15 December 2012

Ketidaktahuan ; Sebentuk Pertahanan Diri Manusia

Manusia melihat apa yang ingin dilihatnya. Manusia mendengar apa yang ingin didengarnya. Begitulah bentuk pertahanan diri manusia secara pikiran. Sebagai makhluk yang diciptakan sempurna dibanding jenis lain, manusia didesain dengan kemampuan adaptasi yang tinggi. Manusia tidak mungkin dilepas ke dunia tanpa diberi kemampuan apa-apa. Jellyfish menghasilkan racun mematikan keluar dari tubuhnya untuk bertahan dari musuh-musuhnya. Cecak akan memutuskan ekor jika berada dalam keadaan bahaya. Daun-daun putri malu akan mengatup bila mendapat sentuhan. 

Pada manusia, pertahanan diri bukan hanya dari segi fisik, tapi juga melalui pikiran. Salah satu medianya adalah ketidaktahuan. “Pengetahuan bisa menghambat. Ketidaktahuan justru membebaskan. Tahu kapan untuk tahu dan kapan untuk tak tahu, sama pentingnya dengan pedang yang tajam”, Kata Takashi Matsuoka dalam novel Samurai : Kastel Awan Burung Gereja. Pengetahuan bisa menjadi pedang tajam yang mampu ‘membunuh’ seseorang. Karena itulah dikatakan bahwa manusia hanya ingin mendengar apa yang ingin ia dengar dan hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Bila ia melihat atau mendengar sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang ia harap lihat atau dengar, atau bila ia mengetahui realita yang ternyata tak berpihak padanya, maka hal itu akan berakhir pada rasa sakit dan kecewa. Dengan ketidaktahuan, ia akan terbebas dari luka. Ia mungkin akan baik-baik saja. 

Ketidaktahuan membuat manusia pandai memanipulasi perasaan sekaligus menjadikannya takut untuk bertanya. Takut pada jawaban yang tidak seperti harapannya. Ia kemudian menciptakan ilusi yang telah ia tentukan sendiri akhirnya. Tak jarang ia membentak bisikan hati yang mencoba bersikap jujur. Ah, manusia, betapa kuat dan begitu rapuhnya mereka.
 
;