01 February 2013

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Ada dua kabar yang ingin saya ceritakan, kabar baik dan buruk. Mau dengar yang mana dulu ? Apa ? Kabar buruk dulu ? Baiklah, kita mulai dari kabar buruk. Belakangan ini saya tidak bisa tidur dengan normal. Padahal sedang libur semester, tapi memejamkan mata di malam hari rasanya sulit sekali. Fenomena sulit tidur ini muncul justru di saat saya sedang luang, tidak ada tugas kuliah, kepanitiaan dan semacamnya. Sebaliknya, saya justru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya begadang kerja tugas dan berlelah-lelah mengetik. Paradoks memang. Tapi, bukankah yang namanya ketenangan itu tidak akan bisa diperoleh dengan cara yang tenang. Pun kenikmatan itu tidak akan bisa diperoleh dengan cara yang nikmat. Sehingga benarlah sabda bahwa dua hal yang manusia sering lalai darinya, kesehatan dan waktu luang. Sekarang, dengan waktu luang yang sebanyak ini, saya bahkan tidak tahu ingin melakukan apa. Tidak juga untuk hal-hal yang berguna. Saya tidak bisa pulang. Mau jalan-jalan juga saya tidak tahu tempat apa yang ingin dituju. Terkadang saya rindu laut. Dulu pernah stres gegara berbulan-bulan tidak melihat laut dan pasir pantai. Oke, kembali ke topik.

 

Malam-malam belakangan ini saya sulit memejamkan mata. Saat jarum jam sudah melewati angka satu, saat hari sudah berganti baju, saya masih telentang menatap langit-langit kamar. Sesekali berguling kiri kanan. Bosan menatap langit-langit kamar, saya bangkit dan mencomot satu buku dari lemari. Baru setengah jam berlalu, saya menutup buku dan meraih kertas beserta pulpen, latihan menulis puisi, yang tidak jadi-jadi. Puas mencoret-coret kertas, saya beralih menyalakan laptop, sejenak pindah ke dunia maya. Hasilnya sama. Baru lima belas menit berjalan, saya memutuskan mematikan laptop. Setelah laptop mati, saya mengambil hp dan melakukan pekerjaan paling tidak penting  sedunia, membaca ulang sms-sms di inbox. Selesai membaca sms terakhir, saya meletakkan hp di lantai dan kembali lekat menatap langit-langit kamar. Begitu seterusnya sampai jarum jam menubruk angka lima.

Adzan subuh berkumandang dari corong-corong masjid. Semua penghuni bangun dan melaksanakan shalat berjamaah di ruang tengah. Hanya saya yang tidak ikut, sedang libur soalnya. Lantunan suara kak Nadhirah menembus dinding kayu yang membatasi kamar saya dan ruang tengah. Saya mendengarkan bacaannya dengan masih menatap langit-langit kamar. Setelah itu, saya mengambil buku kecil nan tipis berjudul Dzikir Pagi dan Petang yang dihadiahkan oleh seorang kawan beberapa tahun lalu. Mendekati pukul enam pagi, mata saya mulai terasa berat. Rasa kantuk menyergap. Tahu-tahu saya sudah tertidur dan baru terbangun ketika jam menunjukkan pukul 10 pagi. Begitulah kondisi saya beberapa waktu belakangan ini. Liburan masih ada sepekan lebih. Tapi saya berharap waktu segera berlalu. 

Belakangan ini saya juga mengalami penurunan kadar membaca. Buku Rizki Ridyasmara yang berjudul Sukuh sudah sepekan berada di tangan, tapi belum bisa saya khatamkan. Padahal novelnya tidak tebal-tebal amat. Ditambah lagi, novel Desert Flower milik ndoro Nitya yang fresh from Gramedia, masih mendekam di lemari lengkap dengan pembungkus plastik dan label harganya. Dia memberi kehormatan pada saya untuk membuka bungkusannya. Baik sekali dia. Belakangan ini kami memang sering barteran buku. Dia sudah mengkhatamkan beberapa buku yang saya pinjamkan, sementara satu novel darinya belum saya sentuh sama sekali.

Kabar baiknya, si Pemuda mirip Arai yang saya cerita tempo hari Alhamdulillah masih sehat Wal’afiat, masih hidup. Terbukti dengan tiga tulisan terbaru yang dia post ketika saya mampir ke blognya kemarin, yang berarti bahwa dia tidak nekat melakukan harakiri di Jepang sana. Dia juga berbesar hati menerima kabar bahagia itu. Dalam sebuah chatting di YM, dia hanya menitip salam dan doa untuk si Perempuan, juga permintaan maaf tidak bisa hadir pada hari H karena dia baru bisa kembali ke Indonesia bulan Maret nanti. Alhamdulillah kalau begitu.

Oke deh,  sekian kabar baik dan kabar buruk yang sekaligus kabar tidak penting dari saya. Bagi yang pulang kampung, selamat menikmati suasana kampung halamannya. Bagi yang sedang berlibur, jangan lupa waktu. Bagi yang masih bekerja dan tidak punya waktu libur, bersungguh-sungguhlah, kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Bagi yang makan cokelat batang atau donat, jangan lupa bagi ke saya. Bagi yang berusaha selalu terlihat ceria, jangan memaksakan diri. Orang yang sering tersenyum bukan berarti hidupnya selalu baik-baik saja. Dan bagi yang kesasar membaca tulisan ini, mohon maaf telah membuang-buang waktu anda.
 
;