28 November 2021 0 komentar

Jeda Menulis

Bismillah...

Nampaknya ini pertama kali lagi saya agak ‘serius’ menulis sejak terakhir mencorat-coret blog beberapa tahun lalu. Tahun 2017, tahun terakhir menulis di blog ini. Memang ada satu tulisan tahun 2020 kemarin, yang dipicu oleh rasa frustasi karena tidak bisa pulang kampung menjenguk ibu yang sedang sakit. Saat itu semua transportasi laut dan darat dihentikan karena wabah. Jadi untuk mengobati kesedihan, saya menulis sedikit tentang ibu. Tulisan yang buru-buru dan tanpa proses editing. Yang lebih ditujukan sebagai wadah untuk melepaskan keresahan dan mengobati overthinking. 

Beberapa tahun belakangan, isu kesehatan mental mulai sering dibicarakan, terutama setelah pemberlakuan social/physical distancing maupun PSBB atau PPKM. Ketika sebagian besar orang terpaksa bekerja dan beraktivitas di rumah selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan, masalah mental pun bermunculan. Beberapa pakar menganjurkan untuk mencoba aktivitas baru yang tetap bisa dilakukan meski di rumah semisal merajut, merangkai bunga, menggambar, atau menulis. Saya memilih yang terakhir, yang tidak bisa disebut “mencoba aktivitas baru”. Lebih tepatnya, mengembalikan kebiasaan lama.  

Menulis bagi beberapa orang ibarat obat, yang mereka lakukan saat sedang “sakit”, dan mereka tinggalkan setelah pulih kembali. Bagi saya menulis itu semacam kegemaran, kesukaan, mungkin juga obat, atau entah apa namanya. Namun, kegemaran ini hilang beberapa tahun terakhir. Sejak tulisan terakhir, saya tidak pernah menulis apa-apa lagi. Maksudnya menulis kegiatan sehari-hari atau hasil perenungan. Entah karena saya dalam fase yang disebut “menikmati hidup berumah tangga”, sesuatu yang cukup ditakuti sebelum menikah, dan setelah dijalani tidak semenakutkan yang saya kira. Demikianlah rumah tangga, disebut sebagai ibadah seumur hidup, maka dijalani pula sebagai proses belajar seumur hidup. Belajar mengenali sifat dan karakter pasangan, belajar memperbaiki dan memahami gaya komunikasi pasangan, hingga menyatukan visi misi rumah tangga. 

Namun, apakah itu yang membuat saya jeda menulis ? Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin hanya karena malas, atau mungkin karena kesibukan pekerjaan, yang dua tahun terakhir bergeser ke ranah digital. Segalanya nyaris serba online. Ngajar online, rapat online, seminar online, konsultasi mahasiswa online, kelola jurnal online, belanja pun online. Lelah menatap layar seharian, tak terpikir lagi memperlama aktivitas di depan layar untuk menulis. Tapi meski tidak sempat, bila itu merupakan minat atau kegemaran seseorang, ia akan akan mencari cara untuk melakukannya. Mungkin ini faktor utamanya. Bahwa saya bukan hanya tidak punya waktu, tapi juga tidak mau. Sempat terpikir apakah ini semacam kehilangan minat setelah mengalami tragedi. Sebab sejak ayah wafat dalam peristiwa kapal karam tiga tahun lalu, yang juga menewaskan puluhan orang, saya kehilangan minat terhadap banyak hal, termasuk pada hal yang dulunya merupakan kegemaran. Saat ini saya masih berupaya mengembalikan ritme hidup, dan menyesuaikan dengan ritme baru, terlebih setelah saya dan suami ganti pekerjaan. Semoga tulisan ini jadi momentum untuk memulai kembali hal-hal yang dulu saya sukai.

02 June 2020

Masa Bakti Seorang Ibu

James Clear dalam buku Atomic Habits-nya menulis, “Satu-satunya cara untuk menjadi hebat adalah terus bersemangat ketika mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. Anda harus jatuh cinta pada kebosanan.” Saat membaca paragraph tersebut, entah kenapa saya langsung teringat pada sosok ibu. Konteks tulisan itu sebenarnya ditujukan kepada para profesional di bidangnya. Sebab dalam setiap profesi, entah atlet, pebisnis, seniman, guru, pada suatu ketika akan dilanda kebosanan. Dan bab tersebut membahas strategi agar tetap fokus ketika masa itu datang. Tapi kalimat tersebut, bagi saya, sangat tepat menggambarkan seorang ibu. Profesi apapun di dunia ini, punya batas waktu. Seorang atlet akan pensiun di usia 30 atau 40an. Pebisnis dan pengusaha pada satu titik akan pensiun dan menikmati hari tuanya. Para seniman akan mundur pelan-pelan ketika stok kreativitas semakin menipis. Tapi tidak ada yang pernah pensiun ketika telah menjadi seorang ibu. Masa baktinya seumur hidup. Walau anak-anak mereka telah tumbuh dewasa, mandiri, kemudian berkeluarga. Begitupun seorang anak, di usia berapapun, ia selalu membutuhkan sosok ibu. Bahkan meski ia pun telah menjadi seorang ibu.
 
