18 April 2012

Kota Pelarian

Kota tak pernah seindah ini. Saat bulan mulai berbicara dan membual pada kita. Aku setia mendengarnya, karena jika tidak, ia akan merajuk dan malam menjadi gelap gulita. Di atas sana hujan meteor berkejaran memayungi langit malam. Sementara kau sibuk bermain rubik di atas atap, tak peduli sedikitpun dengan ocehan bulan.

Kota tak pernah seindah ini. Saat Dandelion melayang-layang menyusuri hilir sungai. Bersama-sama menghanyutkan lilin beraroma lavender.  Angin mulai berbisik dan di atas padang rumput sana, kau masih bertengkar dengan kunang-kunang.

Kota tak pernah seindah ini. Saat ikan mas berenang dalam gelembung sabun.  Terbang tak berarah dipermainkan angin. Saat burung-burung kertas masih sibuk mematuk-matuk ranting bogenvil, kau mulai menguap.

Kota tak pernah seindah ini karena aku bisa mengiris bulan jadi separuh dan mengukirnya menjadi dua bulan sabit. Satunya akan kugantung di jendela kamarmu dan sisanya kubiarkan tetap di langit.

Perlahan geseran waktu memaksa hari berganti nama. Menyimpan setiap kata yang tak pernah terucap dan senyum yang selalu tersembunyi. Malam ini purnama terakhir, kau telah paham maksudnya. Dan malam ini bulan diam, tidak cerewet seperti biasanya. Oh ya, sebelum tidur kuberitahu padamu, aku menyimpan kunci kotak rahasia di dalam balutan salah satu warna pelangi. Tebak ?

Ah, kau memang pelupa. Bukankah sudah kukatakan aku suka biru. Bukalah balutan birunya saat pelangi muncul. Eh, tapi jangan lupa kembalikan warnanya ke tempat semula karena pelangi takkan indah jika warnanya tidak lengkap.

Sungguh menyenangkan mengakhiri sebuah perjalanan. Namun pada akhirnya yang terpenting adalah perjalanan itu sendiri. Seperti sakura, indah tapi singkat, seperti itulah kehidupan. Terima kasih telah menemaniku di kota pelarian. Sekarang waktuku untuk kembali. Jangan khawatir, seribu sayap kupu-kupu akan mengantarku pulang.

Terlelaplah malam ini bersama datangnya musim semi.
Dan aku masih diriku.

Untuk dia yang pergi, yang terkenang
Untuk dia yang tertinggal, yang terlupakan
 
;