23 July 2015

The Hunter (Kogoeru Kiba)


Detektif Takako Otomichi adalah mantan polisi patroli sepeda-motor, salah satu dari sedikit perempuan di departemennya. Ia dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang pelakunya tampaknya bukan manusia. Untuk memecahkan kasus ini, Takako dipasangkan dengan Takizawa, detektif senior yang sinis dan tak senang mendapat partner detektif perempuan. Penyelidikan mereka mengarah pada penemuan yang mengejutkan. 

The Hunter adalah karya Asa Nonami, penulis Jepang bestseller pemenang penghargaan Japanese Mystery and Suspense Award. The Hunter memenangkan penghargaan Naoki yang bergengsi pada tahun 1996. Novel ini sudah diadaptasi dalam tiga film. Dua film Jepang dan satu film Korea. Tapi baik film Jepang maupun Korea belum ada satu pun yang saya nonton. Tahunya juga baru belakangan, lepas baca novel ini. Nah, berbeda dari kisah detektif yang biasa saya baca dimana pelaku kejahatan adalah tokoh yang sudah muncul sejak awal cerita dan pembaca diajak menebak-nebak di antara sederet nama, hal semacam itu tidak ditemukan dalam The Hunter. Kita ikut arus saja menelusuri keseharian Takako dan partnernya, Takizawa dalam melacak si pembunuh berantai.

“Beginilah cara orang-orang hidup. Bahkan setelah dikhianati suami atau istri atau anak mereka, bahkan setelah diperdaya, mereka terus melanjutkan hidup. Mereka mungkin hidup dengan penuh kesedihan dan mengalami kepedihan, namun mereka terus melanjutkan hidup.” (Takako, hal. 418)

Cerita dibuka dengan pembunuhan di sebuah restoran keluarga. Korban dibunuh dengan cara keji, dibakar hidup-hidup di tengah keramaian. Pelaku menggunakan sabuk berpengatur waktu yang sudah dirancang khusus dengan memasukkan bubuk peroksida benzoyl ke dalamnya (anak kimia akan menyukai novel ini). Kemudian lanjut ke pembunuhan lain yang sepertinya dilakukan hewan bertaring. Sesekali cerita berpindah ke kehidupan pribadi kedua tokoh. Takako yang dikhianati suaminya dan Takizawa yang ditinggal istrinya serta dibuat pusing oleh kelakuan anak laki-lakinya. Betul-betul partner yang sempurna, satu pembenci laki-laki dan satu lagi pembenci wanita. Tapi jangan harap ada drama romantis macam di film-film, karena mereka berkerja secara profesional. Begitu kasus selesai, mereka kembali ke departemen masing-masing. Ini poin penting yang membuat novel ini tidak keluar dari jalur mystery and suspense.

“Bahkan bagi seorang wanita, pernikahan bukan satu-satunya hal penting dalam hidup” (Takako, hal. 535)

Dalam serial Detektif Conan, masalah selesai kalau Shinichi sudah turun tangan. Yang lain cuma jadi figuran. Satu kasus bisa selesai satu, dua atau tiga hari. Nyatanya, satu kasus bisa memakan waktu berbulan-bulan menguras pikiran dan tenaga. Mulai dari otopsi tubuh korban, wawancara saksi mata, investigasi TKP, penelusuran kaitan satu kasus dengan kasus lain dan bantuan para ahli untuk menguak cara pelaku membunuh. Ditambah lagi rutinitas menulis laporan tiap ada penemuan baru. Pekerjaan berat macam itu tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja, tapi melibatkan kerja sama berbagai departemen kepolisian. Ini poin lain yang membuat novel ini tampak realistis jika terjadi dalam dunia nyata.

