16 December 2014

Tokyo Tower : Antara Aku, Ibu dan Terkadang Ayah


“Ketika hidup, kau rela mati demi anakmu. Ketika mati, kau ingin hidup untuk menjaga anakmu”
~Tokyo Tower~

Awalnya saya pikir orang barat yang nulis, namanya saja Lily Franky. Kan banyak tuh novel bernuansa jepang tapi ternyata penulisnya bukan orang Jepang. Jadi ragu mau beli atau tidak ? Beli tidak ? Tapi berhubung di cover ada kalimat bertulis “telah terjual lebih dari 2 juta kopi di Jepang”, serta “telah diangkat ke layar lebar dan serial TV”, akhirnya dibeli juga. Ngomong-ngomong, Lily Franky terdengar seperti nama perempuan kan ? Yup, saya tidak ragu, penulisnya pasti perempuan. Tapi setelah beberapa halaman, kok kayaknya bukan perempuan yang nulis. Tokoh utamanya laki-laki. Gaya bertuturnya pun beda dari penulis perempuan. Saat tanya ke salah satu teman kesannya akan buku ini, dia bilang dia tidak yakin kalau penulisnya perempuan. Tuh kan ? Jadi untuk lebih jelasnya kita pun meminta bantuan Daeng Google.

Daeng Google yang dimintai tolong malah mengarahkan kita ke halaman Dramawiki. Lho, penulis kok larinya ke dramawiki. Pas lihat fotonya, eh ini kok kayak kenal ya ? Maksudnya saya yang kenal dia, kalau dia sih mustahil kenal saya. Ternyata pemirsa, si Lliy Franky ini adalah aktor yang berperan sebagai bapaknya dr. Aizawa di dorama Code Blue, yang nyaris terlupakan karena saya lebih fokus ke dr. Aizawa sepanjang dorama. Menunggu momen kapan kira-kira si dokter ini akan tersenyum. Nama asli Lily Franky adalah Masaya Nakagawa, seorang aktor, illustrator, desainer, fotografer, penulis lagu, novelis dan vokalis band. Whoaaa…ini baru namanya multitalenta. Tokyo Tower bukan sekadar novel, tapi otobiografi dari Masaya Nakagawa.

Tak ada keluarga yang sempurna. Begitupun keluarga Masaya. Sejak kecil ia terbiasa hidup hanya berdua dengan ibunya. Orangtuanya tidak bercerai tetapi mereka memilih hidup terpisah. Bagi Masaya, ibunya ibarat pesawat Thunderbird 2 dalam serial TV Thunderbirds, yang membawanya sebagai muatan dan keberadaannya begitu dekat. Sementara ayahnya, ibarat pesawat Thunderbird 5 yang melayang di angkasa dan tidak pasti ada di mana. Muncul di saat tertentu dan menghilang saat disadari. 

Ibu Masaya adalah tipikal perempuan yang menyenangkan, suka tertawa dan menyukai pekerjaan rumah tangga. Ia sangat peduli pada hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian Masaya. Setiap makan, ibunya rutin menyediakan berbagai macam lauk di atas meja. Sementara untuk pakaian, ibunya rajin membelikan Masaya baju baru untuk berbagai acara atau perayaan. Tapi sang ibu sendiri selalu memakai pakaian yang sama selama bertahun-tahun. Hal itu membuat Masaya tak pernah merasa miskin meski mereka tidak punya rumah sendiri.

Ayah Masaya adalah tipikal laki-laki kasar, peminum berat dan suka ngamuk saat mabuk. Jenis manusia yang kaku dan tak peduli dengan sekitar. Saat Masaya lahir atau saat masuk rumah sakit, ayahnya sedang menghabiskan waktu di bar. Ayahnya tidak ikut membesarkan Masaya, tapi tetap mengurusnya. Ia peduli dengan pendidikan Masaya, menempuh berbagai cara agar anaknya diterima di sekolah seni dan membantunya mencari pekerjaan sewaktu kuliah di Tokyo. Ia selalu mendorong Masaya untuk hidup mandiri. Pekerjaannya sering berganti-ganti karena memang tipe manusia yang setengah-setengah menekuni sesuatu. Walau begitu, ia tetap menyisihkan penghasilan untuk istri dan anaknya. Jiwa seni yang mengalir dalam diri Masaya pun diturunkan oleh ayahnya. Sejujurnya, ayah Masaya tetap menjadi misteri bagi saya hingga akhir cerita. Tak bisa disebut baik, tapi juga tak bisa disebut jahat.