Dalam bab yang sama, James Clear juga menulis pandangan seorang pelatih ketika ia bertanya, apa perbedaan antara atlet terbaik dan semua orang lain. Jawaban pelatih mungkin sudah diduga banyak orang : genetik, keberuntungan, bakat. Tapi kemudian pelatih tersebut menyebutkan sesuatu yang tidak terduga : “Pada suatu ketika, itu terkait dengan siapa yang mampu mengatasi kebosanan berlatih setiap hari, melakukan hal yang sama berulang-ulang.” Menguasai sesuatu mengharuskan orang berlatih. Namun semakin sering berlatih, semakin membosankan rutinitas yang dijalani. Di masa awal menjadi seorang istri, setiap wanita bersemangat melatih diri, mengatur waktu, mengurus rumah, mencoba berbagai resep masakan, beres-beres dan melayani suami. Seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut kemudian menjadi rutinitas harian. Yang pada satu titik, menjenuhkan. Tapi adakah ibu yang berhenti karena jenuh ? Seorang ibu akan tetap melayani suami meski mungkin sedang lelah. Seorang ibu akan tetap mengurus anak meski suasana hati tidak mendukung. Ibu akan tetap memasak meski tidak berselera, mereka tetap bersih-bersih meski sedang kurang sehat, mereka tetap menjalani aktivitas meski jenuh dengan seluruh rutinitas itu. Karena selalu ada cara bagi seorang ibu agar kewajiban tetap dilaksanakan. Kita sebagai anak, sudah melihat bukti nyata itu sehari-hari. Bagaimana pun dongkolnya ibu pada anak-anak ataupun suaminya, tak pernah ia absen mengurus keluarganya, bahkan meski ia juga turut bekerja di luar rumah. Ia mampu membagi dan mengorbankan waktunya.
20 December 2017

Bagaimana Rasanya Belajar Mencintai Orang Yang Tidak Dikenal ?

“Huda, bagaimana rasanya belajar mencintai orang yang tidak dikenal ?"

Sebuah pertanyaan singkat lewat BBM dari seorang sahabat masuk ke ponselku sore itu. Cukup lama kupikirkan sebelum akhirnya menjawab pesan tersebut. Pertanyaan itu akhirnya menginspirasi judul tulisan ini. Saat mencoret-coret di microsoft word, hujan turun sepanjang pagi. Terhitung baru lima pekan sejak kita menikah. Seperti hari ini, saat itu hujan turun deras. Sesaat sebelum kau mengucap ijab qabul. Begitu pun saat resepsi di rumahmu, lagi-lagi hujan turun. Beberapa hari setelahnya kau mengutip sebaris kalimat tentang hujan dan pernikahan. Aku tersenyum mendengarnya. 

Lima pekan, angka ini belum ada apa-apanya. Kita akan menemukan banyak kejutan ke depannya. Sebab ini adalah ibadah seumur hidup, maka kita harus siap jadi pembelajar seumur hidup. Lima pekan, cepat sekali waktu berlalu. Kita bersama hanya dua pekan, lalu berjarak kembali. Kita belum terlalu dekat, seperti katamu, kemudian berjauhan. Sejujurnya aku pun tidak menyukai situasi ini. Hal yang cukup mengejutkan mengingat orang sepertiku sudah terbiasa sendiri sebelum menikah. Jadi kupikir apa bedanya ? Ternyata sangat berbeda. Tapi dengan jarak sementara ini, aku bisa bercerita banyak hal padamu. Berceloteh berjam-jam di telpon sampai kuping kita panas. Sesuatu yang mungkin canggung kulakukan jika berhadapan langsung. Maka kupahami bahwa ternyata jarak itu mampu mendekatkan. Setidaknya itulah yang kurasakan. Bagaimana denganmu ? 

Bagaimana rasanya belajar mencintai orang yang tidak dikenal ? Jika ini ditanyakan sebelum menikah, tentu saja aku tidak tahu jawabannya. Tapi masya Allah, benarlah bahwa cinta dan kasih sayang itu datangnya dari Allah. Jika pernikahan diniatkan dalam rangka beribadah kepada-Nya, Allah akan menumbuhkan perasaan itu di hati hamba-Nya. Aku pernah beranggapan bahwa manusia itu jatuh cinta, bukan belajar mencintai. Jika mereka tidak jatuh cinta, mereka tidak akan mampu mencintai. Betapa kelirunya. Pandangan seperti ini, Kata Salim A. Fillah, hanya muncul dari orang yang tidak memandang cinta sebagai kata kerja. Padahal tidak ada cinta yang tidak bisa dibangun. Sebab ia-nya adalah kata kerja. Maka kau bisa memulainya. Dan kau selalu bisa membangunnya kembali, insya Allah. 

