23 November 2011

Memori Pertarungan Terakhir

Baru saja Closing Ceremony Sea Games XXVI berakhir dengan pesta kembang api yang mengagumkan. Meski hanya melihatnya lewat sekotak TV 14 inchi, tapi saya bisa merasakan kemeriahan dan kebanggaan di dalamnya. Setelah penantian empat belas tahun tahun, akhirnya gelar juara umum dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Dengan begini, selesai sudah hari-hari nonton bersama kawan-kawan. Selesai sudah hari-hari dimana teriakan macam orang kesetanan sambil menunjuk-nunjuk TV, dianggap biasa. Selesai sudah masa-masa mendebarkan, detik-detik ketika gemuruh jantung penonton berpacu dengan peluh para atlet Indonesia yang mati-matian menumbangkan lawan lewat pertarungan sengit. Sea Games kali ini sukses menyalakan sumbu nasionalisme dalam diri saya yang hampir kolaps diisi berita-berita yang menggambarkan carut marutnya negeri ini setiap hari.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali bergairah menonton pertandingan olahraga yang melibatkan Indonesia di dalamnya. Saat Indonesia berlaga melawan Malaysia dalam pertandingan sepakbola beberapa tahun lalu, ketika rakyat Indonesia marah karena kasus laser, saya tidak begitu peduli. Bahkan setelah beberapa hari Sea Games berlangsung pun saya masih malas-malasan mengikutinya. Hingga suatu malam saya menyaksikan Indonesia bertarung melawan Thailand dalam pertandingan sepakbola. 

Saat itulah saya langsung jatuh cinta pada tim Indonesia, terlebih pada permainan dan semangatnya. Beberapa kali tim Indonesia jatuh bangun menghadapi permainan keras dari Thailand hingga kemudian peluit panjang ditiup, tanda permainan selesai dengan skor memihak kepada tim Garuda Muda. Saya jadi teringat kata-kata Andrea Hirata, bahwa mencintai sepak bola, adalah 10 % mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air. Karena dalam sepak bola kita membawa sebuah nama.

Setelah malam itu, saya jadi bersemangat menyaksikan pertandingan lain yang disiarkan di TV seperti bulutangkis dan bola voli, dua jenis olahraga yang saya gemari. Saking semangatnya, saya sering menolak ajakan teman untuk jalan-jalan atau hunting buku dan lebih senang duduk sendirian di depan TV menyaksikan pertarungan para atlet. Terkadang saya lebih senang nonton sendiri agar bisa bebas berekspresi seperti guling-guling di kasur atau menggigit bantal menahan teriakan.  

Akhirnya, setelah menyatakan “Goodbye Vietnam” pada pertarungan memperebutkan tiket final, Indonesia akan bertatap muka kembali dengan tetangga sekaligus –yang orang-orang sebut- musuh bebuyutannya, Malaysia. Dari hasil baca-baca di Yahoo, FB dan Twitter, pertandingan ini disebut-sebut sebagai sebuah pembalasan dendam sekaligus pertarungan berdarah demi mengulang sejarah 20 tahun yang lalu, ketika Indonesia meraih medali emas setelah mengenyahkan Malaysia tahun 1991. 

Selanjutnya, tidak perlu berpanjang lebar menggambarkan 120 menit yang melelahkan. Pertarungan mati-matian, menguras tenaga dan emosi, jatuh bangun menyerang dan mempertahankan bola, membuat wasit berkali-kali mengeluarkan kartu kuning bagi kedua tim. Menegangkan. Berkali kali saya memegang dada, mencoba meredakan detak jantung yang bergemuruh. Dan hanya bisa tersenyum pahit melihat dua gol dari Indonesia tidak sah karena perangkap offside. Jari-jari tangan saya hampir kaku karena tidak sadar dikepal dalam waktu yang lama. 

Setelah skor imbang 1-1 dan setelah babak tambahan 2 kali 15 menit habis, akhirnya tim Indonesia benar-benar dihadapkan pada pertarungan dramatis, mengulang kejadian 20 tahun silam, adu penalti. Selanjutnya yang saya ingat adalah mulut saya tidak henti-hentinya merapal doa kepada yang bersemayan di langit ketujuh, agar kemenangan berlari ke pelukan Indonesia. Beberapa teman memilih keluar dari kamar dan hanya mendengar di balik pintu, mereka tidak mau melihat partarungan terakhir itu. Sehingga yang bertahan memelototi TV hanya saya dan dua orang teman. 

Lalu kemudian, tendangan terakhir, yang akan menjadi penentu apakah skor masih imbang atau akan mengakhiri pertandingan dan menyerahkan medali emas pada Malaysia. Karena dua pemain Indonesia gagal memasukkan bola. Sementara dari pihak malaysia juga mengalami satu kali kegagalan setelah tendangan pemainnya dimentahkan oleh penjaga gawang Indonesia. Satu meter dari tempat saya duduk, lewat TV 14 inci itu saya melihat tendangan terakhir kapten Malaysia sempat membentur kaki penjaga gawang Indonesia, Kurniawan Meiga, lalu kemudian dengan pelan bola itu bergulir melewati garis dan akhirnya dipeluk net gawang. 

Kamar hening, Senayan senyap, puluhan ribu suporter Indonesia terdiam. Lalu sedetik kemudian, tim Malaysia meneriakkan kemenangan sambil berlari ke arah pendukungnya. Bersamaan dengan itu, rasa sesak dan gemuruh yang melanda jantung dan paru-paru saya serta merta terlepas dan menghilang entah kemana. Saya tidak tahu itu kelegaan atau apa tapi seperti ada beban yang terangkat seiring dengan berakhirnya pertandingan yang memukau dan berakhir menyakitkan tadi. Saya menyaksikan para penonton menangis sambil tetap melambaikan bendera merah putih, saya menoleh ke arah dua teman saya yang bersandar di dinding dan memandang kosong ke arah TV. Tidak ada air mata, tapi saya tahu sebenarnya kami pun ikut menangis. Menangis dengan cara berbeda. 

Sebelum berangkat tidur, saya masih sempat keluar kamar menatap langit yang tengah dilukis kilat dan membuat beberapa area terang benderang selama beberapa detik. Cahaya putih itu muncul berganti-gantian, timbul tenggelam di angkasa. Layar TV menayangkan sisa-sisa pertandingan, masih terlihat satu per satu raut wajah para pemain sebelum akhirnya saya mematikan TV. 

"Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya."
~Ayah Andrea Hirata, Sebelas Patriot~
 
;