Sayangnya, saya tidak begitu nge-klik ketika masuk bagian “pelaku yang tampaknya bukan manusia”. Maksudku, okelah anjing serigala bisa dilatih untuk mengenali dan membunuh korban tertentu tanpa repot-repot mengotori tangan tuannya. Okelah anjing serigala bisa percaya pada orang tertentu yang baru pertama kali ditemuinya. Okelah anjing serigala jauh lebih cerdas dibanding anjing biasa. Okelah anjing serigala bisa melacak satu orang selama berhari-hari tanpa ditemani tuannya. Okelah si Topan (nama Hayate diterjemahkan menjadi Topan) digambarkan sebagai anjing serigala yang besar dan gagah dengan bulu perak yang indah. Tapi apa iya Topan bisa semanusiawi itu ? Apa iya anjing serigala bisa punya inisiatif sendiri ? Setahu saya, yang namanya hewan terlatih selalu didahului perintah tuannya semisal “berdiri”, “duduk”, “kejar” atau “ambil”. Dan apa iya anjing serigala bisa memutuskan untuk harakiri ketika misinya telah selesai ? Well, sepertinya saya gagal paham menangkap ikatan emosi antara manusia dan anjing. Penyebabnya tentu saja karena saya tidak punya pengalaman apa pun tentang hewan yang katanya paling setia itu. Jadi hal-hal semacam itu menjadi tanda tanya bagi saya sebagai pembaca.

“Sialan, tidak ada laki-laki pantas di mana pun, tak peduli ke arah mana kau mencari.” (Takako, hal. 536)
10 July 2015

Burial Rites


“Aku paling kejam kepada dia yang paling kucintai”
~Laxdǽla Saga~

Tahun 1829, di sebuah kota kecil di Islandia Utara, Agnes Magnusdottir menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Karena tak ada penjara untuk menampungnya, Agnes ditempatkan di rumah keluarga Petugas Wilayah Jon Jonsson. Merasa tak nyaman ada pembunuh di tengah mereka, keluarga itu memperlakukan Agnes dengan dingin. Yang mau berusaha memahaminya hanya Asisten Pendeta Thorvarur “Toti” Jonsson yang ditugaskan untuk mempersiapkan Agnes menjemput maut.

Sejak kecil, Agnes hidup dari belas kasihan orang lain dan berkerja berpindah-pindah sebagai pelayan. Kecerdasannya, cara bicaranya yang dianggap asing, dan pengetahuannya tentang kisah-kisah dari buku, membuat orang-orang menjauhinya; nyaris tak seorang pun tahu seperti apa dia sesungguhnya. Agnes jatuh cinta pada Natan Katilsson, orang pertama yang melihat dia sebagaimana adanya, dan dia pun pindah ke pertanian Natan di tepi laut, tempat sunyi yang hanya dihuni segelintir orang. Namun impiannya akan kehidupan yang lebih baik musnah. Natan Katilsson tewas dibunuh, dan Agnes menjadi salah satu tertuduhnya.

Sambil menunggu ajal, Agnes menjalani hidup di tengah keluarga Jonsson, membantu pekerjaan sehari-hari dan meringankan beban mereka. lambat laun sikap keluarga Jonsson mulai mencair. Mereka ikut mendengarkan ketika Agnes menuturkan kisah hidupnya kepada Toti. Hari-hari bergulir tanpa terasa, dan tanggal pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Burial Rites adalah karya fiksi yang didasarkan pada kisah nyata. Agnes Magnusdottir, orang terakhir yang dijatuhi hukuman mati di Islandia menjadi terpidana atas peran sertanya dalam pembunuhan terhadap Natan Katilsson dan Petur Jonsson pada malam antara tanggal 13 dan 14 Maret 1828 di Illugastadir, semenanjung Vatnsnes, Islandia Utara. Tertarik beli novel ini karena memenangkan tiga penghargaan di tahun 2014. Berlatar di Islandia, daratan dingin yang mengingatkan pada Kokonoe Arata (Nine) dalam Zankyou no Terror.

Sempat berpikir kayaknya saya salah beli buku karena lambang yang tertera di halaman pembuka. Tapi setelah beberapa halaman, jadi penasaran dan akhirnya terus membaca sampai selesai. Kisahnya mengalir seperti sungai kecil, tak banyak riak, tak ada ketegangan dan tidak ada twist. Tapi setelah selesai, kisahnya masih tertinggal dan bermain-main di kepala. Penuturan Hannah Kent yang mengalir begitu saja membuat yang baca ikut hanyut dalam cerita. Suka deskripsinya yang detil tentang masyarakat pedesaan Islandia mulai dari cara menyabit rumput, memanen padi, memerah susu, memotong daging, membuat keju, dan menyajikan kopi. Kopi pada zaman itu dikategorikan minuman mewah karena harganya yang mahal.

