13 December 2011

Suara dan Rasa

Jika suara diibaratkan rasa, maka ada suara yang rasanya seperti kopi. Apa kau suka kopi ? Saya suka, sangat suka malah. Pekat, cenderung pahit tapi harum. Sebelumya saya tidak pernah memperhatikan karena dia lebih sering bicara pelan dan tenang dengan ritme teratur, jadi terdengar biasa saja. Hingga suatu hari, entah karena apa, dia mengeluarkan suara yang agak keras bahkan bisa dibilang berteriak. Saat itulah saya menyadari suaranya seperti gelombang. Saya lalu menajamkan telinga dan mendengarkan baik-baik. Tiba-tiba saja saya ingat kopi yang saya minum di rumah beberapa jam sebelumnya. Suara dan imagenya sangat bertolak belakang. Jika mendengar suaranya, seperti ada sesuatu yang tercerabut di sana. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Intinya seperti kopi. Pahit tapi harum. Biasanya harum diikuti rasa yang manis, tapi tidak dengan kopi. Setelah itu, jika berada di dekatnya saya lebih banyak diam karena senang mendengar suaranya. 

Jika suara diibaratkan dengan waktu, ada sebuah suara yang seperti saat matahari terbit setelah melewati waktu fajar. Hangat, ceria dan penuh semangat. Sewaktu berkenalan dengannya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa karena suaranya seperti kawat yang digetar-getarkan. Aneh, lucu dan menyenangkan. Untungnya dia tidak marah saya tertawakan. Saya sudah lama berteman dengannya, sekitar empat tahun. Dia sering merepet sana sini. Komentar ini itu. Tapi saya suka. Dia selalu bisa menghangatkan situasi. 

Jika suara diibaratkan dengan temperatur, ada suara yang mendekati titik 0 derajat celcius. Dingin. Tidak hambar, tapi saya tak bisa merasakan apapun. Seperti ketika merendam kaki dalam air es. Lama kelamaan kita tidak mampu lagi merasakan kaki itu. Mungkin itu yang disebut misterius. 

Berada di antara ketiga orang itu membuat semangat saya berubah-ubah seperti suaranya. Saya kadang bingung juga, ternyata pengaruh suara tidaklah kecil.
 
;