20 December 2011

The Other Side Of Supir Angkot

Ibarat kasta, Angkot menempati urutan terbawah. Sumpek, panas, penuh asap rokok dan bau. Setelah naik angkot, badan yang tadinya masih segar dan wangi sabun mandi tergantikan dengan hawa ganas campuran matahari dan asap knalpot. Kejahatan juga sering terjadi di angkot. Bisa dilakukan oleh pencopet yang menyamar jadi penumpang, atau dilakukan oleh supir angkot itu sendiri. Mulai dari kriminal kelas teri sampai kelas pari. Kriminal kecil-kecilan yang dilakukan sopir angkot misalnya curang memberi kembalian, bohong tentang tarif angkot pada orang baru, atau bohong pada penumpang kalau angkotnya langsung jalan, padahal tahu-tahu berangkatnya nanti satu jam kemudian. Koran dan TV juga kerap menyajikan berita tentang penodongan, perampokan, pemerkosaan sampai pembunuhan yang dilakukan oleh sopir angkot. Bahkan sebelum berangkat ke kota ini, saya sudah diwanti-wanti untuk hati-hati sama sopir angkot. 

Para sopir angkot juga terkenal kasar dan tidak sopan. Kalau sedang naik angkot, sudah tidak terhitung berapa kali para sopir itu mengeluarkan makian mulai dari nama penghuni kebun binatang sampai organ reproduksi manusia. Pemicunya paling sering karena salip menyalip antara sesama sopir atau karena rebutan penumpang. Jika terkumpul antara sopir yang kasar, cuaca yang panas, jalanan yang macet, aksi salip menyalip dan muntahan makian, maka lengkaplah sudah penderitaan. Semangat yang full ketika berangkat kuliah, bisa terkorosi sampai setengahnya begitu tiba di kelas. 

Tapi setiap manusia punya sisi baik, sejahat apapun ia. Dan setiap manusia punya sisi jahat, sebaik apapun ia. Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih ada sisi baik di antara sopir angkot itu, entah kita pernah atau tidak melihatnya. Suatu siang, saya berada di sebuah angkot menuju kampus. Di antara penumpang itu ada seorang nenek yang dari perawakannya, osteoporosis telah setia menemani hari tuanya. Dari pakaian pun saya miris melihatnya. Siang itu benar-benar panas, para penumpang tak henti-hentinya mengeluh karena jalanan yang macet. Setelah beberapa lama mobil itu merangkak seperti siput, nenek tadi turun di depan sebuah lorong kumuh. Dengan gemetaran nenek itu menyerahkan ongkos. Tapi, dengan bahasa kental daerah sini, si sopir angkot menolak dan langsung tancap gas. Kami tersentuh melihat sikap empati dari sopir tadi. Beberapa penumpang yang awalnya mengeluhkan cuaca panas langsung terdiam. Kebaikan tadi seperti oase di tengah panasnya jalanan macet. Tidak lama kemudian, makian kembali berkicau karena saling salip. Yah, oase tadi berakhir di situ, tergantikan oleh riuhnya jalan raya. Tapi saya senang melihat momen tadi, saat nenek itu tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih pada sang sopir. 

Lain waktu saya pernah mendapati seorang sopir angkot yang memberi uang pada penumpangnya. Hal yang jarang saya temui, karena umumnya kebaikan yang dilakukan hanya sampai menolak ongkos, tapi kali ini sopir itu juga memberi beberapa lembar uang seribuan pada penumpangnya. Penumpang yang beruntung itu adalah dua anak kecil yang jika dilihat dari penampilannya, setiap orang tahu kalau mereka memang membutuhkannya. Begitulah, jalan raya bukan hanya sekedar lintasan. Banyak hal yang diajarkan oleh orang-orang yang melewatinya, dari hal yang baik sampai yang buruk.
 
;