Allah memegang hati para hamba-Nya, dan sangat mudah baginya membolak-balikkan hati itu sesuai kehendak-Nya. Tiada yang mustahil jika Dia berkendak. Saat itu masih bulan Ramadhan ketika aku sedang mengutak-atik instagram. Salah satu akun yang ku follow meng-upload gambar yang merupakan sebuah game. Namanya game jomblo. Semacam tebak-tebakan tahun berapa followers-nya akan menikah. Caranya dengan men-screenshoot gambar tersebut dan melihat tahun berapa yang ter-capture. Iseng kucoba game itu dan di gambar tertulis, “Insya Allah saya akan menikah tahun 2017 . Aku tertawa membacanya. “Mana mungkin? Tahun 2017 sudah lewat separuh jalan. Mana mungkin aku menikah tahun ini.”  Tapi Allah Maha Berkehendak. Pernyataan sinisku terjawab hanya beberapa minggu setelah idul Fitri. 

Waktu itu pukul 11 malam. Aku masih terjaga membaca sebuah buku. Lalu pesan dari salah satu sepupu masuk ke WhatsApp hpku. Sepupuku yang satu ini adalah tipe serius. Ia tidak akan mengirim pesan jika bukan hal penting. Salam pembuka basa-basinya pun sangat singkat, hanya sebaris kalimat. Lalu ia mengutarakan maksudnya ; memperkenalkanmu. Aku sudah bersiap menolak sebab menikah tidak masuk targetku tahun ini, tahun depan atau bahkan tahun depannya lagi. Bicara soal target, aku menjadikan orangtuaku sebagai gold standard. Ibuku menikah ketika berusia 29 tahun, karenanya aku santai saja menanggapi pertanyaan “Kapan nikah?” dari orang-orang. Selain itu, pernikahan adalah sesuatu yang sungguh rumit bagiku. 

Maka sepupu memintaku memikirkannya kembali. Ingin sekali kukatakan saat itu bahwa aku tidak perlu mikir dua kali. Tapi betapa tidak santunnya jika kutolak maksud baiknya. Jadi begitulah, aku diminta berpikir selama beberapa hari. Dan selama beberapa hari itu pula, entah kenapa hal-hal di sekitarku seperti kompak berkonspirasi dengan caranya masing-masing. Seperti salah satu akun instagram yang ku follow. Akun itu biasanya memposting gambar atau video terkait motivasi beramal saleh, tentang perkara halal-haram atau perkara aqidah lainnya. Tapi selama beberapa hari itu, entah kenapa postingannya lebih banyak tentang pernikahan. Ta’lim yang rutin kuikuti setiap senin, yang tema utamanya adalah fikih malah nyerempet ke pernikahan. Bahkan murabbiku pun ketika mentarbiyah kami saat itu tiba-tiba membahas panjang lebar tentang pernikahan. Padahal kami sangat jarang membahas tema ini. Beberapa hari kemudian sepupu kembali menghubungiku. Maka kucoba mengikuti arahannya. 

Aku tidak mengenalmu, bertemu pun tidak pernah. Tapi lingkaran kita ternyata beririsan. Kita dihubungkan lewat benang-benang yang jaraknya ratusan kilo. Aku di kota ini, sepupuku di Makassar dan kau sedang di Bogor sana. Ketika sepupuku mulai mencocokkan jadwal pertemuan, aku semakin ketar-ketir. Ini pertama kalinya menjalani proses yang disebut ta’aruf. Tapi sungguh sulit mempertemukan jadwal. Maka kukatakan pada sepupu bahwa jika jadwalnya tidak ketemu sampai aku pulang ke kampung untuk idul adha maka sebaiknya dihentikan saja. Kuputuskan seperti itu agar proses ini tidak berlarut. Take it or leave it. Aku sudah siap pulang keesokan harinya dan kupikir proses itu akan berhenti ketika sepupuku tiba-tiba mengabarkan kau akan datang sore nanti. Ia memintaku menepati janji untuk melanjutkannya. Maka perasaanku pun semakin tidak karuan. Selepas ashar sambil berjalan kaki menuju kediaman sepupu, aku mendengar murattal lewat earphone yang saat itu sedang memutar surah Al Furqaan. Ketika tiba di ayat 74 tiba-tiba saja aku menangis untuk alasan yang entah apa. Kupikir itu mungkin semacam firasat bahwa inilah saatnya bersiap pindah, insya Allah. 

Jadi, di sanalah pertama kali aku bertemu denganmu. Dan Allah memudahkan proses ini dalam keluarga. Setelah shalat istikharah sampai tiga kali, aku memberanikan diri bicara pada ibu. Sedikit tidak percaya beliau langsung mengiyakan. Malah dialah yang menguatkan dan membesarkan hatiku. Salah satu hal yang menjadi pertimbanganku melangkah ke tahap berikutnya adalah karena prosesnya. Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta menulis bahwa gejala kedua dari pernikahan yang barakah adalah proses menujunya sesuai syariat. Kita menginginkan pernikahan yang berkah, maka kita berusaha menjaga koridor yang sudah ditetapkan. Kita dipertemukan secara baik-baik. Komunikasi hanya lewat perantara sepupu. Aku tidak tahu nomor hpmu, tidak tahu akun media sosialmu dan tidak ingin mencari tahu. Semua informasi tentangmu berasal dari sepupu dan sedikit dari teman kuliahku yang ternyata adalah temanmu semasa SMA. Bumi bisa sekecil ini rupanya. Kita mengharapkan pernikahan yang barakah. Maka kita memohon ampun kepada Allah atas ketidakmaksimalan usaha kita pada yang lainnya.