Memasuki masa SMA, Masaya keluar dari sarangnya, hidup sendiri dan bersekolah di Beppu. Di masa ini kehidupannya mulai tak teratur. Tak ada lagi ibu yang membangunkannya di pagi hari. waktunya dihabiskan di game center dan pachinko. Semangatnya akan sekolah dan seni pun perlahan-lahan surut. Tapi dengan susah payah Masaya berhasil masuk institut seni di Musashino, Tokyo bagian barat. Di Tokyo, tempat kebebasan dapat diperoleh dengan mudah, hidupnya makin tak teratur, digerus oleh kehidupan kota. Kondisinya sedikit demi sedikit membaik setelah ibunya ikut tinggal bersamanya.

Masaya banyak menyorot kehidupan hedonis orang-orang Tokyo. Ia menyindir definisi kaya dan miskin ala orang kota. Memiliki uang koin seratus yen di kantong tak dapat dikatakan miskin. Justru satu-satunya kekayaan berupa uang seribu yen dalam dompet Louis Vuitton yang dibeli secara kredit malah lebih tergolong miskin. 

Pun keluarga bagi Masaya adalah sesuatu yang rumit. Dan sesuatu yang rumit itu dimulai dari pernikahan. Ia mengutip dialog dalam opera The Marriage of Figaro bahwa “Di antara hal-hal yang serius, pernikahan adalah yang paling bodoh”. Ya, dua manusia bodoh melalui proses menjadi suami-istri, lalu menjadi orangtua, dan tanpa bisa berbuat apa-apa, tahu-tahu sudah terbelit dalam hubungan keluarga. Masaya beruntung memiliki ibu yang begitu dekat dan menyayanginya serta ayah yang tetap mengurus kebutuhannya. Tapi pengalaman dengan keluarganya tidak bisa disebut bahagia. Mungkin itulah mengapa sampai akhir hayat sang ibu, bahkan sampai sekarang pun Masaya memilih untuk tidak berkeluarga.

Saya kira wajar kalau novel ini laku keras. Ada sisi kehidupan yang nyaris hilang pada diri orang kota, yang muncul dalam novel ini. Tak banyak orang dewasa, apalagi di Tokyo, yang tetap berbakti pada orangtua hingga akhir hayat seperti halnya Masaya. Di negara maju, saat orangtua sudah tidak lagi mampu merawat dirinya, mereka cukup didaftarkan ke panti jompo. Sang anak hanya perlu sesekali menjenguk orangtua mereka. Tapi membawa serta ibu tinggal bersama di kota, merawatnya di saat sakit, memenuhi keinginan-keinginannya dan menemaninya di saat-saat terahir seperti yang dilakukan oleh Masaya adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan kebanyakan anak yang sudah mandiri.

Novel ini dibaca di sela-sela penelitian di bulan April. Untungnya saat itu saya berada di tengah-tengah keluarga bersama ibu, ayah dan kedua adik. Apa jadinya jika dibaca saat jauh dari rumah, di kos misalnya. Mungkin saya sudah meraung-raung di kamar memanggil nama ibu (lebay). Jadi, hati-hatilah membaca novel ini ketika jauh dari rumah.

“Ada begitu banyak perasaan di dunia ini, namun tidak ada yang menyerupai perasaan orangtua pada anak. Saat masih anak-anak, kita belum memahami hal itu. Tapi saat sudah berada pada posisi orangtua, kita pun akan memahami apa yang dipikirkan orangtua tentang anaknya”
~Lily Franky~
 
;