Tokoh-tokohnya didasarkan pada hasil riset sejarah dan penafsiran penulis. Agnes Magnusdottir punya kemampuan membaca yang sangat tinggi. Tapi pengetahuan ilmiah yang dia dapat dari buku membuatnya ditakuti masyarakat dan sering disebut penyihir. Pada masa itu perempuan barat dilarang banyak membaca atau tahu banyak hal karena sistem menuntut laki-laki harus lebih pintar dari perempuan.

Karakter kedua tokoh abu-abu, Ages maupun Natan. Agnes memang cerdas, tapi tak banyak pilihan bagi pelayan yang hidup di daratan dingin dan bergantung pada hasil pertanian. Hanya Natan yang memahami dirinya dan mengajarinya banyak hal. Di sisi lain, cinta juga bisa membuat perempuan cerdas jadi bodoh. Natan pun tak lebih baik, dijuluki keturunan penyihir karena dia jenius yang ahli meramu obat, mengobati penyakit dan menolong banyak orang. Dia dibutuhkan sekaligus dibenci orang-orang. Tapi seperti kata Agnes, Natan adalah lelaki brengsek. Di awal-awal saya suka karakternya yang digambarkan sebagai pahlawan oleh Agnes. Macam pangeran yang akan menyelamatkan Cinderella dari kubang penderitaan. Tapi lama kelamaan mulai kelihatan brengseknya. Di akhir cerita dipaparkan kronologis pembunuhan dan alasan yang melatarinya. Mungkin itulah mengapa dikatakan, “Aku paling kejam kepada dia yang paling kucintai.”

Kenalan dengan John Green

Paper Towns 
Saat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam –berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan– cowok itu mengikutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit dan sampai sekarang selalu beraksi sendirian. Sedangkan Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jauh. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi. Ada beberapa petunjuk yang ditinggalkan Margo dan semuanya untuk Q. Q sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis itu. 

An Abundance of Katherines 
Tipe cewek yang disukai Colin Singelton adalah cewek-cewek bernama Katherine. Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan oleh Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengutak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama sahabatnya, Hassan. Collin ingin membuktikan teori matematika karyanya supaya dapat memprediksi hubungan, menolong para Tercampak dan akhirnya mendapatkan sang gadis. 

Looking for Alaska 
Miles “Pudge” Halter sangat suka kata-kata terakhir yang terkenal—dan bosan dengan kehidupannya yang biasa saja. Ia masuk sekolah berasrama bernama Culver Creek untuk mencari apa yang disebut “Kemungkinan Besar”. Hidupnya jungkir balik di sekolah itu, yang kadang gila, tidak stabil dan tak pernah membosankan. Sebab di sana ada Alaska Young, yang menawan, pintar, lucu, kacau dan sangat memikat. Alaska menarik Pudge memasuki dunianya, melontarkannya ke dalam “Kemugkinan Besar”. Dan hidupnya tak pernah sama lagi.

Mulai baca novel-novel John Green setelah nonton film rekomendasi teman berjudul The Fault in Our Stars. Novel pertamanya yang saya baca adalah Paper Towns, dicomot dari Gramed karena suka dengan judul, desain cover dan sinopsisnya yang unik. Setelah itu lanjut ke An Abundance of Katherines kemudian Looking for Alaska. Looking for Alaska sengaja ditaruh di akhir karena banyak yang bilang bagus. Ibarat makanan, katanya bagian paling enak dimakan belakangan. Sayangnya tidak selalu seperti itu, terlebih untuk jenis makanan yang baru pertama kali kau makan. Tapi berbicara soal makanan, jangan biasakan menyimpan bagian yang paling kau suka di akhir, karena bisa jadi ada orang lain yang akan memakannya (pengalaman, hihihi). Ada lagi dua novel John Green yang lain berjudul Let It Snow dan Will Grayson. Tapi tidak minat beli yang terakhir karena nampaknya bertema “pelangi”.

