02 September 2015

Trilogi Takhta

The False Prince
 

 Empat anak laki-laki diculik. Empat anak yang penampilannya sangat mirip. 
Sage, salah satu di antara mereka, membongkar fakta di balik penculikan itu –bahwa ada yang akan dipilih untuk berperan menjadi pangeran yang hilang –ia tahu bahaya sekarang menghadang. Sage sadar hanya ada satu cara supaya bisa bertahan dalam permainan penuh kebohongan dan kelicikan ini. Ia harus menjadi sang pangeran, atau ia akan dibunuh.

The Runaway King
 

Kerajaan yang nyaris hancur. Raja yang hilang. Siapa yang akan bertahan ?
Beberapa minggu setelah Jaron naik takhta, ada yang berusaha membunuhnya. Desas-desus bahwa sebentar lagi pecah perang pun merebak di balik dinding-dinding istana, dan Jaron merasa suasana di Carthya makin lama makin tegang. Dalam waktu singkat, ia sadar bahwa kepergiannya dari Carthya mungkin merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan itu. Namun, Jaron kemudian bertanya-tanya apakah tindakannya tidak terlalu jauh. akankah ia bisa pulang lagi ? Atau apakah ia harus mengorbankan nyawa demi menyelamatkan kerajaannya ? 

Berlatar negeri fiksi bernama Carthya, beredar desas-desus bahwa Raja Eckbert, Ratu Erin dan pewaris takhta satu-satunya –pangeran Darius telah meninggal akibat diracun. Takhta raja kosong. Para regen masih membicarakan siapa yang akan menduduki posisi itu. Pangeran Darius punya adik laki-laki bernama Jaron. Berbeda dengan kakaknya yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi penerus Raja Carthya, Jaron suka memberontak, tidak suka dikekang aturan istana, suka membuat masalah dan selalu menentang ayahnya. Ratu Erin dan Darius menyayangi Jaron, tapi Raja Eckbert yang malu dengan kelakuan putra bungsunya mengirim Jaron ke tempat yang jauh untuk belajar. Di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Jaron diserang bajak laut. Jaron dikabarkan tewas bersama seluruh penumpang dalam serangan tersebut. 

“Ayahku berkata orang bisa berpendidikan dan tetap bodoh, dan orang bijak bisa tidak berpendidikan sama sekali.”

Latamer, Roden, Tobias dan Sage, empat remaja laki-laki yang tampilan fisiknya sangat mirip satu sama lain. Nasib mereka juga mirip, dibeli dari panti asuhan oleh seorang bangsawan bernama Bevin Conner kemudian dibawa paksa ke desa Farthenwood. Conner menyatakan tujuannya membawa keempat anak laki-laki itu. Mereka akan dilatih untuk berperan menjadi pangeran Jaron. Conner ditemani oleh dua bawahannya yaitu Cregan dan Mott. Mereka berdua yang akan melatih keempat anak itu. Hanya satu yang akan terpilih, sisanya kemungkinan besar akan dibunuh untuk menjaga rahasia. Conner membual bahwa semua itu dilakukan untuk menyelamatkan negeri Carthya. Kenyataannya, ia hanya ingin diangkat menjadi salah satu regen utama dalam pemerintahan dan mengendalikan raja di balik layar.

“Jika kau tidak bisa memberi siapa pun penderitaan, maka kau juga tidak akan bisa memberi mereka sukacita.”

Latamer dibunuh oleh Cregan di tengah perjalanan ketika menyatakan mundur dari permainan. Tersisa Tobias, Roden dan Sage yang harus bersaing menjadi pangeran atau berakhir seperti Latamer. Novel ini diceritakan dari sudut pandang Sage, yang sifatnya mirip sekali dengan Jaron yang tidak suka diperintah. Berkali-kali ia berusaha kabur tapi selalu tertangkap. Karena itu ia sering dihukum. Ada beberapa tokoh lain seperti Imogen dan putri Amarinda yang punya peran penting dalam cerita. Tidak banyak yang bisa saya tuliskan, nanti jadi spoiler. Tapi twist-nya benar-benar lihai. Saya sudah menebak-nebak dan tetap saja hasilnya di luar dugaan. 

“Kurasa kau pasti menyukai rasa sakit, karena kau terus-terusan membuat orang kesal sampai mereka menyakitimu.”

