian hanya punya dua muara
Sebab itu, ada hal yang tidak bisa dipaksakan
Tercatat sebelum keberadaan


Ketika tiba di titik itu
Dan jam miliknya masih berputar
Maka,
Cukuplah diingat
Tak perlu dikenang


Ingat saja, tak perlu dikenang

6 maret 2015
Dalam perjalanan laut menuju kota Daeng
19 February 2015

Rahasia Kepergian


“Kepergian terasa menyenangkan dan murni hanya ketika kita meninggalkan sesuatu yang penting, sesuatu yang berarti bagi kita. Mencabut kehidupan hingga ke akarnya. Tetapi kita tidak bisa melakukan itu sampai kehidupan kita berakar.” 
(John Green, Paper Towns)
29 January 2015

5 Centimeters Per Second


“Suatu hari kelak, aku pasti akan kalah oleh waktu dan jarak yang tak terlampaui.” 
~Takaki~ 

“Aku sudah benar-benar berhasil menjadikanmu kenangan, kan ?” 
~Akari~ 

“Walaupun dia tersenyum lembut padaku, hatinya seakan menghadap sesuatu di kejauhan.” 
~Kanae~ 

Sebenarnya berat menulis tentang anime ini (halah). Walaupun sudah dinonton sejak tahun lalu, jauh sebelum lulus. Waktu itu hanya setengah-setengah karena fokus pada persiapan sidang. Selesai ujian, Yoru yang sudah duluan nonton mendesak saya untuk nonton juga. Katanya wajib, supaya saya ikut-ikutan sesak (apa maksud ?). Akhirnya memang dinonton juga, yang membuat saya menyesal. Kenapa ? Karena anime ini benar-benar bikin sesak napas. Selepas nonton buru-buru saya buka jendela dan menarik napas dalam-dalam (sambil merapal mantra “hidup ini indah, anginnya sepoi-sepoi”). Karena masih tak nyaman juga, anime itu langsung di-shift+delete dari laptop. 

Pepatah bilang, seekor tupai tak akan jatuh di lubang yang sama. Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi Snoppy, mencari seri terakhir The Hunger Games, Mockingjay, yang minta dipinjamkan sama sepupu. Sejak filmnya sukses di pasaran, novelnya jadi susah didapat karena banyak yang antri. Si sepupu yang belum baca sampai tuntas penasaran dengan seri terakhir, tapi juga tak niat beli. Maunya cumi, cuma minjam. Seperti yang diperkirakan, si Mockingjay masih di tangan orang lain. Saya sudah memutuskan untuk pulang ketika secara tak sengaja (ah, lagi-lagi tak disengaja) mata saya menabrak dua jilid manga yang duduk manis di atas meja pengembalian. Manga yang judulnya membuat saya tiba-tiba diserang sesak napas, 5 cm Per Second. 

Pinjam. Tidak. Pinjam. Tidak. Berdiri tiga menit dengan jari mengetuk-ngetuk meja hanya untuk masalah sepele antara pinjam atau tidak. Adakalanya bersikap ringan itu penting. Dipikir-pikir, yah, hanya manga. It’s not a a big deal. Berharap ada sesuatu di dalamnya yang menjawab hal yang tidak terjawab di anime. Walau hanya sedikit tidak masalah. Saya butuh itu. Dan si tupai pun jatuh di lubang yang sama. 

5 cm per second dipercaya sebagai kecepatan jatuhnya bunga sakura. Cerita versi anime terbagi tiga segmen dengan tiga tokoh penting : Takaki, Akari dan Kanae. Sementara cerita versi manga lebih panjang yang dipecah ke dalam sebelas segmen dengan tambahan tokoh Risa Mizuno, yang dalam anime hanya muncul sebentar. Tempo yang dipakai di kedua versi sama-sama lambat. Tempo yang lambat dengan nuansa sendu memang paling bisa menimbulkan sesak, asal didukung oleh cerita yang menarik. Keunggulan anime ini ada pada ceritanya yang berat, rumit dan realistis serta artwork yang keren. Kalau artwork yang super keren masih dipegang oleh Kotonoha no Niwa (Garden of Words). Keduanya sama-sama digarap oleh Makoto Shinkai, tapi dilihat dari kedua sisi, cerita dan grafis, 5 cm Per Second  lebih unggul. 

Masuk pada cerita dan tokoh-tokohnya. Sejujurnya, yang bikin sesak bukan kisah antara Takaki dan Akari. Yah, sesak juga, sih. Tapi bukan itu yang utama. Bagaimana pun, aneh rasanya murid kelas empat SD sudah mengalami apa yang disebut perasaan-yang-sulit-diungkapkan, apalagi terbawa hingga dewasa. Masa itu adalah masa bermain. Mereka belum terganggu oleh perasaan semacam itu. Tapi entahlah ya, kalau di Jepang sana. Jika hal itu harus muncul, paling minimal saat kelas dua atau tiga SMP. Karenanya saya lebih memahami perasaan Kanae pada Takaki dibanding Takaki-Akari. 




