02 March 2014

Jejak Kaki di Tanah Suci (1)

Ketika melihat hamparan padang pasir yang luas dari ketinggian ribuan kaki, saya sadar semakin dekat dengan tempat tujuan. Hingga beberapa bulan lalu, tak pernah terpikir saya bisa mengunjungi kedua kota ini, Madinah dan Makkah. Tak pernah terpikir saya bisa umrah sementara belum punya penghasilan tetap. Selama ini saya membayangkan, kalau pun bisa umrah mungkin nanti di umur 40an tahun. Tapi segalanya berlangsung demikian cepat. Pemberitahuan dari ibu, tumpukan tugas kuliah yang belum selesai, kebimbangan saya, nasihat tante, hingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Di kemudian hari, saya bersyukur itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Pun hari-hari selama berada di sana adalah hari-hari terbaik dalam hidup saya. Segala puji hanya milik Allah yang telah mengizinkan saya mengunjungi kedua kota yang penuh berkah itu. 

Pada hari Selasa, saya menjejakkan kaki di bandara internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Begitu keluar dari pintu pesawat, angin musim dingin bersuhuu 15 derajat celcius datang menyambut. Rasanya seperti berada di dalam ruangan kecil dengan lima pendingin udara. Sangat dingin. Mengingatkan suhu air di desa Bone-bone Enrekang pada jam tiga pagi.

Kami tiba pukul 8 pagi, sementara hotel baru buka sekitar pukul sembilan. Jadi sambil menunggu hotel buka, kami diajak keliling mengunjungi Jabal Magnet. Tempat itu bukanlah tempat bersejarah, hanya saja tanahnya mengandung magnet. Pemandu kami menyarankan bahwa sebaiknya peralatan seperti ponsel, kamera dan benda-benda elektronik lainnya di pegang erat-erat selama di sana sebab kekuatan magnetnya bisa menerbangkan benda-benda semacam itu. Tempat itu pertama kali diketahui mengandung magnet ketika mobil seorang pengemudi mogok saat melewati jalan itu. Anehnya, walaupun mesin sudah mati, mobil tersebut tetap melaju kencang. 



Selepas itu, pemandu berencana membawa kami ke percetakaan Al Qur’an. Tetapi karena terlambat dan percetakan sudah tutup, kami pun dibawa menuju hotel Dallah Thaibah, tempat penginapan kami selama beberapa hari di Madinah. Jarak antara hotel itu sangat dekat dari Masjid Nabawi, hanya perlu berjalan beberapa langkah. 


Jalanan di depan Masjid Nabawi dipenuhi berbagai macam dagangan mulai dari pakaian, jilbab, pernak-pernik, buah-buahan, coklat, tas, sepatu, kaos kaki, peralatan makan sampai Al Qur’an. Sambil menunggu kamar dipersiapkan, saya jalan-jalan sebentar di sekitar hotel. 


Jalan raya di Madinah tidak dbanyak dihiasi papan iklan. Seingat saya hanya papan iklan susu formula untuk balita dan merk kartu SIM ponsel yang sempat terlihat. Selain itu, papan-papan yang ada hanya ajakan berdzikir kepada Allah, berbeda dengan Indonesia yang banyak menampilkan wajah caleg di sepanjang jalan. Kota Madinah tidak terlalu ramai. Kendaraan didominasi oleh mobil. Saya hanya sekali melihat orang naik motor. Itu pun seorang polisi yang bertugas dengan motor dinas. Lalu lintas lancar, tidak ada istilah macet di sana.

Jalanan sekitar hotel selalu padat setiap menjelang shalat. Para pedagang mulai menutup toko atau meninggalkan dagangannya ketika adzan berkumandang. Pertama kali memasuki masjid Nabawi saya seperti orang udik, tak bisa menutup mulut karena mengagumi payung-payung raksasa di pelataran masjid. Ribuan muslim dari berbagai belahan dunia ada di sana. Wajah Eropa, Asia, Timur tengah dan Afrika berbaur menjadi satu. Sulit menjelaskan perasaan saya saat itu. Walaupun dari segi wajah sangat mudah dikenali bahwa saya orang Indonesia tapi di sana tak ada yang memandang aneh dengan jilbab yang saya kenakan. Tak ada yang memandang sinis apalagi takut. Berbeda ketika masih di bandara Soekarno Hatta Jakarta. 

 

Luas Masjid Nabawi 8,2 hektar. Di Masjid inilah terdapat Al-Rawdah, tempat yang makbul untuk berdoa. Makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta dua shahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ada di sana. Seluruh istri-istri Nabi dimakamkan di Madinah kecuali ibunda Khadijah dan Maemunah yang dimakamkan di kota Makkah. Masjid Nabawi dilengkapi deretan al Qur’an di setiap pilarnya. Al Qur’an terjemahan berbagai bahasa pun ada mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Turki, Rusia dll. Selain itu, ada ratusan tempat penampungan air zam-zam yang dapat diminum setiap saat.

Al-Rawdah
Ciri khas lain kota Madinah adalah pohon kurma yang menghasilkan kurma-kurma terbaik. Penduduk Makkah sendiri lebih sering membeli kurma Madinah karena keberkahannya. Pohon kurma juga mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan manusia. Salah satunya adalah tidak bisa tumbuh dengan baik bila ditanam sendirian. Sewaktu ziarah ke berbagai tempat, kami di bawa ke kebun dan toko kurma. Saat ibu sibuk membeli kurma, saya sibuk makan coklat, sebab semua coklat di sana halal. Halal yang dimaksud adalah kau bisa makan coklat  sepuasnya alias gratis. Saat saya bertanya apakah boleh mencoba setiap jenis coklat, penjual itu mengiyakan. Katanya, dari kotak sini sampai kotak sana kau bisa ambil sesukamu. Saya pun keluar dari toko itu dengan mengantongi belasan coklat mulai rasa jeruk sampai rasa kelapa. Tapi karena ini pulalah maka harga kurma yang dijual menjadi lebih mahal. Jadi sebenarnya tidak ada yang benar-benar gratis.  


Hujan adalah fenomena alam yang langka di sana. Sebegitu langkanya hingga bila hujan turun, orang akan beramai-ramai keluar menonton. Bila di Jakarta orang jenuh dengan banjir, orang Madinah justru senang melihat banjir. 

Semua informasi tersebut disampaikan oleh pemandu kami. Oh ya, perkenalkan pemandu kami bernama Ahmad, sudah lebih dari tiga tahun tinggal di Makkah. Orangnya sabar dan ramah menghadapi setiap peserta rombongan, terlebih pada mereka yang sudah tua dan sering kesasar bila keluar hotel. Usianya mungkin lebih muda dari saya. Setelah lulus pesantren di Jawa Timur dia langsung kuliah di Makkah. Tante bercerita bahwa umumnya orang Indonesia yang kuliah di sana kerja sampingan sebagai pemandu rombongan umrah, koki atau pramusaji.
 
;