25 December 2011

Terbit dan Terbenam

Saya teringat akan temuan Andre Hirata tentang bagaimana mengenal manusia melalui takaran gula dan kopi yang diminumnya dalam buku Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Dalam Buku Besar Peminum Kopi-nya ia menuturkan bahwa orang yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Namun mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern, mereka disebut Player. 

Orang yang takaran gula, kopi dan susunya proporsional umumnya adalah pegawai kantoran yang bekerja rutin dan berima itu-itu saja. Mereka adalah manusia ‘do-re-mi’ dan mereka telah menikah dengan seseorang yang bernama bosan. Kelompok anti perubahan ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyenyak dalam zona nyaman. Proporsi gula, kopi dan susu itu mencerminkan kepribadian mereka yang sungkan mengambil risiko. Tanpa mereka sadari kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik, menelikung mereka. wajahnya sembab karena tahu waktu telah melewatinya begitu saja. Kaum ini disebut safety player. 

Entah kita adalah Player ataupun Safety player, sebagai manusia kita akan selalu hidup berdampingan dengan masalah. Orang yang sekolah punya masalah, yang tidak sekolah juga bermasalah. Orang kaya punya masalah, orang miskin juga punya. Orang yang kuliah punya masalah, sarjana pun punya masalah. Orang yang bekerja punya masalah, yang pengangguran lebih-lebih lagi. Boleh dikata bahwa seseorang bukanlah manusia jika ia tidak pernah mempunyai masalah. Karenanya ada yang mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan tanpa akhir dan bahwa manusia yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan. 

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Ada yang berlari mengejarnya seperti player, ada yang berjalan lamban seperti safety player dan ada pula yang pasrah mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menderita. Pascal mengatakan bahwa seperti apapun penderitaaan dan kepedihan yang mencekik seseorang, di kedalaman wataknya terdapat kekuatan mahabesar yang mendorongnya pada kehidupan. Yah, justru masalahlah yang mengantarkan manusia pada kehidupan. Andaikata tidak ada lava gunung merapi, kita tidak akan mendapatkan tanah yang subur. Andaikata biru langit tak pernah dikeruhkan awan hitam, kita takkan pernah mengenal hujan. Andaikata matahari tidak pernah terbenam, maka bumi akan kekeringan dan mati. Andaikata tidak ada kehilangan dan duka, lalu kepada siapa kita akan memberi simpati. Andaikata tidak ada lagi kesedihan, maka kesabaran akan mati. 

Siapapun pasti akan merindukan saat-saat matahari terbenam. Siapapun pasti akan merindukan langit yang gelap disusul hujan. Siapapun pasti merindukan awan hitam dan paling tidak badai untuk menggantikan hembusan angin yang monoton. Karena sekiranya nikmat penderitaan telah hilang, maka jadilah bumi tanpa perasaan. Dingin, seperti kelengahan yang menyihir. Selama kita masih manusia, masalah akan terus muncul karena itu menunjukkan bahwa kita harus terus belajar.
 
;