14 December 2013

Melacak Kekafiran Berpikir


“Beraneka ragamnya jenis-jenis amal perbuatan, disebabkan oleh beraneka ragamnya pengaruh yang menggerakkan hati” 
~’Athailah as-Sukandari~ 

Setiap amalan dan perilaku manusia hakikatnya adalah cerminan isi hati dan kepalanya. Keyakinan dan pandangan hidup seseorang ditentukan oleh bagaimana ia menyerap dan menyaring ilmu serta pemahaman yang masuk. Input yang berbeda akan menghasilkan output yang berbeda. Pemahaman yang berbeda membentuk keyakinan yang berbeda pula. Keyakinan berbeda pada akhirnya melahirkan amalan yang juga berbeda. Orang yang meninggalkan shalat karena menganggap shalat tidak wajib berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat karena keteteran atau terlambat bangun. Yang terlambat bangun punya rasa bersalah di hatinya, berbeda dengan yang menganggap tidak ada dosa meninggalkan shalat. Pun orang yang menghalalkan zina akan berbeda amalannya dengan orang yang meyakini keharaman zina. Pemahaman yang keliru ini semakin jelas mudharatnya bila dituangkan dalam bentuk kebijakan seperti pada Pekan Kondom Nasional beberapa waktu lalu.

Tema yang berat, pikir saya sewaktu mengikuti bedah buku ini di Baruga AP. Pettarani tahun 2008 lalu, masih setahun berlalu sejak pertama kali mengenyam bangku kuliah. Cetakan buku ini kala itu telah mencapai cetakan kesepuluh. Jadi memang terbilang sudah lama di dunia perbukuan. Tapi kesempatan menulis tentang buku ini baru sekarang bisa saya lakukan. Semula saya pikir buku ini hilang, ternyata hanya terselip di antara deretan buku lain.

Buku karya Drs. Muhammad Thalib ini cukup ringkas dengan tebal 172 halaman dan ukuran 12 x 20 cm. Materi-materi pokok di setiap bagian dipadatkan sehingga pembahasan menjadi kaya karena langsung menembak sasaran dengan contoh yang mudah dicerna. Sesuai dengan judulnya, buku ini ditujukan untuk melacak dan membongkar (kedengarannya seperti detektif, ya) kekafiran berpikir yang dilakukan kaum intelektual di kampus-kampus perguruan tinggi demi meluruskan aqidah dan membersihkan pemahaman tauhid generasi muda muslimin.

Sedikitnya ada sebelas kerangka berpikir yang dikritisi oleh penulis yaitu paham relativisme, paham zaman sebagai ukuran, manusia sebagai penguasa alam, sikap sains, asumsi sebagai aqidah, budaya kilowatt, personifikasi dalam sastra, positivisme, ideologi emansipasi, prinsip pragmatisme dan terakhir, paham plurlisme agama.

Relativisme sebagai paham kenisbian. Teori Einstein terkait alam semesta yang berprinsip bahwa gerak, ruang dan waktu adalah relatif. Lawannya adalah kemutlakan. Mengapa ada orang yang teguh berpendapat bahwa kebenaran yang ditemukan manusia bersifat relatif sehingga hakikatnya secara objektif tidak ada ? Ada tiga hal yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan ini. Pertama, apakah objek permasalahan itu bersifat mutlak atau relatif ? Kedua, permasalahan tersebut harus dipandang dari sudut yang sama dan dengan cara yang sama. Jika berbeda, maka tidak dapat dikatakan permasalahannya relatif. Ketiga, dalam setiap permasalahan harus dapat dibedakan apa yang disebut berlawanan, berlainan dan berbeda.