Aku pernah berdoa, dulu sekali, bahwa aku ingin dipertemukan dengan orang yang tidak kukenal dan tidak pernah kutemui sebelumnya. Dengan begitu aku akan belajar mengenal dan memahaminya dari awal. Aku juga pernah berdoa bahwa jika memang ditakdirkan menikah, maka aku berharap tidak perlu menjalani ta’aruf berkali-kali untuk bertemu dengannya. Dan Allah mengabulkannya dalam satu waktu. Semoga kita termasuk orang yang jujur pada Allah atas niat-niat kita. Dengan begitu Dia akan menggenapkannya untuk kita. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Dan semoga kita bisa menjadi sahabat dalam agama, dalam urusan dunia dan akhirat. 

Jadi, bagaimana rasanya belajar mencintai orang yang tidak dikenal ?
Hmm…kayak ada nano-nanonya gitu. ^_^
22 October 2017

Buku Yang Kubaca Tahun 2017 (5)

Yang Aku Tahu dengan Pasti 
Penulis : Oprah Winfrey 
Penerbit : Gramedia 
Halaman : 189 

“Beri aku sebuah novel atau memoir, secangkir teh, dan tempat yang nyaman untuk meringkuk, maka aku akan berada di surga. Aku senang hidup di alam pikir orang lain; aku takjub pada ikatan-ikatan yang aku rasakan dengan orang-orang yang menjadi hidup di halaman-halaman buku, terlepas dari betapapun berbedanya situasi mereka dari situasiku. Aku bukan hanya merasa mengenal orang-orang ini, tapi aku juga lebih mengenali diriku.” (hal. 19-20) 

Tertarik dengan buku ini sejak pertama kali melihatnya di toko online tahun lalu. Ada firasat kalau buku ini akan mirip dengan Letter to My Daughter-nya Maya Angelou. Ternyata memang Maya Angelou adalah salah satu mentornya Oprah Winfrey. Ini adalah jenis buku yang lebih baik jika dibaca berulang-ulang. Pengalaman-pengalaman Oprah, kemandiriannya, integritasnya, cara pandangnya dan keberaniannya membuat saya terkesan. Tipe pembelajar yang selalu berusaha menjadi lebih baik dengan menantang dirinya sendiri. Kata-katanya sederhana tapi menggugah dan membangkitkan semangat. Banyak kutipan dari buku ini yang mengena di hati saya. Salah satunya Oprah mengutip kata-kata W.H. Murray, seorang pendaki gunung bahwa : Sampai seseorang berkomitmen, akan selau ada keraguan, peluang untuk mundur dan selalu tidak efektif.  Segala macam hal akan muncul untuk membantu, dan ini tidak akan muncul jika dia belum berkomitmen.



Dilan 1 dan Dilan 2 
Penulis : Pidi Baiq 
Penerbit : DAR! Mizan 

Sebenarnya tidak pernah tertarik membaca buku ini walaupun sering lihat di toko buku. Walaupun banyak teman bilang bagus. Walaupun sudah diangkat ke layar lebar. Dan walaupun-walaupun yang lain. Tapi karena dikasih versi e-booknya dari teman jadi akhirnya dibaca juga (bilang aja kere >_<). Daya tarik utama novel Pidi Baiq ini ada pada karakter Dilan yang anti mainstream. Suka ngawur, anak geng motor, berandalan tapi bukan pengecut, sering berantem tapi punya sopan santun sama yang lebih tua, kritis, jago berdebat, jago fisika dan jago nulis. Benar-benar kombinasi yang langka. Mungkin itulah kenapa banyak yang bilang bagus. Saya sendiri cukup terhibur dengan gaya Dilan yang tidak biasa. Tapi itu hanya berlaku di Dilan 1. Memasuki Dilan 2 saya mulai bosan. Ada yang bilang bahwa bagian terbaik dari suatu hubungan adalah sebelum hubungan itu dimulai. Sepertinya ada benarnya. Karena setiap kali membaca novel atau menonton film bergenre romantis, saya akan dihinggapi rasa bosan manakala hubungan tokoh-tokohnya sudah berganti status. Karena kelebayan akan dimulai di tahap ini. Dilan 1 bercerita tentang gerilya Dilan mendekati Milea. Buku ini saya selesaikan dalam dua kali duduk. Sementara Dilan 2 menceritakan hari-hari mereka setelah Milea akhirnya menerima Dilan, walaupun tanpa pernyataan resmi. Buku ini saya selesaikan setelah berkali-kali duduk. Seminggu mungkin. Dan tak henti-hentinya jengkel dengan sikap Milea. Marahan, baikan, marahan, baikan, marahan, baikan lagi. Begitu saja terus sampai Detective Conan tamat. Ujuang-ujunganya mereka pisah dan Milea menikah dengan orang lain. Jika Dilan 1 dan Dilan 2 diambil dari sudut pandang Milea, maka Dilan 3 diambil dari sudut pandang Dilan dengan isi cerita yang sama. Sayangnya buku yang ketiga ini belum sempat saya selesaikan.       


