08 September 2014

Memungut Semangat

Take me away upon a plateau
Far, far away from fears and shadow
Strengthen my heart in times of sorrow
Light the way to bright tomorrows
 
 ~Take Me Away, Globus~

Kata mahasiswa semester akhir, momen paling bahagia ada dua, saat kaki melangkah keluar dari ruang ujian, dan kedua, saat topi wisuda menaungi kepala. Entah yang lain sepakat atau tidak, tapi menurutku, apa yang terasa selepas ujian meja lebih tepat disebut lega ketimbang bahagia. Pun momen wisuda, bagi saya, tak lebih dari sekadar formalitas kelulusan. Pakai toga, datang ke Baruga, duduk berjam-jam, naik ke panggung, foto-foto, salam-salaman dan selesai. 

Saat masih skripsi, selepas ujian meja, saya berdiri di lantai tiga depan jurusan. Cukup lama sampai membuat kaki pegal. Sedang menunggu momen bahagia kata orang. Tapi momen itu tak kunjung datang. Mungkin nanti di Baruga, begitu pikir saya, yang ternyata juga keliru. Duduk di Baruga justru menjadi saat yang paling menekan. Saya duduk di sana, tapi pikiran entah kemana. Setelah ini bagaimana ?, tanya saya pada diri sediri. Setelah ini harus kemana ?

Baruga dipenuhi lautan manusia berpakaian sama. Saling bertukar cerita dengan senyum yang tak henti menghiasi sudut bibir mereka. Mars Universitas Hasanuddin mengalun pelan dari sebelah kiri. Saya menunduk menatap lantai, menyembunyikan kerut di wajah yang sekuat tenaga menahan tangis. Sesosok manusia yang ikut menumpang di planet bumi bersama milyaran manusia lain, berjibaku di tengah kota menjadi yang diperhitungkan. Rasanya seperti terseret arus ke dasar laut yang dalam. Ke tempat yang tak dicapai matahari. Sesak dan gelap. Dalam kegelapan itu, tangan terulur menggapai ke segala arah. Mencari pegangan. Lambat-laut, ada yang datang menyambut. Sesosok makhluk bernama sunyi. Di kedalaman yang kosong itu, kesunyian adalah satu-satunya suara yang dapat kau dengar. Perasaan semacam ini sangat jarang muncul. Tapi sekali muncul, saya tahu tidak akan mampu mengatasinya. 

Dibanding dulu, sekarang sedikit lebih baik. Tekanan lebih berat, kejutan muncul silih berganti, tapi sebanding dengan kekuatan yang ada. Kekuatan yang sepertinya dapat dipungut bahkan di tepi jalan. Suatu pagi, saya memacu motor dengan isi kepala yang didominasi berbagai rencana penelitian. Teman yang lain sudah berlomba mengajukan judul ke pembimbing. Sementara saya masih diliputi kebimbangan. Hitung sana hitung sini. Mikir ini mikir itu. Setelah berbelok di perempatan jalan, saya melewati barisan baliho berisi iklan rokok. Iklan rokok, biar begitu, sering memuat kutipan keren. “Berhenti mengukur masalah, mulailah membangun langkah”, begitu tertulis di sana. Kalimat yang biasa. Tapi saya tertegun. Rasanya baliho itu sedang mengajak bicara. Andai orang lain, siapa pun dia, yang mengucapkan kata-kata itu, efeknya tidak akan seberapa.  Kupikir, kata-kata itu hanya bisa masuk jika berbentuk tulisan, bukan ucapan. Ia harus dibaca, bukan didengar.