Ketiga novel masuk kategori teenlit atau remaja dan romance yang bercampur petualangan (padahal yang baca bukan remaja lagi, hikz!). Tokoh utama punya karakter yang mirip-mirip; cerdas, jenius dan kutu buku. Kemudian karena sesuatu hal, si kutu buku harus melakukan perjalanan ditemani sahabatnya demi mencari atau membuktikan sesuatu. Di Paper Towns, Quentin menyabotase van milik orangtuanya bersama Ben dan Radar untuk melacak keberadaan Margo. Sementara Colin ditemani Hassan mengadakan perjalanan panjang, lagi-lagi mengendarai mobil, untuk membuktikan teori matematikanya dan mengobati patah hatinya dicampakkan Katherine XIX.

Terus terang, saya lebih menyukai bagian komedi dan cerita selama perjalanan dibanding tujuan akhir tokoh utama. Tak masalah apakah Q berhasil menemukan Margo dalam keadaan hidup atau mati, tak ambil pusing bagaimana nasib model matematika Colin dengan Katherine-Katherine-nya, atau apakah Pudge menemukan “Kemungkinan Besar”nya, kisah Q dan Colin menghibur karena kehadiran Ben, Radar dan Hassan sebagai karakter pendukung. Dialog lucu yang disertai kekonyolan selama perjalanan membuat saya senyam-senyum selama membaca. Saya suka cerita lucu, tapi tidak melucu terus seperti novel komedi. Suka drama, tapi bukan drama melulu dari awal sampai akhir. Dan suka nuansa kelam tapi tidak sampai membuat depresi. Nah, John Green pandai merangkum semua itu dalam Paper Towns. Saya puas dengan akhir ceritanya. Puas dengan keputusan yang diambil oleh Q maupun Margo. Berbeda dengan Looking for Alaska.

Tokoh kutu buku dalam Looking for Alaska masih ada, tapi tidak ada lagi perjalanan panjang mengendarai mobil. Diganti dengan kejahilan-kejahilan remaja di sekolah berasrama. Pun, persahabatan antara Pudge dan Kolonel terasa hambar, tidak sekuat Colin dan Hassan atau Q dengan Ben dan Radar. Selain itu, Miles “Pudge” Halter adalah karakter yang brengsek. Tak masalah baginya meminta satu cewek jadi pacarnya sementara ia mencintai cewek lain. Sulit menahan diri untuk tidak memutar bola mata selama membaca pikiran Pudge yang terus-terusan didominasi asumsi akan perasaan Alaska padanya. Alaska juga lebih tepat disebut menjengkelkan dibanding memikat. Kacau, iya. Di Paper Towns saya simpati dan kasihan pada sosok Margo yang berpendirian teguh, cerdas, punya orangtua lengkap tapi terpental dari keluarganya sendiri. Berbeda dengan Alaska yang sepertinya sengaja membuat dirinya rumit dan tak bisa dipahami. Jika diurutkan, saya paling suka Paper Towns kemudian An Abundance of Katherines dan terakhir Looking for Alaska.

Her Sunny Side (Hidamari no Kanojo)

 
Setelah sepuluh tahun, aku bertemu kembali dengan teman masa kecilku. Berbeda dengan dirinya dulu yang dijuluki ‘Anak Paling Bodoh di Sekolah’ dan sering ditindas, kini ia bertransformasi menjadi seorang gadis yang serba bisa, sekaligus sukses dalam pekerjaan. Tapi ternyata gadis itu menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit rahasia itu terbongkar.

Novel Koshigaya Osamu ini muncul pertama kali pertengahan 2013, tapi waktu itu tidak minat beli karena sinopsisnya yang ala drama komik jaman SMP. Hingga kemudian ketemu Bonus Track yang boleh dibilang tidak mengecewakan. Mulailah googling novel-novelnya yang lain dan dapat info tentang Her Sunny Side. Katanya novel ini terjual satu juta copy di Jepang dan sudah diangkat ke layar lebar. Matsumoto Jun dan Ueno Juri berperan sebagai tokoh utama. Sayangnya, setelah beberapa hari keluar masuk toko buku, stoknya selalu kosong. Akhirnya ditempuh jalur ask the audience dan phone a friend :P. Maksudnya pesan online di salah satu situs di internet. Nah, apakah novel ini mampu menghibur layaknya Bonus Track ? Sayangnya tidak.

