28 December 2012

Ruang Yang terlupakan


Bila sedang membaca novel atau menonton film berlatar sejarah, saya sering membayangkan mesin waktu. Saya sudah pernah katakan sebelumnya, saya sering dilanda perasaan aneh setiap kali mengakhiri bacaan atau tontonan begenre sejarah. Rasanya seperti sulit untuk keluar dari sana. Membuat saya seperti mengambang selama beberapa hari. Rasa itu sama ketika saya melihat kumpulan foto hitam putih peninggalan kakek dan nenek yang ayah simpan dalam peti “harta karun”-nya, atau yang terpasang di dinding rumah peninggalan kakek. 

Saya sering lama-lama memandang foto hitam putih itu sambil menerka-nerka seperti apa kehidupan mereka sebelumnya. Dalam foto itu mereka masih muda. Beberapa di antaranya sudah meninggal dunia dan saya belum sempat bertemu mereka. Yang paling sering saya perhatikan adalah bagian mata. Entah bagaimana menjelaskannya, saya melihat sinar mata dalam foto-foto itu sangat berbeda dengan mata orang-orang yang saya temui di masa sekarang. Seperti ada yang hilang dari mata orang-orang masa kini yang dimiliki orang-orang di masa lalu. Tapi tentu ini hanya pendapat subjektif saya saja. Tidak usah terlalu dipikirkan. 

Rumah tua peninggalan kakek terletak paling ujung di sebuah desa jauh di pedalaman. Saya sering punya keinginan egois agar desa itu tidak berubah sampai kapanpun. Tetap seperti itu selamanya. Mungkin karena hanya di tempat ini saya merasa bisa “kembali ke masa lalu”. Suasana malam di sana seakan terjebak waktu. Berapa kali pun kembali, rasanya masih sama dengan malam belasan tahun sebelumnya. 

Penerangan di sana juga masih memakai petromax atau lampu minyak. Sepupu saya sering bercanda bahwa memasuki desa itu membuat siapapun seperti pulang ke zaman kolonial. Bila purnama muncul, desa itu jadi lebih terang, mirip suasana subuh. Kalau ditambah lolongan serigala, desa itu benar-benar terlihat magis. Tapi selalu ada kegelapan yang menenangkan di sana. Yang tidak akan saya temukan di tempat lain apalagi di kota. Di sana ada bukit padang rumput yang luas. Pepohonan rimbun dan gelap membentang di depannya. Makhluk nocturnal sering mengintai dari sana. Bulan biasanya muncul dari balik pepohonan tadi. Pemandangan jadi kontras antara sinar bulan, bayangan hitam hutan dan suara hewan malam. Kalau bulan tidak muncul, langit di sana sesak oleh bintang yang berserakan seperti kaca pecah. Saya suka menghabiskan malam dengan berbaring telentang menatap langit sambil menggigit-gigit sebatang rumput. 

Mungkin mesin waktu itu memang ada. Foto-foto hitam putih, desa yang terlupakan dan langit yang ditinggalkan zaman. Ketiganya adalah “mesin waktu” yang selalu bisa memulangkan saya ke masa lalu.
 
;