Jika membaca buku, saya sering berlama-lama di kalimat tertentu. Mungkin semua orang juga begitu. Menyerap dan memaknainya dengan cara sendiri. Hingga sampai pada apakah saya setuju atau tidak dengan kalimat itu. Menerima atau menolaknya. Cara semacam ini akan menuntun pada sebuah kesadaran. Lalu berujung pada pembentukan pola pikir dan sikap yang akan saya ambil. Ada lima baliho berdiri sejajar dan semuanya menuliskan hal yang sama. Saya sadar, inti masalah sebenarnya bukan di luar, tapi ada dalam diri sendiri. Tak peduli sesederhana atau serumit apapun suatu masalah, semuanya ditentukan oleh langkah yang kita bangun. Terlalu banyak pertimbangan atau perhitungan hanya membuat kita jalan di tempat. Tentu saja berpikir atau menimbang tetap diperlukan. Tapi harus ada keberanian untuk memulai sesuatu. Klasik bukan ? Para motivator juga sudah ribuan kali mengatakan hal serupa. Tapi ternyata, kalimat dari iklan rokoklah yang mampu menembus kesadaran itu. Jadi, lakukan saja, kata saya pada diri sendiri. Pelan-pelan kebimbangan itu memudar. Pelan-pelan ada kekuatan yang menyusup masuk lewat sebaris iklan rokok di pinggir jalan. Pulang ke rumah, kalimat itu saya pindahkan ke white board kamar dan masih tertulis hingga kini. 

Suatu malam, ketika jarum jam menunjuk angka tujuh, saya berempat dengan teman masih mondar-mandir di kampus mengurus administrasi. Saat mengetik pesan di ponsel, saya perhatikan jari-jari tangan pucat dan gemetaran. Ada apa ini ? Tiba-tiba terdengar bunyi perut keroncongan. Membahana di tengah lego-lego yang sepi. Oops, ternyata bunyi itu berasal dari perut saya. Baru ingat kalau sejak pagi yang masuk ke lambung hanya cairan. Pagi teh hangat, siang es teh manis dan sore lagi-lagi es teh manis. Saya belum menyentuh nasi sejak semalam, eh bukan, sejak kemarin. Iya, sejak kemarin belum ada sebutir nasi yang mengisi perut. Emergency, saya benar-benar butuh makan secepatnya. Tapi bagaimana bisa makan sambil mondar-mandir ? Dan lagi pukul tujuh malam kantin kampus sudah tutup semua. Selesai mengetik pesan, ponsel saya taruh di atas map lalu menunduk dengan dahi menempel di meja. Menunggu balasan dan menahan lapar. Malam itu salah satu teman tersangkut urusan tanda tangan. Hal yang sepele sebenarnya, tapi entah kenapa selalu jadi momok di saat-saat genting. Dia bermaksud mendatangi rumah sang dosen tapi takut diusir karena sudah lewat jam tujuh. Dosen juga butuh istirahat. Dia bingung. Buntu. Di tengah kebuntuan itu, tiba-tiba teman yang duduk di samping saya berkata begini,

“Rin, yang wajib kamu lakukan hanya datang ke rumah beliau. Diterima atau tidak, bukan lagi urusanmu. Kita berusaha, itu saja” 

Kata-kata emas. Saya lelah dan kelaparan. Lutut gemetar tak karuan karena seharian naik turun tangga. Perut berdemo tanpa henti. Tapi kata-katanya barusan membuat saya tersenyum. Rasanya seperti dapat asupan dalam bentuk lain. Dengan kepala masih bertumpu di meja, pelan saya meraih dan menepuk pundaknya. Kamu luar biasa!!

Sumber kekuatan bisa berasal dari mana saja. Lewat kitab, lewat tulisan, kata-kata seseorang, atau apa saja. Ada kalimat tertentu, yang dapat menembus hati jika berbentuk tulisan. Masuk lewat mata. Begitupun, ada kalimat yang menembus jiwa jika berbentuk ucapan. Masuk lewat telinga. Saya berharap bisa sering menemukan hal semacam ini nantinya. Sebab setelah ini, dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk menghadapi hari-hari baru. 

Ada yang bilang, kehidupan sebenarnya dimulai saat kau lulus kuliah. Ada yang bilang, hidup sebenarnya adalah saat kau mulai bekerja. Ada yang bilang kehidupan sebenarnya adalah saat kau sudah menikah. Ada pula yang menambahkan, nanti, setelah kau punya anak. Kenapa harus menunggu punya anak lalu dikatakan hidup yang sebenarnya. Manusia sudah hidup sejak jantungnya berdetak, sejak ruh ditiup ke dalam raganya. Mereka hanya berpindah zona seiring berjalannya waktu. Tapi segala yang ia lalui dalam rentang waktu itu adalah sesuatu yang juga akan dihitung. Sekian lama hidup di kampus, sekarang waktunya pindah zona. Waktunya turun gunung. Welcome to the jungle.
 
;