Bonus Track menghibur karena persahabatan antara Tetsuya dan Ryota serta usaha mereka menemukan pelaku tabrak lari. Karakter Ryota yang lucu dan polos sering memancing tawa. Sedikit sekali porsi romantis di dalamnya. Sementara Her Sunny Side adalah romance yang dibumbui fantasi. Paruh pertama diawali dengan baik dan bikin penasaran. Tapi pertengahan hingga akhir mulai bertele-tele dan sering mengulur waktu. Ibarat mie yang dimasak terlalu lama; mengembang dan tidak enak dimakan. Awalnya saya kira “rahasia masa lalu” yang dimaksud adalah sesuatu yang kelam, menyakitkan dan tak bisa dimaafkan. Sejenis itulah. Ternyata sama sekali berbeda dari perkiraan. Jadi sedikit kecewa mengingat perjuangan untuk mendapatkan buku ini.
14 May 2015

Garis Batas

 

“Mana yang lebih penting, bebas bersuara tetapi kelaparan, ataukah mulut dibungkam tetapi perut selalu kenyang ?” 
~Agustinus Wibowo, Garis Batas~ 

Di antara ketiga buku Agustinus, Garis Batas adalah buku pertama yang saya beli. Tetapi buku kedua yang saya baca. Macam mana bisa begitu ? Panjang ceritanya. Saya belum pernah baca tulisan Agustinus Wibowo sebelumnya. Tapi buku Titik Nol pernah samar-samar terdengar karena banyak yang bilang bagus. Waktu ke Gramed juga sempat lihat buku itu nongol di posisi best seller. Tapi tidak tertarik beli. Maklum, masih kena demam Haruki Murakami. Iseng-iseng baca sekilas, saya langsung buka halaman terakhir, di situ ada informasi tentang buku Agustinus sebelumnya yang berjudul Garis Batas. Di sinopsisnya disebutkan kalau Garis Batas merangkum petualangan penulis di Asia Tengah yang misterius; Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkemnistan. Eh, tadi apa katanya, Kazakhstan ? Ini dia. Perempuan itu berasal dari Negara ini, bisik saya dalam hati. 

Mari kita undur waktu ke bulan Februari 2014. Ceritanya waktu itu shalat subuh baru saja usai. Puluhan orang berdesak-desakan keluar di pintu Masjidil Haram. Kami memilih menunggu beberapa bentar sampai kerumunan di pintu berkurang. Saya bersandar di salah satu tiang sambil memperhatikan sekitar. Tiba-tiba pandangan saya terpaku pada sosok berjubah hitam dan berkerudung biru muda. Yang membuat saya terpana adalah parasnya, masya Allah. Kalau hanya sekadar cantik, sudah sering saya lihat yang lalu-lalang mulai dari penduduk asli atau jamaah dari berbagai negara. Tapi yang satu ini, Masya Allah. Saking noraknya, sambil terus berucap Masya Allah, mata saya terus mengikuti perempuan yang sedang berjalan keluar masjid bersama rombongannya. Di punggungnya menggantung ransel yang dipakai seragam oleh setiap anggota rombongan bertuliskan : Kazakhstan. 

Jadi pertama, saya tertarik beli buku karena teringat perempuan itu. Kedua, seperti kata penulis, negeri-negeri “Stan” itu misterius. Kabar beritanya sangat jarang sampai ke Indonesia. Lihat saja buku-buku travel yang banyak dijual di gramed, jarang atau mungkin tidak ada yang mengupas tentang Tajikistan, Kirgiztan dan Negara Asia Tengah lainnya. Kebanyakan berputar di Eropa, Jepang, Korea, Yunani dan Asia Tenggara.
Sayangnya, setelah buku dibeli, sepupu datang berkunjung dan membawa pulang buku itu. Karena sudah penasaran stadium lanjut, dua hari kemudian saya kembali ke gramed dan memboyong buku pertama dan ketiga. Demikian ceritanya. Terima kasih sejauh ini tetap bertahan membaca. Hihihi… 

Setelah beberapa tahun tinggal di Afganistan, Agustinus melanjutkan perjalanannya menyeberangi Amu Darya, masuk ke negeri stan bersaudara. Sungai Amu Darya adalah garis batas. Menyeberangi garis batas berarti menyeberangi garis batas kultur dan ideologi. Negara-negara berakhiran “stan” yang dijelajahi penulis dulunya adalah bagian dari raksasa Uni Soviet yang luasnya mencapai lima belas persen luas daratan bumi. Lalu, raksasa itu ambruk. Kolaps. Seketika terpecah menjadi berbagai negara baru dengan nama aneh-aneh, dalam bentuk dan ukuran yang beragam.  