Dangerous Girls 
Penulis : Abigail Haas 
Penerbit : Kosa Media Utama 
Halaman : 372 

Jangan menilai buku dari rating-nya di Goodreads. Ini pelajaran yang diambil setelah menamatkan novel ini. Waktu itu saya sedang mencari bacaan bertema suspense, misteri atau sejenis itu. Novel-novel semacam Alex atau In The Dark, Dark Wood. Ketika melihat novel ini di toko buku, saya pun mencari informasinya lewat Bro Google. Rating-nya tinggi di Goodreads. Jadi tanpa pikir dua kali saya pun mengeksekusinya. Ternyata novel ini tidaklah se-wah itu. Pertama, saya tidak bisa menyukai tokoh utamanya. Walaupun digambarkan sebagai orang yang kuper, suka baca buku dan sering dibully, saya tidak merasakan simpati. Semacam firasat bahwa ada sesuatu yang salah dari tokoh ini. Dan ternyata benar. Karena itu saya tidak terkejut ketika akhirnya kebenaran terungkap. Jika sebuah novel bisa ditebak jalan cerita atau ending-nya, maka itu bukanlah novel yang bagus. 


Sirkus Pohon 
Penulis : Andrea Hirata 
Penerbit : Bentang 
Halaman : 410 

Saya selalu suka novel-novel Andrea Hirata. Salah satu alasannya adalah karena novel-novelnya bercerita dari sudut pandang dirinya. Saya sudah terbiasa dengan Andrea Hirata yang sebagai tokoh aku. Tapi sejak novel Ayah, pak cik tidak lagi bercerita dari sudut pandang dirinya. Di novel Sirkus Pohon ini pun, tokoh aku adalah orang lain yang diceritakan oleh penulis. Ceritanya bagus dan mengundang tawa seperti biasa. Ciri khas dari karya-karya pak cik. Tapi sensasinya tidak lagi sama dengan tetralogi Laskar Pelangi atau dwilogi Padang Bulan. Selain itu ada yang sedikit mengganggu bagi saya. Kita semua tahu kalau Laskar Pelangi adalah novel mega best seller di Indonesia. Novel ini memenangkan penghargaan internasional, telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan mendapat banyak pujian baik di dalam maupun luar negeri. Tapi pujian itu untuk Laskar Pelangi. Di novel Ayah dan Sirkus Pohon, semua pujian untuk Laskar Pelangi ikut disertakan juga. Mungkin ini salah satu trik marketing tapi menurutku sebaiknya tidak perlu. Sebab hanya akan membuat novel-novel selanjutnya terus berada di bawah bayang kesuksesan Laskar Pelangi. Katanya setelah novel ini pak cik akan rehat sejenak dari menulis novel. Yah, tak apalah. Aku setia menunggu karyamu pak cik.

Qadha dan Qadar 
Penulis : Dr. Sulaiman Al Asyqar 
Penerbit : Pustaka Imam Asy Syafii 

Qadha dan Qadar adalah buku terakhir dari seri arkanul iman karya Dr. Sulaiman Al Asyqar. Buku yang tertipis dibanding enam jilid lainnya. Dibaca sewaktu transit di rumah sepupu sebelum balik ke Baubau. Mempelajari rukun iman, atau ilmu agama secara umum, tidak bisa dicukupkan hanya dengan membaca buku. Kita membutuhkan guru untuk belajar agar pemahaman tidak parsial. Membaca memang sumber ilmu yang utama, tapi agama bukan sekadar bahan bacaan. Ia membutuhkan pendidikan dan pembelajaran yang bertahap, sehingga dianjurkan belajar agama kepada para ahli secara langsung. Di sini pentingnya majelis ilmu, pentingnya tarbiyah. Banyak hal yang didapatkan dari majelis ilmu yang tidak didapatkan dari hanya sekadar membaca buku. Belajar bersikap sopan kepada ahli ilmu, menghargai ilmu, berakhlak kepada kawan, silaturahim, bertoleransi, menghargai waktu dan bersabar melewati tahapan ilmu adalah sekian hal yang didapatkan ketika bermajelis. Oleh karena itu jika ada yang sudah menamatkan ketujuh seri arkanul iman ini, akan lebih baik jika dibarengi dengan penjelasan langsung dari para ahli atau para ‘alim yang lebih paham persoalan ini. 