Setelah Jaron naik takhta, ada yang berusaha membunuhnya. Belakangan diketahui pelakunya adalah anggota bajak laut dari Avenia. Carthya berada di ambang peperangan. Letaknya yang berada di tengah-tengah daratan dan tak memiliki lautan menjadikan Carthya sasaran empuk negara tetangga. Ada Gelyn di utara dan barat, Mendenwal di timur dan Avenia di Selatan. Semuanya berusaha mengambil alih Carthya. Apalagi melihat fakta bahwa Raja Carthya masih sangat muda untuk memerintah kerajaan. Yang paling berpeluang menyerang Carthya adalah Avenia yang bersekutu dengan perompak. Jaron melihat bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Carthya dari Avenia adalah dengan menaklukkan para perompak itu. Jika mereka tunduk, Avenia tidak akan berani menyerang Carthya. The Runaway King menceritakan petualangan Jaron menyusup ke markas bajak laut.

“Ketika kau ada dalam posisiku, kau menjadi sadar betapa sedikitnya orang yang bisa dipercaya.”

Ada tambahan tokoh baru dalam The Runaway King. Senangnya lagi, sekuel karya Jennifer A. Nielsen ini lebih baik dibanding buku pertama. Karakter Jaron berkembang pesat. Kagum dengan kemampuannya berdebat, pemilihan kata-katanya yang cerdas dan sifatnya yang keras kepala luar biasa. Ternyata si penulis menciptakan tokoh ini dengan meminjam sifat dua murid yang pernah diajarnya di kelas debat SMA. Jaron mungkin pemberontak, tapi dia tidak pernah lari, bahkan ketika situasi memungkinkan. Dia selalu menghadapi masalah secara langsung. Orang-orang mungkin menganggapnya ceroboh tapi dia selalu punya pemikiran sendiri. Dengan karakternya yang unik ini, Jaron sudah mampu memimpin Carthya.

“Akan selalu ada pergolakan. Hanya alasan dari pergolakan itu yang berubah.”

Karakter Imogen dan putri Amarinda juga diberi porsi lebih banyak dibanding buku pertama. Imogen adalah pelayan yang sebelumnya bekerja di rumah Conner. Sementara Amarinda adalah putri yang sejak kecil terikat perjanjian dengan Carthya bahwa ia akan menikah dengan siapa pun yang menjadi penerus takhta kerajaan. Kerajaan Amarinda adalah satu-satunya sekutu Carthya. Mulanya ia ditunangkan dengan Darius. Tapi setelah kematian Darius, adiknya, Jaron diangkat menjadi raja. Jaron mungkin lebih dulu bertemu dengan Imogen dibanding Amarinda. Dan Amarinda mungkin masih menyukai Darius. Biasanya saya tidak suka karakter putri dalam novel-novel. Tapi kali ini saya berharap Jaron akan didampingi Amarinda jika kelak memerintah Carthya. 

Terkhusus Jaron, kata-katanya membuat saya meleleh di lembar-lembar terakhir. Hahaha… Sebenarnya dialog antara Jaron dan Amarinda lebih tepat disebut perjanjian antara partner kerja dibanding antara calon raja dan ratu, tapi dengan cara tertentu dialog mereka berdua terasa sangat romantis. Porsi yang hanya disisakan di penghujung buku itu malah membuat saya berulang-ulang membacanya. Penulis sangat jeli menempatkannya di akhir. Bagaimana pun keras kepalanya Jaron, dia juga bisa bersikap manis. Kata-katanya sederhana tapi cerdik, khas pendebat. Saya yakin Amarinda kena panas dingin mendengarnya. Ngehehe…

“Apakah kau membenciku, karena aku bukan Imogen, karena kau harus menikahiku suatu hari ?” (Amarinda)

“Apakah kau membenciku ? Karena aku bukan Darius, dan karena kau harus menikah denganku suatu hari ?” (Jaron)

“Aku melepasnya. Dan aku memintamu untuk melepaskan kakakku juga.” (Jaron)

Carthya sudah di ambang peperangan. Gelyn dan Mendenwal mulai melancarkan serangan dari arah utara dan timur. Bersama orang-orang kepercayaannya, Jaron siap berperang.
Sayangnya, pembaca harus bersabar dulu sementara waktu karena seri terakhir belum diterbitkan.
28 August 2015

Kata Mark Twain

“Membaca buku yang menarik kemudian bertemu dengan pengarangnya, seperti makan paté hati angsa yang enak sekali kemudian harus bertemu angsanya.” 
~Mark Twain~

Penulis dan tulisannya, atau dalam hal ini, pencorat-coret dan coretannya. Suatu ketika kau menemukan buku yang menurutmu bagus. Melihat pengarangnya, kau pun mulai memburu buku-bukunya yang lain. Atau kau pernah, secara tak sengaja, menemukan coretan ngelantur di dunia maya. Ada sesuatu dalam tulisan itu yang membekas di hatimu. Kau pun mulai rutin membaca coretannya yang lain. Sepertinya kau punya pengalaman yang sama dengan penulis, dan dengan cara tertentu kau merasa bahwa si penulis memahami dirimu. Ketahuilah, orang bisa benar-benar berbeda dalam tulisan.