Tajikistan, belasan tahun lalu tak banyak orang tahu tentang Negara ini. Tidak nampak di peta dunia. Berbeda dengan Afganistan yang memiliki aturan ketat dalam berpakaian, di Tajikistan yang berlaku adalah modernitas ala Eropa : jas, dasi, kemeja, sepatu dan tas kerja. Lelaki Tajik memakai kemeja dan celana panjang, mengenakan jubah tebal yang menjuntai mirip jas kebesaran raja. Sementara kaum perempuan membiarkan rambut mereka tergerai. Jarang sekali terlihat perempuan mengenakan jilbab, apalagi burqa. Dibanding Stan-stan lainnya, Tajikistan adalah negara terkecil sekaligus termiskin. Tapi walau tidak kaya, mereka juga tidak mengemis atau menggelandang. Dan walaupun miskin, angka melek huruf di Tajikistan hampir seratus persen. Sebab di zaman Uni Soviet dulu, pemerintah selalu mendorong pendidikan sampai ke pedalaman. Suasanan bulan ramadhan di Tajikistan nyaris tidak terasa. Mayoritas memang muslim, tapi restoran dan warung ramai seperti biasa sebab kebanyakan tidak berpuasa. Para lelaki Tajik malah asyik menenggak vodka di siang hari. 

Kirgiztan, Negara pertama yang memproklamirkan kemerdekaannya dari Moskow. Negara pertama di Asia Tengah yang punya mata uang sendiri. Dan juga, Negara pecahan Soviet pertama yang menjadi anggota WTO, dengan bantuan IMF dan Bank Dunia tentunya. Sayang, jika dulu harus menurut perintah Moskow, kini harus manut pada aturan globalisasi, kapitalisme dan lembaga internasional. Mata uang Kirgiz, Som, langsung ambruk begitu diperkenalkan. Sekarang Kirgiztan kecil megap-megap ketika banyak penduduknya kehilangan pekerjaan. Kota-kota Kirgiztan pun jadi berbahaya ketika hari mulai gelap, karena pemabuk bisa-bisa melompat dari balik pohon dan menodongkan pisau. 

Kazakhstan, raksasa besar dengan luas wilayah menempati urutan kesembilan dunia, seluas Eropa Barat, masih lebih luas daripada keempat saudara Stan digabungkan sekaligus, hampir satu setengah kali luas daratan Indonesia. Tapi penduduknya tak sampai 16 juta jiwa. Dulu yang tinggal di padang luas Kazakhstan adalah bangsa pengembara, kehidupan berkutat pada rumput, ternak, sungai dan musim. Lima belas tahun setelah Kazakhstan berdiri, padang rumput itu berubah menjadi negara kaya. Penduduknya bukan lagi gembala kelaparan, tetapi gadis cantik berbalut syal dari bulu yang mahal, berhak sepatu tinggi, menenteng tas bermerk Paris atau Italia. Kaum pria menebarkan bau parfum impor dan berpakaian perlente. Nuansa mewah memancar di sudut toko di pusat kota Almaty dengan dengan label harga yang selangit. Harga bakmi instan saja bisa mencapai lima dolar. Tapi semahal-mahalnya Almaty, sebanding dengan gaji yang mereka dapat. Gaji bulanan guru bahasa inggris untuk militer Kazakhstan bisa lebih dari sepuluh ribu dolar, atau seratus juta rupiah. Dengan produksi minyak yang sampai ratusan ribu barel per hari, pendapatan Kazakhstan melonjak dari 100 dolar menjadi 6.000 dolar hanya dalam hitungan belasan tahun. Dua ladang minyak Kazakhstan termasuk yang terbesar di muka bumi. Sama-sama merdeka berbarengan, Kazakhstan terus memodernisasi diri, sementara Tajikistan harus tabah di barisan negara termiskin di dunia. 

