02 June 2020

Masa Bakti Seorang Ibu

James Clear dalam buku Atomic Habits-nya menulis, “Satu-satunya cara untuk menjadi hebat adalah terus bersemangat ketika mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. Anda harus jatuh cinta pada kebosanan.” Saat membaca paragraph tersebut, entah kenapa saya langsung teringat pada sosok ibu. Konteks tulisan itu sebenarnya ditujukan kepada para profesional di bidangnya. Sebab dalam setiap profesi, entah atlet, pebisnis, seniman, guru, pada suatu ketika akan dilanda kebosanan. Dan bab tersebut membahas strategi agar tetap fokus ketika masa itu datang. Tapi kalimat tersebut, bagi saya, sangat tepat menggambarkan seorang ibu. Profesi apapun di dunia ini, punya batas waktu. Seorang atlet akan pensiun di usia 30 atau 40an. Pebisnis dan pengusaha pada satu titik akan pensiun dan menikmati hari tuanya. Para seniman akan mundur pelan-pelan ketika stok kreativitas semakin menipis. Tapi tidak ada yang pernah pensiun ketika telah menjadi seorang ibu. Masa baktinya seumur hidup. Walau anak-anak mereka telah tumbuh dewasa, mandiri, kemudian berkeluarga. Begitupun seorang anak, di usia berapapun, ia selalu membutuhkan sosok ibu. Bahkan meski ia pun telah menjadi seorang ibu.
 
Dalam bab yang sama, James Clear juga menulis pandangan seorang pelatih ketika ia bertanya, apa perbedaan antara atlet terbaik dan semua orang lain. Jawaban pelatih mungkin sudah diduga banyak orang : genetik, keberuntungan, bakat. Tapi kemudian pelatih tersebut menyebutkan sesuatu yang tidak terduga : “Pada suatu ketika, itu terkait dengan siapa yang mampu mengatasi kebosanan berlatih setiap hari, melakukan hal yang sama berulang-ulang.” Menguasai sesuatu mengharuskan orang berlatih. Namun semakin sering berlatih, semakin membosankan rutinitas yang dijalani. Di masa awal menjadi seorang istri, setiap wanita bersemangat melatih diri, mengatur waktu, mengurus rumah, mencoba berbagai resep masakan, beres-beres dan melayani suami. Seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut kemudian menjadi rutinitas harian. Yang pada satu titik, menjenuhkan. Tapi adakah ibu yang berhenti karena jenuh ? Seorang ibu akan tetap melayani suami meski mungkin sedang lelah. Seorang ibu akan tetap mengurus anak meski suasana hati tidak mendukung. Ibu akan tetap memasak meski tidak berselera, mereka tetap bersih-bersih meski sedang kurang sehat, mereka tetap menjalani aktivitas meski jenuh dengan seluruh rutinitas itu. Karena selalu ada cara bagi seorang ibu agar kewajiban tetap dilaksanakan. Kita sebagai anak, sudah melihat bukti nyata itu sehari-hari. Bagaimana pun dongkolnya ibu pada anak-anak ataupun suaminya, tak pernah ia absen mengurus keluarganya, bahkan meski ia juga turut bekerja di luar rumah. Ia mampu membagi dan mengorbankan waktunya.
 
;