Dalam sesi wawancara dengan Jonas Jonasson, penulis asal Swedia itu ditanya apakah sehari-hari ia sama lucunya dengan novel karangannya. Jonas menjawab dengan mengutip kalimat Mark Twain di atas bahwa membaca buku yang menarik kemudian bertemu dengan pengarangnya, seperti makan paté hati angsa yang enak sekali kemudian harus bertemu angsanya. Memang benar tulisan adalah cerminan pikiran dan hati seseorang, tapi benar pula bahwa orang bisa sangat berbeda dalam tulisan. Bagaimana ya mengatakannya, ini sedikit rumit. Misalnya saja Raditya Dika, yang dikenal sebagai penulis novel komedi itu katanya sehari-hari adalah orang yang serius. Atau salah satu blogger yang dulunya favorit saya, yang muatan blognya berat, dark dan serius, katanya suka bercanda dan jarang bersikap serius di dunia nyata. Dulu saya suka tulisannya. Sampai membaca habis isi blognya, menyimpan semua tulisannya, melacak buku-buku karangannya dan menghabiskan waktu berjam-jam mencari tahu tentangnya. Tapi ibarat demam, suhu pelan-pelan kembali ke titik normal.

Yang ingin kukatakan, bahwa pada dasarnya yang kita sukai adalah tulisannya. Tulisannya, bukan si penulis. Beberapa orang sulit membedakan kedua hal ini sehingga mereka terjebak dalam ilusi sesat yang sesaat. Dengan berjalannya waktu, pelan-pelan kita akan menyadarinya sendiri.

The Idiots


Hari : Kalau Alok sanggup melewati semua ini. aku akan menulis buku tentang hari-hari sinting kita. Aku bersumpah 
Alok : Karena bergaul dengan Hari dan Ryan, nilai-nilaiku hancur
Ryan : Aku mengacaukan segalanya

Hari, Ryan dan Alok adalah setali tiga uang. Bahu-membahu mereka melewati hari-hari penuh tekanan di jurusan teknik IIT, berusaha menyeimbangkan antara belajar dan bersenang-senang. Sering juga mereka berselisih paham kemudian bertengkar. Bersama, tiga mahasiswa pas-pasan ini melakukan berbagai hal gila, dan puncaknya adalah mencuri soal ujian dari kantor kepala jurusan, lalu ketahuan. Dengan segudang masalah yang mereka hadapi, bisa tidak ya, mereka lulus dari kampus yang katanya terpopuler se-India ini ?

Membaca novel The Idiots, yang berjudul asli Five Point Someone karya Chetan Bhagat ini, membuat saya selalu membandingkannya dengan versi film. Kalau dihitung-hitung sekitar 60% cerita dalam novel yang dimasukkan dalam film dengan beberapa perubahan di sana-sini. Farhan yang di akhir film putar haluan menjadi fotografer, berbeda dengan Alok yang dalam novel tetap bekerja di bidang teknik walau ia sebenarnya lebih suka melukis. Versi novel lebih menekankan cerita yang realistis. Atau Rancho yang dalam film dipasangkan dengan Phia, anak Prof. “Virus”, maka dalam novel karakter aku/Hari yang menyukai Neha, anak Prof. Cherian. Rancho dalam film adalah tukang kebun yang menggantikan majikannya kuliah, sementara Ryan dalam novel berasal dari keluarga berada, kedua orangtuanya berbisnis di Eropa. Sudut pandang dalam novel berganti-ganti, mulai dari Hari lalu pindah ke kacamata Alok, Ryan bahkan Neha.

“Sebelum kalian begitu antusias soal bekerja untuk masa depan, bereskan dulu masa lalu dan masa kinimu.” (hal. 194)

Jika Ryan adalah Rancho, Hari adalah Farhan, Alok adalah Raju, Prof. Cherian adalah Virus, Neha adalah Pia dan Venkat adalah Chatur, maka terus terang versi film lebih unggul. Mungkin karena saya nonton filmnya duluan baru baca novelnya. Selain itu karakter Ryan yang kontras dengan Rancho. Rancho dalam film adalah gabungan antara jenaka dan jenius. Rancho memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan sahabatnya. Dia tahu bagaimana membantu mereka dengan cara yang elegan. Dia suka membuat ulah tapi menyelesaikan masalah dengan cerdas. Lebih dari itu, nilai-nilainya selalu tertinggi, mengalahkan Chatur. Karakter sempurna yang hanya eksis di dunia fiksi.