 The Seven Good Years 
Penulis : Etgar Keret 
Penerbit : Bentang 

Yang membuat saya penasaran ingin membaca buku ini adalah pertama, tulisan di bawah judulnya : “Memoar penulis Israel tentang keberpihakannya pada perdamaian di negara berpenduduk Muslim dan dunia.” Tapi setelah membaca buku ini, saya jadi jengkel dengan tulisan di bawah judul tadi. Memoar ini berisi potongan keseharian penulis selama tujuh tahun sejak kelahiran putranya sampai tahun ketujuh. Tulisan itu berisi kisah perjalanannya ke berbagai belahan dunia untuk mengikuti festival buku, atau tentang kehidupannya sebagai generasi kedua (anak dari korban yang selamat dari holocaust), atau tentang kakak laki-lakinya yang ia idolakan, atau tentang kakak perempuannya yang berubah menjadi konservatif, menutup tubuhnya dari kepala sampai kaki, mempunyai banyak anak dan memilih tinggal di lingkungan paling ortodoks di Jerussalem, atau tentang kegalauannya dengan sang istri mengenai masa depan anaknya di negara yang kehidupan masyarakatnya bergantung dari kekuatan militer, atau tentang perdebatannya dengan seorang penumpang pesawat demi mempertahankan kursi yang sama, atau tentang ayahnya yang menderita kanker, atau tentang pertemuannya dengan orang yang pernah menolong ibunya di masa holocaust. Tapi saya tak menemukan kisah sesuai janji tulisan di bawah judul buku tadi. Memang disebutkan di profil penulis bahwa Etgar Keret rutin menulis opini yang mengkritisi pendudukan Israel di Palestina, tapi di buku ini yang diceritakan adalah potongan keseharian penulis. Apa ini lagi-lagi trik marketing ? Kedua, pujian dari The New York Times dan Chicago Tribune bahwa buku ini adalah memoar yang menggugah dan sangat lucu. Saya selalu suka buku yang menggugah sekaligus lucu. Buku ini memang menggugah, saya terkesan dengan tema keluarga yang diangkat di dalamnya. Walaupun gagal menemukan letak kelucuannya.
17 August 2017

Si Nomor Dua

“Bagaimana kondisinya ?” Tanyaku lewat telepon 
“Sudah sadar. Mau bicara ?” Ibu balik bertanya 
“Boleh”
“Halo, Assalamu’alaikum” 
“Wa’alaikumsalam. Hei, bagaimana rasanya ?” Tanyaku 
“Mana bisa dirasa ? Kan, dibius total. Tapi sekarang sakit kalau gerak” 
Setelah itu telepon diserahkan kembali ke Ibu. Kami bicara agak lama sebelum akhirnya ditutup.
 
Aku sudah pernah menulis tentang adikku yang bungsu. Kupikir sore ini aku ingin menulis tentang si nomor dua. Ingatan tentang masa kecil kami sudah samar di kepalaku. Tapi ada beberapa perisitiwa yang masih kuingat dengan jelas. Sewaktu bayi, dia pernah sakit. Penyakit itu lama-kelamaan bertambah parah. Dokter sudah berupaya, tapi akhirnya mereka hanya meminta kami banyak berdoa. Saat itu, Ibu berpikir bahwa mungkin adikku tidak akan bertahan. Aku punya keping ingatan yang kabur tentang ini. Di ingatan itu, kulihat para kerabat dengan wajah sedih berkumpul di sekeliling adikku. Sementara aku hanya bisa menatap sosoknya yang kecil terbaring timbul tenggelam di antara punggung para kerabatku. Ternyata Allah berkehendak lain. Hari demi hari kondisinya perlahan membaik. Ia selamat.
 
Di masa kanak-kanaknya, sudah tidak terhitung berapa kali dia jatuh, entah jatuh dari sepeda, jatuh dari tangga, jatuh dari pohon dan berbagai jatuh lainnya. Dia punya banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Ada satu peristiwa yang lagi-lagi membuat jantung kami serasa mau copot. Saat itu aku masih SD dan adikku belum masuk TK. Ibu tengah mengajar di kelas, ketika salah satu muridnya berlari masuk dan mengabarkan bahwa adikku jatuh dari pohon. Ada pecahan beling menancap di kepalanya. Sekarang dia di rumah sakit Bu, kata murid tadi. Aku sedang bermain di halaman sekolah bersama teman-temanku. Begitu mendengar berita tadi, aku langsung berlari ke rumah sakit yang berdampingan dengan sekolah. Dua temanku yang diminta menjadi kurir berita berlari menuju kantor Ayah. Kulihat darah menetes di sepanjang koridor rumah sakit. Saat masuk ke ruangan, kulihat dokter dan perawat sibuk mengobati kepalanya yang berlumuran darah. Adikku menangis dan ketika melihatku, tangannya menggapai-gapai ke arahku. “Kepalaku hilang…! kepalaku hilang…!”, teriaknya. Aku memegang tangannya. Air mataku sudah hampir jebol. Tapi di saat yang sama aku tertawa mendengarnya. “Kepalamu masih ada.”, kataku. Ketika Ayah dan Ibu akhirnya muncul di balik pintu, aku berlari memeluk mereka. Mereka menepuk-nepuk punggungku. Tidak apa-apa, katanya berulang-ulang. Itu adalah peristiwa yang masih kuingat jelas sampai sekarang.
 
Ia sudah kelas 2 SMP ketika aku masuk kuliah. Jika pulang kampung saat libur semester, tiap sore ia kuajak jalan-jalan ke pelabuhan. Malamnya kami ke perpustakaan daerah atau main PS di rumah nenek. Setelah kembali ke Makassar, Ibu pernah menelpon hanya untuk mengabarkan bahwa si nomor dua tiap sore naik sepeda ke pelabuhan sendirian. Waktu ibu tanya kenapa, dia jawab begini : “Kangen kakak !” Hahaha…
 
Tapi adik laki-laki itu biasanya menyenangkan hanya sampai usia SMP. Memasuki SMA, mereka mulai menyebalkan. Masa puber memang menyebalkan. Teman-temannya mulai banyak. Ia jadi lebih sering nongkrong bersama temannya. Sementara kalau di rumah, dia lebih banyak mengunci diri di kamar. Pernah saat maghrib sudah masuk, aku mengetuk pintu mengingatkannya untuk shalat. Ia hanya menjawab ya, tanpa mengecilkan volume musik yang berisik di kamarnya. Kutegur dua kali, tidak ada perubahan. Kutegur tiga kali, masih sama. Aku kehilangan kesabaran. Kami bertengkar malam itu. Ia tidak mau mengajakku bicara sampai aku kembali ke Makassar.
 