Berlawanan seperti hidup dan mati, seseorang hanya bisa berada pada satu sifat saja, hidup atau mati. Berlainan seperti kulit putih dan kulit hitam. Mustahil ada dua wana kulit melekat pada satu orang. Berbeda seperti guru dan murid. Keduanya bisa disandang oleh seseorang pada saat yang bersamaan. Dengan menganalisa hubungan suatu masalah dengan masalah lain berdasarkan kaidah ini (berlawanan, berlainan atau berbeda) akan diperoleh hasil “mutlak” dan “relatif”. Walaupun pada dasarnya, setiap masalah punya nilai mutlak, selama ditetapkan dari sudut pandang yang sama. Contoh sederhana, seseorang tdak mungkin dikatakan laki-laki dan perempuan pada saat yang sama, atau muda dan tua pada saat yang sama. Contoh lain, tindak pencurian. Selama dilihat dari segi larangan hukum, pencuri mutak salah. Bila ada yang berpendapat pencuri tidak bersalah, berarti pendapatnya mutlak salah, selama didasarkan pada larangan hukum. Pengecualian bagi pencuri hati (hohoho #intermezzo).

Zaman sebagai ukuran kebenaran. Atas dasar apa manusia menjadikan zaman sebagai ukuran sesuatu itu benar atau salah ? Zaman sendiri bersifat netral-nilai, tidak punya kekuatan membentuk dirinya sendiri karena itu tidak dapat dijadikan barometer dalam menetapkan salah atau benarnya suatu tindakan. Sifat zaman yang netral membuatnya baik manakala manusia melakukan kebaikan dan buruk bila manusia mengisinya dengan keburukan. Menjadikan zaman sebagai ukuran secara sadar atau pun tidak telah menempatkan Allah sebagai Tuhan tanpa kekuasaan apapun terhadap manusia dan alam semesta, seperti yang diucapkan filsuf Yunani, Aristoteles bahwa “Tuhan telah menciptakan alam semesta ini kemudian berhenti dan membiarkan alam ini berjalan menurut kehendaknya sendiri”. Padahal Allah tidak hanya menciptakan tetapi juga memelihara ciptaan-Nya. Allah adalah pemegang otoritas tertinggi terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, apapun yang dikerjakan manusia harus bersumber pada nilai bukan pada perubahan zaman yang hakikatnya cerminan perilaku manusia itu sendiri.

Contoh, korupsi, suap dan sejenisnya yang telah menjadi budaya di zaman ini tidaklah mengubah status tindakan tersebut dari salah menjadi benar meski banyak yang melakukannya. Contoh lain mengenai pembagian hukum waris laki-laki dan perempuan 2 : 1 memang telah diatur dalam Al Qur’an dan sampai kapan pun tidak akan berubah. Hukum tersebut dibuat bukan karena wanita zaman dulu tidak mengambil peran ekonomi aktif sehingga saat ini bisa diubah seenaknya dengan alasan kehendak zaman. Begitu pula aturan pakaian wanita, pergaulan pria dan wanita, transaksi hutang piutang dan berbagai aturan lainnya. Adapun masalah kemajuan teknologi yang merupakan tingkat berpikir manusia dalam mengolah alam, maka islam tidak pernah membatasi apalagi melarangnya. Yang menjadi masalah adalah kemampuan manusia dalam teknologi tidak boleh mengubah harkat dan esensi manusia dari fitrahnya dengan mengabaikan ajaran Allah.

Kerangka berpikir manusia sebagai penguasa alam juga berangsur-angsur akan menggeser konsep ketuhanan. Kemampuan manusia dalam sains dan teknologi menempatkan mereka sebagai sosok superioritas terhadap alam dan lingkungan. Padahal hakikatnya mereka hanya sampai pada taraf mengelola alam, bukan penguasa atau penakluk. Sains telah menggantungkan sembuh tidaknya seorang pasien kepada alat medis, bukan pada kehendak Allah. Modernisasi sains inilah yang mendorong orang semacam Nietzsche memproklamirkan bahwa Tuhan telah mati yang juga merupakan bukti adanya kekafiran dalam pemikiran sains.

Demikianlah tiga contoh dari sebelas kerangka berpikir yang dikupas dalam buku ini. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, paling tidak memancing ketertarikan untuk membaca. Jangan alergi dengan sebaris judul yang terdengar berat, insya Allah bermanfaat. Selamat membaca.
 
;