“Dan saat itulah, aku menyadari bahwa IPK mencetak mahasiswa yang baik, tapi bukan pribadi yang baik.” (hal. 363)

Karakter Ryan Oberoi berbeda. Ryan memang menyelamatkan Hari dan Alok di hari pertama ospek kampus. Ryan kreatif dan kepercayaan dirinya kuat. Tapi emosional, arogan dan suka mendebat siapa saja. Suka menabrak aturan. Suka membuat ulah dan melibatkan kedua sahabatnya yang berujung kekacauan. Dia tak pernah menyelesaikan masalah dan tidak pernah merasa bersalah. Sekadar mengucap maaf saja susahnya minta ampun. Egois dan kekanak-kanakan. Itulah Ryan. Nilainya juga paling rendah di antara yang lain dan dia tidak ambil pusing. Bagaimana pun, ada bagian yang membuat pembaca simpati pada tokoh ini.

“Salah satu bagian terbaik dalam kehidupan kampus adalah teman-teman yang kalian peroleh. Dan pastikan kalian bersahabat untuk selamanya.” (hal. 364)

Konflik dalam novel tidak sekompleks versi film. Tidak ada pendaratan darurat karena penumpang pesawat pura-pura kena serangan jantung. Tidak ada aksi nekat membawa lari mempelai perempuan dari acara pernikahan. Atau kejar-kejaran memperebutkan abu jenazah yang nyaris ditaburkan ke dalam kloset. Masalah yang muncul adalah masalah khas mahasiswa; tumpukan tugas, kuis dadakan, profesor yang kaku, asrama yang monoton dan persaingan mahasiswa yang melelahkan. Latar tempat berputar di beberapa area saja; kampus, asrama, rumah Alok dan kedai sekitar kampus. Ending novel juga tidak sedramatis film. Tapi sedihnya dapat, ketika ketiganya berpisah karena masing-masing bekerja di wilayah berbeda.

“Kau tahu, rasanya aneh, aku mungkin sudah lulus dari IIT, tapi jiwaku masih tertinggal di sana. Mungkin di koridor-koridor asrama, atau di kedai Sasi, atau di atap kampus.” (hal. 372)
04 August 2015

The Beginning of Everything


Ezra Faulkner, cowok paling populer di sekolah, percaya bahwa semua orang pasti akan mengalami tragedi. Begitu pun dirinya. Pada suatu malam, pengemudi ceroboh menabrak Ezra sehingga menghancurkan lutut, karier atletik dan kehidupan sosialnya. Saat tersingkir dari kalangan anak keren, ia berkenalan dengan Cassidy Thorpe. Gadis itu melibatkan Ezra dalam petualangan tak berkesudahan. Namun, ketika asyik dengan cinta dan persahabatan baru, Ezra jadi tahu bahwa ternyata ada orang-orang yang ia salah artikan. Akibatnya, ia sekarang berpikir kalau kecelakaan kemarin sudah menghantam dan mengubah seluruh hidupnya, apa yang akan terjadi jika tragedi lain menyusul ? 

Setelah dijejali kisah penuh petualangan dan sarat politik karya Jonas Jonasson, ada baiknya mengambil jeda dengan membaca novel remaja. Biasanya romansa remaja ringan kayak popcorn dan manis kayak es krim. Pilihan jatuh pada The Beginning of Everything. Dari sinopsis sudah kelihatan ide ceritanya bukan lagi sesuatu yang baru : Cowok keren, tampan dan populer di sekolah jatuh cinta pada cewek pindahan yang kuper, pemurung dan kutu buku. Di dunia nyata, berdasarkan pengamatan pribadi, orang populer hanya tertarik dengan sesama orang populer. Begitu pun manusia-manusia kuper yang menghabiskan waktunya membaca biasanya lebih senang dengan sesama golongan mereka. 

“Dunia ini mematahkan semua orang, lalu setelahnya, beberapa orang menjadi kuat di tempat-tempat yang patah itu.” (Ernest Hemingway)

Awalnya saya kira penulisnya laki-laki (namanya kan Robyn). Tokoh utamanya pun laki-laki yang diambil dari sudut pandang orang pertama. Tapi setelah puluhan halaman kok ada yang aneh. Ezra, kau ini tokoh laki-laki, kenapa cara bertuturmu kayak perempuan, pikir saya. Kutengok halaman biografi penulis untuk memastikan. Benar saja, penulisnya perempuan. Apa kubilang. Ini mirip dengan waktu baca Tokyo Tower-nya Lily Franky. Hanya saja yang itu kebalik, awalnya saya kira penulisnya perempuan, tapi setelah baca, kok cara berpikir dan gaya bertuturnya kayak laki-laki. Maksudku, kadang kau bisa mendeteksi mana tulisan laki-laki dan mana tulisan perempuan. Tulisan perempuan, terlebih genre romance, cenderung emosional dan melankolis walaupun tokoh utamanya laki-laki. Lihat saja ketika Adam jadi narator dalam Where She Went. 