Membaca manga-nya memang sudah sesak sedari awal. Memasuki bagian Kanae kemudian bagian Risa Mizuno, sesaknya jadi menumpuk. Menjelang akhir, Kanae bertutur tentang Takaki setelah sepuluh tahun berlalu, Dia seperti bintang bersinar yang selalu ada di sana, namun tak terjangkau. Saat itu aku sadar aku takkan bisa meraihnya. Saat membaca bagian ini, mata yang sudah berkaca-kaca pun pecah. Ah, tolong, di antara segala pilihan kata, kenapa harus kata-kata ini yang muncul ? Tapi ada hal penting yang saya temukan dalam manga, ketika Takaki dewasa melintasi rel kereta dan di seberang jalan, di balik punggungnya, Akari kecil berdiri melambaikan tangan. Mungkin, itu jawaban yang saya cari. Endingnya memang terbuka bagi penonton untuk menyimpulkan sendiri. Ini hebatnya Makoto Shinkai mengeksekusi akhir yang indah sekaligus menyakitkan. 

Dalam novel Kafka on The Shore karya Murakami, ada kalimat berbunyi seperti ini, “Kafka, dalam kehidupan setiap manusia, ada suatu titik di mana kau tidak dapat kembali lagi. Dan pada beberapa kasus, itu berarti titik di mana kau juga tidak dapat maju. Ketika kita tiba pada titik itu, yang dapat kita lakukan hanyalah menerima kenyataan. Dengan cara itulah kita bertahan.”  Baik Takaki, Akari, Kanae bahkan Risa adalah tokoh-tokoh yang berada pada titik itu. Dan juga sedang bertahan dengan cara seperti itu. Masing-masing dari mereka berusaha, agar jam kembali berputar. Takaki yang mulai menerima dirinya apa adanya, Akari yang akan selalu menyukai Takaki dan Kanae yang mengunjungi Tokyo mencari jawaban dari pernyataannya sepuluh tahun yang lalu. 

Buat yang sudah nonton animenya, saya sarankan baca juga manganya. Mungkin ada hal lain yang bisa kau temukan di sana.
09 January 2015

Bonus Track


“Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan dengan keseluruhan album” 
~Koshigaya Osamu, Bonus Track~ 

Kusano Tetsuya (26 tahun) bekerja sebagai manajer di restoran hamburger besar di kotanya. Jam kerjanya bukan main lamanya, bisa lebih dari dua belas jam. Dengan waktu luang yang begitu sedikit, Kusano nyaris tak punya waktu untuk menikmati hidup. Hari libur pun dilewati dengan makan-tidur-makan-tidur. Suatu malam, saat pulang kerja dengan mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan. Kusano mencoba menolong pemuda itu, namun sudah terlambat. Kejadian itu membuat Kusano demam tinggi dan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya, bahkan tidur-tiduran di atas sofanya. 

Yokoi Ryota (19 tahun), seorang mahasiswa yang selalu bernasib sial. Bila mengantri di kedai ramen, sup ramen-nya habis persis ketika gilirannya tiba. Bila bermain gunting batu kertas, hanya ia saja yang menjulurkan batu padahal semuanya menjulurkan kertas. Selama masa SD dan SMP, Ryota yang tak punya kemampuan fisik harus mempersenjatai dirinya dengan kemampuan yang disebut ‘menjilat-orang-yang-senang-dipuji’ agar bertahan hidup di tengah lingkungan yang brutal. Ia jadi ingin secepatnya keluar dari kampungnya dan kuliah di universitas di Tokyo. Namun bukannya masuk ke universitas di Tokyo, Ryota malah terpeleset ke universitas kelas dua setengah (tidak tinggi, juga tidak rendah) di Saitama. Ia juga lahir di zaman yang salah, sebab krisis moneter yang terjadi saat itu membuat ia tidak boleh menganggur barang setahun untuk menyembuhkan depresinya sebagai si lemah yang hidup di lingkungan yang-kuat-memakan-yang-lemah. Dan kesialan terakhir terjadi ketika ia menjadi korban tabrak lari sebuah mobil norak dengan bunyi mesin yang seperti kentut monster. 

Ryota percaya bahwa kalau orang sudah mati, ya sudah sampai situ saja. Sayangnya, lagi-lagi ia kurang beruntung, karena sepertinya ia malah berubah menjadi semacam, ehm, arwah. Atau hantu. Sejenis itulah. Yang bisa mendengar dan melihat sosok Ryota adalah Kusano. Jadi ia membuntuti terus Kusano hingga ke apartemennya untuk meminta bantuan Kusano mencari mobil yang menabraknya hingga tewas. 