Uzbekistan, terkenal sebagai salah satu pecahan Soviet yang paling anti Rusia. Patung-patung pahlawan komunis ditumbangkan. Bahasa Rusia diganti bahasa Uzbek. Begitu merdeka, etnis Rusia tergusur kedudukannya. Yang dulu penguasa sekarang warga kelas dua. Keturunan Rusia sulit mendapat pekerjaan, banyak yang terpaksa jadi pemulung dan pegemis. Yang menarik, ternyata universitas di Uzbekistan punya jurusan Bahasa Indonesia. Kalau di Indonesia, ada tidak ya kampus yang punya jurusan bahasa Uzbek ? Di Negara yang mayoritas muslim ini, Islam justru menjadi hal yang sangat sensitif. Pada masa Uni Soviet, Islam dianggap ancaman. Setelah Uzbekistan merdeka, keadaan tidak banyak berubah. Masjid terus dikontrol pemerintah, adzan tidak boleh dikumandangkan, isi khotbah harus sejalan dengan kebijakan pusat dan orang-orang yang dicurigai ditangkap. Secara umum, yang berkembang di Asia Tengah adalah ajaran sufi, bercampur dengan budaya dan tradisi. Sehingga tak jarang orang merancukan mana yang budaya dan mana yang benar-benar ajaran islam. 

Turkmenistan, ketika Negara-negara Asia Tengah lainnya gencar mengganti nama jalan, kota, sekolah, lapangan dan gedung yang berbau Uni Soviet atau Rusia, Turkmenistan lebih ekstrim lagi. Nama bulan-bulan di penanggalan pun ikut diganti. April menjadi Gubansoltan Eje, September menjadi Ruhnama dan ada pula bulan yang namanya sangat berbau propaganda, seperti bulan Netralitas, Bendera, dan Kemerdekaan. Perubahan nama juga merembet ke nama hari. ada hari isirahat (Minggu), hari bahagia (Rabu), dan hari roh (Sabtu). Melihat foto kota Ashgabat yang modern dan artifisial, rasanya seperti melihat dunia yang sama sekali asing. Pusat kota Ashbagat adalah daerah yag teramat sensitif. Ada mata-mata yang terus mengintai. Di setiap sudut jalan tentara mondar-mandir dengan langkah tegap. Setiap gerak-gerik terpantau, tidak boleh ambil gambar sembarangan, salah sedikit bisa berujung penjara.

Foto-foto yang ditampilkan dalam buku kedua ini jauh lebih banyak dibanding buku pertama. Yang menjadi masalah teknis dari trilogi buku ini adalah kualitas perekat yang kurang baik. Baru dibuka beberapa kali, lembarannya mulai lepas satu per satu. Bagi saya yang belum pernah menyentuh wilayah Asia Tengah, negeri-negeri Stan itu tetap misterius. Sebab antara membaca dan menyaksikan secara langsung itu jelas berbeda. Ah, semoga suatu saat nanti saya punya kesempatan berkunjung ke sana.
07 March 2015

Ketika

Ia pernah menulis,
Seikat puisi tentang penantian

Namun ibarat kisah 180 Hari Lagi,
Waktu perlahan menuju titik nol


Setiap penantian hanya punya dua muara
Sebab itu, ada hal yang tidak bisa dipaksakan
Tercatat sebelum keberadaan


Ketika tiba di titik itu
Dan jam miliknya masih berputar
Maka,
Cukuplah diingat
Tak perlu dikenang


Ingat saja, tak perlu dikenang

6 maret 2015
Dalam perjalanan laut menuju kota Daeng
19 February 2015

Rahasia Kepergian


“Kepergian terasa menyenangkan dan murni hanya ketika kita meninggalkan sesuatu yang penting, sesuatu yang berarti bagi kita. Mencabut kehidupan hingga ke akarnya. Tetapi kita tidak bisa melakukan itu sampai kehidupan kita berakar.” 
(John Green, Paper Towns)
 
;