“Dalam konteks pembuktian matematika, apabila sesuatu dianggap invalid, berarti menurut logika yang tidak terbantahkan, sesuatu itu tidak ada.” (Hal. 21)

Andai ketemu novel ini dalam situasi berbeda, sebelum baca novel John Green misalnya, mungkin saya akan menyukainya. Tapi konflik cerita dalam The Beginning of Everything terasa datar-datar saja. Walaupun di akhir memang ada sedikit kejutan. Tapi secara keseluruhan, mulai dari tokoh dan hubungan antar tokoh yang kurang kuat, sampai komedi dan petualangannya yang nanggung. Padahal di sinopsis disebutkan “petualangan tak berkesudahan”. Nyatanya, petualangan dalam novel ini tidaklah se-wah itu. Masih lebih seru petualangan Quentin ketika mencari Margo dalam Paper Towns.  Komedinya pun biasa saja, seingatku selama membaca saya hanya satu kali tersenyum. 

“Kau tahu cara mereka mengelompokkan drama-drama Shakespeare, kan ? Yang berakhir pernikahan masuk kategori komedi. Yang berakhir pemakaman masuk kategori tragedi. Jadi, kita semua tragedi berjalan, karena kita semua akan berakhir dengan cara yang sama, yang jelas bukan dengan pernikahan sialan.” (Hal. 282)

Mungkin dialognya yang sulit dimengerti karena banyak mengutip sastra klasik barat yang tidak pernah saya baca. Atau mungkin karena tokoh-tokohnya yang digambarkan begitu cerdas sehingga tidak bisa dipahami oleh pembaca macam saya. Atau barangkali lebih tepatnya, karena tidak ada satu pun karakter dalam novel ini yang benar-benar saya suka. Tidak Ezra, tidak Cassidy, tidak Toby dan tidak pula lainnya. Tapi saya cukup simpati pada Cassidy. Awal kemunculannya biasa saja, lalu mulai menyebalkan di pertengahan, mirip Alaska yang mood-nya naik turun dan menjengkelkan. Tapi di akhir, penjelasan Cassidy mampu melunturkan kejengkelan saya. Membuat saya setuju dengan pemikiran dan keputusannya. Lagipula, saya sudah pengen cepat-cepat pindah ke novel lain. 

“Kita melintasi kehidupan orang lain bagai hantu, meninggalkan kenangan-kenangan mendalam tentang orang-orang yang tidak pernah nyata. Padahal akhirnya kita sendiri yang memilih sosok yang ingin kita tampilkan di depan orang lain.” (Hal. 314)
02 August 2015

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Walikota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulangtahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu. Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan di mana –tanpa terduga– Allan memainkan peran kunci di balik berbagai peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin Komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa, sih, Allan sebenarnya ?

Ini novel dengan judul terpanjang yang pernah saya baca. Awalnya saya pikir petualangan Allan akan mirip dengan petualangan kakek-kakek dalam film animasi Up. Tapi setelah baca beberapa halaman, harapan kecil itu buyar. Petualangan Allan tidaklah sesederhana itu, malah lebih mirip kisah Forrest dalam film Forrest Gump, bahkan lebih gila lagi.

“Ketika kau sudah hidup terlalu lama, akan mudah sekali bertindak semaunya” (hal. 9)

Alur novel ini maju mundur. Jadi boleh dibilang ada dua bagian cerita. Cerita pertama, dimulai tahun 2005 ketika Allan yang berumur 100 tahun melompat dari jendela dan memutuskan untuk kabur, kemudian mencuri koper milik anggota organisasi kriminal Never Again, dan akhirnya dikejar-kejar oleh polisi dan bos organisasi itu. Lalu cerita kedua mundur ke tahun 1905 ketika Allan lahir, tumbuh dan melewati masa mudanya dengan berlatih membuat bom yang membuatnya mengalami sederet petualangan yang ajaib. Terus terang, petualangan Allan di masa mudanya jauh lebih menarik, konyol, gila dan jauh lebih menegangkan dibanding petualangannya dikejar-kejar organisasi Never Again.