Ini pertama kalinya saya membaca karya Koshigaya Osamu. Diterbitkan di Jepang tahun 2004 dan butuh waktu sepuluh tahun untuk diterbitkan di Indonesia (hadeh, kenapaaa???). Walaupun agak bosan di bagian awal tapi mulai seru mendekati pertengahan dan diakhiri dengan sedikit dramatis. Dialog antara Ryota dan Kusano yang saling menyindir bikin saya senyum-senyum. Persahabatan mereka terjalin pelan-pelan dan natural. Saya suka karakter Ryota yang periang, jahil dan sok. Ia pengamat yang baik, karena itu ia menjadi penasihat Kusano dalam mengatur para pekerja di restoran. Ryota juga paham bagaimana memperlakukan tiap-tiap orang. Bersama Ryota, hidup Kusano pun sedikit berubah. Ia jadi punya teman bercerita dan bermain game. Hari libur yang biasanya lesu menjadi lebih seru dengan kehadiran Ryota. Selain kedua karakter ini, muncul pula beberapa karakter lain yang ikut serta dalam misi pencarian pelaku tabrak lari. Walau ada bagian yang dramatis tapi masih dalam porsi yang pas. 

Membaca novel ini bagaikan menonton drama ala Jepang yang bertema from zero to hero. Kusano yang awalnya kesulitan dengan tugas manajer dan sering dibebani oleh pikirannya sendiri mulai mempercayakan beberapa tugas penting ke para stafnya. Ryota yang selalu bernasib sial mulai melihat sisi baik kehidupannya. Atau kematiannya, karena ia baru memahami hal itu setelah mati. Kata Ryota, jika kehidupannya diringkas mungkin menjadi “Album debut sebuah punk band” yang selesai dengan cepat. Tapi di dalam album yang cepat selesai itu ada sebuah bonus track. Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibanding keseluruhan album. Hidup Ryota memang selesai dengan cepat, ia meninggal di usia yang belum genap 20 tahun. Tapi Ryota mendapat bonus track setelah kematiannya, dan baginya itu lebih baik dibanding keseluruhan hidupnya.
02 January 2015

Random (7)

I was really there. And that was enough to make me feel infinite. I feel infinite.” 
~Charlie, The Perks of Being Wallflower~ 

Pukul delapan malam itu, saat Oshin, sebut saja begitu karena orang-orang pun nyaris lupa nama aslinya, mengajakku ke dermaga. Kami berlari ke kolong rumah mengambil sepeda dan mengayuh cepat-cepat, takut bertemu nenek di jalan. Saat melewati masjid, dari jendela kaca kulihat nenek masih duduk bersama jamaah lain. Kebiasaan beliau selepas shalat Isya adalah berlama-lama cerita dengan temannya. Jantungku serasa mau lompat karena takut bercampur senang. Itu pelarian paling mendebarkan yang pernah kualami. Karena setelahnya nenek mengerahkan para sepupu dan tetangga ke seantero kota Benteng untuk mencari dua bocah perempuan yang keluar malam tanpa pamit. Padahal kami mengunjungi dermaga yang letaknya hanya dua blok dari rumah. 

Saat itu langit cerah, ribuan bintang memadati langit. Seperti serpihan kaca. Kami menggotong sepeda turun ke pantai. Oshin bersepeda menyusuri garis pantai. Sementara aku berguling-guling di atas pasir, mirip Enola dan Helen di film Waterworld yang begitu girang ketika akhirnya menemukan Dryland. Bunyi ombak, suara Oshin yang tertawa, semilir angin laut, pantai yang gelap dan langit malam yang kutatap. Di momen itu, untuk pertama kalinya aku merasa bebas. 

“Walaupun tinggal serumah dengan bulan dan matahari namun hati tidak tentram, maka itu bukan sumber kebahagiaan” 
~Ibu~ 

Aku terkagum-kagum pada kalimat itu sampai-sampai kucatat agar tidak lupa. Diucapkan dalam bahasa Selayar dan menurutku lebih mengena dibanding bahasa Indonesia. Tapi kira-kira seperti itulah terjemahannya. Siang itu aku membantu mengetikkan tugas-tugas ibu. Lalu sepupu ibu datang berkunjung. Mereka pun terlibat diskusi serius tentang berita yang mencuat belakangan ini. Tak disangkal jika materi dan kedudukan adalah dua dari sekian indikator kebahagiaan. Ada orang yang memiliki berbagai materi yang hanya bisa diimpikan orang lain. Bolak-balik plesiran ke luar negeri seperti layaknya bolak-balik ke toilet. Serta punya kedudukan tinggi dalam pekerjaan. Karena itulah disebut “tinggal serumah dengan bulan dan matahari”. Tetapi rumah yang punya segala materi itu tak bisa memberi ketentraman batin. Masalah di dalamnya membuat penghuni lebih betah berada di luar dibanding di rumah. Dan lebih nyenyak tidur di kantor dibanding di kamar. “Mereka telah menjadi lebih kaya, mereka bekerja jauh lebih sedikit, mereka memiliki hiburan lebih panjang, mereka lebih sering mengadakan perjalanan, mereka hidup lebih lama, dan mereka lebih sehat.” Kata Richard Layard, professor dari London School of Economics, “Namun, mereka tidak lebih bahagia.”  Bagaimana menurutmu ? 

Oh ya, pemateri dalam seminar yang kuikuti kemarin memberi tips bahwa bila ingin merasakan ketenangan, maka sering-seringlah memeluk ibu, sebab pelukan ibu membawa ketenangan sebagaimana ketenangan dalam rahim. 

Selamat tidur, semoga angin memelukmu kembali dalam sejuk dan harum di awal pagi.
 
;