Lalu lebaran Idul Adha tiba. Saat itu sang Khatib memberikan ceramah tentang pentingnya meminta maaf dan memberi maaf. Pesannya benar-benar menyentuh, kulihat banyak jamaah yang meneteskan air mata menyimak ceramah sang khatib. Sepulang ke rumah, kulihat adikku mencium kedua tangan ayah dan ibu, lalu dengan enggan mengulurkan tangannya kepadaku. Kugenggam tangannya sedikit lebih lama lalu kuusap kepalanya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia langsung memelukku dan mulai terisak. Maafkan saya, kak, katanya. Ayah dan ibu heran melihatnya. Pertengkaran sore itu memang hanya kami yang tahu. Di lain waktu, dia pernah memperlihatkan foto seorang gadis. “Manis tidak ?” Tanyanya. “Pacarmu ?” aku balik bertanya. Dia mengangguk. Aku tidak berkomentar, karena sebenarnya dia sudah tahu bagaimana pandanganku soal pacaran.
 
Kami sering berbeda pendapat. Dia keras kepala, ceroboh dan susah dinasihati. Ibuku sering bilang bahwa pikirannya bisa keriting menghadapi anak laki-lakinya yang keras kepala bukan main itu. Tapi biar begitu, dia punya rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Saat ini dia sedang di rumah sakit. Kata Ibu, banyak teman-temannya yang datang menjenguk. Syafakallah, laaba’sa thohurun insya Allah. Lekas sembuh, bro!
16 August 2017

Gintama


Mulai mengikuti anime ini sejak tahun lalu, yang kemudian saya beri gelar sebagai anime terfavorit. Gelar itu masih bertahan sampai sekarang. Anime ini datang di saat yang tepat, saat saya sudah bosan mengikuti One Piece. Anime itu semacam hiburan bagi para generasi 90an yang sekarang sudah bekerja. Berdasarkan pengamatan terhadap teman-temanku, semakin dewasa seseorang semakin sedikit hal yang bisa menghibur mereka. Sepanjang hari bekerja ditambah lembur, tidak banyak waktu untuk jalan-jalan atau berkumpul dengan yang lain. Kalaupun ada, biasanya sulit menyatukan waktu satu sama lain. Semua sibuk bekerja. Pulang ke rumah sudah lelah. Jadi nonton adalah satu dari sedikit hiburan di rumah. Yang jelas bukan TV, apa pun asal bukan TV. Mereka biasanya memilih drama Korea, film dan anime. Ngomong-ngomong, kenapa pula saya membahas ini ? Bukannya yang mau dibahas itu Gintama ?

Nah, Gintama dapat dari salah satu teman yang boleh disebut sebagai bandar anime. Mulai dari season satu sampai yang terbaru semua dia punya. Setiap kali pulang, pertanyaan pertama yang selalu saya tanyakan, “Ada Gintama ?”. Waktu kubilang saya mulai malas nonton One Piece, dia pun menjelaskan panjang lebar kalau kemungkinan lima tahun lagi bakal tamat. Katanya, sekarang ceritanya tambah seru. Dan ini itu lainnya. Tapi sejak nonton Gintama, pandangan saya tentang anime sedikit berubah. Dan itu yang mau dijelaskan dalam tulisan ini.

Gintama menggabungkan latar Edo di zaman samurai dengan dunia masa depan. Bayangkan saja para samurai sedang berjalan dengan pedang di pinggangnya dan handphone di tangannya. Di masa depan, perjalanan bukan lagi antar negara, tapi antar galaksi. Ras pun terbagi-bagi, ada manusia bumi, ada ras Yato dan ada Amanto. Amanto boleh dibilang semacam alien yang menginvasi bumi. Mereka datang membawa teknologi canggih dan memajukan peradaban. Amanto ini mungkin perumpaan untuk orang-orang Barat. Ketika pengaruh mereka mulai masuk ke Jepang selama periode perang dunia puluhan tahun silam.