“Konflik terbesar dan paling sulit diselesaikan di muka bumi ini terjadi karena dialog berikut ini : ‘Kau bodoh, bukan, kau yang bodoh, bukan, kau yang bodoh.’” (hal. 250)

Allan menganut prinsip bahwa segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang terjadi, pasti terjadi. Prinsip ini yang membawa Allan ke berbagai belahan dunia, bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah dan berkali-kali lolos dari maut. Novel ini penuh dengan muatan politik, tapi kehadiran Allan yang polos dan situasinya yang tak tertebak ditambah dialognya yang lucu membuat saya tidak bosan membaca. Politik adalah satu dari dua topik yang paling membuat saya tidak tertarik.

“Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk.” (hal. 89)

Jonas Jonasson, si penulis, menyindir banyak hal dan banyak orang dalam novelnya yang setebal 508 halaman itu. Mulai dari komunisme, permainan politik orang-orang penting, hukum, sampai agama tidak luput dari sindiran penulis. Amerika Serikat disebut sebagai hyena kapitalis. Pendeta Anglikan yang ditemui Allan, yang metodenya merekrut jemaat entah mau disebut gila atau genius karena perbedaannya tipis sekali. Metode penyiksaan ala CIA yang disebut ‘mengagumkan’, sampai kumis Stalin juga ikut dibawa-bawa. Dari awal sampai pertengahan saya rasa tidak ada yang begitu lucu, mungkin karena belum terbiasa baca novel komedi hitam semacam ini. Nanti di halaman 200-an saya mulai senyum-senyum, lalu terkikik-kikik, lalu terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak. Tawa saya sukses meledak ketika sampai pada dialog yang membahas kumis Stalin itu.

“Orang Hindu dan Muslim tidak akur, dan di tengah-tengah ada Mahatma Gandhi yang duduk bersila, mogok makan karena tidak puas terhadap sesuatu. Strategi macam apa itu ?” (hal. 228)

“Dari semua kelompok yang ada di bumi, menurutku trinitas yang paling tidak membuatku tertarik” (hal. 200)

Dan yang paling seru adalah ketika Indonesia masuk dalam salah satu destinasi petualangan Allan. Alih-alih tersinggung atau marah, saya malah tergelitik membaca gambaran penulis tentang permainan politik di Indonesia. Kalau kau punya posisi, dan uang tentu saja, kau bisa menentukan mana yang benar. Dengan uang, orang bisa dengan mudah mendapatkan surat izin mengemudi bahkan meski orang itu begitu bodoh untuk membedakan mana kiri mana kanan. Dengan uang, orang yang kecerdasannya setara dengan kodok pun bisa jadi gubernur, menteri, duta besar atau bahkan kepala negara. Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin.

“Di Indonesia semuanya bisa dijual sehingga siapa saja yang punya uang bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan” (Hal. 359)
23 July 2015

Random (8)

Waktu Samurai X pertama tayang di stasiun TV nasional, nyaris tak pernah absen kuikuti serialnya tiap minggu. Di salah satu episodenya, entah yang keberapa, ada instrumen yang jadi latar ketika Misao dan Kenshin berjalan di atas jembatan. Ceritanya mereka baru saja mengembalikan sekantong uang yang dicuri Misao. Keduanya tengah dalam perjalanan kemudian bertemu untuk pertama kali. Kenshin menuju Kyoto untuk menghentikan Shishio sementara Misao sedang mencari Aoshi. Setelah mengembalikan uang, mereka berjalan melewati jembatan kayu di atas sungai. Instrumen itu muncul sejak keduanya masuk jembatan, diiringi riak air yang mengalir di bawahnya. Bunyi yang hanya beberapa detik itu ternyata terekam jelas di kepala. Aku baru menyadarinya kemudian hari.

***

Suatu malam terjadi pemadaman listrik di seluruh kota Benteng. Padahal posisiku sudah siaga satu depan TV, menunggu Extravaganza yang jadwal tayangnya tiap malam minggu. Kau tahulah, tidak ada yang lebih membosankan dibanding listrik mati di malam minggu ketika perpustakaan umum tutup, dan teknologi media belum seperti sekarang. Tak ada tontonan, tak ada obrolan dan tak ada bacaan. Jadi kuputuskan jalan-jalan sebentar ke tepi pantai. Melihat kapal mungkin, atau membeli sesuatu untuk dimakan. Kuraih jaket yang tergantung di dinding dan memeriksa sejumlah uang di sakunya, kuambil walkman di laci, kupasang earphone di telinga, kukenakan sandal, kuputar kenop pintu dan melangkah keluar.

Angin timur berhembus kencang. Jenis angin yang membuat kulit kering dan pecah-pecah. Kumasukkan kedua tangan ke dalam saku dan menggenggamnya erat-erat untuk menahan hawa dingin. Kota dikepung gelap. Rumah-rumah diterangi satu atau dua batang lilin yang meliuk kesana kemari. Kadang lilin itu harus menyerah kalah karena angin bisa tiba-tiba menyambar lalu kembali tenang dalam sekejap. Jalanan juga lengang, sesekali ada kendaraan yang lewat. Sinar lampunya timbul tenggelam di sisi kiri dan kanan jalan. Di malam minggu semacam itu, beberapa orang memilih mendarat di pinggir lapangan, ngobrol panjang lebar sambil mengunyah bakso. Sebagian lagi memilih tepi pantai, ditemani gelas-gelas sara’ba dan sepiring pisang goreng. Seingatku, dulu salah satu tetanggaku kerap memboncengku ke pinggir pantai sekadar makan gorengan dan minum sara’ba. Tapi kebiasaan itu terhenti sejak dia menikah dan pindah ke rumah baru.

Jika tidak sedang buru-buru, biasanya kuambil jalan memutar, menjauh dari tempat tujuan. Salah satu kesenanganku adalah suka lama-lama di jalan. Tapi hanya di malam hari. Suka melihat kerlip lampu yang menerangi kota. Suka menatap cahaya dari tempat yang gelap. Pandangan yang awalnya lurus ke depan kualihkan ke langit, ada yang tidak biasa di atas sana. Malam itu bulan mati, tapi langit penuh bintang. Bukan penuh, sesak malah, seperti pasir yang dihamburkan. Ribuan bintang membentuk aliran seperti sungai yang memanjang ke selatan. Sampai takjub dibuatnya. Saking takjubnya aku nyaris teriak, tapi suaraku malah tercekat. Gabungan antara ingin mengekspresikan rasa kagum dan desakan untuk menahannya. Andai sendirian, sepertinya tak masalah mengucapkan “wow” yang panjang, atau merentangkan tangan dan telentang menghadap langit. Tapi itu jalan raya. Dan malam hari. Walau cukup sunyi, tak boleh macam-macam kalau tak ingin jadi bahan tertawaan. Gagasan bahwa ketika listrik mati seorang gadis tidur-tiduran di tengah jalan sepertinya bukan gagasan yang bagus. Jadi atas nama sikap, kutahan keinginan konyol itu. Kuteruskan langkah seperti biasa tapi lebih lambat dari sebelumnya. Setengah berharap waktu terhenti detik itu juga, pagi jangan datang dulu dan jalanan yang kulalui tidak punya ujung. Bukankah menyenangkan bisa terus berjalan di bawah langit seperti itu ? Bila tiba di tujuan, rasanya seperti ada sesuatu yang akan berakhir. Bagaimana pun, jika terus melangkah, lambat laun kita akan tiba di suatu tempat. Seperti langkah kakiku yang terhenti di depan penjual martabak manis. Selain gorengan, pantai juga ramai oleh gerobak martabak. Jadi kupesan satu lalu berbalik pulang, lagi-lagi mengambil jalan memutar.

***

Di malam yang lain, lama setelahnya, aku sedang membeli pesanan teman di salah satu kedai makan di jalan Hertasning. Sekotak TV yang sedang menyiarkan berita di balik punggungku mengirim sinyal ke telinga, membuatku tidak tahan untuk tidak berbalik. Yang menarik bukan beritanya, aku bahkan tidak tahu itu berita apa, tapi di ujungnya diselipkan sepotong instrumen yang sama persis dengan yang di Samurai X. Dan baru-baru ini, ada acara talkshow yang menampilkan salah satu publik figur yang menceritakan kehidupannya sejak kecil. Jelasnya bagaimana aku tidak tahu, tapi yang penting adalah instrumennya. Gara-gara itu, aku yang tengah membaca di beranda melesat masuk ke ruang tengah untuk memastikan. Benar saja, itu nada yang sama dengan yang di Samurai X.

Latar bunyi dan sungai bintang. Secara teknis, tidak ada kaitan antara keduanya. Tapi jika tiba-tiba mendengarnya entah di mana, yang langsung teringat adalah pemandangan langit waktu itu. Hingga kini, belum pernah lagi kulihat sungai bintang sebanyak malam itu.

Coba dengarkan bunyi yang kumaksud, kalau kau kurang kerjaan tentunya. Hehe. Abaikan!

The Hunter (Kogoeru Kiba)


Detektif Takako Otomichi adalah mantan polisi patroli sepeda-motor, salah satu dari sedikit perempuan di departemennya. Ia dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang pelakunya tampaknya bukan manusia. Untuk memecahkan kasus ini, Takako dipasangkan dengan Takizawa, detektif senior yang sinis dan tak senang mendapat partner detektif perempuan. Penyelidikan mereka mengarah pada penemuan yang mengejutkan. 