Kebanyakan episode Gintama hanya bercerita seputar kehidupan sehari-hari yang dihiasi parodi dan hal-hal nonsense lainnya. Bahkan di saat adegan serius pun ada-ada saja yang korslet. Entah apa tujuan anime ini. Kalau tujuan Luffy jelas, jadi raja bajak laut dan menemukan One Piece. Naruto ingin jadi Hokage dan diakui semua orang. Kalau Gintoki ? Kulihat dia hanya ingin hidup tenang, baca Jump setiap minggunya, makan yang manis-manis dan pura-pura lupa bayar uang sewa. Kutipan yang dipajang di rumahnya pun bukan kalimat kepahlawanan ala samurai, tapi malah “Kontrol Gula Darahmu” 

Hal pertama yang saya suka dari anime ini adalah judul-judul tiap episodenya. Judulnya terkesan nyeleneh tapi punya pesan yang bagus. Bikin kita senyum sendiri. Misalnya :
“Kenapa Air Laut Itu Asin ? Karena Kalian Kencing Saat Berenang”
“Seperti Rumah Hantu, Kehidupan Juga Penuh dengan Rasa Takut”
“Jangan Mengeluh Tentang Pekerjaanmu di Rumah. Lakukanlah di Tempat Lain”
“Orang Yang Pilih-Pilih Makanan, Maka Makanan Juga Akan Begitu Padanya”
“Ketika Seseorang Yang Berkacamata Tak Memakai Kacamata, Rasanya Seperti Ada Yang Kurang”
“Menikah itu Memperpanjang Ilusi dalam Hidupmu”
“Make up Terbaik Seorang Wanita Adalah Senyumnya”
“Dunia Nyata Maupun Video Game Semuanya Penuh dengan Bug”
"Setiap Orang Adalah Seorang Pelarian dari Penjara Yang Disebut”Diri Sendiri”
“Ketika Kau Mencari Sesuatu Yang Hilang, Ingatlah Apa Yang Sedang Kau Lakukan Ketika Itu Hilang”
“Terkadang Sang Pemburu Mumi Bisa Menjadi Mumi Itu Sendiri”
"Jika Berat Badanmu Ingin Turun, Berhentilah Makan dan Bergeraklah!"
"Pria Yang Beruntung Itu, Yang Bangun Pagi dan Pergi Kerja"
"Anak Hanya Meniru Hal Negatif dari Ayahnya"
"Hal Yang Baik Tidak Datang Dua Kali (Tapi Hal Buruk, Ya)" 

Kedua, anime ini sering menyindir fenomena sosial dengan gayanya yang khas. Mulai dari anak muda sekarang yang kebanyakan main video game dan jarang keluar rumah. Atau tentang kehidupan otaku dengan idol mereka. Atau orang-orang yang tidak bisa lepas dari smartphone. Dan banyak lagi. Pesan-pesannya terasa dekat dengan kehidupan kita. Ketiga, gemar memparodikan anime lain. Sebut saja Prince of Tennis, Kuroko no Basket, Gundam, One Piece, Bleach, Black Butler, Naruto, Hunter X Hunter, Dragon Ball, Death Note, Detective Conan, bahkan Ultraman dan masih banyak lagi. Animenya sendiri pernah diparodikan dan dibanding-bandingkan dengan anime lain. Baru kali ini ada anime yang karakter-karakternya tahu bahwa mereka sedang bermain peran dalam suatu cerita fiksi. Keempat, tidak ada penamaan jurus dalam anime ini. Kalau mereka bertarung, ya bertarung saja. Tidak ada yang teriak kamehameha, atau gomu gomu no, atau kage bushin no justu, atau hiten-mitsurugi-ryu. Seingatku ada salah satu episodenya yang berjudul “Ada Dua Jenis Orang : Orang Yang Meneriakkan Jurusnya dan Yang Tidak Meneriakkan Jurusnya” (panjang amat judulnya). Di episode ini Shinpachi bilang, dia bisa keburu mati kalau setiap kali bertarung harus sebut jurus dulu. Apalagi kalau nama jurusnya panjang.

Tulisan ini bukan bermaksud melebihkan Gintama dibanding One Piece, Bleach atau anime top lainnya. Sama sekali bukan. Semua orang mengakui kehebatan One Piece. Betapa kreatif ide cerita, latar dan karakter-karakternya. Tapi bagi saya Gintama itu berbeda (ah, klise sekali kata-kata ini). Ada sesuatu yang saya temui di sini yang tidak saya dapatkan di anime lain (oke, mari hentikan kata-kata klise ini). Bagaimana ya menjelaskannya ? Pokoknya begitulah. Rasanya lebih bisa dijangkau. Karakter terfavorit jelas Gintoki, si tokoh utama. Biasanya lebih suka karakter pendukung. Tapi khusus Gintama, tokoh utamanya adalah yang terbaik. Saat tulisan ini dibuat, episode yang terakhir saya nonton adalah episode 328. Sejak kematian Shogun Shigeshige dan kemunculan Shoyo, anime ini berubah jadi serius dan mulai jelas alur dan tujuannya. Berharap mereka bisa kembali ke Edo dan menjalani hari-hari konyol seperti biasa.
10 August 2017

Aku Ingin

Aku ingin menulis kisah yang sedih
Kisah yang jika kubaca kembali, akan membuatku menangis 

Aku ingin menulis cerita yang lucu 
Cerita yang jika kuingat kembali, masih membuatku tertawa. Minimal tersenyum. 

Aku ingin menulis kisah yang indah 
Kisah yang jika kubaca lagi, bisa menghangatkan hatiku 

Aku belum tahu pasti, kisah macam apa yang akan kutulis 
Tapi aku tahu, kau akan ada di sana 
Di dalam cerita
 
;