The Hunter adalah karya Asa Nonami, penulis Jepang bestseller pemenang penghargaan Japanese Mystery and Suspense Award. The Hunter memenangkan penghargaan Naoki yang bergengsi pada tahun 1996. Novel ini sudah diadaptasi dalam tiga film. Dua film Jepang dan satu film Korea. Tapi baik film Jepang maupun Korea belum ada satu pun yang saya nonton. Tahunya juga baru belakangan, lepas baca novel ini. Nah, berbeda dari kisah detektif yang biasa saya baca dimana pelaku kejahatan adalah tokoh yang sudah muncul sejak awal cerita dan pembaca diajak menebak-nebak di antara sederet nama, hal semacam itu tidak ditemukan dalam The Hunter. Kita ikut arus saja menelusuri keseharian Takako dan partnernya, Takizawa dalam melacak si pembunuh berantai.

“Beginilah cara orang-orang hidup. Bahkan setelah dikhianati suami atau istri atau anak mereka, bahkan setelah diperdaya, mereka terus melanjutkan hidup. Mereka mungkin hidup dengan penuh kesedihan dan mengalami kepedihan, namun mereka terus melanjutkan hidup.” (Takako, hal. 418)

Cerita dibuka dengan pembunuhan di sebuah restoran keluarga. Korban dibunuh dengan cara keji, dibakar hidup-hidup di tengah keramaian. Pelaku menggunakan sabuk berpengatur waktu yang sudah dirancang khusus dengan memasukkan bubuk peroksida benzoyl ke dalamnya (anak kimia akan menyukai novel ini). Kemudian lanjut ke pembunuhan lain yang sepertinya dilakukan hewan bertaring. Sesekali cerita berpindah ke kehidupan pribadi kedua tokoh. Takako yang dikhianati suaminya dan Takizawa yang ditinggal istrinya serta dibuat pusing oleh kelakuan anak laki-lakinya. Betul-betul partner yang sempurna, satu pembenci laki-laki dan satu lagi pembenci wanita. Tapi jangan harap ada drama romantis macam di film-film, karena mereka berkerja secara profesional. Begitu kasus selesai, mereka kembali ke departemen masing-masing. Ini poin penting yang membuat novel ini tidak keluar dari jalur mystery and suspense.

“Bahkan bagi seorang wanita, pernikahan bukan satu-satunya hal penting dalam hidup” (Takako, hal. 535)

Dalam serial Detektif Conan, masalah selesai kalau Shinichi sudah turun tangan. Yang lain cuma jadi figuran. Satu kasus bisa selesai satu, dua atau tiga hari. Nyatanya, satu kasus bisa memakan waktu berbulan-bulan menguras pikiran dan tenaga. Mulai dari otopsi tubuh korban, wawancara saksi mata, investigasi TKP, penelusuran kaitan satu kasus dengan kasus lain dan bantuan para ahli untuk menguak cara pelaku membunuh. Ditambah lagi rutinitas menulis laporan tiap ada penemuan baru. Pekerjaan berat macam itu tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja, tapi melibatkan kerja sama berbagai departemen kepolisian. Ini poin lain yang membuat novel ini tampak realistis jika terjadi dalam dunia nyata.

Sayangnya, saya tidak begitu nge-klik ketika masuk bagian “pelaku yang tampaknya bukan manusia”. Maksudku, okelah anjing serigala bisa dilatih untuk mengenali dan membunuh korban tertentu tanpa repot-repot mengotori tangan tuannya. Okelah anjing serigala bisa percaya pada orang tertentu yang baru pertama kali ditemuinya. Okelah anjing serigala jauh lebih cerdas dibanding anjing biasa. Okelah anjing serigala bisa melacak satu orang selama berhari-hari tanpa ditemani tuannya. Okelah si Topan (nama Hayate diterjemahkan menjadi Topan) digambarkan sebagai anjing serigala yang besar dan gagah dengan bulu perak yang indah. Tapi apa iya Topan bisa semanusiawi itu ? Apa iya anjing serigala bisa punya inisiatif sendiri ? Setahu saya, yang namanya hewan terlatih selalu didahului perintah tuannya semisal “berdiri”, “duduk”, “kejar” atau “ambil”. Dan apa iya anjing serigala bisa memutuskan untuk harakiri ketika misinya telah selesai ? Well, sepertinya saya gagal paham menangkap ikatan emosi antara manusia dan anjing. Penyebabnya tentu saja karena saya tidak punya pengalaman apa pun tentang hewan yang katanya paling setia itu. Jadi hal-hal semacam itu menjadi tanda tanya bagi saya sebagai pembaca.

“Sialan, tidak ada laki-laki pantas di mana pun, tak peduli ke arah mana kau mencari.” (Takako, hal. 536)
 
;